Hi, everyone!

Ada yang nyariin Anne? Hehehe sorry banget, ya! Anne baru bisa muncul sekarang. Akun Anne ke logout dan Anne susah masukkan. Padahal ya, udah bener email dan passwordnya. Ada yang tahu itu kenapa? Tapi, ya udahlah ya, toh Ane udah datang lagi. Hehehe.. Seperti yang sering Anne bilang, Anne lagi banyak banget tugas di kampus. Anne lagi PPL pertama (latihan ngajar gitu soalnya Anne kuliahnya pendidikan), sebentar lagi juga KKN, dan ada lomba di akhir bulan April ini. Pikiran Anne kepecah ke mana-mana. Oke, Outside masih terus berlanjut. Thanks bgt yang ternyata masih mau nunggu dan seneng sama fic Anne ini.. :)

Walaupun masih berlanjut aja di chapter ini, tapi sebentar lagi mau tamat loh. Entah chapter 25 nanti atau bahkan lebih satu chapter atau... ya lihat saja nanti. Anne balas review dulu! :)

Afadh: Gak usah pake teori lebai, Fadh! Delphi masih kecil, jadi kekuatan sihir hitamnya masih belum kuat. Jadi yang dirasakan Harry begitu. Hahahaha.. Granddad Prongs mah gitu. Ini pakai teorinya Cursed Child, ya. Jadi.. sejarah akan berusaha dijaga.

Dramionepotermore: portal bisa dibuat lagi, tapi ada cara lain nanti. Heheeeee baca aja, ya!

Sakuxhan: Fred Jr dan Harry muda yang kena masalahnya. Kasihan.. ngeri kalo diposisi mereka.

Amandadavina31: cieee... hinny forevahhhh!

Dande Liona: Secara tidak langsung Lily sr akan merasa itu di chapter ini tanpa dijelaskan secara langsung tentang kematiannya. Tapi.. ada-lah nanti.. di chapter terakhir. Yups, ini jadi kayak teorinya Cursed Child.

Aliza858: yeah semua jawabannya akan ada di chapter-chapter terakhir ini.. Ikuti terus, ya!

Langsung aja deh biar nggak penasaran!


Suara sesak Lily kecil memaksa Harry dewasa tak bisa berkonsentrasi dengan mantranya. Ia berharap dengan cara melihat ingatan putrinya sendiri bisa ia ketahui siapa yang telah berusaha untuk mengusik mereka semua. Anak itu tak hentinya menyebut 'Daddy' atau 'no' dari atas bangku kayu tinggi. Tidak ada yang berani mendekat, bahkan Ibunya sekalipun.

Hanya sempat beberapa menit saja, Harry dewasa melihat ingatan Lily ketika sosok kecil berjubah gelap mendatanginya dari balik jendela sambil menenteng kantung makanan. Selanjutnya, terputus begitu saja. Lily berontak dengan sensasi aneh ketika mantra Legilimen bekerja pada bocah bayi itu. Napasnya terengah di tengah tangis. Setelah semua selesai, Ginny dewasa bergegas menangkap tubuh lemas itu dan menggendongnya tinggi-tinggi. Efek Legilimen sangat berat di tubuh Lily.

"Seorang anak. Jubah hitam. Itu saja. Lily tak begitu melihatnya jelas." Ujar Harry dewasa selepas mengecup dahi putrinya sambil meminta maaf. Harry paling benci membuat putrinya menangis. Untung saja, Lily jauh lebih tenang setelah dijanjikan untuk langsung minum ASI.

George dewasa membuka sebuah buku tua dari salah satu lemari Sirius. Berlembar-lembar halaman ia buka dan membaca tulisan di sana. Debu tebal menyembul tiap kali ia membalik satu persatu lembarnya. Sebenarnya, George sendiri tahu itu buku apa. Di masa depan, ia punya buku itu di tokonya. Hanya satu buah. Buku itu tak lagi dicetak sebab mendapat larangan untuk dipasarkan setelah perang dunia sihir ke dua.

Ron dewasa mendekatinya sambil mengedip pelan. Sebagai jawabannya George hanya bisa mengangguk. Isyarat itulah yang akhirnya membuat Hermione muda penasaran.

"Buku apa itu sebenarnya?"

"Kau bercanda, Mione?" Ron muda mendelik. "Tidak biasanya kau kebingungan dengan judul buku?"

