Hi, everyone!

Anne muncul lagi setelah semalam Anne bingung cari masalah penggambaran 'absurd' buat Lily. Hehehe maksudnya ulah-ulah unik yang bisa dilakuin bayi kayak Lily di cerita ini. Nah, setelah banyak tanya minta saran ini-itu, jadilah chapter ini sebelum chapter 6 nanti bakal ada tegang-tegangnya. Hem penasaran? Eitss baca chapter ini dulu untuk persiapan masuk ke masalah yang agak ribet nanti. Tapi, sebelum baca, seperti biasa Anne mau balas review yang sudah masuk dulu.

ninismsafitri: yehehehe banyak ulah yang akan lebih bikin senyum-senyum sendiri, kakak :)

Mrs. X: wah thanks selalu tunggu chaoter demi chapternya. September ini aku baru masuk semester 5 :)

AMAZING: Ahhh.. sweet ya mereka :)

Afadh: Iya, anak-anak masih betah kayaknya bareng Mummy-Daddynya yang masih muda, hhehehe Mummy Ginny tetap cantik di mata Daddy Harry mah. Kalau Cho itu Daddy cuma khilaf, hehehe :)

nanda: tetap optimis aja buat Ron-George, ya.. :)

BlaZe Velvet: Sipp, berusaha update tiap hari selama liburan ini, kalau nggak ada kesibukan yang mendesak banget, ya :)

sakawuningbunga: hem.. kayaknya anak-anak juga masih nyaman dan nggak ribut minta pulang, kok, tenang.. perjalanan masih panjang :)

Udah kayaknya, jadi langsung aja, ya! Btw, thanks banget buat siapapun yang mau diajak gila-gilaan kasih saran soal apa ulah ajaib bayi perempuan untuk Lily di chapter ini. Apa ulahnya? Hem.. langsung baca aja, ya!

happy reading!


Tangisan dua bayi di Grimmauld Place, Lily dan Hugo, memecah keheningan pagi para penghuni lain. Khususnya bagi dua orang wanita, Ginny dan Hermione. Secara bersamaan, keduanya bangun dan berlari cepat menuju salah satu box bayi di sudut kamar. Seperti ada dorongan untuk mencari tahu, apa yang sedang dilakukan anak-anak mereka itu.

"Kalian mau apa?" Tonks mengusap wajahnya kasar. Posisi ia tidur ada di paling dekat dengan box bayi. Kelopak matanya masih sebagian terkatup. Pelan-pelan ia berusaha bangkit dan tak lupa meraba-raba tongkat yang ia simpan di bawah bantal.

Hermione menoleh cepat, memperhatikan Tonks dengan ekspresi kebingungan.

"Di—dia menangis, Tonks, kau tak dengar?" tunjuk Hermione pada Hugo. Tanpa ia sadari, di sampingnya Ginny telah mengendong Lily sambil menimangnya.

Tonks meninggalkan ranjang pelan-pelan untuk menjaga Rose tetap terlelap bersama Molly. Namun, rupa-rupanya Molly pun sudah tampak terbangun, meski masih memilih berbarik sambil menepuk-nepuk pelan punggung cucu masa depannya.

"Mereka mungkin pipis, coba cek!" Molly memerintah dengan tetap menjaga volume suaranya. Tidak lupa suara desisannya lebih keras terdengar di sisi kepala Rose.

"Benar," ucap Ginny, "pantat Lily basah."

"Bagaimana dengan Hugo?" tanya Tonks pada Hermione.

Namun, yang ditanya hanya mendelik dan tak berbuat apa-apa. Hermione mengaku tak cekatan dengan anak-anak. "Kau ini," gerutu Tonks langsung mengambil alih posisinya untuk mengangkat Hugo.

"Ya—aku belum paham dengan anak-anak, aku tak pernah mempelajarinya. Aku belum pernah membaca banyak soal mengurus anak—"

"Yang seperti ini tidak ada di buku mana pun, Granger. Pakai hati."

Hermione langsung saja mundur. Wajahnya menunjukkan rasa tak suka pada Tonks yang dengan seenaknya sendiri mempermalukannya di depan dua orang bayi. Hermione merasa sudah saatnya ia untuk mundur. Bukan kemampuannya untuk membantu di sana. Dari dalam diri Hermione, ia kecewa dengan dirinya sendiri. Hugo menangis, dan bayi itu adalah putranya. Tapi apa yang ia lakukan malah menjauh pergi.

Tepat di depan pintu, Hermione terhenti. Rose memanggilnya.

