Hi, everyone!

Anne kembali! Pas tanggal 31 Oktober (halloween dan momen meninggalnya James - Lily Potter) Anne kebali. Maaf banget lama menghilang. Yang bertanya-tanya Anne kenapa, Anne di mana, Anne sama siapa (?) sekarang Anne sudah muncul lagi dan dengan chapter lanjutan tentu saja. Anne minggu-minggu ini sibuk, teman-teman. Anne ikut lomba PEKSIMINAS di Kendari (walaupun belum beruntung menang) jadi Anne diminta berhenti dulu untuk nulis fanfic. Bahkan sebenarnya.. ini Anne juga curi-curi nulis lagi karena memang Anne mau ada ikut even lagi. Dan diharuskan fokus buat nulis yang akan dilombakan nanti. Hem.. Anne mohon maaf banget.

Mungkin selanjutnya Anne juga akan susah updatenya. Anne minta kalian terus bersabar, ya. Anne janji akan terus dan selesaikan cerita ini. Anne akan usahakan cari-cari waktu untuk nulis dan post. Walaupun Anne jarang update, setidaknya sosmed Anne masih selalu update. Kalian yang kangen ANne bisa kok hubungi Anne di IG atau Twitter, Line, dll. Anne akan senang hati balas (kalau ada waktu).

Terima kasih banget yang sudah setia menunggu, kepoin akun Anne buat cari updatean. Kalian luar biasa, teman-teman. Maaf nggak bisa balas pesan apapun yang kalian kirim. Anne sudah baca, kok, hanya saja blm ada kesempatan balas. Nanti deh Anne akan cari waktu untuk balas semuanya. Amin.

Em.. kalau udah nggak sabar, langsung saja, deh! :)

Happy reading!


"Huss, ada apa denganmu, sayang?" Harry berdiri sambl berayun pelan menenangkan isakan Lily di gendongannya. Lily ketakutan dengan badan gemetar.

Piama kebesaran Lily kusut. Ia hanya sempat tidur dua jam lalu kini berakhir memeluk sang ayah sambil merengek tak mau diturunkan. Ginny terpaksa membawa keluar Lily dari kamar untuk diantarkan ke area kamar Harry tidur. Tentu, mereka harus tidur berkelompok, terpisah antara kamar laki-laki dan perempuan meski mereka sudah sah suami istri sekalipun. Hanya ada beberapa kamar yang bisa digunakan tidur sehingga tak mungkin untuk setiap pasangan tidur dalam satu kamar yang berbeda-beda.

Kembali pada masalah Lily, biasanya, tangisan malam si bungsu Potter semacam itu muncul karena mimpi buruk atau rindu pada ayahnya. Harry sering pulang malam membuat si kecil Lily susah sekali bertemu walapun sekadar memberi kecupan selamat tidur pada ayahnya sendiri. Dan kini Ginny berpikir jika sudah lama putrinya itu tak bertemu dengan ayahnya sampai-sampai menangis dan rewel seperti itu.

Ginny memperbaiki piama bagian belakang Lily sambil turut mengusap-usap punggung kecil putrinya. Berharap usaha kecilnya itu bisa membantu. "Aku takut membangunkan yang lain, Harry. Jadi aku bawa Lily kemari." Kata Ginny tepat di depan kamar tidur Harry bersama beberapa laki-laki yang lain. Untungnya, tak ada yang terganggu ketika pintu kamar laki-laki diketuk oleh Ginny.

"Kau kembalilah tidur, Gin. Tak apa. Biar aku yang jaga Lily. Ini masih jam dua. Jangan sampai yang lain panik kalau tahu kau tak ada di kamar." Pesan Harry.

Ginny sendiri sebenarnya masih mengantuk. Ia sangat bersyukur ketika dengan sangat pengertian Harry mempersilakannya untuk kembali dan mengambil tanggung jawab penuh untuk mengurus Lily di tengah malam ini. Ginny memberikan kecupan singkat di bibir suaminya tanda terima kasih sebelum berbalik kembali ke kamar.

Tinggallah kini, Harry dan Lily berdua.

Malam ini lorong-lorong gelap. Bermodal cahaya dari ujung tongkatnya, Harry mengajak Lily berjalan-jalan mengelilingi Grimmauld Place dari dalam. Beberapa kali Harry berhenti di depan jendela. Bergumam pelan mengajak Lily berbicara dengan antusias pada suasana malam. Sepanjang pengamatannya, perawatan apa yang telah ia lakukan pada Grimmauld Place di masa depan sudah lebih dari cukup. Beberapa sudut yang rusak di masa depan telah Harry perbaiki menjadi lebih baik. Kesan mencekam perlahan terganti dengan suasana hangat berkat beberapa tatanan dan dekorasi mengalami perubahan. Sentuhan kreatiftas Ginny ikut andil saat menambah atau menganti perabotan yang sudah usang. Meski belum sepenuhnya selesai, Harry dibantu Ginny dan teman-temannya akan terus berusaha menjaga dan merawat Grimmauld Place untuk dapat dikenang dan diperlihatkan pada generasi-generasi selanjutnya.

