Hi, everyone!
Anne balik lagi! Tuhan! Lama banget ya Anne nggak nongol di FFN. Setelah Anne sempat melepas nulis fanfiction gara-gara lomba (yang follow Anne di IG mungkin tahu), Anne tekatkan untuk balik menyelesaikan fic ini. OUTSIDE berada di chapter akhir, readers!
Maaf banget bagi semua yang sudah nunggu. Bolak-balik buka ffn Anne buat cari update-an Outside. Hehehe.. I'm so sorry! Tapi Anne datang lagi dengan janji Anne menyelesaikan tiap tulisan Anne. Yups, chapter ini agak..bukan agak lagi, sih- panjang banget dari biasanya. 5k wordsnya. Pesan Anne semoga betah aja baca chapter ini yang harusnya udah update beberapa hari lalu. Sekali lagi mohon maaf, ya!
Terima kasih ya buat yang udah review.. Anne udah baca tapi nggak sempat balas. Anne seneng banget masih ada banyak yang nunggu fic ini.
Langsung saja, ya!
Happy reading!
Bagaimana pun juga Fred Jr tetap harus mandi. Bak besar milik Sirius diputuskan untuk tidak digunakan terlebih dulu. Mereka semua berharap ada balasan atau tanda lain jika pesan itu tersapaikan. Harry muda mengamati goresan-goresan di dasar bak mandi berbentuk tulisan tangannya. Ia sangat amat berharap seseorang di masanya membaca pesan itu lalu datang untuk menyelamatkan mereka. Harry, Fred Jr, maupun kedua orangtuanya sendiri tak tahu harus berbuat apa. Yang ada hanya menunggu.
Handuk di pundak Fred Jr sebagian basah tidak merata. Wajahnya jauh lebih segar dari sebelumnya. Bersama Lily, ia dibantu untuk mandi di kamar mandi dalam rumah. Meski lebih banyak menolak, Fred Jr akhirnya sepakat mandi meski kecewa tak bisa berendam di bak milik Sirius.
Handuk di tangannya dilempar dengan sengaja ke arah Harry. Niatnya, Fred Jr ingin membuat Harry terkejut. Namun, ternyata handuk itu bisa ditangkap dengan sempurna bahkan dengan tangan kirinya.
"Jangan menganggu, Fred!" pekik Harry.
"Aha—aku lupa kalau kau benar-benar seorang seeker, Uncle."
Mereka duduk berdampingan pada satu bangku. Menghadap bak mandi besar di sudut rumah sambil memikirkan beberapa kemungkinan. Fred Jr menunjuk sendal rumahan yang diberikan Lily. "Lucu ya, Uncle. Grandma Lily yang berikan ini." Tunjuknya.
Sendal berukuran pas dengan telapak kaki Fred Jr. Warnanya biru bermotif lekuk aneh. Ada ikon plastik berbentuk gajah kecil tertempel di tengah tali selipnya. Harry sama sekali tak melihatnya. Pikirannya tak bisa diganggu sedikit pun hanya dengan sendal anak-anak. Ia masih memperhatikan bak besar Sirius di sudut halaman belakang rumahnya.
"Kata Grandma, setidaknya sendal ini bisa aku gunakan lebih dulu daripada kau, Uncle." Fred Jr mengucek matanya pelan. Busa shampo yang ia pakai sempat masuk ketika mandi beberapa menit lalu. "Kau yang masih bayi masih terlalu kecil untuk pakai sendal ini. Sayang sekali, kan. Apalagi Grandma merasa tidak akan bisa memberikan sendal ini secara langsung padamu, Uncle—"
"Ma-maksudmu?"
Harry melihatnya kini. Sendal yang memang sangat lucu. Pas sekali terpasang di kaki Fred Jr. tapi yang membuat Harry terpikat adalah alasan ibunya.
Salah satu sendal dilepas Fred Jr ke arah Harry. Sisi kirinya terlempar tepat di ujung jari-jari kakinya. Posisinya terbalik membuat Harry ingin memungutnya. "Bagus." Katanya. Sendal itu masih tertelungkap. Hanya Harry sempat menyenggolnya pelan sehingga sosok gajah biru itu bisa terlihat.
"Kau suka, Uncle?" tanya Fred Jr. Kaki kanannya ia angkat sedikit tinggi ingin menunjukkan langsung. "Jujur saja. Tak apa-apa. Barang anak-anak seperti ini memang semuanya keren." Ujarnya ikut melepas salah satu sisi sendal yang masih terpasang.
"Ya, keren. Sangat keren.. karena saat aku kecil aku tak pernah punya sendal anak-anak seperti itu."
"Astaga, kasihan sekali. Aku sudah mendengar cerita tentangmu, Uncle. Dad sering cerita tentangmu tiap kali aku kena marah. Kata Dad, saat kau kecil kau jarang sekali punya mainan atau barang-barang seperti ini. Kau hebat, Uncle." Fred Jr menyempatkan melambaikan tangan ke dalam rumah menyapa Lily. Dua orang dewasa di salam sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Hebat dari mana, aku belum merasakan jadi hebat."
"Merlin, orang yang bertahan tanpa mainan itu hebat, Uncle!"
Dari jarak cukup jauh James memanggil keduanya untuk segera masuk. Fred Jr makin tak tahan sebab senampan sosis panggang diiming-imingkan James sambil memasang ekspresi keenakan dari baunya. Dan memang baunya tercium nikmat hingga halaman belakang.
"Ah, kau bisa lihat sendiri bagaimana saat kau sudah jadi Daddynya Jamie, Albie, dan Lily. Di masaku tentu saja. Tidak ada yang menyangkal kalau kau memang orang hebat. Semua orang ingin sepertimu." Suara Fred Jr tertahan-tahan menahan perih di matanya. Hampir sebagian besar area matanya sudah makin memerah.