Hermione muda mendesah gugup. Memang ia akui kali ini dirinya tak tahu masalah buku itu. Namun bukan berarti pengetahuannya untuk mengenali jenis buku apa yang sedang dibawa George juga nihil. Ia kenal buku semacam itu.

"Jangan bilang kalau itu buku sihir hitam, Sirius?" tiba-tiba saja Hermione muda menyerang Sirius. Pemilik buku itu. Harry dewasa hanya sempat melihat sekilas karena lebih terpaku dengan putrinya di saat menikmati makan malamnya secara pribadi.

"Aku hanya menyimpannya, Hermione. Tidak pernah membacanya." Sergah Sirius. Di depannya beberapa bocah laki-laki mendahuluinya masuk ke ruang keluarga. Disusul seorang anak perempuan menggandeng tangan Tonks.

Tubuh tinggi dari pria yang Hermione muda kenal sebagai sosok Ron dewasa melintas tepat di depannya. Tubuhnya kian menjulang di usia yang tidak lagi muda. Rose menghampiri ayahnya meminta ijin untuk ikut mandi dengan sepupunya yang lain. Entah paham atau tidak, Ron langsung membolehkan dan tentu saja.. istrinya tak setuju.

"Apa-apaan kau, Ronald! Rose perempuan, anak-anak yang lain itu laki-laki! Jangan ajak putrimu berpikir mesum saat dirinya saja belum bisa membuang ingusnya sendiri."

"Bloody hell! Aku lupa, Love." Begitu alasannya.

Ron mengganguk paham. Digiringnya Rose untuk kembali pada ibunya. Sambil menangis, gadis itu hanya pasrah menggandeng erat tangan Hermione dewasa menuju salah satu kamar mandi kecil.

Berselang beberapa saat kemudian, James bersama Albus ditemani Teddy baru saja datang dari dapur bersama para sepupunya yang lain. Mereka datang senyuman mengembang seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka ribut sendiri, membujuk Harry ikut mandi bersama anak-anak yang lain di bak mandi besar milik Sirius. James mengangguk penuh semangat, berteriak menunjuk-nunjuk ke arah ruang mandi raksasa di Grimmauld Place. "Ayo, Daddy! Grandpa sudah isi air hangat. Aku dan Albie sudah lihat tadi. Iya, kan, Albie? Kita disuruh mandi sekarang!" James memaksa.

"Mandi, Daddy! Ayo!"

"Ssshhh, tenang dulu, kids. Daddy sedang sibuk dengan Uncle Ron."

Dari jarak beberapa meter, Ginny dewasa ikut memperingatkan kedua putranya agar lebih tenang. Tapi, dua Potter kecil itu seperti tak mau tahu. Mereka tak sabar sampai tak kuasa menarik kedua tangan Harry dewasa menuju pintu belakang.

"Berat!" pekik Albus tak bisa menarik tangan ayahnya. Tentu saja.

"Daddy, ayo!" James memutar matanya kesal. "Mummy, Daddy nakal!"

Di atas sofa panjang, Ginny dewasa tak bisa berbuat apa-apa. Sebuah selimut melingkar menutupi area dadanya. Di sana sedang bergelung nyaman si kecil Lily. Suara decapan dan erangan kesal bisa terdengar jika Ginny melakukan gerakan yang mengganggunya sedang menyusu. "Maaf, sayang. Lanjutkan. Kedua kakakmu mulai berulah." Bisik Ginny sambil tak hentinya mengusap kepala Lily dari balik selimut.

"James, Al, jangan ribut. Mandilah bersama yang lain. Nanti biar Daddy menyusul kalian."

"Tuh, dengar Mommy bilang apa? Sebentar, son. Dad sudah mandi, Dad akan menemani kalian saja. Setuju—"

Walaupun sempat tak suka, kakak beradik itupun setuju. "Okeh!"

Akhirnya, James dan Albus sepakat. Asalkan masih diperbolehkan mandi bersama di bak mandi besar, itu sudah jauh lebih bagus. Namun sebelum Harry menuruti kemauan kedua putranya, ia menyampaikan peringatan singkat pada Ron dewasa, agar mencari alternatif selain menggunakan sihir hitam.

"Tapi Harry—" sergah Ron dewasa. Ia berada tepat di hadapan Hermione muda. Sorot matanya penuh intimidasi.

"Kita tidak bisa mengulang sesuatu yang buruk lagi, Ron. Pasti ada cara lain tanpa dark magic..."

