Hi, everyone!
Anne datang lagi. Wahh mungkin Anne harus minta maaf banget, nih. Anne bisa agak lama updatenya, teman-teman. Kalau hari-hari ini, Anne sibuk nggak update karena banyak banget acara kawinan. Yups, sejak Jumat sampai besok Senin, full yang namanya acara pernikahan. Teman-teman cewek Anne udah pada nikah semua.
Lalu kapan Anne nikah? *please jangan ada yang tanya begitu!*
Sayang banget, Senin besok kakak sepupu Anne nikah dan Anne kayaknya nggak bisa datang soalnya ngampus. Huhuhu.. kalau udah begini bapernya bertubi-tubi. Baiklah, mungkin Anne akan update hari ini dan Anne akan usahain buat cari waktu nulis dan update. Oh, ya, ada yang kuliah di ITS Surabaya? Sabtu nanti (tgl 24) Anne ke ITS loh! Kirain aja bisa ketemuan gitu :) *penting nggak, sih?* *lupakan*
Daripada ngelantur, ANne balas review dulu!
ninismsafitri: sodorin Fred Jr :)
BlaZe Velvet: wah sorry ya, lama nggak update. Sibuk bingit! :)
safirar46: bakal ada konflik lain setelah mereka ilang. Ikutin aja, ya :)
Akane Fukuyama: hehehehe itulah triknya Author bikin penasaran :)
Mrs X: semoga mereka selamat, ya!:)
AMAZING: Aduh jangan jahat-jahat sama anak kecil. Nggak tega :')
Afadh: dementornya dikit tapi strong! *alahhh* hahaha :)
Baiklah langsung aja, ya!
Happy reading!
"Apa maksudmu, Fred?"
"Di sana, Dementor—"
Mereka bersama-sama memalingkan wajah menuju ujung ladang. Sebuah pondokan kecil berdiri paling mencolok di tengah tanah kosong bersama pagar kayu di depannya. Sirius mengingat sesuatu tentang tempat itu. Seseorang yang ia kenal sebagai pemilik ladang sekaligus gubuk tua yang ditunjuk Fred Jr.
"Merlin, aku lupa." Pekik Sirius.
"Ada apa?"
Harry muda baru pertama kali melihat gubuk itu, sedangkan dirinya yang sudah dewasa sedikit merubah ekspresinya mirip dengan Sirius. "Kau lupa jika yang memiliki tempat ini juga penyihir, Sirius?" tukas Harry muda. Sirius mengangguk.
"Karena area gubuk itu dipasang anti-Apparation." Harry dewasa mengulurkan tangannya meminta sang keponakan mendekatinya. "Itulah sebabnya kita terpental."
Tubuh kecil Fred Jr bergetar hebat. Dipelukan Harry dirinya memaksa untuk tidak menangis, tapi itu gagal. Harry dewasa mengusap air mata Fred Jr dengan lembut. Ia meminta anak itu agar tetap tenang dan menceritakan semuanya dengan jelas.
"Aku yang mengajak James dan Lou mencari Dementor, Uncle Harry." Fred Jr menarik napasnya dalam, suaranya parau, "sorry. Jangan bilang Mummy, Uncle. Please!"
"Oh, Fred. Kau tahu, perbuatanmu itu sangat berbahaya, nak. Dementor bukan makhluk sembarangan."
Malam semakin larut dan mereka harus segera menemukan James, Louis, dan juga Arthur yang masih berada di dalam gubuk. Fred Jr bercerita dengan sesenggukan bahwa ia harus pergi setelah Arthur memintanya lari dari dalam gubuk. Beberapa Dementor menyerang di dalam sana. Mereka tidak bisa melawan sejak tongkat Arthur terlempar. Hanya Fred Jr yang memastikan dirinya selamat selepasnya dari kungkungan Dementor.
Sirius berubah menjadi sosok anjing besar. Dibantu Remus, mereka berdua mendekati gubuk lebih dulu dan menyebar dari sisi yang berlawanan. Remus memilih jalan pintu depan sementara Sirius melompat menuju pintu belakang dan bersembunyi di balik tumpukan jerami.
"Kau yakin mereka di sana, Fred?" tanya Ron dewasa.
"Ya, aku lebih dekat dengan pintu dan tak ada Dementor yang menyerangku. Granddad berteriak agar aku keluar. Terakhir, yang aku lihat James dan Lou pingsan. Entah dengan Granddad, aku melihatnya masih dengan Dementor." Fred Jr mendesah ketakutan.