"Tapi aku ingin seperti orang lain. Yang punya orangtua—"
Ditunjuklah ke arah pintu. Fred Jr dengan bangga memperlihatkan Harry muda dua orang sosok orangtua hebat yang ada di rumah itu. "Mungkin saat Grandma memberikan sendal ini ia sudah tahu kalau waktunya denganmu tidak banyak. So—" ia bangkit memakai sendalnya kembali, "manfaatkan waktu ini dan mari sekarang kita makan."
Fred Jr mendahulu masuk dengan membiarkan Harry muda tinggal sendiri. Namun sebelumnya, Fred Jr sempat berbisik, "makan dari makanan yang disiapkan oleh orangtua sendiri rasanya akan jauh lebih nikmat, Uncle. Kalau kau tak percaya, buktikan saja ke dalam. Ayo!"
Kata-kata dari anak yang usianya tak lebih dari tujuh tahun itu seperti datang dari guru besar ilmu spiritual. Hanya jauh lebih sederhana dengan kekuatan luar biasa. Harry muda seolah diingatkan jika kesempatan seperti itu tak bisa terus kembali diulang. Ia pernah merasakan makanan terenak yang pernah ia santap di kafetaria sekolah Mugglenya dulu. Tapi menurut Fred Jr, makanan di dalam sana bisa jauh lebih nikmat terasa dibandingkan makanan mana pun.
Harry tak pernah tahu.
"Ayo sarapan, anak-anak! Pilih sendiri kalian mau makan apa biar aku bantu siapkan!" teriakan Lily terdengar begitu merdu oleh Harry. Panggilan sarapan yang terus melekat diingatannya adalah bagaimana bibi Petunianya memintanya sebagai pembantu. Dengan ucapan kasar bahkan makian. Bukan untuk menyantap sarapan, melainkan sebagai penyaji sarapan.
Harry benar-benar tak pernah tahu sampai hatinya menginginkan untuk membuktikannya secara langsung.
"Kami datang, Mum!" jawab Harry muda dengan lantang. Ia tak bisa membuang waktunya hanya untuk menunggu hasil bak mandi itu dan membiarkan kesempatan bersama kedua orangtuanya terbuang sia-sia.
Tidak bisa semua orang ikut dalam perjalanan ini. Setidaknya time turner itu bisa kuat membawa beberapa orang saja. "Kita tidak bisa ambil risiko, Gin." Harry mengingatkan istrinya jika perjalanan mereka bukan main-main.
"Tapi itu bisa jadi kesempatan kau bertemu dengan kedua orangtuamu, Harry."
"Aku tahu, tapi—" Harry melempar pandangannya pada Sirius.
Awal dari rencana mereka adalah sebagian orang akan ikut menuju masa lalu. Harry, Ron, Sirius, George dewasa, dan Remuslah yang akan berangkat. Selain untuk menyelamatkan Harry muda dan Fred Jr, seperti Sirius dan Remus juga berkeinginan untuk bertemu kembali dengan James, sahabat mereka. Sedangkan Ron dewasa, ia bisa diandalkan untuk membantu George dewasa dalam proses teknis apapun jika terjadi kendala nanti. Namun, sebagai pemegang hak milik dari time turne itu, Hermione muda menyarankan tentang satu hal.
"Ini sudah lebih berbahaya dari terakhir aku menggunakannya dengan Harry. Memang tidak terjadi apa-apa saat kami berdua berangkat dulu. Tapi, aku tidak sempat melakukan perawatan apapun untuk benda ini. Apalagi sampai mengecek kemampuan sihirnya." Hermione menunjukkan kondisi time turnernya lalu kembali menjelaskan, "benda ini sudah sangat tua.. sejauh yang aku periksa. Aku hanya takut jika.. terlalu banyak yang akan dibawa oleh benda ini, bisa berpengaruh dengan tujuan kalian." Tuturnya. Beberapa dari mereka ikut setuju dengan penjelasan sederhana namun masuk akal dari Hermione muda.
"Dan tujuan kalian nanti tidak sekadar mundur satu atau dua jam. Bahkan bertahun-tahun!" saran Hermione berusaha diserap baik-baik oleh lima orang yang siap berangkat pada awalnya. Tidak lama setelah bentuk peringatan itu datang, Ron dewasa mengangkat tangannya lantas memutuskan untuk tidak ikut.
Ron dewasa menepuk sang adik ipar pelan, "berangkatlah. George juga sudah hebat untuk urusan perjalanan waktu tanpa bantuan siapapun. Aku di sini akan kembali membuat bubuk portal lagi dari sisa bahan yang ada. Jadi kalian berangkatlah." Dengan penuh sikap dewasa, Ron lebih memilih menyerah. Sang istri menyambutnya dengan penuh rasa bangga.
"Kau keren, sayang!" bisik Hermione dewasa diikuti kikikan tawa si kecil Hugo di gendongannya.
Begitu juga dengan Remus. Ia maju dan siap mengalah. "Remus, kau yakin?" tanya Sirius. Wajahnya tampak kebingungan dengan sikap sahabat kecilnya. "Kita bisa bertemu dengan Prongs!"
"Benar, Sirius. Tapi.. kalian yang berangkat. Aku tidak mau karena keinginanku bertemu James menghalangi usaha kalian membawa pulang Harry muda dengan putra George ke masa sekarang. Aku lebih ingin mereka berdua selamat, Sirius."
Penuh dengan rasa bijaksana Remus menyerahkan kesempatan pada Sirius, Harry dan George dewasa. Namun, sama dengan Remus dan Ron, Harry turut melakukan hal yang sama. Ia mengajukan diri untuk tidak ikut karena alasan tidak ingin mengambil risiko. Bujukan Ginny tentang kesempatan bertemu dengan kedua orangtuanya tersisikan dengan faktor keselamatan dirinya yang lebih muda dan Fred Jr.
