Hi, everyone!

Anne balik lagi. Kali ini chapter 23, ya. Aku binggung mau basa-basi apa ini, hehehe...

Oh ya, Anne rencananya mau buat fic yang mengharu biru lagi, nih. Gara-garanya Anne lagi suka banget nonton serial TV "This is Us". Ada yang nonton? Tiap episodenya selalu bikin nyesek. Ceritanya keren. Dan tahun ini pengen buat lagi yang bikin nangis-nangisan gitu. Tapi masih rahasia. Setelah Outside selesai pastinya. Setuju nggak?

Oke sebelum balik baca Outside, Anne balas review dulu.

ninismsafitri: hahaha ikutan bingung ya :)

sakuxhan: thanks ya udah balik baca. Ikuti terus :)

Dramionepotermore: nggak lama-lama, kok. Tapi kalo masih lama, maafffffffff :)

dinda chan: dibaca ulang biar nggak bingung. Atau ulang baca di chapter sebelumnya.

amandadaana31: hehehe.. disambung-sambungin aja. biar bisa saling keterkaitan ceritanya. Ikuti terus, ya :)

Dande Liona: untuk 'plot hole' yang kamu maksud, oke di cerita ini Sirius memang masih buronan. Tapi dalam masa bersembunyinya itu ada satu bagian yang tidak aku buat ceritanya keluar, salah satunya soal Sirius punya tongkat (lagi) selama dia ada Grimmauld Place. Seperti di film saat penyerangan bareng Harry. Sirius bawa tongkat buat berantem. Namanya orang bingung, kalau udah tahu ada masalah gawat, lari aja. Toh Sirius juga hati-hati dan sadar diri saat di luar. Oke, thanks ya. Aku juga suka miris kalau angkat cerita mereka yang udah nggak ada :')

Aliza858: wokeee ikuti terus updateannya :)

Afadh: Yuhuuu itulah kenapa Dad bisa jatuh cinta sama Mummy. Mirip Mummynya secara nggak langsung dan dia sadari. Lihat seberapa cerewetnya Fred Jr di chapter ini, wkwkwkw... :)

Baiklah, kira-kira udah selesai. Lanjut baca, yuk!

Happy reading!


"Aku hanya ingat Jamie pernah cerita tentang kakek dan nenek Potternya, Uncle Harry kecil. Aku juga pernah melihat foto mereka. Tapi sedikit lupa."

Fred Jr baru sadar, jika suami-istri yang menolongnya adalah kakek dan nenek sepupunya sendiri. Dulu, James pernah menunjukkan album foto lama yang memuat potret ayahnya ketika bayi bersama orangtuanya. Secara garis besar, keduanya tentu saja nenek dan kakek James, Albus, begitu juga Lily. Hanya saja, ketika melihatnya Fred Jr tidak mengingat jelas bagaimana rupa James dan Lily Potter senior di foto itu. Sampai akhirnya ia sadar bahwa sosok di foto lama keluarga James yang dulu pernah ia lihat, kini ada dengan nyata di hadapannya.

Sejak Harry muda tersadar, tidak ada kata lain selain menyebut 'Mum' dan 'Dad' secara bergantian. Beberapa kali. Ia tidak percaya orangtuanya hadir di depannya sekarang. Bukan seperti cermin itu atau batu itu. Jelas mereka hidup.

"Aku tak percaya—ini benar-benar kau, Mum?"

"Ya, aku juga tak percaya ini kau—"

Buru-buru, James mendekat dari arah tangga. Menangkup wajah Harry muda mendekatkan ke wajahnya. Tubuh Lily sampai-sampai hampir saja terjungkal ke belakang. Beruntung, Fred Jr datang untuk menahan.

"Kau benar Harry putraku. Bloody hell, kau tampan sekali, nak. Aku yakin banyak perempuan akan menyukaimu nanti." James membanggakan sesuatu yang mengejutkan Lily sebagai ibu.

