Hi, everyone!
Anne datang lagi. Siapa nih yang kangen sama Anne hehehehe :) Ok.. ok. Anne berharap banyak yang kangen sama Anne hehehe.. So, Anne kalau udah muncul begini, ada sesuatu yang mau dibagi. Nah, yang tebak chapter 18 kalian benar sekali. Anne sudah siapkan chapter 18nya, readers yang budiman. Sebenarnya udah agak lama chapter ini selesai, tapi Anne terus ubah-ubah. Apalagi setelah baca dan nonton Fantastic Beasts, ada yang udah nonton? Kira-kira chapter ini kayak combine dari cerita Harry Potter, HP Cursed Child, dan Fantastic Beasts. Hemm semoga aja menarik dan nyambung, ya.
So sorry banget Anne nggak bisa balas review. Akun Anne ke logout (kelamaan nggak update, hehe) jadi mau buka tab baru agak susah. Mau buka lewat app, Anne lupa nggak bawa tablet (baca ketinggalan di kamar, ini lagi di ruang tamu yang kebetulan cuma bawa laptop tanpa hape atau tablet kayak biasanya dan.. males). Jadi nggak apa, ya. Anne sudah sempat baca, kok. Thanks, ya.
Udah, ah, mungkin langsung aja, ya!
Happy reading!
"Mr. Parker? Mr. Parker!"
"Ah—iya," Harry lupa jika namanya sepakat sudah ia ubah. "Daniel Parker, astaga aku lupa namaku siapa." Batinnya. Harry meminta Ron agar menemani Albus sejenak selagi ia menghampiri meja pemesanan. Harry tak tahu mengapa ia bisa dipanggil. Padahal, pesanannya sudah sampai hampir lima menit yang lalu.
"Ke sanalah, biar Al denganku."
Ron tak masalah ditinggal sendiri bersama Albus, asalkan ada makanan yang tersaji di hadapannya. Seperti yang ia minta pada Harry tadi, dua potong kue alpukat dan dua potong kue coklat sekaligus untuknya sedikit lagi ludes ia lahap. Ia tak memesan kue jahe seperti Harry sebab rasanya yang hangat dan pedas. Sedangkan Harry hanya memesan satu potong kue jahe itu dengan alasan masih cukup kenyang karena sarapan di Grimmauld Pace –Ron pun sebenarnya juga.
Diliriknya kue Harry yang masih utuh. Mata Ron kembali bernapsu saat mencium aroma jahe yang pekat. Masih benar-benar utuh. Sama sekali belum termakan oleh Harry karena panggilan pelayan itu. "Darimana mau besar kalau makan saja Daddymu susah. Lihat, sejak tadi kuenya belum di makan juga padahal cuma satu. Dari dulu sampai sekarang, masih kecil begitu. Al, makan yang banyak. Biar cepat besar. Aku takut kau sama dengan Daddymu. Kecil.. pendek."
Albus menggigit kecil kue berwarna hijaunya ke mulut. Tidak mengubris sang paman, Albus melanjutkan menyantap kue alpukatnya sendiri setelah ditinggal ayahnya ke meja pemesanan. Di kepalanya hanya memikirkan satu hal, lebih tepatnya rencana. Tentang bubuk pemberian Delphi di kantung jaketnya.
"Ayo, makan! Atau kau mau minum, Al?" Ron langsung diam sebab tak melihat satu gelas minumanpun di atas meja. "Bloody hell, bukankah tadi kau minta susu coklat?"
Albus mengangguk, "susu!"
"Aduh, bagaimana sih, Daddymu itu, Al? Sebentar, ya! Kau duduk di sini. Aku mau menyusul Daddymu sebentar, sekalian komplain. Kuenya kurang manis. Tak seenak di masa depan."
Albus ditinggal sendirian. Dua bangku di depannya kosong. Hanya meja yang penuh dengan piring-piring kecil kue milik paman dan ayahnya. Kedai kue itu tidak begitu ramai. Berangsur-angsur para pelanggan keluar dengan kantung kue pesanan mereka. Tak banyak yang memilih makan di tempat seperti Harry, Ron, dan Albus. Selain luas kedai yang minim, ruangan yang penuh asap pemanggangan kue terkadang membuat para pelanggan tak nyaman. Untuk Albus, itu tak masalah. Ia suka makan sesuatu di tempat makanan itu dibeli. Sejak dulu Harry suka sekali mengajak Albus mampir ke kedai makanan untuk sekadar mencicipi makanan langsung setelah di pesan. Sangat fresh dan aroma makanan yang belum hilang akibat lama disimpan jika dinikmati di tempat lain.
