Hi, everyone!
Anne datang lagi.. Lama, ya. Hehehe maaf Anne nggak tau kenapa akhir-akhir ini susah banget bagi waktu. Nggak tahu mau masak, ngerjakan tugas kuliah, ujian, nulis buat persiapan lomba lagi, baca buku-buku, dan.. ya entahlah apa lagi. Untuk sekadar bersosmed pun Anne bisanya nggak tentu. Tapi untuk kali ini, Anne lanjutkan chapter 16 sedikit lebih panjang (atau memang sangat panjang). Berhubung postnya lebih awal dan nggak malam-malam, kallian bisa nyicil bacanya sampai malam nanti (yang bacanya pas setelah Anne posting).
Em.. apa lagi, ya.. oh ya, ada yang udah nonton Fantastic Beasts? Anne syedihhhh sekaliii karena kota Anne nggak ada bioskop, jadinya Anne menghibur diri dengan baca Original Screenplaynya. Jadi visualnya Anne bayangin sendiri, deh (tapi baru awal doang bacanya). Dan oh ya.. ada gamenya juga loh selain bukunya versi screenplaynya. Udah download? Anne udah, dong! Bisa dicoba juga tuh :)
Ya udah deh cuap cuapnya, Anne langsungkan saja, tapi Anne balas review dulu :)
ninismsafitri: aduhh Ron ngapain coba, kak. Hehehe.. :)
Afadh: wkwkwk terhura.. Uncle dan Aunti mau jadi tontonan coak juga :) Chapter ini mulai kebuka nih :)
AMAZING: dunia sihir ada pak RT ya, wkwkwkw :) Horornya dapet ye.. hore! :)
dinda chan: ikutin terus pokoknya, deh! :)
safirar46: iya, aku juga ngerasa George kayak kehilangan kebahagiaan murninya pas Fred nggak ada, jadinya di chapter kemarin Fred aku buat kayak nggak kuat kalau disuruh lihat saudaranya lagi :)
Guest: huahauaha... aku nulisnya ngebayangin sedihnya George :'(
delphi potter: *langsung sodorin tisu* sabar, ya! George juga layak bahagia lagi :)
Oke, mungkin sudah semua Anne langsungkan saja ke cerita.
happy reading!
"Aku sudah mengaturnya. Kita hanya membutuhkan beberapa bahan yang bisa dicari di Diagon Alley. Tapi aku tak sempat membelinya, Harry. A—aku, aku rasa kita bisa dapatkan di masa ini."
George dewasa digiring Fred Jr turun ke dapur lantai bawah setelah semua orang berhasil mengepungnya pagi ini. Badan George dewasa menggigil. Ia berkeringat melebihi biasanya. Sebagai yang mengenal salah satu kembaran Weasley itu, Harry dewasa berinisiatif untuk memberi ruang agar George dewasa memiliki waktu untuk sekadar menenangkan pikirannya.
"Ayo, anak-anak. Kalian harus mandi dulu pagi ini." Harry mengedipkan matanya ke arah Ginny memberi kode mencari jarak. Ginny dewasa paham lantas mengajak Hermione dewasa untuk memandikan Lily, Hugo, dan Rose terlebih dahulu di kamar mandi yang lain.
"Anak-anak, langsung mandi! Jangan sampai setelah Hugo, Lily, dan Rose selesai, tapi belum ada yang mau mandi.. jangan minta sereal atau bahkan pancake untuk pagi ini!"
Mayoritas, para anak berteriak tak mau. Sereal dan pancake adalah dua menu sarapan wajib bagi para keturunan Weasley kecil itu. Tidak tahu sejak kapan, hanya itu setidaknya makanan manis rutin yang bisa dikonsumsi anak-anak itu tanpa larangan ini itu.
"Tapi, Mummy. Uncle George baru datang, kami mau main dulu dengan Uncle George!" James protes. Paman favoritnya telah datang dan itu sungguh kesempatan yang luar biasa. Fred Jr setuju begitu juga dengan Louis.
Albus dan Teddy mengangguk.
