Hi, everyone!
Anne datang lagi. Tapi maaf ya agak malam, Anne lagi kena flu. Kepala agak mumet-mumet, nih. Tapi.. nggak apa, sebelum parah, Anne akan usahain nulis dan bisa selesai juga chapter ini (malah lumayan panjang) hehehe. Oh, ya, bentar lagi Indonesian Fanfiction Awards (IFA) 2016 udah mau mulai, nih. Anne dapat DM dari salah satu humasnya. Nah, gimana, nih, apa Anne ikut lagi tahun ini? Dulu udah masuk cuma nominasi doang. Kalau ikut lagi, apa ada yang mau vote Anne? *hehehe tanya dulu gitu*
Baiklah, tapi sebelum baca chapter ini, Anne balas review dulu, ya!
ninismsafitri: James jenius, kakak :)
Mrs. X: ihh Lily unyunya udah kronis. Hehehe.. ayo dibaca, deh :)
Afadh: Hahaha.. kenyataannya gitu, lanjut,ya! :)
BlaZe Velvet: hehehe mereka bikin sweetnya :)
AMAZING: Lily aku buat absurd di sini, badas abis! Nggak punya takut. Prankster baru tercipta :)
: hehehe makasih, ya :)
fitriyyakanzou: ow thanks banget, seneng kalau kamu suka. Semangat, ikuti terus kelanjutannya, ya :)
Mungkin langsung aja, deh. Silakan ke TKP dan lihat ada ulah apa dari para anak masa depan di chapter ini.
Happy reading!
Harry terbangun dari tidurnya tanpa sadar. Jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Ia tahu itu terlalu pagi tapi sayangnya ia diminta untuk tetap terjaga karena suatu hal. Sisi ranjangnya kosong. Ginny pergi dengan tetap membiarkan selimut tersibak dari pinggir. Pintu kamar mereka tertutup namun sayang, Ginny lupa menutupnya rapat.
"Dia pasti tak mau membuatku terbangun."
Dan seperti malam sebelumnya, Ginny pasti ditemukan di salah satu kamar tak jauh dari kamar mereka. Harry kini berhenti tepat di depan pintu berwarna putih dengan hiasan gantungan peri kecil lucu bersayap dengan lambang huruf L menggantung di tengah-tengah daun pintu. Kamar Lily sama sunyinya dengan dua kamar lain milik James dan Albus. Harry teringat nasib ketiga buah hatinya yang terjebak di masa lalu. Sebagai ayah ia sangat khawatir, meski ia harus tetap kuat. Apalagi di depan sang istri, yang kini terduduk sendiri di satu-satunya kursi malas yang ada di kamar si bungsu Lily.
Harry masuk tepat saat Ginny baru saja membenahi kancing piamanya. Sebuah botol kaca di tangannya terisi penuh dengan cairan putih. Sedangkan di atas meja masih ada sisa alat pompa ASI yang tampak basah dengan bulir-bulir susu menempel di permukaan corongnya.
"Masih nyeri?" tanya Harry membuat Ginny memalingkan wajahnya.
"Yeah, karena memang harusnya sudah diminum oleh Lily."
Sejak malam Lily dan anak-anak lain menghilang, Ginny otomatis berhenti dari aktifitas menyusuinya. Lily harusnya rutin menyusu tiap waktu makan tiba. Walaupun sudah diselingi oleh makanan pendamping, di usia Lily kini ia masih memiliki kewajiban mengkonsumsi ASI hingga setahun mendatang.
Sesuatu yang harusnya dikeluarkan terpaksa harus dihentikan. Ginny mengalami rasa nyeri yang cukup mengganggu pada area dadanya akibat desakan ASI yang terus ingin keluar. Di mulai sejak pagi, Ginny akhirnya mengikuti saran ibunya untuk memompa ASInya dan menampungnya di dalam botol-botol steril. Selain untuk mengatasi rasa nyeri, stok ASI untuk Lily masih dapat terjaga.
Harry benar-benar tak tega melihat kondisi istrinya pagi ini. Mata Ginny sembab dihiasi dengan jejak air mata yang belum mengering. Hidungnya bekerja keras menarik masuk ingusnya kembali. "Gin—" panggil Harry singkat.
"Tolong taruh di lemari pendingin, ya, aku mau bersihkan pompanya dulu—"
"Ginny!"
