Mingyu menceritakan segala yang terjadi kepada Doyeon dan seperti biasa gadis itu menanggapi hanya dengan menganggukkan kepala dan berdeham. Mingyu berasa bercerita pada tembok.
Hingga dipenghujung cerita, Doyeon hanya menyeletuk, "Yasudah lebih baik kau mundur saja sana."
Benar-benar tidak membantu.
Mingyu mematap ponselnya yang sedang menyala karena adanya panggilan masuk. Kalau dijumlah, sudah tujuh panggilan masuk dari Wonwoo yang sengaja tidak ia angkat. Kenapa juga Wonwoo bersikeras menghubunginya? Keduanya kan tidak ada hubungan apa-apa, kenapa juga Mingyu menganggap Wonwoo bersikeras meminta menjelaskan padahal kalaupun Mingyu salah paham, itu bukan urusannya.
Tokk tokk tokkkk
Mingyu tidak tau siapa yang mengetuk pintu apartementnya pada pukul sebelas malam. Entah kenapa nama Doyeon muncul di pikirannya karena hanya gadis itu yang terang-terangan selalu merepotkannya.
Mingyu bangkit tanpa repot-repot mengenakan atasan, seperti kebiasaannya. Dengan tidak rela Mingyu berjalan mendekati pintu, membuka dengan pelan dan terkejut mendapati Wonwoo lah yang ada di ambang pintu apartementnya.
Berusaha sekuat mungkin berpolah tidak peduli, Mingyu menyandarkan sikunya ke sisi pintu, mencari posisi angkuh senyaman mungkin.
"Kenapa?" tanya Mingyu datar.
"A-aku... ini perihal yang tadi..."
"Yang tadi yang mana?" Mingyu yakin sepenuhnya bahwa Wonwoo belum selesai berbicara, namun dengan santai pria itu memotongnya, berhasil membuat kegugupan Wonwoo meningkat lima kali lipat.
"I-itu..."
"Hmm?"
"Tolong jangan salah paham."
"Kenapa?"
"Aku dengan Jun tidak ada apa-apa, Gyu," ujar Wonwoo sambil menunduk. Mingyu belum berubah dari posisi awal, laki-laki itu hanya mengangguk, masih mempertahankan aktingnya, berpolah tidak peduli, padahal sih melihat Wonwoo berdiri di hadapannya saja pria itu sudah senang bukan main.
"Kenapa bilang padaku? Memangnya aku peduli?" tanya Mingyu.
"Gyu, jangan begini. Aku merasa tidak enak," cicit Wonwoo. Gadis itu mendongak, melangkah maju mendekati Mingyu yang masih pada posisi awal. Tanpa curiga atau berpikiran kemana pun, Mingyu hanya menaikan sebelah alisnya saat melihat Wonwoo melangkah maju mendekatinya.
"Mau apa?" tanya Mingyu heran karena melihat Wonwoo yang mengikis jarak antara keduanya. Wonwoo menabrak tubuh atletis Mingyu yang tidak tertutup kain. Dengan cepat gadis itu meraup bibir Mingyu, mengajaknya ke dalam ciuman panas. Mingyu membeku selama beberapa sekon, merasa bahwa seorang Jeon Wonwoo tidak akan melakukan hal sepeti ini, hal yang menurunkan gengsi dan egonya. Setelah mengatasi keterkejutannya, Mingyu balas melumat bibir tipis Wonwoo. Tangan Mingyu terdorong untuk menutup pintu, memastikan agar tidak ada tetangga sebelah apartementnya yang melihat. Ciuman yang Wonwoo mulai itu lama kelamaan menjadi ciuman panas. Baik Wonwoo maupun Mingyu terlihat tidak ingin melepaskan pagutan itu.
Baik Wonwoo maupun Mingyu terengah. Mingyu memutuskan ciuman keduanya lebih dulu, namun dengan cepat kedua tangan Wonwoo menahan rahang Mingyu, kembali mengajak pria itu untuk berpagutan panas.
Ciuman itu kembali tercipta. Kini tangan Wonwoo bergerak menyusuri tubuh bagian atas Mingyu yang polos. Jemari Wonwoo mengusap dada Mingyu, membuat pola abstrak dan menimbulkan sensasi geli untuk Mingyu.
Hal seperti ini memang bukan yang pertama kali bagi Mingyu. Dia sering menyewa beberapa gadis bayaran hanya untuk memuaskan nafsu, jadi hal seperti ini sudah biasa. Tapi saat seorang Jeon Wonwoo yang melakukannya berhasil membuat daerah selatan Mingyu bangkit dengan cepat. Hanya karena usapan pada dadanya saja Mingyu sudah ereksi. Bagian bawahnya sesak.
