Hi, everyone!
Anne datang lagi. Sebelumnya, Anne ucapin dulu selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H, siapa nih yang kurban? Kalo Anne kurban perasaan aja, hehehe.. Maaf, ya, Anne baru bisa update. Anne sakit beberapa hari lalu, terus Anne paksa ikut ngisi acara ospek di kampus. Nah, pulang-pulang mau nulis badan sakit semua. So, baru bisa update sekarang.
Baiklah, mungkin Anne langsungkan saja, ya. Thanks banget yang sudah review. Maaf Anne nggak bisa balas. Tapi tenang, Anne udah baca kok. Daripada lama-lama, langsung saja, ya! Chapter ini agak panjang dari sebelumnya.
Yuhu, happy reading!
Hampir satu jam Molly mondar-mandir di sekitar pintu masuk. Semua anak-anak diboyong turun, menempati aula bawah sambil menikmati makan malam. Hanya Lily dan Hugo yang sempat memakan bubur mereka. Hugo terus menangis, menolak keras bubur kombinasi kentang dan sayuran buatan Molly ke mulutnya.
"Mungkin Hugo bosan," bisik Ron.
"Sejak mereka semua di sini, Lily dan Hugo selalu makan bubur itu. Sungguh malang nasib menjadi bayi." Kali ini George tak tega pada Hugo. Segera mungkin ia bergerak-gerak pelan berjalan menuju Ron. Di situlah, wajah Ron tegang menerima tubuh kecil Hugo dalam pelukannya.
Fred tersenyum geli. Ron kaku sekali mengendong bayi. Jauh lebih kaku daripada dirinya. "Sedih sekali, menggendong anak sendiri yang tak tahu kapan dibuatnya." Ledeknya.
"Jaga mulutmu, Fred!" Ron bergidik. Apalagi ketika Hermione terlihat samar-samar menyembunyikan senyumannya.
Tanpa banyak bicara, Ginny lebih memiliki inisiatif untuk langsung mengambil Lily dari gendongan Fred. Sangat mudah bagi Ginny untuk mengambil alih perhatian Lily. Meski tetap menangis, halangan Ginny ketika merayu Lily yang merajuk adalah perhatian anak itu yang akan lama memperhatikan dirinya seperti memastikan sesuatu. Pandangannya sering kali terlihat waspada pada Ginny.
"It's OK, Lily. Mungkin wajahku berbeda dengan Mummymu di rumah—masa depan, tapi aku akan berusaha menjadi em.. penganti sementera Mummymu."
Ekspresi Lily tak berubah ketika diberi penjelasan singkat Ginny. Lily masih sulit meyakini dirinya tentang sosok wanita yang ia kira sebagai ibunya selama berhari-hari. Jauh daripada itu, dalam diri Lily masih merasa kenyamanan meski dari segi rupa.. ada perbedaan.
"Lily mulai linglung. Dia pasti sudah lama tak minum ASI." Ujar Tonks sambil menuangkan sup kacangnya.
"Astaga, benar." Molly baru menyadarinya. Mangkuk di tangannya ia letakkan kembali ke atas meja. "Anak-anak ini sudah tak menyusu. Bahkan kita tak memberinya susu."
Tiba-tiba ditengah perbicangan mereka, pintu arah depan terdengar diketuk pelan. Selanjutnya derit engsel pintu tua yang berkarat memberi isyarat akan masuk seseorang, mungkin. Molly dan Tonks bergegas keluar mencari tahu dan.. terkejutlah mereka.
"Kalian sebenarnya mencari siapa, sih?" Teriak Tonks, "jadi, James kalian temukan sudah dewasa, lalu.. Fred brewok?"
Sosok pria jangkung di sisi Sirius melotot sebal. "Bloody hell, Nymphadora! Aku hanya malas mencukurnya. Dan—aku Ronald, by the way. Bukan Fred!"
"Jangan panggil Nymphadora, bodoh! Aku Tonks—"
"Sama saja," Ron dewasa mengedik memberi ancama. Tinggi Tonks hanya sampai dagu Ron dewasa. Sehingga Tonks mengalah pergi dan mengambil makanan di dapur.
