Hi, everyone!
Akhirnya bisa muncul lagi di ffn. Anne banyak urusan. Anne juga UAS dan sempat ujian film. Sebenarnya Senin lalu udah selesai. Tapi Anne clearin sekalian jadi kalo balik nulis lagi ffn ini bisa tenang. Anne sukanya kalau pas nggak banyak kerjaan aja kalau nulis di sini. Dan kemunculan Anne ini, Anne mau bilang kalau chapter mendatang akan Anne usahain lebih cepat updatenya. Mumpung liburan gitu. Jadi free selain kesibukan nulis, masak, nonton, dan ngegame, wkwkwk..
Ok, untuk info aja, ya. Sebenarnya Anne masih suka pantengin fanfiction kok. Baca-baca dan biasa coba nulis juga. Tapi di Wattpad. Nah, ada beberapa judul fic Anne yang post di sana. Untuk judul The Bravest Journey dan I Wont You to Need Me, Anne kasih spesial di Wattpad. Ada tambahan ekstra partnya. Jadi yang mau tahu kisah singkat apa setelah kisah itu Anne tamatin di FFN ini. KArena kalian nggak bakal bisa baca di ffn, extra part cuma ada di Wattpad. So, yang penasaan bisa baca di Wattpad Anne (at SifahNur) dan jangan lupa follow juga :) *kedipin mata*
Sebelum balik baca lanjutan cerita Outside dimana kali ini kalian akan Anne ajak masuk lagi ke masa yang berbeda, Anne balas review dulu. Udah kangen! (balasan review ini Anne rapel dari review chapter-chapter sebelumnya) :)
ANNE UCPKAN DULU TERIMA KASIH YANG SEMPAT MENDOAKAN DOSEN ANNE YANG MENINGGAL BEBERAPA MINGGU LALU. SEMOGA DOA KALIAN BISA TERSAMPAIKAN HINGGA KE BELIAU. AMIN.
Dinda chan: thanks ya.. kali ini agak panjang kok :)
sakawunibunga: terima kasih doanya, ya. Yups, Delphi di HPCC memang anaknya tu uncle botak nan pesek. Hehehe :)
AMAZING: hai, wah liburan ke jatim nggak bilang-bilang, nih, hehehe.. aku kan orang jatim. Ke kota mana? *kepo* Terima kasih doangnya dan happy new year to u too. Iya, nih. Harry muda sama Fred Jr nyasar lagi, kasihan ya, wkwkwkw :)
ninismsafitri: lahhh bingung mau panggil siapa.. Lily, Auntie Lily, atau Grandma Lily? wkwkwkw ^_^
amandadavina31: hayo tebak siapa yang punya itu rumahhh baca chapter ini, ya! :)
Afadh: lah kenapa bingung? Kurang konsentrasi, nih *panggil tukang jualan Aqua* OK, chapter kemarin itu si Delphi kan sandra si Fred Jr karena nyuri portalnya. Harry muda sempat ngejar lebih dulu ke lantai atas dan wussss ikutan ngilang. Dan.. terdamparlah di chapter 22 ini, wkwkwkw.. baca ini, deh. Ceritanya aku buat ketemu 3 generasi sekaligus! :) wehehehe doain dulu moga berjaya nanti di Palembang, jangan makanan terus kayak Jamie :P
Dramionepotermore: maaf ya nunggu lama. Selanjutnya aku usahain cepat, deh. Thanks! :)
Baiklah, kira-kira udah cukup dulu. Siap buat masuk ke masa yang berbeda? Mari kita baca!
Happy reading!
James Potter, memukul-mukul pundaknya selepas satu tubuh terakhir berhasil ia pindahkan dari teras menuju sofa panjang di dalam rumah. Seorang remaja belasan tahun itu masih tak sadarkan diri, sama seperti dengan anak kecil yang pertama dipindahnya. Lily, istrinya hanya bisa diam mengamati wajah si remaja. Seluruh perhatian Lily tertuju padanya. Ia mirip sekali dengan James, begitu juga Harry. Bayi kecil di gendongannya tengah terlelap akibat kelelahan menunggu sang ayah datang menemaninya tidur.
Sepasang suami istri itu saling berhadapan, memilih tak bicara meski isi kepala mereka sama. Menanyakan siapa sebenarnya kedua orang itu dan untuk apa mereka datang.
