"Kau tidak ambil cuti?" tanya Wonwoo begitu mendapati Minghao sedang menyeduh segelas kopi di ruang perlengkapan yang merangkap sebagai dapur karena ada banyak barang yang harusnya berada di dapur tetapiada juga di ruang perlengkapan.
Yang ditanya hanya menghadiahi gelengan sebagai jawaban. Tidak beberapa lama, Minghao bertanya. "Kenapa?"
"E-eh tidak ingin berbulan madu atau apa begitu?" Wonwoo bertanya dengan canggung. Gadis itu tentu sering memikirkan tempat-tempat indah yang cocok dijadikan tempat memadu kasih dengan orang dicinta dan saat Minghao sudah mendapatkan pasangan hidup, kesempatan itu malah tidak ia gunakan. Wonwoo tidak habis pikir, bahkan ia saja lelah dengan kesehariannya yang berkutat di rumah sakit, mengunjungi kamar pasien, dan melakukan operasi. Mau tidak mau, Wonwoo mengakui karena inilah ia sulit mendapat kekasih.
Jihoon? Kalau Jihoon sih jangan ditanya. Hubungan keduanya sudah berjalan dari saat Jihoon masih koas. Soonyoung rutin datang ke rumah sakit karena sepupunya saat itu sempat diopname sampai satu minggu lebih.
"Bagaimana, ya? Ingin, sih, tapi kami sama-sama sibuk, Won," ujar Minghao. Wonwoo hanya mengangguk-angguk, bingung harus merespon bagaimana. "Kau sendiri bagaimana? Kapan menyusul? Jangan terlalu tua, Won."
Wonwoo menggaruk tengkuknya dengan pelan. Kenapa sih topik semacam ini harus diangkat? Wonwoo jadi bingung harus menjawab apa. Ingin pamer tetapi punya kekasih saja tidak.
"Sebenarnya hal seperti itu belum terpikirkan, sih."
"Hidupmu terlalu serius. Coba sekali-kali pergi menonton gig atau ke kelab malam. Siapa tau ada yang cocok, kan?"
*
Kim Mingyu menatap datar seorang wanita yang kini sedang asik berbaring di sofa ruangannya. Lagi-lagi Mingyu diharuskan lembur karena pekerjaan menumpuk yang selalu tidak ingin ia bawa pulang. Mingyu sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaannya di kantor agar begitu ia pulang ke apartementnya, laki-laki itu dapat bersantai tanpa dikejar-kejar laporan.
Entah ini kali keberapa tapi yang jelas Mingyu tau bahwa sang gadis tidak sepenuhnya setuju menemaninya disini.
"Pulang saja sana."
Perempuan itu bernama Doyeon. Rasanya baru beberapa jam yang lalu Doyeon menampakkan wajah yang harus diberikan belas kasihan karena penyakit asmanya kambuh dan ia lupa menaruh inhaler, namun sekarang gadis itu menjadi seratus kali lebih menyebalkan.
"Aku lupa jalan pulang," jawab Doyeon dengan cuek. "Ngomong-ngomong, gadis tadi siapa namanya?"
"Gadis yang mana?" Mingyu mengkerutkan keningnya. Mengingat-ingat gadis yang Doyeon ungkit saat ini.
"Gadis yang menolongku, Gyu. Dia siapa?" Mingyu ber-oh ria begitu menangkap orang yang Doyeon maksud. Gadis cantik yang berhasil menolong sepupu sialannya ini. Harusnya dari awal Mingyu mengatakan saja pada gadis bernama Jeon Wonwoo itu untuk tidak menolong seorang Kim Doyeon, yamg tingkat menyebalkannya dapat naik sebanyak seratus persen.
"Dokter. Namanya Jeon Wonwoo," jawab Mingyu sambil membereskan mejanya yang dipenuhi dengan sketsa beberapa kota besar di daerah Seoul. Ia bekerja di perusahaan sang Ayah yang bergerak di bidang real estate. Alasan mengapa ia ada di pesta pernikahan Minghao dan Junhui pun jelas karena Junhui adalah relasi Mingyu. Walaupun merupakan anak dari seorang pemilik perusahaan, bisa dibilang Mingyu adalah bawahan Junhui. Junhui menjabat sebagai direktur, sedangkan dirinya hanyalah General Manager. Sang Ayah tidak suka kalau anaknya langsung diberikan posisi teratas. Takut-takut kalau Mingyu tidak dapat menggunakan kekuasaannya dengan baik.