Sorot mata semua orang akhirnya tertuju pada sosok lain di belakang Remus. Harry muda dan Harry dewasa berjalan beriringan namun tak saling pandang. Yang ada, Harry remaja berusaha keras mengalihkan pandangannya dan berjalan lebih cepat dari sosok dirinya dari masa depan itu. Segera mungkin, Harry muda mencari alasan ia harus segera pergi, dan akhirnya pandangannya itu tertuju pada sosok mungil di gendongan Ginny.
"Ah, Lily—" batin Harry muda senang. Ia akan menggendong Lily dan membawanya menjauh dari siapapun.
Hanya saja, "Dada.. Dada!" Lily tersenyum senang sambil tangannya meraih-raih cepat. Gerakannya jauh lebih agresif di dekapan Ginny. Jauh dari arah Harry muda berdiri, Harry dewasa lebih dulu merentangkan tangannya, meminta Lily dari pelukan Ginny.
"What?"
Harry muda terkejut bukan main. Panggilan Lily ternyata bukan untuknya karena bukan dia yang akhirnya dipanggil Lily untuk dimintai gendong. Harry dewasa diam-diam menangis haru, memeluk Lily sambil mengimbangi tubuh kecil itu bergerak-gerak tak kalah semangatnya. Lily mengenal pria dewasa yang menciuminya kini. Ayahnya sendiri.
"Oh, Merlin. Thanks you!" Harry memanjatkan rasa syukurnya atas kembalinya Lily padanya.
"Dada—"
"Oh, my princess. Daddy merindukanmu, nak!"
Dengan sekejap, interaksi Harry dan Lily menciptakan atmosfer hangat di antara mereka. Harry begitu terlihat jika sangat menyayangi Lily. Tidak segan-segan Harry mengeluarkan air mata harunya ketika tepat tubuh Lily kembali dalam pelukannya.
"Harry sampai menangis," Ginny bersemu senang. "Dia pasti sedih berpisah cukup lama dengan Lily." Dan semua itu membuat Ginny semakin percaya jika Harry benar-benar ayah yang baik di masa depan.
Di belakangnya, Albus sudah berteriak kencang dan menyerbu tubuh Harry meminta pelukan yang sama. Masih menggendong Lily, tubuh Albus ia angkat. Lily di sisi kiri sementara Albus di sisi kanan.
"I miss you, Daddy," ucap Albus dengan mata berkaca-kaca.
"I miss you too, Al."
Sesaat kemudian, Ron dewasa tiba-tiba saja menggerutu. Ron mempermasalahkan Rose dan Hugo yang tak goyah sedikitpun dari tempat duduk mereka. Tidak seperti Lily dan Albus bersama Harry. "Mereka bahkan tak memanggilku Dad, apalagi mengucapkan 'aku merindukanmu, Daddy'."
Setidaknya, lebih dari lima orang melihat keluh kesah Ron dewasa yang tak diperhatikan ke dua anaknya. Ron remaja dengan senang hati mengubah jalan pikirannya dua bocah di dekatnya untuk mau menghampiri dan mengatakan rasa rindu.
"I miss you, Dad," bisik Rose pada Ron dewasa tak tulus. "Daddy yang di sana mengajarkanku begitu." Tunjuk Rose pada sosok Ron muda di pinggir jendela.
"Oh bloody hell, kau ajarkan apa saja anak-anakku selama di sini?" Ancam Ron pada dirinya yang masih muda.
Ron muda berjalan pongah. Berkacak pinggang meski satu tangan karena menggendong Hugo sambil menghadap Ron dewasa dengan tatapan menantang. "Mereka juga anak-anakku, old man!" oloknya. Baby Hugo lantas beralih tangan.
