Hi, everyone!
Anne is BACK! I'm BACK! OMG.. Anne kayak menghilang gitu, ya.. hahahaha sorry.. akun Anne nggak tau kenapa suka logout dan itu bikin Anne bingung. Kalau mau update lewat app di tablet juga nggak bisa. Jadi.. sorry banget. Tapi bagi yang suka kepoin Anne, Anne masih sering muncul kok, tapi di Wattpad.
Beberapa fanfic ada yang Anne post di Wattpad. Bahkan ada yang Anne tambah chapternya dan kasih multimedia sebagai ilustrasi YANG NGGAK PERNAH ANNE PUBLISH DI FFN. Penasaran?
Bisa buka Wattpad Anne ya.. di at SifahNur.
Nah, udah lama kan Anne nggak update, kali ini Anne lanjutkan Outsidenya. Hem.. agak panjang dari yang kemarin, dan konfilknya Anne tambahin. Biar deg-degan. Ada apa di chapter ini? Penasaran.. Mungkin Anne langsungkan saja, ya! Anne belum bisa balas review kalian, readers. Sudah malem juga ini. Tapi tenang, Anne selalu baca review kalian semua, kok. Thanks banget ya.. luv you all!
Oke, langsung cus, yuk! :)
Happy reading!
Entah hari ini ataupun dua hari mendatang—paling lama, George dewasa menjanjikan portal rancangannya bisa berfungsi dan membawa mereka yang dari masa depan pulang ke waktu asal mereka.
Bahaya jika terlalu lama mereka harus tinggal di masa lalu. Masa itu tidak aman. Belum lagi urusan perbedaan waktu antara masa depan dan masa lalu pasti akan berdampak meskipun sedikit. Mereka tidak ada yang tahu pasti, bagaimana perputaran waktu yang nantinya terjadi ketika mereka semua pulang. Apakah waktu sepanjang mereka berada di masa lalu sama dengan lama mereka menghilang di masa depan. George pun mengaku jika waktu mereka masuk ke masa lalu terhitung sama dengan masa depan. Meski ia sempat menghitung terjadi perputaran waktu yang aneh ketika memantau di beberapa kesempatan sebelum menyusul.
Jika bermasalah dengan perbedaan dimensi ruang dan waktu bisa diatasi, George berharap kali ini usahanya tidak sia-sia.
"Asalkan kita pulang." Tutur George.
"Dan selamat." Sambung Hermione.
"Aku rasa masalah itu sudah jelas, Hermione. Kita akan pulang seolah berDissaparate. So, semuanya aman."
Tidak jauh dari kerumunan para orang dewasa di salah satu ruang kosong, Arthur Weasley, sendirian mengasuh kedelepan anak masa depan dengan perasaan bahagia sekaligus sedih, timbul tenggelam bergantian. Berhari-hari mereka menemani Arthur dengan celotehan dan keributan khas anak-anak. Mereka semua mengingatkan Arthur tentang anak-anaknya sendiri.
Arthur rindu ketika putra-putranya kecil dulu, bertengkar karena berebut bola Muggle hasil pemberian seorang Muggle tua yang ia bantu akibat insiden sihir nyasar. Arthur pun rindu putri kecilnya berbisik pelan mengajaknya bermain pesta minum teh bersama sepulangnya ia bekerja. Ia rindu, membacakan cerita sebelum tidur dan mengucapkan selamat tidur pada ke tujuh anaknya. Lama sekali rasanya itu berlalu. Namun kedatangan anak-anak yang ternyata cucunya dari masa depan mengobati semuanya. Hanya saja, Arthur harus ingat jika itu bukan waktu yang tepat. Nanti ia akan jadi kakek. Bukan sekarang. Dan mereka semua memang harus segera pulang.
Arthur mengangkat Hugo dari atas bantal duduk dan memangkunya. Arthur dan anak-anak kali ini memilih nyaman dengan saling berkumpul, duduk di atas karpet berbulu halus untuk saling terbuka. Bercerita tentang kebiasaan mereka ketika di rumah bersama orangtua mereka.
"Anggap saja kalian baru saja berlibur di tempat yang jauh. Nah, apa yang biasanya kalian lakukan setelah sampai di rumah?"
Arthur mengibaratkan anak-anak itu sedang berlibur. Di tempat yang sangat jauh. Bukan waktu. Dengan begitu, ia menginginkan anak-anak tidak membuat hilangnya mereka di masa lalu sebagai sebuah kecelakaan yang menakutkan.