Tangan Lily spontan menyentil telinga kiri James. "Kenapa harus perempuan, sih?" Ujar Lily. Tak bagus jika mengingat Harry yang sebenarnya ia asuh masih bayi. Kebiasaan menjaga lisan di depan putra kecil mereka.

"Tenang saja, Auntie Ginny adalah perempuan cantik, Grandpa James." Fred Jr penuh kebanggaan.

"Ginny? Istrimu?"

Harry muda mengangguk lemas. "Di masa depan. Ternyata aku menikah dengannya. Putri bungsu Weasley."

"Wow," James masih tak terkendali, "Lily sayang, bayi cantik si Arthur dan Molly yang lahir beberapa bulan lalu ternyata menantu kita. Oh Merlin. Kita berbesanan dengan Arthur. Aku pikir nasibku tak bisa bersatu dengan keluarga Weasley karena semua anaknya laki-laki. Tapi nyatanya, keturunan perempuan pertamanya akan menjadi Potter." James mengerang kencang tepat ia menyebut nama keluarganya.

Euforia James terkesan berlebihan. Terlampau jauh ia membayangkan apa yang akan berlangsung bertahun-tahun nanti. Tidak bisa dipungkiri, keluarga Potter memulai sejarah baru sejak James menikahi Lily. Perempuan berambut merah, yang mana menurut James perempuan seperti itu adalah tipe-tipe perempuan cantik dan luar biasa dalam segala hal.

"Tidak hanya rupa yang tampan, kau juga mewarisi seleraku, Harry."

Yang diajak bicara oleh James hanya bisa diam dan berusaha menahan malunya. Fred Jr menahan tawanya sampai wajahnya memerah. Ia paling suka seseorang dibuat malu bertubi-tubi. Meskipun itu adalah paman kesayangannya sendiri.

"Dan seingatku.. anak ini menyebut.. Jamie. Jamie punya ayah yaitu kau. Harry. Bisa kau jelaskan?"

"Aku punya nama, Grandpa Prongs. Fred. Fredie." Fred Jr cepat menyela sebelum Harry muda menjawab.

James memutar bola matanya sebal. Entah mengapa keusilan Fred Jr cukup menakutkan. "Oke, Fred. Tapi benar, kan? Siapa Jamie itu. Benar anak Harry?"

"Betul!" Fred Jr mengacungkan jempolnya setuju.

"Ceritakan! Ceritakan Harry, bagaimana putramu itu!" James terus memaksa. "Namanya sama denganku, Merlin! Oh!"

"James. Bisakah kau tenang? Kau lupa satu Harry lagi ada di atas sedang tidur?"

Dan James tahu itu. Ia mengambil satu kursi lalu duduk. Kali ini Fred Jr melepaskan tawanya. Tak tahan. Satu jam lagi menuju pukul satu dini hari, perbincangan malam Harry muda, James, Lily, dan Fred Jr dimulai dengan topik 'berkeluarga'.

"Aku baru lima belas tahun, Dad. Jadi sebenarnya, aku tidak tahu jelas. Hanya saja, menurut Harry di masa depan itu—dan aku sendiri melihatnya—James itu.. mirip sepertimu. Dia suka usil. Apalagi dengan adik-adiknya." Cerita Harry muda.

"Adik—adik-adiknya?" James mengulang apa yang ia dengar.

Lily melihat James penuh tanya. Sama terkejutnya dengan sang suami, Lily ikut penasaran. "Lebih dari satu?" tanyanya.

Mata Harry muda terpejam sejenak. Bayangannya berputar mengingat ketiga bocah yang memanggilnya Daddy di Grimmauld Place sana. Lama-lama rasa rindu itu mulai terasa. Aneh. "Harry di masa depan dengan Ginny punya James, kemudian Albus, dan Lily— so, aku punya tiga anak. Nanti. Di masa depan." Harry muda tersenyum, mempertegas.