"Kau jangan mempermalukan dirimu sendiri. Harry saja bisa menggendong dua anaknya sekaligus. Kau lebih tinggi dari Harry, perutmu juga—"
"Jangan bawa-bawa perut!" Ron dewasa mengulurkan tangan kirinya yang bebas untuk menerima Hugo, "kau mengejekku, sama saja kau mengejek dirimu sendiri. Wanker!"
Membiarkan kedua Ron saling mengejek ajalah cara yang tepat daripada harus ikut campur. Molly menggiring Harry—bersama Lily dan Albus ke sofa panjang untuk beristirahat. Dengan penuh rasa bangga, Molly memegang pundak Harry dan mengelusnya pelan. Sosok Harry sempurna seperti apa yang ia idamkan sebagai suami putri satu-satunya itu.
"Kalian hanya berdua?" tanya Molly. Sejenak ia menoleh ke arah Ginny, mematung di pinggir meja tak jauh dengan Harry muda. "Is-istri kalian?" Molly gugup. Pertanyaan pamungkasnya terucap juga.
"Portalnya hanya bisa membawa dua orang. Jadi hanya aku dan Ron, yang tahu segala cara kerja perjalanan waktu ini. Sementara di masa kami ada George yang terus memantau semuanya. Membantu jika ada sesuatu." Tutur Harry. Ia melihat Lily lagi yang kini bermain dengan hidungnya.
"Mummy tak ikut?" tanya Albus berada di sisi Harry, kepalanya ia sandarkan nyaman di pundak sang ayah. "Aku rindu Mummy, Daddy!"
"Mummy ada di rumah, sayang. Mummy juga bilang kalau Mummy sangat merindukanmu juga."
Harry memberikan pelukan hangatnya pada Albus. Membisikkan kata-kata sayang pada sang putra jika Ginny juga sangat merindukan Albus. Harry sendiri tahu, Albus jauh lebih dekat dengan ibunya dibanding dirinya. Tapi seperti halnya Lily, Albus juga tak mau berjauhan dengannya terlalu lama. Sering kali Harry mengetahui Albus akan marah dan mogok makan jika Harry sibuk bekerja di saat Albus ingin mengajaknya bermain.
"Kita akan segera pulang, tapi ada yang harus Daddy dan Uncle Ron selesaikan. Bukankah kita harus menemukan James?"
"Iya, aku mengerti, Daddy."
Terlalu lama diabaikan, Lily kembali merengek. Tangan kecilnya bermain di jakun sang ayah sampai menggelitik sisi lehernya hingga tertawa terpingkal. Kebiasan Lily jika ia lama diacuhkan oleh ayahnya. Albus pun tak segan ikut menggelitik bagian perut atletis Harry. Tangan Lily mengusap bagian dada bidang Harry, mencari kancing kemejanya lantas menariknya kasar. Tak bisa terbuka, Lily memaksakan wajahnya menyusup masuk ke bagian dalam jubah Harry, mengecap basah bagian sisi kiri dada sampai tercetak jelas bentuk bibir kecilnya.
"Agh—" pekik Harry. Geli seketika menyerang sekujur tubuhnya. "Astaga—"
Kemeja Harry basah karena liur Lily, bukan karena keringat.
"Kau masih tak percaya? Daddy tak bisa, sayang!"
Molly menatap Harry mencari penjelasan. "Memangnya ada apa, Harry?"
"Lily mengira aku seperti ibunya. Bisa—ya, begitulah," wajah Harry memerah sambil memperaktekkan cara menyusui dari dadanya. "Sejak lahir sampai sekarang, kalau dia sudah lapar dan kebetulan aku gendong, Lily akan memaksa aku untuk menyusuinya. Langsung."
"Oh, Merlin. Bahkan sejak lahir?"
Harry mengangguk. Lily sekali lagi menggerakkan mulutnya, bergoyang-goyang pelan mencari tonjolan kecil di dada ayahnya.
"Benar," Harry terkikik lagi, menjauhkan mulut Lily sebelum akhirnya ia kecup, "detik pertama ia lahir, insting menyusunya langsung muncul. Sayangnya, orang pertama yang benar-benar membuatnya nyaman untuk menyusu adalah aku."