"Mereka sebenarnya siapa, James? Kenapa anak ini begitu—"
"Aku tidak tahu. Kau lihat sendiri kan tadi kalau mereka tiba-tiba ada di teras rumah kita dalam kondisi seperti ini—ahh, astaga berat juga badan mereka."
Lily merundukkan badan memeriksa keadaan keduanya. Paling tidak ia bisa mengetahui sehat tidaknya mereka dengan mengecek suhu badan. Hanya memeriksa singkat pada dahi, Lily menggeleng dan memutuskan kembali berdiri di dekat James. Tidak ada yang aneh dari kedua anak itu. Hanya sempat terasa dingin di permukaan kulit, itupun karena keduanya sempat berinteraksi langsung dengan suhu dingin di luar rumah.
Mereka kedinginan. Lama-lama Lily pun tak tega. Terdengar letupan api menyala dalam tumpukan kayu kering dari lubang perapian. Ayunan tongkat Lily bergerak dengan cekatan, beralih mengarahkan ujung tongkatnya menuju salah satu sudut rumah yang lain. Pintu lemari coklat berukuran besar di ruang laundry jadi tujuannya. Terbuka dengan sendirinya. Dua buah selimut tebal keluar beriringan lantas melayang bergerak menuju arah ujung tongkat Lily. Terus bergerak, terbuka, membentang dan menyelimuti kedua tubuh para tamunya.
"Kasihan mereka." Bisik Lily sambil mengusap kepala yang lebih muda. "Apa orangtua mereka tahu kalau berada di sini—"
"Ya, lalu siapa orangtuanya?" James memotong cepat, "berikan Harry padaku, sayang."
James menimang putranya. Sudah semakin malam untuk Harry kecil terus di ajak kelayapan meski masih di dalam rumah. James berpesan agar Lily tetap berjaga di dekat kedua tamu misterius mereka itu selagi mengantar Harry kecil ke kamarnya. Biar, James percaya Lily bisa menjaga diri untuk beberapa saat saja. Ia akan cepat kembali.
Tidak biasanya, para keluarga di kawasan Godrics' Hollow bertamu di malam hari. Kecuali biasanya di malam natal atau perayaan yang lain. Pengemis dan gelandangan juga sepertinya tidak pernah muncul di sana. Lily tidak mau lebih lanjut menilai dua anak itu sebagai anak-anak brandal yang suka mabuk tengah malam. Bau-bauan seperti minuman keras Muggle atau wiski api juga tak tercium yang artinya anggapan Lily itu salah. Toh dua anak itu belum cukup umur untuk diperbolehkan 'minum', selain mereka sendiri yang nakal. James saja selalu ia larang untuk mengkonsumsi wiski api, apalagi mencoba minuman alkohol Muggle.
"Tidak mungkin, wajah-wajah mereka terlalu polos untuk—suka mabuk."
Badan si remaja menggeliat. Lily takut jika kehadirannya akan membuat anak itu terkejut. Jarak mereka begitu dekat. Lily merubah posisinya untuk duduk di sofa tunggal tak jauh dari si remaja. Dari arah itulah, Lily begitu leluasan memperhatikan lekuk wajah khas dari remaja itu. Kelopak matanya, bagaimana sudut bentuk hidungnya, serta lekuk bibir itu.
"Mengapa mirip James?"
Selain mirip dari segi rupa, cara tidurnya pun tidak jauh dari sang suami. Posisi apapun, salah satu tangan akan menjadi tumpuan di bawah leher. Tidak hanya ketika terlentang, berbaring miring, biasanya James suka menekuk tangannya. Jika sudah seperti itu, di pagi hari tidak jarang keluar keluhan berupa linu ini dan linu itu.
Setelah si remaja sempat menggeliat, kini giliran anak yang paling muda mengusik Lily. Ia mengigau pelan.
"Mana mainanku—lepas. Daddy mana—Uncle, lari!"
Bicaranya tidak jelas. Tangannya terangkat-angkat tapi dengan mata masih tertutup. Terasa tak nyaman bagi Lily untuk tetap diam dan membiarkan anak itu gelagapan sendiri karena mimpi buruk. Benarkah mimpi buruk, Lily tidak tahu.
