The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #27: letter.


Yang berteriak paling keras adalah Leo. Jason berbalik bersamaan dengan Piper, tepat di belakang mereka kerumunan memusatkan perhatian mereka pada Calypso. Calypso memandangi buket di tangannya, kemudian Leo, kemudian kerumunan yang membuat mukanya merah. Ia bertanya dengan gestur pada Leo, dan Leo yang tertawa girang kemudian mencium pipinya. "Itu artinya setelah ini adalah giliran kita!"

Jason memandangi wajah-wajah yang ia kenal. Tristan tersenyum bangga padanya layaknya seorang ayah. Saudara-saudara Tristan, yang dekat ataupun yang jauh, beberapa di antaranya sangat tidak familiar tetapi Jason memutuskan untuk mengundang atas saran Tristan, lalu beberapa teman SMA mereka, dan teman kuliah, semuanya bersorak.

Namun ia tercenung saat mengamati bagian belakang kerumunan. Apa cuma halusinasinya?

Jason menggandeng tangan Piper. Kerumunan menepi, kembali ke tempat duduk untuk memberi jalan. Piper menebar senyuman, sementara Jason memusatkan perhatiannya pada bagian belakang. Kursi putih di sayap kiri bagian belakang itu harusnya hanya diisi oleh dua orang.

Pikirannya dihentikan oleh Piper yang membisikinya, "Lihat, itu Reyna. Dia memang datang."

Jason menoleh ke sayap kanan. Di sana Reyna berada di samping Thalia, melambaikan tangannya. Tadinya perempuan itu hampir-hampir tidak bisa menjanjikan datang karena urusan pekerjaan besar di Roma Baru yang tak dapat ia tinggalkan. Karena ia sudah melakukan banyak hal di pesta mereka di Roma Baru, Jason dan Piper tak bisa memaksanya untuk datang. Jason menggumamkan terima kasih lewat isyarat.

Dan ketika dia kembali ke bagian kiri, bangku paling belakang memang hanya diisi oleh dua orang, keduanya saudara jauh Tristan, salah satunya Jason kenal karena pernah makan siang bersamanya di sebuah mal.

Ketika mereka melewatinya, Jason memicingkan mata.

Ada selembar surat di sudut. Jason berhenti dan membuat Piper heran.

"Ada apa?"

Jason menghampiri saudara jauh Tristan itu, "Maaf, itu milik Anda, kah?"

Laki-laki itu tampak bingung. "Tadinya ini tidak ada. Tapi ini bukan milik kami. Ya, 'kan?" dia memastikan dengan menoleh pada rekannya. "Sebagai pemilik acara, mungkin sebaiknya berada di tanganmu saja."

Jason menerimanya dan segera memasukkannya ke dalam saku saat orang-orang di balik punggungnya mulai tertarik. Jason memandang mereka semua dan seolah berkata, bukan apa-apa.


Di dalam mobil yang membawa mereka pulang, Jason membuka amplop tanpa nama pengirim itu dengan hati-hati. Siapa yang tahu para dewa telah mengembangkan teknologi bom setipis kertas? Namun Piper meyakinkannya bahwa yang menakutkan mungkin bukan isinya, tetapi ketakutan Jason sendiri.

Di dalamnya, selembar kertas dilipat rapi. Hanya ada satu kalimat tertulis:

Jangan lihat ke belakang. — J.

Jason memikirkan kemungkinan terburuk, bulu kuduknya merinding. Namun Piper dengan ringannya menoleh ke belakang tanpa sempat dia cegah.

"Tidak ada apa-apa," Piper menenangkannya dengan suara yang ringan, sembari tertawa renyah, "yang harus dikhawatirkan bukan arti harfiahnya, kurasa."

"J?"

"Sudah pasti itu ayahmu. Kaubilang tadi kau melihat dua orang di sudut, kan? Yang lain aku yakin adalah ibuku. Aku bisa merasakannya. Walaupun agak kesal juga, sih, seharusnya dia datang dan menciumku, ibu macam apa yang datang cuma sekian detik di pernikahan putrinya?"

Jason bisa saja menyahut bahwa ada begitu banyak putri Venus yang menikah di Roma Baru tanpa kehadiran ibu mereka, tetapi dia terpekur pada sebaris kalimat bertinta tipis di tangannya.

"Aku yakin artinya lebih dalam daripada itu. Ke belakang. Sejarah. Jangan ikuti apa yang pernah terjadi antara dia dan ibumu, pada keluarga kalian. Kurasa meninggalkan pesan seperti itu di pernikahan anaknya adalah hal yang paling romantis yang pernah dilakukan seorang ayah dewata."

"'Romantis' tidak terdengar benar, Pipes," Jason melipat kembali kertasnya dan mengembalikannya ke dalam saku jas, tanpa menyertakan amplopnya. Dia mengecup bibir Piper, "terima kasih sudah melihat ke belakang untuk memastikan."

"Yeah, yang seperti itu memang tugasku sedari awal. Tidak ada yang berubah."

"Ya." Jason meraih tangan Piper. Permata berkilat di salah satu jarinya, dan Jason mencium jari itu, "tak ada yang berubah."

end.