Hanya mereka berempat yang belum mendekat. Ron dengan inisiatifnya sendiri mengendong tubuh Fred Jr untuk segera mengangguk pada Harry dewasa, setuju untuk mereka ikut mendekat. Sayangnya, Harry muda lebih tak sabar dan memilih berlari lebih dulu tanpa menunggu Ron dan yang lainnya.
"Bloody hell, lihat ulahmu waktu muda, Harry." Ron mencibir.
"Seperti kau tak pernah muda saja, Ronald. Sudahlah, ayo!"
Mereka bergegas lari, menyusul Sirius dan Remus di dekat gubuk tua.
Gubuk tepi ladang gandum milik seorang penyihir darah campuran bernama Samuel Garrett lama digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil panen sementara dari ladang gandum yang juga miliknya. Dikelola penuh oleh keluarga Garrett secara turun-temurun, hasil ladang gandum keluarga mereka dikenal pula turut dipasarkan masuk ke Diagon Alley. Namun sayangnya sejak Sam, sapaan akrab Samuel— meninggal dunia, ladang itu dikelola oleh Muggle yang terakhir diketahui sebagai menantu Sam. Tidak ada penyuplai masuk ke dunia sihir lagi sejak saat itu dan hingga kini semua hasil ladang gandum hanya dijual ke sebuah industri milik Muggle di pusat London.
"Meski ladang ini tak begitu besar, gandum yang tumbuh di tanah ini rasanya sangat enak jika diolah." Bisik Sirius pada Ron dewasa dan Fred Jr di gendongannya ketika sampai di pintu belakang gubuk. Wujud Sirius kembali semula.
"Lalu, apa ladang ini masih diurus oleh—"
"No," mereka segera bergerak perlahan mulai masuk, "yang aku dengar sekarang, mulai bangkrut. Para Muggle itu bilang gubuk ini banyak hantunya. Padahal itu hanya pengaruh sihir yang sempat dibuat Sam untuk menjaga gubuknya. Menantu Sam akhirnya diam-diam membatasi pekerja di sini. Dia malu punya keluarga penyihir. Supaya tidak ketahuan. Bagus, sih, tapi ujung-ujungnya.. bisa bangkrut juga. Sayang sekali."
"Hah, dasar Muggle sinting!" pekik Ron . Tanpa sadar Fred Jr mengikuti kata-katanya.
"Sinting!" Fred Jr girang.
Ron dan Fred Jr terkikik bersama namun Sirius mendelik karena ia tahu kini jika anak-anak bisa memaki sebab meniru para orang dewasa dalam berbicara. Tepat sekali. "Mungkin jika kita tak dalam posisi seperti ini, mulutmu sudah aku jahit rapat-rapat, Ron."
Sementara itu di pintu depan, Remus, Harry remaja serta sosok dewasa dirinya berjaga di depan pintu sambil terus siaga. Tongkat ketiganya telah bersiap di depan dada dan tak lupa untuk mempertajam pendengaran masing-masing.
"Ada yang mengeram," bisik Harry muda. Ia melihat Remus berharap kata setuju dengan pendapatnya. Suara itu semakin jelas dengan teriakan memanggil—sangat pelan.
"Apa dia memanggil," Remus menempelkan telinga ke daun pintu, "Granddad atau Dad—"
"Itu suara James!"
Brakk!
Harry dewasa mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Ya, dan seperti apa yang ia tebak sebelumnya, James mengerang pelan di depan tubuh Arthur yang tengah tergeletak tak sadarkan diri.
"James!"
"Da-Daddy—"
Harry dewasa meraih penuh tubuh James seperti lama tak berjumpa. Tubuh putranya dingin, wajahnya pucat sementara gerakan tangannya konstan, menggigil antara kedinginan dan ketakutan. James bergerak hanya ketika Harry dewasa mengangkat tubuhnya untuk dipeluk. James tidak sanggup untuk sekadar mengusap pipi ayahnya atau membalas pelukan itu.
"Da—"
"Oh, James. OK, semuanya sudah baik. Kita akan keluar dari sini—"
Semua bergegas masuk. Tak lama setelah itu, Sirius dan Remus bergerak cepat menuju pintu depan. Dua Dementor datang begitu cepat dan siap menyerang mereka yang masih sadar. Tanpa mereka ketahui satu sosok Dementor lain turut muncul dari pintu belakang. Harry remaja berusaha mengangkat tongkatnya siap merapal mantera.
Namun Ron cepat menghalau, "kau tak mau benar-benar dikeluarkan dari Hogwarts, kan? Dasar anak muda!" cerocos Ron masih menggendong Fred Jr. Sulur-sulur cahaya dari ujung tongkat bermunculan membentuk lekukan menarik berupa hewan-hewan. Ron dengan Patronus anjing terrier Jack Russell miliknya melesat menghalau datangnya satu Dementor dari arah belakang. Beruntung, Ron tak terlalu banyak berusaha mengusir karena posisi dirinya masih terlalu jauh.