Dari arah meja pemesanan, Harry terlihat menoleh ke arah meja tempat duduk mereka. Albus mendongakkan kepalanya memberi kode bahwa ia masih ada di sana.
"Makanlah! Bisa, kan? Daddy pesankan susu coklat hangatmu dulu." Harry sedikit berteriak melawan suara ramai pelanggan yang lain.
"Yang dingin! Yang dingin, Daddy!" pinta Albus menginginkan susu coklatnya disajikan dingin.
Harry kembali berbalik untuk memesan tapi secepat kemudian ia bergegas menghampiri Albus yang mulai uring-uringan. "Aku mau yang es!" Albus terus meminta.
Kepala Albus dibelai lembut Harry sesampainya ia di meja nomor 7 tempatnya duduk. Albus tetap menolak saat Harry katakan susu yang dipesan adalah susu hangat. "Masih pagi, Son. Nanti perutmu tak enak. Hangat saja, ya. Nanti ditiup pelan-pelan biar cepat dingin."
Albus diam sejenak. Sudah baik ia tak kena marah. Jika itu ibunya yang memesan, Albus pasti sudah dimarahi akibat meminta minuman dingin di pagi hari. Ginny paling sensitif untuk makanan yang dikonsumsi anak-anaknya.
"Iya yang hangat. Tapi jangan panas-panas, Daddy!"
Harry tersenyum melihat manjanya Albus jika ia sendiri tanpa bersama saudara-saudaranya. Albus paling pemalu untuk menunjukkan sisi kemanjaannya pada orang lain, apalagi ayahnya sendiri.
"Ok, handsome. Tunggu di sini, ya, Daddy mau kembali ke meja pemesanan! Aunty di sana sempat salah mencatat pesanan kita tadi. Dan Uncle Ron.. rupanya dia sakit perut kebanyakan makan." Bisik Harry di telinga Albus.
Jangankan Ron yang makan empat kue, Albus pun merasakan perutnya sedikit tak enak. Mulas tiba-tiba. Ada yang salah dengan kue itu.
"Kenapa perutku juga sakit, ya? Rasanya juga sedikit kurang manis."
Beberpa kali Albus mengecap-ngecap kue alpukat yang masih di dalam mulutnya. Benar kata pamannya. Rasanya tak seenak di masa depan. Kedai yang sama tapi jika diamati beberapa orang yang keluar masuk dari dapur berbeda dengan orang-orang di masa depan. Albus sendiri tahu siapa koki yang biasa memasak kue alpukat di sana. Sayangnya, di tahun ini generasi yang mengelola kedai kue tak sama dengan di masa depan. Cita rasanya sedikit berubah.
"Kasihan Daddy kalau tahu kuenya tak manis. Daddy kan, suka kue yang manis."
Kesempatan terbuka dengan jelas, tak ada yang melihat Albus di meja itu. Harry dan Ron berjarak beberapa meter saja, itupun memunggungi arah meja. Di situlah, ingatan Albus tentang bubuk gula-perubah-warna-lidah pemberian Delphi bisa ia gunakan. Tidak akan ketahuan kalau ia menaburkan bubuk itu ke atas kue sang ayah.
"Ini manis. Pasti bisa menambah rasa kue Daddy. Walaupun nanti lidah Daddy berubah warna." Kikikan suara Albus begitu puas. Ia sering melihat James berbuat ulah tapi tak pernah untuk memiliki niat mencobanya. Tapi baru kali ini, Albus mencobanya dan terasa sangat memuaskan.
Satu kantung bubuk putih kebiruan di sakunya ia keluarkan. Hanya sedikit yang diberikan Delphi, Albus memilih menuangkan semua bubuk itu ke atas kue jahe milik Harry dan meratakannya dengan garpu kecil di atas meja. Selesai. Bubuk itu sedikit berkilau ketika pertama ditabur. Beberapa menit kemudian, samar-samar bubuk itu secara perlahan terserap oleh pori-pori kue dan menghilang. Hampir terlihat tak ada perubahan pada kue tersebut.
