Hi, everyone!

Sebelumnya, Anne mohon untuk BACA A/N DARI ANNE INI, YA!

Maaf banget untuk semua pembaca Anne sekalian. Mungkin ini Anne update terakhir sebelum hiatus sampai pertengahan Oktober. Anne lagi persiapan lomba untuk ke Kendari sekitar tanggal 11 - 17 Oktober. Selain Anne update chapter, Anne mau minta doa buat Anne agar diberi kemudahan waktu lomba nanti dan dapat hasil yang memuaskan. Dan bagi yang ada di Kendari dan sekitarnya, boleh tuh kunjung-kunjung ke hotel tempat Anne tinggal sementara atau kampus UHO tempat Anne lomba nanti. Apa mungkin ada yang kuliah di UHO? Lebih jelasnya bisa hubungin Anne di Line (lihat profil). Bagi yang kebetulan pengen ketemu aja. Itu pun kalau ada waktu, ya.

Hem.. mungkin begitu kira-kira pesan Anne. Anne tetap akan lanjutkan tulisan ini tapi ya nunggu sampai Anne selesai lombanya, ya. Sabar. Sekali lagi Anne minta maaf.

Oke, jadi menurut yang sudah review kemarin, thanks ya, ada sebagian yang kayaknya pinter tuh buat nebak siapa anak yang ketemu Harry. Tapi, lebih jelasnya petunjuk apa lagi, bisa baca di chapter ini. Benar nggak sih sama tebakan kalian.. Hehehe.. Kalau begitu Anne langsungkan saja, ya!

Happy reading!


Harry dan anak perempuan itu hanya bisa terdiam beberapa detik. Hanya ada Harry yang sempat terbatuk menyadarkan dirinya bahwa ada seseorang yang mengenalnya di dunia Muggle masa lalu. Satu-satuya jalan kali ini adalah untuk memilih minggir mencari tempat berbicara bersama si gadis misterius itu. Harry paham jika masalah ini tidak begitu baik.

"Kau mau es krim?"

Harry berusaha tenang dan menawarkan makanan favorit anak-anak seperti es krim. Cara itu sering dilakukan Harry jika mengajak anak-anaknya keluar. Paling ampuh jika sudah dirayu dengan es krim, baik James maupun kedua adiknya akan manut dan enteng diajak bicara.

"Aku tak begitu suka es krim, Sir."

"Mengejutkan, aku kira semua anak suka es krim."

Mata Harry teralihkan oleh pucuk-pucuk rambut si gadis. Memaksa lebih tenang dan bersikap biasa saja. Minimarket tak cukup baik untuk dijadikan tempat berbincang. Apalagi barang-barang yang ia beli sudah tuntas dibayar. Harry harus segera keluar jika tak mau dicurigai sebagai pengutil.

Si gadis tiba-tiba mengulurkan tangannya, "senang bisa bertemu denganmu, Sir." Katanya sopan.

Gugup, Harry membalas jabatan tangan itu sangat kaku. "Ya, tapi — kau tak ingin membeli sesuatu? Kau baru masuk ke sini, kan?"

"Benar, tapi aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku terkejut, tak percaya jika anda benar-benar Harry Potter. Daddyku pasti sangat bangga denganku bisa bertemu denganmu. Aku harus segera pergi. Anda juga pasti sudah ditunggu untuk sarapan, bukan."

Kaget, Harry lagi-lagi dibuat bingung dengan ucapan gadis itu.

"Enak juga jika sarapan roti panggang dan bacon goreng. Banyak sekali yang ingin sarapan, ya? Anda beli roti banyak sekali."

Benar saja, Harry memeriksa kantung belanjanya. Tiga kantung roti dan makanan lain yang ia beli terlihat dari kantung belanjanya. Harry merutuki kebodohannya sendiri, siapapun bisa dengan mudah menebak ia akan sarapan. Hanya saja, ada satu hal masih mengganjal di hatinya.

"Sebantar, aku masih penasaran dengan.. ayahmu." Bisik Harry serius.

