Hampir menjelang waktu makan siang, baik Harry, Ron, maupun Albus tak kunjung datang. 'Kedua' Ginny terus memperhatikan arah pintu masuk Grimmauld Place. Sekiranya perasaan tak menentu mereka harus enyah ketika kedatangan ketiganya. Harusnya. Tapi kenyataannya, tak ada satupun yang menunjukkan tanda detik itu juga mereka akan datang.
Entah mengapa perasaan Ginny, baik muda maupun dewasa, secara bersamaan memikirkan keselamatan dua orang yang tengah pergi. Harry dan Albus. Ginny muda lebih dulu memikirkan Albus yang ketika pergi belum sempat memakan makanan apapun sebagai sarapan. Sedangkan Ginny dewasa terpusat pada keadaan Harry yang harus berada di lingkungan penyihir masa lalu dengan identitas barunya.
"Perasaanku tak enak," ungkap Ginny dewasa.
Ginny muda menoleh cepat. Si kecil Lily tertidur nyaman di dadanya. "Aku juga."
Perapian mendesis kencang. Mereka segera berlari dari arah pintu menuju ke sudut perapian berharap orang-orang yang sedang mereka pikirkan benar-benar datang. "Sial, sampai lupa mereka akan datang lewat perapian." Gerutu Ginny dewasa langsung berhambur menuju mulut perapian.
Dan benar saja, Harry lebih dulu keluar menggendong Albus yang menangis.
"Shh.. sudah sampai, Al. Tenanglah," begitu kalimat yang terdengar lebih dahulu oleh para penghuni Grimmauld Place dari mulut Harry. Di belakangnya menyusul Ron, tertawa sambil mengapit kantung belanjanya keluar dari perapian.
Harry mendesah lega akhirnya ia bisa benar-benar kembali. Melihat Ginny berwajah panik, Harry kembali merasa tak tenang. "Gin, kau kenapa?" tanya Harry.
"Seharusnya aku yang tanya seperti itu. Kau tak apa-apa?" Tangan Ginny kini membelai pipi kiri Harry dan mengecupnya di bibir. Ginny lagi-lagi lupa jika ada dirinya yang masih muda berdiri tak jauh di belakang. Harry mengarahkan sorot matanya memberi isyarat agar sedikit menjauh membuat Ginny terhenyak sendiri. Ya, walaupun Harry sendiri suka dengan kecupan itu.
Tapi apa yang diperbuat Harry selanjutnya.. tangan kanannya menutup mata Albus lantas membalas kecupan Ginny tepat di bibirnya.
"Kau bisa membuat 'diriku' di sana sakit jantung, Harry." Ginny dewasa berbisik menahan malu. Pasalnya Ginny muda tengah mendelik tak percaya melihat pemandangan sepasang suami istri yang sebenarnya adalah sosok dirinya di masa depan. Rasa canggung benar-benar masih ada. Tentu, ia tak pernah membayangkan tentang masa depannya berkeluarga dengan Harry meski cita-cita itu memang ada. Secepat itu, Ginny harus tahu kalau nantinya ia akan hidup bahagia bersama suami dan anak-anak dalam satu keluarga. Potter.
Harry hanya membalas dengan tawa. "Sudahlah, Gin. Apa salahnya mencium istri sendiri? Benar, kan?" katanya dengan rasa tak bersalah.
"Em.. sorry, tapi Albus tak apa? Sepertinya dia lemas sekali." Tanya Ginny muda tak tahan untuk bertanya keadaan Albus yang terus mengganggu pikirannya.
"Bloody hell, tak adakah yang mengkhawatirkanku? Padahal aku juga keracunan seperti mereka!"
Hening sejenak. Kali ini semua orang memalingkan wajah pada Ron. Ia tak sadar kata-katanya memancing rasa penasaran dari banyak orang. Terutama Hermione, baik muda maupun dewasa.
"Kau keracunan?" Hermione dewasa keluar dari arah tangga bersama Tonks.