"Daddy pasti suka rasa manisnya—"
Belum selesai Albus mengantungi bekas bungkus bubuknya, beberapa ekor burung hantu dari arah tak terduga menyerbu dengan ganas area kedai kue. Kepakan sayapnya menghentak kesadaran para pegunjung hingga berlarian ke luar kedai. Sekitar lima ekor burung hantu berukuran besar masuk melalui jendela menuju meja etalase penyimpanan kue-kue yang baru matang. Sebagian yang lain tampak hinggap di atas meja untuk memakan kue-kue milik pelanggan. Salah satunya meja tempat Albus makan.
"Aaaghh, Daddy!" teriak Albus ketakutan. Seekor burung hantu coklat besar bermata kuning bercahaya hinggap di lengannya kanannya sebelum menjejak ke atas meja.
Suara gemelantang piring dan gelas pecah makin memperparah suasana. Kacau. Burung-burung hantu itu seperti tak terkendali. Beberpa penyihir terdengar memaki, begitu juga dengan beberpa pelayan kedai yang mengeluhkan salah seorang nama.
"Aku sudah katakan pada mereka kalau jangan menjual burung hantu liar sebelum dijinakkan!" teriak salah seorang penyihir perempuan berseragam hijau lumut berapron putih renda.
Sontak Harry berbalik, mengamati serbuan para burung hantu di sekeliling kedai. Albus menjerit lagi hingga Harry tersadar putranya dalam bahaya. "Albus, Harry!" teriak Ron.
"Pietrificus totalus!" mantera itu yang sigap diucap Harry ke arah burung hantu di depan meja putranya. Brakk! Burung hantu itu kaku, terkapas di sisi kue jahe yang ia makan.
Mantera-mantera lain terucap berseling dengan ayunan tongkat ke penjuru ruangan. Harry tak peduli kursi dan meja saling terbalik asalkan ia bisa mengamankan Albus lebih dulu.
"Daddy—"
"Kemari!"
Tubuh Albus langsung terangkat meski dengan satu tangan. Harry menggendong Albus menyamping. Menekan kepala anak lelaki itu ke dadanya agar tak ketakutan. Harry telah terlatih dengan situasi semacam ini. Dengan gesit ia mengayunkan tongkat dan merapal mantera-mantera perlindungan, jampi simpul untuk mengikat pergerakan para burung hantu itu agar diam hingga menahan beberapa ekor yang belum sempat masuk ke dalam kedai.
Dibantu Ron, beberapa burung berhasil dikumpulkan di sudut kedai untuk segera diamankan. "Syukurlah aku masih segesit seperti menjadi Auror dulu." Ujar Ron bangga dengan hasil kerjanya, meski hanya menarik burung-burung terikat sihir Harry.
"Syukurlah, thank you, Sir. Burung-burung baru Mr. Digby memang selalu menyusahkan tiap pertama dikirim ke mari. Diagon Alley mungkin terlalu ramai bagi makhluk-makhluk itu." Seorang penyihir pria setengah baya datang menghampiri Harry. ia mengulurkan tangan kanan ingin menjabat hangat.
Segera Harry memindah tongkat di tangan kanannya ke tangan kirinya sedikit kesusahan menggendong Albus. "Maaf jika sudah menyusahkan anda semua. Ah, rupanya tangan putra anda terluka, Sir."
Benar, darah merembas keluar dari jaket yang dikenakan Albus. Lengannya terluka cakaran burung hantu yang hinggap di meja. "Coba aku lihat, sir?"
Albus tak mau, ia menggeleng menolak tangannya diperiksa oleh pria itu.
"Coba tunjukkan tanganmu, Al. Uncle ini akan mengobatimu." Bujuk Harry.
"Tak apa-apa, nak. Namaku Adrian Cunningham. Aku yang biasa megantar burung-burung hantu ini untuk pamanku. Aku sudah biasa kena marah dan memperbaiki semuanya. Salah satunya mengobati luka cakaran burung hantu."
Dibantu oleh Harry, Albus mengulurkan tangannya dan dalam sekali ayunan tongkat Mr. Cunningham, luka Albus menutup dan menyisakan bekas garis merah tanpa luka sobek atau darah.