Tak terasa Lily sudah mulai tenang. Kepalanya perlahan bersandar nyaman di dada Harry meski suara isakannya masih samar-samar terdengar. "Kau kenapa, sayang. Tak ada apa-apa. Ada Daddy di sini, ya. Kau takut? No?" bisik Harry menyemangati putrinya agar tak takut dengan keadaan Grimmauld Place.

"Lily Luna Potter anak yang pemberani. Kalau ada yang menjahatimu, pukul saja pantatnya seperti kau tendang pantat James—"

"Astaga, kau mengajarkan itu pada putrimu?"

Sirius muncul dengan tongkat teracung bercahaya. Hampir saja Harry siap melempar mantera serangan jika ia tak memperhatikan jika Siriuslah yang muncul di hadapannya dan Lily. "Sirius! Aku kira kau—"

"Wow! Tenang Harry, ini aku. Sigap sekali kau seperti sedang punya misi menangkap buronan—ah, ya ya.. lupakan."

Sirius diam sejenak lupa jika dirinya sendiri juga seorang buronan. "Sudah biasa, Siri." Jawab Harry sambil kembali bergerak memantul di tempat. Lily merengek lagi karena terkejut aksi siap serang Harry.

"Kau sendiri, hobi sekali mengejutkan orang. Aku sedang berusaha membuat Lily tidur lagi, Siri. Dan sekarang aku harus mengulangnya dari awal."

Sirius terbahak. Air di dalam gelas yang ia bawa tumpah sedikit mengikuti guncangan tubuhnya akibat tertawa. Tanpa mempedulikan tawa puas Sirius, Harry tetap melanjutkan menenangkan Lily. "Ssshh, sorry, Lily. Daddy juga terkejut. Salahkan kakek Sirius yang datang mengejutkan kita. Tidur lagi, ya. Daddy akan menemanimu." Bisik Harry.

"Merlin, kenapa harus aku, Harry. Aku hanya mengambil minum, kebetulan saja kita berpapasan di dekat dapur."

Rambut Sirius luar biasa acak-acakan. Lily merem-melek memperhatikan rupa mengerikan Sirius. Ia mengintip di balik telapak tangan ayahnya yang kini mengusap-usap pelan dahinya. Lily suka jika dahinya diusap-usap Harry. Sudah cukup merasa aman, Lily berniat kembali tidur.

Harry mengajak Lily untuk duduk di atas sofa panjang. Lily masih tetap nyaman di atas dada Harry sampai ia benar-benar terlelap. Diam-diam Sirius memperhatikan Harry yang terdengar bersenandung sambil ikut setengah berbaring menjaga Lily tetap nyaman tidur di atas badannya. Sungguh pemandangan yang manis.

"Kau memang mirip James, Harry."

Mata menyipit Harry kembali terbuka dan langit-langit menjadi pandangan pertamanya. Sirius kembali bersuara. "Aku ingat saat ia meletakanmu di atas dadanya seperti kau dan Lily sekarang. Tapi bedanya, bukannya kau yang tidur tapi ayahmu yang tidur." Ceritanya sambil kembali terbahak.

"Benarkah? Yeah setidaknya aku lebih sering mirip Dad. Ginny sering mendapatiku ikut tertidur kalau sedang menemani anak-anak tidur."

"Kalau begitu kalian benar-benar mirip. James dan Lily pasti akan bangga melihat putranya telah tumbuh menjadi orang besar sepertimu."

Tidak ada dialog sampai beberapa saat. Harry sendiri membayangkan hal yang sama. Seandainya ayah dan ibunya masih ada.

Pelan-pelan Harry bangkit lagi sambil dibantu Sirius. Kedua tangan Harry menumpu bagian belakang Lily agar tak terjungkal ke belakang. Beruntung saja Lily tak ikut terbangun. Harry menghembuskan napas lega. Ia bisa sedikit menyamankan duduknya tanpa membangunkan Lily. "Akhirnya tidur juga." Ujarnya lega.

"Akhirnya. Mungkin dia memang rindu padamu, Harry. Dia langsung tenang saat berbaring di atas dadamu." Sirius kagum sambil terus memperhatikan wajah tenang Lily.