"Em.. begini, Dad tidak bersamaku." Cepat anak itu menjawab. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk meski tak begitu terlihat ia gugup berhadapan dengan Harry.

Seseorang tiba-tiba meminta Harry bergeser. Ia baru ingat jika sejak awal menepi ia dan gadis cilik itu berdiri di dekat rak produk makanan instan.

"Ah, mungkin aku harus segera pulang. Selamat tinggal!"

Gadis itu berlari. Keluar dari minimarket dan menghilang di salah satu gang. Harry terlambat. Ia tak tahu jalan itu akan menuju ke mana. Takut terlalu siang, Harry memilih kembali. Sepanjang jalan mengayuh sepedanya, Harry terbayang tentang sosok ayah gadis itu. Seseorang yang mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya.

"Aneh sekali." Harry telah sampai di depan Grimmauld Place. Sejenak ia harus menunggu bangunan itu merentang saling tarik. Sudut baru tercipta dan muncullah sebuah daun pintu baru bernomor 12. "Anak itu mengenaliku di sini, saat aku sudah berusia—ah, apa anak itu juga dari masa depan? Ayahnya mengenalku—siapa?" batinnya.

"Kemana saja kau, Tuan!"

Deg!

Ginny dewasa berdiri tegas memasang muka masam. Harry sendiri hanya bisa mematung merangkul tiga kantung belanjanya mulai ketakutan. Meski demikian, bayangan tentang sosok gadis berambut silver kebiruan itu tak henti bergentayangan di kepalanya. Tangan Ginny menebas pelan menghilangkan sepeda kayuh yang diparkir rapi di sisi tembok. Mereka tak bergerak di tempat masing-masing sampai suara Sirius dan James memaksa keduanya masuk.

"Daddy, aku lapar! Aku mau makan," teriak James di belakang badan Sirius.

"Hah, kemari kau, Potter! Cepat ke dapur! Kami sudah lapar."

Harry mendesah lemas. Kalaupun Ginny marah, ia sudah tak peduli. Semua itu bukan salahnya juga. Perubahan wajahnya tiba-tiba berubah. Harry masih memikirkan masalah gadis itu.

"Harry—kau tak apa?" Ginny panik. Harry berubah linglung.

Ginny menyentak kesadaran Harry. Istrinya itu selalu tahu jika ia sudah menyimpan masalah. "Ah, a-aku tak apa, Gin. Ada sedikit masalah tadi. Em—"

"Uangmu tak cukup?" tanya Ginny sedikit tak percaya. Tak mungkin Harry tak punya uang untuk berbelanja sebanyak itu.

Cepat-cepat Harry menggeleng. "Bukan," potongnya, "ada seseorang yang menemuiku saat berbelanja tadi." Cerita Harry pelan hanya ditujukan untuk Ginny.

Sebenarnya Harry ingin bercerita lebih jauh pada Ginny, hanya saja waktu dan tempat tidak begitu nyaman untuk bercerita. Harry merasa jika ia patut bercerita hanya dengan Ginny. Anak yang menemuinya beberapa menit lalu terlihat memiliki hubungan dengan masa depan. Entah apapun yang sebenarnya tengah terjadi, Harry tak ingin membuat masalah dengan mereka yang ada di masa lalu.

Grimmauld Place riuh dengan semarah tawa anak-anak di sekitar dapur. Teriakan Teddy sesekali terdengar memperingatkan anak-anak lain agar menuju meja makan. Sebagai yang paling tua di antara para bocah, ia merasa sangat bertanggung jawab untuk menjaga ke tujuh adik-adiknya itu untuk tidak berbuat ulah. Ginny menepuk dada Harry pelan meminta langsung ikut bergabung di meja makan sementara ia kembali ke dapur.

Salah satu anak yang berlari berhasil Harry tangkap dengan mudah. Lily tentu saja kalah dengan anak-anak lain lebih besar di atasnya. Kalaupun menang, ia hanya bisa mengalahkan Hugo. "Tadi aku belikan biskuit untuk Lily dan Hugo, loh." Harry menunjuk kantung belanjanya di atas meja dapur dekat Ginny muda.

