Hi, everyone!

Anne datang lagi. Harusnya Anne udah update kemarin, tapi koneksi lagi buruk banget. Signal Wifi di rumah cuma bisa dibuat pakai hape, jadi nggak tau kenapa nggak bisa pakai laptop. Chapter ini udah selesai sejak pagi siang kemarin, tapi berhubung koneksi Anne lagi susah, Anne bisanya update sekarang. Alhasil nonton film aja, hehehe.. ituloh film animasi The Secret Life of Pets. Udah ada yang nonton? Itu film lucu banget dan ngena banget bagi yang punya dan sayang sama hewan peliharaan—kayak Anne :) hehe, oke balik ke fic!

Btw, seneng deh lumayan banyak yang suka fic ini. Keep reading ya! Tunggu terus setiap chapternya! Anne akan usahain update tiap hari (kecuali kalau ada trouble kayak kemarin), mumpung masih liburan. Sebelum Anne lanjut, Anne balas review dulu, ya!

Altherae: Thanks ya, rasanya nano-nano dong :)

ninismsafitri: huhuhu semoga ada tisu, deh, kak :)

BlaZe Velvet: Wow, minta panjang ya chapternya. Rencananya sih gitu, hehehe :)

AMAZING: Hehehe.. soalnya tahun ke lima kan Harry lagi suka sama Cho, kan, jadi ya Ron jelas marah lah.. lagi suka sama cewek lain eh tiba-tiba udah nongol tiga bocah bareng Ginny. Lanjut baca, ya :)

Afadh: hehehe idenya datang gitu aja. Langsung cling di tempat jadilah kepikiran bubuk. Urusan gimana nyambunginnya, nanti lihat sendiri lah. Yups tahun ke lima, jadi 15 tahun. Yang waktu sebenarnya ya kira-kira udah 27 sampai 28 soalnya Lily baru mau 1 tahun. Bayi udah bisa, sih, ngenalinya. Apalagi kalau deket banget. Anak tetangga aku masih bayi kalo lihat ayahnya pulang teriakannya sampai kedengaran dari rumah, padahal ada 3 rumah yang misah, hahaha.. Jilly nanti punya porsi sendiri di fic khusus. Sabar, ye! Biarkan yang ada dulu. It's OK, yang penting udah baca, kan, sekarang! :)

Whelly573: thank you ya! Boleh-boleh aja, asal terus ikuti, ya :)

sakawuningbunga: wahhh kamu juga mau panjang ceritanya, bisa diatur deh :)

nanda: yups, tiap hari kalau nggak ada halangan, ya. Diusahain :)

Mrs. X: Yusp kamu juga minta panjang juga ya fic ini.. hehehe.. (banyak banget yang minta panjang). Buat aja akunnya, biar enak tahu updatenya :)

Alicie keynes: huhuhu.. sabar ya, namanya juga ketemu orang yang udah meninggal pasti haru banget, apalagi buat Teddy. Sipp doakan semoga Anne nggak banyak halangan buat nulisnya dan tentu aja publishnya :)

Mungkin udah, ya, jadi bisa langsung baca.

Happy reading!


Semula, pesta akan dimulai sekitar pukul tujuh malam. Paling lama, hingga setengah delapan malam. Namun nyatanya, sampai pukul sembilan, pesta tak kunjung mulai dan bahkan terkesan siap dibatalkan. Semua sibuk. Makanan masih utuh, kalaupun berkurang pasti sisa potongan asal yang dambil diam-diam oleh beberapa orang, yang tentunya tidak akan mengaku.

Dengan mulut penuh krim coklat, Ron mengayunkan tongkatnya ke sekeliling kamar bekas para anak sempat beristirahat. Satu persatu perabotan bergeser pelan, memberikan kesempatan granula berwarna biru metalik berterbangan menuju kotak yang ada di tangan kiri Ron. "Sementara jangan bernapas lewat hidung!" ujar George ikut memberi peringatan.

Semua yang datang menyaksikan usaha Ron dan George bersama-sama menutup lubang pernapasan mereka. Ada yang menutupi dengan tangan, ataupun menelungkupkan wajah mereka di pelukan pasangan masing-masing. Salah satunya adalah Ginny.

Sambil menangis, ia melesakkan wajah cantiknya ke dada Harry sambil terus bergumam rasa penyesalannya. "Ini semua salahku.. salahku," bisiknya.

