"Aku boleh menginap?"
"Hei jangan bercanda. Nasib kekasihmu nanti bagaimana?"
"Kekasih apa? Memangnya aku pernah mengenalkanmu tentang kekasihku?" Mingyu menaikan sebelah alisnya dengan heran dan menfapat gelengan bingung dari Wonwoo. "Kau menyimpulkan dari mana?"
"Gadis yang kemarin bukan kekasihmu?" tanya Wonwoo. Kalau boleh berharap, sih, Wonwoo ingin mendengar jawaban 'bukan' atau 'tidak' dari mulut Mingyu. Siapa yang tau, kan, kalau ternyata usaha Mingyu yang akhir-akhir ini sedang mendekatinya ternyata dalam rangka bosan dengan kekasihnya? Tidak. Wonwoo tidak ingin dijadikan opsi kedua. Kalaupun Mingyu menjawab 'iya', Wonwoo sudah memikirkan skenario terbaik. Ia akan menendang Mingyu dari apartementnya, memutuskan untuk menghapus nomor Mingyu dari kontaknya, dan akan menghindar jika Mingyu berada di pelataran rumah sakit guna menemuinya.
Mingyu ber-oh ria. Sadar bahwa gadis yang Wonwoo maksud adalah Kim Doyeon, gadis cantik dengan badan kelewat indah, namun sayang perangainya tidak seindah badannya. Gadis itu menyebalkan dan suka menyuruh-nyuruh dengan lagak bos. Mingyu sering sebal melihatnya. "Iya. Bagaimana, ya, menyebutnya? Calon tunangan?"
Mingyu mati-matian menahan tawa saat berujar seperti tadi. Kalaupun harus dijodohkan dengan Kim Doyeon, Mingyu akan menolak dengan mentah-mentah. Mana tahan ia dengan gadis seperti Doyeon. Untung mereka berdua terlahir sebagai adik-kakak sepupu.
"Lalu? Kenapa masih disini? Kau sudah punya tanggungan, Mingyu. Silahkan pergi saja dari sini, oke?" Kalau boleh Mingyu berkonklusi, ucapan Wonwoo sedikit sarat akan emosi. Apa Wonwoo kesal saat mengetahui ia akan bertunangan? Apa lambat laun Wonwoo mulai berharap padanya? Ini bahkan belum genap seminggu tapi Mingyu tidak peduli. Kurun waktu saling mengenal antara keduanya tidak bisa dikatakan sebagai sekat. Kalau sudah nyaman dan suka, bisa apa?
"Astaga, Wonwoo. Aku bercanda. Kenapa serius begitu, sih?" tanya Mingyu sambil terkekeh, merasa lucu tapi tidak bagi Wonwoo. "Kau marah?"
"A-apa? Kenapa harus marah?" Wonwoo bertanya beberapa sekon kemudian. Mingyu menyeringai kecil lalu mengangguk beberapa kali, berpolah seakan-akan itu bukanlah masalah. Mingyu itu penggoda ulung, sudah banyak gadis yang ia kencani. Jadi, berbagai macam gestur dari yang paling normal sampai yang paling aneh sering Mingyu jumpai. Gestur Wonwoo itu kalau tidak sedang cemburu, paling sedang resah dan bingung. Mingyu tidak perlu memperjelasnya.
"Jadi kau tidak marah, kan? Boleh aku menginap?"
Wonwoo mengangguk dengan malas. Mingyu menenggak tiga kaleng bir tadi, namun tidak terlihat tanda-tanda bahwa pria itu mabuk. Wonwoo hanya takut Mingyu pusing saat menyetir, itu bisa membahayakan nyawanya dan Wonwoo tidak ingin disalahkan karena itu. Mau tidak mau, Wonwoo membiarkan Mingyu menginap.
.
"Sudah mau berangkat saja?" Mingyu mengucek matanya dengan pelan dan begitu ia berjalan keluar kamar tamu, ia sudah mendapati Wonwoo sudah rapih dengan setelah kemeja satin berwarna hijau toska dan dipadukan dengan celana bahan longgar berwarna putih sepanjang mata kaki. Oh, Mingyu pikir gadis itu mempertimbangkan ucapannya.
"Ya," jawab Wonwoo singkat. Gadis itu sibuk membuat sarapan di dapur, padahal biasanya ia akan sarapan di rumah sakit. Kali ini beda urusan, ada Kim Mingyu di rumahnya. Sudah seharusnya ia menyediakan kebutuhan untuk tamunya, kan?