"Ya, seperti ini kalau sudah rewel dan maunya aku temani." Harry menghirup pelan aroma rambut merah Lily sambil berbisik, "aku kadang bisa merasa aneh sendiri kalau Lily ada di atas dadaku seperti ini, Sirius. Ada rasa untuk.. terus menjaganya. Aku tak mau orang lain melukainya."

Sirius ikut menyentuh kepala Lily, "itulah insting orangtua. Lily beruntung memiliki ayah sepertimu. Dia sangat cantik, Harry. Mirip Ginny sekaligus mirip kau."

"Aku sendiri dulu tak pernah menyangka akan memiliki Lily. Seorang anak perempuan. Aku pun beruntung memilikinya."

Sirius terhenyak sendiri. Badannya tegak perlahan meregangkan punggungnya yang terasa kaku. "Kau aneh sekali. Kenapa tak menyangka?" tanya Sirius sesaat setelah Lily sedikit menggeliat.

"Dulu saat Ginny hamil ketigakalinya, aku kira Lily ini laki-laki. Bahkan kamar bayinya aku persiapkan dengan warna biru seperti kamar Al dulu."

"Laki-laki? Kau gila, Harry!"

Berganti Harry yang kini tertawa. "Kami sengaja tak mencari tahu sampai akhirnya.. bocah kecil ini lahir dan harus dibalut dengan kain berwarna merah jambu. Seorang Healer menyerahkannya padaku dan mengatakan, 'selamat, Mr. Potter. Putri anda cantik.' Dadaku seperti meletup-letup, Sirius. Sangat berbeda ketika setelah mendapat dua anak tampan lalu punya yang cantik. Emosinya berbeda."

Kepala Sirius mengangguk-angguk setuju. Meski ia sendiri tak memiliki anak, Sirius bisa merasakan kebahagiaan itu dari raut wajah Harry. "Yeah, dia memang cantik sekali, Harry. Kau sangat beruntung. Tapi.. apa kau tak berniat menambah lagi setelah Lily?" tanya Sirius dengan memasang wajah aneh. Sebuah seringai manja.

"Em.. urusan anak bukan hanya aku saja, kan? Tinggal Ginny." Jawab Harry sambil bersemu merah.

"Mumpung masih muda. Aku rasa Ginny tak keberatan mengikuti jejak Molly."

"Oh, itu pernah kami bahas, Sirius, dan Ginny mengatakan kalau Weasley sudah lebih dari cukup menampung anak, menantu, dan para cucu."

Mereka kembali saling berbagi cerita seputar masa depan tentang keturunan yang lahir dari beberapa orang yang kini masih berusia sangat muda. Tidak begitu detail Harry membahas tentang siapa saja yang akan punya anak, berapa orang, siapa saja namanya. Mereka lebih banyak membahas tentang anak-anak Harry dari James, Albus, dan Lily sebagai cucu terakhir Weasley untuk saat ini.

"Masih banyak kemungkinan ada yang akan menambah momongan nantinya dan Lily tak lagi jadi cucu termuda Weasley." Harry berusaha berpikir terbuka.

"Ya, salah satunya kau dan Ginny." Sirius menyenggol sengaja pundak Harry.

Entah mengapa, perhatian Harry teralihkan dengan sempurna oleh sesuatu yang berkelebatan di balik jendela. Ia berhenti tertawa saat benda kecil dari kejauhan tertangkap matanya melesat cepat menuju ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Harry merundukkan badannya sembari memperingatkan Sirius.

"Merunduk, Sirius!"

TARR! TARR!

Kaca jendela jadi benda pertama yang hancur ditambah dengan sebuah guci di belakang sofa tempat Harry, Sirius dan juga Lily duduk. Cepat-cepat Sirius berdiri dan melempar sebuah mantera perlawanan ke arah jendela. Nyatanya, kosong. Tak ada apapun di balik jendela. Lily tentu saja terbangun dan kemungkinan besar semua orang yang tertidur juga turut bangun. Suara pecahnya kaca dan guci besar di ruangan itu cukup kencang. Sama dengan Sirius, Harry turut mengacungkan tongkatnya waspada.

Masih mengendong Lily, Harry memilih mendekati sisa pecahan guci.

"Harry, apa yang melintas tadi?" Sirius panik.

Harry masih belum berani menjawab. Tidak ada yang bisa ditemukan di serpihan guci yang hancur. Sampai akhirnya mata Harry menangkap satu benda yang menggelinding tak jauh dia bawah sofa. Benda itu kecil, mirip mangkuk dari rangkaian ranting kering. Jika dilihat sekilas, mirip sekali dengan sarang burung yang biasa ada di atas pohon.

"Sarang burung?" Sirius melihatnya tak percaya. "Benda ini yang tadi menghantam kaca?"