"Hahaha.. kau kalah banyak, Grandpa Prongs!" Fred Jr tak tahan untuk tak meledek James. "Kata Daddyku, banyak anak itu pria jantan. Nanti kalau aku sudah besar, aku mau punya banyak anak juga, ah. Seperti Grandpa Arthur."

"Diam kau, bocah!"

Urusan anak, James mengaku kalah. Ia baru punya Harry, sedangkan putranya di masa depan punya tiga anak. James tidak mempermasalahkan itu. Ia hanya tidak suka, oleh anak yang mungkin belum genap sepuluh tahun sudah berani mengatainya 'kurang jantan'.

"Mereka ada di zamanmu?" tanya Lily.

Harry muda mengangguk. "Mereka datang dengan para orang dewasa yang ternyata adalah aku, Ron, Ginny, Hermione, ah.. itu temanku saat di Hogwats dan ternyata jadi istri Ron, kemudian ayah Fred—si George, dan anak-anak yang lain. Anak-anak mereka tidak sengaja masuk portal dari masa depan. Jadilah, yang lain—orangtuanya ikut menyusul."

"Jadi, masa depan ke masamu. Kemudian di masamu ke masa lalu. Pusing juga." James menggerutu.

"Alangkah lucunya. Kau sendiri sudah bertemu dengan anak-anakmu?" tanya Lily.

"Tentu. James kira-kira usianya enam tahun, tinggi seperti pria-pria Weasley. Rambut hitam acak-acakan dan matanya coklat seperti Ginny. Kemudian adik laki-lakinya, si Al, masih empat tahun. Kecil, rambutnya juga hitam acak-acakan, tapi lebih sedikit terlihat lurus mirip rambut Ginny. Tapi matanya," Harry muda sejenak menarik napas dalam-dalam. Ia menatap mata indah ibunya. Mirip sepertinya, dan juga, "mirip denganmu."

"Oh—benarkah? Hijau?" Lily tiba-tiba saja terharu mendengar cerita putra kesayangannya itu. raut wajah Harry muda pun saat bercerita terkesan sangat bahagia. "Lalu, si bungsu? Kau tadi bilang namanya Lily, kan?"

"Ya, Lily. Dia masih bayi. Kira-kira dua tahun. Dengan Harry dewasa sangat manja sekali. Kecil sekali. Suka berceloteh. Pemberani, manis, dia duplikat Ginny, Mum. Hanya rambutnya. Warna merah khas Weasley. Tapi ada sedikit berbaur warna hitam di pangkalnya. Lucu sekali."

"Oh, God!"

Cerita Harry muda terus berlanjut. Rasa bahagia sedang meliputinya. Sejenak melupakan Harry bahwa sesuatu yang buruk juga sedang mencoba mendekat. Di luar sana.


Sementara itu di Grimmauld Place, forum kecil dibuat untuk menyelesaikan masalah hilangnya Harry muda dan Fred Jr. George dewasa bertindak tegas mengumpulkan beberapa orang untuk sebuah rencana baru.

"Portalnya ikut hilang, George." Harry dewasa memeriksa sekali lagi jejak terakhir sosok misterius itu membawa Fred Jr dan dirinya yang masih muda.

Pada bagian lantai, berbekas pusara hitam tercetak mengerak. Bau angus dan lantai terkelupas jadi jejak terakhirnya. Anak-anak sama sekali dilarang mendekat. Semua ditahan. Ada yang berteriak, ada pula yang ketakutan. Tentu saja, mereka makin memperburuk suasana.

"Biar aku yang tangani." Hermione dewasa menyela.

George menarik satu kursi kayu di sudut ruangan. Menatap lurus begitu para anak diajak turun oleh Hermione dewasa di bantu Ginny dewasa dan para diri mereka yang lebih muda. "Aku tak percaya putraku ikut jadi korban." Suaranya bergetar.

"Kita akan bawa mereka kembali, George. Kau dengar itu!" Ron dewasa berusaha bersikap dewasa di depan kakaknya.

