Hi, everyone!
Anne telat lumayan lama, ya. Tapi semoga nggak banyak yang marah, deh. Anne lagi sibuk di rumah. Ada aja kegiatan yang menyita waktu banget. Mungkin kalau chapter ini terkesan beda kayak sebelumnya itu benar.. kayaknya sih kependekan. Sorry banget kalau rasa iya. Em.. Oke, deh, karena Anne bingung mau kasih pembukaan gimana lagi, Anne pilih balas review dulu.
ninismsafitri: George kelihatan kangen banget sama Fred, banget! :'(
sakawunibunga: hahaha.. nggak sadar, ya. Em.. sayangnya cukup yang dari masa depan aja yang bisa lihat mereka :)
Akane Fukuyama: hahahah.. anak-anak itu biar bisa agak tenang, lah, walaupun Arthur pasti juga susah ketemu mereka, hehehe.. makasih, ya! :)
Afadh: kontak skin-to-skin udah jelas, ya. Hehehe ternyata kamu kurang fokus sampe nggak nyadar Granddad ilang. Wkwkwkw.. Lily ngerasa Daddy dan Mummynya itu satu, ya si Daddy :P
BlaZe Velvet: Paling nggak Anne buat mereka (Fred George) seneng :')
AMAZING: owww... Harry kan harus kasih pencerahan bagi Ginny muda ^^. Rose sama Hugo kayaknya durhaka banget ya sama bapaknya sendiri, hehe, berarti kamu berhasil Anne alihkan perhatiannya sama kehadiran Harry dan Ron dewasa, yosh! Huhuhu.. ada hal yang lebih baik untuk Fred dan George! :)
Mrs X: yups chapter kemarin panjang pake bingit. Kebawa alur aja aku nulisnya. Mungkin jawaban pertanyaan kamu sedikit terjawab di chapter ini. Jelasnya, chapter selanjutnya, mungkin, belum ke bagi jelas alur cerita, sih. Thanks ya :)
Baiklah, mungkin cukup jadi Anne langsungkan saja!
Happy reading!
Derit suara engsel jendela kayu mengusik diamnya Arthur di sisi tiga orang cucunya. Ia sendiri tak sadar, mengapa ia bisa terbaring di salah satu ruangan dengan bau tepung dan tanah yang basah. Ia tak bisa bergerak kini. Fred Jr semakin lelap di pelukannya meski suara angin malam cukup membuat geli di telinga.
Pipinya terasa dingin. Angin menembus tubuhnya semakin liar. Jendela di dekatnya tak bisa dikunci. Suara-suara lolongan anjing cukup membuat bulu kudunya berdiri. Untung saja, James, Fred Jr, dan Lous tengah menikmati tidur pulas mereka. Arthur tak tahu sudah berapa lama ia berada di sana. Tepat saat matahari tak tampak lagi, rombongan parade saat itu membuat kepalanya pusing. Berduyun-duyun para Muggle berlarian menuju dirinya yang tengah berlari menyusul Remus. Ya, Arthur mengingat ia berada di belakang Remus.
Sampai akhirnya sosok pria tinggi berjubah menubruk badannya dari depan. Arthur terlempar ke belakang dan menghantam tubuh lain dengan tinggi kiri-kira sama dengan sosok yang pertama. Lagi-lagi Arthur tak jelas hingga semuanya semakin gelap. Badannya ringan dan dua sosok pria tinggi berjubah itu berada semakin dekat dan dekat. Pandangan Arthur mengabur sejalan dengan badannya terangkat oleh suatu tenaga dari dua sisi yang berlawanan.
Sesak, Arthur lantas tak tahu apa-apa.
Hingga panggilan James membuatnya sadar telah terbaring di tengah sebuah gubuk tua.
"Apa yang terjadi?"
Tidak ada tanda-tanda keberadaan siapapun di sana. Hanya gubuk tua dengan beberapa tumpuk gandum dan perkakas pertanian. Seperti yang ia lihat dari balik jendela, gubuk tempatnya berada kini adalah salah satu gubuk yang berdiri tak jauh dari ladang gandum milik salah satu penyihir juga. Namun sayangnya, dia sudah meninggal.