"Masak apa?" Wonwoo tersentak saat tiba-tiba Mingyu sudah mengikis jarak antara keduanya. Laki-laki itu berdiri di belakang Wonwoo, tidak sadar bahwa tingkahnya itu memberikan gelenyar aneh pada sistem saraf Wonwoo. Belum lagi melihat keadaan Mingyu saat ini. Ia hanya mengenakan celana jins panjang tanpa atasan. Dini hari tadi Mingyu mengeluh kepanasan karena pendingin ruangan tidak dipasang di kamar tamu, hanya di kamar pribadi Wonwoo. Gadis itu tidak ingin menambah biaya pemakaian listrik. Lagipula dari dulu Mingyu memang terbiasa tidur tanpa atasan. "Bubur? Memangnya tidak repot?"
Wonwoo menahan napas selama beberapa saat. sebisa mungkin ia terdiam di posisinya. Bisa saja ia bergerak barang seinchi, sesuatu dapat terjadi, kan?
Ck, kau yang bikin repot. Sadar tidak, sih? Dasar, batin Wonwoo sedikit gugup.
"Tidak bisa, ya, pakai baju dulu baru berbicara denganku?" Mingyu terkekeh. Pria itu meletakkan rahangnya di atas bahu Wonwoo yang tertutup kemeja. Meski begitu, Wonwoo dapat merasakan napas hangat yang Mingyu buang mengenai permukaan kulit lehernya.
"Kita seperti pasangan pengantin baru, ya?"
"Kim Mingyu, kau gila, ya?!" Tangan Wonwoo dengan refleks mendorong kepala Mingyu hingga berjarak beberapa puluh senti. Sebenarnya ini bukan kali pertama Wonwoo berdekatan dengan laki-laki, gadis itu pernah berpacaran dengan Jun sebelumnya. Jun pun tidak jauh berbeda, seperti laki-laki berduit kebanyakan, seperti fuckboy yang biasa ditemui di club malam. Tapi, tetap saja berdekatam dengan Kim Mingyu dapat membahayakan kerja jantungnya. Wonwoo pikir mulai sekarang ia akan memasukan Kim Mingyu ke dalam list pria berbahaya yang tidak pantas untuk didekati.
Mingyu mendesah pelan, pria itu menyugar rambutnya dan kembali mengikis jarak antara dirinya dengan Wonwoo. Mingyu menganggap itu hanya refleks belaka, kalau terbiasa pasti Wonwoo tidak akan memperlakukannya seperti itu lagi.
"Kenapa, sih? Aku kan hanya bertanya," ujar Mingyu dengan nada merajuk. Pria itu kini melingkarkan lengannya di pinggang ramping Wonwoo, memeluknya dari belakang. Sadar kalau Wonwoo hanya terdiam dan tidak bereaksi apa-apa, Mingyu mengeratkan pelukannya dan menghadiahi kecupan di pipi kanan Wonwoo. "Kau kenapa bisa secantik ini, sih?"
"Berapa banyak gadis yang biasa kau perlakukan begini?" tanya Wonwoo terkesan sarkas. Mingyu terkekeh dengan masih diposisinya.
"Tidak sebanyak itu kok."
Wonwoo mendengus. Dengan kasar ia menarik kedua tangan Mingyu yang melingkari pinggangnya, menjauhinya. Wonwoo menoleh, menatap Mingyu dengan tatapan datarnya. "Kau itu kenapa bisa senyaman ini, sih? Memeluk orang yang bahkan baru kau kenal tidak lebih dari seminggu itu terlihat agak berlebihan."
"Aku tidak masalah kok menjalani masa pendekatan yang lama denganmu." Wonwoo bersikap seolah-olah tidak mendengar ucapan Mingyu. Gadis itu berjalan menuju ruang tengah, mengambil tas dan jas dokternya.
"Aku akan ke rumah sakit sekarang. Kau sarapan sendiri saja."
Niat awal Mingyu adalah mengantar Wonwoo ke rumah sakit, namun gagal karena perutnya sudah berontak sedari tadi. Jadi, Mingyu lebih memilih untuk sarapan terlebih dahulu dan membiarkan Wonwoo berangkat sendiri.
.
"Bagaimana hubungan kalian? Sudah sampai satu ranjang berdua belum?" Doyeon bertanya dengan santai. Sesekali gadis itu menyantqp coklat batangan yang berada di genggamannya. Mingyu yang sudah muak dengan wajah maupun pertanyaan Doyeon hanya bisa menghela napasnya dengan malas.
