Hi, everyone!
Anne datang lagi, nih. Cepet ya walaupun kemalaman. Mumpung nggak bisa tidur, Anne coba lanjutkan fic ini. Em.. btw, thanks ya yang sudah review. Banyak banget yang kangen Anne ternyata, hahaha.. Jadi, Anne semangat banget ngelanjutnya. Mungkin chapter ini belum begitu melangkah jauh ke ceritanya. Sebagai awal, semoga bisa mewakili inti ceritanya nanti. Sebelumnya, Anne balas review dulu, ya!
Ninismsafitri: hehehe.. jadi kangen loh lama-lama nggak nulis :)
Aoi Shimizu: thanks semoga suka ya :)
BlaZe Velvet: thank u, ada dong momennya tapi sabar dulu.. nanti! Kalau penasaran ikuti aja terus kisahnya, doakan update cepat :)
Alice keynes: wahh kangen juga! makasih ya, ikuti terus kisahnya! :)
sakawunibunga: yeee semoga suka :)
Altherae: Hahaha.. aku selalu ngebayangin Hermione susah balik kurus setelah ngelahirin. soalnya kerjanya di kantor kan, duduk terus. Sedangkan Ginny kerjanya di Prophet lebih banyak gerak. Ngurus anak juga. Hehehe :)
AMAZING: oh ini requestan kamu, ya? Haha lupa. Semoga seneng, ya. Thank you :)
Afadh: kasihan nggak tuh rambutnya Teddy dikira wig hehehe :P bingung semua itu mah! Ahh kangen-kangenan sama Fred :)
Mrs. X: Yeee semoga suka. Semangat-semangat! :)
Sekiranya baru ini yang review. Kalau begitu langsung saja, ya!
Happy reading!
Beberapa menit sebelum kedelapan anak menghilang di kamar lantai tiga Grimmauld Place, Bill, sempat menghampiri Ron untuk menanyakan perihal acara pertemuan malam para pria yang rencananya akan diadakan kembali beberapa hari mendatang. Bill sendiri baru ikut sebanyak tiga kali dari tujuh acara yang sudah digelar oleh Ron dan Fred sebagai pemilik ide. Sementara Harry, sang pemilik tanggung jawab tempat acara baru mengikuti sebanyak dua kali acara. Harry terlalu sibuk dengan Kementerian hingga sering melewatkan malam-malam pesta kecil itu.
Sesuatu yang akhirnya Bill tanyakan adalah perkembangan eksperimen Ron dan George tentang time turner karya keduanya. "Bagaimana?" tanya Bill, "aku sudah tak punya alasan lagi untuk keluar malam demi pesta itu, Ron!"
"Tinggal perakitan. George sudah menemukan bubuk yang pas untuk bahan utama kekuatan sihirnya. Bubuk sisik ikan Dendan biru langsung dari timur tengah, aku tak tahu ia mendapatkannya dari mana. Hanya belum pasti apa tambahannya, berapa takaran yang pas dan media apa yang akan dijadikan pembuat portalnya." Jawab Ron sedikit berbisik.
Dalam sakunya, Ron menyimpan sebuah kotak kayu dengan ukiran lambang WWW di atas penutupnya. "Sementara, aku dan George akan membuat kotak ini sebagai medianya. Tinggal memasukkan bubuknya dan bahan lain itu ke dalam kotak ini lalu—"
"Kau tahu bubuk biruku, Ron?"
George, dengan panik menghentikan Ron yang sedang serius berbicara dengan Bill. Di tangannya ada satu kantung makanan yang harusnya ia tata di meja panjang. "Ron, seingatku bubuk itu sempat aku bawa untuk aku tunjukkan padamu." Bisik George berhati-hati.
"Kau bawa? Memangnya sudah kau dapatkan bahan tambahannya?" Ron bertanya kembali sementara Bill tetap menyimak.
George menyeringai, "otakku sudah bekerja jauh lebih cepat dari dirimu, Ronnie. Aku sudah dapatkan bahan tambahannya. Buah naga sisik biru. Cukup dijadikan bubuk juga dengan takaran yang sama. Aku sudah mencobanya pada tikus. Sejumput saja campuran bubuk itu dihirup, akan membuat kita kembali dua sampai tiga jam ke waktu sebelumnya."
"Dihirup? Baunya amis, George!"