"Sandingnya di sebelah kanan botol sebelumnya. Aku lupa belum memberi tanggal di botol itu." Ginny tetap tak mengindahkan panggilan Harry yang terdengar memaksa, "kalau kau mau menulisnya beri kertas dulu dan tempel di—"
"Ginny, dengan aku!"
Harry tak sengaja membentak. Ginny terdiam dipenggalan kata yang tak tepat langsung bersandar lemas di kursi malasnya. Pinggiran ranjang bayi Lily terasa dingin di telapak tangan Ginny. Mengusapnya pelan seolah itu adalah lengan putri kecilnya. Ginny kembali terisak.
"Kita harus membawa mereka pulang, Harry. Aku takut!"
"Mereka akan baik-baik saja. Kita melihatnya sendiri dari portal pengintai kemarin? Mereka bersama Sirius, Profesor Lupin, orang tuamu—kita yang masih muda, bahkan para anggota orde yang lain."
"Tapi—" Ginny benar-benar tak tenang. Matanya berusaha terpejam namun begitu sulit. "Di luar sana berbahaya. Masa itu Voldemort bangkit, Harry. Kau pasti ingat Voldemort sedang masa-masa mengumpulkan pasukannya! Apa kau—"
"Aku tahu, sayang. Aku tahu." Harry memeluk Ginny dan menciumnya begitu dalam.
Akhirnya Ginny mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam. Segala rasa takut dan rindunya diluapkan dalam bentuk tangisan serta rintihan pilu. Ginny sesak menahan dadanya yang tiba-tiba kembali nyeri, jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Matanya mengabur. Semuanya seperti mimpi ketika Harry dengan perlahan mengangkat tubuhnya.
"Kuatlah, sayang. Yakinlah kita akan terus berusaha agar anak-anak kita kembali. Aku janji, aku akan berusaha melakukan apapun agar mereka semua selamat."
Harry memberikan kecupan hangat di dahi Ginny sesampainya mereka kembali ke kamar. Tubuh Ginny pelan-pelan direbahkan kembali. Menutupinya dengan selimut dan meremangkan cahaya dari lampu kamar. Harry tahu Ginny tak dapat tidur nyenyak dan yang dibutuhkannya kini hanyalah sebuah ketenangan. Ginny harus tidur.
Harry bersiap keluar sambil membawa botol berisi ASI. Botol yang dititipkan Ginny masih ia kantungi di celana piamanya. Botol itu masih terasa hangat di telapak tangan Harry, menyusup menghantarkan gelombang hangat memancing kekhawatiran baru di dirinya. Dengan emosional Harry terisak sendiri. Barulah ia benar-benar ikut merasakan ketakutan itu. Ketakutan Ginny ikut ia rasakan.
"Daddy akan bawa kalian kembali, nak. Daddy janji."
Sepanjang siang menjelang sore, anak-anak berada dalam puncak kebosanan mereka. Dua hari mereka terperangkap di Grimmauld Place. Semua pergerakkan mereka diringi penjagaan. Semua ada peraturannya. Mengingat mereka datang dari masa yang terlalu jauh, para orde dan yang lainnya tidak mau mengambil risiko di saat dunia sihir dalam kondisi berbahaya.
"Uncle Harry disebut pembohong oleh Prophet."
Teddy menunjukkan halaman depan Daily Prophet yang ia temukan di aula lantai dua. Foto ayah baptisnya terpampang jelas mengenakan seragam Hogwarts dengan wajah kelehan. "Aku ingat Daddy pernah cerita kalau dulu ia disebut pembohong karena Voldemort muncul lagi." Kata James kini mengambil alih koran di tangan Teddy. Ia masih kesulitan membaca, alhasil James harus puas memandang wajah muda ayahnya yang bergerak dengan kilatan cahaya lampu berpendar lalu redup sesekali.
"Daddy juga sempat dijauhi teman-temannya." Seru Albus sambil memeluk tubuh Lily agar tak jatuh di atas sofa. Rose bahkan ikut turun tangan memegangi Lily yang terus berontak dan melepas Hugo yang jauh lebih bisa dikendalikan.
Mereka berdelapan tinggal tanpa didampingi siapapun. Para orang dewasa pergi bekerja, sedangkan para remaja tidak jelas melakukan apa di lantai tiga. Hanya Molly, setiap lima belas menit sekali akan naik untuk mengecek mereka di sela-sela acara memasak makan malam.
