Setelah membereskan beberapa urusan, Wonwoo mengambil tas tangannya dan hendak beranjak pulang. Tidak mempedulikan ajakan dari Mingyu yang ia pikir hanya angin lewat saja. Paling Mingyu sudah lupa akan janjinya, Wonwoo tidak terlalu menaruh perhatian.

Begitu siap untuk pulang, Wonwoo memutuskan untuk pulang bersama Jihoon. Jarak apartementnya dengan apartement Jihoon tidak terlalu jauh, jadi Wonwoo dapat turun di apartement Jihoon dan melanjutkan berjalan menuju apartementnya.

"Ck, makanya cari pacar, Won. Minta tolong dan merepotkan itu berbeda tipis loh," sindir Jihoon kepada Wonwoo. Wonwoo hanya memasang wajah datarnya, tidak berniat menanggapi karena sindiran seperti itu sudah sering Wonwoo dengar. Omong-omong, Jihoon dijemput Soonyoung. Jadi demi mendapat tumpangan gratis, Wonwoo mau tidak mau harus tahan melihat wajah Soonyoung nanti.

"Soonyoung sudah berangkat?" tanya Wonwoo kepada Jihoon yang saat ini sedang mengetik pesam kepada Soonyoung. Jam tangan Wonwoo sudah menunjukkan pukul sembilan kewat sepuluh malam, dan Soonyoung belum menampakkan eksistensinya.

Wonwoo lantas mendudukan diri di salah satu bangku yang biasa digunakan beberapa orang untuk menunggu. Gadis itu melirik kanan-kiri, dalam hati berharap juga kalau Mingyu akan menghampirinya dan mengajaknya makan malam.

"Sudah lama, ya?" Wonwoo terlonjak. Gadis itu mendongak dan mendapati Mingyu berdiri di hadapannya dengan tinggi menjulang. Setelan awalnya adalah kemeja oversized dan celana jins ketat yang membalut kakinya, setelan khas anak muda, namun sekarang ini kemeja oversized-nya sudah berganti menjadi kemeja pas badan berwarna putih dam celana bahan hitam. "Maaf, tadi ada rapat mendadak."

Wonwoo linglung selama beberapa saat, lalu ia kembali mengangguk. "Ada apa lagi?"

Mingyu menaikan sebelah alisnya dan menghujani Wonwoo dengan pandangan heran. "Aku kan sudah janji akan mengajak makan malam."

"Tapi aku sudah makan, Mingyu. Bukankah lebih baik kau pulang?" tanya Wonwoo dengan hati-hati. Lagipula siapa juga yang ingin makan pada pukul sembilan malam? Gadis itu sudah makan dari pukul tujuh.

Mingyu mengangguk mengerti. Kalau begini, sih, Mingyu juga tidak dapat memaksa. Mau bagaimana lagi, kan?

"Aku harus bagaimana untuk mengucapkan terima kasih? Kau kan sudah membantu Doyeon, dan aku merasa berhutang."

"Tidak perlu, itu kan memang tugasku," jawab Wonwoo mencoba terlihat santai.

Tidak ingin menyerah, Mingyu pun kembali berujar, "kalau begitu aku antar pulang. Aku tidak menerima penolakan, Jeon Wonwoo."

Setelah berpikir selama beberapa detik, Wonwoo akhirnya bangkit dan setuju untuk pulang bersama Mingyu. Setelah izin terlebih dahulu pada Jihoon, Wonwoo pun beranjak pulang dengan Mingyu. Meninggalkan Jihoon yang di dalam pikiranmya dipenuhi dengan tanda tanya.

*

"Jadi, bagaimana rasanya menjadi dokter?" tanya Mingyu dengan pandangan fokus pada jalanan. Sesungguhnya suasana seperti ini bukanlah suasana yang Mingyu sukai. Mingyu merasa canggung, pun dengan Wonwoo. Keduanya merasa canggung satu sama lain, namun sebagai laki-laki, jelas Mingyu berinisiatif membuka percakapan agar tidak ada tegang diantara keduanya.

"Melelahkan. Waktu liburnya benar-benar sedikit," jawab Wonwoo sambil menyandarkan tubuhnya pada jok mobil di sebelah Mingyu. Gadis itu menjulurkan kepala dan tangan ke belakang, meletakan jas putihnya di bagian belakang.

Mingyu tersenyum. "Begitu? Terus kau ingin liburan? Memangnya ingin kemana?"

"Errr... biasanya waktu liburan aku gunakan untuk bermalas-malasan di kamar, sih. Lumayan aku bisa tidur sampai siang."

"Kau mau begitu?"

"Iya," jawab Wonwoo singkat.

"Kalau begitu lakukan saja. Aku bisa mengirim dokter pengganti terlebih dahulu ke rumah sakit dengan izin Ayah Minghao. Kau bisa istirahat sementara posisimu digantikan dulu."