"Mungkin akan terasa sedikit menyisakan nyeri tapi aku bisa pastikan besok sudah jauh lebih baik bahkan sembuh total. Maafkan burung-burung ini. Putra anda sampai ikut terluka. Aku akan segera membereskan mereka ke sarangnya."
Mr. Cunningham bergegas menghampiri beberapa ekor burung hantu yang telah dikumpulkan Ron setelah mendapat mantera pengikat dari Harry. beberapa dari mereka tampak lemas meski kepakan sayap mereka masih cukup kuat. Ron membantu mengevakuasi burung hantu dengan mengumpulkan sarang-sarang yang telah disiapkan.
"Adik iparku sudah mengikatnya dengan mantera. Jadi pergerakannya terlindungi. Sangat membantu bukan?" ujar Ron menunjuk burung-burung hantu yang diangkat Mr. Cunningham.
"Benar, mantera yang sangat rapi. Bisa dengan mudah mengumpulkan burung-burung ini. Aku mungkin akan belajar mantera ini nanti. Tapi seingatku mantera ini biasa digunakan para Auror. Aku punya teman yang bekerja di Kementerian pernah menggunakan mantera sejenis ini." Mr. Cunningham melihat ke arah Harry membuat Ron paham.
"Dia memang Auror. Bahkan ke—"
"Anda Auror, Sir? Pantas saja bisa dengan cepat bekerja menangkap burung-burung ini. Tapi seingatku.. aku tak pernah melihat anda di Kementerian. Atau aku yang tak pernah memperhatikan anda, ya?"
Harry melemparkan pandangan tuntutan tanggaung jawab pada Ron atas ucapannya. Harry berpikir keras untuk alasan apa yang akan ia berikan pada Mr. Cunningham.
"Aku sering ke Kementerian. Tepatnya di Departemen Penangan Makhluk Sihir untuk mendata penjualan hewan-hewan yang dijual oleh pamanku. Anda Auror pada bagian apa, Sir? Mungin kita biasa bertemu lagi saat di Kementerian untuk sekadar minum Butterbeer."
"Aa—" Harry memutar arah pandangnya berpikir keras, "aku bekerja di Kementerian. I mean, bukan di Inggris. Aku di MACUSA."
Sesuatu langsung membuat Ron tak sadar. Harry merubah sesuatu pada dirinya.
"Ada apa dengan cara bicaramu, Har—maksudku Daniel?"
"Oh, Amerika. Aku baru sadar, aksen Amerika anda memang masih terdengar. Anda sudah lama di Inggris?"
Harry menjabat tangan Mr. Cunningham namun mengedipkan matanya ke arah Ron. Dengan sangat baik Harry mengubah cara bicaranya seolah-seolah ia berasal dari Amerika. Beberapa menit Ron sampai tak mampu untuk berkata-kata.
"Lumayan. Aku besar di Inggris. Tapi saat usia 11 tahun, aku pindah ke Amerika dan bersekolah di sana." Harry terus bermain peran. Beruntung, Albus tak mempermasalahkan kebohongan Harry. Anak itu sedang terfokuskan pada sesuatu di belakangnya.
"Ahh iya.. kalau tak salah namanya.. Ivvermo—what?"
"Ilvermorny." Harry mengkoreksi dengan pengucapan yang sangat tepat. Lagi-lagi Ron merasa bodoh di antara keduanya.
Semua begitu rapi disembunyikan oleh Harry hingga sampai sedetail itu. Mr. Cunningham meminta ijin untuk kembali mengumpulkan burung-burungnya dan meninggalkan sejenak Harry, Albus, dan Ron untuk menghampiri pegawainya yang datang membantu.
"Bloody hell, Harry," Ron berbisik di telinga Harry penuh ketidakpercayaan, "aku tak tahu bagaimana cara meniru orang Amerika berbicara seperti itu. Kau bilang apa, bekerja di MACUSA? Aku melihat kotak telepon atau lubang kakusnya saja tak pernah dan apalagi dengan Ilvermoony itu?"