"Nak, bangun! Ayo bangun, kau hanya bermimpi—"
Begitu lembut, sama sekali tak berefek. Anak itu bukan James yang bisa langsung ia bangunkan dengan kasar, menepuk pantatnya, atau sampai menamparnya hingga bangun. Hanya anak kecil, Lily tidak tega. Yang bisa Lily lakukan hanya berlutut di sisi sofa. Mengganjal tubuh anak itu agar tak terguling ke lantai.
"Daddy!"
"Hey, bangun—"
"Dad—aggh," anak itu terbangun. matanya mengerjap susah payah sambil berusaha menyibak rambut merah kecoklatannya. "Hey juga." Responnya aneh melihat Lily.
Lily menyambut kesadarannya dengan senyuman hangat. Begitu teduh dengan lingkaran iris mata hijau beningnya. Samar-samar, suara serangga masuk berbaur dengan dinginnya malam. "Selamat malam," sapa Lily.
"Aku di mana—anak itu mana? Leherku dicekik.. begini—eeggghh!"
"Anak? Ma—maksudmu.. dia mencekikmu?"
Lily membalik. Memperlihatkan sosok lain yang sedang tertidur tak sadarkan diri di sofa lain tak jauh darinya. Masih terlelap tanpa ada pergerakan sedikitpun.
"Uncle Harry kecil, Uncle? Uncle! Bangun—"
"What—hey, tunggu!" tahan Lily. Anak itu dengan seenaknya bangun dan ingin membangunkan si remaja. Suaranya kencang sekali. Bisa-bisa, bukannya bangun malah sakit jantung terkejut dengan caranya membangunkan. Ya, walaupun biasanya ia melakukan hal yang sama pada James jika suaminya susah sekali untuk dibangunkan.
Anak laki-laki itu menatap Lily bingung. Ia ditahan agar diam dan tidak melakukan apa-apa. "Putraku juga sedang tidur, ia masih bayi jadi tolong pelankan suaramu." Pinta Lily menuntun anak itu kembali duduk.
"Tapi, kenapa Uncle Harry kecil tidur di sana? Lihat—ia tertidur? Terluka? Ada apa dengan Uncle Harry kecil—"
"Uncle Harry kecilmu tidak apa-apa, nak. Ia hanya terti—sebentar, Uncle Harry.. kecil—"
"Lily, siapa yang berteriak? Kau baik-baik saja?"
James datang tanpa Harry kecil di gendongannya. Menguap lebar sesampainya ia melihat Lily masih bersama dengan kedua tamu mudanya. "Wow, anak itu sudah bangun, sayang?" tanyanya sambil melirik aneh bocah laki-laki yang kini terbangun.
"Astaga, Uncle Harry? Kau juga di sini?" teriak si anak itu lagi. Sama terkejutnya ketika Lily menunjukkan si remaja.
"What? Uncle? Harry? Harry di kamarnya, buddy."
"Hah? Tapi, kau mirip dengan Uncle Harry—ah, bukan. Uncle Harry masih punya kumis dan jenggot tipis di Grimmauld Place sana. Sedangkan kau tidak." Ujarnya menunjukkan letak area bibir, membayangkan jika ia sendiri punya jenggot dan kumis.
James dan Lily saling pandang. Sesuatu yang janggal terjadi tapi mereka belum menyadarinya. Hingga anak laki-laki itu kembali bertanya tentang di mana ia berada kini. Rumah itu sama sekali belum pernah ia kunjungi.
"Ini di mana, ya?" Anak itu berdiri, mengelilingi ruang tamu. Tanpa ada rasa sungkan, ia menoleh kepada James dan Lily sebelum berbicara sesukanya. "Lou dan Jamie di mana? Kalian melihatnya? Kenapa hanya ada Uncle Harry kecil di sini? Dan kau yang mirip Uncle Harry besar, tidak lihat Daddyku, atau Uncle Ron, Auntie Mione, juga Auntie Ginny? Lalu Grandma—"
"Stop! Tolong berhenti, nak!"
"Hah?"
Anak itu diam. Menyisakan James mendelik kebingungan. "Merlin, anak itu cerewet sekali!" batinnya.
"Nak, rileks. Bicara pelan-pelan, OK!" pinta Lily berusaha lebih tenang. "Aku hanya—bingung. Tentang.. aduh, bagaimana ini. OK, aku mendengarmu sering menyebut.. Harry." Ia makin tak sabar untuk tahu sebenarnya.
