Hi, everyone!
Anne datang lagi, nih.. Outside masih punya napas dan masih terus bernapas. Ada-lah saatnya nanti usianya berakhir tapi nanti bukan sekarang. Karena cerita ini belum selesai. Yups, ini chapter lanjutan dari chapter yang lalu. Anne nggak bisa jelasin apapun karena memang harus kalian aja yang baca. Sebelumnya, Anne balas review dulu.. :)
ninismsafitri: hi, kakak! Aku balik lagi.. doain semoga updatenya cepet :)
safirar46: konflik akan terus datang dan semakin ribet.. setiap chapter akan semakin jelas. Jadi ikutin terus aja ceritanya.. :)
AMAZING: hehehe tapi cerita ini nggak horor kok, apa gara-gara waktu itu pas Halloween jadi kesannya horor banget. Tapi jangan takut, ya. Tetep baca selanjutnya kalau penasaran.. :)
diandra: yups, aku ikut peksiminas di Kendari pertengahan bulan lalu. Seminggu di sana serasa jadi orang Kendari, hehehe ya aku sempat datang ke expo uho tapi gk jalan-jalan lama. Aku cuma lewat doang waktu mau pembukaan. Kesasar lewat sana. Hehehe.. emang kenapa? Kamu di sana juga ya? :)
Mrs. X: yuhuuu kangen aku nggak? *lupakan* pokoknya ikuti terus kisah Outside sampai kelar ya! :)
Afadh: daddy gaulnya kan sama Lily, suka main rahasia-rahasiaan.. *di crucio daddy* jadi cowok yang berani kayak daddy. Yang maco jangan kagetan hehehe :)
Oke mungkin Anne langsungkan saja.
Happy reading!
Sampai menjelang pagi, pemasangan mantera belum kunjung usai. Pasalnya Sirius dan Harry sepakat menambahkan proteksi mantera lebih dari sekadara wilayah bangunan saja. Tetapi secara menyeleruh mulai dari sudut bangunan dan setiap kamar di Grimmauld Place.
"Aku akan memasang di lantai paling atas, Harry. Tinggal kau mau memasang mantera pada bagian mana." Sirius bersiap naik. Tangga lantai empat hanya berjarak lima langkah dari hadapannya.
"Em.. aku akan menambah di kamar tidur dan tempat bermain anak-anak. Pergilah. Aku akan mulai di kamar laki-laki."
Pembagian tugas selesai. Kira-kira dua jam lagi matahari siap muncul di langit London. Pada intinya tugas proteksi Harry dan Sirius tinggal beberapa saja selepas Arthur dan Remus turun tangan membantu. Target mereka harus selesai sebelum pagi dan banyak Muggle melihat mereka. Niat awal Harry tak lebih dari merapal mantera dan berniat cepat tidur kembali. Ia benar-benar mengantuk sejak beberapa jam lalu harus menjaga Lily. Tapi, mau bagaimana lagi, semua itu tanggung jawabnya.
Setibanya Harry di depan pintu kamar, tepat saat kedua tangannya terangkat sosok kecil berambut biru keluar sambil matanya menyipit. "Uncle—" panggilnya. Teddy mengucek matanya yang basah bekas air mata.
"Hi, Teddy Bear! Kau tak tidur? Bukankah Daddymu sudah kembali?"
Teddy lemas menganggukan kepala. Matanya curi-curi pandang menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka untuk memeriksa kembali, bahwa benar Remus ada di dalam.. sedang tidur.
"Daddy langsung tidur, dan membiarkanku bangun sendirian."
Entah mengapa Teddy langsung memeluk tubuh Harry dan menangis. Warna rambutnya seketika berubah menjadi abu-abu. Perubahan itu biasa Harry lihat pada Teddy, khususnya tiap anak laki-laki itu memiliki masalah yang membuatnya bersedih. Teddy tak sampai meraung, ia hanya terisak meski air matanya mengalir. Imbasnya, ujung piama Harry basah.
"Are you OK, buddy?"
"Kenapa.. kenapa bukan Uncle saja yang jadi Daddyku."
Tenggorokan Harry tercekat. Lepasnya pelukan Teddy pada Harry membuat pertanyaan besar muncul di kepalanya. "Kenapa bisa begini?" batin Harry.