"Ilvermorny, Ron. Itu sekolah sihir di Amerika. Hasil dari dua minggu pertemuan Auror di Amerika bulan lalu sangat membantu sekali, bukan? Untung aku memperhatikan cara mereka berbicara. Dan oh, ya. Mereka menggunakan pintu Woolworth Building sebagai pintu masuknya bukan—"
Percakapan Mr. Cunningham dengan pekerjanya terdengar samar-samar di telinga Harry dan ron. Bagaimana mereka membicarakan dengan salah satu burung hantu yang belum sempat mereka masukkan ke dalam sarang.
"Burung ini mati?" bisik para pekerja itu.
Salah satu burung hantu ditemukan tergeletak dengan mata terbuka. Badannya bertransformasi dari kaku menjadi lebih lunak. Hanya saja tidak ada pergerakan di sana seperti burung-burung yang lain.
"Ada apa, Madam?" Harry menanyakan pada wanita yang melayani pesanannya sejak berkunjung ke kedai itu.
"Entahlah, Mr. Parker. Salah satu burung seperti mati. Tidak bergerak sama sekali. Itu burungnya," tunjuk wanita itu pada burung coklat besar di bawah meja nomor 7. Harry tahu itu mejanya tadi bersama Albus dan Ron.
Ron lagi-lagi mendekat namun tak lagi berbisik. "Kau melempar mantera—"
"Hanya membuat tubuhnya kaku. Aku melempar mantera karena tangan Al terluka." Harry sejenak berhenti mengamati tubuh burung hantu itu dari posisinya berdiri. "Kalaupun memang benar karena manteraku, akan aku bayar harga burung itu—"
Sayangnya, mantera Harry terkesan aneh sebab burung hantu itu tetap tak berubah meski mantera yang dilontarkan Harry mulai memudar.
"Ini memang bukan akibat mantera anda, sir. Burung ini memakan sesuatu.. yang membuat ia mati." Potong Mr. Cunningham penuh keyakinan. "Burung-burung ini memang serakah sekali kalau melihat makanan."
Bekas remaham pinggiran kue jahe menempel di sekitar paruhnya. Kue jahe milik Harry hancur akibat ulah burung hantu itu. Ya, hewan itu memakannya dan kehilangan nyawanya.
"Bloody hell, pantas perutku sampai sakit saat memakan kue tadi. Untung kau belum memakannya, mate. Tapi Albus—"
Albus terdiam sembari tak melepas tangannya di atas perut, sejak beberapa menit lalu ia tak berkata apa-apa. Harry merasa putranya masih ketakutan akibat serangan burung hantu liar itu. Meski terus terdiam, mata Albus tak berhenti mengamati sekeliling kedai. Wajahnya memucat.
"Daddy—"
"Oh, Al. Kau tak apa? Kita beli Bezoar atau apapun untuk menetralkan reaksi kuenya."
Panik, Harry berbicara sejenak dengan pemilik kedai dan Mr. Cunningham untuk segera undur diri demi Albus. "Maaf kami mungkin tak bisa membantu lagi." ujar Harry sembari menyerahkan uang pada sang pemilik kedai.
"Ambil saja uang anda, Sir. Maaf atas keteledoran kami. Secepatnya akan kami berikan ganti rugi kue yang aman untuk anda semua jika berkenan."
"Tak perlu, Madam. Tak masalah, semoga masalah ini dapat segera diselesaikan." Harry menyalami wanita itu dan menyerahkan kembali uangnya. "Ambillah!"
"Oh, Sir. Thank you, sekali lagi mohon maaf. Mungkin anda bisa mengambil air ini untuk putra anda. Sementara waktu untuk menetralkan jika ada bahan kue yang berbahaya sempat termakan tadi."
Sebotol air diterima Harry dengan senang hati untuk segera diminumkan pada Albus. Selanjutnya terlihat beberapa pekerja kedai mengayunkan tongkat-tongkat mereka memperbaiki ruangan yang hancur. Begitu juga dengan sisa kue yang belum sempat terjual. Mereka mulai memberi jampi pembersih untuk menghindarkan kue-kue mereka dari bahan-bahan yang membuat konsumen sakit perut. Tak tahu apa, Harry dan Ron hanya melihatnya sekilas. Mr. Cunningham pun terlihat membantu dan membawa bangkai burung hantunya untuk dikeluarkan. Seperti sudah sering kali terjadi, antara pemilik kedai dan pemilik burung-burung hantu itu cepat berdamai dan menemui kesepakatan bersama untuk saling meminta maaf.