Mingyu mendorong Wonwoo dengan kasar, membuat gadis itu jatuh terlentang di atas sofa ruang tengah apartement Mingyu. Tangan Mingyu dengan cepat berusaha membuka resleting jaket yang malam ini Wonwoo kenakan, melemparnya dengan asal. Gadis di bawahnya ini benar-benar cantik. Dengan penerangan yang minim karena hanya lampu meja yang menyala, Mingyu mengamati tulang selangka Wonwoo yang seputih susu. Badan Wonwoo mungkin masih tertutup tanktop merah, tetapi malah membuatnya semakin tegang. Payudaranya yang berukuram tidak terlalu besar tercetak jelas dan Mingyu dapat melihat betapa indahnya aset berharga milik Wonwoo.
"Katakan niatmu kesini untuk apa? Tidak untuk ini, kan?" Wonwoo tidak berani bergerak karena tujuannya memang bukan untuk ini. Wonwoo datang karena ingin menjelaskan semuanya pada Mingyu. Ia tidak ingin Mingyu salah paham, dan hanya karena kegemasannya akan Mingyu, ciuman panas itu terelakan dan kini bahkan Wonwoo sudah berada di posisi bawah dengan Mingyu berdiri di atasnya.
"Aku mau menjelaskan semuanya, Gyu."
"Oke jelaskan," ujar Mingyu tidak merubah sedikitpun posisinya. Kedua tangan Mingyu kini mengurung kepala Wonwoo yang berada di bawahnya. Menyadari posisi keduanya entah kenapa meembuat Wonwoo tambah gugup. Ini terlalu dekat.
"Aku dan Jun tidak ada apa-apa. Kami kebetulan bertemu dan Jun menawarkan untuk mengantar. Aku tidak menolak karena aku tidak pernah bawa mobil kalau ke rumah sakit. Jadi, ya, kami pulang bersama dan yah kepergok dengan keadaan yang sedikit ambigu," jelas Wonwoo panjang lebar. Jemari Mingyu terulur untuk merapihkan beberapa anak rambut milik Wonwoo yang menghalamgi wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga.
"Lalu?"
"Jun hanya membantuku membereskan baju kotor."
"Oke." Mingyu turun dari sofa dan bangkit, membiarkan Wonwoo bebas dari kurungannya. Mingyu tidak ingin lagi repot-repot mendengar penjelasan Wonwoo dengan posisi seperti tadi. Terlalu beresiko dan menguji iman. Mingyu pikir ia butuh mandi air dingin, tapi ini hampir tengah malam? Kalau ia masuk angin bagaimana? Padahal besok masih ada beberapa laporan yang belum selesai ia kerjakan.
"Kau tidak marah?" tanya Wonwoo pelan, mulai mengganti posisi menjadi duduk. Netranya mengamati Mingyu yang kini sedang memegang handuk. Tanda tanya muncul di kepalanya begitu melihat Mingyu melepas celana jins panjangnya dan hanya tersisa celana pendek selutut yang biasa ia gunakan sebagai dalaman. "Kau mau mandi? Tengah malam begini?"
"Salah siapa aku harus mandi air dingin malam-malam begini?" tanya Mingyu dengan sedikit mengerang pada akhir kalimatnya. "Celanaku sesak, butuh pelampiasan."
"Apa?"
"Ck! Kau pikir menerjang orang sembarangan seperti tadi tidak membuatku tegang? Dengar, ya, aku ini masih laki-laki normal. Aku masih suka perempuan dan payudaranya, aku masih suka menonton video dewasa kalau sedang butuh pelampiasan," ujar Mingyu panjang lebar sembari mengusap rambunya dengan frustasi. Bukan, Mingyu bukan laki-laki brengsek yang akan memperkosa gadis yamg sudah berhasil membuatnya ereksi seperti tadi. Sadar bahwa Wonwoo adalah gadis yang masih polos dari tingkah lakunya, Mingyu menganggap bahwa tidak seharusnya ia merusak gadis seperti Jeon Wonwoo ini. Kecuali Wonwoo siap, Mingyu akan mempertimbangkan itu. "Lihat pakaian yang kau pakai sekarang, terlalu terbuka, Jeon."
Pipi Wonwoo merona dengan sendirinya saat menyadari bahwa tubuhnya hanya terbalut tanktop merah dengam tali spagheti yang tidak dapat menutupi keseluruhan tulang selangkanya.
"Lebih baik kau ambil kemeja punyaku di lemari. Pakai itu saja."
.
.
.
.
.
Wonwoo akhirnya melapisi tubuhnya dengan kemeja putih milik Mingyu yang berhasil menenggelamkan tubuhnya. Badan Mingyu itu lebih besar, karenanya kemeja Mingyu kebesaran saat ia gunakan.
Mingyu menawarinya untuk menginap, bukan masalah bagi Wonwoo karena besok pagi ia tidak harus datang pagi-pagi buta.