"Mummy—"

Hermione tidak menjawab, ia cukup berbalik saja. Belum terbiasa untuk menyadari dirinya dipanggil oleh seorang anak dengan sebutan Mummy. "Kemarilah, Mummy!" panggil Rose lagi masih berbaring di atas ranjang sendiran karena Molly sudah turun tangan membantu Ginny dan Tonks memandikan Lily dan Hugo sebelum menyiapkan sarapan.

"Mummy mau ke mana?" tanya Rose. Ia menepuk sisi ranjang meminta Hermione duduk.

"Eh—" Hermione sedikit gugup berdekatan dengan Rose. Mereka hanya berdua di kamar itu, "aku hanya—maksudku Mummy hanya mau ke dapur, menyiapkan sarapan. Iya, sarapan."

"Sarapan?" ulang Rose seolah tak percaya dengan yang didengar.

"Memangnya ke—kenapa, Rosie?"

Rose merubah posisinya jadi duduk bersandar di kepala ranjang. Rambut hingga punggungnya basah karena keringat. Mirip dengan Ron. Hermione sering tahu jika Ron suka sekali berkeringat setiap tidur. Bahkan menurut Harry, Ron biasa memilih tidur dengan pakaian tanpa lengan atau tanpa mengenakan pakaian sama sekali. Badan Ron suka sekali berkeringat. Dan rupanya, Rose pun begitu.

Rose berdecak, "yang biasa menyiapkan sarapan, kan, Daddy, Mummy."

"Oh, ya? Ron?" pekik Hermione hingga membuat Rose terdiam bingung.

"Maaf sudah berteriak." Hermione meminta maaf. Ia harusnya malu, karena pada kenyataannya di masa depan ia lebih payah ketika menjadi ibu. Bahkan Rose dengan polosnya bercerita jika Ron adalah sosok ayah yang baik dan sangat bertanggung jawab untuk keluarganya.

"Dad biasa memasak di pagi hari, walaupun kadang roti atau sosisnya gosong karena ditinggal membantu mengganti popok si Hugo." Cerita Rose apa adanya. "Tapi teh buatan Daddy enak sekali."

"Teh?"

"Ya, kau selalu bilang kalau Daddy adalah anugerah dalam hidupmu. Suami yang hebat!"

Sejauh Rose bercerita, gadis kecil tak banyak menceritakan tentang sosok Hermione yang tak pernah melakukan apapun di rumah. Satu persatu ketakutan muncul di pikiran Hermione. Banyak pikiran negatif datang mulai dari ia tak bisa bergerak karena lumpuh, bercerai dengan Ron, sampai dirinya meninggal. "Lalu, apa yang aku kerjakan di masa depan, Rosie?" ungkapnya khawatir.

"Kau bekerja. Di Kementerian."

"Bekerja? Lalu Ron—Daddy tak bekerja di Kementerian? Bukannya dia juga beropsesi ingin jadi Auror seperti Harry."

Rose menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Tidak setuju dengan pernyataan ibunya. "Kata Uncle George, Daddy keluar dari Auror saat Hugo di perut Mummy lalu memutuskan kerja dengan Uncle George karena nenek yang punya pena bulu terbang dari tempat kerja Auntie Ginny itu suka mengejar Daddy dan—aku tak tahu apa, tapi kata Uncle George, Daddy selalu ditanya soal Unce Harry dan men-dom-pleng. Aku tak tahu itu apa, Mummy, hanya saja kata Daddy semua itu tidak benar. Kata Daddy, dia hanya ingin mengurus aku dan Hugo. Di rumah. Bermain bersama, memasak bersama, melempar jembalang bersama, makan bersama—" Rose terus menyebut satu persatu kegiatannya dengan Ron tanpa henti.

"Nenek dengan pena bulu terbang dari tempat kerja Auntie Ginny?" Hermione berpikir sejenak tentang siapa yang dimaksud oleh Rose. Pekerjaan dirinya di masa depan saja ia tak tahu apalagi dengan pekerjaan Ginny. Tapi, ciri-ciri yang diceritakan Rose mengarah pada satu orang.

"Rita Skeeter!" sebut Hermione penuh keyakinan.

"Yups," Rose menghentikan pengabsenan kegiatannya bersama Ron dan kembali ke topik pembicaraannya, "dia suka muncul di koran, Mummy. Aku pernah mendengar kau bilang tulisannya sampah, tapi aku tak percaya karena aku belum bisa membaca."

Rose turun dari ranjang susah payah. Rambutnya luar biasa kusut dan mengembang tak beraturan. Bermodal satu karet gelang, tangan kecilnya mengingat asal rambutnya tinggi-tinggi siap keluar kamar.

"Aku ingin membacanya, Mummy. Nanti, saat aku sudah besar, agar aku tahu apa benar tulisan nenek itu sampah." Pintu kamar berderit mendapat dorongan tangan Rose, "ejaan sampah seperti apa, Mummy? Apa benar sepanjang tulisan di koran nenek itu? Untuk apa membaca koran kalau setiap hari tulisannya sama. Sampah."