"Sudahlah, Ginny. Jangan menyalahkan dirimu seperti itu." Harry mengusap kepala Ginny pelan, "kau tak tahu kantung itu apa. Kau juga sudah menjauhkannya dari anak-anak, bukan?"

"Tapi tetap saja, mereka hilang karena mereka bisa mengambilnya kembali. Dan sekarang—mereka hilang, Harry!"

Suara isakan yang lain datang dari anak-anak. Victoire dan adiknya, Dominique. Dua anak perempuan itu memeluk ibu mereka erat. Ketakutan adik bungsu mereka hilang. Tidak salah, jika Fleur akhirnya ikut menangisi kepergian putranya itu.

Mantera Ron melemah seiring sedikitnya butir biru yang terbang masuk ke dalam kotak. Sepersekian detik kemudian, mantera Ron hilang. Semua bubuk telah kembali masuk. Helaan napas lega terlepas begitu berat. Ron menunjukkan bubuk yang ia dapat dari George. Kakak-beradik Weasley itu saling beradu pendapat untuk jumlah bubuk yang kini mereka dapat. Jika dilihat secara kasat mata, kotak kayu Ron terisi hampir tiga perempat bagian. Tidak cukup banyak tapi menurut George, mereka masih punya harapan.

"Setidaknya kita punya sisa bubuk ini untuk membuat portal baru. Meski kekuatannya tak sebesar bubuk yang hilang terhirup anak-anak." Tutur George bersiap mengambil alih kotak dari tangan Ron.

Rencananya, George dan Ron akan membawanya ke laboratorium pribadi milik salah satu ahli ramuan kenalan mereka untuk kembali diuji, sayangnya ada sebuah kendala. "Kami tak tahu apa dengan sekali melakukan percobaan kita bisa berhasil. Kita harus berhati-hati dan teliti. Sisa bubuk yang kita dapat tak banyak. Jadi kita bisa main-main membuatnya." Kata Ron.

"Tapi kapan, Ron? Anak-anak tak tahu sekarang di mana dan kalian sendiri tak tahu kapan dan apakah bisa membuatnya dengan sukses." Seru Hermione, tangannya terus menggenggam erat selimut hangat Hugo yang sempat ia pakaikan selama perjalanan menuju Grimmauld Place pada putranya. Di sisinya, Andromeda menepuk pundaknya pelan memberi semangat.

"Ya, mau bagaimana lagi. Hanya ini yang bisa kita lakukan, Mione." Jawab Ron sedikit merendahkan suaranya di hadapan sang istri.

Hermione hanya bisa pasrah, kepalanya menunduk meredam segala luapan emosinya agar tak meledak. Suasana batinnya tak tentu. Kedua anaknya hilang, apalagi Hugo yang masih bayi pergi setelah beberapa menit mengalami alergi karena debu. "Kasihan mereka!" rintih Hermione.

"Apapun yang kalian butuhkan, sekuat tenaga akan aku bantu." Kata Harry mengajukan diri.

"Aku mohon, Ron—George. Lakukan yang terbaik!" Mohon Ginny masih memeluk pinggang Harry.

Ron dan George paham. tidak hanya anak-anak Harry-Ginny maupun Bill-Fleur, anak-anak mereka turut hilang. Begitu juga Teddy. Dan hilangnya mereka tidak hanya jadi tanggung jawab satu dua orang, mereka berhak untuk ikut membantu, mencari cara agar kedelapan anak-anak mereka dapat kembali dengan selamat.

"Yang kita butuh ketahui pertama adalah.. mengetahui di masa apa mereka kini berada." George siap dengan tongkatnya. Sebuah mantera ia ucapkan sambil melesakkan ujung tongkatnya ke dalam timbunan bubuk biru dari dalam kotak.

Seberkas cahaya biru muda terbang, menunjukkan gambaran sebuah pergerakan beberapa manusia. Ramai dalam sebuah ruangan. Semua orang yang melihatnya terkesima. Memanggil nama anak-anak mereka yang tampak dari cahaya itu.

Sementara George, ia hanya terdiam. Menyaksikan salah seorang anak berambut merah dengan kulit sedikit gelap sedang bergelayut manja pada seorang pria muda. George menemukan putranya. Tersenyum bersama pria muda yang telah lama pergi dari hidupnya.

Dua orang 'Fred'—nya saling berpelukan dan bermain gembira.

