Hi, everyone!

Anne datang lagi dengan chapter 17! Huyeee.. mana yang nunggu lanjutan Outside. Thanks ya yang sudah setia, ikuti terus aja kisahnya sampai selesai (yang sebenarnya Anne belum tega mau cepat-cepat endingin).

Btw, hari ini Anne usahakan update gara-gara Anne males aja tidur (ini nulisnya malam-malam minggu). Gara-garanya sepupu Anne datang dan nginep di rumah. Dia masih kelas 1 SD tapi tambun banget. Kalau tidur suka rese kayak James, kakinya lari ke mana-mana. Ya gitu deh.. dan sekarang kasur udah dipenuhi dia sendirian. Oke selesai curhatnya ya.. hehehe.. balik ke tulisan.

cerita ini sudah mulai mendekati akhir menurut rencana Anne, tapi nggak tahu juga kalau Anne punya niatan terus lanjut sampai chapter entah berapa. Nanti deh Anne infokan lagi.

Anne balas review dulu, ya!

ninismsafitri: hayo siapa di Delphi? hehehe :)

Icatisa: emm jahat nggak ya? dibaca aja deh.. ikuti terus yess :)

sakawunibunga: aku juga download gamenya FB tapi udah aku uninstall, mulai rada.. gitu.. berat juga gamenya. Anak tetangga kamu mungkin si delphi.. hehehe. Hati-hati, ya :)

AMAZING: Dengerin nih Albus, sama James juga! *sok ngomong sama Albus n James* hehehe unyu banget nggak sih mereka :)

lilyevcns: hahaha.. namanya juga anak-anak, kakak. Rencananya sih mau 20 chapter aja tapi nggak tahu juga ya jadi selesai sampai berapa. belum tentu. hehehe nyesek mah kalau soal Fred :)

Afadh: wkwkwkw.. mungkin dulu kamu kalau sama sepupu kalo berantem juga tonjok-tonjokan, hehehe pisss! Wahhh ngebayangin apa aja yang diomongin para cowo di kolam renang.. *sayang saya cewek* :P

Altherae: bayangin asinnya itu pancake kayak apa wkwkwkwk :)

Oh, ya.. baru mau beri info kalau fic ini ada sambungannya sama cerita HP Cursed Child, ya. Jadi.. yang udah baca pasti tahu siapa Delphi dan apa motif dia deketin Albus. Yang nggak tahu.. baca aja bukunya.. atau nonton teaternya langsung ke London. Hehehe.. yang belum tahu gk masalah. Baca fic ini aja udah paham kok tanpa baca Cursed Child dulu.

Ok, langsung aja, yes!

Happy reading!


"Sebentar, Tuan!"

Harry tertubruk badan tinggi Ron. Mereka hampir masuk perapian sebelum Ginny sempat memanggil dengan gaya sok terhormat pada suaminya sendiri. Harry tak terasa sudah mengusap-usap pelan dahi Albus akibat terbentur punggung Ron. Meski tak menangis, punggung keras Ron sakit juga untuk kepala kecilnya.

"Ada apa lagi? Kau ingin titip tampon lagi? Di Diagon Alley tak ada yang merek itu—"

"Bukan! Mulut ini belum dapat—"

"Cium! Ah, cium saja dulu, Gin." Ron dewasa menyeringai di sisi kepala Albus, memajukan bibirnya aneh-aneh. Ia merunduk menyembunyikan wajahnya takut mendapat semburan adiknya yang terkenal garang itu. "Harry sudah lama tak—"

"Jangan sampai aku bongkar ulahmu malam itu, Ronald!" Ginny tak melontar mantera apapun, hanya sebuah sorot mata tajam. Cukup itu saja, Ron tahu kalau ia teruskan akan ada masalah besar dengan si Nyonya Potter. Ronald Weasley, pria paling muda dari Weasley bersaudara, usia hampir kepala tiga tapi sifat tak jauh dari keponakan-keponakannya, akan cepat takluk jika berhadapan dengan salah satu wanita bernama Molly Weasley, Hermione Granger, ataupun Ginevra Potter. Satu saja di antara wanita itu mendelik ke wajahnya, mulut Ron terkunci. Jika terbuka sedikit, dunianya bisa hancur.

