Hi, everyone!
Anne datang lagi dengan badan yang makin lemes. Aghh Anne sakit, teman-teman. Anne jadi korban flu selanjutnya di rumah. Menyebalkan sekali. Em, tapi Anne tetap berusaha update meski telat. Sehari doang, maaf, ya :)
Baiklah, Anne maaf banget nggak bisa balas review. Anne masih pusing, tapi tenang Anne udah baca review yang masuk, kok, Thanks banget ya buat yang kemarin nulis review di chapter 6 ada ninismsafitri, Afadh, BlaZe Velvet, Mrs. X, AMAZING, dhea merliana, dan fitriyyakanzou. Thanks banget. Dan jangan bosen buat ngeramaiin kolom review terus. :)
Langsung aja kalau begitu, deh, ya!
Happy reading!
"Kau yakin, Mrs. Weasley?" tanya Harry panik.
Kabar buruk menyambut kedatangannya dan Arthur selepas dari Kementerian. Awalnya, Harry dan Arthur sendiri berniat menyampaikan berita baik tentang hasil persidangan, namun semua itu pupus karena lebih dulu mereka mendapat kabar tidak mengenakkan yang terjadi di Grimmauld Place. Salah satu anak masa depan mereka hilang.
"Lebih tepatnya melarikan diri." Bisik Fred di atas sofa panjang. Dipangkuannya ada Lily, bermain kancing baju Fred yang sengaja dipasang mainan kecil berbentuk sayap peri mengepak-ngepak otomatis.
Molly tak mampu banyak bercerita di pelukan suaminya, "begitulah, Harry," katanya singkat. Wajahnya panik, keringat dingin terus bercucuran menantikan kedatangan Sirius dan Remus yang keluar untuk mencari ketiga anak itu. Mereka belum kembali. Sembari menunggu, kelima anak yang tersisa, kini menjalani interogasi dadakan oleh para remaja.
Tentu saja, kecuali Lily dan Hugo.
"Kalian benar tak tahu tentang rencana mereka bertiga?" tanya Ron menujukan pertanyaannya pada Rose meski terkesan untuk anak-anak yang lain juga.
Teddy menggeleng lebih dulu. "Mereka tak banyak cerita, Uncle, hanya saja tadi mereka mulai berbisik-bisik saat—"
"Bisik-bisik? Maksud kalian?" Ginny ikut bertanya.
"Di jendela itu," tunjuk Albus, "mereka bebisik-bisik saat melihat—apa itu namanya De—De apa?"
"Dementor, Albie," kata Teddy memperjelas. Albus berseru senang.
Semula tidak ada yang curiga dengan cerita para anak. Mereka membiarkan Teddy, Albus, dan Rose untuk bergantian bercerita, menggambarkan sosok hitam terbang berkeliaran di langit luar yang terus mereka sebut. Albus beberapa kali sibuk membuat visual dengan tangannya. Mengepal kecil lalu di gerakan naik memutar-mutar.
Lain dengan Rose, ia lebih jelas menceritakan kejadian yang ia ketahui cukup dengan berbicara. "Aku lihat Fredie tak ikut bermain dengan kami sejak Uncle Harry dan Granddad keluar. Dia terus ada di depan jendela, bengong. Seperti orang sinting—aku juga sempat perhatikan Fredie senyum sendirian. Seperti dia tak bisa lepas pada sesuatu. Saat kami ikut lihat makhluk kabut hitam itu, James dan Louis ikut-ikutan seperti Fredie. Lalu mereka tertawa juga—"
"Dia cerewet," bisik George.
Fred terkikik, "kombinasi sempurna. Ketahuan hasil buatan Ron dan Hermione." Jawabnya diam-diam.
Masih dengan menyimak para anak, Fred dan George turut sibuk menemani dua bayi lain tanpa mempedulikan Rose semakin seru dengan ceritanya sendiri. Hugo berada di tangan George. Bayi laki-laki adik bungsu Rose jauh lebih tenang bersamanya. Sedangkan Lily, berubah jadi liar ketika sayap mainan di kancing baju Fred patah dan tak bisa mengepak lagi. Badannya bergerak-gerak ingin di lepaskan. Entah dengan sebuah keahlian khusus apa. Cukup sekali memutar badannya ke kanan, Lily kecil melorot jatuh dan berdebum kencang mendarat lantai dengan pantat lebih dulu.