"Nanti kalau sudah mandi, bisa main lagi dengan Uncle George. Kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, Kids! Selagi Grandma Molly dan yang lainnya mempersiapkan sarapan, bukankah kalian lebih baik mandi?" ujar Harry dewasa membuat anak-anak berpikir keras.
"Nanti Uncle buatkan pancake kalau kalian selesai mandi."
Arthur menyela mengimbangi tuturan Harry dewasa, "nah, itu benar sekali, anak-anak. Ayo, siapa yang mau mandi di bak belakang? Ada bak mandi besar yang mirip kolam renang! Bukan begitu, Sirius?"
Ajakan Arthur dan Harry akhirnya disambut sorakan setuju. Di bantu Harry dewasa dan Sirius, para anak bergegas berlarian ingin lebih dulu mandi. "Tak perlu buru-buru, baknya muat untuk sepuluh orang sekaligus!" teriak Sirius disambut tawa Harry dewasa.
"Susah juga jadi orangtua, ya. Kau kuat, Harry, mengurus dua anak laki-laki ditambah satu perempuan?" tanya Sirius.
"Dad saja kuat merawat tujuh orang anak kenapa aku tak bisa." Lirik Harry dewasa pada sang ayah mertua di masa depan. Dengan bangganya Arthur menepuk dadanya sombong. "Aku banyak belajar darimu, Dad. Kau akan lihat nanti!"
"Ah, thank you, Harry. Aku tak bisa bayangkan bagaimana nanti saat aku punya banyak cucu!" Arthur berbisik pelan sambil mengambil beberapa handuk dan sabun mandi sementara Harry dan Sirius bergantian memilih pakaian ganti untuk para anak laki-laki.
Teriakan James membuyarkan dialog diam-diam para pria dewasa itu. "Jangan dibayangkan, Arthur. Sekarang pikirkan bagaimana kita mengurus bocah-bocah itu sekarang."
"Ya," Harry dewasa mengangguk. Ia menyempatkan melihat ke arah dapur tempat George dewasa, Ron dewasa, kembar Fred dan George, Remus, serta Ron dan Harry muda duduk dengan wajah serius, "setidaknya kita memberikan waktu pada George untuk menenangkan diri. Khususnya dari anak-anak."
George menerima segelas teh hangat dari Ginny muda. George mengulas senyuman tanda terima kasih pada sang adik yang terlihat masih sangat muda. Ginny hanya sempat mengangguk mengerti. Ia lantas kembali menghampiri Hermione muda di dapur bersama Molly untuk menyiapkan sarapan.
"Astaga, George bisa seperti itu. Kacau sekali dia saat ditemukan Harry tadi." Bisik Hermione muda.
"Di masa depan, Fred meninggal. Apapun yang terjadi nanti, aku rasa George benar-benar sangat kehilangan Fred. Mereka tak pernah bisa dipisahkan."
Molly mendengarnya. Sesekali ia mencuri pandang melihat ekspresi wajah George dewasa yang hanya mampu diam sambil menahan isakan dan menatap ke arah Fred muda. Ia ibu mereka. Molly sangat tahu apa yang ada dalam hati masing-masing putra kembarnya. Dan itu sangatlah aneh jika melihat George bisa sekacau itu. Begitu beratkah hidup George sepeninggal Fred?
Baik Ron dan Harry muda, Ron dewasa, Remus, ataupun kembar muda Weasley tidak ada satupun yang bersuara. Memulai suatu percakapan sampai tercipta banyolan-banyolan aneh itu sulit. Apalagi dengan keadaan George dewasa seperti itu. Hanya mampu diam, menatap tajam Fred dan meremas pinggiran gelas teh yang mulai tak lagi hangat.
"Sorry," Remus meminta maaf akibat bersin tiba-tiba, "aku rasa, ada masalah besar di sini."
George dewasa melihat Remus lantas tersenyum, "senang bertemu dengamu lagi, Remus." Katanyanya pelan.
"Ya, senang melihatmu juga, George. Selama ini, kau yang memantau Ron dan yang lain dari masa depan, bukan?"
"Benar. Maaf kalau aku baru bisa menyusul. Portal waktu yang aku buat belum maksimal. Baru sekarang aku bisa membuatnya dan mengetahui bagaimana bahan dan cara kerjanya. Aku berani menggunakannya sekarang saat semua aku rasa sudah benar."