Jika tidak salah ingat, Harry sering melihat Teddy begitu dekat dengan Remus. Beberapa kali ia sering melihat Teddy meminta gendong atau sekadar duduk bersama Remus selepas makan siang. Sampai malam, Harry lihat Teddy memilih tidur berdampingan dengan Remus dibandingkan dengan anak-anak lain. Tapi kini sungguh diluar dugaan. Teddy berharap Harry ayahnya, bukan Remus.
"Uncle—"
Panggilan Teddy membuyarkan lamunan Harry. Tanpa ia sadari, hampir beberapa saat ia menghiraukan anak baptisnya itu. "Begini, Ted," Harry sedikit membungkung membisikkan sesuatu, "kita bicara nanti, tapi Uncle mau memasang mantera pelindung dulu di kamar-kamar. Boleh? Kalau kau mau, kau bisa ikut Uncle." Tawar Harry yang akhirnya disetujui oleh Teddy.
Sembari Harry merapal mantera-mantera di setiap pintu kamar, Teddy hanya bisa berdiri di sisinya sambil menatap sang ayah baptis penuh kekaguman. Bahkan ia tak sengaja melihat sosok Remus Lupin, ayah kandungnya sendiri memilih tidur nyenyak di dalam kamar sedangkan Harry, pria yang telah merawatnya sejak bayi bersusah payah melanjutkan pemasangan proteksi hingga wajahnya tercetak raut kelelahan yang kentara.
Selesai di depan dapur, Harry mengajak Teddy untuk duduk di sofa aula dekat jendela. Harry benar-benar kelelahan. Semalaman ia tak tidur apalagi kini energinya terkuras untuk memasang mantera. Ia berharap semoga Teddy tak menambah bebannya detik itu juga.
"Uncle tak paham dengan kata-katamu tadi, Teddy." Harry berusaha untuk tidak terkesan menghakimi Teddy tentang pernyataannya tadi, Harry tak mau perasaan Teddy semakin kacau. "Bukankah bertemu dengan ayah kandung itu sungguh membahagiakan? Ada Mummymu juga, kan?" lanjut Harry.
"Aku.. aku.. aku tak nyaman dengan mereka." Teddy sempat menghela napas, "rasanya tak senyaman ketika aku bersamamu, Uncle Harry."
Teddy kembali meneteskan airmatanya. Harry mulai merasa bersalah dengan sikapnya selama ini pada Teddy. Merasa bersalah pada Remus dan Tonks. Bagaimana tidak, Teddy lebih senang berdekatan dengannya daripada orangtua kandungnya sendiri.
"Mereka seperti tak mengharapkanku, Uncle. Mereka payah, Daddy tidur saat kau kelelahan memasang mantera dengan Grandpa Siri, lalu—" Teddy ikut memanggil Sirius dengan sebutan anak-anak lain.
"Ted," Harry memeluk Teddy cepat sebelum semua keluh kesahnya diungkapkan semua. "Kenapa kau bicara seperti itu? Mereka orangtuamu. Mom dan Dad yang selama ini kau rindukan sudah ada di depan matamu, bahkan kau bisa memelukmu."
"Tapi—" Teddy terbatuk, "Daddyku—"
"Daddymu orang yang hebat. Dia profesorku ketika di Hogwarts. Menyelamatkan nyawaku berkali-kali, dan ia orang pertama yang mengajariku Potranus untuk melindungi diriku dan orang lain. Bukankah itu mengagumkan?"
Sejenak Teddy berhenti mendengar pernyataan Harry. Wajahnya memerah terkena sinar lampu yang menggantung di atas mereka. Sebenarnya Teddy pun bahagia akhirnya bertemu dengan ayah dan ibu kandungnya sendiri. Sama dengan Harry, Teddy bernasib sama sebagai yatim piatu. Hanya saja nasib Teddy jauh lebih baik dari masa kecil Harry. Teddy punya Harry yang menyayanginya, ia punya nenek dan keluar besar Weasley yang akan selalu ada untuknya. Teddy memiliki keluarga.
"Aku memperlakukanmu dengan baik karena itu memang tanggung jawabku, Teddy Lupin. Namun jauh dari lubuh hatiku yang terdalam, aku tak mau melihat sosok diriku lagi padamu. Anak yatim piatu yang tak pernah merasakan hangatnya keluarga. Tidak. Aku tak mau itu terulang lagi, Teddy. Cukup aku. Kau harus tahu rasanya memiliki ayah yang akan selalu melindungimu, ada untukmu."