"Eh, lincah juga dia!" Fred memperhatikan Lily merangkak cepat ke arah jendela.
Ada sesuatu tampak sedikit becek di punggung tangan Lily. Hanya titik cairan yang jatuh dari mulut kecilnya yang terus terbuka kecil menggemaskan. Tetesan air liur Lily keluar sedikit demi sedikit ke tangannya sendiri ada pula yang terkena ke atas lantai.
"Astaga—Harry! Apa kau tak bisa mengabulkan permintaan Ginny dulu?" goda George pada Harry di dekatnya. Mereka secara bersamaan memperhatikan Fred memungut badan Lily di dekat jendela dan menggendongnya lagi.
Harry mengerutkan dahi tak paham. Air liur Lily kini mengenai tangan Fred.
"Mungkin Ginny ngidamnya susah, ya?" Fred mengibaskan tangan membuang tetesan liur Lily kasar. "Tanganku sampai basah."
"Sorry?" Gerutu Ginny tak suka diperbincangkan. Tatapannya mengarah pada Harry, mencari penjelasan.
Arthur dan Molly mencoba memberi sebuah pencerahan pada ketiga cucunya. Terutama pada Teddy. Ia terlihat lebih sedih dan terus menyalahkan dirinya sebagai penyebab hilang ketiga adiknya. "Aku lalai, Grandma, maafkan aku—" kata Teddy.
"Teddy, jangan menyalahkan diri sendiri." Molly mendesi pelan, "yang penting sekarang kita tunggu Sirius dan Remus datang. Semoga mereka menemukan—"
Tidak lama kemudian, suara tapak kaki menghantam lantai terdengar mengalun dan berhenti di depan pintu aula. "Mereka benar-benar punya darah prankster." Hanya itu yang terdengar pertama dari mulut Sirius.
Remus membentangkan tangannya menerima kedatangan Teddy. Mereka berpelukan lebih dulu sampai Teddy akhirnya melapas tangisnya di pundah Remus. "Mereka—Daddy, mereka hilang?" isaknya.
"Tenanglah, Son. Kita akan berusaha mencarinya. Mereka mungkin belum jauh." Tutur Remus sedikit memberi harapan.
Namun Sirius masih belum habis pikir dengan alasan ketiganya pergi secara diam-diam. Bahkan mereka dengan berani mengerjainya yang terkenal sebagai tukang bully. Sirius menarik salah satu bangku dengan kasar. Yang ingin Sirius pikirkan sekarang adalah: mengapa ia bisa luput dari ulah anak-anak itu. Tidak jauh darinya, Sirius mendengar suara-suara tawa George dan Fred bersama Hugo dan Lily terbahak menertawainya.
"Mereka datang dari masa lebih modern, Sirius. Mereka lebih cerdas." Fred berseru girang.
"Sialan, kau, Weasley!" gerutu Sirius.
"Cukup kalian berdua." Kata Arthur marah besar. "Dengarkan, mereka bertiga mungkin sibuk mencari sesuatu di luar sana."
Albus membenarkan posisinya. Turun dari sofa dan bergerak meminta Sirius agar mau mengangatnya. "Baiklah, katakan, Albie!" tanya Sirius. Wajahnya merah karena kepanasan dari luar. "So, kesimpulannya?"
"Mereka ingin tahu Dementor, Granddad." Singkat Albus bercerita.
"Dementor?"
Mata semua orang membulat. Molly urung menguap, Sedangkan Hermione mengatupkan tangannya ke depan mulut. "Wicked!" Teriak Remus, Ron, Fred, dan George dengan senyuman kaget memuakan. Sebut saja kaget dan bangga.
"Aku akui mereka hebat." Remus bergidik ngeri.
"Dan sinting." Tambah Albus begitu lugu di dekat Sirius dengan sangat fasih. Rose setuju sambil mengulang kata Albus sama jelas dan terangnya.
Cepat-cepat Sirius membungkam mulut Albus dengan telapa tangan kanannya. Lama-kelamaan anak-anak itu pandai sekali mengumpat. "Akan aku jahit mulut orang tua kalian nanti." Batin Sirius kaku karena terkejut Tak percaya jika anak-anak kecil di masa depan mudah sekali belajar kata-kata tidak sopan.
Teddy bergumam. Kepalanya menoleh melihat Remus lagi. "Semua itu mungkin saja. Setahuku juga, James, Fred, dan Louis membahas soal kabut yang kami lihat tadi—yang katanya Dementor, di jendela. Mereka suka sekali menyimpan rahasia. Kalau sudah begitu, ada saja ulahnya."