Suara gaduh dari penjuru ruangan berkumpul di tempat Sirius, Harry, dan Lily. Ginny dewasa berlari lebih dulu untuk mengambil Lily dari gendongan suaminya. "Coba periksa Lily apa ada yang terluka, Gin. Pecahan gucinya sempat berhamburan ke badanku."

Pertanyaan-pertanyaan bermunculan akibat kegaduhan itu. Sirius meminta semua untuk tenang. Suasana makin ribut ketika tak hanya para orang dewasa, para anak juga turut bangun dan berkumpul bersama.

"Ada apa sebenarnya ini? Kenapa sampai kaca dan.. Bloody hell hancur semua?" tanya Ron muda.

"Benda seperti sarang burung ini seperti ada yang sengaja melemparkannya dari luar. Untung Harry tadi sempat melihatnya. Cepat sekali!" papar Sirius. Tak jauh di belakangnya, Harry dewasa memeriksa suasana di sekitar jendela dibantu Remus, Ron dewasa, dan Arthur. Sedangkan anak-anak ditahan untuk mendekat oleh Molly dan Hermione dewasa.

Arthur berbisik pelan pada Harry dan Remus, "ruangan ini ada di lantai tiga. Begitu juga Grimmauld Place ini.. dilindungi oleh sihir. Tak sembarangan Muggle bisa melihat—"

"Kecuali kalau dia penyihir." Kata Ron dewasa.

"Tapi siapa? Ada yang ingin meneror kita?" Remus berpendapat. "Ada yang tahu Sirius di sini lalu menyerangnya?"

Harry menelan ludahnya sakit. Entah bagaimana ia seperti diingatkan kalau tidak hanya masalah Sirius. Kalaupun teror lain yang masuk akal adalah untuk dirinya. Teror itu bisa jadi lanjutan tentang kedatangan sosok anak kecil itu.

"Apa benar?" lirih Harry.

"Apa, Harry?" tanya Arthur, "kau juga berpikir hal sama dengan Remus kalau ada yang meneror Sirius?"

Gugup Harry cepat membalas, "eh—begitulah, Dad. Mungkin saja ada yang tahu kalau.. begini saja, lebih baik pengamanan di Grimmauld Place diperkuat. Bisa jadi besok teror semakin banyak. Namun sebelum itu semua terjadi, kita bisa memulai penjagaan. Banyak anak-anak di sini."

"Benar. Aku tak mau anak-anak terkena dampak ini. Aku tak mau karena aku semua menjadi korban, apalagi anak-anak."

Nada suara Sirius merendah. Ia merasa bersalah dengan teror-teror yang terjadi. Demi keselamatan, semua anak-anak diboyong kembali oleh mereka yang lebih dewasa untuk masuk dan kembali beristirahat. Sedangkan beberapa yang tak ingin kembali memilih ikut bergabung membuat pengamanan di sekeliling Grimmauld Place.

"Harry—"

Harry tersentak hebat ketika suara Ginny terdengar memanggilnya. Saat ia berbalik, yang dilihatnya memang Ginny. Tetapi Ginny muda. "Aku kira kau Ginny—"

"Aku memang Ginny. Tapi.. maksudku Ginny yang istrimu sudah ke kamar. Dia bilang Lily baik-baik saja, hanya sedikit syok. Aku diminta menyampaikannya padamu." Kata Ginny muda. Ia hanya sekilas ditengok oleh Harry dewasa. Harry terlalu sibuk memasang mantera perlindungan sampai tak memperhatikan Ginny muda di sampingnya.

"Em.. kau tak apa?"

"Apa? Ahh.. aku baik-baik saja, Gin. Kau kembalilah. Aku masih harus membantu memasang mantera di sini." Pinta Harry dewasa, masih tak ingin melihat Ginny muda. "Bantu istriku menjaga Lily. Aku masih tak tenang."

Ginny muda mengangguk lantas meninggalkan Harry dewasa pelan-pelan. Kini perasaannya berubah tak menentu. Ginny muda sering memperhatikan ekspresi wajah Harry. Meski Harry yang berada di depannya kini jauh lebih dewasa, ekspresi yang kini terlihat di wajah Harry dewasa sama dengan ekspresi yang sering ditunjukkan Harry muda ketika menyimpan masalah besar atau rahasia.

"Ada apa denganmu, Harry?" Batin Ginny muda, "caramu menyimpan masalah ternyata tak berubah."

TBC


#

Wowwww akan banyak masalah di chapter-chapter mendatang, nih. Biar makin penasaran, Anne akan siapkan chapter selanjutnya! Maaf kalau masih banyak typo! Anne tunggu reviewnya! Sampai jumpa!

Thanks,
Anne xoxo