"Em em.. baunya jadi sangat manis dan kau pasti ketagihan. Sama bahayanya seperti perempuan. Jangan sampai kita keenakan dan menghirup terlalu banyak. Bisa-bisa kita kembali ke waktu yang jauh lebih lama."
Pesta pertemuan malam para lelaki di Grimmauld Place memang diadakan secara sembunyi-sembunyi. Para istri dan yang lainnya tak ada yang tahu tentang semuanya. Oleh sebab itulah, sering sekali, para istri itu, mempermasalahkan kegiatan aneh suami-suami mereka yang tak kunjung pulang hingga larut malam. Laki-laki dewasa itu harus pandai-pandai membuat alasan. Jadwal pesta pun harus dibuat unik dan tak teratur agar tak mencurigakan. Satu persatu para suami protes dengan Ron dan George yang merasa harus bertanggung jawab membantu mereka menangani istri-istri mereka yang protes.
Satu-satunya hal yang tercetus ketika masalah waktu jadi perdebatan adalah time turner. Banyak yang sudah diketahui oleh para penyihir, sejak perang dunia sihir ke dua usai, seluruh time turner di hancurkan. Kalaupun ada, itu sangat langka. Baik George dan Ron akhirnya berkeinginan membuat benda yang memiliki kemampuan sama seperti time turner pada umumnya. Setidaknya dapat memutar waktu beberapa jam kebelakang untuk membuat semuanya normal akan sangat membantu mereka.
"Jangankan kita, anak-anak pasti akan suka menciumnya. Tetap saja itu berbahaya." Lanjut George masih saling berbisik. Bill tersenyum senang, akhirnya ada solusi untuk dirinya dan Fleur bisa menghabiskan malam lebih lama.
Ron puas dengan penjelasan sang kakak meski dirinya belum begitu yakin akan berhasil jika belum melihatnya sendiri. George bisa saja berbohong. "Tunjukan sekarang, George. Mumpung para perempuan sedang sibuk dan Harry sedang mandi. Kita akan dilarang. Ayo—"
"Tapi aku tak membawanya, Ron," ungkap George.
"Lalu? Kau simpan di mana?" Bill ikut penasaran. Ia menerima sepotong cake keju dari putrinya, Victoire, yang langsung disambar oleh Ron dan dilahap habis.
Victoire sudah kembali berlaru ke meja makan setelah menyapa Ginny di pintu gudang. "Ada yang ketinggalan, ya, Auntie Ginny? Kok kembali ke gudang lagi?" tanya Victoire namun tak ada tanggapan dari Ginny. Tidak ada suara karena tak ada yang memperhatikannya.
Wajah George pucat. "Aku saja mau tanya, seingatku kantung itu sudah aku bawa ke mari saat pesta malam lalu. Aku sempat taruh di meja lalu—"
"ANAK-ANAK HILANG!"
Ginny, dengan ekspresi kacau menuruni tangga. Ia memegang sapu dengan ujung-ujung ijuknya menempel kilauan bubuk biru yang bercahaya terkena sinar lampu. Di arah kamar sudut ruang acara, Harry melempar handuknya ke meja lantas bergegas mendekati istrinya di ujung tangga. Napas Ginny tak teratur dengan tangan bergetar menunjukkan sapunya.
"Jangan dihirup!" Cegah Ginny saat Harry mengamati sisa bubuk yang ia jumput kecil di jarinya.
"Ginny, ada apa, dear?" Tanya Molly di salah satu sofa. Ia baru saja sampai dengan Arthur.
Ginny menujuk ruangan yang digunakan para anak beristirahat sambil terus menggenggam tangan Harry. "Katakan Ginny! Jangan buat aku takut!" perintah Harry sedikit membentak.
"Anak-anak menemukan kantung yang berisi bubuk biru beraroma manis buah-buahan. Mereka sempat memperebutkannya sampai sebagian bubuk itu keluar. Aku keluar sebentar untuk mengambil sapu, dan saat aku kembali.. mereka tak ada. Dan bubuk itu sudah terburai di atas lantai." Ginny menjelaskan dengan kalimat terbata-bata. Ia menangis dan ketakutan di pelukan Harry.
Satu persatu para orang dewasa mendekat, mendengar penuturan Ginny tentang kejadian yang sebenarnya. "Lalu," tanya Harry, "ada apa kau melarang aku menghirup bubuk ini?"