"Well, kalian melihat apa? Dementor?" Hermione meliriknya.
"Hanya seperti kabut hitam." Dengan segera mengucap sumpah, Teddy menunjuk arah jendela tempat ia melihat sosok yang sebelumnya diyakini sebagai Dementor.
"Yeah.. aku rasa aku juga melihatnya, guys."
Ron bergera-gerak aneh dari tempatnya. Bersandar pada dinding agar mampu melihat kabut hitam di balik jendela. Lily ber'gugu' ria mengayunkan tangannya menunjukkan dua buah kabut hitam melayang di atas atap salah satu rumah. Fred melihatnya sendiri jika bukan makhluk biasa sedang berkeliaran di sekitar mereka.
"Mereka benar-benar yang aku temui di taman." Ujar Harry meyakini bahwa Dementor mulai datang ke wilayah tempatnya berada kini.
"Ini di London. Bukan Hogwarts atau Azkaban, kan?" suara Molly terdengar bergetar. Sementara Arthur siap mengeluarkan tongkatnya memulai membuat penjagaan.
Beberapa kali mereka memastikan ke balik jendela. Remus dan Sirius tak banyak berkata-kata ketika membenarkan apa yang sedang berkeliaran di langit sore ini. Tongkat mereka siap. Seperti akan membuat sebuah pertunjukkan, Arthur, Remus, dan Sirius mengangat tongkatnya tinggi keluar jendela.
Mata mereka terpejam meredam ketegangan. Bergumam pelan dalam sekali ayun lantas dilanjutkan dengan kombinasi tiga macam mantera untuk membuat lontaran cahaya dari ujung tongkat masing-masing.
"Dad, apakah Muggle bisa melihat cahaya mantera kalian?" tanya Ginny memperhatikan cara ayahnya memberikan proteksi untuk tempat tinggal mereka.
Arthur tersenyum sebelum memberi kecupan di dahi putrinya. "Tidak, ada mantera tambahan agar Muggle tak melihatnya. Tenanglah, Gin. Sekarang, kalian semua di rumah saja. Jaga anak-anak kalian. Sebaiknya kita harus segere keluar untuk mencari James, Fred, dan Louis."
"Benar, Arthur. Kita harus segere keluar sebelum hari semakin gelap." Pinta Sirius. Bergegas mengambil jaketnya dari salah satu kamar.
Tiba-tiba saja, Harry memandang ayah baptisnya dengan ekspresi memohon, "aku ikut!" pintanya.
"Harry, dear, kau masih kecil. Di luar sana banyak Dementor. Kau bi—"
"Aku bisa menggunakan mantera Potranus, Mrs. Weasley!"
Molly diam. Itu benar juga.
"Tapi kau bisa benar-benar dikeluarkan jika menggunakan mantera di luar sekolah, Harry. Kau akan menyia-nyiakan usaha Dumbledore membebaskanmu dari sidang. Usahanya percuma." Remus tak kalah takutnya. Usaha mereka keluar akan sangat berbahaya.
Mereka tak hanya harus siap menjaga diri, tapi mereka juga harus menjaga anak-anak yang harus mereka temukan. "James adalah putraku. Dan aku ikut bertanggung jawab atas keselamatannya. Aku mohon." Harry memekik tak main-main.
"So, jangan buang-buang waktu lagi, ayo keluar!" pinta Sirius membuka pintu bergegas.
Beberapa dari mereka hanya bisa melepas kepergian Arthur, Remus, Sirius, dan Harry dengan khawatir. Para anak di dekap masing-masing orang tua muda mereka dibantu oleh Molly dan anak-anak lain. Ginny mengambil alih tubuh Albus sambil memeluknya erat.
Tubuh Ginny terasa bergetar di tangan Albus. Anak laki-laki itu melihat sekilas sorot mata ibunya. "Mummy yang ada di rumah juga suka sepertimu, tiap mengantar Daddy akan pergi menangkap penjahat." Bisik Albus sudah berhasil mengusap pipi Ginny yang menghangat.
"Jangan menangis lagi, Daddy akan pulang dengan selamat bersama Jamie, Fredie, dan Lou, Mummy. Seperti biasanya. Daddy, kan, hebat!"