"Wah benar-benar seleramu, tuh. Kau suka dokter, kan? Kencani saja sana, daripada kau meniduri perempuan secara random, kan?" Perkataan Doyeon memang tidak salah, namun tetap saja tidak dapat semudah itu. Mingyu memang selalu memimpikan untuk mempunyai istri yang bekerja sebagai dokter. Tidak ada alasan khusus hanya saja Mingyu ingin melihat wanitanya mengenakan jas dokter sepanjang paha. Menurut Mingyu pribadi, tidak semua gadis dapat memikat walaupun sudah mengenakan jas putih kedokteran.
"Bagaimana cara mengencaninya?"
Doyeon berdecak.
"Otakmu itu mendadak tidak dapat dipakai ya kalau sudah terngiang-ngiang mengenai gadis cantik? Atau aku harus bilang kalau kali ini pengecualian?"
"Aku serius."
"Begini saja, urusan gadis Jeon Wonwoo ini aku yang urus. Kau hanya perlu bertemu, ucapkan terima kasih, dam coba ajak mengobrol, oke?"
.
"Jeon Wonwoo?" Wonwoo mendadak pening begitu mendengar suara berat yang tidak familiar menyebut namanya. Wonwoo bahkan baru selesai melakukan operasi, baru saja beberapa detik lalu ia merajut tungkai menjauhi ruang operasi, baru saja ia melepas maskernya dan ia sudah dikejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki yang berhasil menyita perhatiannya selama beberapa saat.
Laki-laki yang memenuhi pikirannya, namun Wonwoo cukup mqlu untuk mengakuinya jadi ia pun hanya menyimpan seorang diri. Mendadak curhat kepada Jihoon bukan lagi pilihan terbaik.
"Jeon Wonwoo?" Oh, lihat! Bahkan tadi Wonwoo melamun sedari tadi. Setelah kesadarannya kembali, Wonwoo mendongak.
"Ya, aku Jeon Wonwoo. Ada yang bisa dibantu?"
"Ada waktu untuk makan malam?" Wonwoo tidak tau harus merespon apa. Matanya mendadak kosong begitu suara pemuda Kim itu memasuki rungu. Tenggorokannya mendadak kering saat lagi-lagi ajakan dari pemuda Kim itu memasuki pikiran. Wonwoo baru sadar kalau ia bisa selemah ini. Lagipula, berani juga pria ini mengajaknya makan malam dengan keadaan sudah memiliki kekasih.
"Aku ada jaga malam sampai pukul sembilan," jawab Wonwoo, berusaha berucap sedatar mungkin. Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore, laki-laki dihadapannya mana mau menunggu selama itu. Lagian jual mahal sedikit itu seperti hal yang harus dilakukan, kan?
"Sebenarnya aku sudah izin kepada Minghao untuk ini. Dia bersedia menggantikan, tapi kalau kau memang tetap ingin berjaga malam tidak apa-apa, sih. Aku tidak keberatan untuk menunggu."
Sumpah, bukan itu respon yang ingin Wonwoo dengar. Kenapa sih laki-laki dihadapannya ini terlihat sangat gentle dan tampan diwaktu bersamaan? Belum lagi kemeja oversized yang ia gunakan menimbulkan kesan anak muda sekali. Wonwoo rasanya malu jika harus jalan berdua dengan pria ini. Orang-orang pasti mengira laki-laki ini adalah adiknya.
Berbanding terbalik saat hari dimana laki-laki Kim ini mendatangi acara pernikahan Minghao dan Junhui. Ia berdandan seperti laki-laki pejabat eksekutif yang dapat membuat gadis manapun rela melemparkan diri hanya demi segepok uang. Lagi-lagi memikirkan itu membuat Wonwoo pusing.
"Jadi bagaimana?"
"Apa?"
"Pukul sembilan aku tunggu di pintu rumah sakit, oke?"
"O-oke." Laki-laki dengan kemeja oversized-nya itu tersenyum, tulang pipinya sedikit tertarik ke atas dan Wonwoo mengakui bahwa itu sangat menawan. Laki-laki Kim itu lantas berbalik dan pergi, namun baru empat langkah lebar, ia kembali berbalik. Menatap Wonwoo yang melayangkan pandangan heran.
"Namaku Kim Mingyu, omong-omong."
.
a/n: aku ngga mau bikin mingyu br3ngski, kasiann:(
do leave some review ya :D