Akhirnya Harry memulai bercerita di depan Molly dan Ginny. Bahwa beberapa menit setelah Lily dibersihkan, Harry memberikan kontak skin to skin pertamanya, cukup berdua dengan Lily. "Ginny sempat pingsan setelah melahirkan, jadi belum bisa menyusui. Oleh healer memintaku untuk menemani Lily sementara. Lily ditelanjangi untuk langsung ditelungkupkan di dadaku agar kulit kami bersentuhan langsung. Nah, mengerikan saat Lily tiba-tiba saja menyedot—aggh kencang sekali. Mungkin sejak itu Lily suka sekali dengan—kalian pasti paham."
Lucu sekali interaksi keduanya sampai membuat Molly ikut tertawa saking senangnya. "Oh, sayang. Daddy kalian sampai kegelian begitu." Teriak Molly.
Lily kembali melirik area leher Harry. Meraih ujung hidung Harry dan mengunyahnya sebentar. Selanjutnya Lily akan menekan-nekan jakun Harry sampai hampir tersedak. "Stop, sayang. Kau selalu tahu cara membuat Daddy kalah." Napas Harry terengah. Lily suka seperti itu. Sempat Harry berpikir, bagaimana jadinya jika Lily tetap melakukan hal itu ketika giginya mulai tumbuh dan saat ia besar nanti.
Badan Lily diangkat menjauh dan didudukkan di atas pangkuannya saja. Molly lantas dengan cepat ikut menciumi wajah Lily sampai bayi itu terkikik geli. Cucu kecilnya itu terlampau lucu sampai Molly tak tahan untuk tidak menciuminya. "Kau tak lapar, sayang? Dari tadi kau belum makan, loh." Ujar Molly pada Lily.
"Loh, kau belum makan, peanut?" Harry membalik badan kecil Lily lagi menghadapnya.
"Lily menolaki buburnya, Harry. Dia mungkin ingin minum susu. Tapi aku tak berani memberinya susu sapi, takut alergi atau bagaimana. Karena menurut Teddy, Lily masih minum ASI sampai sekarang. Benar begitu?"
Harry membenarkan pertanyaan Molly. Sesaat ia menyadari sesuatu yang sejak berangkat masih ia simpan dikantung jubahnya. Tapi Harry sedikit kesusahan karena tangannya sedang memegang tubuh Lily. "Al, tolong ambilkan botol di saku jubah Daddy. Bisa?" pinta Harry pada Albus.
"Ini?" Albus mengambil sebuah botol dot bayi dari dalam saku jubah ayahnya.
"Yups, good boy!"
Harry mengambul botol susu Lily dari Albus. Ditelapak tangannya ASI Ginny sudah mulai dingin. "Sudah tidak hangat lagi. Semoga belum rusak." Ujar Harry akhirnya memeriksa isi dari dalam botol.
"ASI Ginny?" tanya Molly ingin tahu.
Harry mengangguk. Ia melihat Ron telah memberi Hugo ASI yang dititipkan Hermione tanpa dihangatkan kembali. Dicek saja tidak apalagi untuk dihangatkan. Dalam hati Harry berharap perut keponakannya itu tidak terjadi masalah.
"Syukurlah," dengan lega Harry menutup botol susu Lily kembali. ASI milik Ginny belum rusak. Selanjutnya Harry sedikit memberi gerakan menggosok di permukaan botol Lily. Ada cahaya jingga keluar masuk menembus botol dan menyebar ke seluruh permukaan.
Molly melihatnya berharap bisa membantu. Tapi apa yang ia lihat sungguh membuatnya tak percaya. Harry melakukan mantera menaikan suhu pada botol yang digenggam. Cukup sekali, Harry lantas mengecek kehangatan ASI dengan membalik botol itu hingga beberapa tetes ASI keluar dan jatuh di punggung tangannya. Harry sejenak merasakan suhu ASI di kulit tangannya lantas tersenyum.