"Jangan bercanda Kim Mingyu."

"Hei aku serius, astaga," sahut Mingyu sambil terkekeh pelan dan melirik Wonwoo yang kini wajahnya memerah di bawah remangnya lampu mobil. Laki-laki itu memajukan mobilnya, berbelok dan menemukan apartement berpuluh-puluh tingkat lalu melaju memasuki basement.

"Terima kasih untuk tumpangannya, omong-omong." Wonwoo membuka pintu mobil dan berujar dari luar. Mingyu mengangguk dengan santai. Bukan masalah, ia rela-rela saja direpotkan setiap hari seperti ini.

"Sama-sama. Omong-omong, bisa aku minta nomor teleponmu?" Wonwoo menaikan sebelah alisnya. Tidak menyangka pergerakan Mingyu akan dirinya secepat ini. Lagipula, Wonwoo masih memikirkan mengenai gadis tempo hari yang dibawa Mingyu pulang. Apa gadis itu tidak marah saat mengetahui Mingyu berhubungan dengannya?

"Nomor telepon?" Mingyu mengangguk saat Wonwoo bertanya.

"Tidak apa-apa, sih, kalau tidak ingin memberikan juga," jawab Mingyu. Bibirnya membentuk kurva dan tulang pipinya tertarik ke atas. Pria itu melambaikan tangannya kepada Wonwoo. "Sampai jumpa lagi. Segera masuk, Won, udara malam tidak terlalu baik."

*

"Aku minta nomor telepon Kim Mingyu. Kau punya?" Wonwoo bertanya sambil mengenakan kemeja berbahan satinnya. Sudah pukul setengah enam pagi dan ia bersiap untuk kembali pergi ke rumah sakit.

"Ada. Memangnya kenapa?" Suara Minghao dari ujung sana mengganggu kerja otaknya. Jadi dia harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak?

"Jasku tertinggal di mobilnya."

"Tunggu--apa?" Wonwoo berdecak, mau tidak mau kalau sudah begini pasti Minghao akan membombardirnya dengan pertanyaan yang berkaitan dengan Kim Mingyu. "Kenapa bisa tertinggal? Kau pulang dengannya kemarin?"

"Ah banyak tanya. Sudah cepat kirimi aku nomor teleponnya dan alamatnya. Aku ingin ke tempatnya. Sudah, ya, aku tutup." Setelah berkata demikian, Wonwoo segera menutup panggilan dan mengenakan rok pendek yang cukup ketat membalut pahanya. Gadis itu merasa tidak masalah mengenakan rok ketat dan pendek, lagipula tidak lebih pendek dari rok-rok untuk menggoda pria seperti kebanyakan. Mau bagaimana pun, tubuhnya pasti akan tertutup jasnya juga.

Selang beberapa menit, pesan dari Minghao masuk ke dalam ponselnya. Pesan yang berisikan nomor telepon Mingyu dan alamat tempat tinggalnya. Wonwoo dengan segera mengambik tas tangan dan pergi keluar dari apartementnya. Hendak mendatangi tempat tinggal Mingyu.

*

Tokkk tok tok

Kim Mingyu mengulet pelan. Laki-laki itu belum sepenuhnya bangun karena memang jam segini bukan waktunya untuk bangun. Mingyu baru akan berangkat ke kantor pukul delapan dan Mingyu pikir ini baru jam enam pagi. Kalau benar orang yang mengetuk pintu apartementnya adalah Bibi Jung, tetangganya yang kerap kali memberikannya lauk-pauk untuk dimakan, sudah pasti Bibi Jung hendak pergi karena Bibi Jung pun tau jadwal bangunnya kapan.

Mendengar ketukan pintunya semakin lama semakin keras, Mingyu bangkit dari tidurnya sambil mengucek matanya beberapa kali. Pria itu tidak repot-repot mengenakan kaos, mengabaikan fakta bahwa ia tertidur hanya mengenakan celana pendek selutut yang longgar tanpa atasan.

Ceklekk

"Bibi Jung aku kan--eh, Jeon Wonwoo?" Mingyu melebarkan sedikit matanya. Tidak menyangka akan mendapatkan tamu secerah langit pagi ini. Gadis di hadapannya hanya mematung diam. Gadis itu mengenakan kemeja satin, rok ketat sepaha, dan high heels setinggi lima senti. Berhasil membuat Wonwoo setinggi telinga Mingyu.

Mingyu tidak tau harus berekspresi bagaimana. Sumpah, ini masih pagi dan Wonwoo datang dengan keadaan begini kepadanya. Mingyu jadi pening, ia butuh mandi air dingin.

"Ada apa, Wonwoo?"

"Ehm... itu..."

"Mau masuk dulu?"

.

unbetaed. maafkeun.