Dalam hati kecil Ron dewasa memang tak pernah yakin dengan saran George menggunakan sihir hitam untuk mencari tahu keberadaan Harry muda dan Fred Jr. Banyak konsekuensi buruk yang menyertainya nanti. Jangankan berurusan dengan hukum, hidup mereka sangat dipastikan tidak tenang seumur hidup.

"Jangan berbuat hal gegabah. Kalian sudah dewasa. Pikirkan kata-kata Harry tadi. Mungkin... memang masih ada cara." Hermione muda berlalu pergi. Dari dapur, Molly datang sambil berteriak meminta semua untuk berkumpul di ruang makan. Ia dan Tonks secara bergantian menerbangkan piring-piring berisi makanan yang telah siap ke meja makan.

Aroma kentang kukus baru matang menggoda indra penciuman Ron dewasa. Segera ia beri isyarat pada sang kakak agar menyerah dengan buku tua di tangannya. "Berhentilah, sebelum Auror Potter menangkapmu dan.. kentang Mum di sana mulai dingin." Ron berputar meninggalkan George dewasa. "Dan aku mencium bau roti di sana. Come on, George! Sebelum bocah-bocah itu menghabiskannya."


Godric's Hollow diselimuti embun tebal. Matahari sebentar lagi akan naik dan hari telah masuk pada hari-hari di penghujung bulan, Oktober. Dan itu adalah hari bersejarah dalam catatan dunia sihir. Delphi memaksa tubuhnya untuk tenang, duduk di salah satu bangku taman sepi. Pandangannya tertuju tajam ke arah salah satu rumah. Ia akan membuat sejarah baru di sana. Sebentar lagi.

"Potter. Aku harap Daddy akan terkejut dengan kerja kerasku hari ini. Bersiaplah. Tidak ada yang menyenangkan selain membuat orangtua bangga, bukan?"

Delphi menghitung, ia masih punya banyak waktu sebelum ayahnya datang besok membawa aura kematian di rumah itu. Ia hanya ingin membantu meringankan kerja ayahnya. Membuat satu keluarga Potter itu mati tanpa tersisa. Terutama bayi laki-laki mereka. Delphi ingin kematian putra tunggal Potter itu dilakukan dengan tangannya sendiri. Itu semua ia lakukan untuk membawa ayahnya kembali. Bukan membiarkan bayi bernama Harry Potter itu hidup dan tumbuh dewasa untuk menghabisi ayahnya bersama para sekutunya.

"Aku tak bisa membuatmu mati, Daddy. Aku tak bisa. Aku ingin hidup bersamamu."

Entah mengapa, sejauh ia melihat rumah sederhana itu berdiri kokoh.. Rasa nyeri di dada Delphi memukul telak ingatan tentang sejarah lama yang ia tahu sungguh luar biasa. Keagungan seorang Lord Voldemort. Nama paling ditakuti sepanjang sejarah sihir Inggris muncul dan harus musnah di tangan seorang Harry Potter muda. Dihabisi di depan banyak pasang mata.

Delphi tak pernah menerima hidupnya akan berakhir seperti ini. Tidak pernah ia ingin tumbuh sebagai anak yatim piatu. Bahkan ketika ia melihat sosok pembunuh ayahnya kini hidup bahagia bersama keluarganya yang baru. Anak-anaknya memiliki orangtua yang hebat, dikagumi oleh banyak penyihir di luar sana. Sedangkan ia?

"Aku yang harusnya ada di posisi mereka!" batin Delphi berteriak. "Kau harus membayar semuanya, Potter. Aku akan membalik kehidupanmu!"

Delphi bangkit lantas berkata, "aku akan lakukan lebih cepat dari yang Dad lakukan."

Ia menghilang bersama daun-daun kering yang terbang terbawa angin.

Pintu putih dengan boneka burung hantu menggenggam huruf H menggantung indah tepat di hadapan Harry muda. Tidak mungkin itu adalah pintu kamar orangtuanya. Jelas itu kamar anak-anak, dengan inisial H dan figur boneka lucu, Harry muda seolah terpanggil untuk membukanya. Masuk dan melihat dirinya sendiri sedang tertidur di ranjang kecilnya.

Pelan-pelan, Harry membuka pintu itu dengan tangan kanannya. Kamar yang sungguh manis. Tidak terlalu besar memang. Namun terasa begitu hangat dan menyenangkan. Tembok berhias tema anak-anak, serta rangkaian huruf membentuk namanya. H-A-R-R-Y.

"Hi." Harry muda memanggil. Bayi itu membuka matanya. Menatap dirinya sendiri.