"Wow," puji Molly namun tak dipahami Ginny. "Kau bahkan melakukan mantera menaikan suhu hanya sekali dan itu.. sukses. Hebat—"
"Me-memangnya kenapa, Mum?" potong Ginny penasaran. Hanya melakukan hal sederhana seperti itu, ibunya terlihat sangat kagum pada Harry dewasa.
Lily telah melahap meminum susunya sambil bersandar nyaman di dada Harry.
"Menaikan suhu apalagi untuk susu atau ASI seperti tadi tidak mudah, Ginny. Selain harus bisa memperkirakan suhu yang pas untuk bayi, kita juga harus bisa memperkirakan kekuatan manteranya. Mummy baru pintar menggunakan mantera itu saat memiliki Fred dan George. Mummy terpaksa harus memompa ASI agar si kembar tak berebut untuk menyusu. So, mantera itu sangat dibutuhkan. Kau harus belajar juga nanti."
Mendengarnya Harry ikut tertawa, "aku juga sering salah dulu, Mum. Aku hampir membakar lidah James saat bayi dulu gara-gara mantera ini. Tapi untung saja, Ginny mengajarkanku."
Ginny muda tersentak hebat mendengar Harry menyebut namanya.
"Ginny sudah hebat mengatur suhunya bahkan sejak awal dia melahirkan James. Aku saja heran dia bisa menguasai mantera itu sejak kapan. Katanya, ia sendiri tak tahu."
Lily sudah nyaman menikmati susunya. Jika sudah seperti itu, Lily bisa dengan cepat untuk masuk ke alam mimpi dan melupakan semuanya. Tidur adalah hal paling nyaman bagi Lily saat perut kembali kenyang.
"Monster kecil—" bisik Harry di telinga Lily. Tangannya ikut menyangga botol susu Lily jika anak itu benar-benar sudah terlelap.
"Harry, kita bisa hubungi George sekarang." Panggil Ron dewasa. "Semoga masih ada cara."
Harry berhati-hati memberikan Lily yang telah tertidur pulas ke dekapan Ginny muda. Senyuman Harry dewasa menyusup masuk jauh lebih kuat ke hati Ginny. Ia gugup menerima tubuh Lily dari suami masa depannya.
"Maafkan aku yang di sana, ya," bisik Harry dewasa pada sosok Ginny muda. Ia menunjuk dirinya yang masih muda di bagian kerumunan yang lain. Tampak Ron bersiap dengan bubuk ajaib yang ia bawa.
Ginny mengernyit heran. "Sorry?"
"Haha, namanya juga masih remaja. Mohon dimaklumi, jika aku belum memperhatikanmu."
Pelan-pelan, Ginny mulai memahami maksud perkataan Harry dewasa. "Jangan diambil hati jika kau melihat aku nanti—em bagaimana, ya. Pokoknya siapapun yang aku cintai tahun ini, tidak akan berarti apa-apa di masa depan."
Harry dewasa mengecup dahi Lily. "Terima kasih, ya, maaf jika terlalu lama aku tak peka dengan perasaanmu. Tapi percayalah," Harry dewasa menarik napas dalam-dalam, mendekatkan wajahnya mendekati wajah Ginny muda. Sepersekian detik, bagi Ginny waktu serasa berhenti berputar. Jantung Ginny memacu lebih cepat.
Sayangnya Harry berhenti di sisi telinga kanan Ginny. Jauh dari ekspektasi yang tercipta di kepalanya. Harry dewasa lantas berbisik pelan, "we end up together."
Ya, dan Ginny akhirnya melihat kilau benda bercahaya melingkar cantik di jari manis kiri Harry.
Teddy di minta ikut berkumpul bersama para orang dewasa. Sebagai salah satu pemancing jika George bisa memantau dan berkomunikasi langsung dari masa depan. Ron membuka tutup botol berisi bubur biru kelabu. Menaburkannya sedikit ke depan perapian.
Sedikit menyimpan trauma dengan bubuk yang sama, ia dengan cepat menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangannya.
