Hi, everyone!

Anne muncul lagi ditengah UTS yang rasanya mengguncang dunia! Wahahaha dosen-dosen pada garang semua, teman-teman. Tapi Anne usahain buat lanjut ini sejak malam minggu lalu dan baru selesai kemarin sambil nonton Harry Potter di Glo**l TV, pas tuh yang seri HP and the OP setting cerita ini. Jadi idenya ngalir sambil nonton filmnya (walaupun sebentar gara-gara remot TVnya kena rampas Mommy Anne). Tapi... sebelum lanjut, yang kemarin ngerasa review, lihat balasan Anne di bawah ini, ya!

Yuko: sip!

diandra: ihh nggak sempat ketemu, padahal aku sempat baca stand fak hukum itu. Yang aku inget itu hukum sama kedokteran. Cuma nengok doang. Mungkin pas ada kamu tapi kita nggak tahu :) Iya, seminggu di sana sampai niruin aksen bicaranya juga. Btw, kalau ngomong cepet banget ya temponya.. pertama di sana pas di rumah makan bingung diajak ngobrolnya, hehe. Kalau ada kesempatan moga aja bisa ketemu :)

ninismsafitri: hoho baca terus aja, kak, biar tambah penasaran :)

safirar46: hobinya Harry itu mahh ngimpi nyusahin orang. Wkwkwk *ditimpuk Harry* Em.. seru juga sih salah satu dari James, Albus, atau Lily bisa ngobrol sama ular. Kapan-kapan aja, ya, kalau cerita ini kayaknya nggak masuk. Mungkin lain kali aku buatkan :)

Altherae: bawa pulang si Teddy :)

AMAZING: Eciyee daddy dibangunin Mommy :) Aduhh sampai hapal tokoh-tokoh buatanku yang patut dibenci, wkwkwk, thanks ya :) *kalau ambil Teddy, bisa dipentung Remus* :)

dinda chan: Yuhuuu disimak terus, ya... biar tahu anak itu siapa! :)

Baiklah.. kira-kira sudah.. Anne langsungkan saja!

Happy reading!


Sampai dua hari kemudian, tidak ada yang bisa membuktikan Harry tentang kebenaran mimpinya. Begitu pula dengan pagi ini, mimpi aneh lain tak berkunjung di tiga perempat malamnya. Harry tidur nyenyak, ulah James menendang perutnya saat terlelap pun tak ia rasa. Seperti malamnya telah kembali dan kantuk tak mau pergi.

Pukul empat pagi ini, Harry keluar dari dalam kamar setelah mendapati Ron dewasa tak ada di ranjang sebelahnya. Hanya ada Louis, Ron muda, Harry muda tidur beradu punggung. Sementara yang lain masih lengkap. Remus mendengkur tenang bersama Teddy, dan si kembar Fred serta George tidur di ranjang berbeda mengapit Fred Jr di antara mereka.

Pelan-pelan, kaki jenjang James oleh Harry diturunkan dari atas perutnya. Sangat pelan menuju posisi awal. Sang adik di sisinya masih anteng. Memeluk guling besar hingga tertekan ke tepi tembok. Diusapnya dahi basah Albus dengan telapak tangan Harry. Rambutnya pun tak kalah basah. Beberapa kali tangan atau kakinya bergerak cepat dan sebentar. Seolah Albus sedang mengalami mimpi hanya saja tak sampai berteriak dan bangun tiba-tiba seperti dirinya. Sudah biasa bagi Albus tidur dalam keadaan seperti itu. Walaupun terkesan tak wajar.

"Yang penting sehat, ya, Nak. Daddy sayang padamu." Kecupan singkat ia berikan di dahi Albus. Harry suka membayangkan dirinya ketika kecil dari sosok putra keduanya.

Harry memutuskan untuk turun mengambil minum di dapur. Sekalian ia bisa mencari Ron yang menghilang begitu saja. Cepat-cepat, Harry meraih tongkat dan menyelipkannya di balik jaket. Meja dan kursi bekas kedua versi Ron saling beradu catur ia tepikan sebelum akhirnya berhasil keluar dari kamar. Tujuan utama Harry sekarang adalah dapur.

"Tenggorokanku kering. Semoga masih ada jus." Ujar Harry sambil melangkah santai ke lantai bawah menuju dapur.

Baru menuruni beberapa anak tangga, seseorang memanggil Harry pelan dari arah belakang. "Harry?" panggilnya. Ginny, bergegas mendekat ketika Harry menoleh ke arahnya.

"Eh, kau terbangun juga?" tanya Harry ikut membenarkan krah piama Ginny yang terbalik.

"Iya, Lily menangis. Jadinya aku susui dia dan sekarang.. aku kelaparan!" bisiknya sambil tertawa.