Pasrah, Ron dewasa memilih diam dan meminta Harry dewasa untuk mengijinkan ia yang menggendong Albus. Sebenarnya Albus tak mau lepas dari Harry, tapi badannya sudah di dekatkan pada Ron dengan mudah tanpa beradu argumen tak boleh ini-itu. Albus merengek ingin kembali digendong namun tak direspon. Masalahnya, di sisi lain Lily kecil dari gendongan sang ibu, berteriak meminta Harry untuk digendong.

"Da—da!" Harry langsung mendelik.

Tawa semua orang yang melihat ke arah Harry dewasa pecah begitu saja. Kasihan Harry, selesai dengan Albus kali ini berganti Lily. Memang, berat Lily jauh lebih ringan tapi mengurus anak tak ada yang ringan. Menahan geli akibat ekspresi wajah Harry yang harus menyerah menerima tubuh putrinya, Sirius mencoba menawarkan diri agar mengajak Lily bermain. Sayangnya, Lily menolak mentah-mentah tawarannya. Sama seperti Ginny sebelumnya, Lily mengikuti cara sorot mata mematikan Ginny yang kini ditujukan untuk Sirius.

"Kasihan, bahkan gadis kecil pun menolakmu, Sirius!" goda Fred muda.

George muda di sisinya ikut berseloroh. "Apalagi yang wanita matang!" tambahnya diselingi juluran lidah George dewasa juga mendukung.

"Diam, kalian! Harry ayahnya, bukan aku. Wajar, kan?" Sirius mendesah sebal.

"Jangan, nak. Daddy mau keluar." Bisik Harry. "Nanti kita main lagi, ya!"

Lily terus dibujuk agar mau kembali pada Ginny dengan menimangnya pelan. Jejak ASI menempel di bagian dagunya, tentu saja.. waktu sarapan adalah waktu Lily untuk meminta jatah vitamin alaminya dari sang Mummy. Harry suka sekali melihat jika ketiga anaknya tak pernah kekurangan asupan ASI, dari si sulung James, si tengah Albus, sampai si bungsu Lily sekarang. Pernah Harry berpikir jika akan ada bocah Potter lagi setelah Lily. Tapi, ia tak mau memaksa, toh Ginny juga harus diajak berkompromi.

Dilihatnya Lily untuk kesekian kalinya. Betapa nyamannya bocah berambut merah tebal itu sudah terlelap dengan mudahnya, cukup bersandar bersandar di dada Harry. Satu orang yang paling histeris adalah Sirius. Sejak awal ia yang paling bersemangat mengamati anak-anak Harry.

"Demi celana Merlin, ini anak siapa!" Teriak Sirius mirip Muggle gila, begitu bisik Arthur pada Remus. "Oh Merlin, lucu sekali! Kau bisa juga membuat yang seperti ini, Harry!"

Sirius berlari tak tahu arah. Pontang panting ia menubruk meja dan apapun yang menghalangi jalannya untuk sampai kembali mendekat ke depan Harry dewasa demi mencium pipi Lily. Saking gemasnya, kedua tangan Sirius menangkup pipi Lily dan mengecupnya.

"Sirius, lepas. Cucuku nanti lecet!" Molly mencak-mencak dari meja dapur.

"Lily juga cucuku, Molly! Benar kan, Harr—"

Alhasil ulah Sirius membuat Lily benar-benar terbangun. Harry sudah mengantisipasi langsung membenarkan cara menggendongnya. Badan Lily kembali ia timang dan menjauhi kerumunan. Melupakan Albus yang bersama Ron demi menenangkan putri kesayangannya. Semua perhatian tertuju pada kelucuan Lily. Sementara Albus hanya terdiam melihat semua orang perhatian pada adiknya. Hanya Ron yang terus mau tersenyum mengajaknya bermain.

"Kau punya adik yang lucu, Al. Kau pasti senang sepeti yang lain. Bukan begitu?" Goda Ron.

Meski Ron mengajak Albus berbicara, namun pembicaraan itu lagi-lagi tertuju pada Lily. Kecemburuan yang pernah ada saat Lily lahir dulu kembali muncul. Albus tak dipedulikan lagi.

"Untung saja sudah berhasil tidur lagi, yang lain kembali tenang. Lily sudah aman!" teriak Molly, orang yang berhasil mengambil alih Lily dari gendongan Harry.