"Akhirnya ada yang peduli denganku juga." Ron lega. Hermione segera mendekatinya dan menyerahkan segelas air.
Ginny dewasa kembali mendelik ke arah Harry, "katakan ada apa sebenarnya, Harry! Keracunan bagaimana?"
Bukannya menjawab, Harry dewasa bersama Albus bergerak menuju sofa panjang tempat Sirius duduk santai bersama Harry dan Ron muda. Albus meraih-raih tubuh Harry muda ingin mendekat. Tapi sang ayah yang menggendongnya sejak keluar dari kedai hanya sempat menurunkan ke atas sofa. Salah satu sisi kosong di dekat Sirius menjadi tempat istirahat badan kecil Albus untuk sementara.
"Kau tak apa, Albus?" tanya Harry muda dari belakang punggung Sirius. Albus sampai harus menaiki pangkuan Sirius untuk harus sampai pada Harry muda. Tangannya mengapai-gapai tanpa suara. Inginnya, ayah versi mudanya yang mendekat sebab badannya makin terasa lemas. Albus terisak-isak seperti menahan sesuatu. Ia menunjukkan lengannya yang merah bekas luka.
Albus memanggil Harry muda, "Daddy—" di saat James berlari kencang diikuti Fred Jr di belakangnya, Albus makin berteriak ingin segera bersama Harry muda.
"Hey, ada apa dengan Albus? Dia lemas sekali." Sirius memberi ruang agar Harry muda dapat meraih Albus. Tubuh anak itu beralih ke pangkuan Harry muda. Sembari bersandar di dadanya, Harry membantu Albus melepas sepatunya sambil menunggu penjelasan dari Harry dewasa.
Ginny menarik kursi untuk Harry duduk di dekat perapian. Sudah tidak ada tempat sebab semua orang sedang berkumpul di sana. Begitu juga para anak. "Burung-burung hantu yang baru datang untuk dijual ternyata masih cukup liar. Mereka semua lepas dan masuk menyerang kedai tempat kami makan kue." Cerita Harry. Ginny ikut menarik satu kursi di dekat Harry. Memperhatikan suaminya menceritakan kejadian yang menyerang mereka hingga Albus tampak lemas dan mengeluh sakit di tangannya.
"Lalu apa hubungan dengan keracunan kata Ron itu?" ujar Fred diikuti anggukan setuju George dewasa.
"Burung-burung itu mengandung racun?" hanya itu yang terlintas di otak George muda.
"Bukan, bodoh!" bibir Ron cepat terkatup setelah Hermione menyentil bibirnya sebagai peringatan. Waktu dan tempat yang tidak tepat untuk memaki, di depan anak-anak pula. "Ya, maksudku.. bukan begitu. Bukan burungnya, tapi kuenya." Perjelas Ron.
Seolah kompak tak menghiraukan kata-kata Ron, mereka semua tiba-tiba diam. Bukannya tak suka, tapi tak paham. "Maksudmu, kuenya beracun?" tanya Ginny dewasa.
"Kami tidak tahu apa kue itu benar-benar beracun. Hanya saja salah satu burung hantu yang sempat melukai tangan Albus dengan cakarnya memakan kuenya dan.. mati."
"Mati?" Sirius terkejut. Ia segera mengecek ulang kondisi tangan Albus yang menyisakan ruam merah saja.
"Lalu itu kue siapa, Harry?"
"Kalau tidak salah," Harry merubah pandangannya dari Sirius menuju wanita di sampingnya, "ia memakan kueku."
Tanpa aba-aba, Ginny yang sedari tadi duduk dekat di sisi Harry berdiri dengan tiba-tiba dan menangkup kedua pipi suaminya dengan telapak tangannya sampai kedua bibir Harry sedikit terdorong ke depan. "Apa? Lalu kau memakannya?" Ginny benar-benar panik. Ia bergegas mengambil sesuatu di dapur disusul Hermione yang sadar jika Ron benar-benar dengan cerita keracunannya.
