The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #25: winter.
Bagian paling mengerikan sebenarnya bukan persiapan di Roma Baru atau di kebun kecil di pedesaan California.
Soal yang pertama, sih, tinggal minta Reyna dan Frank untuk mencari lokasi. Hazel dengan senang hati menghias tempatnya dengan rangkaian bunga (perempuan itu sekarang suka sekali merangkai kembang-kembang, mulai dari sesederhana mahkota hingga untuk ucapan-ucapan megah), dan dengan permata-permata kecilnya. Pengumuman dari Reyna dengan mudah sekali mengundang antusiasme orang-orang. Selebihnya, Jason percaya pada Annabeth soal tata lokasi.
Yang kedua, Tristan punya banyak kolega. Awalnya Jason takut pria itu akan jantungan begitu dia bilang 'minggu depan', tapi lelaki itu malah tersenyum penuh arti, seolah hey, man, inilah yang kutunggu, akhirnya.
Jason hanya minta tempat untuk upacara—dan sisanya kita bisa mengadakan jamuan makan malam di kota saja, katanya. Mengadakan jamuan makan di pedesaan akan memasukkan lebih banyak daftar ke dalam agenda. Ia ingin yang sesederhana mungkin, jauh dari ciri-ciri kehidupan Tristan.
Tristan sempat menawarkan beberapa macam hal, tapi ditolaknya, dia berkeras dengan rencananya sendiri, hingga masalah di bagian sini pun selesai.
Masalah di sini, sih, selesai.
Yang gawat adalah yang di atas sana.
Beritahu, tidak, beritahu, tidak?
Piper sempat bengong beberapa detikmalam itu juga, saat ia bilang bahwa persiapan berikutnya adalah soal Olympus.
"Aku merasa aku akan dilaknat ibu kalau melakukan hal sepenting ini tanpa restunya. Dia adalah Dewi Cinta."
"Pipes, tanpa kau tegaskan begitu pun aku sudah tahu risikonya ..."
"Jadi ..."
Mereka bertatapan.
Jason berdeham, "Aku harus ke New York, lalu memanjat gedung Empire State lantai enam ratus, ya ..."
"Lebih tepatnya kita."
Jason mengerjap. "Cara minta izin pada orangtua dewata itu seperti apa?"
Piper melempar pandangan pada salju yang turun di luar. Musim dingin kali ini terasa lebih hangat, dengan salju yang ringan dan awan mendung yang tak terlalu ganas ... semoga saja cuaca yang sama juga berlaku di Gunung Olympus.
"Kita akan tahu caranya nanti. Yang penting, beli tiket sekarang juga, Jason, aku akan bilang pada Ayah bahwa kita harus mencari seorang dari keluargamu untuk memberi kabar."
Jason tidak tahu bahwa lagu romantis juga bisa diputar di lift selama perjalanan menuju lantai keenam ratus. Jangan-jangan seseorang sudah tahu di atas sana dan memutuskan untuk memecat sementara DJ yang biasa dan menggantinya dengan seorang komponis yang sudah banyak menikahkan orang-orang cuma dengan nada-nada yang membuat seseorang ingin terus mencintai.
Bunyi ting hampir-hampir tidak disadarinya jika saja Piper tak menyenggol pundaknya. Dia terlalu sibuk dengan berbagai pilihan kalimat pertama.
Angin yang membawa bulir halus salju menerjang wajahnya. Dia sudah berfirasat aneh, waduh.
Ia membiarkan Piper berpijak keluar dari lift lebih dahulu. Ia melihat salju menyelimuti pohon-pohon yang membingkai jalur utama menuju istana pualam. Salju-salju itu bersinar karena lampu berwarna hangat yang dirangkai di sekeliling ranting-ranting. Jason memandang sepatunya. Meski banyak salju di pepohonan, jalur utama bersih dari keping-kepingnya. Batu-batu putih menyusun jalan, kontras dengan yang kelabu di sekelilingnya.
Aroma wangi menggelitik hidung Jason. Ia terpesona, dan pikirannya merespons dengan mengundang kenangan-kenangan yang manis bersama Piper. Tentang liburan mereka ke pantai di Karibia, tentang ciuman 'pertama' di atap Kabin Satu, soal makan malam romantis di ulang tahun kedelapan belas Piper—semua yang indah dan membuatnya mengeratkan genggaman tangan pada Piper. Beginikah aroma musim dingin Olympus?
Pekikan ala ibu-ibu membuyarkan Jason.
"Perkiraan waktuku meleset, kalian telat lima belas menit! Apa yang menahan kalian di jalan?"