Lily diam sejenak. Fokusnya beralih pada James. Meminta sekadar bantuan menangani tamu 'kanak-kanak'nya. "Kau juga menyebutku 'Uncle Harry' tadi. Aku kira kau mencari putraku. Tapi aneh juga, Harry baru satu tahun dan seingatku ia tak punya teman lain sebesar kau, bud! Begitu juga Harry lain yang kau sebut. Bayi tak punya jenggot." Kata James.
"Dan kau juga sempat menyebut dia—Uncle Harry.. kecil? Apa maksudnya?" tanya Lily kemudian. Dengan pertanyaannya itu, James makin tak mengerti.
Harry, Harry, dan Harry. Begitu yang didengar Lily dari pernyataan anak laki-laki itu. Sorot matanya juga tertuju beberapa kali ke si remaja dan juga James suaminya.
"Dia Uncle Harry tapi yang kecil. Di Grimmauld Place ada yang besar, Daddynya Jamie." Tutur si anak. Ia kembali memilih duduk karena tak ada yang bisa ia kenali di tempat itu.
"Daddy Jamie?" ulang James.
"Jamie. James, dia sepupuku."
Semua hal bercampur jadi satu. Anak itu terus menyebut nama-nama yang hampir setiap hari Lily selalu dengar dan sebut. James dan Harry. Nama suami dan juga putranya. Lily tidak yakin kebenaran ucapan anak itu padanya. Anak itu mencari ayahnya, kemudian pamanya, sepupunya dengan banyak nama-nama itu. Tapi, Lily bisa saja mengetahui siapa anak itu jika ia bertanya nama belakangnya.
Namun tiba-tiba saja, James menarik Lily minggir ke dekat tangga.
"Siapa anak itu, Lils?"
"Aku tidak tahu, James. Kau dengar sendiri, kan, dia saja berbicara seperti orang kebingungan."
Malam semakin larut, kejelasan dua orang misterius di Godric's Hollow itu belum juga terpecahkan. James dan Lily mengaku kebingungan sebab mereka dihadapkan dengan sosok anak kecil, yang bicaranya saja tidak tahu kapan harus berhenti.
James menarik Lily lebih dekat, wajahnya berubah makin serius. "Apa kau tak berpikir jika mereka berdua itu sengaja dikirim kemari oleh.. seseorang di luar sana?"
"Maksudmu?"
"Lily Potter," James geram, "mereka aneh, Lily. Ini masa-masa tidak aman. Kita di sini juga bersembunyi, siapa tahu mereka suruhan kau-tahu-siapa untuk memata-matai kita? Dia dengan enteng menyebut nama Harry, bahkan namaku."
"Belum tentu juga anak itu mencari putra kita atau mungkin kau, James."
Semua serba tidak jelas. Anak laki-laki itu kembali berkeliaran melihat-lihat barang yang ada di area ruang tamu. Satu persatu foto ia lihat, hiasan dinding, bunga dan tumpukan kertas di salah satu meja.
Lily kembali menenangkan James. Ditepuknya pundak James pelan lantas berkata, "aku melihat anak itu seperti melihatmu ketika masih di tahun ke lima, James. Bahkan cara ia tidur sepertimu, lihat." Tunjuk Lily pada sosok yang masih tertidur di atas sofa panjang.
James tidak memerhatikan jelas, hanya saja sekilas ia akui ada kemiripan dengan remaja itu. "Benar, mungkin saat Harry besar akan seperti dia." Jawabnya.
Mereka tidak mau berpikir terlalu jauh. Kedua anak itu sepertinya tidak berbahaya. Kalaupun berbicara melantur, Lily yakin salah satu dari mereka itu kebingungan. "Ah, hey." Panggil Lily berusaha lebih tenang. Ia meninggalkan James berdiri di dekat tangga dan kembali mendekat di sofa tunggal.
"Kalau boleh tahu, namamu siapa, nak?" tanya Lily. Ia sangat berharap pertanyaannya bisa membuka banyak fakta. Perasaannya tidak bisa dijabarkan dengan jelas sejak kedatangan kedua anak laki-laki itu. Lily harus menerima tamu misterius di saat ia dan keluarganya sedang dalam masa-masa bersembunyi. Pantaslah ketakutan James tadi terhadap keselamatan keluarganya. Meski demikian, Lily tetap waspada jika memang keduanya datang dengan niatan buruk.
Bukannya menjawab pertanyaan Lily, anak itu malah meringis menunjukkan gigi putihnya.