Berhasil lepas dari anak-anak, Harry segera bersiap untuk berangkat. Ia membawa beberapa peralatan yang sekiranya ia butuhkan untuk menyimpan beberapa bahan yang ia beli nanti, seperti kantung dan kotak-kotak yang terpasang sihir tentunya. Namun rupanya, Harry melupakan sesuatu.

"Identitasmu?" tanya Ginny muda. Malu-malu ia bertanya pada Ginny dewasa, bukan pada Harry dewasa.

"Ah, benar. Kau belum sebutkan nama samaranmu, kan?" Ginny dewasa mengambil kacamata Harry kasar dan memberinya mantera. Kacamata bulat itu berubah. Sedikit lebih lebar pada frame dan bentuk lensa yang persegi.

"Kacamataku! Blimey, Ginny!"

Harry menatap istrinya tak mengerti sementara Ginny hanya tersenyum bangga atas karyanya. Harry sendiri lupa jika sebelumnya ada sebuah perjanjian untuk menyembunyikan identitas selama mereka berada di masa lalu. "Astaga," Harry mendesah pasrah, ia memakai kacamatanya kembali. "Aku tak tahu memakai nama apa? Dan.. kacamata ini keren juga."

"Daniel." Dengan penuh keyakinan, Ginny menyebut nama itu dengan senyuman mengembang di bibirnya. "Seperti nama aktor muda yang mirip denganmu itu, sayang. Untuk nama belakangnya kau pilih sendiri saja."

"Parker." Sama spontannya Harry mengucap satu nama.

"Parker? Pria itu? Bukannya kau cemburu dengan dia?"

Ginny mendelik mengingat nama Parker, tetangga Muggle mereka. Parker duda tanpa anak. Tak begitu tinggi dengan mata coklat cerah. Rambut dan perawakan hampir mirip Harry, nama depannya pun mirip putra pertamanya, James. Jamie. Sangat ramah pada siapapun apalagi wanita, salah satunya adalah Ginny.

"Loh kenapa? Nama Parker, kan, banyak. Jadi kamu masih ingat dengannya?" Sebenarnya, Harry sedang menggoda Ginny. Wajahnya dibuat-buat seolah sebal dan cemburu.

"Apa, sih. Jangan cari gara-gara lagi, deh, Harry. Dia sudah pindah. Pria genit itu sudah lama enyah dari kompleks rumah kita. Dan asal kau tahu, kau pria yang aku pilih dan kau tetap yang paling tampan. Jelas, Tuan Potter."

"Jelas, Nyonya Potter. Thank you!"

Kecupan singkat Harry mendarat di bibir Ginny, sesaat kemudian menghilang di perapian bersama Ron dewasa dan Albus. Wajah Ginny dewasa memerah. Lebih tepanya kedua Ginny dan Harry muda di dekat meja makan berubah merah menahan malu sebab ulah diri mereka sendiri. Begitu juga mereka lupa, jika semua orang masih menyaksikan semuanya di sana.

"Pantas anakmu banyak, Harry." Bisik Ron muda.

"Shut up, Ronald!" Harry muda akhirnya merasa geli juga.


Sesampainya di jalanan Diagon Alley, Harry, Ron, dan Albus langsung berburu pada satu toko yang menjual bahan-bahan membuat portal mereka. Beberapa nama ramuan, cairan, bunga, tanaman bernama aneh, masuk dalam satu daftar yang dititipkan George. Kebanyakan, beberapa bahan itu sudah Harry dan Ron ketahui sebab sudah digunakan pada portal sebelumnya. Hanya satu-dua bahan yang belum pernah mereka tahu akan dicampurkan pada pembuatan portal.

"Kau yakin tiga bahan paling bawah ini di jual di sini?" tanya Ron sepanjang perjalanan. Albus sudah kembali digendong oleh ayahnya sendiri.

Sambil memperhatikan kertas George, Harry mendesis menenangkan rengekan Albus. Sejak sampai di Diagon Alley, entah mengapa Albus uring-uringan. "Albus Severus! Tenang dulu, Son. Daddy sedang baca catatan Uncle George."

"No, mau itu!"

Albus, seperti halnya anak-anak yang lain akan mudah tertarik jika berada di lingkungan penuh hal-hal menarik. Hewan, mainan, makanan.. kue alpukat favoritnya.