Dadanya sesak. "Kau sedang bersama pria hebat, nak," George sembari menghapus cepat air matanya yang jatuh.


Anak-anak mendapat makanan di piring masing-masing. Mulut mereka bekerja mengunyah, tapi telinga mereka tetap serius mendengar penjelasan yang sedang dituturkan oleh Kingsley.

"Jadi kalian datang dari tahun 2000an, dan orang tua kalian sebagian ada di sini."

Anak-anak kompak mengangguk dan berheem ria. Kingsley melihat beberapa orang yang diduga sebagai calon orang tua anak-anak itu di masa depan dengan pandangan geli. Ekspresi Harry, Ginny, Ron, Hermione, Fred, George, Remus, dan Tonks—yang sedang berdiri bersama Molly menggendong Hugo, jauh dari sekadar gugup. Kecanggung mereka tampak ketika mereka secara tidak sengaja saling beradu pandangan pada setiap pasangan masing-masing. Kecuali George dan Fred, mereka bisa terbahak tiap kali memperhatikan wajah kembarannya lalu memperhatikan wajah Fred Jr di depan mereka.

"Kulitnya sedikit gelap, meski wajahnya mirip kita." Bisik Fred pada George.

"Tentu, Mummy berkulit gelap. Jadi menurun padaku. Adikku juga." Jawab Fred Jr tenang.

Fred menepuk punggung George kencang sampai suara berdebum terdengar. "Ternyata selera kita ada pada wanita yang sama. Bahkan, aku akui kau hebat, Georgie. Kau bisa membuat manusia sebanyak dua orang! Bayangkan, manusia! Bukan mainan!"

"Jadi,Uncle Fred bisa membuat mainan seperti manusia?" Fred Jr bertanya lugu pada sang paman.

"Oh, tentu. Kalau kau mau, aku akan buatkan boneka manusia yang sangat mirip denganmu. Bisa bicara bahkan rakus sepertimu. Kau hebat, nak!"

Fred Jr sampai menghentikan makannya. Ya, ia akui ia sangat suka makan. Dan sekarang baru kali ini ada orang lain mengatakan hebat pada kemampuannya makan begitu banyak dan orang itu adalah kembaran ayahnya.

"Uncle," panggil Fred Jr, "aku sangat menyayangimu!"

Kingsley akhirnya menjelaskan kembali rencananya untuk membantu pemulangan para anak ke masa depan. Ia dan Mad Eye sempat mendatangi Kementerian dan kembali ke Grimmauld Place beberapa menit kemudian. Secara mengejutkan mereka datang sambil membawa time-turner berantai panjang.

"Kau mencuri milikku?" Teriak Hermione.

Mad Eye menyeringai senang. "Harus. Ini rekomendasi dari salah satu Auror yang—"

"Daddy juga Auror."

Albus berteriak ditengah usaha mengunyah daging panggangnya yang alot. Semua orang melirik tajam ke anak tiga tahun setengah itu. "Aku pernah ke kantornya, beberapa kali." Lanjut Albus. Ia memuntahkan dagingnya tanpa dosa.

"Auror? Wow, kau hebat, Harry!" Sirius berseru di samping Albus sambil membantunya makan. Tidak sedikit pula ia tampak ikut membantu James makan tak jauh dari tempat duduk Albus.

Mereka tampak lebih akrab saat acara makan malam mulai. James dan Albus sama sekali tak takut berdekatan dengan Sirius dalam penampilan bar-barnya. Bahkan, tawa dan canda riang ketiganya lebih mendominasi meja makan.

"Telan dulu, nanti kau tersedak, James," bisik Harry kini memilih duduk di dekat James.

Sisa sup di bibirnya diusap pelan oleh Harry dengan serbet kecil makan. Bibir James mengerujut mengimbangi usapan Harry di bagian bibir dan pipinya. James tersenyum senang lantas menatap Harry. "Terima kasih, Daddy," ucap James.

"Harry," panggil Sirius hingga Harry mengalihkan pandangannya cepat dari James ke sang ayah baptis, "aku bangga padamu. Di masa depan kau memiliki anak-anak manis ini, keluarga—menjadi apa yang kau osbesisakan selama ini.. Auror—"

"Tapi—"

"Head of Auror, lebih tepatnya, Granddad Sirius, sejak Albie lahir," potong James cepat, "Daddy selalu jadi pemimpin rapat, penyerangan di mana-mana sampai Daddy pulangnya lamaaaa sekali."