"Karena memang itu yang aku inginkan, Uncle. Dan kau memberikannya untukku. Bukan Dad—"
"Karena ia telah meninggal."
Harry membungkam perlawanan Teddy. Itu semua benar. Jika ayahnya masih hidup, semua perlakuan baik Harry padanya pasti akan dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. "Teddy, Profesor Lupin adalah salah satu orang terhebat yang pernah aku kenal. Ia kuat menjadi dirinya sendiri. Walapun ia pernah bisa lemah dan jadi pria pengecut."
Teddy tersenyum. Tebakannya tepat.
"Dia pengecut karenamu, Ted."
Rasa kantuk Harry sirna sudah berganti emosi. Ini salah satu kebiasaan buruk Harry, mengatakan apapun yang sedang ia rasa dan terpikir begitu saja di kepala. Tak pandang ia berbicara dengan orang seusianya atau anak-anak seperti Teddy.
"Aku pernah memakinya karenamu." Harry tak tahan lagi. Semua kenangan beberapa puluh tahun lalu terulang kembali.
"Karenaku?"
Harry mengangguk pelan. Sudah saatnya ia berbicara serius pada sang putra baptis. "Saat semua masalah tentang Tom semakin pelik," Voldemort kurang menarik dibicarakan didepan anak-anak menurut Harry. Nama Tom jauh lebih bersahabat, "profesor Lupin memilih datang padaku untuk membantuku daripada melindungi istri dan putranya yang masih dalam kandungan. Tidak salah bukan jika aku memakinya sebagai pria pengecut?"
"Me?" Teddy mengira jika yang dimaksud Harry adalah dirinya. Dan memang benar dirinya.
"Kau tahu kenapa, Teddy, Daddymu takut dan merasa bersalah telah menikahi Mummymu sampai dia mengandungmu." Tangan Harry terulur menyentuh pundak Teddy lantas berkata, "ia takut tak menjadi ayah yang baik untukmu, ia takut kau juga sama sepertinya, seorang manusia serigala."
"Tapi nyatanya aku bukan. Aku hanya menuruni kemampuan Mum."
Teddy kembali menangis. Hatinya sakit ketika ia tahu ayah kandungnya sendiri sempat tak mengharapkannya. "Aku bukan anak berbahaya, Uncle." Lanjut Teddy.
"Iya, itulah mengapa aku menyebutnya pria pengecut, Teddy. Ia bisa berbuat sesuatu sebelum mengetahui semuanya. Lalu, kau tahu apa yang telah ia perbuat setelah itu?"
Teddy menggeleng, ia berharap Harry langsung saja menjelaskan padanya. "Ia ayah yang bertanggung jawab padamu, Teddy—"
"Bohong, bagaimana bisa sedangkan dia meninggal beberapa bulan setelah aku lahir. Nana Andy, kau, Auntie Ginny, keluarga besar Weasley.. kalian semua yang mengurusku."
"Karena Daddymu menitipkanmu pada kami!" Harry menarik napas dalam-dalam, ia sendiri mulai merasa sesak dan matanya memanas. "Malam-malam yang sangat berbahaya beberapa tahun lalu, ia datang menemuiku dengan raut wajah penuh kebahagiaan, hanya untuk menyampaikan berita kelahiranmu dengan penuh kebanggaan seorang ayah. Sesuatu yang tak pernah aku lihat sebelumnya dari seorang Remus Lupin."
"Dan dengan kepercayaan penuh, ia menunjukku secara langsung untuk menjadi ayah baptismu di saat usiaku belum genap dua puluh tahun. Dia berpikir sangat jauh untuk masa depanmu, Teddy. Ia percaya padaku bahwa aku bisa menggantikan perhatian yang sekiranya tak bisa ia berikan untukmu. Iya punya keyakinan memilih orang yang tepat untuk merawatmu."
Harry menangis. Sangat sulit bagi Harry untuk tetap kuat membicarakan kasih sayang orangtua pada anaknya. Ia merasa kecil dan terbuang ketika suatu kebahagiaan orang lain tak ia dapatkan dulu. "Jika ia tak menyayangimu, kau mungkin tak seperti ini, Teddy. Kau tak akan pernah mengenalku dan aku tak akan pernah bisa mengenalmu. Begitu juga kita saat ini, duduk berdua sebagai.. sebagai laki-laki yang harus menyayangi orangtua kita apa adanya."