"Tak apa, Ted. Bubuknya sudah tak seperti yang dulu." Ujar Harry dewasa pada Teddy.
Beberapa saat kemudan, suara-suara yang keluar dari gundukan kecil bubuk itu muncul. Di mulai dari kemerosok benda bergesek sampai isakan-isakan kecil.
"Tak ada gambar?" tanya Hermione muda.
"Tak ada," jawab Ron, "kita hanya bisa berkomunikasi lewat suara saja. Tapi mereka bisa melihat kita, walaupun sedikit tidak jelas." Lanjutnya. Kini suara semakin terdengar jelas. George dari masa depan memanggil.
"George? Kau mendengarku?" panggil Ron.
"OK, brother. Aku mendengarmu –em ramai sekali di sana—bagaimana kabar kalian—aw, Ginny!"
Semua orang terperanjat terkejut. Harry dewasa segera kebingungan nama istrinya disebut. "Ada apa? Hallo?" panggil Harry dewasa.
"Kau terlalu banyak basa basi, George. Ah, Harry, bagaimana anak-anak? Mereka tak apa? Kenapa hanya ada Teddy—"
Ginny terus menanyakan hal-hal kecil seperti anak-anak dan keponakannya, makanan apa yang dimakan, apakah ada air bersih dan sebagainya. Fred dan George muda saling berbisik geli, "berbetahlah, Harry. Ternyata Ginny di masa depan jauh lebih cerewet." Kata Fred pada Harry muda. Ginny mendelik menunjukkan kepalan tangannya di udara.
"Ginny, tenanglah, mereka sehat. Anak-anak sedang istirahat—ah, Albus, Rose, kemari, nak."
Dua anak yang dipanggil bergegas mendekati Harry, bertanya untuk apa. "Panggil Mummy, Al!"
"Mummy?" suara kecil Albus terdengar malu.
"Oh, God. Albus!"
Suara selanjutnya berganti lebih lembut meski terdengar sedikit keras. Hermione dewasa memaksa untuk ikut memanggil putri kecilnya. "Rosie, kau tak apa, sayang?" tanya Hermione khawatir sekaligus bersyukur.
"Yeah, Mummy. Ada dua Daddy di sini dan juga dua Uncle Harry. Ada Mummy juga, masih kecil dan yang lainnya—"
"Iya, iya, sayang Mummy melihat kalian semua dari sini."
Suara George kembali terdengar memaksa dua wanita lain bersabar. Setelah mendapat pengertian, George siap mengambil alih komunikasi. "Ron, dengarkan aku. Aku tahu di sana sudah malam. Dan itu artinya kalian tak bisa kembali. Tapi tenang, aku sudah siapkan portal ubahan untuk mengatur pengembalian kalian. Besok pagi saat matahari tepat di atas kepala, kau bisa mencoba membuat lingkaran seperti cara semula untuk kembali—"
"Tapi itu tidak mungkin, George." Potong Harry dewasa cepat. Dari pengintaian George, raut khawatir Harry begitu terlihat.
"Kau tampak bingung. Bilang kalau ini hanya evek visualku yang jelek, Harry," pinta George.
"Sayangnya, kau sudah benar. Kami tidak mungkin pulang besok pagi karena.. ada yang harus kami cari dulu."
Harry tak mampu melanjutkan penjelasannya. Membiarkan Ron berbicara dengan caranya sendiri. "Kau bisa membuat visual lain, George? Di tempat anak-anak berada? Bukan visual kalian melihat kami."
"Memangnya ada apa, Ron?" Suara George mulai terdengar panik.
"James, Louis, dan putramu, George, si Fred.. mereka menghilang."
"APA?"
Bukannya George, melainkan Ginny lebih dulu berteriak dan mengalih pembicaraan. "Harry, jangan bercanda. Apa maksumu mereka hilang? James?"
"Ginny, tolong tenang. Aku dan yang lainnya akan mencari mereka. Tapi—"
"Bagaimana aku bisa tenang, Harry! Putra kita hilang—"
"OK, aku paham." George kembali menengahi, dari masa depan. Ginny tengah sibuk di tenangkan Hermione sambil melihat George melakukan sesuatu pada salah satu kuali yang menganggur.
