Hi, everyone!
Malam dan Anne muncul lagi. Seperti yang Anne sampaikan sebelumnya, Anne bakal susah updatenya, nih. Dibilang kuliah udah mulai aktif, tugas banyak, Anne juga mau persiapan buat lomba nanti. Jadi, waktunya udah banyak kesita. Emm, tapi Anne akan usahain buat update dan teruskan cerita sampai ending meski setiap chapternya bisa dibilang agak pendek-pendek. Ya semoga kalian nggak marah, ya! Mohon pengertiannya.
Karena udah mulai malam, Anne langsungkan saja. Maaf nggak sempat balas review. Jadi Anne cuma ucapkan terima kasih buat yang sudah review kemarin. Mungkin langsung saja, ya!
Happy reading!
Pagi menjelang pukul 7, suasana ruang makan ribut dengan pembagian makanan di masing-masing piring. Ada sedikit perbedaan dengan sistem pembagiannya, begitu juga yang bertugas membagi makanannya. Molly, sebagai koki utama dibantu oleh tiga wanita sekaligus. Ginny muda, Ginny dewasa, dan Hermione dewasa. Dari dua kompor yang tersedia di Grimmauld Place, tidak ada satu pun yang mati. Ginny dewasa memasak di satu kompor sisi Molly. Hermione dan Ginny muda menyiapkan beberapa yang tak perlu di masak.
"Rotinya tinggal ini?" tanya Hermione dewasa. Ia berbalik memperhatikan Molly setelah disodori kantung roti dengan tiga lembar roti tawar gandum di dalamnya.
Hanya enam lembar, sedangkan ada lebih dari 20 orang yang akan diperkirakan sarapan pagi ini dengan roti. Untuk sementara, lupakan dua bayi di antara mereka tapi jangan melupakan beberapa orang yang akan datang juga.
"Tonks dan Kingsley sebentar lagi akan kemari." Seru Remus di ujung bangku bersama Harry dewasa. Ada surat di tangannya.
"Aku harap makanan masih cukup." Sindir si kembar.
Kembali sibuk dengan kantung roti, Molly meyakinkan kembali jika penghuni Grimmauld Place kini semakin banyak.
"Bagaimana? Apa kita harus membelinya, Mum?" tanya Ginny muda.
"Oh, tentu. Tapi supaya sama dengan roti yang tersisa, harus beli di toko kue Muggle beberapa blok di depan. Roti ini Dad beli di sana"
Roti gandum yang ada sebelumnya dibeli oleh Arthur. Terlihat dari label dan stempel tanggal kadaluwarsa di kantungnya. Entah sengaja atau tidak, sejak mereka tinggal sementara di Grimmauld Place, beberapa persediaan makanan lebih banyak dibeli di pemukiman Muggle. Sirius yang meminta Molly dan Arthur agar membeli makanan Muggle sesuai apa yang selama ini ia makan sepanjang persembunyian.
Lidahnya lebih nyaman dengan konsumsi sehari-sehari para Muggle.
Muncul masalah ketika Arthur datang menjelaskan pada Molly jika uang Mugglenya tak cukup untuk belanja. "Aku belum sempat menukarnya, sayang." Jawab Arthur. Albus dan Louis saling kejar di belakang mereka.
"Em, coba dengan Harry, Dad," ujar Ginny dewasa, tangannya mengayun meminta suaminya mendekat. Tapi reaksi Harry dewasa tak cukup mengenakan dibandingkan senyuman Ginny.
Harry dewasa masih sebal, mengingat di belakang sana dirinya yang masih muda bersama Ron muda termenung di depan perapian. Mungkin memikirkan ciumat maut Ginny.
"Jangan marah, sayang," Ginny dewasa lantas mengecup singkat bibir Harry dewasa, "bekas kamu juga, kan."
Molly terbahak kencang menepuk-nepuk punggung Ginny muda yang tak tahu apa-apa. Lehernya tercekat melihat kemesraan aneh yang dilakukan dirinya sendiri dari masa dengan Harry, suaminya kelak. Aneh, tapi itulah yang dilihat dan dirasakan Ginny.