Ron dewasa mendesah lega. Kedatangan George memiliki titik terang untuk kepulangan mereka semua ke masa depan, tempat mereka tinggal sebenarnya.
"Lalu, kau sudah bisa pastikan kalau kita sebentar lagi bisa kembali, George?" tanya Ron dewasa.
George menyodorkan secarik kertas bertuliskan tangannya pada Ron dewasa untuk segera dibaca. Itu adalah bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan satu portal baru. Beberapa benda dan jenis tanaman serta biji-bijian tercantum di sana. Cairan-cairan pun ada. Ron dewasa tahu jika di masa ini pun bahan-bahan itu mudah di dapat di Diagon Alley.
"Kalau bahan-bahannya sudah terkumpul, sudah bisa dipastikan ada portal untuk kalian kembali?" tanya Harry muda. Ia melihat ke arah Ron dewasa bergantian ke George dewasa.
"Tidak hanya itu, aku juga sudah membuat cara agar memori kalian segera dimanipulasi setelah kami semua pulang." Tambah George dewasa. Sebagian isi tehnya sudah tandas.
Remus berseru setuju, "berbahaya jika akibat kedatangan kalian ini bisa merubah masa depan."
"Aku pun berpikir begitu. Setidaknya ingatan kalian bisa—hilang—dan melupakan tentang ini semua—"
"Melupakan kalau aku akan mati? Remus? Sirius juga?"
Kata-kata Fred sangat menohok semua orang yang berkumpul. Teriakan para anak laki-laki terdengar hingga ke dapur membuat Molly geram dan berteriak memperingatkan agar tak berbuat aneh-aneh. "Jangan bercanda! Jaga benar-benar anak-anak itu!" teriak Molly dibalas oleh teriakan Sirius.
"Tentu, Molly! Kami akan menjaga mereka, jadi jangan khawatir dan jangan sekali-kali masuk ke kamar mandi ini. Karena kami semua ikut mandi bersama! Bagi siapapun yang laki-laki di luar sana, boleh bergabung! Bak mandiku masih luas bahkan untuk lima orang, hahaha!"
Demi celana Melin, Molly menggeleng tak percaya jika tiga pria dewasa itu bisa tertular jiwa-jiwa kekanak-kanakan kalau sudah bersentuhan dengan air. Cipratan dan teriakan anak-anak terdengar seru sekali dari dapur.
"Em—sepertinya mandi enak juga." Gugup, George dewasa bersikap aneh melihat ke sekeliling Grimmauld Place. "Aku ingin bergabung dengan yang lainnya. E—aku menyusul yang lainnya, ya! Sudah lama aku tak berendam."
George dewasa pergi, meninggalkan Remus dan yang lainnya berkumpul di meja makan.
"Aku rasa.. aku dan yang lainnya masih butuh waktu di sini. Masih ada seminggu lagi, kan, untuk kalian semua kembali ke Hogwarts?" tanya Ron dewasa melipat kembali catatan pemberikan saudaranya. "Anak-anak masih terlihat betah dan.. ada yang masih belum mendapat kesempatan bernostalgia di sini."
Ya, Ron dewasa merasakan itu. Ia tahu bagaimana terlukanya George saat ini. Bagaimana kuatnya George menutupi kesedihannya bertemu kembali dengan Fred, saudara kembarnya, yang telah lama tiada. Dan dengan adanya kesempatan ini, Ron berharap George bisa menemukan kebahagiaannya kembali. Mengembalikan senyuman yang telah lama ikut mati bersama jasad Fred beberapa tahun lalu. Ron dewasa berharap, Harry dewasa dan yang lain dapat setuju jika mereka tetap tinggal untuk beberapa hari mendatang.
"Yang lainnya belum selesai mandi, Mom?" tanya Hermione dewasa sambil menggendong Hugo.
Duplikat Ron itu menguap terlihat masih mengantuk padahal sudah mandi. Berbeda dengan Lily, anak perempuan itu sibuk bermain beda bayi sambil menunggu baju gantinya diambil sang ibu.