"Membuka oleh-oleh," jawab Louis. Matanya tertuju pada James kemudian beralih ke Arthur. "Semua orang yang berlibur akan pulang membawa oleh-oleh. Beberapa makanan, permen, boneka, gantungan kunci, kartu post—ya Auntie Gaby sering membawakan kartu post bergambar menara Eiffel selain eclair vanila. Aku tak tahu untuk apa kartu post itu kalau menulis di perkamen kotor pun masih bisa. Aneh, kan?"
"Itu kebiasaan Muggle, Lou. Dad bilang Muggle suka mengirim kartu post untuk menulis surat singkat." Celoteh James langsung mendapat anggukan setuju Rose sebab ia juga tahu masalah itu dari ibunya.
"Ucapan natal juga." Sambung Fred Jr.
Albus sempat melihat Arthur tak berkedip melihat keseruan Louis, Fred Jr, dan James saling menjelaskan oleh-oleh apa yang ingin mereka bawa untuk pulang nanti. Rose terkadang terdengar menyahut dan memprotes kata-kata James atau Fred Jr yang terus membual.
Aneh memang jika mengingat mereka bisa saja pulang di tempat yang sama. Grimmauld Place, hanya saja berpuluh tahun kemudian dari masa itu. Jangan lupakan mereka hanya berbeda waktu.
"Kita bisa saling berkirim kartu pos juga kalau Granddad mau. Aku pernah melihat Daddy mengirim kartu pos untuk temannya yang Muggle."
Penuh kepolosan, Albus tersenyum melihat kakeknya begitu senang dengan usulannya. Arthur mengusap kepala Albus dengan satu tangannya yang tidak digunakan memegangi Hugo di pangkuannya.
"Boleh, Al. Boleh sekali. Tapi kirimkan pada Granddad yang ada di waktumu, ya. Sama saja, kan?"
"Ya," Albus tertawa menyadari pasti ada dua kakek Arthur seperti ayah, ibu, paman maupun bibinya sekarang, "benar sekali, Granddad Arthur kecil."
"Aku sama sekali sudah tidak kecil lagi, nak."
Dan semua ikut tertawa. Terlalu asik dengan perbincangan mereka sampai suatu hal kecil yang tak pernah mereka harapkan sedang terjadi begitu dekat.. dengan mereka. Sosok kecil berambut merah dengan pita ungu kecil terselip rapat di atas rambutnya merangkak cepat menepi ke sisi pintu. Ia menoleh melihat para kakak dan sepupunya masih sibuk berbagi cerita, sementara beberapa meter di hadapannya kini, ayahnya masih sibuk dengan sebuah kantung hitam mirip bekas kantung kentang minimarket yang pernah ia beli dengan ibunya.
Mereka semua sibuk dan Lily ingin bermain. Bukan bercerita atau tidur siang.
"Hey, gadis kecil."
Suara yang lembut mengalihkan perhatian Lily menuju arah jendela. Seseorang memanggilnya dengan senyuman mengembang di wajah. Begitu bersahabat apalagi dengan sekantung biskuit yang ia tunjukkan kepada Lily. Itu sungguh menggodanya untuk langsung mendekat.
"Aan gi—"
Lily memangilnya untuk jangan pergi dari jendela.
"Hey, kau kenapa, cantik?" tanyanya sambil membuka jendela. "Mereka pikir kau tidur sampai tak ada yang memedulikanmu? Kasihan."
Tangan kecil dibalik jubah gelap itu pun terjulur masuk ke jendela, terayun pelan lantas bergerak naik memerintah badan Lily untuk turut naik, melayang ke udara. Angin masuk lembut ke sela-sela pakaian Lily yang terbuka akibat desiran angin dari jendela. Badannya terangkat tanpa di sentuh. Secara perlahan angin membantunya kembali turun dan mendarat di pinggiran jendela. Ia duduk nyaman di atas pembatas kecil setinggi dua kali tinggi badannya sendiri.
Lily berusaha mengayuh kantung yang ditunjukkan kepadanya, tapi tidak kunjung ia dapatkan. Lily marah dan mengerang tak jelas menginginkan kantung itu. Ia dipermainkan.
"Jangan, ini punyaku. Kalau lapar, mintalah pada ayahmu. Ia akan memberimu banyak sekali kue."
"No.. tu!" Tunjuk Lily masih menginkan kantung berbau kacang merah panggang. "i—tu!" mintanya lagi dan lagi. Badannya semakin depat di pinggiran jendela.