"I—ya, nanti aku buatkan bubur untuk Lily dan Hugo." Jawab Ginny muda malu-malu.

Harry dewasa berlalu pergi sambil menggendong Lily. Ia senang tak harus meminta Ginny muda membuatkan bubur untuk Lily. Ginny muda lebih peka dan berinisiatif sendiri untuk membuatkan. Tak sengaja, mereka sempat berpapasan dengan Harry muda yang datang membawa cangkir kosong.

"Pikirkan kalau pilihanmu tahun ini salah, anak muda. Gadis itu jauh lebih hebat daripada dia yang ada di otakmu sekarang." Bisik Harry dewasa pada dirinya yang lebih muda. Mereka melirik bersamaan ke arah Ginny muda sibuk menyeduh air panas dengan beberapa keping biskuit. "Kalau kau tak percaya, lihat ini, apa yang sudah kau buat bersamanya. Cantik, kan?"

Hary dewasa menunjukkan Lily di gendongannya, mencium pipinya lantas kembali berlalu pergi.

"Dasar sinting." Gerutu Harry muda tak sengaja terdengar oleh Tonks.

"Lucunya mengolok diri sendiri. Haha.. Harry, Harry." Tonks tak jauh beda dengan sosok Harry dewasa. Mereka suka sekali menggoda Harry muda dengan cara mereka masing-masing.

Di depan perapian, Ron belum memutus kontak komunikasinya bersama George di masa depan. Meski sempat dihentikan beberapa jam karena George juga harus melakukan aktifitasnya sendiri, ketika melakukan penyambungan kembali, beruntung baik Ron maupun George tak mengalami kendala.

Harry ikut bergabung duduk di sisi Sirius agar lebih dekat dengan Ron.

"Sepertinya, kalian harus berlama-lama di sini dulu, Harry. Paling tidak sampai diri kalian semua yang muda-muda itu kembali ke Hogwarts."

Ungkapan Sirius padanya membuat Ron dewasa menggerutu. "Sepertinya begitu." Ron menoleh mencari dirinya yang lebih muda. "Kapan lagi kita liburan bersama diri kita sendiri saat muda. Apalagi masa-masa menegangkan seperti saat ini." Kata Ron dewasa mendapat umpatan pelan dari Ron muda.

"What?" Harry dewasa tak paham, "jadi kita tak pulang siang ini?"

Ron dewasa menggeleng. "George di sana kehabisan bubuknya. Sedangkan toko juga sudah kehabisan barang stok. George harus pergi membeli barang-barang toko di Irlandia dan beberapa bahan ramuan ke Scotlandia. Hanya di sana yang masih menjualnya, Harry. Kita tertahan di sini."

Delapan anak berteriak gembira jika mereka urung pulang. Teddy langsung menghambur ke pelukan Remus. Rose, Albus, dan Louis berdansa kemenangan. James dan Fred Jr berteriak sambil perang melempar keping-keping sereal di mangkuk mereka. Sementara Hugo hanya berteriak tak jelas bersama Ron dan Harry muda yang jelas tak begitu senang mendengar kabar tersebut.

"Begitulah, Harry. Itung-itung liburan." Tambah Sirius di sela menggoda Lily yang berada di pangkuan Harry. "Anak-anak juga senang mendengarnya. Mereka masih mau bermain di sini."

"Iya, tapi.. aku harus kerja—"

Tidak hanya Harry sebenarnya yang ingin protes, melainkan mereka yang telah dewasa seperti Ron, Hermione, dan Ginny. "Kami juga kerja, Harry. Tapi mau bagaimana lagi." Seru Hermione dewasa.

"Mumpung belum jadi Menteri Sihir. Aku bisa cuti sebelum sibuk nanti."

"Hah? Kau mau jadi Menteri Sihir?" tanya Hermione muda yang baru ikut bergabung di dapur.

