The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #24: outside.


Jason menutup pintu kamarnya, dan melihat Piper melintas. Dia memanfaatkan situasi.

"Pipes!" dia berlari-lari kecil menghampiri.

Tangan Piper sudah berada di gagang pintunya. "Hm?"

Jason tersenyum jahil. Piper kelihatan waspada. Jason mengerling ke arah jendela di tepian lantai dua.

"Tidak."

"Pipes, kumohon."

"Ti-dak." Namun mata Piper membulat karena mengamati bahwa Jason sudah memakai mantel tebal. "Jason, tidak. Baru saja terjadi badai dan—"

"Aku bisa mengadakan negosiasi kilat dengan Boreas supaya badai berhenti lagi."

"Duh, Tuan, kau tidak perlu melakukan segalanya untukku, merepotkan saja, tahu," Piper menghadap Jason sambil berkacak pinggang. "Kita bisa tidur di kamar dengan tenang kalau membiarkan alam beraksi seperti apa adanya."

"Aku ingin keluar, lalu bagaimana?"

Piper memutar bola mata.

Jason mengeluarkan sepasang sarung tangan dari saku mantelnya. "Kalau masih kedinginan, kau bisa memegang tanganku, kok."

Piper mengembuskan napas panjang. "Oke, kita jalan-jalan. Mau naik apa?"

"Cuma berjalan-jalan di sekitar, kok. Aku butuh udara segar."

"Ya, begitu kata seorang anak dewa yang menguasai angin," Piper mendorong pintu kamarnya, "aku ambil mantelku dulu."

"Aku punya dua pasang sarung tangan kalau-kalau kau takut udara di luar, Pipes!" Jason menangkupkan tangannya di sekitar mulut, sambil tersenyum penuh kemenangan dia menanti Piper di mulut tangga utama.


Dunia manusia Los Angeles sudah terpatri di benak Jason sebagai rumah ketiga, jika menghitung kedua perkemahan sebagai tempat dia membagi sebagian besar cintanya. Manusia dan salju hidup dalam hubungan romantisme, sejauh yang ia amati beberapa tahun ini, selama hidup bersama keluarga kecil McLean di sini. Diskon musim dingin adalah sahabat sebagian besar wanita, momen-momen romantis diciptakan saat salju turun, hingga tempat makan dan kafe memberikan penawaran yang menarik minat khusus pasangan-pasangan, mengubah cuaca menjadi sumber konsumsi. Pakaian-pakaian rancangan khusus musim yang beku menjadi bagian dari mode yang mendunia. Manusia dan musim yang buruk bagi orang-orang di masa lampau telah memperbarui hubungannya.

"Omong-omong, Jason, akhirnya kami membagi peran untuk pertunjukan tambahan semester ini. Tebak, aku akan jadi siapa?"

Jason mengayun-ayunkan ringan tangan mereka berdua. "Hmmm, ibumu?"

"Aduh, klasik, deh." Aphrodite mendongak dengan senyum jahil, seolah sedang minta maaf layaknya seorang anak yang melakukan kesalahan dengan sengaja (—dan bangga karenanya) pada ibunya. "Aku jadi Thalia."

"Ha?" Jason menahan tawa. "Oke, Thalia yang seperti apa, tepatnya?"

"Musai kedelapan. Musai komedi dan puisi idilis."

"Aduh, Thalia akan terhibur," Jason mengangkat bahu, "entahlah, tapi aku yakin Thalia pasti akan mengernyit setiap kali melihat wujud Thalia si Musai atau Thalia lain, salah satu dari Kharites. Dia pasti merasa sangat tidak cocok dan aneh. Kakakku memang punya karakter yang terlalu kuat, dan dia merasakan itu."

"Tapi kakakmu keren. Kadang-kadang aku ingin menjadi dia." Mata Piper tertumbuk pada sepasang remaja yang makan hamburger sambil menanti untuk menyeberang jalan. Ada mayones di sudut bibir si perempuan, dan rasanya ajaib si lelaki tak menyadari itu bahkan ketika mereka saling menatap untuk bicara. Atau si lelaki cuma terlalu malu untuk mengelapkannya.