"Tidak apa, Gin. Aku belum sempat memakan kueku. Tapi Albus dan Ron sempat memakan kue pesanannya. Coba buat untuk mereka saja—" setidaknya Harry tahu jika istrinya tengah bersiap membuat ramuan sebagai penyelamat.
"Kau yakin? Kalau begitu akan aku buatkan ramuan untuk menetralkan racun jika benar ada untuk Al."
Di arah sofa panjang, Albus dan Harry muda masih asik saling memeluk. Albus pucat dan badannya dingin. Harry muda sedikit panik sebab Albus tidak banyak bicara, melainkan hanya isakan dan merengek pelan. Ujung-ujung kaus Harry muda dipilin-pilin sebagai luapan kekalutan Albus. Harry muda merasakan badan Albus menggigil. Tanpa ia sadari, gerakan memeluk ia lakukan pada sekeliling pinggang dan perut Albus.
"Nanti minum ramuannya, ya. Supaya badanmu segar lagi, Albus." Bisik Harry muda.
"No, pahit!"
"Albus," suara Harry dewasa sedikit lebih jelas. Ia mendekat, "makan lagi, ya? Tadi kamu baru makan sedikit, kan? Makan lagi, Albie, baru minum ramuannya. Masih dibuatkan Mummy di dapur."
Semangkuk sereal dengan susu menggenang di dalamnya dibawa Harry dari dapur untuk Albus. Hanya itu yang setidaknya bisa dimakan Albus untuk mengganti sarapannya lebih maksimal. Rupanya, Albus menolak.
"Ayo, son!"
"Tidak mau!"
Tiga sosok kecil dari tangga utama turun bergantian. Sedikit saling dorong dan tertawa meneriaki nama lawan di depannya, menarik unjung kaus dan berlari tepat saat pijakan pertama di lantai bawah. James, Fred Jr, dan Louis—entah membicarakan apa, sorot mata mereka seolah tertuju pada satu hal beberapa meter di depan meja panjang tempat menata kue-kue nenek mereka yang baru matang. Pie apel.
Bak seorang pemimpin, James merentangkan tangannya menahan Louis dan Fred Jr berhenti di tempat. Ketika dua sepupunya benar-benar berdiri di tempat dan kebingungan bertanya ada apa, James menujuk arah lain tak jauh dari kue sasaran ketiganya. Albus.
Potter kecil lemas di sana tidak tahu jika kakaknya telah kembali bersama dua antek-anteknya yang lain. James menyeringai nakal. Ia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk melupakan rasa kesalnya pagi tadi. "Lihat, benar aku, kan? Albus itu cengeng!" bisik James pada Louis dan Fred Jr di sisi kanan dan kiri.
Albus masih diapit oleh Harry muda dan Sirius. Di depannya, Harry dewasa terus setia merayu Albus dengan semangkuk sereal untuk kembali dimakan.
"Jangan cengeng! Sudah bagus ada makanan enak, Albie." Teriak James. Kedua Harry mendelik mencari tahu siapa yang berteriak pada Albus. "Kalau tidak ada.. atau mungkin rasanya aneh seperti pancake yang kau beri.. garam tadi. Kau bisa—"
"Jamie, pergi!" perintah Albus ikut berteriak kesal. Wajahnya hingga memerah menahan luapan emosi. Bersama tangisan pelan, Albus menolak kakaknya semakin mendekat. "Jamie nakal!"
"I'm not. YOU!"
"YOU!" teriak Albus tak kalah kencang. Melihat James sama sekali tak mau enyah dari tempatnya, ia berontak untuk turun. Harry muda sampai terkejut dengan sikap tiba-tiba Albus. Turunlah Albus dengan tiba-tiba, mengejar James sambil tangan kanan terangkat bersama kepalan tinju siap hantam.
"KAMU!"
