-dhedhedheadheo-
Cast:
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
(mereka berdua akan menjadi satu marga 'Kim')
Park Jimin
Genre: Family, Brothership, Life, Drama, DLDR, RnR please!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer:
Kesamaan nama tokoh ataupun ide terjadi tanpa sengaja, alur dan jalan cerita milik saya sepenuhnya. Terinspirasi dari salah satu karakter di kdrama cukup jadul, Medical Top Team (tapi bukan berarti saya membuat cerita yang berkaitan dengan dunia kedokteran loh ya hahaha). Dan kebetulan saya juga mempublikasi FF ini di lapak sebelah.
SELAMAT MEMBACA!
WARNING! TYPO, cerita pasaran, kalimat amburadul, alur kecepetan, membosankan!
Don't like? DON'T READ!
NO BASH and… ENJOY!^^
.
.
.
Part 2. Keras Kepala
.
.
.
Daegu
February 4th, 2016
.
.
"kookie-ya, bangunlah.. ini sudah pukul 5, bukankah kau telah berjanji pada paman Han untuk datang pukul setengah 6? kau tak ingin pelanggan susunya kabur kan?" tehyung terus mengelus surai lembut milik adiknya.
"eoh, maaf hyung... sepertinya aku bangun terlalu siang" jawab kookie dengan suara seraknya. sesekali ia menggosok salah satu matanya, berharap agar rasa kantuknya berkurang.
"tidak kookie, masih ada waktu untuk kau mandi dan bersiap-siap.." taehyung tersenyum.
"bukan itu maksudku hyung.. tapi tidak ada waktu untuk membuatkanmu makanan saat kau kutinggal di rumah nanti" jungkook mengacak rambutnya, lantas bergegas meninggalkan kasurnya yang nyaman.
"tak usah khawatir kookie, hyung masih memiliki sisa kue kering yang kau beli beberapa hari lalu. setidaknya itu dapat mengganjal rasa laparku hingga sore nanti" taehyung kembali tersenyum kecil.
"benarkah? bukankah kau baru membuang bungkusnya kemarin malam?" sahut kookie dari luar kamar.
"mungkin kau salah lihat. hyung memang membuang bungkus makanan kemarin malam, tapi bukan makanan itu yang hyung maksud" jawab taehyung lagi.
.
"aku baru sempat menanak nasi hyung.. jja, ambillah uang ini. gunakan untuk delivery order makanan yang kau mau, aku akan makan di luar saja setelah mengantar susu nanti" jungkook menyodorkan 2 lembar uang 10.000 won.
"ini terlalu banyak kookie, 10.000won pun sudah cukup untuk kubuat makan hingga malam nanti" jawab taehyung protes.
"ambillah saja hyung, kau tidak harus menghabiskannya sekali pesan" jungkook terkekeh pelan.
"baiklahh.."
.
"kau ingin menungguku di kamar atau ruang tengah, hyung?" tanya jungkook sambil mematut dirinya di depan cermin.
"di ruang tengah saja, aku bosan berdiam diri di dalam kamar"
"maaf, aku belum sempat mengajakmu jalan-jalan. bersabarlah sebentar hyung, jika tabungan kita sudah terkumpul cukup banyak.. kita akan segera pindah ke seoul. lagi pula aku dengar, gaji kerja paruh waktunya jauh lebih besar daripada di sini" jawab jungkook sambil memandang wajah hyungnya.
"sebenarnya aku sudah cukup senang hidup seperti ini kookie-ya. aku tak ingin melihatmu memforsir tubuhmu habis-habisan. kau tahu? setiap orang memiliki batas kemampuan masing-masing. aku tak ingin melihatmu jatuh sakit karena kelelahan demi menghidupi hyungmu yang tak berguna ini. kau tahu bukan, siapa yang akan merawatmu jika jatuh sakit? berjalan pun aku tak bisa, lantas bagaimana aku akan merawatmu? kau hanya perlu-"
"sudahlah hyung, aku tak mau berdebat denganmu. aku hampir terlambat, segera naiklah ke punggungku" jungkook telah berjongkok di samping kasur, menunggu taehyung yang bersusah payah untuk menaiki punggungnya.