Harry.. bertemu dengan Harry.

"Ini aku. Dirimu sendiri, tentu saja. Bagaimana kabarmu? Mum dan Dad, mereka baik padamu?" seolah mereka benar-benar telah mengenal lama, baby Harry merespon. Matanya membulat, namun tak ingin untuk bangkit. Ia tetap berbaring. Mendengarkan dirinya yang lain sedang bercerita.

"Kau akan jadi pria yang kuat, Harry. Aku katakan padamu. Aku melihatnya sendiri. Aku melihat bahkan bertemu dengan 'diri kita' yang.. sudah sangat dewasa." Harry muda menekankan kata 'kita' untuk memposisikan dirinya sama.

Detik itu juga badan Harry muda bergetar. Ia tidak percaya akan mengungkapkan segala tekanan hidup yang selama ini tumbuh bersamanya. "Hey, tak perlu bingung. Tak apa.. kau jangan khawatir. Kau dan aku bisa bertahan sampai benar-benar hidup bersama keluarga kita sendiri. Kehidupan kita nanti akan jauh lebih indah, Harry. Kau punya istri yang luar biasa, tiga anak yang mengagumkan, dan.. hidup yang bahagia."

Tanpa mereka sadari celah pintu kamar tak tertutup rapat. Sosok perempuan berambut merah mengendap lebih dekat. Mendengar semuanya dengan lebih jelas.

"Mungkin sebentar lagi waktumu sudah habis bersama mereka. Hidupmu yang sebenarnya akan segera di mulai bersama paman, bibi, dan sepupumu itu. Jadilah kuat di sana tanpa mereka, Harry. Mereka tak benar-benar meninggalkanmu. Mereka selalu ada. Mereka selalu menjagamu. Menjaga kita."

Sorot cahaya hangat dari balik jendela kamar menembus perlahan. Menyentuh permukaan kulit wajah Harry muda mengingatkan jika pagi ini.. akan menjadi pagi terindah sebelum pagi-pagi mencekam di hari-hari nanti.

"Pergunakan waktumu hari ini dan juga besok... aku rasa. Bersama mereka. Aku akan menjagamu darinya yang akan datang nanti.. meskipun sebenarnya aku ingin membuat mereka tetap bertahan. Aku tahu aku tak mungkin mengubah sejarah. Mereka pergi dan kau selamat. Bahkan anak perempuan misterius itu pun tak akan bisa merubah sejarah—"

Harry muda terhenyak tepat saat Lily masuk membawa handuk kecil.

"Oh, M—mum. Aku kira siapa—"

"Hari ini? Ada apa dengan hari ini, sweetheart?"

Harry tak mampu untuk menjelaskan semuanya. Ia tak bisa menceritakan semuanya jika besok malam, ibu dan ayahnya akan pergi untuk selamanya. Bahkan dengan teror dari Delphi yang akan ikut membunuh dirinya yang masih bayi itu. Terlalu buruk untuk sebuah cerita pengantar di hari yang cerah.

"Meskipun aku tak tahu bagaimana putraku nanti, setidaknya aku ingin mendengar 'Harry'ku yang telah menginjak remaja ini bercerita secara langsung."

"Mum mendengarnya?"

Lily mengangkat kedua pundaknya. "Aku berharap, ceritamu tadi juga kau ceritakan untukku, sayang. Ada apa dengan hari ini? Besok?" Lily meletakkan handuk yang ia bawa untuk si Harry kecil. "Kalaupun tidak bisa kau ceritakan.. itu tak masalah. Ini—"

"Sesuatu yang besar akan terjadi besok. Tapi.. aku tak mau membuatmu takut, Mum. Begitu juga Dad. Aku tak bisa.. aku tak bisa."

"Ramalan itu?"

Dada Harry memanas. Kedatangan Voldemort sudah diramalkan untuk membunuhnya dulu. Ibu dan ayahnya pun tahu itu. "Mum—"

"Sweethearts, dengarkan Mummy. Apapun yang terjadi nanti, kami akan tetap menyayangimu, sayang. Sampai kapanpun, melihatmu sekarang Mum jadi percaya bahwa kau benar-benar anak yang kuat. Seperti yang kau ceritakan pada Harry kecil ini. Kau bertahan, sayang. Bagaimana kami nanti, itu tak jadi masalah. Asalkan kau kuat. Kau aman. Kami akan bahagia. Apalagi saat kau ceritakan tentang dirimu di masa depan.. aku membayangkannya saja sungguh sangat bangga padamu."