Albus tersenyum simpul. Kini wajahnya begitu mirip dengan Harry. Amat sangat mirip dengan tatapan manik hijau di kedua matanya. "Ya," jawab Ginny, "Daddy akan baik-baik saja."
"Bubuknya terbatas. Hanya dua orang yang bisa masuk!"
"What?"
George menunjukkan kotak berisi sisa bubuk yang telah mengalami penambahan ramuan untuk dijadikan portal masuk ke masa lalu. Ia dan Ron membuatnya berhari-hari dan sempat mengujinya pada hewan. Meski berhasil, masih banyak kendala yang akhirnya mereka tetap temui.
"Kita harus berhemat. Belum lagi bubuk ini masih dibutuhkan jika—semoga saja tidak, terjadi kesalahan." Kata George.
"Maksudmu kesalahan?" tanya Hermione.
George membuka kuali berukuran medium di depan salah satu kamar Grimmauld Place tempat mereka terus memantau keberadaan anak-anak mereka. "Yang jelas, dengan bubuk ini kita sudah bisa masuk ke masa anak-anak kita berada sekarang. Bahkan datang ditempat yang.. dekat dengan lokasi mereka berada."
"Jadi bukan langsung menuju mereka?" tanya Ginny.
"Benar," kini Ron menuangkan satu sendok teh bubuk biru mereka ke dalam kuali berisi cairan bening berkilau tepat bersamaan dengan George yang mengayunkan tongkatnya. Secercah cahaya keperakan muncul dan tampaklah raut wajah beberapa anak di Grimmauld Place bersama Molly di sana. "Karena dari pemantau kita saja itu belum jelas. Kalian lihat, visualnya belum begitu tampak jelas. Mum bahkan terlihat tua di sini."
"Bicaramu sampah, Ronald!" ancam Hermione.
"Tenanglah, rileks. Jangan membuat semuanya semakin panik."
"Tapi anak-anak kita di sana, Ron. Kau masih bisa tenang?"
Kini Harry mulai kehilangan kesabarannya. Tangan Ginny mengusap pelan dada Harry memintanya menarik napas mengatur emosi. "Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang, George?" Pinta Ginny.
"Well, dua orang yang akan berangkat memiliki waktu sampai matahari terbenam, sesuai waktu di sana. Karena jika kalian melewati waktu itu, kalian tidak bisa pulang."
George mengambil sebagian bubuk dari kotak dan mengisikannya di dalam botol. Ia menyerahkannya pada Harry sambil berkata, "pergilah dengan Ron. Bubuk ini akan menjadi portal saat kalian kembali nanti. Cukup taburkan ke lantai membentuk lingkaran lalu kalian berdiri di tengah-tengahnya. Ingat, sebelum matahari terbenar."
"Tapi, George.. kau? Bukankah kau sangat ingin bertemu Fred?" tanya Harry bingung.
George sempat mengutarakan keinginannya ikut kembali ke masa lalu. Ia sangat merindukan Fred, kembarannya. Namun dari hasil yang diketahui kini, ia tidak mungkin untuk pergi. "Harry, aku akan berjaga-jaga di sini. Tidak mungkin aku dan Ron yang berangkat. Aku dan Ron yang mengetahui cara kerja ini semua. Aku—aku bisa tetap memantau kalian dari sini. Kuali pemantau ini bisa menangkap visual tempat anak-anak kalian berada. Aku masih bisa melihat kalian.
"George—"
"Pergilah." Seru George, ia sembunyikan wajahnya dalam. Terus menunduk. "Ron, ingat cara kerjanya, kan? Aku titipkan putraku dan semua keponakanku pada kalian."
Harry dan Ron siap membuat lingkaran dari bubuk yang dipegang George. Hanya saja, teriakan Hermione menghentikan Ron membuat lingkarannya sempurna. Tidak hanya istrinya, Ginny turut datang membawa sebuah botol. Mirip dengan yang dibawa Hermione.
"Kalian membekali kami berdua dengan ASI? Blimey! Dengan botol dot?" Ron menerima satu botol dari tangan Hermione. Harry pun sama dari sang istri. Masih terasa hangat.
"Lily dan Hugo tidak minum ASI berhari hari. Aku dan Hermione sempat memompanya tadi. Bawalah!" Ujar Ginny memohon pada Harry. Mereka lantas saling mengecup bibir. Berpelukan kemudian kembali berciuman, jauh lebih lama.
Ron dan Hermione saling pandang memperhatikan keromantisan Harry dan Ginny.