Tidak mau kalah ia akan dipukul, James dengan berani membalas pukulan Albus dengan cara menangkisnya ketika lengan kanannya yang terkena. Sebuah gerakan refleks untuk mendorong James lakukan sebagai perlawanan. Bagian tubuh Albus yang terjangkau tangan James adalah pundak sebelah kiri. Jemari kanannya tepat meremas jaket pada bagian pundak sang adik lantas mendorongnya hingga Albus terjungkal ke belakang. Sungguh malang nasib Albus, badan kecilnya harus mengakui kekuatan James disaat perutnyapun sedang kondisi miris makanan. Bekas cengkraman burung hantu di lengan kirinya tertindih badannya sendiri ketika terjatuh. Meski lukanya tidak terbuka, Albus sendiri mengakui sakitnya belum sepenuhnya hilang. Sering kali linu dan berat jika digerakan.
"Siapa sekarang yang nakal? Kau pukul aku, Albie. Sakit!" James memegangi tangan kanannya setelah sukses menjatuhkan Albus.
Dari kejauhan, Ginny dewasa dengan kencangnya berteriak memanggil nama kedua putra kesayangannya itu.
"James Sirius! Albus Severus! Jenggot Merlin! Apa yang kalian lakukan?"
Albus yang pertama ditolong Ginny. Anak itu dipapah berdiri tak ubahnya korban tabrak lari. Albus menangis mengaku tangannya kembali sakit dengan daya keseimbangan tubuh yang sangat minim. Badannya sangat lemas dan pasrah di pelukan ibunya.
"Jamie na—"
"Albie yang nakal! Albie yang pukul!"
"CUKUP!"
Terakhir, Harry dewasa meletakkan mangkuk sereal Albus sedikit kasar. Berjalan dengan ekspresi marah meninggalkan Sirius dan Harry muda di atas sofa panjang. Sirius sempat menahan tangan Harry dewasa mengkhawatirkan tindakan Harry berlebihan pada kedua putranya.
"Kau mau apakan mereka? Bicara baik-baik, Harry!" pesan Sirius. Baru kali ini ia melihat Harry marah seperti itu pada anak-anak. Sementara Harry muda pun merasa tak percaya dengan sikapnya ketika dewasa.
"Aku sudah paham, Sirius. Kalau kau ingin tahu, diam dan nikmati saja!" bisik Harry tanpa merubah ekspresi kadar keseriusannya.
Jalannya tidak dibuat-buat. Sewajarnya Harry bersikap seperti biasa meski ekspresi wajahnya terkesan dingin. James merasakan pertanda tak baik dengan datangannya sang ayah di tengah keributannya bersama Albus. Apalagi dengan teriakannya tadi meminta berhenti.
"Daddy, no.. Albie pukul duluan. Bukan aku!" Protes James menyadari kesalahannya telah mendorong tubuh Albus hingga terjatuh dan menangis. Ah, itu Albus sendiri yang cengeng, batinnya.
Tapi, Harry dewasa tak merespon, hanya menatap James lekat-lekat.
Lain dengan James, Albus bersiap mengambil simpati, "Da-daddy—" sayangnya, ia mendapat respon yang sama.
"Kita punya waktu untuk membicarakannya dengan cara laki-laki, buddys!"
Sekali sambar, James berganti menggelayut di pinggul kanan Harry sementara Albus diserahkan cuma-cuma oleh Ginny pada Harry dan menggendongnya di bagian kiri. Remus melihatnya dari sudut ruangan dengan tatapan kagum. Tonks di sisinya dilirik singkat lantas tersenyum. Tonks membalasnya ikut berbisik, "terlihat sekali tenaga Auror. Hanya saja kali ini sasarannya bocah-bocah kecil—"
"Harry mungkin sudah memantrai seperti menghukum pelahap maut." Balas Remus sambil menyeringai.