Albus mengangguk sambil mengeratkan pelukannya ke badan Sirius, "dan tak lupa membawa bekas luka." Ceritanya begitu polos. Matanya mengedip pelan.

Sirius terbahak mendengar cerita kedua Potter kecil itu. Kompak dan polos khas anak-anak. Sejenak, Sirius memberi Albus minum agar menelan makannya sebelum kembali bercerita. "Daddymu kan memang punya bekas luka, nak. Di dahinya itu." Tunjuk Sirius namun pada dahi Albus. Membentuk sudut-sudut seperti kilatan.

"E em, bukan, Granddad Siri. Bekas luka apa saja. Sampai setiap Daddy pulang ke rumah, Mummy sering cerewet ini itu memarahi Daddy. Daddy bilang Mummy khawatir. Aku pernah melihat Mummy sampai menangis saat Daddy pulang setelah satu bulan pergi. Pundak Daddy berdarah, jadi Mummy mengobatinya."

Ginny tersentak di bangkunya.

Selanjutnya, Albus siap melanjutkan kembali cerita sang kakak, "tapi Daddy hebat, loh, Granddad. Daddy tak menangis padahal berdarah." Cerita Albus serius.

"Aku juga tak menangis kalau terluka. Kau saja yang cengeng." James memelototi adiknya menyombongkan diri, "kata Daddy itu namanya jagoan, karena kita rela terluka asal orang lain selamat, Albie. Dan seingatku—bukankah kemarin Daddy juga terluka, kan, Albie."

Albus mengangguk dua kali. Mulutnya penuh dengan roti isi namun bersikeras tetap ingin menjawab. "Iya," jawabnya susah, lantas menggerekkan telunjuknya membentuk garis di pipi sebelah kanan. "Di sini." Tunjuknya.

"Wow, keren!" tanggapan Sirius sama bersemangatnya membuat James dan Albus seolah benar-benar diperhatikan olehnya. Sirius sempat mencuri-curi pandang ke wajah Harry. Kali ini ia benar-benar dibuat bangga oleh putra baptisnya itu. Meskipun hanya sekadar cerita oleh anak yang kurang dari lima tahun, cerita mereka begitu polos dan apa adanya. Anak-anak itu hanya meluapkan rasa bangganya tentang ayah mereka.

Sirius menepuk pundak Harry pelan, "mereka beruntung memiliki ayah sepertimu, Harry," ujar Sirius.

"Tapi—bahkan surat itu mengatakan aku dikeluarkan dari Hogwarts. Lalu Prophet, mengatakan aku pembohong! Aku tak pantas dibanggakan."

Harry mengatakannya begitu pelan. Beberapa dari mereka masih dapat mendengar, seperti Remus dan Arthur. Mereka memperhatikan Harry dengan ekspresi tak tega. Ya, seperti yang diketahui mereka semua, Harry harus menjalani sidang pelanggaran sihir di bawah umur. Masa-masa yang berat sedang ia alami. Namun dengan kedatangan anak-anak itu, setidaknya Harry merasakan banyak dukungan yang membuatnya sedikit lebih kuat. Masa depannya cerah. Walaupun tak bisa dipungkiri, semua itu butuh proses.

"Kau bisa melaluinya. Kau dengar tadi, kau membuat dua putramu bangga dengan usahamu. Mereka tumbuh melihatmu kuat. Jadi sekarang, kuatlah untuk mereka semua. Jangan buat mereka kecewa, Harry. Kami percaya padamu."

Sementara itu, Ginny, dimana ia ikut membantu menggendong Lily sambil menyuapi makan bersama Molly sedikit banyak mendengar percakapan Harry dan Sirius. Ia tersenyum pelan ditengah membayangkan suasana rumah tangganya nanti bersama Harry dan ketika anaknya. Tiba-tiba saja suara Molly berdehem pelan menghancurkan lamunan itu.

Molly tahu sifat putrinya jika sudah menyangkut soal Harry. Ia sampai harus menahan tawa untuk menjaga perasaan Ginny yang pastinya campur aduk. "Bukankah semuanya sudah jelas, dear, impianmu selama ini tercapai. Kau nyonya Potter."