"Baru memasukkan pengajuan. Sebentar lagi ada pergantian masa jabatan beberapa pimpinan departemen dan juga menteri. Sistemnya sudah diubah. Di masa depan, semua jabatan punya masa baktinya masing-masing yang lebih jelas. Seingatku Harry juga mengajukan untuk naik jabatan." Penuh optimisme Hermione dewasa bercerita.

Kedua Hermione saling berdialog tanpa canggung lagi. Tak sedikit mereka lebih banyak bertukar pertanyaan berdua tanpa melibatkan Molly maupun Ginny muda dan dewasa di sana.

"Harry jadi kepala Auror, kan? Lalu mengajukan naik jabatan apa lagi?" Molly jadi lebih penasaran.

"Kepala Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir, Mum. Tapi bukan Harry sendiri yang mengajukan. Tapi diajukan." Molly hanya bisa mengangguk paham sambil tersenyum bangga.

"Kau sudah termakan gosip, Hermione," protes Ginny dewasa kini menuang susu dalam teko lebih besar. Matanya menatap tajam sang kakak ipar.

"Aku juga membacanya dari Prophet, Ginny. Bukannya kau editornya?"

Ginny muda tersenyum senang melirik dirinya yang lebih dewasa, "kau bekerja di Daily Prophet? Editor?" tanya Ginny muda berturut-turut. Ia pernah memimpikan pekerjaan itu sejak kecil.

"Saat ini aku jadi editor rubrik olahraga. Aku tak ada ikut campurnya dengan ulah Rita itu."

Semua urusan dapur akhirnya selesai. Satu persatu makanan dikeluarkan. Bersama-sama dalam satu meja makan yang sama, mereka menyantap sarapan dengan sedikit dibumbui percakapan-percakapan ringan.

Lily menerima suapan bubur biskuit buatan Ginny muda yang disuapkan sang ayah. Sembari ikut melihat ayahnya makan, Lily terkadang menunjuk salah satu sosis di piring Harry berharap ikut ia makan.

"Kau belum punya gigi, peanut. Nanti, ya. Sekarang makananmu ini." Harry menyuapkan lagi bubur Lily dan memilih menghiraukan sarapan di piringnya.

Ginny dewasa bertugas membantu Albus makan sedangkan James sudah cukup pandai memegang sendoknya sendiri. Terkadang Ginny kasihan melihat suaminya harus mengalah makan untuk memilih menyuapi putri mereka. Harry sangat sayang dengan Lily. Bahkan terkesan memanjakan. Hanya ada permintaan dari dua perempuan yang sangat susah untuk mengatakan tidak. Harry menunjuk Ginny dan Lily. Dua perempuan paling berharga setelah ibu kandungnya sendiri, mendiang Lily Evans.

"Aku senang sekali melihat Harry dan Lily. Harry begitu sayang pada anak-anak kalian. Rumah tangga kalian baik-baik saja, kan?"

Molly tiba-tiba berbisik pelan di telinga kanan Ginny.

"Ya. Pertengara kecil untuk bumbu saja, Mum. Wajar, namanya juga pernikahan. Menyatukan dua kepala yang berbeda." Jawab Ginny tak terasa ikut tersenyum memikirkan pernikahannya dengan Harry.

Molly tertawa hampir tersedak. "Kalau bertengkar, siapa yang bertugas mengalah? Aku sudah punya tebakan hanya saja ingin mendengar dari mulutmu sendiri, Gin."

"Haha, bisa saja kau, Mum." Ginny memalingkan perhatiannya sejenak ke Albus untuk meminumkan air putih, "seperti kau dan Dad. Harry jadi suaminya sofa di ruang tamu tiap malam saat kami bertengkar. Kadang aku juga merasa keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi, aku bisa sebal juga dengan ulahnya."

Berkaca dengan pernikahannya dengan Arthur, Molly berharap Ginny dapat sekuat hubungannya dengan Arthur. "Yang penting kau tetap jaga komunikasi. Itu yang penting dari sebuah hubungan. Jika ada masalah bisa dibicarakan bersama. Janga dipendam sendiri. OK."