"Kalian mau juga?" tanya George tanpa merasa berdosa pada Ron dan Hermione. "Ayo! Aku tak akan iri."
Sekali menyeringat, Ron dan Hermione tak peduli, jika mereka dibilang iri. Toh pada kenyataannya mereka juga menginginkannya sebelum benar-benar berpisah.
Harry, Remus, dan Sirius berlari memecah ramainya kendaraan malam. Mereka tak bisa naik sapu, banyak Muggle di sekeliling Grimmauld Place. Bahkan jalanan terlihat ramai.
"Ada parade, Sirius." Kata Harry mengamati jalanan.
"Gila para Muggle itu, masih saja suka senang-senang di malam hari. Bukannya istirahat."
Remus tak mempedulikan kerumunan orang yang memenuhi pinggiran jalan, ia malah semakin mendekat pada sebuah cahaya kuning keemasan di salah satu sudut pertokoan. Ada gang kecil terbuka di sana. "Hey, kita bisa lewat sana!" tunjuk Remus.
Mereka bertiga berlarik masuk ke dalam gang tersebut. Berada di pertengahan gedung-gedung tinggi, Harry terus berdoa, berharap jika James segera ia temukan. Ingatannya kembali berputar ketika malam pertama ia dan James tidur bersama.
"Dad, kau tampak muda."
"Jadi, aku di sana tua?"
James langsung terbahak di dada Harry. Dengan cepat, Harry menekan kepala James semakin erat ke dadanya, menahan suara itu didengar oleh yang lain di tengah malam buta.
"Em.. tapi masih tampan. Itu kata Mummy." Jawab James.
Harry bersemu merah. James semakin menyamankan dirinya di pelukan Harry. Di situlah, dada Harry berdetak begitu cepat, hangat dan terasa nyaman memeluk tubuh James. "Tenang saja, Dad, kau memang masih tampan. Sepertiku. Kita sama-sama tampan."
Harry tak menjawab agar tak meladeni James mengobrol. Sudah terlalu larut, begitu juga suara mereka bisa menganggu istirahat yang lain. "James—"
"I love you, Dad. Aku ingin menjadi hebat sepertimu. Aku janji akan jadi anak laki-laki yang hebat dan kuat. Aku akan melindungi Mummy, Albie, dan Lily juga. Semuanya! Aku janji!"
Dan Harry benar-benar tengah jatuh cinta pada putra pertamanya dari masa depan itu. Dorongan untuk segera menyelamatkan putranya. "James—"
"Harry, awas!"
Suara helaan napas yang sangat berat, serak mirip orang sakit batuk. Wujud hitam terbang panjang beberapa kaki di atas kepalanya. Rasa takut seperti beberapa waktu lalu datang lagi. Hawa dingin seketika menyebar ke sepanjang gang sempit. Remus dan Sirius tengah berada jauh di bibir gang.
"Tutup mulutmu, Harry. Jangan Lihat!"
Semua instruksi Remus terlalu jauh. Harry tak terfokus. Ia seperti terlanjur dibawa kembali ketika ia tertahan bersama Dudley. Sosok bertudung hitam tinggi tanpa tangan dan kaki melayang semakin dekat. Napasnya terhenti, membeku bersama dinding pertokoan tinggi yang mengapit tubuhnya.
Sepasang tangan kelabu tanpa daging terselip keluar. Kotor dengan lumpur di setiap ujung-ujungnya berusaha meraih wajah Harry. Napas busuk Dementor tercium menyengat. Harry tak bisa berbuat apa-apa selain menggenggam tongkatnya.
Ia harus melakukan lagi. Persetan dengan Hogwarts jika ia harus menyerah begitu saja. Harry harus kuat, "demi James—Expec—"
"Expecto patronum!"
Uap keperakan meluncur tinggi ke atas kepalanya. Bukan, Harry bahkan belum sempurna meneriakann manteranya. Tapi wujud rusa jantan yang terbang menghalau Dementor itu mirip seperti miliknya. Kalaupun itu benar rusa jantan, Harry berpikir ia telah diselamatkan oleh James, ayahnya.
"Dad—" panggil Harry ditengah keadaan kepalanya yang serasa terbelah menjadi dua. Badannya lemas. Sampai terakhir ia melihat sosok pria mengacungkan tongkatnya dari ujung gang yang berlawanan.