"Mum, aku.. aku tak tahu harus bagaimana. Aku—"

"I know, sweethearts. I know!"

Mereka saling berpelukan. Memberi sedikit waktu untuk bersama. Bagi Harry muda, ia ingin seperti ini beberapa saat saja. Menangis dengan puasnya. Merasakan lidahnya terus bergerak memanggil Mummy ataupun Daddy dengan penuh arti. Bukan hanya sekadar memanggil.

"Mandilah, Fred kecil sudah memaksa ingin mandi. Entahlah, dia sangat girang sekali saat Daddymu menunjukkan bak mandi milik Sirius. Bak mandinya besar, sayang, kau bisa ikut berendam di sana bersamanya." Lily mengecup pipi kanan Harry muda memintanya lebih tenang. "Bersihkan badanmu. Air akan membuat syaraf-syarafmu tenang kembali. Kalau sudah selesai, kita sarapan bersama. Dirimu yang ini juga perlu mandi. Lihatlah, kau sangat manis saat masih sekecil ini."

Tawa Harry muda pecah melihat tingkah dirinya yang masih bocah. Ia menggeleng-geleng senang akibat digoda Lily. Harry muda lega, ia memiliki kesempatan kedua mengenal seorang ibu hebat seperti ibunya, Lily Potter.

Masih terlalu pagi untuk mandi sebenarnya. Kalau bukan karena Fred Jr, James tak akan sesibuk ini tepat di hari banyak orang lebih memilih kembali ke tempat tidur. Awalnya James berharap bak mandi besar itu bisa ia masukkan ke dalam rumah. Lebih nyaman untuk berendam di dalam daripada di teras halaman belakang seperti saat ini. Ia melihat kebelakang seberapa luas pintu rumahnya. Untuk memastikan, ia turut mengukur lebar bak mandi itu. Dan hasilnya, tidak mungkin bisa masuk.

"Hilangkan saja dengan sihir, Grandpa James."

"Tidak semudah itu, bocah!"

Kalaupun bisa James hilangkan untuk langsung dibawa masuk, di dalam sana tak ada tempat yang pas untuk meletakkan bak mandi baru pesanan sahabatnya itu. "Lagi pula, aku akan mengantarnya nanti malam. Ia ingin berendam sebelum malam Halloween. Lebih baik diletakkan di sini. Kalau dipindah-pindah, bisa tergores di sana-sini. Catnya bisa terkelupas." Keputusan James akhirnya tetap meletakkan bak mandi raksasa itu di halaman belakang rumahnya. Ia tak mau membuat barang sahabat terbaiknya cacat sebelum diterima.

"Ayolah, Grandpa Prongs! Bak mandi ini enak sekali kalau dibuat berendam." Fred Jr melompat masuk ke bak mandi itu lantas memposisikan diri siap untuk berendam. Kakinya diluruskan dengan tangan disampirkan santai tepat di pinggiran bak mandi.

James syok dan tentu saja ketakutan ketika Fred Jr menghentak-hentakkan kakinya yang masih memakai sepatu ke dasar bak. "Kau berlaga seperti pernah menggunakan bak ini saja—"

"Memang sudah pernah, Dad."

James berbalik melihat putranya datang membawa handuk bersih terlipat. Ia memberikan handuk itu pada Fred Jr sambil membisikkan sesuatu. "Jangan meminta yang aneh-aneh, Fred. Kau tahu, kan, kita di sini dalam masa yang berbahaya." Bisik Harry berusaha tak bisa didengar oleh James.

"Tapi, Uncle Harry," wajah Fred Jr berubah khawatir, "anak perempuan misterius yang ikut membawa kita ke sini benar-benar akan menyelakai Granddad dan—"

"Kalian bicara apa, sih?" James menyela.

Baik Harry maupun Fred Jr tidak ada satupun yang mau bercerita tentang masalah gadis misterius yang berjanji akan menyelakai mereka. "Em.. ini—Fred memang sudah pernah mandi dengan bak itu." Gugup Harry melihat ke arah Fred Jr. "Sebelum kami terjebak di masa ini, Fred dan sepupunya yang lain mandi bersama dengan bak mandi ini."

"Jadi, di masa depan Sirius masih menjaga bak mandi ini? Bahkan masih bisa digunakan?"

"Ya, di masaku, Dad. Entahlah saat masa Fred."