Harry membawa kedua putranya mendekati tembok di sisi perapian. Kursi tempat Ginny duduk sebelumnya ditempati oleh Harry untuk bersiap menghakimi anak-anaknya. James melirik tegang ke arah dua sepupunya. Fred Jr bergumam menyemangati sedangkan Louis mengangkat kepalan tangannya sebagai bentuk kepedulian. Di samping James, Albus pasrah dengan membiarkan badannya bersandar sebentar di tembok walaupun ia tahu, ayahnya tak akan suka ia bersandar saat sesi 'introspeksi tembok' dijalankan.
"Mummy, help!" bisik Albus lirih pada Ginny tak jauh di belakang Harry.
"Turuti Daddy kalau kalian tak mau terjadi apa-apa." Balas Ginny memberi kepercayaan pada James dan Albus untuk terus mengikuti perintah Harry berdiri di dekat tembok.
"Baiklah," Harry siap membuka, "Daddy sekarang mau bertanya kepada kalian."
Ada jeda sejenak ketika Harry tiba-tiba mengarahkan tangannya untuk menyentuh pipi kanan James. "Kenapa kau tadi mendorong Albus sampai jatuh, James—"
"AKU TAK MENDORONG AL, DADDY. AL—"
"Mana sopan santunmu, young man! Jangan berteriak, Daddy tak suka!"
Spontan, James menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menunduk. Ia meminta maaf pada Harry lantas melanjutkan berbicara. "Albie mau pukul aku. Aku tangkis tangan Al dan sedikit men-jauh-kan badan.. Albie," James mencoba melihat wajah adiknya yang makin pucat.
James merasa, ia hanya ingin menjauhkan badan Albus ketika adiknya siap mengejarnya untuk memukul. Tapi Albus ternyata terlalu lemah dengan balasan James. Badannya tak sengaja terlempar saking tak bertenaganya ia. Albus makin menunduk menyadari ia sendiri tak bisa melawan tepisan dari James itu.
"I'm sorry, Daddy!" James memelas penuh permohonan maaf.
"Minta maaf pada Albus. Namun sebelumnya, Daddy juga ingin mendengar penjelasan Albus." Harry berganti menyentuh pipi Albus, melihatnya dalam seolah ia melihat dirinya sendiri. Bocah kecil berbadan kurus dengan rambut hitam acak-acakan. Bersedih dan lemas tampak terlihat dari sorot manik hijau di kedua matanya. Harry teringat dengan masa kecilnya dulu ketika tak mendapat makanan dari paman dan bibinya. Ia yakin dirinya tampak seperti itu dulu.
"Al—"
"Sorry, Daddy!" Albus sama memintamaafnya seperti James. "Jamie mengatai aku cengeng. Aku tak suka. Jamie—Jamie nakal."
"Kau marah, son?" tanya Harry. Nada bicaranya masih terdengar tegas meski terkesan mulai merendah. Harry menyadari kondisi putra keduanya sekarang. Di telapak tangannya menjalar rasa dingin akibat keringat Albus. Ia rasa tak perlu lama-lama untuk menurunkan emosi kedua anak itu.
Albus mati-matian menahan rasa kesalnya untuk melirik ke arah James kembali. Sirius sempat terlihat memberi semangat pada Albus agar tetap kuat berdiri, namun Harry sempat memberi isyarat agar Sirius menjauh sejenak tak ikut campur.
"Albus?" panggil Harry membuat Albus akhirnya mengangguk.
"James, kau dengar itu? Albus marah karena kau mengoloknya. Coba sekarang bayangkan jika kau yang diolok-olok oleh orang lain? Apalagi saudaramu sendiri." Tutur Harry langsung menohok kesadaran James.
Sebelum Albus merasa benar, Harry segera mengungkapkan apa kesalahan si tengah. "Dan kenapa harus melawan dengan kekerasan? Albus, kita tidak boleh menyakiti orang lain seperti memukulnya. Apalagi James adalah kakakmu. Begitu juga orang lain. Lily, Grandpa, Grandma, Uncle, Auntie, para sepupu kalian, teman-teman, Mummy.. Daddy—"
Dan Albus tersadar dengan sesuatu. Ia sadar jika beberapa waktu lalu ia sibuk membuat ayahnya celaka. Hanya sebuah lelucon, tapi yang Albus lihat terlalu berlebihan. Jika saja ayahnya memakan kue jahe seperti layaknya burung hantu liar itu, bukan hanya lidahnya yang berubah warna, namun nyawanyapun akan berubah. Hilang. Mati. Dan itu semua adalah ulahnya. Albus mendesah ketakutan, mengira-ngira jika itu memang keteledorannya. Seperti pancake pagi tadi. Ia sudah menjalankannya dengan baik, hanya eksekusi yang salah.