"Oh, ya, kalau tidak salah," Louis mendesah kesal roti di atas meja tak terjangkau tangannya, "tadi Uncle Harry keluar dengan Granddad Arthur. Kira-kira mau apa, ya?" tanyanya. Louis akhirnya pasrah. Memilih untuk cukup memperhatikan roti di depannya sambil terus menahan diri. "Aku lapar, Teddy." Gerutunya lagi.
Di atas karpet, Rose dan Hugo sibuk bermain bersama Crookshanks yang meringkuk nyaman di pangkuannya. Ia baru saja meninggalkan Albus karena kelelahan menjaga Lily. Crookshanks selalu tenang jika berdekatan dengan Rose dan adiknya. Bahkan Hugo tak segan-segan ikut menciumi kucing itu meski setelah kucing itu selesai buang air besar di kotak pasir. Kotak pasir yang sama dengan yang sebagian isinya dimakan Lily tempo hari. "Uncle Harry dan Granddad Arthur mau ke Kementerian. Daddymu mau disidang," jelas Rose.
"Disidang?" ulang Albus pelan. Sendirian ia harus mengurus Lily selepas ditinggal Rose. Meski sendirian, Albus bisa membuat Lily menyerah dengan caranya sendiri.
Lily dibuat lelah dengan menyita satu barang yang sangat ia gemari. Dotnya.
"Kata Mummy dulu, Uncle Harry pernah dikeluarkan di Hogwarts karena menggunakan sihir di bawah umur saat tidak di sekolah. Tapi, tidak jadi. Uncle Harry masih boleh sekolah oleh profesor Dumbledor." Cerita Rose.
"Em.. kenapa kita tak diajak, ya? Aku belum pernah ke Kementerian, loh." Seru Louis, mulutnya penuh mentega dari roti buatan Teddy. James mengejeknya payah karena ia sendiri sering pergi ke Kementerian karena diajak Harry.
"Hey," Teddy berseru pelan, "kita, kan, tidak boleh keluar. Banyak dementor."
Fred Jr, yang sedari tadi terdiam di depan jendela akhirnya berseru, "yang seperti itu, bukan?" tunjukknya ke arah luar Grimmauld Place. Berbondong-bondong para anak menghampiri Fred Jr ke arah jendela. Melihat sendiri kabut-kabut hitam yang berterbangan cepat di langit perumahan. Tidak jelas bentuknya, hanya saja warna hitamnya begitu mencolok.
"Keren, ya," bisik Fred Jr. Matanya belum beralih dari arah jendela.
"Tapi belum tentu itu dementor." Teddy memilih mundur dan mengambil Lily untuk didudukkan di sisi Hugo. "Uncle Harry bilang kalau dementor itu seperti makhluk berjubah. Tapi itu tadi cuma kabut."
Albus dan Rose yang lebih dulu percaya. Tinggallah Fred Jr, Louis, dan tentu saja James yang masih sibuk menyaksikan makhluk hitam yang mereka percayai sebagai dementor. Ada perbincangan sembunyi-sembunyi di antara ketiganya. "Sudahlah, kita harus tetap di sini. Beberapa menit lagi Grandma Molly akan datang. Jangan sampai kalian bertiga membuat ulah lagi."
"Siapa yang mau berbuat ulah lagi?"
Remus muncul bersama Sirius yang memutar-mutar tali berisi kumpulan kunci di depan pintu aula. Tanpa Molly, Ron, Hermione, atau Fred dan George. Dua pria dewasa itu datang membawa senyuman khasnya. Bau mereka khas sabun mandi yang sama. "Apa mereka mandi bersama?" bisik Rose pada Albus.
"Aku bahkan sering mandi bertiga dengan James dan Dad." Jawab Albus mudah. Rose mengangguk paham.
"Kalian yang mau berbuat ulah?" tanya Sirius langsung tertuju pada tiga bocah di hadapannya. James, Fred Jr, dan Louis saling berpandangan sejenak lantas menggeleng, bersamaan.
"Hem," gerutu Sirius, "tidak meyakinkan." Ujarnya sarkastik.
Teddy memeluk Remus dan mengajaknya duduk bersama. Saat Lily sibuk berceloteh dengan Hugo, Teddy mulai menayakan pada Remus. "Dad, benarkah Dementor itu berjubah? Makhluk seperti apa mereka?" tanya Teddy.