Kedua Potter menatap Fred Jr yang sudah siap mengalungkan handuknya di leher. "Em.. seingatku tiap kali datang ke Grimmauld Place aku tak pernah melihatnya. Bahkan Uncle Harry, Uncle Ron, Auntie Ginny dan yang lainnya juga tak pernah memperlihatkan bak ini. Mereka tahu atau tidak, aku tidak tahu, Granddad." Ujarnya.

James mengelilingi bak mandi yang sengaja ia pesan ke salah satu koleganya di Irlandia. Sirius memaksanya untuk mencari bak mandi super besar agar ia dan teman-teman Maraudernya bisa berendam bersama. Setelah berminggu-minggu James memesan, dua hari lalu bak mandi itu datang. Rencananya, ia sendiri yang akan mengirim bak mandi itu dengan jasa pengiriman sihir agar tak terjadi hal-hal yang bisa merusak. Tapi dengan adanya Fred Jr, James pasrah jika Sirius memarahinya nanti.

"So—aku sudah bisa mandi sekarang?" tanya Fred Jr. Handuknyaia putar-putar di atas kepala mirip film animasi koboy kesukaannya bersama James dan Louis.

Tidak ada pilihan lain, James mengeluarkan tongkatnya dan mengayunkan tepat di sekeliling bak mandi itu. "Kau juga sudah menginjak-injaknya. Apa salahnya mencoba dulu sebelum aku kirim ke Sirius." James membuat tirai sihir yang mampu menutupi sekeliling bak mandi itu. Sehingga siapapun yang akan mandi di sana tidak bisa dilihat di balik tirai berkilau itu.

"Thanks, Grandpa Prongs! Kau memang luar biasa!"

"Ahaha.. Aku memang seperti itu, nak!" jawab James penuh kebanggaan.

Harry muda hanya bisa tersenyum senang. Ayahnya benar-benar suka berbuat hal-hal aneh. Seolah ia teringat dengan sifat James Sirius, putranya di masa depan. Mulai dari sifat, kebiasaannya, bahkan karismanya.. James menurui segalanya dari sang kakek. "Itu keren sekali," batin Harry muda.

Tak terasa, Harry muda sampai terhanyut dengan lamunannya sendiri. Tanpa ia sadari, Fred Jr tak terdengar secerewet sebelumnya. Dan itu tidak biasa.

"Ada masalah, Fred?" tanya Harry muda. Ia tak peduli menyingkap tirai sihir buatan ayahnya dan melihat Fred Jr setengah telanjang tertegun di depan bak mandi.

"I'm—sorry, Uncle Harry kecil. Aku tak tahu kalau menginjak kaca. Sepatuku tertancap.. ini."

Takut-takut Fred Jr mencabut serpihan kecil kaca dari sepatunya dan meletakkan di pinggiran bak. Ia tak tahu saat melompat ke dalam bak mandi beberapa saat lalu dengan memakai sepatunya telah membuat dasar bak mandi itu tercetak penuh goresan.

"Merlin, apa yang sudah kau lakukan, Fred!"

"Aku tak tahu, Uncle. Mungkin saat di Grimmauld Place a-aku tak sengaja mengijak ini. Di lantai atas sebelum kita menghilang, memang ada banyak kaca di sana."

Mereka benar-benar ketakutan. Goresan di dasar bak itu jelas terlihat. Lapisan warna putih bak terkelupas. Sehingga tembaga asli bak itupun jelas terlihat. Apalagi saat ada air dituang di atasnya. Cahaya berkilauan muncul terpantulkan dari sana. "Habislah kita, Uncle! Nanti malam Granddad akan mengirimkannya ke Granddad Sirius, kan? Lalu goresan ini bagaimana?"

"Asalkan tak terlihat—sebentar," Harry muda teringat sesuatu, "kau ingat bekas goresan ini ada di bak saat kau mandi di Grimmauld Place?"

Fred Jr sedikit tak yakin dengan ingatannya sendiri. Saat itu ia terlalu asik dengan acara mandi bersamanya sampai tak menyadari goresan-goresan itu. "Tapi," Fred Jr mencoba masuk dan membiarkan kaki telanjangnya menyentuh bekas-bekas goresan itu. Kasar.

"Aku tak merasakan kakiku kasar saat mandi di Grimmauld Place, Uncle."

"Itu artinya," Harry muda turut merasakan sendiri hasil goresan itu dengan tangannya.

"Ada apa ini?"