"Menjadi Pemburu Artemis?" Jason mengernyitkan hidungnya. "Tidak akan kuizinkan sampai kapanpun."

"Ya bukan bagian itu, tahu," Piper menahan senyum. "Kau ini. Maksudnya keren dan berani begitu."

"Oh, kau juga ingin memotong rambut dengan gaya Thalia?"

Piper menjawil ujung rambutnya sendiri dengan tangannya yang bebas. "Kurasa tidak sekarang."

Jason ingin menanggapinya lagi, tapi ia menahan diri untuk hal yang lain.

"Uhm, dingin, ya, di luar begini."

Piper menoleh dengan wajah yang masam. "Nah, siapa yang mengajak keluar tadi?"

Jason nyengir seperti bocah. "Mungkin kita harus membicarakan sesuatu yang hangat. Seperti ... misalnya, Pipes, aku ingin sekali menempati kamar utama yang dikatakan ayahmu itu."

"Yeah, kautahu kau tidak harus minta izin untuk itu."

"Mmm, tapi aku harus minta izin denganmu karena aku ingin ke sana bersamamu."

"Eh ..." Piper mengerjap, mata kaleidoskopnya bersinar-sinar cahaya amber.

"Mmm, Pipes, kurasa kita sudah seharusnya memikirkan hal-hal lain selain kuliah ... aku akan segera membangun firmaku bersama Annabeth, dan kau sudah mendekati tahun terakhirmu. Aku juga hampir selesai dengan tugas-tugasku sebagai Pontifex Maximus ... kenapa tidak?"

Selama beberapa detik, Piper menggantung kata-kata Jason, dia seperti anak kecil yang harus mempercayai kenyataan soal Peri Gigi dan uang di bawah bantal mereka.

"Dan seorang Jason Grace, melamar pacarnya dengan cara seperti ini," Piper malah tertawa. "Aku yakin Thalia akan mengernyit."

"Hei!" Jason meremas tangan Piper yang masih berada di genggamannya. "Aku serius."

Muka Jason yang merah malah menjadi bulan-bulanan Piper.

"Pipes, aku bersumpah—"

"Iya, iya," Piper tersenyum, tulus dan sepertinya berhenti bercanda. "Skip langsung ke rencana. Kita sudah sama-sama mengenal satu sama lain dan tidak perlu basa-basi. Jadi, kapan?"

"Minggu depan?" Jason nyengir.

"Astaga, Sparky!" Piper berlagak jantungan, "Persiapan butuh—"

"Aku cuma ingin pesta kecil di Roma Baru, dan pesta kebun kecil-kecilan di sini untuk ayahmu dan orang-orang terdekatnya."

"Pesta kebun di musim dingin?!"

"Aku bisa mengatur cuaca, ingat?" Jason mengedipkan mata sampai-sampai Piper melongo.

"Kau ... serius?"

"Serius jika kau setuju."

Piper menatap Jason tak percaya, seakan perlu dibangunkan. Maka Jason pun berlutut, tak peduli pada dirinya yang mulai menarik perhatian orang-orang, dan betapa bencinya Piper pada keadaan seperti itu.

"Piper McLean, maukah kau secepatnya menjadi Nyonya McLean-Grace yang terhormat?"

Jason, lengkap dengan cincin yang disimpannya sejak awal di saku bagian dalam mantel, sekarang membuat seluruh mata tertuju pada Piper. Ia mendengar perempuan bersorak-sorak soal jawaban ya.

Piper tak peduli. Dia menarik Jason untuk segera berdiri dan menciumnya, tak peduli pada keramaian.

tbc.


a/n: kharites itu dewi pesona, keindahan, alam, kerativitas manusia, dan kesuburan. sedangkan musai adalah kelompok dewi yang melambangkan seni. XD