Jason refleks tersentak mundur. Aroma yang barusan semakin tajam, nyata sekali, dan jelas sekali sudah pemiliknya siapa.
"Ibu bisa datang dengan lebih kalem, tidak, sih?"
"Aduh, aduh, Sayang, begini ya caramu menyapa ibumu setelah sekian lama tidak bertemu?"
Piper terlihat lucu saat menggembungkan pipinya.
"Jadi, Aphrodite ... kami ..."
Aphrodite mengibaskan tangannya dengan cepat di depan wajah, aroma parfumnya mengacaukan pikiran Jason. "Salah satu alasan kami tinggal di tempat yang tinggi adalah agar kami bisa melihat banyak hal, dan, ya, aduh, kalian nggak banget, deh, tidak ada undangan berdesain mawar cantik untuk kolega ayah Piper?"
Jason tak percaya ada bulir keringat yang terjun di tengkuknya. Bagaimanapun, tempat ini dingin dan dia masih bisa merasakan hawa beku yang berembus.
"Tidak ada undangan," Piper menepis, "semuanya harus serahasia mungkin."
"Duh, Pipes, orang-orang akan mengira putri Tristan McLean melakukan pernikahan rahasia karena alasan macam-macam."
"Maka biarkanlah," Piper melirik Jason. "Apakah kami bisa bertemu ayah Jason?"
"Untuk apa? Minta izin? Restu? Zeus—Jupiter, beda sedikit sajalah—malah hampir saja mengirim pesan lewat Merkurius kalau kalian telat lima menit lagi. Tahu isi pesannya apa? Selamat. Begitu saja. Benar-benar ayah yang tidak romantis, kan?"
Sebenarnya Jason tak begitu berharap bertemu ayahnya. Aphrodite benar—untuk apa? Memangnya dia ayah yang baik hingga Jason perlu minta izin? Memangnya Zeus/Jupiter tidak tahu? Belum lagi jika Juno punya satu naskah panjang berisi ceramah. Dan kenyataannya memang begitu. Untung saja Aphrodite memberi tahu.
"Intinya, Anakku Sayang, dan Calon-Suaminya-yang-Kaku, cinta memang urusanku, tapi keputusan para demigod ada di tangan mereka. Kami tidak mengatur pernikahan secara keseluruhan tanpa campur tangan Takdir. Apa yang akan terjadi minggu depan sudah dirajut Moirae, dan tugasku di sini cuma memberikan hadiah kecil—karena aku tahu, kalian terburu-buru sekali hingga pasti tak sempat untuk beberapa hal."
"... Kukira Ibu akan memberikan restu atau semacamnya ..."
"Sayang, pernikahan adalah Takdir dan Nasib, kalian bertugas mencari tahu sendiri kalian akan bagaimana dan seperti apa nantinya. Sekarang, ambillah ini."
Jason tidak tahu kapan tiara itu muncul di tangan Aphrodite, tahu-tahu dia sudah mengulurkan saja benda berkilau perak-putih itu.
"Pakai di hari istimewamu, Sayang. Ini dibuat dari salju Olympus, dibuat Hephaestus dengan cepat. Kau bisa mengatakan ini sebagai hadiah darinya juga—tapi tenanglah, ini tidak akan seperti kalung Harmonia—ini seratus persen aman untukmu ... dan Jason."
Tiara itu sangat sederhana, tetapi memang memancarkan kekuatan yang tak bisa Jason lihat. Kalau dilihat-lihat, tiara itu berpendar putih, tampak hangat tetapi elegan.
"Jadi ..." Piper kehabisan kata-kata. Dia menampung tiara itu di atas kedua telapak tangannya.
"Kalian tidak punya banyak waktu. Banyak persiapan! Jangan lupa di Roma Baru, kalian tidak boleh meninggalkan teman-teman kalian menyiapkan segalanya tanpa kalian," Aphrodite mengangkat tangan kanannya, "jangan lupa ciuman yang romantis, kalau tidak, aku akan sangat kecewa!" dia menjentikkan jari.
Jason pun tersentak.
"Uhm ... Jason?"
Jason terhuyung-huyung. Suara Piper terdengar seperti bergema di telinganya.
"Hei, kenapa tidak bilang-bilang mau ke sini?"
Jason mengernyit. "... Percy?"
tbc.
a/n: ada yang ingat tentang mitologi kalung harmonia? XD
(p.s.: cerita ini dibuat dengan linimasa yang acak ya, kecuali yang dikasi label tbc di akhir cerita2nya)