Kepala George dewasa menoleh kecil, menghadap jendela besar lantas berujar lirih. "Aku tak mau kehilangan 'Fred'ku untuk kedua kalinya."

Di samping George, Harry dewasa dengan kemampuan investigasi tim keamanan elit Auror, mencari cela-cela kecil untu petunjuk apapun yang tersisa. Kedua tangannya terangkat bersama dengan tongkatnya. Mengeluarkan sulur-sulur keperakan, menyebar ke penjuru ruangan lantai teratas Grimmauld Place itu. Beberapa perubahan sempat terlihat dan Harry dewasa memahami maksud dari reaksi mantra yang ia buat.

Arthur ikut mendekat selepas Harry dewasa menyelesaikan pemeriksaannya. "Bagaimana, Harry?"

"Sihir hitam, Dad." Harry berbalik, semua orang sedang menatapnya, "sangat kuat. Tapi aku bisa tahu kalau, yang melakukannya belum begitu profesional. Jejak yang ditinggalkannya masih cukup jelas."

"Di udara atau di lantai, Harry?" Tonks menjadi salah satu yang cukup mengerti.

"Lantai. Masih menapak. Positif."

"Sorry?" Remus jelas tak paham.

Dalam pekerjaan Auror, terkadang dibutuhkan kode-kode rahasia antar Auror untuk mengetahui keadaan sebuah area penyelidikan. Seperti pekerjaan Harry dewasa, Tonks paham dengan maksud 'lantai' dan istilah 'masih menapak'.

"Lantai dan menapak. Masih seperti manusia. Bukan di 'udara', melayang mirip hantu yang artinya kemampuannya cukup besar. So, kemungkinan besar pelakunya masih belum cukup hebat melakukan sihir hitamnya." Tonks ikut mengangkat tongkatnya memeriksa sendiri dengan cara yang sama seperti Harry dewasa lakukan.

Hasil yang akhirnya didapat oleh Tonks tak jauh beda dari Harry dewasa. Salah satu hal yang sempat ditarik kesimpulan oleh Tonks adalah apa yang dilakukan pelaku sambil membawa Fred Jr dan Harry muda tidak seperti Apparation biasa. "Apa itu pengaruh portal yang kita buat, Harry? Yang terasa hanya jejak hadirnya. Teleportasinya tak terdeteksi sama sekali." Ujarnya.

"Aku tak tahu." Harry dewasa kembali mendekat pada kerumunan lalu menyandar sejenak pada tembok di belakangnya. Ginny dewasa tampak kembali, sementara Molly memutuskan turun. "Aku pun tak bisa mendeteksi kemana mereka menghilang. Bagaimana, George?" tanya Harry dewasa pada sang pencipta portal.

"Portalnya memang kontra dengan lokasi. Seperti yang aku bilang tadi, sangat bahaya jika digunakan sebelum portalnya terbentuk sempurna. Jadilah.. Merlin, portalnya tak akan bisa ditembus, Harry. Aku tak tahu bagaimana—aku tak bisa kehilangan putraku. Tak bisa."

"George, tenanglah. Pasti ada cara untuk membuat mereka kembali. Fred akan pulang bersama kita semua." Ginny dewasa memeluk kakaknya penuh pengertian.

"Kau tak tahu, Gin, bagaimana perasaan kehilangan—"

"Ada Harry yang ikut bersama Fred, George!" Ginny dewasa memotong cepat. Harry dewasa tercegang. "Ada suamiku yang ikut menghilang di sana. Bagaimanapun usianya, Harry adalah suamiku dan aku juga tahu bagaimana kehawatiranmu terhadap Fred, George."

Tampak jelas Ginny dewasa mengkhawatirkan Harry muda yang terus ia sebut sebagai suaminya juga. Ia berbicara dengan wajah memerah menahan emosi. Jika Harry dewasa di dekatnya adalah suaminya, Harry muda yang turut menghilang itu pun juga suaminya. "Mereka satu jiwa, George, dan kau harus ingat itu."