"Tapi Harry sedang mendekati Cho, Mum," protes Ginny tak suka. Ia hanya berusaha menyadarkan kenyataan jika Harry hanya bersikap baik padanya sebatas teman, ia hanya adik sahabat dekatnya. "Untukku, tidak lebih," pertegas Ginny.

"Siapa tahu?" Molly menyuapkan kembali sesendok bubur pada Lily, "Harry laki-laki yang baik. Dia sudah lama aku anggap sebagai anakku sendiri. Prosesmu masih panjang, Ginny. dan kau tak tahu itu bagaimana. Tapi, kalau melihat seperti ini," Molly mengusap bibir kecil Lily sampai bayi itu tertawa, "aku bangga padamu, sayang."

Entah mengapa, Lily tiba-tiba bergerak pelan di gendongan Ginny. Mendongakkan kepalanya mencari wajah ibunya yang masih begitu muda. Meski dari ekspresi Lily ia sedikit tak yakin dengan apa yang dilihatnya, Lily merasakan kenyamanan itu. Seperti ibunya sendiri.

"Lihat, wajah kau dan Lily mirip. Kalau kau tak tahu bagaimana kau ketika bayi, lihat Lily. hanya saja, kalau aku lihat hidungnya mirip Harry, ya." Goda Molly.

"Dan bentuk matanya, Mum. Meski warnanya coklat sepertiku tapi bentuk matanya seperti mata Harry—" Ginny menghentikan kata-katanya. Mencari sudut terbuka di sisi kanan Molly untuk mencari sesuatu yang sedang ia pikirkan.

Harry sempat menoleh. Beradu pandang dengannya sejenak. Harry melemparkan senyum simpulnya. Sebentar saja, tapi mampu meluluhkan hati Ginny. "Dan—senyumnya juga sama, Mum. Mirip." Koreksi Ginny cepat.

Bersamaan dengan itu, jarak lima kursi di sisi Harry duduklah Ron dan Hermione bersama Rose yang duduk di antara mereka sambil menikmati sup kacang merah porsi kecil pemberian Molly. Dengan lahap, Rose menenggak habis sebagian supnya sampai bersendawa kencang.

"Ups—sorry, Mummy!" kata Rose sambil tertawa.

"Jorok, seperti Ron." Hanya itu yang tiba-tiba saja keluar dari mulut Hermione. Apa? Ron? Hermione menggaruk-garuk kepalanya tak sadar.

"Bloody hell. Kenapa harus aku, sih, Mione?" Ron tak terima langsung bangkit dari bangkunya.

Suara kursi Hermione berderit kencang, posisinya mundur ketika ia bangkit dari kursinya tiba-tiba. "Kau juga biasa sendawa tiba-tiba, kan? jangan berlaga lupa, Ronald—" dan ocahan demi ocehan Hermione terus diucapkan dan dibalas brutal oleh Ron tanpa mau kalah.

Rose masih sibuk melanjutkan makanannya tak peduli jika ayah dan ibunya kini siap berkelahi di kanan dan kirinya. Louis ikut tertawa melihat sepupunya tampak tak peduli dengan adu argumen kedua orang tuanya. Rose hanya sibuk makan dan tertawa bersama Louis karena mereka sibuk membuat kacang-kacang merah dalam sup mereka berbaris mengelilingi mangkuk.

"Kalian ini, malah membuat makanan jadi mainan. Lihat, mereka sedang bertengkar." Tunjuk Remus ke arah Ron dan Hermione yang kini meributkan soal perbedaan keras-tidaknya suara sendawa Ron dan Rose.

Teddy hanya bisa tertawa lantas menjawab, "mereka sudah paham ulah Uncle Ron dan Auntie Hermione, Dad." Jawab Teddy.

"Hah? Sudah paham? Jadi, sampai mereka menikah dan punya anak, sikap mereka masih seperti ini?"

"Yups! Biar saja, Dad, kalau lelah akan berhenti sendiri." Sambung Teddy kembali menikmati makan malamnya.

Setidaknya, kehadiran anak-anak itu mampu meregangkan otot mereka sebelum menghadapi masalah bersama Voldemort.

TBC


#

Em.. menurut kalian apa, ya, usaha dari masa depan buat tolong anak-anak mereka? Berhasil nggak ya berhubung yang buat portal itu Ron sama George loh... gimana menurut kalian? Anne tunggu review kalian dan maafkan Anne kalau masih ada typo. Sampai jumpa di chapter mendatang!

Thanks

Anne xoxo