Suara guyuran air masih terdengar, terhitung delapan menit dan Mingyu masih berada di kamar mandi, belum selesai dengan urusannya. Menurut Wonwoo, waktu segitu cukup lama untuk ukuran seorang laki-laki yang mandi di malam hari. Kalau terlalu lama bisa saja keesokan harinya Mingyu mengalami masuk angin.
"Kim Mingyu, apa belum selesai?" Wonwoo berteriak dari tempat dimana ia duduk. Entah kenapa ia dirundung rasa bersalah karena sudah membuat Mingyu seperti tadi, tak ayal Wonwoo mirip seperti perempuan murahan yang biasa melayani kliennya. Tapi Wonwoo bersumpah, karena sudah putus asa dan tidk tau harus berbuat apa lagi, akhirnya hanya aksi seperti tadi yang dapat ia lakukan kepada Mingyu. Terbukti, kan, Mingyu akhirnya mendengarkannya?
Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi. Baru kali ini Wonwoo mendapati seorang laki-laki di kamar mandi dengan keadaan sudah tengah malam seperti sekarang ini, sedang menikmati mandi air dinginnya. Tidak beresensi memang, tapi Wonwoo bertanya-tanya.
"Errrghh, shit. Astaga, Jeon Wonwoo!" Sang pemilik nama terkejut saat namanya diteriaki dari dalam kamar mandi. Wonwoo berjengit, berangsur-angsur bangkit dan berjalan menuju ka,ar mandi yang pintunya masih tertutup rapat. Wonwoo mengetuk pelan pintu kamar mandi, takut-takut kalau Mingyu membutuhkan sesuatu.
"Ada apa, Mingyu?"
"Nghhhh, Wonwoo-hhhh, tolonggg." Wonwoo bersumpah bahwa suara Mingyu dari dalam kamar mandi itu lebih membuat merinding daripada saat ia menyusuri lorong koridor rumah sakit saat tengah malam. Wonwoo merasa ada yang tidak beres terjadi di dalam sana, Mingyu mendesah tertahan dan Wonwoo tidak sepolos itu untuk tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam sana.
Mingyu bermasturbasi?
"Mingyu, ada apa?!" Wonwoo kali ini menggedor pintu kamar mandi, terlihat tidak sabar. "Kau butuh sesuatu?"
Ceklek
Wonwoo mematung saat Mingyu membuka kunci pintu kamar mandi dari dalam, membiarkannya terbuka dan seakan-akan mengajak Wonwoo untuk masuk ke dalam, membantunya agar ia tidak bermain solo.
Wonwoo mungkin masih virgin, tapi jelas ia tau situasi apa yang sedang dihadapi Mingyu. Wonwoo mematung menatap pintu kamar mandi yang terbuka, gadis itu hendak menarik diri namun desahan-desahan dari dalam jelas mengganggunya. Ini kali pertama bagi Wonwoo jadi apakah ia harus masuk ke dalam dan membantu Mingyu menuntaskannya atau berlari pergi?
"Mingyu?" Wonwoo bertanya dan tidak mendapat jawaban dari dalam. Ragu-ragu Wonwoo melanjutkan, "kau tidak bermasturbasi, kan?"
"Ahh~"
"Kim Mingyu!"
"Ahhhh... t-tolong bantu aku."
"Bantu ap--ASTAGA KIM MINGYU KAU GILA?!" Wonwoo berteriak saat tiba-tiba tangan basah Mingyu menariknya untuk memasuki kamar mandi. Kelewat keras hingga ia terbanting dan terduduk di lantai kamar mandi yang basah. Seketika seluruh tubuhnya basah, belum lagi shower dalam keadaan menyala, mengguyur Mingyu dan Wonwoo secara bersamaan.
"Tanganmu saja, please," mohon Mingyu, wajahnya memerah dan berkedip beberapa kali, terlihat amat tersiksa. Apa dia bilang? Tangan saja? Sepertinya Kim Mingyu memang benar-benar gila.
Wonwoo tidak salah dengarkan? Mingyu meminta agar tangannya itu menggantikan tangan miliknya yang sedang memijit penisnya?
Wonwoo mungkin bukan gadis polos, tapi dihadapkan seperti ini gadis itu hanya dapat meneguk ludahnya dengan tegang. Sesekali menonton video porno mungkin tidak masalah, tapi melihat penis sungguhan dengan jarak sedekat ini membuatnya gugup. Gadis itu bingung uarus apa.
"Wonwoo... tanganmu, please."
"Mingyu, aku tidak--" Tanpa pikir panjang tangan Mingyu meraih tangan Wonwoo, meletakannya pada penis miliknya yang sudah mengacung dengan sempurna. Sedikit sentuhan dari tangan lembut Wonwoo, Mingyu merasa terbang, di awang-awang.