"Dementor?" Remus mendelik, "dari mana kau tahu soal Dementor?"
"Uncle Harry. Dia pernah bercerita jika sering mengendalikan Dementor yang lepas dari Azkaban saat dia bekerja. Tapi Uncle Harry belum pernah menjelaskan lebih jauh, Dad."
Remus tersenyum bangga. Harry yang ia kenal di masa depan menjadi penyihir hebat. Bahkan Harry yang ia tahu begitu takut dengan Dementor, di masa depan Harry bahkan sering berurusan dengan Dementor. "Pantas saja, pekerjaannya Auror." Remus menggeleng-geleng tak percaya.
"Padfoot! Putra baptismu luar biasa. Seperti James!" teriak Remus.
Merasa namanya disebut, James menoleh. "Aku?"
Tawa Sirius menggelegar ke seluruh aula. Menepuk-nepuk kencang punggung kecil James sampai anak itu terperanjat hampir terjungkal ke depan. "Bukan kau, nak. Tapi Prongs, si James, Granddadmu. Ayah dari Daddymu."
James menggangguk paham mengenal nama sebutan itu, Prongs. Bahkan ia sering dipanggil Prongs oleh Harry ketika di rumah. Tapi baru ia sadari itu nama keren dari kakeknya sendiri. "Wow, aku jadi ingin sepertinya, Granddad Siri."
"Kau memang sudah melanjutkan jejaknya, nak!" teriak Sirius mendapat pembenaran dari Remus. "The next Marauders!" pekiknya sambil meninju angin.
"The next Marauders!" teriak James diikuti Fred Jr dan Louis bersamaan.
"Tapi, Dad, kau belum menjelaskan apa itu Dementor?" Teddy kembali bertanya pada Remus.
Dengan penuh kehati-hatian, Remus menjelaskan secara sederhana tentang sosok Dementor. "Dementor makhluk yang sensitif. Ia tak tahu apapun, apapun yang ia lihat pasti langsung diserang. Yang pasti, kalian semua harus hati-hati dengan Dementor. Di Hogwarts kalian akan tahu lebih jauh. Kalian masih kecil." Remus mengusap rambut Teddy yang kini berubah menjadi biru.
"Tapi, Teddy, kau sering sekali bercerita ini itu dan.. seingatku kau banyak tahu dari Harry. Kau dekat sekali dengannya?"
"Ah, tentu saja, Dad. Uncle Harry, kan, ayah baptisku. Kata Nana Andy, kau yang menunjuk Uncle Harry langsung sebagai ayah baptisku beberapa saat setelah aku lahir." Cerita Teddy namun sejenak ekspresinya berubah sedih, wajahnya menunduk memberi kesan penyesalan. "Maafkan aku, Dad," lanjutnya.
"Loh, kenapa minta maaf? Itu artinya aku tepat memilih orang. Kau begitu bahagia dengan Harry."
Teddy mengangguk meski masih dengan wajah tertunduk. "Aku—aku."
"Katakan, Son!"
"Bertahun-tahun aku sempat menganggap Uncle Harry sebagai Daddyku dan Auntie Ginny sebagai Mummy. Sampai Uncle Harry melarangku untuk memanggilnya Daddy karena—dia bilang bukan Daddyku. Uncle Harry bercerita tentang kau dan Mummy. Tapi aku tak mengenalnya, hanya ada Uncle Harry dan Auntie Ginny. Aku tak percaya. Karena sejak kecil kalian tak pernah ada bersamaku—astaga."
"Teddy—" panggil Remus mulai memahami jalan pembicaraan Teddy. Putranya menjelaskan tentang sesuatu yang ditutupi sejak awal ia melihat ekspresi Teddy ketika bertemu dengannya. Remus menoleh pelan ke arah Sirius bersama ketiga anak di dekatnya.
Remus tersenyum memberi semangat. Tanpa perlu ia katakan, Remus tahu Teddy ketakutan karena terlalu jauh menceritakan tentang masa depannya yang akan pergi untuk selamanya. "Maafkan aku, tak seharusnya aku bicara tentang— aku hanya—"
"Aku lega, kau bersama orang yang tepat, Teddy." Remus memeluk putranya hangat. Punggungnya basah, merasakan air mata Teddy di sana. "Harry dan Ginny menjagamu dengan baik, bukan. Bahkan mereka tetap memberikan Daddy dan Mummy ruang untuk kau kenal. Kami tak masalah. Mummy dan Daddy tak mempermasalahkan ini, Teddy. Semua sudah ada jalannya. Dan apa yang telah terjadi kini, akan membuatmu semakin kuat. Belajarlah dari mereka yang bisa kuat hingga sekarang. Seperti Harry, Nana Andy, semuanya. Semua orang yang akan selalu menyayangimu."
