Wonwoo pusing. Gadis itu pikir, ia sudah terbiasa melihat seorang pria shirtless bahkan sudah banyak pria yang kemejanya ia robek untuk mempercepat proses operasi dadakan seperti korban tabrak lari misalnya. Tapi, melihat Kim Mingyu bertelanjang dada seperti ini menimbulkan getaran aneh yang tidak biasa. Badannya sempurna, berotot dengan tidak terlalu berlebihan, benar-benar idamannya. Kulitnya sedikit kecoklatan, memberikan kesan eksotis. Wonwoo bahkan berfantasi, bagaimana seksinya Mingyu jika ia berkeringat dan menggagahinya.

Ck. Lihat! Seorang perawan seperti Jeon Wonwoo bahkan sudah berani berpikiran tentang hal yang tidak senonoh seperti itu.

Wonwoo sendiri bergerak gelisah. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Hanya karena laki-laki yang belum genap ia kenal selama seminggu, ia berhasil uring-uringan karena perilaku Kim Mingyu.

"Ini jasnya," ujar Mingyu sambil menyodorkan jas berwarna putih yang sudah dilipat rapih. Pria itu kini sudah mengenakan kaos putih polos pas badan yang membuat badannya tercetak dengan jelas. Wonwoo menerima jas yang diserahkan oleh Mingyu dan meletakkannya di pangkuannya.

"Aku ganggu, ya? Kau belum bangun?" Wonwoo bertanya, mendadak merasa tidak enak karena sudah mengganggu kegiatan tidur Mingyu. Rasanya Mingyu ingin menyangkal, namun memang benar ia merasa terganggu apalagi mendapati Wonwoo berpakaian seperti sekarang ini, berhasil membuat fantasinya menggila. Apa semua dokter perempuan yang masih muda sepanas Wonwoo saat ini? Kalau iya, dengan senang hati ia akan bolak-balik rumah sakit.

"Tidak apa-apa. Sudah sarapan?" tanya Mingyu sambil meneguk tehnya dengan mata yang melirik Wonwoo.

"Belum. Aku tidak pernah sarapan. Sudah, ya, aku harus ke rumah sakit." Wonwoo bangkit, sebelum sepenuhnya pergi dari apartement Mingyu, ucapan Mingyu memasuki rungu Wonwoo.

"Aku antar ke rumah sakit, oke?"

.

"Dokter di rumah sakit memang memakai rok, ya?" tanya Mingyu saat mobilnya sudah memasuki pelataran rumah sakit dimana Wonwoo bekerja. Bukan tanpa alasan juga ia mengatakan hal tersebut. Entah Wonwoo sadar atau tidak, tapi Mingyu sudah sampai tahap dimana ia tegang dan errr... bagaimana mengatakannya? Bereaksi mungkin?

"Tidak juga, tapi kebanyakan menggunakan rok," jawab Wonwoo dengan santai. Gadis itu menyampirkan tas tangannya di bahu kanan dan memegang jasnya di tangan kanannya. Mingyu memberhentikan mobilnya di lobi rumah sakit agar ia dapat langsunh kembali ke apartementnya.

Wonwoo membuka pintu dan bergerak turun. "Terima kasih tumpangannya." Gadis itu menunduk sedikit agar dapat melihat wajah Mingyu.

"Sama-sama. Kalau nanti malam aku jemput keberatan tidak?" tanya Mingyu. "Oh, dan besok-besok jangan pakai rok pendek lagi, oke?"

.

Wonwoo menyeduh kopinya di ruang perlengkapan. Sudah pukul sembilan malam dan sudah seharusnya ia pulang, namun entah mengapa rasanya ia lebih ingin menginap di rumah sakit. Wonwoo tidak mau bertemu Mingyu. Tidak ada alasan yang mendasar, hanya saja Wonwoo merasa tidak pantas disandingkan dengan Doyeon, perempuan yang Wonwoo anggap sebagai kekasih Mingyu.

Setelah menggenggam satu paper cup berisi kopi susu, Wonwoo melangkah keluar, hendak pergi ke ruangannya untuk beres-beres. Saat berjalan menyusuri lorong, gadis itu bertemu Seungkwan, seorang suster yang kini mendorong benda yang hampir seperti troli yang berisi makanan untuk pasien.

"Shift-mu belum selesai, Seungkwan-a?" Yang ditanya hanya menggeleng. Perempuan bertebuh tidak terlalu tinggi itu melepqskan pegangannya pada dorongan dan berjalan beriringan dengan Wonwoo.

"Belum, Dokter."

"Mau kemana?" tanya Wonwoo saat melihat Seungkwan berjalan di sebelahnya, bukan mengantar makanan.

"Aku ingin mengambil kantung infus." Wonwoo dengan segera menahan laju jalan Seungkwan.

"Aku saja yang ambil. Butuh berapa dan untuk ruang apa?"

"Tiga untuk ruang Orchid." Wonwoo mengangguk, lalu ia mendorong pelan Seungkwan agar kembali membawa makanan untuk pasien.

.