Rusa jantan itu terus menyerang, mendorong Dementor dengan tanduk panjangnya hingga tiga sosok hitam bergerak naik beberapa kaki, lantas menghilang bersama cahaya lampu yang turut padam. Kalah dengan kekuatan ajaib dari kabut rusa jantan keperakan yang perlahan ikut hilang.
Deritan lampu listri korslet memberi aura lain selepas kepergian Dementor. Harry tersungkur di atas tanah berusaha bangkit kembali. Remus dan Sirius berusaha memapahnya naik.
"Mungkin Arthur yang akan mengurusnya lagi di Kementerian—"
Harry mengedip cepat. "Bukan. Bukan aku yang melakukannya, profesor Lupin. Tapi—"
"Aku tak mau diriku sendiri kembali ke sidang memuakkan itu."
Dua orang pria dewasa berlari pelan mendekati mereka. Ujung tongkat mengeluarkan setitik cahaya. "Hey." Lanjutnya pelan. Yang terdengar selanjutnya hanya kata 'nox' dan umpatan pelan.
"Kalian—Profesor Lupin? Sirius?"
"Hay, diriku yang sudah tua!"
Kedua Harry saling beradu pandang. Memusatkan pada wajah mereka.
"Ha-Harry?" kata Sirius.
Remus terbelalak. "Astaga, dia—"
"Ya, ya, ya, hai kami dari masa depan. Aku Ron, tentu saja kalian tahu, kan, dan dia Harry. Oke, kalian bertemu kangennya nanti saja, ya. Kita harus segera menghubungi George, Harry. Kita sudah tak bisa pulang! Ini sudah gelap!"
Kepanikan Ron seketika terhenti ketika mendapat tatapan tajam dari mereka berempat. Ron kaku saat Sirius mengacungkan tongkat ke depan wajahnya. "Oke, Sirius. Tenang. Jangan gegabah. Yang kita butuhkan sekarang ke tempat anak-anak karena George hanya bisa memantau tempat mereka berada." Katanya, "mereka di Grimmauld Place, kan?"
"Ya," sebut Remus, "tapi tidak semuanya—"
"James, Louis, dan Fred menghilang. Mereka pergi dari Grimmauld Place. Dan kita sekarang akan pergi mencari mereka." Ujar Harry muda tak kalah paniknya.
"Hilang? Lalu, di saat banyak Dementor berkeliaran astaga—oh, James," pekik Harry mengacak-acak ribut rambutnya. Jubahnya hampir tak berbentuk saking paniknya.
Ron sempat terdiam setelah hampir lama mengoceh tak jelas, sampai akhirnya ia berteriak menemukan ide. "Kita bisa minta bantuan ke George, Harry, untuk menemukan mereka bertiga." Ujar Ron.
"Kau yakin, Ron?"
"Tentu, Sirius. Di sana, George bisa memantau anak-anak berada. Mungkin ia bisa melihat di mana James, Louis, dan Fred berada. Kalau kalian pergi tanpa tahu, itu berbahaya. Jadi kita butuh ke tempat anak-anak di Grimmauld Place agar bisa berkomunikasi dengan George."
Ron jauh melangkah mendahulu yang lain memberi komando. Ia sedikit banyak ingat jalanan menuju ke arah Grimmauld Place. "Ayo, semuanya!" perintahnya diikuti Sirius dan Remus.
"Yeah, Ronald." Pekik Harry tak suka. "Ayo, nak. Jangan lelet. Jangan sampai kau diserang Dementor lagi."
"Kau panggil aku 'Nak'? Aku juga dirimu, Harry!"
Harry muda menunjukkan rasa tak sukanya. Dirinya sendiri dengan berani merendahkan derajatnya karena mentang-mentang tampak lebih dewasa. Harry terkikik melihat dirinya yang masih muda begitu sensitive.
"Astaga, lucunya diriku. Dasar anak muda!" ujar Harry dewasa semakin lepas mengejek.
"Sinting!" balas Harry muda tak mau kalah.
Setidaknya, mereka bertengkar tidak dengan orang lain. Tentu saja.
TBC
#
Hueeee apa harapan kalian saat Harry dan Ron dewasa bahkan nggak bisa pulang karena mereka datang tepat di pergantian malam hari, yang artinya mereka nggak bisa pulang? Em.. ikuti terus aja kelanjutannya dan jangan lupa review ya! Anne minta maaf kalau masih banyak typo dan semakin banyak. Doain Anne sehat, ya :)
Sampai jumpa!
Thanks,
Anne xoxo