"Astaga, kasihan sekali kau, gadis kecil. Kalau begitu, aku gantung di sini, ya. Kau ambil sendiri, karena aku mau pulang. Ini sudah sangat sore.. Potter."
Dan ia menghilang begitu saja. Meninggalkan satu kantung kue di pinggiran luar jendela, Lily yang tercengang dengan kepergiannya, dan kondisi jendela yang terbuka.
"Kita harus menunggu bubuk-bubuk ini saling bercampur sebelum bisa membuat portal. Kurang lebih 24 jam sampai benar-benar siap. Kita tidak mau mengambil risiko menggunakannya saat belum sempurna, kan?"
George dewasa menyodorkan kotak sebesar tempat tisu berisi campuran bahan yang telah dibeli sebelumnya pada Harry dewasa. Kotak itu yang nantinya akan jadi portal pengantar mereka pulang ke masa depan. Sihir ikut bekerja dalam kotak itu sehingga membutuhkan waktu untuk bekerja sempurna sampai benar-benar bisa digunakan.
"Simpan di mana ini? Jangan sampai isinya tersentuh anak-anak." Harry dewasa siap mengangkat kotak itu untuk diamankan. Beberapa orang ikut membantu membereskan perkakas yang telah selesai digunakan dan sebagian yang lain mencari tempat yang aman untuk menyimpan kotak portal itu. Hanya itu satu-satunya jalan membawa mereka pulang.
Sebagian bingung di mana tempat yang aman di Grimmauld Place. Semua sudah penuh dengan barang-barang. Belum lagi mainan dadakan yang Sirius dapat untuk hiburan para bocah di rumahnya. Sampai akhirnya sorot mata Harry muda tidak sengaja tertuju ke arah jendela, di sana separuh badan Lily keluar dan badannya hanya sempat berpegangan dengan satu tangan.
"MERLIN, APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA, LILY?"
Semua orang melihat arah yang kini Harry muda teriakan. Cepat-cepat, Harry muda berlari dan menangkap pinggang Lily kecil. Menggendongnya turun dari atas pembatas jendela. Semua orang mendekat. Ginny dewasa hampir menjatuhkan kuali kecil dari tangan sepeninggalnya dari dapur. Semua tercengang dengan kelakuan abnormal Lily.
"Apa yang kau lakukan, Lily?" tanya Harry muda susah payah memperbaiki kaki Lily yang melingkar di depan perutnya. "Ba-bagaimana bisa—"
"ARTHUR! Bagaimana kau menjaganya tadi, hah?" Molly murka. Ia sendiri yang mengijinkan Arthur, suaminya, menjaga anak-anak selagi yang lain sibuk melihat proses kerja penciptaan portal. Berawal dari Hugo yang nyaman dengan senandung pengantar tidur Arthur, anak-anak merasa tidak ada yang lebih baik dari kakek mereka selagi orangtua sibuk bekerja. Bukannya tidur, anak-anak tertarik dengan cerita soal oleh-oleh dan melupakan Lily.
Arthur mengecek kepala Lily dari pelukan Harry muda. Ia mengaku tak tahu dengan hilangnya Lily dari pengawasannya. Terakhir ia tahu, Lily dibiaran berbarik di atas matras empuk di sisi Hugo. Hanya itu, Arthur tak tahu jika akhirnya Lily bangun dan keluar sendirian.
"Dan naik ke atas jendela, Dad." Tukas Ginny.
"Sorry, Gin."
Disambarnya Lily dari gendongan Harry muda. Ginny dewasa terus berbisik pelan di telinga Lily memintanya tenang. Hal teraneh ketika sebenarnya ia sendiri tidak tenang.
"Itu tinggi sekali, sayang. Jangan ulangi lagi, okey!"
"Tapi aku rasa itu tidak mungkin, Gin. Ini memang tinggi untuk Lily.. dan tidak ada pijakan apapun untuk dia bisa naik ke sana."
Ilmu Auror Harry bekerja secepat mungkin. Ia meneliti area kemungkinan Lily dapat naik dan mampu membuka jendela sebesar di Grimmauld Place. Tidak ada meja, kursi, lemari, atau kotak dan sejenis barang berat lain untuk membantu Lily naik. Di sana hanya ada jendela tunggal yang jauh dari meja tempat hiasan lampu kecil.
"Sesuatu baru saja terjadi di luar kemampuan Lily, Gin."