Kini Harry berlutut di depan Teddy yang masih duduk di atas sofa. Harry meraih tangan Teddy, mengecupnya pelan memberikan kekuatan padanya. Teddy harus kuat, Harry mendidiknya untuk menjadi anak yang kuat. Namun hati lembut Teddy tak pernah bisa berubah. Hatinya mudah tersentuh dan itulah sifat Teddy.
"I'm sorry, Uncle!"
"Go! Temui Daddymu, manfaatkan waktu ini untuk mengenalnya. Ia hanya terkejut dan belum terbiasa berhubungan langsung dengan anak-anak apalagi anak yang ternyata darah dagingnya sendiri."
Sukses. Harry menghela napasnya lega. Teddy sudah kembali masuk ke kamar dengan senyuman mengembang di wajah. Selanjutnya, Harry percaya jika Teddy bisa mengerti dengan perasaannya sendiri.
"Benarkah kau menjadi ayah yang baik, Mr. Potter?"
Seorang anak perempuan berambut silver-blue berdiri penuh percaya diri di hadapan Harry. mantanya bulat sempurna dengan bibir sedikit pucat. Tingginya hanya sampai dada Harry ketika mereka berdiri saling berhadapan.
"Untuk anakmu sendiri?"
Harry tak menjawab sepatah kata pun. Suaranya tertahan.
"Sedangkan kau sendiri tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Yatim piatu yang malang. Mendapatkan mainan saja dulu kau harus mengemis. Tapi kini kau hebat, kau tak mengulang derita anak-anakmu seperti dirimu dulu."
Anak perempuan itu terus berbicara. Anehnya, Harry merasa jarak mereka perlahan menjauh. Ya, anak perempuan itu mundur beberapa langkah dan berhenti tepat di bawah cahaya lampu gantung di atasnya.
Ia tersenyum ke arah Harry lantas berkata, "adakah pertanyaan yang menganjal di kepalamu hingga saat ini tentang mereka, Mr. Potter?"
Lagi-lagi Harry tak berkutik.
"Pertanyaan tentang masa depan ayah dan anak."
"Ka—katakan!" Akhirnya, meski bersusah payah, Harry mampu mengeluarkan suaranya.
Anak perempuan itu tersenyum puas, sebelum berniat berbalik ia berkata, "tanyakan pada dirimu sendiri, apakah bisa suatu saat nanti mereka tumbuh sehebat yang kau inginkan? Dan haruskah mereka juga bernasib menjadi yatim untuk menjadi hebat sepertimu, Mr. Potter?"
"Harry! Harry bangun!"
Suara Ginny mengagetkan Harry di atas sofa panjang. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya dengan napas terengah kelelahan. Di depannya tak hanya Ginny, semua orang datang mengerubunginya khawatir.
"Tenang saja, Harry sudah biasa bermimpi seperti itu," kata Ron dewasa memberi penjelasan pada beberapa orang, "Ginny sudah tahu apa yang harus ia lakukan untuk suaminya sendiri. Sudahlah, aku sudah lapar. Ayo sarapan."
Berkat komando Ron dewasa, semua orang bergegas menjauh dan pergi menuju ruang makan. Harry mengamati Teddy yang sudah akrab kembali dengan Remus berjalan saling bergandengan. Tinggallah, Harry sendiri bersama Ginny yang tampak khawatir.
"Kau yakin tak apa, sayang?" tanya Ginny dewasa.
"Iya, aku—"
"Minumlah ini, Dad. Aku membawakanmu minum."
Albus datang membawa segelas air putih. Mata hijau cemerlangnya memancar kepolosan seorang anak. "Minum, Daddy. Kata Grandma Molly kau harus minum." Katanya lagi.
Harry tersenyum tak percaya. Mimpi itu mengusiknya lagi. Benarkah anak-anaknya tidak bisa sepertinya?
"Thank you, Albus." Harry menerima gelas minum dari putranya.
"Sama-sama, Daddy." Jawab Albus dengan senyuman.
Detik itu juga, Harry yakin anak-anaknya adalah anak-anak yang hebat.
TBC
#
Ahayyy kebiasan Daddy Harry... Mimpi dan bangun sampai nyusahin orang. Hehehe.. Tapi biasanya, mimpi Daddy itu berbahaya. Bukan hanya mimpi.. hayooo ada apa di chapter selanjutnya. Maaf kalau masih ada typo, ya. Sampai jumpa di chapter mendatang. Jangan lupa review!
Thanks,
Anne xoxo