"Remus benar, Gin. Tujuan utama kita menyelamatkan mereka. Bukan sekadar jalan-jalan atau berkunjung minum teh—"
"Tidakkah kau ingin bertemu dengan orangtuamu?" Ginny dewasa menyentuh dada bidang suami. Merasakan detak jantung pria yang ia cintai itu berdetak tiga kali lebih cepat. Ia selalu tahu saat suaminya benar-benar dalam kondisi terberatnya. "Tidakkah kau ingin lebih mengenal orangtuamu, Harry?"
"Gin—"
"Istrimu benar, Harry." Sirius mendekat. "Aku jauh mengenal orangtuamu dibandingkan dirimu. Masa mudaku lebih banyak bersama ayahmu. Jadi—pergilah dengan George. Ia harus pergi mencari putranya. Begitu juga kau. Cari dirimu dan mereka—James dan Lily, orangtuamu."
"Tidak ada tanda apapun." Lily mengayun sekali lagi ranjang kecil tempat istirahat bayi Harry. ia kembali memperhatikan dua pintu di kanan dan kirinya.
Dari arah pintu depan, tidak ada tamu yang datang. Begitu juga dengan pintu belakang. Halaman belakang rumahnya masih saja sepi. Tidak ada tanda-tanda tentang kedatangan secara sihir di sana. Kalau pun benar jika orang dari masa depan datang, setidaknya mereka akan segera menuju ke rumah itu. Tapi hingga malam tiba mereka tidak kunjung datang.
Guyonan aneh James memberi aura ceria di tengah ketegangan yang ada. Ia memangku bayi Harry sambil bermain gelembung dari air liurnya. Tiap gelembung liur itu pecah baik bayi Harry maupun Fred Jr akan tertawa terbahak-bahak. Begitu terus berulang meski Lily meminta James karena permainan itu jorok.
"Hentikan, James! Coba sekarang kau cek pintu depan dan belakang. Biar Harry aku yang gendong!" protes Lily. Bayi Harry kini berganti kepadanya selama James mencoba memeriksa halaman depan dan belakang rumahnya. Di situlah Harry muda berniat untuk ikut.
Dengan senang hati James membolehkan Harry muda bersamanya. "Tentu saja, son. Aku akan ajak kau berjalan-jalan di sekitar rumahmu sendiri." Ajak James tentu saja disambut hangat oleh Harry muda.
Sementara itu, di salah satu sudut pertemuan tiga jalur desa, dua orang pria datang dengan satu hembusan angin kencang mengiringinya. Harry dewasa dan George menyadari mereka telah sampai di suatu tempat yang sudah lama mereka kenal.
"Kita sampai, Harry."
"Yeah.. aneh sekali rasanya datang ke tempat kelahiran sendiri."
Mereka mencoba berjalan menyusuri salah satu jalur yang Harry dewasa ingat arah menuju rumah orangtuanya.
"Karena situasi yang berbeda, kan. Kau biasa datang ke sini untuk berziarah kemakam orangtuamu tapi sekarang.. kau datang untuk menemui mereka dalam kondisi hidup lalu menyapa 'hi, Mum, hi, Dad!' begitu lebih tepatnya." George tidak berniat apapun selain membuat Harry dewasa tertawa.
"Thanks, George. Kau memang pintar. Aku tidak bisa bertemu dengan orangtuaku dengan wajah murung."
Sepanjang jalanan gelap Godrics' Hollow memberi salam selamat datang pada Harry dewasa dan George malam itu. Bangunan yang Harry dewasa kenal tak ada di masadepan tampak lebih antik dari bayangannya. Toko bunga yang sudah tutup kemudian rumah-rumah penduduk lain yang juga tampak sepi memberi Harry dewasa dan George satu kesimpulan sederhana. Mereka sampai saat malam semakin larut.
"Jam tanganku tiba-tiba mati padahal aku baru menganti baterainya sebelum aku menyusul kemari." George memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Punyaku juga. Waktu yang kita punya berhenti. Tapi mungkin tidak bagi penduduk di sini."
George mengangguk setuju setelah ia menengok salah satu kedai yang masih buka. Ada satu jam besar di dindingnya yang masih menyala. "Jam 10, Harry. Sudah malam juga ternyata." Kata George. mereka siap mengambil keputusan segera untuk cepat menemukan dua anak yang sedang mereka cari.
Tentu saja, tujuan mereka adalah lokasi bak mandi Sirius yang menjadi media pesan. Menurut Sirius, sebelum malam Hallowen tiba bak mandi itu ada di rumah James dan Lily Potter. Namun jika disambungkan dengan malam mereka sampai, baik Harry dewasa maupun George tidak tahu mereka ada di malam apa.
"Ini Halloween?" tanya George tapi segera ia ralat, "tapi aku rasa tidak. Sirius bilang bak itu ada di rumah orangtuamu sebelum Halloween tiba. Jika masih bisa dipergunakan mengirim pesan artinya bak mandi sialan itu masih ada di sana. Meskipun banyak kemungkinan bisa terjadi. Semoga saja malam ini bukan malam—"
"Saat orangtuaku terbunuh. Ya, aku juga berharap seperti itu, George."
Kira-kira tinggal beberapa meter lagi untuk sampai di depan rumah pasangan James dan Lily Potter. Rumah itu bergaya sederhana dengan pagar bata dengan pintu pembuka dari kayu. Sama seperti beberapa rumah di sekitarnya namun lebih besar.
Dan.. di dekat gereja mereka berhenti sejenak. mengingat banyak kemungkinan bisa terjadi saat mereka benar-benar sampai di rumah itu. George mengingat tentang sejarah kelam malam Halloween itu. Tentang kematian sepasang suami istri Potter akibat ulah raja kegelapan masa itu.