"Maksudmu, Harry? Lily tidak melakukannya sendiri? Jangan bercanda—"
Remus menyadari keanehan itu. Lily hanya bayi sebelas bulan yang membutuhkan tangan orang lain untuk sekadar membantunya berjalan. Apa bisanya naik ke atas jendela dengan cara merangkak dan membuka engsel jendela hingga setinggi itu. Sebegaimana yang dicurigakan Harry dewasa, Lily seolah mengerti dengan tatapan sang ayah menggerakkan tangannya ke arah jendela yang terbuka menunjuk arah jendela.
"Dia menunjuk sesuatu." Kata Remus.
"Tu.. uwe.. uwe—"
Harry dan Ginny berpandangan memahami maksud Lily. "Kue?" ucap keduanya bersamaan. Mereka yang paling paham dengan bahasa putri mereka sendiri.
Tonks memilih naik ke pinggiran jendela untuk membuka pengaitnya lebih lebar. Benda tergantung di luar jendela sempat membuatnya berpikiran sedikit tak masuk akal. Hati-hati Tonks mengambilnya dari selipan jendela. Ia turun lantas menunjukkan apa yang ia temukan di luar jendela.
"Kue. Ini benar kue. Siapa yang mengantungkan kue ini di luar?" tanya Tonks.
Sebuah kue isi kacang merah dikeluarkan sebagai bukti. Masih hangat dengan kepulan asap menyeruak keluar penuh aroma. Lily berteriak menginginkan kue itu tapi Ginny tetap menahan dirinya untuk mengajak putrinya mendekat.
"Hati-hati, bisa jadi itu ada racunnya." Sirius mengambil paksa kue isi itu dari tangan Tonks. Tongkatnya teracung dan melempar mantra penguji unsur bahaya dan.. boom!
"Bloody hell, sayang sekali kue itu." Kedua Ron saling melempar pandangan macam tak rela kue itu harus hancur. Ya, kue itu hancur dan artinya tidak ada hal berbahaya terkandung di dalamnya.
"Seperti ada yang mempermainkan kita sekarang."
"Maksudmu, Harry?"
Kini giliran Harry dewasa memeriksa jendela lebih cermat. Sesekali ia menengok arah luar jendela. Lama ia mengeluarkan kepala tanpa ada suara. Tonk sempat ikut mengungkapkan kecurigaannya seperti Harry.
"Kue ini baru diletakan. Pelakunya mungkin masih ada di sekitar sini—"
"Ataupun mungkin tidak. Bisa saja ia berDissaparate pergi." Potong Harry dewasa akhirnya menyerah dengan pengamatannya. Ia sudah punya petunjuk meski masih samar.
Arthur menyadari itu. "BerDissaparate? Maksudmu pelakunya juga pe—penyihir?"
Harry membenarkan. Tidak ada yang bisa melakukan semua itu kecuali orang yang mempunyai kemampuan lebih. "Kita ada di lantai tiga sekarang. Apa mungkin seseorang naik ke atas sini dengan tangga untuk meletakkan kantung kue lalu menghilang begitu saja tanpa jejak?" tutur Harry menujuk jendela.
"Begitu juga tempat ini," Sirius masih bersiap dengan tongkatnya siap serang, "rumah ini diproteksi. Hanya penyihir yang bisa mengetahuinya. Itu pun tidak semuanya. Hanya orang-orang yang aku percaya dan.. tentu yang memiliki kemampuan lebih."
"Lalu penyihir itu berniat melukai putriku?" Ginny dewasa panik. Mengeratkan pelukannya pada Lily. Takut jika benar ada orang lain yang berniat jahat pada anak-anaknya. Pada Lilynya.
"Tenanglah. Aku tahu. Kita harus waspada dalam kondisi seperti ini, Gin. Anak-anak harus ada dalam pengawasan." Harry meyakinkan sang istri untuk tenang. Anak-anak kembali dikumpulkan dan agar mendekat pada Ginny dan Hermione dewasa. Mereka yang muda ikut membantu mengecek siapa semua anak telah berkumpul.
Hermione muda tertegun dengan hitungannya. "Siapa yang belum berkumpul, Ginny? Kenapa kurang satu—"
"Fred, dia tidak ada. Maksudku.. Fred Jr." Jawab Ginny muda mengulang pengabsenan anak-anak di dekatnya. Hermione dewasa ikut memperhatikan anak-anak yang ada. Dan bernar saja, Fred Jr tak ada.