Lily muncul diikuti James sambil menggendong Harry kecil. Mereka mendapati Fred Jr masih belum juga mandi sedangkan Harry muda sibuk memasukkan tangannya ke dalam air. James tak tahu apapun sampai ia benar-benar memberanikan diri mendekat dan melihatnya secara langsung.

"Bloody hell! Apa yang sudah kalian lakukan dengan bak mandi itu! Sirius akan membunuhku!" Pekik James. Beruntung Harry kecil di gendongannya tak terjungkal saking terkejutnya.

"Aku mohon dengarkan dulu, Mum, Dad! Ini semua—" Harry muda menahan ayahnya bersiap marah pada Fred Jr. Anak itu menunduk ketakutan sambil menyembunyikan serpihan kaca miliknya.

Lily segera menarik pundak suaminya, "jaga bicaramu saat dengan Harry, James." Tahan Lily. Ia menahan badan Harry muda untuk tenang sambil mengusap-usap pelan dadanya. "Tenang, sayang. Tarik napas, baru bicara pelan-pelan."

Pelan-pelan Harry muda mulai tenang. Ia meminta Fred Jr untuk keluar dari bak mandi dan tidak mendekati James. "Fred yang membuatnya seperti ini," kalimat pertama Harry langsung membuat James siap murka.

"Sorry, Granddad. Aku—aku tak sengaja."

"Tapi kau lihat dulu kan, kalau bak itu sampai terkelupas!"

"Aku tahu, Dad." Harry kembali menengahi, "tapi ini bisa jadi cara kami untuk memberi kabar di masa kami berasal."

James terhenti. Begitu juga Lily. "Maksud kalian?" tanya James.

"Di masa kami, bak ini digunakan Sirius untuk mandi anak-anak dari masa depan. Dan kalian tahu, Fred sendiri mengaku kalau bak itu tidak ada goresan sama sekali. Dan.. kalau goresan ini bisa dibuat, ada kemungkinan bak mandi Sirius di sana bisa muncul goresan ini juga. Ini benda yang sama dengan yang ada saat kami melihatnya di Grimmauld Place." Kata Harry muda. Ia melihat sang ibu sedang berusaha mencerna kesimpulan yang paling masuk akal.

"Aku—aku tak paham. Bagaimana bisa bak ini jadi—"

"Kalian bisa mengirim pesan dengan bak mandi ini ke masa kalian. Tentu saja. Apa salahnya kalau tidak kita coba. Tulis pesan kalau kalian ada di sini. Di tahun ini." Lily memungut kembali serpihan kaca yang sempat tertancap di sepatu Fred Jr lantas menyerahkan kembali kepada Harry muda. Lily tak peduli dengan teriakan histeris James tak percaya bak pesanan Sirius akan digores lebih parah.

Lily tersenyum penuh kepercayaan, "lakukan, nak."

Jauh di masa yang berbeda. Sirius, Arthur, Ron dan Harry dewasa membantu para anak laki-laki untuk mandi di bak besar bersamaan. Hugo pun turut mandi di sana ditemani oleh sang ayah. Bersama Harry dewasa, Ron memilih memandikan Hugo di tepian bak.

Hugo mencoba menjejakkan kakinya di dasar bak dengan bersemangat. Tangannya sampai bergandengan dengan Albus sambil tertawa girang. Namun tiba-tiba saja, Hugo memekik kesakitan dan mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Untung saja, Ron dewasa memegangi erat badan kecil Hugo.

"—akit," pekik Hugo mengadu kesakitan pada ujung jari kakinya.

"Jangan gosok terlalu keras kakinya, Ron." Pinta Harry dewasa disampingnya. Ia sendiri masih sibuk membantu Albus menggosok tungkai kaki putranya.

Ron dewasa mengelak ia sudah melukai kaki Hugo. "Aku bahkan tak menyentuh kakinya, Harry," protesnya.

Tak berselang lama, Albus pun memekik kesakitan pada kakinya. "Eh, maaf, sayang. Daddy terlalu keras menggosoknya?" tanya Harry berusaha lembut pada Albus.

"Tuh, kau sendiri menggosok kakinya terlalu keras, kan, Harry—"

"Tapi—" Harry menarik pelan badan Albus agar lebih menepi. "Kakimu kenapa, Al?"

Albus menggalungkan tangannya ke leher Harry meminta keluar. Ia berbisik, "ada yang menggelitik kecil-kecil di kakiku, Daddy." Kata Albus. Selanjutnya, rasa yang sama juga dirasakan oleh James yang berada tak jauh dari Albus. Begitu juga Teddy dan Louis.