Tak terasa semua orang larut dalam dialog hangat Remus dan Teddy. Hingga Sirius pun tak kuasa menitikkan air matanya. Hingga semuanya hilang ketika Sirius menyadari sesuatu. "Dimana James, Fred Jr, dan Louis?" tanya Sirius panik.
"Hu hu.. te te!"
Lily menunjuk-nunjuk ke arah pintu. Melakukan gerakan berdesis pelan sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir. "Hu hu ha ii," lanjutnya.
"Mereka—"
"Oh, kalian ternyata. Kau ini biasa ya, Sirius. Tutup pintu depan kalau masuk. Aku kira anak-anak yang keluar tadi."
Molly melipat apronnya untuk disimpan kembali. Kejanggalan demi kejanggalan mulai dirasakan. Sirius mengulang terus kata-kata Molly mengingat sesuatu. "Pintu?" ulangnya. Sirius bertanya Remus dengan mengedikkan mata.
"Kita bahkan menguncinya tadi, Molly." Lanjut Remus. "Padfoot yang menguncinya."
"Jangan bercanda, Moony. Pintunya terbuka dan kunci ini tergantung di pintu—"
"Bloody hell!"
Tanpa disadarinya, kumpulan kunci pintu seluruh ruangan Grimmauld Place hilang dari saku celananya dan beralih ke tangan Molly. "Jangan bilang kalau—"
"James, Fred Jr, dan Louis ada di luar!" pertegas Remus.
Panik. Ya, dan kini hanya ada Remus dan Sirius bergegas keluar dari Grimmauld Place, Molly berteriak ketakutan, para anak tertegun saling berpelukan, dan Lily—yang berteriak girang sambil bertepuk tangan.
Beberapa puluh meter di luar area Grimmauld Place, James, Fred Jr, dan Louis berlari saling bergandengan sembunyi di balik pertokoan. Fred Jr mengajak adu tos dengan kedua sepupunya merayakan kebebasan mereka.
"Kita berhasil!" Seru Louis sambil berlonjak-lonjak.
"Yeah, dan kita akan mencari tahu sendiri siapa itu Dementor. Kau memang hebat, Fredie."
Fred Jr menyeringai puas. Semua rencananya untuk keluar akhirnya berhasil. Bersama James dan Louis, Fred Jr yakin, ia akan memulai sebuah petualangan baru. Di luar, di masa yang luar biasa penuh sejarah.
"Kita akan masuk sejarah. Kau tahu, tahun ini adalah tahun terhebat. Dumbledore Army terbentuk tahun ini dan kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu untuk tidak membuat petualangan kita sendiri. Akan banyak misteri di luar. Ini akan menyenangkan, James, Lou!"
Suara teriakan setuju berbaur dengan suara klakson dan suara-suara manusia serta makhluk hidup lain. Muggle tak terhitung berjalan di antara ketiganya. Dan semua itu membuat James, Fred Jr bersama Louis semakin tertantang untuk bersenang-senang.
"Kita sudah ada di luar, lalu kita akan melakukan apa?" tanya Louis.
James menegadahkan wajahnya menatap langit sore. Cerah dan burung-burung berciutan silih berganti. Begitu pula sebuah bayangan hitam sekejab terbang melintasi gedung-gedung pecakar langit.
"Kau lupa tadi kita membahas apa, Lou?" Seru Fred Jr jauh lebih memahami isi kepala James.
Mengikuti arah pandang James, Fred Jr dan Louis ikut menatap langit lepas. Satu bayangan hitam kembali muncul. Ya, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.
"Kita mencari Dementor."
TBC
#
Wahh mereka bertiga akhirnya keluar. Bakal kayak apa mereka bertiga di luar? Apa yang akan terjadi nanti?
Anne tunggu, ya, reviewnya. Maaf kalau masih ada typo. Dan sampai jumpa di chapter mendatang :)
Thanks,
Anne xoxo