Wonwoo tersedak saat tau salah satu telapaknya kini membungkus penis Mingyu yang ereksi, cukup besar dan... bagaimana mengatakannya? Wonwoo pun bingung harus berkata apa. Ini kali pertama ia memegang penis seorang laki-laki, ia tidak tau harus apa.
Dengan sisa keberanian, Wonwoo mengusap pelan penis Mingyu, berhasil membuat Mingyu mendesah kenikmatan.
"Ahhhh... hhhh ya begitu--ohhh!" Mingyu mengerang saat Wonwoo memijit pelan penisnya. Gadis itu belum terlatih, pergerakannya lambat dan tidak berarah, namun berhasil membuat Mingyu mengejang.
"Nghhh, ahhhh." Wonwoo kali ini mengocok penis Mingyu dengan tidak beraturan, terkadang cepat dan terkadang lambat, berhasil membuat Mingyu kewalahan karena lagi-lagi ia belum dapat sepenuhnya menyemprotkan cairannya.
Wajah Wonwoo yang memerah itu tersiram shower, terlihat pasrah dan menurut. Mingyu suka ekspresi yang Wonwoo berikan seperti sekarang ini, seperti sudah siap diperkosa dan digagahi olehnya.
"Ohhhh... hampir sampai... nghhh." Tempo kocokan tangan Wonwoo pada penis Mingyu semakin cepat, sesekali Wonwoo memainkan dua bola kembar Mingyu. Kali ini mencoba lebih berani. Dirasa penis Mingyu berkedut hendak keluar, Wonwoo menaikan kecepatan kocokannya.
"AHHH!" Sperma Mingyu mengotori tangan lembut Wonwoo. Gadis itu menatap kosong telapaknya yang dipenuhi sperma bekas Mingyu.
"Dicoba saja, Won."
Wonwoo perlahan-lahan menjilat jemarinya dengan gerakan sensual, Mingyu membayangkan jika Wonwoo menjilati penisnya seperti ia menjilati jemarinya, sangat sensual dan merangsang. Tanpa sadar, dengan hanya melihat Wonwoo seperti itu berhasil membuat penisnya tegang lagi.
Baju Wonwoo basah, menampakkan lekukan tubuh indahnya yang berhasil membuat Mingyu gila.
Sial, sial.
Kalau tau begini, sudah dari awal Mingyu menyelesaikannya seorang diri. Jeon Wonwoo benar-benar tidak membantu, gadis itu hanya membuat Mingyu menjadi tegang lagi dan ia benar-benar butuh pelampiasan sekarang, namun, memperkosa Wonwoo tidak masuk ke dalam opsinya. Mingyu tidak akan melakukan hubungan badan tanpa persetujuan sang gadis.
Kenapa segalanya menjadi aneh seperti ini?
Wonwoo menatap Mingyu dengan wajah memerah. Gadis itu segera bangkit dan berlari keluar dari kamar mandi dengan keadaan badan yang seluruhnya basah. Gadis itu berlari memasuki kamar Mingyu, membuka lemari Mingyu yang didominasi dengan kemeja kerja dan celana bahan. Tidak mempedulikan apapun, Wonwoo mengambil asal kemeja putih milik Mingyu dan handuk putih di lemari atas. Setelah mendapatkan handuk, gadis itu segera berganti, tidak mempedulikan bahwa tidak mengenakan satupun dalaman. Wonwoo dengan segera melempar diri ke atas ranjang yang ia yakini milik Mingyu. Menutupi seluuh tubuhnya dengan selimut di ranjang Mingyu.
Bayang-bayang wajah Mingyu masih membekas. Wonwoo ingat betul bagaimana merahnya wajah Mingyu saat ia memegang pusat tubuhnya, memijitnya pelan, dan membuatnya orgasme. Itu kali pertama Wonwoo melihat seorang laki-laki dewasa berekspresi demikian. Ya, kecuali melihatnya di video.
"Jeon Wonwoo!" Teriakkan Mingyu berhasil mengganggu atensinya. Wonwoo tidak akan diperkosa karena Mingyu tidak dapat menyelesaikan masturbasinya, kan?
Setelahnya Wonwoo dapat merasakan bahwa pintu kamar Mingyu terbuka dan ranjang yang ia tiduri bergerak. Mingyu meletakan tubuhnya, yang hanya berbalut handuk dibagian bawah, di atas ranjang yang sama dengan Wonwoo.
Setelahnya, Wonwoo tidak tau apalagi yang akan terjadi.
.
.
.
.
.
A/N: errrrrrr aku nulis apa. sori aku mana bisa bikin adegan naena wkwkwkwdan sebenernya akupun bingung cerita ini mau dibawa kemana mungkin kalau ada yang punya ide bolehh bilang dikolom review karena review kalian semua aku bacain wkwkw udah sih itu aja dan ini unbeta, maaf kalo ada typo.