.
"kau tak perlu menungguku hingga aku datang hyung. jika nanti kau mengantuk, tidurlah saja.. jangan khawatir, aku akan memindahkanmu ke kamar nantinya" terang jungkook lagi.
"hm..." jungkook mendudukkan taehyung di sofa panjang ruang tengah. setelahnya, ia berlalu mencari beberapa barang yang diperlukannya.
"apa saja yang perlu kuletakkan di meja ini, eoh? ponsel? air mineral? earphone? cemilan? ada lagi?" jungkook sibuk menyiapkan keperluan taehyung saat ia tinggalkan sendiri di rumah nanti. bagaimanapun, taehyung tak bisa berpindah-pindah tempat sesuka hatinya. ia harus bergantung pada jungkook jika ingin melakukan sesuatu. maka dari itu jungkook harus ekstra dalam menyiapkan apa saja yang akan taehyung gunakan saat ia sendirian di rumah, dan meletakkannya di meja sofa.
.
"ah! pakailah ini juga hyung, aku tak mau melihat hyung kesayanganku mati membeku karna kedinginan" jungkook memasangkan jaket di tubuh taehyung, lantas menyelimutinya dengan selimut tebal.
taehyung tetap diam tidak berkutik. ia hanya menuruti apa yang dikatakan jungkook tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
"kau marah padaku hyung?" tanya jungkook menyadari perubahan raut wajah taehyung.
"tidak.. jja, berangkatlah. paman Han pasti menunggumu" taehyung memaksakan senyumnya.
"aku pergi dulu hyung, dan jangan lupa makan.. akhir-akhir ini kau terlihat semakin kurus saja" pamit jungkook sambil menyambar ransel hitam dan topi yang berwarna senada.
"hm... hati-hati kookie-ya"
.
.
"tolong aku jimin-a"
seseorang yang bernama jimin itu menggeleng pelan.
"kau belum makan kan? biar kuambilkan nasi dan beberapa lauk yang kubawa tadi ya?" tanya jimin mengalihkan pembicaraan.
"aku tidak lapar jim-"
"jika kau selalu mengabaikan waktu makanmu, kau akan sakit tae! lihat badanmu itu! kau sungguh-sungguh kehilangan banyak berat badanmu!" potong jimin.
"sungguh.. aku tak apa jimin, aku hanya ingin kau menolongku... mengantarku ke tempat yang kuceritakan itu, dan meminjamkanku gitar bekasmu" suara taehyung kian memelas.
"apa kau sungguh gila, taehyung? aku sangat sependapat dengan adikmu.. di musim dingin seperti ini, orang gila mana yang berani mengamen di pinggiran jalan daegu? hhh, yang benar saja!"
taehyung semakin meremas erat selimutnya. tak ketinggalan juga ia menggigiti bibirnya sendiri.
"aku hanya tak ingin melihat adikku menanggung beban hidup kami berdua seorang diri! apakah itu salah?" taehyung terus memberanikan dirinya untuk membalas argumen jimin.
"tapi bukan dengan cara itu juga kau membantu adikmu!" jimin mulai meninggikan nada suaranya.
"lalu apa yang bisa kulakukan sebagai orang cacat jika tidak mengamen di pinggir jalan? apa kau pikir aku tega hanya berpangku tangan melihatnya membanting tulang, hah?" perlahan namun pasti, taehyung habis kesabaran.
"kau bisa mendukungnya. kau bisa menempatkan dirimu agar selalu di sampingnya, mendengar setiap keluh kesah pekerjaannya, kesulitannya, atau apapun yang dialaminya. kau juga bisa memberikan semangat, agar ia dapat menjalani hari-harinya dengan rasa ikhlas. atau mungkin menghiburnya dengan suara merdumu itu? setidaknya kau masih bisa memberikan dukungan moral pada adikmu! jangan terus-terusan menganggap dirimu tak berguna taehyung-a!" ujar jimin lagi sembari menggoyang-goyangkan kedua bahu taehyung, bermaksud untuk menyadarkannya.