Begitu hasil pemikiran otak lugu Albus. Tanpa tahu jika ia sedang bermain-main dengan benda maut.
"Anak yang baik adalah anak yang tahu apa kesalahannya dan bagaimana ia harus meminta maaf."
Harry bangkit. Mencium kedua pucuk kepala putra-putranya sebelum memberi tahu waktu lama keduanya harus berdiri sebelum diperbolehkan untuk duduk kembali. Cukup dua menit dari lima sampai sepuluh menit waktu hukuman berdiri seperti biasanya. Mengingat kondisi Albus yang tidak memungkinkan untuk berdiri terlalu lama.
James memiliki kesadaran lebih awal untuk mengulurkan tangan pada Albus. Ia berbisik lirih meminta maaf. Sambil terus menunduk, Albus akhirnya mau menerima jabatan tangan James.
Harry berjalan mengambil mangkuk sereal yang akan dimakan Albus tapi ia sadar dengan kecanggungan kedua putranya. James tampak belum sepenuhnya rela meminta maaf pada Albus.
"Menjadi pria harus bertanggung jawab dengan kata-katanya, boys. Dan hati yang tulus." Bisik Harry pada mereka, James terutama.
"Iy—iya, Daddy. Aku minta maaf ya, Albie." Kata James kembali menjabat tangan Albus dengan ekspresi wajah penuh kelegaan.
"Aku juga minta maaf, Jamie." Balas Albus tak lagi malu.
Dua menit sangat sebentar. Harry memberi pengampunan pada kedua putranya untuk kembali bermain. James sudah berlari ke arah Fred Jr dan Louis menuju ruang tengah sedangkan Albus memilih duduk kembali di sofa panjang bersama Sirius dan Harry muda. Di sana, ia kembali dirayu untuk makan sebelum meminum ramuan yang sudah jadi dari ibunya.
"Tak apa kalau tak kau makan semua, Nak. Asalkan perutmu keisi. Nanti minum ramuannya, ya."
Albus memakan baru sekitar lima sendok, tapi wajahnya seperti menahan sesuatu karena makan terlalu banyak. Albus menggeleng ketika disodorkan suapan ke enam. "Satu lagi, Daddy janji." Bujuk Harry lagi.
"Ramuannya tak usah." Pinta Albus, takut kalau rasa ramuannya tak enak.
Tahu dengan ketakutan Albus, Harry menunjukkan gelas kecil berisi ramuan berwarna hijau bening. Baunya sedikit lebih manis sebab Ginny menambahkan sedikit madu sebagai penetral rasa asam. "Mummy sudah beri madu yang manis di ramuannya. Hem.. baunya enak, Al. Kau pasti suka." Tunjuknya setelah sukses menyuapkan Albus sesendok sereal yang dijanjikan sebagai suapan terakhir.
"Nan—nanti mati bagaimana?"
Pertanyaan Albus terkesan tidak mendasar. Bagaimana pula tiba-tiba Albus berbicara soal kematian.
"Kau bicara apa, Al?"
"Kalau kebanyakan, bisa mati. Atau Mummy salah memasukkan ramuan, nanti rasanya tak enak." Albus menatap Harry bergidik. Ia mendorong gelas kecil di tangan Harry berniat menjauhkan. "Aku tak mau. Aku takut." Albus bersandar di dada Sirius. Sedikit melingkar seperti kucing.