Kata-kata Molly dengan cepat menyadarkan Ginny tentang sesuatu. Hari ini Harry terlihat sedang menyimpan masalah selepas kepulangannya berbelanja. Ginny tahu jika Harry memiliki masalah dari gestur dan raut wajahnya. Ginny hapal perubahan itu. Sebagai istri, Ginny patut khawatir jika benar masalah sedang dihadapi suaminya sendiri.

Masih dengan suasana sarapan, Ron dewasa memberi inisiatif untuk membuatkan ijin bagi Harry, Hermione, dan Ginny yang memang bekerja di bawah sebuah lembaga besar. Mereka tetap harus melakukan kewajiban sebagai pegawai yang baik dengan cara membuat ijin yang seharusnya. Ron kembali mengubungi George untuk membantu membuatkan ijin sesuai permintaan dari Harry, Hermione, dan juga Ginny.

"Berhubung aku tak butuh pengajuan cuti karena aku bosnya, jadi aku persilakan bagi kalian berbicara dengan George untuk mengurus pekerjaan kalian masing-masing, oh, wahai para pegawai."

"Sialan kau, Ron." Maki Ginny mengambil alih lebih dulu di depan perapian.

Suara George dari masa depan keluar mengucapkan salam. "Bagaimana, Gin. Aku harus bagaimana?" tanya George.

"Ok, jadi begini. Urusan pengambilan cutiku, aku minta tolong kau menghubungi Bianca Hudson yang—"

"Ah, perempuan pirang yang dulu sempat membuatmu cemburu setengah mati gara-gara Harry mengantarnya ke toko Muggle. Sampai Harry—"

"Ingat, George. Aku sudah lama selesai melahirkan, jadi aku sudah bisa mengendalikan Hex-ku lagi. So, jangan pernah main-main denganku."

Tawa beberapa orang yang mendengar percakapan Ginny dan George pecah. Tak jarang mereka melempar pandangan tak percaya pada Harry dewasa, termasuk Harry muda ikut tak tahan untuk tidak tertawa.

"Aku yakin itu salah satu alasan Ginny mengusirmu dari kamar sampai kau tidur di sofa ruang tamu, ya?" bisik Molly pada Harry.

"Da-dari mana Mum tahu?" balas Harry hanya mendapat senyuman dari Molly.

Selesai dengan penjelasan Ginny, kini giliran Hermione yang dengan singkat dan jelas meminta George untuk mengirim surat pengajuan cuti yang sudah pernah dipersiapkan Hermione di laci meja kerjanya. "Buka di map paling atas berwarna ungu berlogo Kementerian. Tinggal tulis tanggal dan lama aku cuti di kolom yang sudah aku sediakan di kertas itu. Jangan lupa sertakan nama Angie jika ia yang benar akan mengurus ke Kementerian. Eh—ambil dua kalau begitu, satu untuk Harry. Tinggal tulis sama hanya ganti nama Harry dan kirim ke kantornya."

Hermione menyerahkan tambahannya pada Harry untuk berbicara sendiri pada George.

"Tambahan, George, tolong tulis di catatan suratnya untuk memberikan Auror Robert Watson wewenang memimpin rapat mengantikanku. Kau mengerti?" tanya Harry memperjelas.

"Yeah, sudah jelas, Mr. Potter. Sebentar lagi akan aku dan Angie urus. Sekali lagi aku mohon maaf. Secepatnya akan aku usahakan kepulangan kalian. Jadi puas-puaskan liburan di sana, ya!"

Semuanya akhirnya jelas dan dengan berakhirnya koneksi dengan George, mereka dari masa depan benar-benar akan menghabiskan kurang lebih delapan belas hari di masa lalu. Kalaupun keberuntungan benar-benar membantu mereka, bisa saja George akan membawa mereka pulang lebih cepat dari perkiraan.

"Kita benar-benar liburan, sayang." Ron dewasa memeluk Hermione muda tak sadar. Dengan cepat istrinya menarik tangan Ron kasar. "Sorry, kau masih cantik, sih, seperti dulu." Ron memasang mulut sok manis. Hermione muda memerah menahan malu.