Semua bersama-sama menyerukan nama Fred Jr. Hanya di area ruangan itu, tapi Fred Jr. tidak ditemukan. Louis dan James, sebagai teman terdekat Fred Jr. mengaku tidak tahu. James hanya bercerita jika terakhir ia melihat Fred Jr ketika mendengar Harry muda berteriak saat Lily di jendela. Ketika ia berlari mendekati kerumunan, Fred Jr. tak tampak bergegas keluar bersama yang lain.
"Aku hanya melihatnya duduk di karpet. Di sana." Louis menunjuk tempat ia dan para anak lain berkumpul bersama Arthur.
"Kau yakin, Lou—"
Dussss! Desingan angin kencang menggemparkan kesadaran banyak orang yang tak menyadari sesuatu baru saja terjadi di lantai atas.
"AAAGGGHHH!"
Suara Fred Jr tiba-tiba terdengar kencang dari lantai atas. Berteriak melawan suara angin. Harry muda, yang berdiri paling dekat ke arah tangga paling awal berlari dan naik secepat ia bisa. Apapun yang terjadi Harry muda tak peduli dengan tongkat yang siap di tangannya. Ron muda terdengar memperingatkan sahabatnya untuk tidak melakukan sihir di luar sekolah lagi. Namun rasanya, teriakan Ron muda tidak didengar.
"Hey, si—siapa kau.. kau yang membuat Lily hampir terjatuh di jendela—"
"Tentu, siapa lagi?"
"Siapa k—kau sebenarnya? Jawab! Lepaskan Fred, dan.. astaga apa yang kau lakukan dengan kotak itu?"
Kotak portal yang sengaja disimpan oleh George dan Harry dewasa rupanya telah terbuka menghadap seorang gadis berjubah hitam, dimana Fred Jr sedang berada dalam sekapannya.
"Aku sadar ternyata yang aku butuhkan bukan kau lagi. Setelah melihat kotak itu, aku bisa melakukannya lebih baik dari sebelumnya. Dengan tanganku sendiri tanpa meminta bantuan anak cengeng itu untuk membunuhmu. Ah, anak perempuan itu hanya untuk pengalih perhatian saja. Masih aman, kan?"
Harry muda tertahan. Mengingat-ingat siapa yang dimaksud.
"Albus? Lily?"
"Benar sekali. Mereka payah. Anak-anak masa depanmu payah. Dan harusnya kau sudah mati sekarang agar aku bisa membuat Daddy tetap hidup dan aku bisa bertemu dengannya. Tapi apa? Semua gagal. Saat aku siap membunuhmu, aku melihat ada kotak ini. Disitu aku tahu cara lebih baik, aku bisa membunuhmu sangat mudah dengan tanganku sendiri di sana. Dan Daddy pasti akan sangat bangga padaku karena dapat membunuhmu.. aku akan membantunya.. merubah sejarah."
"Uncle Harry—help!"
"Lepaskan Fred, kau.. aku mohon kau lepaskan dia!"
Delphi menggeleng. Semua sudah menjadi rencananya. "No, aku hanya ingin kau diam di sana, dan biarkan aku memiliki kotak itu. Atau kalau tidak, anak ini akan mendapatkan konsekuensinya."
Harry muda mengacungkan tongkatnya siap membantu Fred Jr. "Tidak, lepaskan. Kau tak bisa melakukan apapun dengan kotak itu.. kotak itu masih belum stabil—"
"Harry—"
Suara derap langkah beberapa orang mengejutkan Delphi dan Fred Jr. Hadangan Harry muda semakin membuatnya terdesak. Tidak ada jalan lain. Delphi harus bekerja cepat.. dan mengambil resiko.
"Oh, shit!" makinya dengan segera meraih pusara dalam kotak portal.
Tubuhnya tersedot masuk bersama Fred Jr tepat saat kerumunan orang datang dari lantai bawah. Harry muda panik lantas dengan spontan ia ikut melompat dalam pusara portal yang masih terbuka.
"NO!"
Terlambat. Portal itu tertutup.
"Oh, no, Fred! Fred!" George dewasa hanya bisa menahan pergerakan kotak portalnya setelah menutup. Menahan gerakan liar di sana, mencegah untuk kotak itu benar-benar tetap berada di sana. Kotak portal itu bisa saja hilang mengikuti sang penjelajah waktu dalam beberapa menit. Jika ditahan oleh seseorang, kotak portal itu tidak akan bisa ikut masuk dan hilang. Sehingga ada kemungkinan portal dapat bisa digunakan lagi.
"Merlin, kemana mereka pergi? Lalu siapa orang kerdil itu?" tanya Hermione dewasa.
"George—" panggil Harry dewasa.