"Belum, sepertinya—"
Tiba-tiba Harry dewasa keluar lebih dulu dengan tangan kanan dan kiri menggendong Albus dan Louis berbalut handuk sekaligus. "Merlin!" pekik Molly, "Albus, Louis! Turun, ayo! Jangan bercanda saja. Kau juga Harry, langsung gendong dua sekaligu. Kau tak tinggi-tinggi nanti!"
Harry terngaga bingung. "Oh, ya? Tapi sayangnya memang aku sudah tak bisa tinggi lagi, Mum, diusiaku sekarang." Ia menurunkan Albus dan Louis di dekat Hugo untuk dibantu berganti pakaian oleh Hermione dan Ginny dewasa.
Satu persatu anak-anak sudah selesai mandi. Para orang dewasa pun juga turut bergantian membersihka diri dan bersiap makan pagi. Meja makan sedikit demi sedikit dipenuhi dengan roti, jus, sosis, telur, dan berbagai selai. Harry dewasa mau tidak mau melakukan janjinya pada anak-anak untuk membuatkan beberapa porsi pancake.
"Ada yang kurang, Daddy? Aku bantu, ya!" Albus sambil menarik bangku kecil sebagai pijakan memberanikan membantu sang ayah di dapur.
"Jangan, Albus. Kau bergabunglah dengan yang lain. Nanti Mummy bisa kemari membantu Daddy."
Harry menolak tapi Albus tetap keras kepala ingin membantu.
"Aku bantu, Daddy! Aku mau membantu seperti Jamie waktu itu." Ujar Albus mengingatkan sang ayah tentang acara membuat pancake berdua yang dilakukan bersama James tanpa mengajaknya beberapa hari lalu. "Aku juga ingin membantu Daddy!"
"Tapi kamu bisa?"
Albus mengangguk.
"OK. Kalau begitu Daddy minta soda kue satu sendok teh saja lalu campurkan ke adonan ini. Yang ada di kotak itu, sayang."
Campuran gula dan telur yang sudah dikocok Harry sejenak disisikan untuk ia mulai mencampur kombinasi tepung terigu, bahan pengembang, dan sedikit garam. Namun perintah Harry rupanya tak dipahami oleh Albus. Harry tak sempat melihat jika Albus salah mengambil sendok. Begitu juga dengan bubuk putih yang ia ambil. Harry sedang menyiapkan wajan yang ia gunakan untuk mematangkan adonan pancakenya
Albus mencampur satu sendok makan garam halus. Bukan satu sendok teh soda kue lalu mengaduknya rata pada campuran tepung yang telah disiapkan sebelumnya.
Ada sekitar sepuluh lembar pancake yang dibuat untuk para anak. James dan Fred Jr lebih dulu mengambil dan menaruhnya pada piring masing-masing. "Buatan Daddy pasti enak—"
"Dan buatan Albus juga. Daddy dibantu Albus tad—"
Bruss!
"Asin!" teriakan Fred Jr setelah memuntahkan sepotong kuenya. "Kenapa nggak enak, Uncle? Enak yang kemarin!"
James belum sempat memakan langsung bergegas menggigit kuenya tanpa memberi selai atau madu seperti biasanya. Dan benar saja, James ikut memuntahkan kuenya bersamaan dengan Teddy dan Ron muda.
"Parah! Asin sekali ini! Kau mau kami darah tinggi, Harry tua! Kemarin enak kenapa sekarang—" Celetuk Ron muda marah-marah.
"Asin?" Harry dewasa ikut memakan kuenya, merasakan sendiri jika pancake buatannya memang sangat asin.
Harry berusaha mengingat apa saja yang telah ia masukkan dalam adonan kuenya. Ia tak pernah membuat pancake seasin itu sebelumnya. Setidak enaknya buatan Harry, pancake buatannya hanya sebatas kurang rasa manis atau tengik dari terigu kualitas rendah. Jika terasa asin, itu pasti sebuah kelalaian. Tapi Harry tak merasa memasukkan banyak garam. Hanya saja, ada sesuatu yang membuat Harry mencurigai sesuatu.
"Albus," panggil Harry pada putra keduanya, Albus mulai ketakutan. "Kau tadi memasukkan apa ke adonan buatan Daddy?"