"Kenapa, sih, kita harus satu ruangan begini?" tanya Mingyu frustasi menghadapi sepupu cerewetnya. Ingin rasanya ia mendapat ruangan khusus seperti Jun. Tapi perbedaan jabatan keduanya itu cukup jauh, Mingyu masih jauh di bawah Jun. Jadi bisa dikatakan Jun adalah atasannya walaupun perusahaan ini milik keluarga Mingyu. "Kalau kau berbicara lagi, aku akan meminta Ayah untuk memindahkanmu ke divisi lapangan."
"Astaga, otakmu kenapa licik begitu, sih, Kim Mingyu? Aku tidak mau di divisi lapangan. Kan mayoritas laki-laki." Doyeon menggeleng keras, jelas tidak setuju dengan ucapan Mingyu. Lagipula memangnya Doyeon secerewet itu, ya? Dia kan hanya bertanya mengenai proses hubungan keduanya. Jangan-jangan Mingyu marah karena prosesnya tidak berjalan dengan seharusnya? Doyeon terkikik geli membayangkannya. Kim Mingyu yang biasanya dapat menaklukan perempuan dengan kisaran 3 sampai 4 jam, kini menghabiskan hampir setengah Minggu hanya untuk tidur satu atap. Satu atap, oke, bukan satu ranjang.
"Kau tau tidak?"
"Tidak," respon Mingyu dengan malas.
Doyeon berdecak. "Aku belum bercerita, ya? Ternyata dia itu mantan Jun."
.
Jihoon baru saja selesai menjalani operasi historektomi, setelah berkutat di ruang operasi hampir lima jam gadis itu memutuskan untuk mandi di rumah sakit saat sadar peluh yang dihasilkan tidak sedikit. Begitu selesai membersihkan tubuh, ia mendapati Wonwoo di ruang ganti, sedang mengenakan kembali pakaian awal yang ia gunakan. Sama dengannya, Wonwoo pun terlihat baru menyelesaikan operasi, namun Jihoon tidak terlalu menaruh perhatian.
"Kau pulang cepat hari ini?" tanya Jihoon dengan cepat sebelum Wonwoo meninggalkan ruang ganti. Yang diberikan pertanyaan hanya mengangguk dengan malas, terlalu lelah setelah melakukan banyak hal hari ini. "Aku berencana makan malam dengan Soonyoung. Kau mau ikut mungkin? Atau ajak saja laki-laki yang akhir-akhir ini rajin menjemputmu juga."
"Aku lelah, Ji. Mungkin lain kali saja, oke? Aku belum ke laundry minggu ini. Sepertinya tidak ada baju untuk besok," sahut Wonwoo kentara lelahnya. Akhirnya Jihoon hanya mengangguk mengiyakan, membiarkan Wonwoo menenteng paper bag dan melenggang keluar.
Wonwoo menyusuri koridor rumah sakit yang masih ramai. Dari tempat ia berjalan, ia dapat melihat Jun sedang berdiri di bagian informasi, bersandar pada meja yang tingginya sebatas perut. Jun juga terlihat menyadari eksistensinya, terbukti Jun langsung melangkah menuju ke arahnya. Alarm dalam diri Wonwoo seakan berbunyi, mengatakan bahwa tidak seharusnya ia mendekati Jun bahkan meresponnya.
Segalanya terjadi dengan cepat, dengan santai Jun menyapanya dan mengajaknya untuk berbincang. Demi formalitas agar tidak terlihat sebagai dokter jahat karena keduanya kini masih berada di rumah sakit dan ditonton beberapa orang, mau tidak mau Wonwoo meladeni Jun. Iya, Jun mantan kekasihnya itu.
"Apa kabar, Jeon Wonwoo?"
"Biasa saja," jawab Wonwoo datar. Terlihat tidak tertarik sedikit pun. Jun tertawa pelan, dari dulu sudah biasa mendapati respon seperti itu dari gadis di depannya.
"Kenapa jutek begitu? Laki-laki luar sana tidak akan suka," sahut Jun. Wonwoo bersumpah dalam hati bahwa ia tidak peduli dengan ucapan Jun yang melantur. "Omong-omong dimana Minghao?"