"Granddad—"
"Fred?"
Fred Jr bergerak pelan. Tangan kirinya menjadi penopang tubuhnya untuk setengah bangkit dari posisi menyandar. "Mungkin kita sudah bisa pergi, Granddad." Bisiknya. Rasa waspada masih terus ia rasakan jauh lebih besar dibanding ketika James dan Louis masih terbangun sebelumnya. Pundaknya terasa nyeri. Beberapa menit terlelap, pundaknya sakit terlalu lama tak digerakan apalagi dengan posisi dan tempat yang tak layak untuk tidur.
"Granddad rasa, ki—kita tak bisa keluar dulu, Fred."
"Ke-kenapa?" Fred Jr benar-benar terduduk kini, "aku sudah pernah kok diajak berapparate oleh Dad. Tapi—aku tak tahu dengan James dan Louis apakah mereka pernah diajak berapparate sebelumnya. Tak masalah, bukan, kalau kita—"
"Bukan begitu, Fred."
Desisan pelan Arthur memberi kenyamanan tambahan untuk James. Anak laki-laki Potter itu sempat mengigau tak jelas sambil bermuka ketakutan.
"Granddad tak bisa caranya?"
Arthur hanya menggeleng. Belum sempat Arthur menjawab pertanyaan Fred Jr, semerbak bau busuk tercium. Ia bergegas menarik tubuh Fred Jr agar mundur dan bersembunyi di belakangnya. Dua anak yang lain, James dan Louis terbangun kasar tepat saat suara pintu ditendang kencang.
Sosok berjubah hitam tinggi masuk. Terbang dan tak terlihat menapak di lantai.
Louis memberi isyarat agar mereka segera pergi dari tempat itu, meski nyatanya Arthur meminta untuk mereka tetap diam. "Aku takut, James," bisik Louis pada James.
James tidak menangis walaupun tubuhnya tak bisa dipungkiri bergetar sejak kedatangan makhluk berjubah itu. Sekuat tenaga James memberanikan diri melihat sekitar tempatnya berdiri. James ingin mencoba mengambil sesuatu untuk membantu, namun Arthur melarang.
"Tetap ditempat. Jangan dilihat!"
Tongkat Arthur teracung cepat membuat ancang-ancang. Pergerakannya terlalu cepat. Sosok di hadapannya lebih cepat bergerak. Lengan kelabunya keluar dari balik jubah terkoyaknya. Perut James mual.
"Ternyata baunya busuk." Bisik Louis, "kita tak seharusnya mencarinya!"
"Mau bagaimana lagi, kita sudah terlanjur."Jawab James turut melihat ke sisi Fred Jr.
Ya, Dementor tak seharusnya mereka cari. Sejak saat itulah mereka merasa pencarian itu membawa petaka. Bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan juga pria tua yang kini siap melawan di barisan depan. Mereka berakhir dalam sebuah kepasrahan. Nyawa mereka kini dipertaruhkan di ujung tongkat Arthur.
"MUNDUR!" perintah Arthur. Mereka bertiga bergerak lima langkah ke belakang.
"Granddad, bagaimana ini?" Fred Jr kembali berlari mendekat, meraih lengan kiri Arthur lantas meremasnya.
Apa yang mereka lakukan hanya sebatas kemampuan Arthur untuk bertahan di depan sosok Dementor itu. Satu-satunya mantera yang akan ia rapalkan diharapkan dapat membantu. Arthur mengambil banyak-banyak oksigen untuk ia hirup. Sangat kuat, memaksa dadanya mengembang hingga mantera itu terucap lantang.
"Expecto patronum!"
Sayangnya, mantera itu tak cukup kuat. Jauh dari harapannya, tongkat sihir di tangan Arthur lebih dulu terlempar jauh tak kuat menahan hempasan kekuatan energi sang Dementor. Gemelentang tongkat dan lantai kayu yang saling bertubrukan begitu ngilu ditelinga. Arthur berdiri tanpa tongkat.