"Fred.. Oh Lord, my son. Aku harus mencarinya. Aku harus mencarinya."
Beberapa orang langsung menahan George dewasa untuk tidak bertindak gegabah. Memang hanya George dewasa yang paham cara kerja portal itu, namun bukan seperti itu cara yang bisa diambil untuk menyelamatkan Fred Jr dan Harry muda yang masuk dalam pusara portal.
"Kita harus tenang dulu, George. Kita akan pikirkan bersama." Ron dewasa membantu George untuk duduk. Fred muda ikut mendekatinya membantu memberi pengertian.
"Tenanglah, Georgie. Putramu bersama Harry. Mereka pasti akan berusaha bertahan bersama. Harry bisa melindunginya."
George dewasa terus menggeleng. Suaranya berat menahan tangis dan luapan emosi paling tinggi di kepalanya. "Tapi mereka masuk bersama sosok aneh.. yang—aku tak tahu dia berbahaya atau—"
"George. Kita akan melakukan sesuatu. Mereka harus kembali. begitu juga kita semua harus kembali ke masa kita," Ron dewasa bersuara sedikit keras.
"TIDAK. KITA TIDAK AKAN PULANG SEBELUM PUTRAKU KEMBALI!" George murka.
Fred muda memeluk tubuh George yang bergetar hebat. Pelukan Fred seolah meringankan sejenak ketakutannya kehilangan Fred Jr. Tatapan saudara kembarnya yang telah lama pergi itu menyampaikan pesan dalam. "Kau tidak sendirian, Georgie. Fred itu putramu, dan dia adalah keponakanku. Dia menyandang namaku dan aku berhak untuk ikut membantunya kembali." kata Fred.
"George, aku yakin kita bisa membawanya dan Harry kembali. Membawa kalian pulang. Setidaknya kau harus tenang dulu, Fred ada bersama Harry di sana. Harry bisa menjaganya."
Harry dewasa bergantian ikut mendekati George dewasa. Ia berbisik akan membantu menyelesaikan semuanya dan membawa dua orang itu kembali.
"Kita akan membawa mereka kembali. Tenanglah, kita bisa melakukannya bersama."
"Yeah," George dewasa mengusap airmatanya siap kembali kuat, "kita harus membawa mereka kembali, Harry."
Pria tinggi dengan rambut acak-acakan asik menyikat giginya di depan cermin kamar mandinya. Di badannya melekat piama garis-garis vertikal makin membuatnya tampak makin tinggi. Suara senandung lagu nina bobo terdengar aneh ia lagukan. Belajar bernyanyi apa salahnya. Toh itu untuk anaknya sendiri, batinnya menyemangati diri sendiri. Setelah selesai berkumur, ia kembali bersenandung. Suaranya lebih jelas menyanyikan lagu London Bridge dengan nada ceria dan tak tahu notasi. Yeah, ia sudah selesai menyikat giginya dan bersiap menemui pria kecil yang tengah menunggunya di kamar tak jauh dari kamarnya dengan sang istri.
Brakk!
Baru saja ia membuka pintu kamar mandi, suara benda terjatuh mengagetkannya hingga terlonjak. Suara itu berasal dari halaman depan rumahnya. seperti benda berat baru saja dibanting.
"Siapa itu, ya? Malam-malam begini—" ia terus berjalan menuju arah depan rumahnya. Semua lampu sudah dimatikan. Ruang tamu pun gelap, hanya satu lampu kecil yang masih menyala di teras depan.
Pelan-pelan, pintu depan terbuka. "Merlin's beard!"
"James, siapa yang datang? Harry sudah menangis mencarimu—Oh, astaga. Siapa mereka? Kenapa yang besar mi—mirip sekali denganmu, James?"
Dua sosok yang tergeletak di depan pintu tak tahu, jika mereka tengah berada dalam masa yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya.
TBC
#
Aduhhh.. hayo itu siapa? *nyengir*
Outside masih akan berlanjut. Siapa yang masih setia nunggu! Anne tetap akan selesaikan fic ini, hanya ... butuh waktu.
Oh, ya siapa yang di sini orang Palembang? Beberapa bulan nanti Insha Allah Anne bakal ke sana.. Bisa cerita-cerita nih gimana sih Palembang itu? Anne baru pertama kali nanti ke sana.
Oke, Anne tunggu review kalian! Maaf kalau masih ada typos. Tunggu kejutan lain di chapter mendatang, ya! ^_^
Thanks a lot!
Anne xoxo