"Albus.. Albus," Harry mengusap kepala putranya sayang. Anak itu sungguh lugu, "tidak akan terjadi apa-apa. Memangnya kamu pernah memasukkan sesuatu sampai ada yang mati?" tanya Harry langsung membuat Albus pucat.
"Tidak kan, lalu.. ah, kau pasti takut karena pancake tadi pagi, hem? Tidak akan, Mummymu itu sudah pandai membuat ramuan. Cium ini, wangi, kan? Daddy janji rasannya akan lebih enak dari biasanya."
"Benarkah?" mata Albus membulat. Ia tahu, ayahnya jarang berbohong. Jarang.
"Hem, pencet hidungmu kalau perlu, nak." Bisik Sirius di telinga, Al. "Itu akan sangat membantu."
Harry muda ikut tersenyum dan mengangguk ikut membenarkan. Meski sedikit ketakutan, Albus menuruti saran Sirius dengan menyumpat hidungnya selamaia menenggak habis ramuannya. "Oh, anak pintar!" puji Sirius.
"Selesai. Sekarang, kau mau Daddy temani istirahat atau bersama Granddad Siri?"
"Grandad Siri.. dan Daddy kecil"
Sirius terlonjak begitu semangat, menciumi kepala Albus sampai anak itu tertawa kegirangan. Entah mengapa Harry mudapun merasa senang Albus ikut memilihnya. Harry dewasa sedikit lega sebab ia pun berharap Albus bisa cepat beristirahat selama ia membantu Ron dan George membuat portal sihir.
"Ya sudah, Daddy tinggal dulu, ya. Istirahatlah. Kalau ada apa-apa, panggil Daddy. Kalau Granddad Siri nakal, jangan dipukul. Adukan ke Daddy. Kalau Daddy kecil.. dia tak akan macam-macam, nak. Karena walaupun masih kecil, itu juga Daddy."
Albus terkikik membenarkan. Ia mulai sadar jika ayahnya adalah orang baik. Kalaupun marah, itupun karena kesalahannya. Delphi salah. Daddy sangat baik, Daddy baik sekali, batin Albus sambil terus mengamati wajah teduh ayahnya. Ia salah menilai.
"Istirahatlah, little dragon!"
Dan Harry perlahan menjauh. Namun sebelum makin jauh melangkah, Albus kembali memanggil, "Daddy," serunya.
Harry berbalik. Tak sempat bertanya hanya mengerutkan dahi pada Albus.
"Sorry."
"Untuk?"
Albus tersenyum lantas menggeleng. "I love you, Daddy!"
"Oh.. I love you too, Albie."
TBC
#
Happy new year, semua!
Hi, tiba-tiba Anne nongol di belakang. Hehehe.. I'm so sorry, Anne baru bisa muncul dan ngelanjutin fic ini sekarang. Jujur, Anne sibuk banget di kampus. Projek film pendek buat salah satu mata kuliah Anne bikin pusing tujuh keliling. Belum lagi masalah projek-projek lain yang akan datang pertengahan tahun nanti tapi sudah mulai dipikirkan jauh-jauh hari. Huft, mungkin Anne akan berusaha lagi buat cari-cari waktu nulis. Karena Anne rasanya terus kebayang-bayang kalau nggak selesaiin fic ini. Semoga nggak lupa sama ceritanya, ya.
Sekali lagi mohon maaf karena keterlambatan yang sangat parah ini. Ngomong-ngomong tahun baru.. sebenarnya Anne juga mau nulis spesial buat fic tahun baruan. Cuma ya gitu, deh. Belum ada kesempatan. Tapi kalau Anne boleh minta saran, ada yang mau Anne buat fic (one shoot aja) soal tahun baru? Pair apa kalau iya?
Tulis di review, ya. Maaf kalau review sebelumnya nggak sempat kebalas. Anne seneng banget kalau ternyata masih ada yang simak fic ini. Hehehe thanks.
Maaf kalau typo masih bersebaran. Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Masih berlanjut loh!
Thanks,
Anne xoxo