"Terima kasih pujianmu, Ron. Hanya saja sekarang aku punya satu ketakutan."

Hermine mengambil posisi di sofa panjang duduk di sisi Ron. Begitu juga Harry yang mempersilakan Ginny untuk duduk terlebih dulu lantas dirinya dan Lily mengambil posisi untuk membicarakan rencanan mereka tinggal.

"Ada apa, Hermione? Bukankah George di sana sudah berjanji akan mengurus ijinmu juga tadi?" tanya Remus.

"Aku percaya saja. Tapi aku memikirkan tentang identitas kami. Aku, Ron, Harry, Ginny, dan anak-anak. Tidak mungkin aku, Ron, Harry dan Ginny ada dua versi di sini. Baik kalau memang kita hanya diam di dalam sini. Kalau saja ada masalah dan kita harus keluar seperti Harry tadi, tidak mungkin aku mengaku Hermione sedangkan di sini juga ada Hermione yang lain."

Semua orang terdiam mencerna pernyataan Hermione dewasa. Dengan cara yang sam Hermione muda ikut bersuara mengemukakan pendapatnya, "kalian harus membuat identitas baru. Paling tidak nama depan." Sambung Hermione muda.

"Aku Rupert. Panggil aku Rupert—"

Semangat menggebu Ron dewasa diterima beberapa anak yang memujinya jenius. "Nama yang keren Uncle!" teriak Fred Jr mendapat persetujuan James dan siulan Louis.

"Em.. kalau kau Emma saja, Mione. Bagaimana? Bukankah dulu Rosie juga mau kita beri nama Emma? Emma saja, ya! Boleh, ya!"

Tidak bisa menolak, Hermione mengangguk. Dulu, Emma adalah usulan pertama Hermione untuk menamai putri mereka. Sepakat dengan nama Emma dan Rupert untuk Hermione dan Ron, giliran Harry dan Ginny yang siap memilih nama.

"Bagaimana kalau nama Bonnie.. untukmu, Gin? Nama yang kuat dan cantik." Usul Harry sambil mengecup dahi Lily yang mulai tertidur di atas dadanya.

Paduan suara setuju menggema dari masing-masing mulut. Semua orang setuju dengan pilihan Harry begitu juga Ginny yang mengangguk sepakat menerima pilihan nama suaminya. "Keren, lalu tinggal kau, Harry. Dan.. kini giliranku untuk memilihkan nama untukmu."

"Jangan beri nama Harry dengan nama Peeves, Gin." Seru Fred.

"Atau Dementor." Sambung George tak kalah girang.

"Hey," panggil Harry tak mau kalah, "tega sekali kalian memilihkan nama dua sosok paling menyebalkan di dunia sihir untukku." Protes Harry.

Ginny melempar keping sereal anak-anak yang jatuh di bawah lantai ke arah kepala si kembar. Dua kali lempar kilat ke masing-masing kepala dan semuanya tepat sasaran. Fred dan George mengerang kesakitan pada jidat mereka. Meski kecil, sereal itu cukup keras jika dilempar begitu kencang dan tepat sasaran.

"Kalau tidak salah, lemparan Ginny tadi sempat dijuluki lemparan kilat oleh majalah Which Broomstick saat dia mencetak skor paling tinggi di sebuah pertandingan di Kanada, kan?" Hermione bergurau.

"Kanada?" Arthur memandang putrinya yang telah dewasa memohon mendapat penjelasan. "Kau bertanding Quidditch?"

"Chaser terbaik yang pernah dimiliki oleh Holyhead Harpies bahkan dunia sihir Inggris."

Kebanggaan untuk Ginny meledak begitu saja. Ginny akhirnya terpaksa menceritakan singkat bagaimana ia bergabung dalam tim sampai keputusannya mengundurkan diri setelah melahirkan James dulu.

Sampai pada suatu kesempatan, Teddy akhirnya bertanya, "kenapa harus ganti nama? Tak ada orang juga yang mengenal kalian di dunia Muggle sekitar Grimmauld Place, kan?"