"Bubuk putih, soda kue di meja itu," tunjuk Albus pada meja dapur, "satu sendok, kan?"
Benar, penuturan Albus memang benar. Itu perintahnya. Tapi Harry sedikit tak mengerti mengapa bisa seasin itu. Ia berdiri dari kursi makan untuk melihat sisa bahan kue di dapur. Bekas peralatan masaknya belum sempat dibersihkan dan di sanalah Harry mengetahui jawabannya.
Harry kembali ke meja makan sambil membawa dua sendok. Satu sendok makan dan satu sendok teh. "Kau ingat tadi memakai sendok yang mana, Albus?" tanya Harry sambil menunjukkan kedua jenis sendoknya.
"Itu." Tunjuk Albus pada sendok makan di tangan kanan Harry dewasa.
"Ada bekas garam." Ginny dewasa menyeletuk di sisi Harry dewasa sambil menatap tajam mata hijau Albus.
"Albus Severus! Sudah daddy bilang kan, kalau kau tak perlu membantu tadi—" panggil Harry mulai geram. Namun sebelum Harry sempat menasihati, James lebih dulu marah besar dan berteriak pada sang adik.
"Albie! Pancakenya tak enak gara-gara kamu! Kamu sih, bodoh! Tak tahu mana sendok makan dan mana yang garam! Albie bodoh!"
"JAMES jangan membentak pada adikmu!" lerai Ginny langsung membawa keluar Albus dari meja makan. Albus sudah menangis dan tak mau makan sebab James terus berteriak padanya.
"Albie tak pernah bisa apa-apa. Albie menyusahkan! Albie cengeng!"
James terus berteriak sementara Albus makin kencang menangis.
"James, jangan begitu. Tak boleh mengolok adikmu seperti itu," tutur Sirius. "Albus masih kecil. Dia belum tahu. Dia belum bisa membedakan jenis sendok."
"Minta maaf ke Albus, James." Pinta Harry muda ikut membantu.
"No! Aku tak mau! Albie sudah merusak pancakeku!"
Ginny sampai harus membawa Albus duduk di sofa sambil tak hentinya mengusap air mata yang keluar. "Jamie jahat! Jamie jahat!" Albus terus uringan tak mau melihat James. Bahkan ketika James mendekat, Albus sampai tak segan ingin memukul tangan James sekuat tenaga namun ditahan segera oleh tangan sang ibu.
"Albie yang jahat mau pukul aku!" James berlari menjauhi Harry dewasa yang siap menangkapnya.
Beberapa orang yang selesai sarapan ikut merasa kebingungan antara kasihan dan gemas dengan ulah dua anak laki-laki kecil itu berkelahi.
"Susahnya punya anak laki-laki. Bertengkar terus!" teriak Sirius sambil tertawa memegangi James.
"Sudah.. sudah jangan bertengkar lagi! Daddy tak suka kalau kalian terus berteriak seperti itu!"
Teguran Harry dewasa berhasil membuat James tenang dan mau diam di dekat Sirius yang menyuapinya sosis goreng sebagai pengganti sarapan. Sementara Albus, masih tak mau tenang dan menangis di pelukan Ginny. Albus adalah anak Harry dan Ginny yang paling sensitif. Jika sudah bertengkar dengan James, Albus paling susah untuk membuka diri mau meminta maaf. Keras kepala susah untuk membuka diri.
"Hey, Albus! Dengar Daddy. Lain kali kau harus bertanya dulu sebelum melakukan sesuatu, apa itu sudah benar atau belum. Seharusnya tadi kau bertanya dulu pada Daddy." Ujar Harry menunduk di depan Ginny yang memangku Albus.
"Daddy marah juga!" Albus merasa ia semakin dihakimi. "Aku benci Daddy!"
"Loh, hey Albie. Kenapa? Daddy cuma tanya, sayang." Bujuk Ginny. Kepala Albus ia arahkan perlahan agar mau menatap sang ayah. Ginny memberi kode agar Harry juga menata bicaranya agar tak membuat Albus makin terluka.