"Iya, iya. Thanks you, Love. Lalu sekarang ada apa kau panggil aku kemari? Biasanya, Mummymu ada maunya kalau sudah seperti ini, Lils."
Harry dewasa membisikkannya pada Lily yang ia gendong menyamping di pinggang. Lily hanya bisa tertawa dan tetap berpegangan erat di kemeja ayahnya. "Bagus kalau peka. Begini, roti kita sisa sedikit. Supaya sama, lebih baik beli yang sama dengan roti yang ada. Mum bilang belinya di toko roti dekat sini." Ginny dewasa menujukkan sisa roti yang ada.
"Sekitar dua blok dari sini. Toko roti yang di samping minimarket itu, Harry. Kau tahu?" tambah Arthur.
Sejenak Harry dewasa berpikir. Mengingat-ingat toko yang ada paling dekat dengan Grimmauld Place. "Em," ia ingat sesuatu, "toko roti yang ada rak pot tanamannya di depan?"
Molly mengacungi jempol Harry tanda benar.
"Belikan di sana, ya, Dad tak ada uang Muggle. Kau bisa belikan?"
"Yeah, tak masalah. Aku bawa dompet, kok. Tapi.. seingatku lokasi di sana padat sekali. Tidak bisa aku berapparate begitu saja. Kalau mau jalan kaki, lumayan juga." Harry dewasa tertawa diikuti Lily.
Suara Sirius lantas terdengar kencang seperti berontak. "Sudah aku bilang, kan, mobil itu sangat diperlukan!" teriaknya. Tonks dan Kingsley muncul di perapian sampai mengangetkan Harry dan Ron muda.
"Naik sepeda saja. Sirius seingatku menyimpan sepeda di belakang."
Arthur menunjuk laci kecil sudut tempat menyimpan kunci sepeda. Harry dewasa menemukan kunci itu bersama tumpukan foto lama keluarga Black dan pernak-pernik rusak lainnya. "Baiklah, aku akan belikan. Ada yang lain?" tawar Harry dewasa.
"Ada. Mentega, selai rasa coklat, kacang, strowberry, lalu biskuit bayi—"
Ginny berhentik ketika Hermione dewasa ikut berseru, "sereal, aku dengar tadi Al, Rose, dan Teddy ingin makan sereal. Dan, ah, jangan lupa susunya juga. Itu berarti kau harus beli di minimarket. Oh, hampir lupa.. aku tak sempat bawa apapun kemari, jadi belikan aku... tampon."
Deg! Harry dewasa kaku. Apalagi sang istri turut menambahkan, "benar, beli yang kemasan sedang, Harry. Hari ini hitungan mensku datang. Kau tahu, kan? Mereknya?"
Harry dewasa menelan ludahnya sambil mengangguk susah payah. Meski ia sendiri sering membelikan untuk istrinya, terkadang ada rasa berat hati ketika berhadapan dengan petugas kasir untuk membayar sebuah tampon apalagi ia sendirian tanpa didampingi oleh perempuan.
"Aku ju—ga. Persediaanku habis." Ginny muda malu-malu ikut meminta.
"OK. Jadi mungkin intinya, yang utama, aku harus beli roti dan.. benda menstruasi kalian.. itu. Kau tak ikut titip juga, Mum. Supaya aku sekaligus beli yang isi banyak?"
Molly memukul pantat Harry dewasa dengan kain serbet. Wajahnya memerah menahan malu. "Kau pikir aku masih gadis di tingkat tujuh Hogwarts, Harry?" pekik Molly.
"Yeahh mungkin saja, Mum, kau merindukan masa-masa datang bulanmu." Cengir Harry dewasa. "Bukan begitu, Dad?" lirik Harry dewasa pada Arthur.
"Ahh, perempuan menstruasi itu menyebalkan!" seru Arthur sambil berlalu pergi. Takut jika Molly akan berbuat sesuatu padanya lebih parah dari memukul dengan serebet.