"Tidak ada sejarah yang tahu jam berapa Voldemort datang untuk membunuh orangtuamu. Jadi—"
Harry dewasa melihat cepat ke arah gerbang, "tidak ada lagi buang-buang waktu."
Srakk! Suara ranting patah menahan langkah mereka untuk pergi. Suara-suara panggilan yang tak jelas siapa pemiliknya mengganggu ketenangan keduanya. Aura sihir gelap yang mudah terdeteksi oleh Auror terlatih seperti Harry dewasa. Tangannya menyusup cepat ke balik jaket tebalnya. Tongkat siap untuk berjaga.
"Suara siapa itu, Harry. Bloody hell! Hey, bocah! Keluar kau sekarang! Apa maumu—"
"Tenang, George! Jangan gegabah. Tetap waspada. Persiapkan tongkatmu!"
Beberapa saat kemudian muncullah suara yang jauh lebih jelas. Memanggil Harry. Menyampaikan suatu pesan.
"Berani sekali kau datang, Potter. Kau punya cara juga. Hati-hati akan hidupmu. Karena sebentar lagi... aku akan menghilangkanmu dari dunia ini. Menghilang. Tanpa jejak di bumi. Bahkan dalam buku sejarah."
Tidak ada wujud yang muncul. Di sekeliling gereja tak ada. Jalanan lengang tanpa penduduk selain Harry dan George.
"Dia mulai mengancam, Harry. Ada di mana dia—ouch! Sialan! Siapa yang melempar?"
Sebuah kerikil menghantam kepala George dari arah udara. Melayang di sisi pelipisnya. George berbalik menegadah melempar pandangannya ke ujung menara gereja. Sosok anak kecil berjubah hitam sedang berdiri di sana. lalu dengan cepat ia menghilang.
"Apparate? Anak sekecil itu—lalu bagaimana dia bisa sampai ke atas menara kalau tadi suaranya seperti ada di belakang kita, Harry? Terbang? Kita harus cari kotak portalku yang dibawanya, Harry. Ia harus kita kembalikan ke asalnya!"
Setelah terlihat di ujung menara, tiba-tiba saja sosok kecil itu muncul beberapa meter di depan mereka. Berdiri di antara jajaran pohon-pohon tinggi dengan cahaya seperti putih keabuan menyelimuti seluruh tubuhnya. Di tengah gelap malam ia begitu terlihat dan Harry benar-benar tak bisa menahannya lagi.
"Kalau kau tak mau tetap di sini, pergilah ke rumah orangtuaku. Ada di ujung jalan sana. Aku pergi cari anak itu dulu!"
Lantas Harry dewasa berdissaparate di tempat.. sebelum George menjawan permintaannya. "Bloody hell, semua Auror memang punya penyakit nekat kronis, ya?" Gerutunya sendiri.
Dan di hutan itu Harry dewasa berada.. dengan sosok yang terus mengancam hari-harinya di masa lalu. Harry berdiri tepat di belakang sosok misterius berjubah itu. Ia tetap membelakangi Harry. Tanpa bersuara sementara cahaya putih keabu-abuan itu terus menguar menyelimuti tubuhnya.
"Aku tahu kau yang membuat Albus terus bertindak aneh dan mudah tersulut emosinya. Aku juga tahu kau yang memengaruhi Albus berani menaruh bubuk-mukus-kering-salamander-hitam di kedai kue saat itu. Kau ingin membunuhku lewat perantara putraku sendiri? Atau bahkan ingin mencelakai putriku satu-satunya dengan memancingnya melompat dari jendela? Aku sudah tahu! Aku pastikan sekali lagi, kau tak akan bisa!"
Sosok berjubah hitam itu malah tertawa dengan senangnya. Saat kekejamannya seolah ditelanjangi oleh seorang Harry Potter ia makin senang jika usahanya benar-benar terkesan sangat hebat.
"Keren, bukan? Astaga, kau memang Auror hebat, Potter. Tapi apa kau tahu rencana apa yang akan aku lakukan di sini.. ah, tentu aku sangat berterima kasih dengan portal buatan pria rambut merah itu. Di balik muka konyolnya itu ternyata ia jenius juga."
"Jangan berbelit!" Harry membentak. Ia satu langkah maju mendekat tak tahan untuk melumpuhkannya, tapi Harry berusaha tenang. Ia tak mau keadaan makin parah. "Katakan kalau kau memang berani!"
Lagi-lagi sosok misterius itu tertawa puas. Ia mulia menyentuh ujung tudung kepala jubahnya. Menariknya kebelakang hingga warna silver rambut terlihat jelas. Benar-benar berwarna silver menyala.
"Karena kau lebih cepat datang, jadi aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri lebih cepat dari yang kau kira." Pelan-pelan ia berbalik, sambil terus berbicara dan menatap wajah Harry tanpa gentar.
"Aku akan membunuhmu. Membuat semuanya berjalan semestinya. Aku akan membunuhmu terlebih dulu sebelum ia datang lantas gagal membunuhmu."
Mereka sempurna saling beradu pandang. Kedua kaki kecilnya terangkat melayang. Mencapai ketinggian di mana sorot matanya tepat tertuju pada Harry. Dalam kondisi tetap melayang tanpa bantuan angin, ia berbisik sangat lirih, "hi, Harry Potter. Beruntung sekali aku langsung dihadapkan denganmu. Semesta benar-benar bersahabat. Ayo, kita bermain!"
Ranting-ranting pohon patah bersamaan. Beberapa patahan itu meleting tinggi lantas bergantian menghantam badan Harry. Ia sempat menghindar tapi tidak bisa dipungkiri lengannya sempat terkena salah satu ranting tajam.