Harry mengangguk paham untuk segera menyentuh rambut hitam tebal Albus dan membisikkan ucapan maaf dan menyesal. "Maafkan daddy, Al. Daddy juga tak melihat tadi kamu memasukkan apa." Diciumnya belakang kepala Albus. Pelan-pelan Ginny ikut melepaskan tanggannya dan mengalihkan tubuh Albus pada Harry.
"Ow, tak apa-apa. Sudah selesai. Sarapannya sudah selesai di sana, tapi.. kau belum makan, kan, Al?" bujuk Harry menggendong tubuh Albus mendekati Ron dewasa. Harry sebenarnya bersiap untuk pergi ke Diagon Alley untuk membeli bahan-bahan untuk membuat portal. Tapi dengan Albus bersamanya, Harry harus sedikit merubah rencana.
"Albus mau makan apa? Daddy sama Uncle Ron mau ke Diagon Alley. Nanti Daddy belikan kue alpukat kesukaanmu. Mau?"
Albus mau, "tapi Jamie nggak usah dibelikan. Jamie jahat!"
Ron dewasa menggeleng heran dengan keponakan-keponakannya itu. "Iya, iya.. Jamie nggak usah. Albie saja yang belum makan." Harry setuju. James yang akhirnya mendengar kata-kata Albus makin membenci sang adik dan berteriak jika Albus pelit. Ya, tangis Albus kembali pecah.
"Ajak saja, Harry! Aduhh bloody hell, daripada Grimmauld Place ini hancur!" Ron dewasa menganjurkan untuk membawa Albus. Ginny sendiri menyetujui untuk membuat hati Albus lebih tenang. "Oh, ya. Ini yang harus kita dapatkan. Kau belum membacanya, kan?"
Sambil menggendong Albus yang dibantu Ginny memakai jaket, Harry dengan seksama membaca satu persatu bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat portal mereka. Sampai akhirnya Harry menemukan satu tulisan yang menurut Harry tak pernah tahu jenis ramuan atau benda sihir apa dengan nama seperti itu.
"Delphi?" baca Harry pada tulisan paling akhir dari daftar bahan. " Ini bahan ramuan? Atau benda—"
"Bukan, daddy Harry. Itu nama orang,"seru George dewasa sedang sibuk bercengkrama dengan Fred dan George muda. George tampak lebih tenang sekarang.
"Nama orang? Selingkuhanmu? Bloody hell, Angie tahu kau punya perempuan lain?" Ron dewasa mendesah gugup. Pikiran aneh-aneh berputar-putar di kepalanya.
George dewasa melempar cepat pantat Ron dewasa dengan biji kacang tepat sasaran. Bukan seperti itu Delphi yang sebenarnya. "Itu nama anak kecil. Aku bertemu dengannya saat mengambil surat ijin di rumahmu, Harry."
"A—anak kecil?" ulang Harry.
"Hem, dia mencari Albus. Katanya dia teman Albus."
Harry melirik cepat pada sang putra. Albus pun sejenak berpikir. "Kau punya teman bernama Delphi?" tanya Harry.
"Perempuan, sekitar seusia Teddylah. Aku tak tahu tepatnya. Rambutnya lucu, gradasi pirang dengan ujung kebiruan. Seperti boneka. Lucu sekali dia. Cantik!"
Entah bagaimana, Albus langsung menyahut penjelasan George dewasa dengan suara bergetar sisa tangisan. Meski demikian, Albus tampak lebih bahagia ketika menceritakan tentang Delphi.
"Delphi, dia baik, Daddy. Tidak seperti Jamie. Aku suka bermain dengan Delphi. Delphi baik, Jamie jahat!" Cerita Albus dengan senyuman mengembang. "Aku ingin ketemu Delphi!"
Harry tak tahu, ketakutan apa yang tiba-tiba datang detik itu juga.
"Delphi? Anak itu?"
TBC
#
Yang sering tebak-tebak siapa anak itu... namanya sudah jelas, kawan! :)
Ada apa selanjutnya? Nantikan chapter selanjutnya!
Oh, ya di sini ada yang baca ffn pakai app fanfiction dot net dari play store nggak? Kalau ada yuk add Anne biar bisa chattingan ya.. :)
Maaf kalau masih ada typo! Anne tunggu reviewnya juga :)
Thanks,
Anne xoxo