"Aku sempat meng—menghirupnya sedikit di kamar itu, tapi tiba-tiba," Ginny berhenti sejenak, ia tidak yakin untuk melanjutkan kalimatnya. Takut jika ia dianggap melantur. Sepersekian detik kemudian, Ron dan George seperti merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang mereka pahami.
"Aku—aku kembali ke gudang. Seperti sepuluh menit sebelumnya. Saat aku mengambil sapu."
"Jadi," Victoire merangsak ikut mendekat, "saat aku sapa tadi, Auntie Ginny—"
"Ya, Ginny tertarik oleh waktu."
George menyimpulkan semua kejanggalan yang dialami oleh Ginny dengan cukup tenang. Ron turut serta di tarik mendekat untuk menjelaskan semuanya. Mereka merasa, semua itu adalah salah mereka. "Itu bubuk ajaib untuk membuat sebuah time turner sederhana untuk sebuah.. misi. George yang merancangnya tapi ia pikun menaruh di mana," jelas Ron.
"APA?" beberapa orang berteriak tak percaya.
"Kau sendiri menemukannya di mana, Gin?" tanya Harry bersikap lebih bijak.
"Bukan aku yang menemukan, Harry. James menemukannya di kolong meja kamar."
George meminta kotak media time turner dari Ron berharap semua bisa diatasi, hanya saja ia tak tahu apakah masih bisa diselamatkan. "Kita butuh bubuk itu lagi untuk mengembalikan anak-anak. Tapi, apa masih ada sisa, Gin?" tanyanya.
"Di lantai. Kantung itu hancur dan pecah. Semua bubuk sudah mengotori lantai dan ranjang." jelas Ginny menjelaskan apa yang terakhir ia lihat.
"Kita kumpulkan lagi sisa bubuknya. Semoga masih cukup untuk mengembalikan mereka dari waktu mereka saat ini berada. Aku harap mereka tidak terlalu jauh kembali ke masa lalu."
Anak selanjutnya yang sadar dari tidurnya adalah Louis. Bertumpu pada bibir ranjang, anak enam tahun itu berdiri sambil mengucek kedua matanya. Keseimbangannya sesekali goyah karena selimut yang ia genggam melorot jatuh ke lantai.
"Teddy," panggil Louis, "aku lapar. Auntie Ginny mana?"
"Astaga, Ginny dipanggil Auntie lagi," ungkap Hermione. "Kita harus tanya siapa sebenarnya mereka, teman-teman."
"Kenapa harusnya tanya, aku Teddy, Auntie!"
Teddy protes karena kehadirannya tak dihiraukan oleh para remaja itu. Lily tiba-tiba saja menangis di pelukan Teddy. Badannya melorot jatuh karena kelelahan berdiri. Gigi susunya terlihat menonjol ketika menangis. suaranya sangat keras, sampai salah satu anak laki-laki berambut hitam mengeluh sebal.
"Jangan menangis lagi, Lily. Itu ada Daddy!" James memerintah dengan kesadaran belum sepenuhnya kembali. Albus, sosok sama namun lebih kecil di sisinya ikut mengangkat tubuh berdiri. Ia berusaha keras berpengangan pada pinggang James untuk membantunya bangkit. Sekitar bibir dan hidungnya kotor, ada noda hitam di sekitar wajah, rambut, dan pakaiannya.
"Daddy—" teriak Albus.
"Dada.. Dada!"
Lily merangkak lepas dari pelukan Teddy. Mengerekkan lututnya mengesek-gesek lantai demi menuju sepasang kaki yang berdiri tak jauh dari dirinya. Harry melihat pergerakan Lily semakin dekat. Bayi itu mendekatinya. Ada dorongan tiba-tiba dari dalam diri Harry untuk tidak mundur. Entah mengapa ia malah ingin mendekati bayi itu. Menggendongnya dan memeluknya.
"Dada.. Dada!" Panggil Lily lagi, pergerakan kakinya jauh lebih cepat ketika ia semakin dekat dengan tubuh Harry.
Dan.. begitu tangan kecil Lily membelai permukaan celana jins Harry, sebuah kejutan listrik mengalir di satu titik jemari Lily mampu menekan celananya mengenai kulit kaki. Sorot mata Lily menusuk tajam sepasang manik hijaunya. Isyarat meminta sebuah perlindungan dirasakan Harry begiru polosnya.