"Kurang ajar, kau anak kecil! Apa sebenarnya maumu?" erang Harry tak bisa mengontrol pergerakannya. Mantra-mantra terlontas lepas tanpa ia pikir. Asalkan ia selamat itu sudah jauh lebih baik.
Delphi tidak tinggal diam. Beberapa serangan ranting melayangnya bisa ditepis dengan mudah oleh Harry. tangannya kembali terangkat. Mengerahkan salah satu pohon untuk berguncang lalu meruntuhkan sebagian daunnya. Badannya pun turut melayang mencapai tiga perempat tinggi pohon di belakangnya.
"Kau terluka? Oh, kasihan! Larilah ke rumah orangtuamu. Merengeklah seperti bayi. Bukankah kau tak pernah merasakan kasih sayang dari orangtuamu, hah? Itu menyedihkan sekali!"
"Tahu apa kau tentang kasih sayang orangtua?"
Delphi terhenyak hebat. Pertanyaan Harry seolah mengingatkan dirinya tentang keadaan dirinya. "Tentu saja tahu." Delphi lenyap. Dengan sekejap ia kembali menapak tanah. "Karena aku juga tak merasakan kasih sayang yang sama.. dengan yang tak kau rasakan itu.. confringo!"
Ledakan hebat menghantam tanah sisi kanan Harry. Ia dengan cepat berguling ke kiri lantas membalas serangan Delphi tak kalah gesit.
"Rictusempra!" teriak Harry namun Delphi segera menghindar di balik batang pohon. "kemarilah, nak! Kau yang seharusnya merengek seperti bayi!"
"Oh, kau benar-benar berani rupanya! Incendio!"
Semburan api muncul membentuk lingkaran besar. Mengepung posisi Harry dan Delphie berdiri. Nyalanya besar. Dinginnya malam tak dirasa lagi. Serangan demi serangan mantera mereka terus berlanjut dengan jangka langkah terbatas api. Harry yakin, dengan keadaan seperti itu ia tidak bisa berbuat banyak.
"Kau benar-benar menginginkanku?" tantang Harry berusaha menahan balasan mantranya. Satu pohon besar di belakangnya menghadang segala geraknya untuk sekadar mundur. Ia sempat mencari George, tapi entah mengapa daerah mereka bertarung seperti terisolasi dari lingkungan. Bahkan ledakan dan api sebesar itu tidak membuat para penduduk datang.
Yang Harry rasakan hanya kekuatan sihir gelap yang semakin kuat.
"Aku menginginkan kau mati. Aku hanya ingin membuatnya bangga karena ia tak perlu susah-susah membunuhmu. Begitu juga saat perang itu tiba. Ia pasti masih hidup karena kau tak akan bisa mengalahkannya."
"Voldemort—" Harry teringat satu nama, "kau ingin membantu Voldemort?"
"Ya, karena kau yang membuatnya mati, Potter! Avada kedav—"
"Incarcerous!" Harry lebih cepat menyerang. Sulur tali tipis keluar dari ujung tongkatnya lebih dulu.
Selanjutnya, tubuh Delphie bergelempang di tanah. Mengerang, tertahan, dan terikat.
"Kau masih harus banyak belajar, nak. Aku tak tahu kau siapa, tapi aku merasakan rasa sakit yang sangat dalam." Harry mendekati Delphie yang mulai menangis. Harry berjongkok mendekati tubuh musuhnya lantas kembali berkata, "kau masih butuh banyak pengalaman dalam menjalani hidup. Kau tidak bisa langsung marah saat.. dunia tak berpihak padamu." Suara Harry merendah.
Tangan kananya terangkat dan bergerak membentuk lingkaran. Api-api di sekitarnya padam dalam sekali hebus. Angin sihir yang dibuat Harry ikut menggerakkan pohon-pohon di sekitarnya. Dingin kembali terasa.
"Kau tak tahu!" pekik Delphi dengan mata memerah menahan luapan airmata emosinya.
"Aku memang tak tahu. Kau belum bisa berbuat sesuatu yang dirimu saja belum bisa menguasainya."
Sebuah kotak kecil terjatuh dari balik jubah Delphi. Portal milik George. Harry mengambilnya. Menunjukkan reaksi biasa saja meski Delphi mulai terganggu dengan tindakan apa yang bisa dilakukan untuknya.
"Kau mencurinya dari kami semua. Lalu kau datang ke tempat ini untuk merubah sejarah yang sudah tercipta. Itu salah, nak!" Harry meletakkan kotak itu kembali di hadapan tubuh terikat Delphi. Menghadapkan kotak itu siap untuk kembali di buka.
Delphie mendelik tak percaya. "Apa yang kau lakukan dengan kotak itu, Potter?" kegagalan sudah ada di depan matanya.
"Aku akan kembalikan kau pada kehidupan sebelumnya. Dan efek yang dihasilkan dari portal yag belum sempurna ini akan menghilangkan ingatanmu tentang perbuatan apa yang sudah kau perbuat."
"Kau tak bisa begitu saja menghalangiku!" Delphi terus bergerak dengan uraian air mata yang semakin deras. Ia hanyalah seorang anak yang tersakiti. "Aku membencimu!"
"Silakan kau membenciku. Asalkan jangan kau ikut membenci orang-orang lain di kehidupanku. Jika aku kembali melihatmu berbuat hal yang sama, apalagi terhadap keluargaku, aku tak akan diam saja. Kau akan merasakan akibatnya."
Pelan-pelan Harry membuka kotak portalnya. Sebuah pusara biru berkilau muncul dan mengeluarkan tarikan kuat pada objek yang di hadapannya. Dari tarikan pelan hingga sangat kuat. Sesaat selanjutnya, Delphi tak lagi di sana.