"Kebiasaan!" Harry mencubit kemas hidung Ginny.

Menampik kata-kata Harry, Ginny segera protes, "seandainya saja kau bisa menyusui, Mr. Potter, kau akan rasakan betapa laparnya kalau ASImu sudah disedot habis oleh bayimu."

Harry menarik pundak terjauh Ginny dan mengajaknya berjalan bersamaan. Sudah lama mereka tak sedekat itu selama terjebak di masa lalu. "Iya, iya.. tapi, bolehkan nanti kalau sudah kenyang aku yang menggantikan Lily—ehm.. Kapan lagi seperti ini." Goda Harry tak lupa mengecup bibir Ginny dua kali secara cepat.

"Jangan main-main, Harry!"

"Aku tak main-main. Bagaimana, sih, aku laki-laki sehat, sayang. Kapan lagi kita—astaga, kau pasti juga ingin, kan?" bibir Harry masuk ke sela leher Ginny. Mengecupnya dalam sampai memnyisakan lingkaran merah. Sebuah ruam merah menggelikan.

Ginny tak bisa menjawab. Ia takut antara bibir dan hatinya tak singkron. Tidak bisa bekerja sama dan menjelaskan kalau sebenarnya ia juga menginginkannya.

"Kau ini, ih.. nanti kalau sudah pulang ke rumah!" malu-malu, itu yang bisa diucapkan Ginny sebagai janji. Jalan mereka tinggal beberapa langkah menuju dapur tapi.. dengan cepat Harry terhenyak tepat di depan mulut dapur. Ginny sampai tak sadar menghantam punggung Harry begitu kencang.

"RON?" pekik Harry ragu dengan penglihatannya.

Namun, rupanya penglihatan bermasalah Harry tak mengalami salah daya fokus. Ginny mengintip kecil dari balik punggung suaminya lantas mendelik tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sama dengan apa yang juga dilihat Harry.

"Astaga, Hermione?" Ginny menelan ludahnya spontan.

"Ka-kalian?"

Ron, dan tentu Hermione, gugup memperbaiki diri. Hermione menurunkan badannya cepat-cepat dari atas meja dapur dan mengucapkan sumpah serapah tak jelas ke arah sang suami. Ron hanya mengangguk tak melihat Hermione sama sekali. Matanya berputar ke mana-mana.

"Kalian sedang apa? Kok, Hermione sampai—" tanya Ginny.

"Kami—" Ron menoleh cepat ke kanan dan kiri mencari alasan. Dengan beruntung, Hermione cepat menyela jika ia sedang ketakutan.

"Ada kecoa." Potongnya cepat. "Lalu aku ketakutan dan naik ke meja." Begitu singkat Hermione memberi alasan. Entah apa yang diperbuatnya, Hermione menyesal telah mengiyakan tawaran Ron untuk melakukan 'sesuatu' di dalam dapur.

Harry tak banyak bicara langsung masuk dan mencari gelas untuk minum. Tak ada jus di sana sehingga Harry pasrah mengisi gelasnya dengan air putih dari kran. "Aku kira kau ke toilet, Ron." Hati-hati Harry coba mencairkan suasana. Di belakangnya Ginny masih tak bisa berbuat apa-apa. Hanya berdiri diam dan melihat meja yang sebelumnya menjadi tempat duduk Hermione. Ekspresinya berubah lagi, menahan jijik.

"Em, aku ke kamar dulu, ya. Gin, Hugo tak bangun?" tanya Hermione. Ginny menggeleng.

"Kalau begitu aku juga kembali ke kamar, mate." Ron menepuk pundak Harry sebagai salam perpisahan, "bye!"

Hermione dan Ron telah pergi dari dapur. Tinggallah Harry dan Ginny berdua saja.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Gin?"

Tiba-tiba Harry memangil. Tanpa Harry sadari, Ginny sedang melakukan sihir-sihir sederhana dengan lap, sapu, dan kemucing. Alat-alat rumah tangga itu terbang dengan sendirinya. Ginny menyeringai ala suaminya sambil bergumam, "bersihkan semuanya, teman-teman! Ini dapur, bukan kamar tidur pengantin baru!"

Harry tertawa terpingkal-pingkal dengan ulah sang istri. Diam-diam, Ginny jauh merasa jijik dibandingkan dirinya. Jujur saja, sejak melihat Ron dan Hermione dalam keadaan saling memeluk dan pakaian tak terpasang rapi, otak Harry yang sebelumnya memang berkabut nabsu langsung bereaksi hebat. Campur aduk antara ingin tahu, jijik, sampai berniat meniru. Namun rupanya, Ginny pun ternyata sama.