Polos dan cerdas. Rose terlalu polos untuk sebuah umpatan manis dari Hermione di masa depan. Yang ada kini Hermione melihatnya dengan penuh rasa syukur, Rose tumbuh sehat dan di masa depan nanti ia hidup bahagia bersama Ron.

"Ronald. Suamiku?" gumam Hermione pelan sepeninggal Rose yang entah pergi ke mana.


"Hem ma ma huhu ba ba dede. Hu lu no do—"

Tak ada yang tahu apa yang dikatakan Lily.. pada kodok hijau kecil di hadapannya. Ia ditemani oleh James, Louis, dan Fred Jr di ruang keluarga tak jauh dari dapur lantai paling bawah. Mereka membawa sebuah kotak kayu tua milik Kreacher yang sengaja di rebut oleh ketiganya untuk meletakkan kodok kecil yang mereka temukan di bawah meja dapur.

James meringis menyaksikan adik bungsunya senang dengan pemberiannya itu. Ya, semua aksi perampasan dan penemuan kodok itu adalah idenya. Hingga pemberian sebagai hadiah untuk Lily juga berasal dari dirinya. Hampir seharian para anak itu tinggal di dalam Grimmauld Place tanpa jelas untuk melakukan apa. Mereka dilarang keras untuk keluar rumah, naik hingga ke lantai empat, mengambil barang-barang milik para Order, pipis sembarangan atau memakan makanan tanpa ijin.

"Membawa kodok untuk mainan tak ada larangannya, kan?" ujar James percaya diri.

Dua anak laki-laki lain menyeringai setuju. "Cerdas, Jamsie!" pekik Fred Jr.

"Lily juga suka. Lihat, dia mengajak kodok itu bicara." Louis ikut girang memperhatikan Lily sibuk menunjuk-nunjuk badan lunak kodok pemberian kakaknya dengan telunjuknya.

"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Louis lagi. Lily tak berhenti mengoceh sambil melakukan hal lebih ekstrim ada kodok hijau kecil itu. Memukul kepalanya.

James menggeleng tak tahu, "bicara Lily lain dari biasanya. Aku rasa itu bahasa kodok. Lily bisa bicara dengan kodok."

"Seperti Parselmouth?" tebak Fred Jr singkat.

"Aku rasa begitu. Ini keren! Yuhuuu! Lily baru belajar bicara tapi dia sudah bisa berbicara dengan kodok!"

James lupa jika mereka sedang diam-diam bermain. Suaranya terdengar jauh lebih keras hingga menembus ke lantai dua, tempat para orang dewasa melakukan rapat di aula ke dua. Tentu saja, dengan cepat, mereka menuruni tangga menuju ruang makan. Saking gaduhnya suara hentakan kaki di arah tangga, Crookshanks yang sibuk bergelung manja di antara kaki-kaki Rose dan Albus langsung berlari tunggang-langgang hingga menabrak kaki Kreacher.

Peri rumah itu menatap kumpulan anak tak suka, khususnya pada James yang telah berani mengambil kotak sabunnya tanpa ijin. "Anak-anak berandal!" suara serak Kreacher menyambut para orang dewasa ke area dapur.

"Ada apa ini?" seru Sirius masuk lebih dulu. Dapur masih tetap dalam kondisi tertata rapi, hanya saja ada ceceran pasir coklat di lantai, anak-anak yang duduk santai di atas lantai kecuali Teddy dan Hugo yang berbaring di atas sofa, tidur dengan pulasnya. "Sudah aku perintahkan kepadamu, Kreacher, untuk menjaga mereka!" bentak Sirius pada sang peri rumah.

"Sorry, Sir. Tapi anak-anak nakal ini yang bandel. Dia mencuri kotak sabunku," tunjuk Kreacher pada James, "lalu anak yang rambut merah memintaku membuat susu yang dicampur ramuan-lelap-tidur untuk dua anak di sana." Tunjuk Kreacher lagi ke arah sofa tempat Teddy dan Hugo berbaring. Semua orang melihatnya tak percaya.

"Kata tiga anak laki-laki itu, mereka tidak tidur semalaman. Jadi butuh ramuan untuk membantu tidur."

Harry merasa James adalah putranya langsung mendekat. Ia memiliki hak untuk ikut bertanya khususnya pada James. "Untuk apa kau sampai mengambil kotak sabun Kreacher, James?" tanya Harry.