"Bloody hell, Harry! Kurang ajar, kau! Kemana saja hah? Kenapa kau bisa berdiri di sana—"
"What?" seseorang yang dikira Harry oleh George berbalik. Pria itu kebingungan, "heh, apa maksudmu? Siapa yang kurang aja?"
"Har—Merlin, kau jauh lebih muda!"
Namun tiba-tiba suara lain membuat George bingung. "Ha-Harry?" ia tergugu bingung. Ada dua orang yang terlihat sama. Begitu sosok lain yang lebih muda datang lagi, George berteriak makin kebingungan.
"Ada tiga?" George menunjuk satu persatu pria di hadapannya. " Si-siapa yang Harry?"
Mereka saling melempar pandang sampai dua diantaranya menjawab, "aku!" jawab Harry muda dan dewasa kompak.
"Aku James, bung. Harry ini putraku. Kalau Harry yang itu—bloody hell!"
James menyadari jika pria dewasa di belakang George begitu mirip dengannya. Dengan penampilan lebih dewasa dan mata hijaunya, ia tahu jika pria itu adalah sosok lain dari putra kandungnya. "Kau—Harry?" tanyanya.
"Dad?" panggil Harry dewasa.
Di salah satu rumah dengan lampu teras masih menyala, Lily tak tenang saat suami dan putra remajanya tidak kunjung kembali hampir setengah jam lamanya. Jalanan makin sepi dengan suara-suara serangga malam yang masih terus terdengar. Tanpa ada orang lain datang.
"Sudahlah, Grandma. Ayo masuk. Nanti kau sakit. Di luar dingin." Pinta Fred Jr di dekat ranjang bayi Harry. Hanya ada mereka berdua di sana dan juga si kecil Harry. mereka tidak bisa begitu saja beristirahat jika dua orang yang lain tidak kunjung kembali.
Yang ada Lily makin panik.
"Kalau kau ingin istirahat, istirahatlah, Fred. Kau bisa tidur di sofa atau ke kamar tamu."
"Ah, pasti susah tidurnya, Grandma. Aku kangen Daddy—astaga, Daddy!"
"Fred! DEMI CELANA MERLIN! Putraku!"
Harry muda, Harry dewasa, George, dan James muncul di depan pintu. Senyuman mengembang pada masing-masing wajah mereka. Apalagi George. Ia akhirnya menemukan putranya kembali.
Boneka burung hantu mainan milik bayi Harry di tangan Fred Jr ia lempar sembarangan ke lantai saking terkejutnya. Anak itu memilih datang dan menghamburkan pelukan ke tubuh tinggi ayahnya sambil meraung kesenangan. Tanpa sadar, suara itu bisa mengangguk si kecil Harry yang sedang tertidur dengan pulasnya.
Benar saja, tidak lama kemudian tangis Harry kecil pecah. "Aduh.. maaf, Grandma!" Fred Jr menyesal.
"Ow, tak apa sayang." Lily kembali menghampiri ranjang kecil putranya. "Maafkan kami, ya! Ayo tidur la—"
"Itu—itu aku?"
Semua orang tertuju perhatiannya pada Harry dewasa. Sosok lain dari Harry menjadi lebih menarik ketika ia lebih mendekat ke arah ranjang bayi. Berdiri di sisi Lily yang sibuk menggoyang-goyangkan ranjang bayinya. Sama dengan yang sedang ia pikirkan, Harry dewasa melihatnya sendiri sosok dirinya ketika masih bayi.
"Saat kau bayi mirip sekali dengan Al ya, Harry." Bisik George dengan Fred Jr di gendongannya. "Sampai nangisnya saja sama."
"Al?" Lily menatap Harry dewasa begitu tajam, ia mendengar nama yang sudah sempat ia dengar sebelumnya, "Al itu putramu, sayang?" tanyanya.
Harry dewasa mengangguk. "Putra keduaku, Mum. Ia juga memiliki mata sepertimu. Seperti kita." Ia tidak tahu sejak kapan airmatanya tiba-tiba saja keluar. Dadanya makin sesak seiring posisinya semakin dekat ke hadapan sang ibu.
"Sejak James lahir, kemudian Al, sampai putriku, Lily, aku dan istriku, Ginny, sangat ingin mengenalkan mereka pada kalian. Padamu, Mum, dan juga Daddy. Kalian punya tiga cucu yang luar biasa hebat."
"Oh, sweetheart," Lily memeluk Harry dewasa dengan lembut. Melesakkan mukanya ke dada putranya sambil menangis haru. Sambil menyentuh pipi putrinya, Lily berbisik, "kau pun hebat, sayang!"
Sangat indah sekali. Harry dewasa membayangkan hidupnya akan sangat sempurna jika keluarga kecilnya dapat bersatu. Bersama dalam satu keluarga. Saling mengunjungi bahkan berbagi peluk. Seperti yang sedang ia rasakan. Ia tak mau mengakhiri rasa nyaman itu begitu saja. Ibu yang sangat ia rindukan kini ada di hadapannya.
"Aku merindukanmu, Mum!"
"Yeah.. kau tahu, sayang—kami akan selalu ada denganmu."
"Ya, aku tahu, Mum. Aku hanya—" Harry dewasa tak kuasa untuk mengungkapkan rasa sesalnya. Waktu yang ia miliki tidak banyak. "Aku hanya tak ingin saat-saat seperti ini harus berakhir." Ia tahu akan segera kembali.
Sesuatu terasa bergetar di saku mantel George. Di dalam sana time turner yang mereka gunakan untuk menuju masa itu tiba-tiba bergerak dengan sendirinya.
"Harry," panggil George setelah mendudukkan putranya, "aku rasa waktu kita tak banyak."
Harry muda yang terlihat lebih dulu panik. Ia melihat ayahnya di dekat pintu dengan pandangan khawatir. "Lalu anak itu bagaimana?" bisiknya pada George.