Setidaknya Ginny dan dirinya sama-sama bergidik ngeri dengan 'sesuatu' yang terjadi beberapa menit lalu.

"Tapi, dapur itu memang menarik untuk dicoba, loh, love. Mau coba juga—"

"Mau coba tidur di luar sendiri kalau pulang nanti?"

Sigap Ginny mengacungkan kepalan tangannya di depan muka Harry tepat saat kepalanya mendekat siap mencium bibir istrinya. "Aduh, kan aku hanya menawarkan. Kalau tak mau ya, tak apa. Aku tak memaksa. Tapi kalau mau—"

"Shh! Diam. Kau dengar itu, Harry?"

Kegiatan membersihkan dapur oleh alat-alat rumah tangga di bawah kerja sihir Ginny terhenti. Gemeletak suara gagang kemucing menghantam meja sempat mengagetkan Harry dan Ginny. Tidak hanya suara itu, Ginny lebih dulu mendengar suara lain yang lebih tipis berasal dari luar dapur. Harry mengiyakan lantas berinisiatif maju lebih dahulu, menghalau tubuh Ginny agar berada di belakangnya dan bersiap menjaga istrinya jika terjadi sesuatu.

"Harry, di atas ada suara.. menyeret!" bisik Ginny. Suara itu memang lebih terdengar seperti benda berat yang di seret. Ubin Grimmauld Place tak terasa apapun dari lantai bawah dan itu semakin mengindikasikan jika tidak ada yang apa-apa di lantai tempat mereka berdiri kini.

"Em.. apa mungkin—" Harry tak yakin melanjutkan kalimatnya. Dilihatnya Ginny sambil menjelaskan tentang isi kepalanya. Harry memikirkan beberapa hal sekaligus untuk menduganya. Sesuatu yang menakutkan seperti penyihir gelap atau mungkin Ron dan Hermione.. lagi.

Ginny memukul kencang pundak Harry spontan. "Masih bisanya kau berpikir begitu!"

"Itu masuk akal kalau masalahnya tadi kita melihat mereka, sayang. Ayolah, aku hanya menghilangkan ketegangan."

Mereka saling berpegangan. Saling menjaga dan percaya jika mereka semua akan baik-baik saja. Harry bersiap dengan tongkatnya. Berjaga di balik tembok sisi tangga yang menuju ke lantai atas, tempat suara gesekan itu berasal.

Tepat di mana Harry dan Ginny siap berbelok menuju tangga, mereka dikejutkan dengan seorang anak kecil berpiama berdiri di ujung anak tangga paling atas. Albus berdiri menyeret selimut kecil sambil menatap ke arah depan. Dengan dahi mengerut dan mata menyipit, Albus memanggil seseorang.

"Hi, kemari!" seru Albus namun sebelum ia siap mengejar, Harry lebih dulu menahannya.

"Albus, kenapa kau bangun, Nak?" Ginny memeluk putranya dengan ketakutan. Saat ini wajah Albus pucat dan kebingungan.

Harry menangkap sesuatu yang aneh dari arah pengangan Albus. Sebuah selimut biru kecil milik Albus di masa depan. Dan itu sangat aneh.

"Saat kau menyusul kemari kau tak membawa barang-barang milik anak-anak, kan, Gin?"

Ginny menoleh cepat ketika Harry bertanya dengan nada aneh. "Tidak. Aku tak membawa—"

"Seingatku selimut itu ada di rumah, Ginny." Tunjuk Harry pada selimut yang berada di lantai dekat kaki Albus. Ginny memungutnya dan meraba sulaman benang membentuk huruf A di bagian ujungnya. Itu milik Albus.

"Aku tak merasa membawanya ikut ke Grimmauld Place untuk acara makan malam waktu itu. Sampai anak-anak menghilang pun tidak." Lanjut Harry lagi. Ternyata Ginny membenarkan. Apalagi ia ingat selimut itu ada di dalam kamar Albus.

"Lalu siapa yang membawa?" tanya Ginny, "kau dapat ini darimana, Al? Lalu kenapa kau keluar sendirian?"

Albus tak menjawab, ia memilih melihat ke ujung lorong yang sepi sambil memasang wajah kebingungan. "Aku tak tahu. Aku tak melihat wajahnya, Mummy."

"Wajahnya? Jadi ada seseorang yang memberimu selimut ini?" Harry terdengar memaksa. Ketakutan tentang segala keanehan dan teror itu datang lagi. Dua hari ia dibuat tenang dan kini teror itu datang lagi.

Albus mengangguk pelan dipelukan Ginny lantas menunjuk ke arah ujung lorong. "Bukan hanya aku, semua anak-anak di kamar mendapat selimut. Jamie, Fredie, Lou, Teddy juga. Aku terbangun karena mimpi dan tak sengaja melihat orang itu berlari sambil menangis setelah memberi selimut pada Fredie."