Hermione menarik kuali tembaga untuk disandingkan di sisi kuali mereka membuat vidual pengintaian di masa lalu. "Aku akan coba melihat keberadaan mereka, sabarlah." Pinta George meminta agar semua orang di masa lalu tetap tenang.
Satu sendok makan bubuk biru ajaibnya dilarutkan dengan beberapa gelas air dalam kuali. Selanjutnya George merapalkan mantera pelan. Duss! Gumpalan uap kebiruan membumbung tinggi seiring George menyebut nama ketiga anak yang hilang.
"Itu James—" Pekik Ginny melihat wajah putranya tertidur pulas bersandar pada tubuh Louis.
"Harry, Ron," panggil George, "kami menemukan mereka."
Ucapan syukur menggema dari mereka yang berkumpul menanti suara George.
"Mereka tertidur, di—Merlin, tidak begitu jelas. Gelap sekali tempatnya. Seperti dinding kayu."
"Kau melihat siapa saja di sana?" tanya Ron dewasa. Sedikit bubuk ia tambahkan untuk memperjelas suara saudaranya.
"Aku melihat James, ya, James tertidur bersama Louis. Mereka memakai sebuah.. aku rasa seperti jas, dibuat sebagai selimut."
Molly bertanya tak tenang. "Kau yakin? Anak-anak keluar hanya memakai jaket!"
"Eh, suara siapa itu?" George terkejut mendengar suara perempuan selain Harry dan Ron dewasa di tampilan visualnya.
"Itu suara Mum, George." Jawab Harry dewasa membuat Molly tertegun. Ia dipanggil Mum oleh Harry dewasa. "Kau yakin itu jas?"
"Tentu, bentuk krahnya panjang dan besar. Ukuran dewasa. Dan. Ah aku lihat putraku. Dia juga sedang tidur bersama—Astaga."
Sejenak tidak ada suara lagi. Beberapa orang yang menanti penjelasan George dari masa depan mulai tak sabar. Mereka berteriak kesal karena George hanya diam saja ketika mereka memanggil.
Sampai akhirnya, Ginny muda menyadari akan sesuatu yang janggal dari kehadiran semua orang di depan perapian. "Mummy, kau melihat Dad?" tanya Ginny muda.
Ya, semua orang sontak mengedarkan pandangannya ke penjuru Grimmauld Place. Mencari Weasley senior di antara mereka. Namun hasilnya, nihil. "Arthur?" panggil Molly panik. Suaminya kini menghilang.
"Aku baru ingat. Kita tadi pergi berempat, Sirius." Jelas Remus.
"Terakhir aku bersamanya. Setelah.. ada banyak orang yang mendorong tubuhku saat parade di jalan tadi—"
"MERLIN! Semuanya masih mendengarku?"
Suara George membuyarkan ketertegunan mereka atas hilangnya Arthur. Tanpa mereka sadari, Arthur tak kembali bersama Sirius dan Remus ketika membawa Harry dan Ron dewasa ke Grimmauld Place setelah penyerangan Dementor itu.
"Aku memperjelas visualnya dari sini dan ternyata.. bukan hanya aku.. bahkan Ginny dan Hermione di sini melihat jika mereka bertiga bersama.. Daddy."
Tidak ada yang menyadarinya. Sama sekali tak ada yang menyadari jika Arthur telah menghilang dan kini ia telah bersama anak-anak disebuah tempat yang tak jelas keberadaannya. Segera mungkin Harry dewasa memperintahkan George agar menggambarkan seperti apa tempat mereka berada kini.
George mulai tidak yakin ketika ia menyebutkan sebuah tempat.
"Seperti gubuk, dari kayu. Ada kursi panjang di sana yang juga dari kayu. Aku melihat ada jendela, pohon yang cukup rindang di baliknya. Ah—dan di sisi anak-anak banyak sekali jerami." Tutur George secara detail menyebutkan apa saja yang tengah ia lihat.