"Tenang saja, Harry kecil. kata dirimu yang tua itu dia sudah melumpuhkannya. Anak misterius itu sudah pergi dengan portal ini." George menunjukkan kotak pemberian Harry dewasa saat perjalanan.
James menepuk pundak Harry muda penuh kebanggaan tersembunyi. "Kau lihat dirimu itu, son. Kau tampak tua. Aku diam-diam sudah lihat ubanmu di dekat telinga. Hey, ingat.. jangan memforsir kerja. Katanya kau punya tiga anak.. pasti mereka lucu-lucu sekali. Habiskan waktumu juga nanti dengan istri dan anak-anakmu. Itu penting untuk jadi suami dan ayah yang baik! Dengar itu!" petuah James dengan pedenya. Ia berlaga sangat berpengalaman meski pernikahannya baru seumur jagung bersama Lily dibandingkan anaknya sendiri yang sudah dewasa.
Harry muda hanya bisa memandang dirinya yang lebih dewasa. "Aku akan berusaha melakukannya, Dad." Ia yakin dengan sosok dirinya yang lain di depan sana.
"Harry, kita sudah tak punya banyak waktu."
Peringatan dari time turner di genggaman George terus berputar. Mereka harus segera berkumpul. "Harry—" George kembali mengingatkan. Fred Jr sudah siap memeluk sang ayah.
"Yeah, aku tahu." Harry dewasa kembali memperhatikan sekitar rumahnya. Memandang ibu kemudian ayahnya untuk terakhir kalinya. "Thank you!"
"Harry, kami tahu apa yang kau rasakan." James dengan penuh rasa bangga memeluk putranya. "Salam untuk anak-anakmu, ya. Astaga.. aku sudah punya cucu."
"Benar, Dad. Kau punya tiga. Dan mereka sangat bangga tiap aku tunjukkan foto kalian. Terutama James, putra sulungku. Dia benar-benar mirip denganmu. He's a prankster!"
"Oh, Merlin! James, kemudian Al—Albus, dan Lily, mereka akan bangga padamu." Seru Lily. Ia ikut memeluk Harry dewasa sekali lagi sambil berbisik, "jaga mereka dan sayangi mereka. Istrimu juga. Aku sudah melihatnya saat ia lahir beberapa bulan lalu. Aku yakin ia wanita yang hebat. Meski terlambat, kami berikan restu kami untukmu. Salam untuk mereka."
George memberi salam terakhirnya pada James dan Lily. Mereka siap untuk segera berangkat. "Aku sungguh minta maaf, Mr. Prongs. Oh Merlin.. kau dan teman Maraudermu adalah idolaku." Kagum George diamini oleh Fred Jr. "Kau keren, Mr. Prongs."
"Tapi sebelumnya, apa tidak kita lakukan sesuatu sebelum kita benar-benar kembali?" tanya Harry muda mengkhawatirkan sesuatu. "kalian bisa mengingat ini semua. Apa itu aman?"
"Tentu.. kalian bisa menghapus ingatan kami tentang ini." saran Lily.
"Baiklah." Harry dewasa meminta kedua orangtuanya untuk berbalik memunggungi mereka. ia siap untuk mengobliviet. "Aku akan menghapus ingatan tentang kedatangan kami sebelum pergi. Jadi bersiaplah."
Harry dewasa mengulurkan tongkatnya. George bersiap memutar time turnernya kembali stabil. Fred Jr dan Harry muda mengambil posisi terdengat dengan rantai kalungnya. Setelah semua siap, Harry dewasa siap merapal, "obliviate!"
Sebagian ingatan itu terhapus bersama dengan generasi dari masa depan yang kembali ke waktu mereka berasal.
Ron dewasa berhasil membuat campuran ramuan portal yang dibutuhkan. Bahkan dengan bantuan istrinya, Hermione dewasa yang dibantu pula dengan Hermione muda ikut sukses membuat tambahan efek dari portal itu.
"Tepat setelah kita kembali, ingatan kalian semua di sini akan dimanipulasi. Kalian tidak akan ingat jika kami pernah ada di sini."
Begitu yang akan terjadi. Mereka mengangguk paham dengan keputusan terbaik yang diambil. Dengan kotak yang dibawa oleh Harry dewasa dari pertarungan singkatnya bersama Delphi, anak yang tak pernah ingin ia kenal.
"Baiklah..," Ginny dewasa bertugas dadakan mengendalikan anak-anak yang siap dikumpulkan di dekat lingkaran buatan dengan tulisan rune berupa mantra manipulasi ingatan sebagai portal mereka kembali.
"Anak-anak, apa yang harus kalian sampaikan sebelum pulang?" tanya Ginny dewasa sangat bersahabat. Meski para orang dewasa tahu ada maksud tertentu Ginny dewasa meminta anak-anak menyampaikan pesan terakhirnya.
Albus kecil memandang ayahnya yang erat menggandeng tangannya. Ia meminta pendapat Harry dewasa untuk pesan apa yang akan ia sampaikan.
"Kau mau sampaikan apa, buddy?" tanya Harry dewasa pada sang putra.
"Em," dengan lugunya Albus melambaikan tangannya mengucap salam, "bye! Sampai jumpa!"
Semua orang tersenyum melihat keluguan putra Potter itu. Diikuti salam-salam perpisahan dari yang lainnya mereka segera kembali. Ke masa depan.
******************************************* o0o *******************************************
"Daddy, kata Fredie saat Daddy bayi punya boneka burung hantu yang lucu sekali. Lebih lucu daripada si Eugine. Benarkah? Aku ingin lihat, Daddy!"
Eugine, adalah nama boneka burung hantu milik James yang dimilikinya sejak bayi. Mereka semua selamat sampai di masa depan setelah portal buatan Ron berhasil membawa mereka kembali. Sepanjang menunggu para orangtua membereskan Grimmauld Place sebelum kembali ke rumah masing-masing, para anak diminta untuk menunggu dengan berkumpul jadi satu.