"Mana aku tau, memang aku terlihat seperti pengasuhnya?" Jun sudah biasa mendapat respon seperti itu, tapi kasihan juga laki-laki lain kalau harus memdapat respon seperti itu dari Wonwoo. Cukup dirinya saja. Lagipula Jun berkata seperti itu karena memiliki niat baik, ia tidak ingin Wonwoo tidak laku. Wonwoo mungkin cantik, tubuhnya indah dan entah kenapa sangat pas di mata Jun, karir pun Wonwoo punya. Tapi semua itu tidak akan berefek kalau perangai Wonwoo masih datar dan jutek seperti ia memperlakukan Jun.
"Mau kemana? Pulang?" Wonwoo mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu bangkit kembali, hendak menyelesaikan urusannya yang belum terealisasikan, pulang.
Jun juga ikut bangkit, berjalan bersisian dengan Wonwoo.
"Ayo aku antar ke apartementmu."
.
"Sepertinya kau tidak ada pekerjaan, ya, Pak Direktur," ujar Wonwoo mengejek. Beberapa menit yang lalu keduanya sudah sampai di apartement Wonwoo, dan Wonwoo pun tidak ragu mengajak Jun untuk memasuki apartementnya, hal yang sama berlaku seperti yang Mingyu lakukan. Bedanya, Jun tidak sefrontal Mingyu yang notabenenya baru kenal dengan Wonwoo dan langsung meminta menginap. Lagipula Jun dulu pernah menginap disini, satu ranjang dengan Wonwoo malah, namun tidak terjadi apa-apa.
"Urusan Minghao baru selesai jam sebelas, tidak seperti biasanya. Jadi aku pikir tidak ada salahnya kan membantu mantan kekasihku," jawab Jun sambil tersenyum menggoda.
Bagaimana mengatakannya, ya? Hubungan keduanya cukup dekat sebagai teman walau terkadang Wonwoo kelewat malas dengan polah Jun yang masih sering menggodanya sampai sekarang.
Keduanya kini duduk di ruang tengah sedang memilah baju kotor untuk dimasukan ke dalam keranjang dan untuk dilaundry di lantai dasar. Wonwoo mana peduli saat Jun meledeknya karena laki-laki itu dapat melihat dalamannya yang juga bukan kali pertama Jun melihatnya. Iya, Wonwoo tidak peduli saat Jun memegang dan memilah-milah dalamannya, yang terpenting ia bisa ke lantai dasar untuk menggunakan jasa laundry.
Wonwoo membuka kemeja hijau yang ia gunakan, melemparnya ke dalam keranjang berisi baju kotor yang hendak dibawa ke bawah.
"Urat malumu putus, ya? Aku juga laki-laki tau," protes Jun saat mendapati kini Wonwoo hanya mengenakan tanktop berwarna merah dan hotpants putih sebatas paha.
"Kau kan sudah menikah, aku anggap itu sebuah jaminan."
"Ck!" Jun berdecak, menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tidak habis pikir dengan pola pikir gadis Jeon mantan kekasihnya.
Cklekk
"Jeon Wonwoo, tadi aku ke rumah sakit dan..." Ucapan Mingyu menggantung, sedikit syok mendapati ada atasannya, Junhui, berada di apartement Wonwoo. Belum lagi pakaian Wonwoo yang kelewat terbuka, berhasil menimbulkan perspektif negatif di dalam kepala Mingyu. Kepalanya mendadak pening melihat Wonwoo berpakaian seperti ini. "... dan tidak menemukanmu. Ternyata... kalian berduaan disini?"
Jun terlihat kaget selama beberapa saat, namun dengan segera ia mengatur raut wajahnya dan berusaha sebisa mungkin untuk bersikap tenang.
"Kalian selingkuh atau bagaimana?" Mingyu dan rahang entengnya.
Wonwoo menggeleng dengan cepat-cepat, tidak ingin membiarkan Mingyu dilingkupi rasa salah paham, namun kenapa juga ia takut kalau Mingyu salah paham? Bukankah dengan begitu Mingyu berkesempatan menjauhinya? Wonwoo tidak tau, otaknya tidak dapat berpikir. Yang ia tau ia tidak ingin membiarkan Mingyu salah paham. Antara dirinya dengan Jun tidak ada apa-apa.
"Bukan begitu, Gyu. Jun hanya membantuku..."
"Oke tidak perlu dijelaskan." Mingyu mengangkat tangan kanannya, membuat gestur seakan-akan semuanya sudah cukup. Pria itu mundur dua langkah dan kembali membuka kenop pintu apartement Wonwoo dan berjalan menuju basement dimana ia memarkirkan mobilnya.
Mingyu tidak tau harus berekspresi bagaimana.