"Mantan Auror paling terkenal sejagat dunia sihir!" Ron bersorak bangga untuk dirinya sendiri.
"Wow! Kau keren, Uncle Ron!" Puji Fred Jr.
Tak jauh dari Ron, pria dewasa yang juga sahabatnya, Harry, hampir dibuat terkejut dengan Dementor lain dari balik jendela. Jika tidak James berteriak menunjuk Dementor itu, dirinya dan James mungkin akan terkena dampaknya lebih cepat. Hanya sebentar, kepala Harry dewasa terasa pusing sampai akhirnya Dementor itu pergi.
"Bloody hell, mereka semua akhirnya pergi." Fred Jr diturunkan Ron untuk membantu mengangkat Louis dari atas lantai. Tubuh James kini beralih ke tangan Harry muda sebab Arthur, yang belum kunjung sadar, menyita perhatian Harry dewasa.
"Dad," panggil Harry dewasa ikut meninggikan posisi kepala Arthur.
Sebuah pertolongan pertama untuk Arthur diberikan Harry dewasa dengan cara merapalkan sebuah mantera non verbal di sisi wajah Arthur. Tidak lupa ia menekan titik syaraf di bagian bawah leher untuk membantu merangsang kesadaran.
Harry dewasa mengulang panggilannya. Arthur belum kunjung sadar hingga satu menit Harry selesai memberikan pertolongan.
"Dad, bangunlah—"
"Aaa—si—siapa kali—an? K—au siapa?"
Arthur bersuara. Meski dengan sangat lembut, kesadaran Arthur berangsur membaik.
"Syukurlah.. Dad, kau mendengarku?" panggil Harry dewasa lega.
"Kau—siapa? Merlin, kau panggil Dad? Aku ta—tak punya anak berambut hi—hitam. Anak laki-lakiku berambut merah—semua."
Harry dewasa tertawa pelan. Sedangkan Ron terbahak tak bisa menahan diri. "Bloody hell, Dad. Anak laki-lakimu semuanya berambut merah. Itu benar. Tapi anak—em, menantu laki-lakimu satu-satunya itu, ya, satu-satunya, berambut hitam dengan model acak-acakan paling mengerikan sepanjang sejarah!"
"Awas kau, Weasley!" Pekik Harry dewasa menyerang Ron dengan tatapan mematikan.
"Aku juga Weasley, nak. Haha—"
Arthur ikut tertawa di hadapan Harry dewasa. "Sorry, Dad. Aku lupa kalau istriku juga Weasley. Salah satu keluarga paling hebat yang penah aku kenal." Bisik Harry sambil mendekatkan wajahnya ke Arthur. Di situlah, Arthur baru menyadari jika pria yang menolongnya sangat mirip dengan Harry muda, hanya saja terlihat lebih dewasa.
"Kau—James Potter?" tanya Arthur. Kepalanya ditidurkan nyaman di atas paha Harry.
"Haha, aku bilang juga apa." Sirius memekik setuju. "Semakin dewasa kau terlihat mirip dengan ayahmu, Harry."
"Tapi aku lebih jago dari Dad, Sirius. Dad hanya bisa buat satu Potter." Ujar Harry dewasa menunjuk dirinya sendiri, "sedangkan aku bisa membuat tiga. Yang pertama bahkan sukses membuat jiplakan dirinya sampai kenakalan-kenakalannya juga. Mirip!"
Semua orang terdiam. Hanya Sirius dan Remus terlihat tertahan tawanya. Harry lantas menatap putra pertamanya memberi petunjuk apa yang tengah ia maksud.
"Kau benar, Harry. Bloody hell, Potter gen!" Ron mengusap kasar rambut acak-acakan James yang sedang terbengong mendapat tatapan aneh dari ayahnya.
"Hah?" bisik James kesal.
Para anak telah sadar sepenuhnya menertawai James. Kali ini tak ada yang melarang. Obat paling mujarab setelah bertemu Dementor adalah mengembalikan tawa itu sendiri.
"Jadi—" Arthur sadar, "kau, Harry? Menantuku dari masa depan?"
Senyuman Harry dewasa mewakili semuanya. "Yeah, Dad. Kau benar sekali."
Matahari mulai muncul dari arah timur. Harry dewasa memutar mobil yang ia kendarai dengan hati-hati untuk masuk ke area Grimmauld Place. Sirius dan Arthur berebut untuk melihat di balik bangku kemudi Harry. Mereka sangat penasaran dengan apa Harry bisa menggerakan benda Muggle yang disebut mobil hanya dengan injakan, tarikan dan dorongan pada tuas serta memutar kekanan dan kiri benda bundar di tangannya. Remus hanya bisa pasrah dan memilih bersandar nyaman di bangku mobil.