"Grand—granddad! Help—"
Malam berkeinginan menjelma menjadi petaka. Tidak ada kata lengah untuk mereka jika ingin tetap bertahan dalam ruangan berukuruan beberapa meter saja. Satu sisi diserang hebat, Arthur lupa jika banyak celah muncul memulai segala petaka itu datang. Dari jendela yang tak pernah bisa ditutup, tidak hanya satu, dua Dementor muncul dan masing-masing telah menarik ke atas leher James dan Louis untuk segera diberikan kecupan mematikan.
"James! Lou!" teriak Arthur.
Lepas dari semuanya, Arthur ikut merasakan tarikan berat perlahan menyerang punggungnya. Pusara besar membuatnya berbalik, melihat dengan jelas sosok tinggi di balik jubah itu.
"Run!" hanya itu yang bisa diteriakkan Arthur untuk Fred Jr.
Dua sepupunya masih terangkat dalam kondisi sadarkan diri. Sementara sang kakek, masih dengan sisa kekuatannya terus meminta Fred Jr untuk lari. Pintu depan masih terbuka. Banyak kemungkinan terjadi di luar sana sejak mereka tersadar langit sekitar ladang gandum itu penuh dengan Dementor berkeliaran. Jika ia lepas dari tiga Dementor, Fred Jr akan bertemu bisa lebih banyak dari sekadar tiga sosok berjubah.
Dalam hati Fred Jr, ia berharap ada sesuatu lebih baik di tengah sebuah keputusan besar yang berbahaya. Begitu yang pernah sang ayah pesankan padanya. "Jika pesan Dad benar, aku bisa menjadi penyelamat bagi mereka. Tapi—" Fred Jr kembali menoleh pada kedua sepupu dan kakeknya. "Mereka bisa saja—"
"R—U—N!"
Kekuatan terakhir Arthur terputus bersama teriakannya pada Fred Jr. Ia harus lari.
Brukk!
"Awww!"
Lima orang berteriak bersamaan, terguling di hamparan tanah lapang seperti ban terlepas liar dari mobil yang melaju kencang. Ada setidaknya Harry muda dan Ron bertubrukan saling tindih. Sementara Sirius, Remus, dan Harry dewasa terlempar tidak begitu jauh.
"Perjalanan kita tak pakai Portkey, kan?" ujar Harry muda.
"Bloody hell, menjauh dari punggungku, nak!"
Harry muda sadar ia duduk di atas punggung Ron yang terkapar di atas rumput. "Sorry, pria tua." Jawab Harry muda sambil menjauhkan diri.
"Ada apa, Sirius?" tanya Remus. Pandangannya mengedar cepat ke sekeliling ladang gandum. "Keseimbanganku baik, hanya saja—"
"Ada yang mendorong. Terlempar, benar kan?" ujar Harry dewasa. Ia tengah bangkit sambil membenahi jubahnya. Tongkatnya telah siap teracung lantas diikuti serentak oleh Sirius, Remus, Ron, dan Harry muda.
Suara gemerisik membuat Harry dewasa cepat waspada. Aura pergerakan aneh terasa dari belakang tubuh mereka kini berdiri. "Hati-hati," bisik Harry dewasa sekali lagi.
Semak-semak tersibak perlahan. Sesuatu siap berusaha keluar dari balik sana.
"Kau benar-benar Auror hebat, Harry!" Sirius bangga melihat kesigapan Harry dewasa yang luar biasa sensitif.
"Tahan dulu kekagumanmu, Sirius, karena kita bersiap untuk menyambut—what?"
Kewaspadaan Harry lenyap tatkala seorang anak laki-laki berambut merah keluar tiba-tiba. Kelima pria menurunkan tongkatnya, ternganga tak percaya bahwa Fred Jr muncul sambil menangis, lantas berkata, "tolong mereka!"
TBC
#
Singkat dari biasanya? Bener banget! Itulah kenapa Anne post pagi dan mungkin Anne bisa saja lanjut post chapter selanjutnya hari ini juga? Mungkin kalau sudah selesai. Jadi.. lihat saja, ya! Anne tunggur reviewnya, maaf kalau masih ada typo dan sampai jumpa di chapter mendatang.
Thanks,
Anne xoxo