Harry dewasa tersenyum bangga pada sang istri. Selalu, Ginny akan mengkhawatirkan dirinya jika sebentar saja ia tak ada kabar. Itulah salah satu alasan Harry benar-benar sangat mencintai Ginny.

"Itu dia," seseorang terdengar menjentikkan jarinya, "mereka satu jiwa. Harry, kau ingat kemana kau menghilang?"

"Bloody hell, Sirius!" Ron muda berteriak, "apa maksudmu bertanya begitu? Bukan waktunya untuk bercanda."

"Aku tahu, Ron. Tapi seperti yang dikatakan Ginny, Harry yang menghilang itu adalah masa muda dari Harry yang itu." Kata Sirius lantas menunjuk Harry dewasa. "So, paling tidak ada ingatan kemana—"

Harry dewasa menggelang cepat, "aku tak setua itu untuk pikun, Sirius. Tapi jelas, aku tak mengingat apapun soal itu. Bahkan aku terdampar di masa ini saja tidak." Ujar Harry dewasa.

"Aku juga." Bergantian sosok dewasa George, Ginny, Ron mengungkapkan ketidakingatan mereka akan masa menghilang itu.

Logikanya, jika di masa muda mereka penah melihat sosok diri sendiri dalam keadaan dewasa, ada kemungkinan di masa dewasa mereka ada memori tentang itu. Hanya sesuatu sepertinya terjadi sehingga mereka sama sekali tak mengingat apapun tentang semuanya. Bubuk biru sampai portal yang dicuri, tidak ada yang mengingat sama sekali.

Molly sempat kembali meminta untuk membicarakan masalah mereka setelah makan malam. Sebagian diminta untuk membantu menyiapkan makanan sementara yang lain membantu memandikan masal para bocah seperti sebelumnya atau beristirahat barang sejenak.

Satu persatu akhirnya turun. Tak terasa sudah berjam-jam mereka menghabiskan waktu untuk berusaha mencari cara mengembalikan Harry muda dan Fred Jr. Namun mau bagaimana lagi, mereka tidak bisa begitu saja berusaha tanpa memikirkan keadaan diri mereka sendiri. Hampir malam dan mereka semua hanya baru menelan makan paginya.

Pasangan terakhir yang turun adalah Harry dan Ginny dewasa. Raut kelelahan jelas tercetak di diri keduanya. Terutama Harry, sedangkan Ginny.. matanya semambab bukan main. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, sayang? Aku tak mau kau ada apa-apa dengan hilangnya mereka." Ginny dewasa berbisik di dekat Harry dewasa. Suaminya. Tubuhnya merapat, mereka saling berpeluk. "Mereka. Fred dan kau. Kau, sayang. Itu kau—"

"Huss, tenang. Aku akan mencari tahu bagaimana mengembalikan mereka. Aku janji, Gin"

Harry dewasa menyapu pelan tetes airmata di sudut mata kanan istrinya. "Aku akan baik-baik saja. Sekali lagi aku tegaskan bahwa aku-akan-baik-baik-saja, Gin. Aku akan bersamamu sampai kapanpun. Bukankah kau selalu percaya itu, kan?"

Ya, Ginny selalu percaya pada Harry.


James dan Lily Potter tak bisa tidur lagi. Enyah sudah rasa kantuk mereka mendengar cerita Harry muda dan Fred Jr tentang tragedi aneh datangnya para penyihir masa depan ke masa tahun '90an. Tentu saja,bagi James dan Lily Potter itu tidak biasa. Tentu saja mereka datang berbeda masa.

Jalanan Godric's Hollow luar biasa sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan penduduk yang bangun. Harry muda melihat sendiri dari arah jendela. "Mereka semua tak ada yang bangun. Sepi." Ujar Harry muda. Hanya ada James Fred Jr dan Harry muda di ruang keluarga. Lily sedang menyibukkan diri di dapur, membuatkan coklat panas atau membongkar camilan untuk Fred Jr yang terus merenggek minta makan.