"Hey, nak. Siapa ayah dan ibumu? Kurang ajar sekali mereka membiarkan anak-anaknya kelayapan tengah malam—"
"James, jaga bicaramu." Lily lanjut menyarankan untuk diam selama beberapa saat agar anak itu menjawab. "Jangan mengumpat di depan anak-anak. Ingat." Pertegas Lily lagi.
"Baiklah, Uncle yang cerewet dan Auntie yang cantik. Dad aku bernama George Weasley dan Mum adalah Angeli—"
"Weasley?" Teriak James. "Aku pikir keluarga Arthur tak ada yang punya keturunan berkulit gelap—maksudku, aku tidak mau rasis, Lily sayang. Tapi, seingatku juga George, si kembar itu kan, masih balita? Arthur baru saja bercerita denganku di Kementerian beberapa hari lalu."
Anak laki-laki itu terbahak lepas membayangkan ayahnya disangka masih balita. "Oh, Uncle," serunya disela tawa, "kalau Dad dengar kau bilang ia masih balita, bisa diberi permen gatal kau nanti." Gelaknya.
"Hah? Memangnya Daddymu itu punya permen seperti itu?" James terpancing mirip anak-anak.
"Tentu saja, Dad punya toko lelucon terbesar di Diagon Alley. Aku selalu punya barang-barang seperti itu—Weasley Wizard Wi—"
"Tunggu," reaksi James berubah dari geram menjadi penasaran, "Weasley? Arthur Weasley, aku kenal pria itu. Tapi kau bilang Daddymu bernama George? Dan Arthur memang punya anak bernama George. Lalu kau siapanya? Anak? Anak dari seseorang yang masih anak-anak? Are you kidding me?"
Lily tidak suka jika James mulai melontarkan pertanyaan bualannya. "Begini, kalau kau kebingungan, kami mau bertanya soal Arthur. Kau bilang kau Weasley, dan Weasley yang kami kenal adalah keluarga Arthur. Kau kenal Arthur?" tanya Lily. James sudah diseret duduk di dekatnya.
"Grandpa Arthur?"
"Jelas, Lily. Anak ini pasti mata-mata—" James berteriak langsung mengacungkan tongkatnya. Namun dengan sigap, Lily menahannya.
"James, bukan seperti itu caranya. Turunkan tongkatmu!" Lily merapas tongkat James cepat.
"Loh, kenapa?" tanya si anak laki-laki itu dengan polos, "aku tidak nakal, kok. Grandpa Arthur orang baik. Grandma Molly juga. Kami juga penyihir, kami suka Muggle, kami tidak pernah di tangkap teman-teman Auror Uncle Harry, kami—"
"AAGGHH Harry lagi! Siapa sebenarnya Harry itu, bocah?!" James sudah tak tahan lagi. ia angkat tubuh anak itu dan didudukkan dengan kasar ke atas kursi kayu tinggi. "Katakan jika yang kau maksud bukan putra kesayanganku."
Lily tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya hanya sempat mundur ketika James menyeruak di depannya mengintrogasi bocah berambut merah kecoklatan itu.
"Bukan! Uncle Harry itu Uncleku. Ayah Jamie, Albie, dan Lily. Suaminya Auntie Ginny. Yang itu Uncle Harryku juga tapi kecil, masih kecil. Dia belum menikah, masih sekolah di Hogwarts."
"Iya, tapi Harry SIAPA?"
Anak itu menutup kedua telinganya tak tahan dengan teriakan James. Karena ikut tersulut emosi, ia membalasnya dengan turut berteriak. "HARRY POTTER!" pertegasnya. "KAU TAK TAHU, UNCLE CEREWET? Seluruh penyihir Inggris, bahkan di Amerika juga tahu Uncle Harryku! Kemana saja kau?"
"APA?"
Fred Jr menyentuh lengan Harry muda dengan penuh ketakutan. Dua orang dewasa di belakangnya terus memintanya untuk membangunkan paman kecilnya itu. Dengan tekanan seperti itu, Fred Jr bingung harus berkata apa jika Harry muda bangun nanti. Mengatakan jika mereka tersesat di waktu lain yang lebih jauh dari sebelumnya.
"Aku harus bagaimana, Grandma Lily."
"Kalau belum juga bangun, biarkan. Tak apa. Kasihan."