"Ada lagi?" pinta Ron dewasa.
"Tidak jelas, Ron. Tapi kalau bisa aku tebak. Mereka seperti di dekat sebuah ladang. Gubuk itu penuh peralatan berkebun."
Hermione dewasa menyampaikan sedikit analisanya dari semua hal yang tampak di visual. Sedangkan Ginny dewasa, memilih diam dan mengingat sesuatu. Sebuah tempat yang sekiranya tak jauh dari Grimmauld Place.
"Jika aku tak salah ingat, ada ladang gandum tak jauh dari perkotaan area perumahan Grimmauld Place. Tapi aku lupa detailnya di mana—" ujar Ginny dewasa.
"Ya," kali ini Ginny muda ikut bersuara, "ada sekitar beberpa kilometer di sebelah barat Grimmauld Place. Ada ladang gandum di sana. Seingatku juga ada gubuk tua."
"Brilliant, Ginny!" Puji Harry dewasa sembari bangkit diikuti Sirius, Remus, Ron dewasa, dan Harry muda untuk bersiap pergi.
"George dan kau.. Fred, aku serahkan bubuk di sana pada kalian. Kalian bisa tetap berkomunikasi dengan George di masa depan selagi kami pergi. Pantau bersama mereka." Ron dewasa tersenyum. Hatinya gerimis ketika pria muda di hadapannya kini memberikan tatapan yang sama seperti dulu sebelum ia pergi untuk selamanya.
Fred membalas senyuman Ron sama hangatnya. "Tentu, aku ingin mengajak bicara kembaranku yang sudah tua di sana." ujar Fred dengan candaan. Ron dewasa tak bisa banyak bicara, hanya mengangguk kecil menahan emosinya agar tak meledak.
"Kita berapparate saja, aku tahu tempatnya." Sirius mengulurkan tangannya meminta semua untuk menggenggam. Semua dengan sigap meraih lengan Sirius, kecuali Harry muda.
"Ah, aku tahu anak muda. Belum pernah berapparate?"Harry dewasa menarik kasar tangan Harry muda agar segera menyentuh lengan Sirius. Tak lupa ia pun ikut menggenggam tangan Sirius sambil tak melepas tangan kirinya pada tubuh Harry muda, penuh sikap protective.
Harry muda lagi-lagi dibuat tak berkutik. Ia harus pasrah menerima apapun perlakuan dirinya dari masa depan itu.
Sesaat setelah semua pergi, para wanita dan remaja lain bersiap untuk istirahat. Sebagian dari mereka tetap berjaga di depan bubuk yang ditinggalkan Ron dewasa untuk tetap menjaga informasi dari masa depan. Satu yang paling bersemangat adalah Fred muda.
"Hai," panggilnya, "apa kabar... Georgie tua?"
Tidak ada jawaban. Hampir satu menit berlalu, satu suara tak terdengar di masa depan. Sampai isakan pelan terdengar mengusik perhatian Fred muda.
"Kau ingusan, Georgie? Sialan aku tak bisa melihatmu dari sini. Berusaralah!" pinta Fred. Ia tersenyum menghadap tepat di depan gundukan bubuk biru yang terus berasap. Tanpa mengetahui jika jauh di salah satu ruang Grimmauld Place, di puluhan tahun yang berbeda, George Weasley yang tak lagi remaja, diam-diam menangis mengamati wajahnya.
"Hai juga, Fredie." Sejenak George dewasa mengusap wajah. Membiarkan setetes air mata baru turun membasahi pipinya yang mulai kering. "I miss you, Fredie!"
TBC
#
Hohoho.. ada yang nggak nyadar Arthur ilang kayak mereka semua? Tunjuk tangan! :P
Apa mereka bisa menemukan tiga anak dan Arthur sekaligus? Kira-kira mereka di mana dan kenapa, ya?
Tunggu chapter selanjutnya, jangan lupa review dan maaf kalau masih banyak typo!
Thanks,
Anne xoxo