Orang asing telah masuk ke Grimmauld Place.

"Aku melihatnya ke sana, Daddy—"

Tanpa pikir panjang, Harry berlari terburu-buru pada ujung lorong dengan tongkat siap menyerang. Lorong lantai itu berpusat pada tembok dan satu cerukan kecil bekas figura yang terpasang namun sudah dilepas karena sudah rusak. Harry menebak, seseorang yang dimaksud Albus bisa saja bersembunyi di sana. Tak ada tempat lain selain di cerukan itu.

Namun apa yang Harry perhitungkan semuanya salah. Ia memikirkan sosok jahat berjubah panjang, dementor, atau bahkan gadis kecil berambut ombrey misteriurs itu. Yang di dapati Harry hanyalah seorang pria tinggi, berambut merah yang menekuk lututnya demi menutupi wajahnya yang berurai air mata. Ya, ia menangis.

"Kau juga mendapat selimutnya, Albie? Aku juga!"

Suara-suara para anak telah terbangun terdengar tak jauh dari Harry berdiri kini. Matahari juga pelan-pelan muncul siap menerangi bangunan tempat mereka tinggal terlihat dari balik jendela. Harry mengenal itu suara putra sulungnya.

"Ini pasti Daddy yang membawanya. Aku sempat berpesan untuk membawakan selimuku dan selimut kalian kalau ia menyusul kemari!" Fred Jr berteriak kegirangan. Suaranya bertabrakan dengan gumanan yang lain seperti suara Remus, Teddy, dan si kembar Fred dan George muda.

"Itu berarti ada kau versi tua di sini, George! Aku ingin melihatnya! Aku penasaran seperti apa tampangmu beberapa puluh tahun nanti!"

Harry terpaku. Seseorang di hadapannya kini mendongak ketika mendengar suara Fred muda.

"Dia—dia di sini, aku tak tega melihatnya. Tapi.. tapi aku melihatnya. Aku melihatnya lagi, dia masih bernapas. Aku melihatnya—"

"Iya.. kau sini semua masih hidup. Dan apapun itu, kalau kau memutuskan kemari kau pasti akan melihatnya."

Semua orang segera bergegas mendekati Harry setelah mendapat penjelasan Ginny di arah tangga. Detik itu juga, pria di hadapan Harry itu semakin ketakutan.

"Itu—suara—"

"Ya, lalu kenapa? Selama ini kau sangat merindukannya, bukan?"

Mereka semakin dekat dan Harry tak bisa lagi meyakinkan sesuatu yang mampu membangkitkan keberanian pria itu. Tentang pertemuan itu.. pertemuan yang sebenarnya sangat ia inginkan.

"Ya, tapi—"

"George?" panggilan itu dingin. Semua orang tercengang dengan apa yang dilihat mereka, kecuali Harry dewasa.

Pria itu berdiri setelah Harry menariknya untuk mau menghadap para penghuni Grimmauld Place, menghadap seseorang yang harusnya telah lama pergi dalam hidupnya. Seseorang yang melengkapi setiap detik masa mudanya.

"Kau masih tampan rupanya, George. Itu artinya diriku juga bisa seperti dirimu nanti."

George dewasa, mau tidak mau menghadap Fred muda dengan linangan air mata.

"Bagaimana menjadi tua.. my brother Georgie?"

"Buruk," Harry memberi ruang agar pria itu mendekat, "karena pantulan diriku di kaca hanya bisa aku lihat. Aku tak bisa memeluknya seperti dulu. Menyentuh kulit tua lain yang sama denganku." George dewasa mendekat, meraih tangan Fred muda dan menjabatnya hangat. "Tak ada, aku menjadi tua sendiri. Sangat buruk, Fredie!"

TBC


#

Sudah saatnya George ikutan nimbrung di Grimmauld Place. Anne nggak betah buat George dewasa lama-lama nangis sendirian di masa depan sambil mantau semua orang ketemu-reuni seneng-seneng- di masa lalu. Walaupun susah loh jadi George yang sudah kehilangan kembarannya begitu lama terus ketemu lagi.. Nggak ngebayangin deh.. :'(

Btw, kasihan juga loh sama pasangan Ron-Mione, Harry-Ginny. Kalau nggak di rumah sendiri, ya... hehehe.. susah mau ngapa-ngapain :P

Maaf kalau masih banyak typo! Ada apa di chapter selanjutnya? Apa alasan sebenarnya George nyusul semuanya? Tunggu chapter 16, ya!

Jangan lupa review!

Thanks,

Anne xoxo