James dan Lily terkejut bukan main. Kedua tamunya ternyata datang dari masa yang berbeda. namun mereka adalah dua orang yang sangat dekat dengan pertalian darah dan keluarga. Fred Jr bercerita jika ia datang dari masa depan dan tersesat di masa Harry muda tinggal. Kemudian dengan sosok misterius yang sempat menyandranya, ia dan Harry muda akhirnya bisa tersesat di masa itu.
"Ini membuatku pusing." James menyandarkan punggungnya. Sedikitpun ia tak habis pikir, ia akan melihat putranya dalam kondisi sudah menginjak remaja.
"Dia Harry kita, James. Semakin besar ia terlihat seperti dirimu. Lihatlah." Bisik Lily tak henti-hentinya mengamati wajah Harry muda. Selimut yang ia pasangkan di tubuh Harry muda hampir saja jatuh. Lily dengan perlahan menaikkan kembali hingga menutupi tubuh Harry muda sampai bagian dada.
Lily tersenyum haru melihat lebih dekat raut wajah tampan putra sematawayangnya itu. Begitu tenang dan menenangkan. "Dia tumbuh." Bisik Lily lirih.
"Uncle Harry orang hebat, Grandma Lily. Kalau aku main ke rumahnya untuk bertemu Jamie, aku suka diajak bermain dan jalan-jalan. Kalau Auntie Ginny sedang sibuk, kadang Uncle Harry yang memasak, dan masakannya enak sekali. Apalagi pancakenya."
"Dia sudah menikah?"
Fred Jr mengangguk sambil tersenyum. "Dengan Auntie Ginny, Grandpa James." jawabnya.
"Ginny—putrinya Arthur?"
"Yups."
Dan tiba-tiba saja, terdengar suara rintihan di dekat telinga Lily. Harry muda terbangun.
"Uncle—" panggil Fred Jr. "Bangun, Uncle Harry kecil. Lihat siapa ini!"
Belum ada sahutan dari Harry muda. Matanya masih terpejam. Hanya badannya yang sedikit menggeliat pelan. Sendi-sendinya terasa kaku. Posisi berbaringnya juga terasa tidak nyaman. Terutama pada kakinya yang harus tertekuk.
Sedikit demi sedikit matanya terbuka, menguasai berkas cahaya lampu ruangan yang menyala tepat di langit-langit atas. "Fred, kau—kau di mana?" panggilnya pelan.
"Ini aku, dan ada Grandma Lily juga di sini." Fred Jr mengenggam tangan Harry muda sebagai tanda keberadaannya.
"Grandma Lily?"
"Dan aku juga, son."
Suara James menyadarkan Harry muda seutuhnya. Namun yang ia tangkap pertama oleh matanya adalah sosok wanita cantik berambut merah tergerai bebas di pundaknya. Ia tersenyum. Bahkan menangis haru.
"Harry, kau sudah bangun, sweetheart?"
"Mu—mum?"
"Ada yang sakit—"
"Ap—apa aku sudah ma—mati?" Harry muda langsung terbangun. Takut jika dari terseretnya ia dengan Fred Jr bersama anak perempuan misterius itu benar-benar mengantarkannya ke alam kematian. Semudah itukah, Harry muda berpikir ia benar-benar sudah mati dengan kehadiran dua orangtuanya. Mereka hidup, bahkan ibunya kini tengah menggenggam tangan kanannya.
Lily tersenyum dan memeluk tubuh Harry muda. Ia berbisik, "I love you, Harry."
Dan Harry merasakannya begitu nyata.
"Mum."
TBC
#
Harry muda udah sadar. Terus waktu ketemu orangtuanya,bagaimana perasaan Harry muda, ya? Dan Fred Jr harus ngapain? Apa kabar dengan Delphi? Apa rencananya nanti? Apa HArry muda dan Fred Jr bisa balik ke masanya masing-masing lagi?
Maaf, ya, kalau masih banyak typo. Untuk chapter selanjutnya Anne akan usahain cepet updatenya! Doain! Doain!
Yang mau kontak dengan Anne, sekadar say hi, chat ngasal, ngerjain Anne, curhat, kasih ide.. bisa di IG Anne at sifahnurifah, Twitter at si_fah, atau baca-baca tulisan Anne yang lain, extra part dari fic yang sudah kalian baca di FFN ini bisa di Wattpad at SifahNur.
Sampai jumpa di chapter mendatang! :)
Thanks! Luv u, readers!