Salah satu kedai kue mengeluarkan bau kesukaan Albus. Kebetulan, kue alpukat biasa baru saja matang untuk jam-jam antara makan pagi dan siang. Aromanya sungguh menggoda meski bercampur dengan kue jahe, kue coklat, atau bau badan para penyihir yang berkeliaran di sekitar kedai. Demikian menggodanya, Albus sangat ingin untuk segera memakannya dengan segelas susu hangat. Perutnya belum terisi apapun pagi ini.

"Daddy—"

"Syukurlah sedang sepi, ayo masuk. Kita bisa leluasa membeli beberapa bahan di sana." Harry tak tahu Albus memanggilnya. Lagi-lagi, Albus tak bisa berbuat lebih, ia hanya bisa ikut dan bergelayut lemas di badan ayahnya dan terus menunggu kue alpukat yang sudah dijanjikan untuknya.

Gemelentang lonceng menyambut kedatangan Ron dan dua Potter di belakang. Sang pemilik Apothecary menyambut kedatangan para pelanggannya dengan senyuman hangat. "Morning," sapanya.

"Kami membutuhkan beberapa bahan, sir."

Sopan Harry meminta satu persatu bahan dan benda-benda yang dibutuhkannya. Untuk Albus, dengan berbisik, "turun dulu, ya, duduk di sini dengan manis. Tunggu Daddy dan Uncle Ron membeli bahan-bahannya. Jangan nakal!" Ujar Harry pada Albus.

"Tapi, Daddy—"

Dan Harry tak peduli. Albus susah payah menarik kursi rendah di sisi jendela untuk duduk. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan di sana, malah terasa jauh lebih menyakitkan. Tepat dari sudut pandang ia duduk, Albus melihat kedai kue yang menarik perhatiannya di ujung jalan. Kue alpukatnya.. kue yang sangat ia inginkan.

"Aku dengar, masih ada beberapa potong di kedai. Ada satu loyang yang baru keluar dari oven, Albus. Bau alpukatnya nikmat sekali."

Delphi, dengan switer hitam panjang menutupi hingga ujung jemarinya berbisik tak kentara. Ia melambai pelan memanggil Albus untuk mendekat ke lubang jendela untuk berbicara leluasa.

"Delphi!" Seru Albus. Akhirnya ada yang mengajaknya berbicara.

"Hey, Albus—ah, sebentar. Kau kenapa, Albus?"

Albus diam. Matanya mengekor ke meja pemesanan dimana Harry dan Ron sibuk bertanya ini-itu tentang bahan ramuan beserta harganya. Tentu saja tanpa mempedulikan Albus bersama Delphi di jendela.

"Namanya juga orang dewasa."

"Aku benci Daddy. Aku benci Uncle Ron, aku benci James, Mummy, Lily, Grandad Siri dan semuanya. Mereka tak sayang aku lagi. Mereka tak suka aku lagi."

Delphi mendeli tak percaya. Terkejut sebab Albus mulai meneteskan airmata. "Ow, tak apa, Albus. Mereka hanya sedang sibuk." Suara Delphi sangat bersahabat.

"Mereka hanya senang Lily, aku tidak."

Suara Harry dan Ron terus terdengar mendominasi toko. Apalagi Ron. Pria itu suka sekali menyela pembicara dan berbicara keras-keras.

"Menyebalkan?" tanya Delphi. Kepalanya bersandar di tiang jendela sisi kaca yang terbuka.

"Menyebalkan! Perutku lapar. Aku belum makan. Daddy bilang akan membelikan kue alpukat tapi sampai sekarang.. aku ditinggal saja. Tidak dibelikan. Aku benci Daddy."

"Kau dibiarkan saja?" Delphi ikut melihat ke arah meja pemesanan yang mulai ramai di kunjungi pelanggan yang lain. "Kau nakal mungkin, mengganggu Daddy dan Unclemu di sana mangkanya kamu ditinggalkan sendirian sebagai hukumannya. Anak nakal harus dihukum."

Albus menggeleng. Pipinya semakin di tempelkan di tepian jendela mendekat ke wajah Delphi.

"Aku tak nakal! Aku duduk saja dari tadi. Aku panggil Daddy tapi Daddy tak mau menjawabku. Daddy malah marah-marah. Daddy yang nakal! Aku selalu menuruti perintah Daddy, tapi James suka memanggilku bodoh karena salah."