"Em.. aku hanya pinjam untuk bermain. Lily bosan, Daddy. Kasihan dia. Jadi aku memberinya kodok dan kotak milik Kreacher itu Lily." Jelas James apa adanya. Badannya sedikit bergeser ke kanan untuk menunjukkan Lily. Bayi itu masih duduk bermain kodok dengan senangnya.

Sontak, mata Molly terbuka lebar melihat hewan reptil menjijikan di dalam kotak itu. "KODOK! Di mana –kalian mendapat ko-kodok itu?" badan Molly meremang hebat.

"Di dapur." Jawab Louis yakin. "James berhasil menangkapnya kodok itu dalam sekali tangkap, Grandma!"

Badan Molly oleng, pandangannya waspada ke sekeliling dapurnya. Apalagi ketika terang-terangan Louis menunjuk meja tempatnya memasak sebagai tempat awal kodok itu ditemukan. "Oh, buang jauh-jauh kodok itu, cepat!" Pekik Molly.

"Tapi, Grandma. Lily suka sekali dengan kodok itu." James tak mau hadiah pemberiannya dibuang. Lily mendelik tak paham melihat aksi pembelaan sang kakak.

Fred Jr ikut membela. "Benar, Grandma. Bahkan Lily bisa bicara dengan kodok!"

Kembar Weasley saling berhadapan tak percaya dengan ulah yang baru saja dilakukan anak-anak dari masa depan mereka itu.

"Keren!" seru George.

"Prankster gen!" Fred bangga.

Lily segera diangkat oleh Ginny menjauh. Kotak berisi kodok hijau kecil ikut diamankan oleh Remus dengan sekali ayunan tongkatnya. Sementara Rose dan Albus diminta Tonks untuk naik ke sofa bersama Teddy dan Hugo yang telah disadarkan dari pengaruh ramuan. Untuk James, Louis, dan Fred Jr, mereka kini menjadi urusan Sirius, Harry, Fred, dan George untuk segera diberi hukuman.

Masih dengan napas terengah, Molly berjalan tertatih menuju bak cuci piring bersiap untuk memasak makan siang. "Astaga, ajak mereka cuci tangan dan—"

Saat Lily telah berada di tangan Ginny. Molly melihat sesuatu yang aneh, "apa yang sedang dikunyah Lily, Ginny?" tanyanya.

Dengan sabar Ginny meminta Lily membuka mulutnya. Dan luar biasa terkejutnya Ginny ketika melihat banyak pasir dan sebuah benda bergerak di mulut Lily. Potongan benda lunak mirip daun telinga baru saja dikunyah oleh gusi Lily.

"Itu potongan telinga-yang-dapat-dipanjangkan milik kami, Gin. Yang putus ditarik Crookshanks kemarin." Ujar Fred mengetahui benda penuh liur Lily di tangan Ginny.

Fred tertawa. "Mungkin Lily mendapatkannya dari kucing centil itu." Serunya sambil melirik tajam Hermione.

"Mungkin Lily menemukannya di kotak pasir sebelah sana, Mummy," James menunjuk sebuah bak berisi gundukan pasir sedikit kecoklatan dan basah. Sebagian isinya berceceran mengotori pinggiran lantai. "Aku tahu Lily suka bermain pasir jadi aku berikan ke Lily tadi—"

"Dan Lily memakannya." Tutup Ginny memberi kesimpulan. Lily tertawa senang mendapat tatapan aneh dari ibu mudanya.

Semakin lemas dengan ulah para cucunya, Molly lantang berteriak, "cuci mulutnya, Ginny! Merlin!" sebelum akhirnya ia terduduk di kursi makan, mengatur napasnya yang sesak.

James, Fred Jr, dan Louis hanya bisa meratap kepergian Ginny dan Lily menuju kamar mandi. Mereka tetap berdiri bertiga dengan pandangan bangga karena berhasil membuat Lily bahagia dengan cara mereka. Sekilas, James menoleh pelan ke arah Sirius di belakangnya. Tersenyum senang sambil berkata, "bukankah aku kakak yang baik, Granddad Siri?" ujar James.

"Yeah," seru Sirius penuh kebanggaan, "nice one James!"

TBC


#

Hehehe.. semua akan baik-baik aja, kok. James kan kakak yang baik, begitu juga dua sepupunya! *Anne sih ngerasa gitu, walaupun agak was-was misal jadi orang tua mereka* :P Baiklah, seperti yang Anne jelaskan di awal, chapter mendatang bakal ada ulah mereka yang.. lebih berbahaya. Apa itu?

Tunggu chapter 6 nanti dan seperti biasa.. tinggalkan review, fav, atau follow fic ini agar Anne senang dan semangat lanjut ceritanya! Maaf kalau masih banyak typo. Sampai jumpa di kesempatan mendatang! Anne sayang kalian semua! :)

Thanks,

Anne xoxo