"Ah, benar juga. Asal kalian tak terlalu mencolok seperti kalian yang masih remaja. Tak ada yang bisa mengenali kalian, bukan?" Remus sepakat dengan pernyataan putranya.

"Sayangnya," suara Harry dewasa berat, sesuatu yang sesak ia rasakan begitu menyiksa di tenggorokannya, "ada yang mengenaliku di sini. Sebagai Harry Potter.. dari masa depan."

Wajah mereka yang mendengar Harry tegang seketika. Salah satunya adalah Ginny. "Ini yang membuatmu aneh hari ini? Seseorang yang bertemu denganmu itu tahu siapa kau?" Ginny memegang tangan Harry yang tak mengusap kepala Lily.

"Bahkan menurutnya, ayahnya sangat mengenalku." Tambah Harry.

"Ayahnya," Sirius ikut angkat bicara, "aneh sekali seseorang bisa mengenal Harry datang dari masa depan. Bahkan ayahnya? Siapa dia?"

"Hanya seorang anak kecil, Sirius. Dia bahkan begitu senang bertemu denganku. Aku melihat raut kebanggaan saat ia memanggilku dan bercerita bahwa ayahnya akan bangga padanya karena berhasil bertemu denganku."

Sejenak semua orang hening. Merasakan jika akan terjadi masalah lebih besar sebentar lagi. "Kelihatannya itu seperti pertanda tidak baik, Uncle?" Teddy ikut merasa tak tenang. Sama halnya dengan semua orang yang mendengarnya.

"Kita perlu waspada pada anak itu. Tapi.. kalau boleh tahu, bagaimana ciri-cirinya? Supaya kita bisa berhati-hati, Harry." Tanya Kingsley mendapat anggukan dari yang lain.

Dengan tarikan napas berat, Harry menyebut ciri-ciri anak yang terakhir bertemu dengannya di minimarket pagi ini. "Perempuan, kira-kira dua atau tiga tahun lebih tua dari Teddy. Rambutnya.. eh, aku tak jelas seberapa. Tadi diikat cukup tinggi dan ujung rambutnya kira-kira jatuh di pundak. Ada kombinasi warna silver dan biru di rambutnya. Bibir dan hidungnya kecil—"

"Ada yang lebih spesifik lagi, Harry? Kau paham Auror bekerja seperti apa jika mengamati seseorang, kan. Mungkin yang menjadi ciri khas yang menonjol saat kau lihat dia?"

Harry sejenak mengingat sesuatu di diri sosok gadis cilik itu. Ketika anak itu berbalik lebih dulu meninggalkannya di dalam minimarket. Saat ia hanya bisa memandang dari sebatas punggungnya. "Punggung—" seru Harry mengingat sesuatu.

"Punggung?" Ginny ikut memancing suaminya agar mengingat lebih jelas.

"Ada seperti tato—"

"Tato? Apa itu?" tanya Tonks.

Harry menunjuk gambar-gambar yang tercetak di beberapa bagian tubuh Sirius. "Seperti gambar di tubuh seseorang. Dan yang aku lihat hanya kecil. Seperti sesuatu yang bersayap." Harry menggerakkan tangannya di belakang leher sedikit ke sisi pundak ke bawah.

"Ia memiliki tanda itu di bagian leher bawahnya."

Setidaknya, dengan tanda itu mereka perlu waspada. Seandainya memang anak yang dimaksud Harry benar-benar berbahaya. Itulah yang akhirnya ditakutkan oleh Harry, meski ia tak secara langsung mengungkapkannya di depan banyak orang.

TBC


#

Yeahhh.. benarkah tebakan kalian? Tapi bener-bener belum jelas, ya! Jelasnya, tunggu chapter mendatang tapi butuh sabar! Maaf kalau masih ada typo. Anne tunggu reviewnya dan sekali lagi Anne minta doanya untuk Anne lomba nanti. Sampai jumpa di chapter mendatang. Walaupun hiatus di ffn, Anne mungkin bisa dihubungi via medsos Anne, kok, bagi yang kangen, hehehe! :)

Sampai jumpa!

Thanks,

Anne xoxo