"Daddy, pulang!" bisik Albus lirih. Badannya menggigil bersembunyi di balik jaket dan mengerang aneh.
Ron mengusap kepala Albus dan memberinya kecupan singkat. Harry baru saja memberi Albus minum pemberian pemilik kedai.
"Tampaknya Albus masih ketakutan, Harry." Tebak Ron.
"Burung itu menyerang tempat Albus makan, Ron. Tangannya sampai terluka. Kepalanya juga hampir dipatuk tadi." Beruntung, Harry cepat melempar mantera itu dan menarik Albus ke pelukannya. Jika tidak, mungkin kepala Albus akan sama berdarahnya seperti lengannya.
"Sudah tak sakit, Al? Coba Daddy lihat." Harry mengeluarkan tangan kanan Albus untuk memeriksanya. "Benar kata Madam tadi, sudah mulai sembuh. Masih sakit?" Harry mengecup bekas luka di tangan Albus.
Albus mengangguk membenarkan. Air matanya turun dari sela-sela sudut matanya. "Oh, it's OK. Ada Daddy di sini. Sebentar lagi sembuh. Daddy janji. Burungnya sudah tak ada. Kita harus beli ramuan untukmu dulu, ya. Daddy tak mau ada apa-apa denganmu, Son."
"Nggak mau! Pulang saja, Daddy!"
Mereka hampir mendekati lorong sempit di salah satu sudut Diagon Alley, tempat dimana mereka datang sebelumnya. Ada beberapa penyihir yang masuk perapian umum begitu juga yang memilih berdissaparate secara langsung. "OK, kita pulang saja. Maafkan Daddy ya, Al. Nanti di Grimmauld Place Daddy buatkan sup kentang biar perutmu tak sakit."
Albus mengamati wajah sang ayah yang begitu perhatian padanya. Itulah yang menyebabkan secara tiba-tiba tangisan Albus pecah. Sambil mengucapkan maaf, Albus memeluk erat leher Harry tak mau menunjukkan wajah memerahnya.
"Don't be sorry, Albus. Kau tak salah apa-apa. Burung-burung itu yang belum pandai mencari tempat mereka sendiri dan tak tahu tentang makan mereka. Uncle tadi yang bilang kalau burung-burung itu suka sekali makan. Apapun makanan dimakan olehnya. Mirip Uncle Ron. Iya, kan?"
Ron sontak mendelik dan memeluk kantung kecil yang diberikan mantera perluasan untuk menyimpan belanja ramuannya.
"Oh, bloody hell, Harry! Sudah-sudah ayo, pulang!"
Mereka akhirnya memilih jalur perapian setelah bergantian dengan sepasang penyihir yang baru saja masuk. Tepat setelah asap hijau itu mengepul naik, tiga tubuh pria Weasley dan Potter sempurna menghilang. Hanya saja, satu sosok lain –yang sejak kedatangan mereka di pusat perbelanjaan sihir Inggris—masih terus mengintai dengan tatapan tak puas. Rambut gradasi biru silvernya bercahaya akibat tudung jubahnya tersibak.
Ia memekik kesal. Salah satu rencananya gagal total.
"Dasar bocah bodoh!" Delphi meremas kuat-kuat jemari tangannya meluapkan segala emosi. "Mungkin aku sendiri yang harus turun tangan. Tunggu kejutanku, sir! Oh ya, siapa.. Mr. Daniel Parker, huh?"
TBC
#
Huft.. Motif Delphi Anne buat berdasarkan cerita di Cursed Child, ya.. jadi terkesan sedikit sadis. Wow! Tunggu aja, deh.. Kebiasaan, Anne selalu buat cerita yang semakin akhir nggak terduga dan jauh dari kesan cerita di awal. Hehehe ada yang ngerasa gaya tulisan Anne seperti itu? Hehehe.. OK, mungkin sampai di sini dulu. Kalau ada waktu Anne akan lanjut lagi soalnya Anne lagi ada projek film pendek buat tugas kuliah. Mohon dimaklumi, ya!
Maaf kalau masih ada typo. Kalau ada waktu bisa Anne sempatkan memperbaiki. Jangan lupa review, favorite, atau follow juga tak apa..
Thanks,
Anne xoxo