Delphi ikut cemberut. Jarinya mengusap air mata Albus berusaha menghapus bekas-bekas tangisannya. Ada sesuatu yang membuat Delphi tiba-tiba tersenyum. "Jangan menangis. Kan masih ada aku." Bisiknya.

"Anak nakal harus dihukum."

"Ya," Albus setuju dengan semangat menegakkan duduknya, "anak nakal harus dihukum, dan Daddy harus dihukum juga. Daddy nakal sama aku!"

"Benar sekali, Albus. Tapi jangan dihukum seperti Daddymu menghukummu. Dia sudah besar."

Sebotol berisi bubuk putih kebiruan di tunjukkan Delphi pada Albus. Tepat di depan matanya. "Ambil ini." perintahnya.

"Gula?"

Delphi hanya sekedar menyunggingkan senyumannya. Menyerahkan botol kaca kecil ke tangan Albus dengan tatapan penuh keyakinan. "Mirip seperti yang sering dijual Unclemu. Bukankah James juga pernah menggunakannya?"

"Gula perubah warna lidah?"

"Kau anak pintar, Albus." Pipi Albus ditepuk pelan dua kali. "James memang salah menilaimu bodoh. Kau sudah tahu ini apa. Jadi kau bisa menghukum Daddymu dengan lelucon. Bukan menyuruhnya berdiri di depan pintu, itu untuk orang dewasa. Kau masih kecil jadi menghukum seseorang.. dengan lelucon yang sangat menyenangkan."

"Terima kasih, Delphi. Kau anak yang baik."

"Apa yang tidak untukmu, Albus. Aku yakin kau bisa dengan bubuk itu dan jangan bilang siapa-siapa. Sebuah lelucon adalah sebuah kejutan."

Tak perlu waktu lama sampai Harry menyadari Albus tak ada di bangku dekatnya.

"Albus!" Panggil Harry langsung ditanggapi Albus. Delphi sudah cepat menepi dan menghilang.

Semua sudah selesai. Bahan-bahan yang tertulis di daftar siap masuk dalam kantung yang dibawa Ron. "Kita harus cepat pulang, Harry. ternyata ada bahan yang berbahaya. Aku takut lupa."

"Kita beli kue untuk Albus dulu, Ron." Albus digendong cepat setelah Harry memberi ciuman singkat di pipi putranya. "Kasihan, Albus belum makan dari tadi."

Ron tersenyum sebentar sebelum ia ingat dengan isi kantung di dadanya. "Iya juga, sih. Tapi kau ingat kan, dengan bubuk mukus kering salamander hitam tadi. Itu yang paling berbahaya menurut si penjualnya tadi, Harry."

"Ingat, kok. Yang putih sedikit bercahaya biru-biru itu, kan?"

Mereka akhirnya berdiri di depan kedai kue. Albus meminta diturunkan karena ingin segera masuk lebih dulu. "Hati-hati, sayang. Pesan apa saja yang kamu mau!" pesan Harry pada Albus siap melepasnya masuk.

"Thank you, Daddy! Aku mau kue alpukat!"

Ron dan Harry menggeleng bersamaan melihat ulah Albus yang begitu polos. Hanya melihat kedai kuenya saja, Albus sudah berubah jauh lebih bahagia.

"Dasar anak-anak. Gampang sekali tergoda. Oh, ya harus segera dipisahkan saja nanti ketiganya. Apalagi yang bubuk itu. Nanti dikira anak-anak bubuk itu gula lagi, seperti bubuk biru waktu itu.. kita sampai bisa terjebak di sini sekarang."

Ron terbahak lepas ingat semua tragedi itu. Hanya ulah keingintahuan anak-anak dari kecerobohan para orang dewasa, petaka datang begitu besar. "Iya, aku tahu. Kalau yang ini benar-benar harus di jaga." Kata Ron.

"Kita tidak hanya bisa terjebak di masa lalu," telunjuk Ron bergerak horizontal di depan lehernya memberi isyarat umum sebuah efek besar dari bubuk itu, "tapi kita bisa terjebak di neraka selama-lamanya."

tbc


#

Woooo apa yang akan terjadi nanti, teman-teman? Anne kok deg-degan, ya :O

Yang penting tunggu aja chapter selanjutnya. Maaf banget kalau masih ada typo, Anne selalu tunggu fav, follow, atau review kalian semua! Okehhh! Terima kasih, sampai jumpa di chapter mendatang!

Thanks,

Anne xoxo