"Sebenar, nak. Ayo, minggir dulu." Pinta Arthur membantu Teddy dan Louis untuk mendekat ke bagian tepi bak. James dengan berani mencoba merasakan kembali dasar bak tempat ia berdiri dengan tangannya sendiri.

"Daddy, ini apa?" James mengangkat lapisan putih dari dasar bak. Sang ayah menerimanya dan memperhatikannya lebih jelas.

"Itu.. seperti lapisan bak ini, Sirius. Dan.. lihat ada banyak yang terkelupas tiba-tiba." Ujar Arthur menunjuk air bercampur busa sabun dan uap hangat yang tiba-tiba saja bermunculan lapisan putih yang sama.

Harry dewasa menggendong satu persatu putranya untuk dikeluarkan dari bak. Begitu juga Arthur dan Ron dewasa membantu Hugo, Louis, dan Teddy untuk keluar. "Aku akan kuras airnya habis. Ada apa dengan dasar bak mandi ini?" katanya.

Dengan sekali mengayunkan tangannya, Sirius berhasil membuat volume air dalam bak itu menyusut dan habis. Sampai akhirnya goresan-goresan ajaib tercetak di dasar bak mandi itu.

"Bloody hell, apa itu... tulisan?" Ron dewasa mendekap tubuh Hugo dengan handuk kering.

Gerakan-gerakan aneh membuat lapisan dasar bak itu terkelupas. Mereka semua melihat jejak dari lapisan putih yang terangkat membentuk sebuah kalimat.

"BANTU KAMI?" Teddy berhasil membaca goresan yang lebih dulu terlihat sempurna. "Siapa yang meminta bantuan?" pikirnya.

"Kita tunggu saja sampai berhenti, Teddy." Pinta Arthur yang siap mendekapnya.

Dan goresan itu semakin jelas.. hingga membentuk satu susunan kalimat dan kombinasi angka yang bisa dipahami.

Godic's Hollow, 30/10/1981

"Ini pesan mereka." Harry dewasa akhirnya paham. Sirius menepuk pundaknya pelan lantas berkata. "Bak ini ada di rumah orangtuamu sebelum kejadian itu, Harry."

"Mereka ada di sana." Harry tertegun. "Mereka bersama Mum dan Dad."

"Ada apa—" George dewasa dan yang lainnya sudah berkumpul di depan pintu. Mereka takut terjadi masalah karena suara gaduh anak-anak saat merasakan goresan itu menyentuh kaki mereka beberapa saat lalu.

"Pesan?" seru Ginny dewasa bersama Lily. "Itu pesan dari mereka?"

"Sepertinya memang iya." Sirius membuat tulisan dari bak mandinya lebih jelas. Membersihkan sisa lapisan bak yang terkelupas untuk mempertegas bentuk susunan kata itu.

George dewasa tersenyum senang. Masih ada harapan untuk ia bisa menyelamatkan putranya. "Tapi.. bagaimana kita bisa ke sana. Aku—aku tak punya portal lain. Kalau membuatnya lagi, itu akan membutuhkan waktu yang lama—"

"Kenapa kalian tak tanya padaku, sih?" Suara Hermione kecil menarik perhatian mereka semua. "Aku sudah bilang, kan. Masih ada cara lain."

Sebuah benda bulat bertali panjang ia keluarkan dari saku. Time turner yang diberikan oleh Prof. McGonagall beberapa waktu yang lalu. "Benda itu yang menyelamatkanku dulu, kan?" pekik Sirius girang.

"Sorry, aku baru ingat aku masih memiliki ini." Hermione muda menyerahkan Time Turnernya pada George dewasa. "Pergilah. Ajak salah satu dari kalian untuk membawa mereka pulang, George."

TBC


#

Huaaaa... Mau bagaimana ini... Anne sudah persiapkan chapter mendatang dan harap bersabar lagi, ya! Entah di chapter 25 atau lebih, Outside akan selesai. Jadi terus ikuti kisah ini dan selamat berdeg-degan. Maaf kalau masih ada typo, jangan lupa review dan nantikan kelanjutannya! Sampai jumpa! :)

PS: terima kasih yang sudah selalu support Anne sampai 2 tahun ini. Maret lalu akun ffn Anne ulang tahun yang ke 2. Dan happy birthday juga buat Uncle Fred dan Uncle George yang ulang tahun kemarin tanggal 1 April.

Thanks,

Anne. x