"Tentu saja, Halloween masih dua hari lagi. Jadi masih sepi. Besok lusa baru malam akan terasa ramai.. berpesta."

Detik itu juga, Harry muda teringatkan oleh hari paling menakutkan dalam hidupnya. Ia lekas berbalik, melihat ayahnya dengan raut ketakutan akan hari itu. "Rupanya dua hari lagi," batin Harry muda. Ayahnya masih bisa tersenyum.

"Uncle Harry," panggil Fred Jr tiba-tiba, "bukankah Halloween juga hari kemat—"

"Coklat panas, kids!"

Lily akhirnya datang. Satu nampan penuh dengan dua cangkir coklat panas dan satu toples makanan kering. Dari kejauhan James tahu itu miliknya. "Biarkan mereka makan ini dulu, James. Kau beli lagi nanti pagi. OK!" sedikit banyak Lily paham perubahan ekspresi suaminya itu. Rusa jantan yang marah saat makanannya diambil orang.

"Aku paham, sayang." Balas James ikhlas.

"Terima kasih, Mum. Kalau kalian ingin istirahat, istirahatlah. Kami akan di sini." Kata Harry muda lirih. Di sampingnya Fred Jr sigap membuka toples biskuit James dan memakannya hingga tiga keping.

James menghampiri Lily. Ia berbisik pelan yang tak bisa didengar Harry muda ataupun Fred Jr. hanya sebentar sampai Lily kembali bertanya. "Kalian yakin di sini?" Tanyanya. "Aku juga belum menyiapkan kamar tamunya. Mungkin saat pagi nanti. Kalian tak apa kan satu kamar? Akan aku siapkan nanti—"

"Dan kalau ada aku mau mandi berendam nanti, Grandma. Boleh?" Fred Jr meringis. Lebih tepatnya dengan ekspresi memohon.

Lily mendelik mendengar permintaan itu. Tanpa memberi kesempatan Lily menjawab, James memaksa untuk merubah topik pembicaraan. "Istirahatlah dulu, guys. Aku rasa kita butuh bicara esok pagi untuk membawa kalian kembali. Tidak baik jika kalian terus berlama-lama di masa sekarang. Karena.. em, saat ini sedang masa-masa berbahaya, nak. Pagi nanti akan kami ceritakan. OK! Istirahatlah. Jika ada apa-apa, berteriaklah! Hehehe." Suara James terdengar bergetar, ia terlihat khawatir dengan pernyataannya.

"Oh ya, seingatku ada bak mandi Sirius yang dititipkan di sini. Kau bisa pakai sebelum aku kirimkan nanti, bocah cerewet." James mengajak Lily naik menuju lantai dua dan meninggalkan Harry muda dan Fred Jr.

Harry muda lega. Setidaknya ia bisa memiliki kesempatan melihat kedua orangtuanya hidup, beberapa hari sebelum malam Halloween itu tiba.

"Tidurlah, Uncle Harry kecil. Jangan berdiri di situ terus. Cepat tidur agar besok bisa langsung berendam di air hangat. Itu pasti menyenangkan sekali."

Fred Jr menarik selimutnya dan diam. Tak perlu waktu lama untuk terlelap untuk Fred Jr. Satu toples berisi biskuit kering penuh kini tinggal beberapa keping saja, begitu segelas coklat panas tak jauh dari anak itu terlelap. "Pantas langsung tidur. Perutnya pasti kenyang sekali." Batin Harry.

TBC


#

Kalau ada yang jeli ala Auror, ada jejak yang sangat membantu, loh, buat kemungkinan cara mereka bisa membantu kembali nanti. Hayo apa itu?

Tunggu chapter selanjutnya. Maaf kalau masih ada typo! Tinggalkan review, Anne balas. Buatlah Anne makin semangat lanjut fic ini, readres yang budiman! See u next!

Thanks,

Anne xoxo