Di kesempatan itulah, Fred Jr yang memiliki kesempatan datang ke masa lalu bercerita banyak pada dua sepupu terdekatnya itu. James dan Louis begitu tertarik dengan sosok Grandpa James dari cerita Fred Jr. Kemudian tentang kebaikan Grandma Lily dan lucunya Uncle Harry mereka ketika bayi. Dan tidak lupa mainan yang ada di sana. James sangat penasaran dengan boneka masa kecil ayahya.
Ini yang diributkan James sesampainya keluarga kecil Potter ini di kediaman mereka. Malam ternyata sedang berlangsung saat kedatangan para generasi itu ke masanya. Ketika para ibu melihat jam, mereka protes ingin cepat kembali. Anak-anak mereka butuh tidur. Begitu juga mereka ingin segera beristirahat di rumah masing-masing setelah lama terjebak di masa lalu.
"James, Daddy sendiri tidak tahu boneka itu masih ada atau tidak. Itu sudah lama sekali." Kata Harry setelah mengantarkan Albus terlebih dulu ke kamarnya.
"Tapi, Daddy tahu bonekanya seperti apa, kan? Besok belikan yang sama, ya. Pokoknya harus!"
"Eh, masa anak laki-laki mainnya boneka?" Harry menggendong James agar lebih cepat. Di ujung pintu, Ginny masih menggendong si kecil Lily yang baru saja menyusu. Harry mengedipkan mata memberi isyarat pada istrinya yang berarti 'tunggu di kamar'.
James segera di tidurkan di atas ranjangnya selepas berganti pakaian dengan piama. Masih ingin terus meminta, James kembali mengingatkan. "Biar Eugine ada temannya, Daddy. Boleh, ya. Besok belikan bonekanya!" James tak mau tahu.
"Tapi James—"
"Selamat malam, Daddy. I love you!" dan James bergegas menutup matanya berlaga tidur.
Sebagai ayah, Harry sampai tak bisa percaya James begitu suka membuat ulah. "Dasar, dia benar-benar cucumu, Dad!" batin Harry mengingat ayahnya.
Masing-masing kamar anak-anak mereka sudah terisi. Mulai dari James, Albus, dan Lily sudah berhasil tidur di ranjang masing-masing. Tinggal dirinya dan juga Ginny.
"Sudah selesai urusan dengan putra tertuamu, Mr. Potter?" Goda Ginny pada suaminya.
"Dia masih mau boneka burung hantu yang sama dengan milikku ketika bayi." Dihampirinya Ginny lantas ikut berbaring di atas ranjang meraka. Harry sudah melepas kacamatanya siap untuk tidur. "James benar-benar penasaran dengan wujud boneka burung hantu itu, Gin."
"Merlin, bisa-bisanya anak itu!"
Mereka bersama tertawa. Ada rasa lega ketika Harry dan Ginny kembali berdua di kamar mereka sendiri. Di masa mereka sendiri. Tiba-tiba saja Harry tersenyum memandang wajah bahagia Ginny. Dari posisi miring saling berhadapan. Ia bisa melihat meski visualnya tak begitu jelas tanpa kacamata.
"Mereka merestui kita, Gin."
"Sorry?"
"Mum dan Dad. Di sana mereka menyampaikan restunya pada kita dan juga menitipkan salam untukmu dan anak-anak." Harry menitikkan airmatanya.
Ginny tak ubahnya Harry yang merasakan haru. Meski ia tak melihat dan bertemu sendiri sosok James dan Lily Potter, mertuanya. Bibir mereka seirama saling berpagut. Melumat merasakan cinta mereka benar-benar nyata.
"Mereka pasti sangat bangga padamu, sayang."
"Yeah, dan mereka ingin aku tetap menjagamu.. menjaga anak-anak."
Sekali lagi Ginny mencium bibir Harry sedikit lebih lama, sebelum kembali menjawab, "karena memang itu tugasmu. Aku tahu kau adalah sosok suami dan ayah yang hebat untuk kami." Ginny memeluk tubuh Harry lebih erat. Mencium dada bidang suaminya dengan penuh sayang.
"Always. Tanpa mereka minta pun aku akan selalu menjaga kalian. Dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri." Harry menarik napas dalam-dalam menghirup rambut merah Ginny. Menyesap bau khas dari tubuh istri yang sangat amat ia cintai di dunianya.
"I love you, Gin."
"I love you too, Harry. Dan—"
Harry kembali bingung. Ekspresi Ginny berubah. "Ada apa? Kau mau sesuatu malam ini? Makanan? Atau seperti James juga?" goda Harry sambil menyentil hidung Ginny.
"Sepertinya iya, tidak jauh beda dengan keinginan James tadi."
Harry sejenak berpikir. Mengingat apa yang diinginkan oleh James beberapa menit yang lalu itu. "Boneka—burung hantu?" tanya Harry.
Ginny tersenyum menggoda, "your 'OWL'!" sambil bersembunyi di balik selimut tebal mereka.[]
FIN
#
Selesai.
Thank you, guys! Semuanya! Anne sampe bingung mau ngomong apa.. Anne ucapin terima kasih banget pada kalian semua! Anne berterima kasih untuk semua pembaca, yang review maupun sekadar baca, favorite, follow, sampai terus kontak Anne minta Outside dilanjut. Maaf banget belum sempat edit bener-bener. Kalau masih ada typos mohon dimaafkan. Akan segera Anne perbaiki.
Outside selesai. Sampai jumpa di kisah-kisah lain yang baru!
(Jangan lupa cek fic baru Anne.. Ephemeral)
Thank you, guys!
Thank you!
Anne xo