"Nggghhhh, aku tidak hhhh kuat, nghhh." Samar-samar, pendengaran Wonwoo menangkap suara desahan di sudut ruang obat-obatan. Di tangan Wonwoo kini sudah ada tiga kantung infus dan saat ia hrndak keluar ruangan, suara desahan itu terdengar amat jelas. Wonwoo ingin mengatakan bahwa suaranyq terdengar familiar, namun Wonwoo pun tidak yakin gadis mana yang mendesah seperti itu.

"Nghh, lebih cepathhh, astaga hhhh."

"Hhh kau sempithh, ahhhh."

"Jun, mmhhhh astaga, Jun. AHH." Double sialan. Jadi ruang obat-obatan dapat dialih fungsikan menjadi tempat bercinta juga? Kalau begitu Wonwoo tidak segan-segan untuk mencoba. Dan siapa lagi yang akan bercinta dengan laki-laki bernama Jun di rumah sakit ini? Tentu saja Xu Minghao.

Mendadak Wonwoo merasa panas. Gadis itu dengan segera bangkit dan berjalan menjauhi ruang obat-obatan. Ada apa sebenarnya dengan hari ini? Pagi hari ia mendapati Mingyu berdiri di hadapannya bertelanjang dada. Barusan, ia mendapati Jun dan Minghao asik mendesah dan bercinta.

Memangnya bercinta senikmat itu, ya?

.

"Kau dijemput tidak? Aku hari ini bawa mobil." Jihoon bertanya sambil menyusuri lorong menuju lobi bersama Wonwoo. Sudah pukul setengah sepuluh, keduanya pulang sedikit terlambat dari biasanya karena Wonwoo sendiri harus mengambil kantung infus dan mendengar Minghao dan Jun sedang making love. Semenjak mendengar desahan kenikmatan dari Minghao, Wonwoo menjadi sedikit tidak fokus. Terbukti bahwa ia merespon ucapan Jihoon sedikit lebih lama, hampir dua menit. Berhasil membuat Jihoon mengernyit heran.

"Kau pulang dengan laki-laki tinggi berkulit tan yang kemarin lagi, ya?" Wonwoo sepenuhnya hilang fokus saat lagi-lagi mendapati Kim Mingyu berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Namanya Kim Mingyu, Jihoon." Jihoon melongo melihat kepergian Wonwoo. Gadis itu berjalan lebih dulu darinya dan tau-tau ia sudah berdiri di hadapan seorang laki-laki berbadan tinggi dan tegap yang Jihoon yakini bernama Kim Mingyu.

"Wonwoo sudah gila atau bagaimana?"

.

Mingyu memarkirkan mobilnya di basement apartement milik Wonwoo. Setelah melakukan sedikit adu mulut, akhirnya Wonwoo setuju untuk diantar pulang oleh Mingyu dan dengan tambahan nomor telepon Wonwoo yang kini sudah berada di ponsel Mingyu.

"Mau mampir?" tanya Wonwoo sambil melepas seat bealt-nya. Mingyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Boleh?"

"Boleh," sahut Wonwoo sebisa mungkin dengan suara yang normal. Mingyu pun melepas sabuknya dan keluar dari mobil, mengekori Wonwoo. Dari sini, Mingyu dapat melihat rok ketat yang Wonwoo gunakan membuat bokongnya terlihat berisi dan membentuk. Ck, dasar laki-laki.

Wonwoo memasukan pin-nya lalu mendorong pintu dengan pelan. Suasana apartement Wonwoo sangat gelap dan sunyi, tentu saja, kan tidak ada siapa-siapa.

"Maaf, isinya berantakan." Sebenarnya menurut Mingyu, tidak seberantakan itu. Setidaknya lebih rapih daripada apartementnya. "Mau minum apa, Gyu?"

"Ada bir?" Pertanyaan dari Mingyu berhasil membuat Wonwoo menaikan alisnya. Jadi, semua laki-kaki itu memang hobi mengkonsumsi bir, ya?

Wonwoo segera mengangguk. Gadis itu berjalan menuju lemari pendingin lalu mengambil dua kaleng bir dengan kadar alkohol cukup tinggi. Wonwoo bukan pecandu minuman beralkohol, namun ia selalu menyediakan minuman tersebut kalau dibutuhkan. Seperti saat Jihoon datang menyambangi apartementnya dan untuk saat seperti ini juga.

Selang beberapa sekon, Wonwoo kembali dan meletakan dua kaleng bir di atas meja. Mingyu terduduk di single sofa sambil sesekali mengedarkan pandangannya.

"Kau minum bir juga?" tanya Wonwoo sesaat setelah melihat Mingyu meneguk birnya hingga hampir setengah. Mingyu mengangguk.

"Lebih baik daripada air putih."

"Jangan banyak-banyak, nanti tidak bisa menyetir pulang."

"Aku boleh menginap?"

.

A/N:

unbetaed. dan aku minta maaf untuk part kemaren emg agak kacau padahal udah aku enter sampe lima kali. aku ngetik di tab jadi agak kaku gitu deh hohoho, kalo ada yang kurang sreg lagi bilang aja, oke? tapi paling aku edit belakangan hehehe.

terima kasih sudah diingatkan, jangan lupa review!