"Halo," panggil Harry. Lily telah berpindah ke gendongannya.
Baik Ron, Hermione, Fred, George, dan Ginny bersamaan memperhatikan Harry bersama si kecil Lily. "Ba-gaimana bisa kau melakukannya, Harry?" Hermione tak percaya. Hanya butuh sepuluh detik, isakan Lily berhenti.
Harry terus menatap wajah manis Lily dan tak henti menimang pelan. "Aku hanya menggendongnya—" ungkapnya.
"Ada apa ini? Berisik sekali kalian semua!"
Molly masuk lebih dulu. Rambut merahnya merekah sedangkan tangannya berkacak pinggang menunjukkan sisi keangkuhannya. Di sisi kirinya berdiri Arthur, Remus, dan Sirius yang berdehem tak bisa berkata-kata. Ia tak biasa melihat banyak balita lucu di depannya. Alastor ikut tak percaya ketika ia melihat satu anak yang begitu mirip dengan Harry.
"Siapa mereka? Merlin, siapa yang kau gendong, son?"
"Prof. Moody, mereka—"
"Nana.. Nana!"
Lagi-lagi Lily berceloteh. Kali ini ia melihat Molly tengah berdiri di belakang Harry, posisinya sangat jelas melihat wanita tua itu berdiri di sanabegitu besar. Lily mengayunkan tangannya meminta Molly mendekat tapi tak jelas. Molly tak tahu ia dipanggil sampai Arthur menyenggolnya menujuk ke arah Lily.
"Aku teringat Ginny ketika bayi, sayang," bisik Arthur.
Molly terkesima. Pendapat Arthur memang benar, "hanya saja, bentuk matanya seperti kacang almond. Mirip Harry, sampai hidung dan bibirnya juga. Anehnya dia mirip sekali dengan Ginny."
"Tentu saja, Grandma, sejak lahir Lily mirip seperti Mummy." Seru Albus terang-terangan.
"Bloody hell! Grandma? Anak-anak ini konyol. Setelah memanggil Auntie, Uncle, Grandma, bahkan Harry dipanggil Daddy oleh—satu dua—Ginny Mummy?"
"Kau yang konyol, Daddy! Jangan melantur." Seorang gadis lebih besar tampak bersandar di tembok. Bergerak menjauh dari sosok bayi laki-laki yang kini menggeliat tak nyaman.
Ron mengaga kaget. Gadis itu berambut merah dan sekilas mirip dirinya dengan mata biru cemerlang.
"Bau apa ini?" Sirius curiga. Remus tak suka ia dijadikan objek Sirius sebagai pelaku penyebab bau itu muncul. "Kau kentut?"
"Ini bukan seperti bau kentut." Remus mengusap hidungnya sebal, "ini seperti bau—"
Semerbak bau busuk menguar ke penjuru ruangan. Tonks berinisiatif mendekat dan mencari sumber bau yang muncul sampai ia berhenti di depan ranjang. Hugo, tak sengaja membalas sorot mata Tonks hingga rambut wanita itu berwarna hijau kehitaman.
"Dia—" tunjuk Tonks pada Hugo, "pup!"
"Mummy tadi bawa popok untuk Hugo, Auntie—em Auntie ini siapa, ya?"
Tonks tak peduli gadis kecil mirip Ron itu bertanya tentang dirinya. Ia lebih penasaran dengan siapa Mummy yang dimaksud. Rose, masih belum melepas perhatiannya ada Tonks.
"Siapa Mummymu, cantik?" tanya Tonks.
Telunjuk Rose bergerak menunjuk salah satu orang. Dia yang berdiri di antara Ron dan Ginny. Hermione, berdiri dengan kaku seolah sedang disorot lampu panggung teater tepat di depan wajahnya.
TBC
#
Bubuk itu hanya hasil imajinasi Anne aja. Ikannya itu memang ada, jenis-jenis ikan mitologi tapi ya cuma ngayal doang soal kemampuanya. Buahnya juga. Hahah biar pas aja gitu. Em.. cukup di sini dulu, chapter 3 menyusul. Maaf kalau masih ada typo dan jangan lupa tulis review, favoritkan, atau follow biar tahu updatenya fic ini! Udah dulu, ya, sampai jumpa! :)
Thanks,
Anne xoxo