"Minggir dulu, Sirius. Aku ingin lihat!" cegah Arthur agar Sirius menjauh.
"Kau, kan, sudah punya mobil, Arthur! Kau sudah bisa mengendarainya, kan?" Sirius menyela membuat Arthur mengalah lalu bersandar bersama Remus. "Kau hebat juga mengendalikan mobil, Harry. Kapan-kapan ajarkan aku menyetir, ya! Kalau motor aku sudah bisa." Sirius memohon.
"Belajar bagaimana? Mobil ini saja kau tak tahu milik siapa, belajar dengan apa nanti?"
Anak-anak dan Arthur tidak mungkin dibawa kembali ke Grimmauld Place dengan cara Apparate. Sementara jarak mereka dari ladang ke Grimmauld Place cukup juah. Berjalan kaki begitu tidak mungkin sampai akhirnya sebuah mobil terparkir di sebuah bengkel tua tak jauh di belakang ladang. Mobil itu sudah sangat kotor. Seperti sengaja ditinggal oleh pemiliknya.
Hanya sekali ayun, Harry dewasa membuat mobil itu terisi penuh dengan bensin. Begitu juga mesinnya dapat kembali dihidupkan.
"Paling tidak, mobil ini harus dikembalikan lagi ke tempat itu, Sirius. Ini bukan milikmu!" kata Harry dewasa agar Sirius mau melepas mobil itu nantinya.
"Ok, nanti aku kembalikan." Sirius tak rela.
Tiga puluh menit perjalanan subuh mereka sampai ke Grimmauld Place. Anak-anak satu persatu diturunkan untuk berjajar bersamaan menunggu perubahan bagunan menyebar membentuk satu petak rumah baru bernomor 12. Sirius menjentikkan jarinya ke depan mobil setelah Harry dewasa memberi aba-aba agar segera mobil itu disihir kembali ke tempat semula.
Tak!
Mobil itu menghilang.
"Selesai, saatnya masuk." Perintah Sirius mengomando.
Harry muda kewalahan ketika James lebih dulu berlari masuk. Pintu besar di depannya membuat James kesulitan untuk membuka. Hanya sekali dorong bagi Harry muda, pintu itu terbuka.
"Harry! Akhirnya kau kembali!"
Bibir Harry muda dilumat kasar oleh seseorang yang pertama menyeruak maju tepat saat pintu terbuka. Badannya dipeluk erat. Geli akibat juntaian rambut merah di wajahnya menyadarkan Harry muda akan sesuatu.
Ia mendapat ciuman pertamanya detik itu juga.
Dari siapa?
"Ehem—" Harry dewasa berdehem pelan di belakang tubuh kembaran mudanya.
Ginny Potter, melepas perlahan tubuh kecil yang akhirnya ia sadari sebagai sosok lain dari suaminya. Meski sama-sama Harry, suami aslinya berdiri tak jauh darinya. Ya, bukan yang sedang ia peluk saat ini tentu saja.
"Ha—Harry—" panggil Ginny dewasa.
"Hai," jawab Harry muda dan dewasa bersamaan. Mereka saling pandang.
Tidak hanya Ginny dewasa, Hermione dewasa turut hadir di dalam Grimmauld Place sambil menggendong Hugo yang terlelap di dadanya. "Kalian?" Sirius tak percaya dua orang wanita yang ia kenal memiliki wajah versi dewasa seperti halnya Harry dan juga Ron.
"Perasaan kami tak tenang, Sirius." Jawab Hermione dewasa.
Ginny mengangguk setuju. "George mengirim kami. Anak-anak kami dalam bahaya. Sebagai ibu, kami tak tenang melihat anak-anak kami sendiri dalam bahaya sementara kami nyaman di rumah—"
"Sebagai suami, aku juga tak tenang melihat istrinya mencium pria lain di depan mata kepalanya sendiri."
Harry muda memilih lari dan masuk lebih dulu, ia malu saat semua orang tertawa melihatnya memerah mendapat ciuman maut dari seorang Ginny dewasa.
TBC
#
Wehehehe.. bayangin gimana ekspresi kalian kalau jadi Harry dewasa! Empet banget! ^_^
Hehehe.. bakal ada masalah lagi meski mereka pulang. Apa itu? Ikuti terus kisahnya! Jangan lupa review, maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa fav, follow dll. Thanks banget, ya! Sampai jumpa di chapter mendatang!
Thanks,
Anne xoxo