Harry dewasa memilih berlalu mengambil kunci lantas memberikan Lily ke gendongan Ginny dewasa untuk segera pergi. "Dasar perempuan!" gerutu Harry menggeleng tak habis pikir.
"Ingat, kau punya anak perempuan juga, sayang."
"Oh, Ginny, aku ingin Lily tak cepat tumbuh dewasa."
Berbelok satu arah lagi, Harry dewasa sampai pada sebuah toko roti bercat coklat muda dengan paduan warna putih susu. Sama dengan aroma manis dan gurih keluar dari sela-sela lubang angin di toko tersebut. Harry memarkirkan sepedanya ke besi pengikat dan bergegas masuk untuk membeli roti terlebih dahulu.
Harry harus mengira-ngira jumlah roti yang akan ia beli. Sebelum memilih jenis roti lain sebagai cemilan bagi semua orang di Grimmauld Place. Beberapa kantung roti gandum, puding, dan cupcake kecil menjadi hasil belanjanya di toko roti itu. Sebagai sisanya, Harry masuk ke minimarket tepat di samping toko roti.
"Selai, mentega, biskuit—bayi, ya, biskuit bayi, susu, sereal—" Harry berjalan mengeja satu persatu pesanan yang harus ia beli sembari masuk ke dalam minimarket. "Dan benada terakhir adalah—ini dia!"
Satu box berwarna biru tua dari rak peralatan perempuan Harry masukkan dalam keranjang belanjanya. Semua barang sudah ia dapatkan, terakhir ia harus mendatangi kasih dan membayar semuanya.
"Tidak ada yang lain, Sir?" tanya petugas kasih di depan Harry.
"Em, mungkin saya ambil permen dan coklat ini." Dari meja kasih, sekitar lima buah makanan manis ia ambil untuk ditambahkan ke dalam belanjaannya. Tak masalah jika Ginny marah, sudah lama juga ia tak membeli permen atau coklat. "Saya ambil sepuluh." Jawab Harry berpikir sedikit terlalu banyak.
"Totalnya 8.75 pounds, Sir."
Harry menyerahkan uangnya dan bergegas keluar dari minimarket, sampai sesuatu memanggilnya kembali dari arah meja kasir. "Coklat anda tertinggal satu, Sir!"
Hanya suara anak-anak. Harry membiarkan saja dan berteriak agar anak itu mengambilnya. "Ambil saja," pinta Harry.
"No, aku tak begitu suka coklat.. Mr. Potter."
Tak ada yang tahu namanya di masa itu, terlebih dalam keadaan usia jauh lebih dewasa. Harry terdiam tepat di depan pintu kaca. Tak ada yang tahu dirinya siapa. Ia tak menunjukkan karti identitas apapun. Tapi nyatanya, seorang anak perempuan berambut silver-blue, berusia kurang lebih 12 tahun, berjalan mendekatinya sambil menunjukkan sebatang coklat kemasan milik Harry yang tertinggal.
"Jauh sekali anda pergi, Sir?" ujarnya dengan ekspresi datar, "masa ini sangat berbahaya jika keluar sendirian, meski anda jauh lebih dewasa.. tetap saja, dia.. mencarimu."
"Si—siapa kau," Harry terbata, hawa dingin menyerang di sekitar tubuh gadis kecil itu, "darimana kau tahu diriku?"
"Hem.." gadis itu tersenyum. Ekspresi wajah pucatnya semakin dingin, "tentu saja, Dad sangat mengenalmu. Sangat amat mengenalmu."
TBC
#
Waduh kira-kira siapa itu ya? Ada yang bisa tebak?
Maaf loh kalau pendek, yang penting Anne update dulu kali ya. Obat kangen. Anne tunggu reviewnya, dan maaf kalau masih ada typo. Sampai jumpa di chapter mendatang, karena akan ada masalah baru muncul nanti. Apa itu? Tunggu saja!
Thanks,
Anne xoxo