"masa bodoh dengan kata-katamu jimin-a! jika kau tak mau membantuku, pergi saja! aku akan melakukannya sendiri!" taehyung menyingkap selimut yang menutupi kedua kakinya. dengan susah payah ia berusaha bangkit untuk memindahkan tubuhnya dari atas sofa ruang tengah.
melihat apa yang dilakukan taehyung, jimin hanya diam saja. ia hanya akan memperhatikan sahabatnya dengan maksud sejauh mana taehyung dapat bersikukuh dengan keinginan konyolnya itu?
.
"lihat, memindahkan tubuhmu saja kau kesusahan! bagaimana bisa kau sampai tempat mengamen dengan selamat? bagaimana bisa kau bertahan melawan musim dingin yang ekstrim ini? sudahlah tae, seharusnya kau bersyukur memiliki adik seperti jungkook. adik yang benar-benar menyayangi hyungnya! asal kau tahu, ia melakukan apapun demi kau, taehyung-a! jika ia tahu hyungnya bersikeras untuk membantunya bekerja, bisakah kau bayangkan bagaimana khawatirnya dia? apa kau tidak berfikir apa akibatnya jika ia tak konsentrasi bekerja karena terlalu mengkhawatirkanmu? jangan samakan jungkook dengan seok-" jimin hampir kelepasan berbicara. dengan mati-matian ia mencoba menekan emosinya, demi memberikan pengertian pada taehyung.
"diamlah jimin! kau juga tahu sendiri bahwa jungkook seharian sibuk bekerja.. jika kau tak memberitahunya, ia juga tak akan tahu! ahh persetan dengan ini, sebaiknya kau pergi saja! kau membuat emosiku semakin meledak. dan satu lagi, jangan pernah menyebut nama yang hampir kau ucapkan tadi!" taehyung memasang wajah masamnya.
"baiklah jika itu maumu" tanpa berekspresi, jimin meninggalkan taehyung seorang diri. tidak, jangan berpikir bahwa jimin tega meninggalkan taehyung begitu saja. ia lebih memilih untuk berdiri di sudut lorong flat dan tetap mengawasi gerak taehyung.
.
taehyung sudah berhasil memindahkan tubuhnya di atas lantai kayu flat yang ia tinggali. dengan susah payah, dan dalam posisi duduk ia berusaha meraih gagang pintu flatnya. ia bergerak dengan menumpukan kedua tangannya, kedua kakinya benar-benar tak bisa digerakkan sebut saja semacam mati rasa. jadi mau tak mau ia menyeret kakinya di atas lantai, tak peduli bajunya kotor atau lebih parahnya akan rusak. begitu berhasil meraih gagang pintu, ia terus berusaha untuk keluar dan memutuskan untuk meninggalkan flatnya beberapa jam kedepan demi mewujudkan keinginan bodohnya.
.
jimin terus mengamati pergerakan taehyung. ia sungguh tak habis pikir dengan apa yang dilakukan sahabatnya. sikap keras kepala taehyung rupanya telah mendarah daging pada dirinya.
"taehyung-a!"
ntah memang tak mendengar atau bahkan pura-pura tak mendengar, pemilik nama taehyung itu tetap menyeret kakinya menjauhi flat yang ditinggalinya.
"kim taehyung!"
lagi. pemilik nama taehyung itu tetap tak mengindahkan panggilan tersebut.
dengan terpaksa, si pemanggil -jimin- berlari dan berhenti tepat di depan pandangan taehyung.
"minggirlah jimin-a! jika kau tak mau membantuku, aku tak mempermasalahkannya. maka pergilah! jangan pernah mencampuri bahkan menghentikan keinginanku" taehyung terus memaksakan dirinya untuk bergerak melewati dimana jimin berdiri.
"aku tak pernah berniat menghentikan niat baikmu tae. aku hanya peduli padamu, juga adikmu!" jimin melangkahkan kakinya, dan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan taehyung.
"peduli apa kau, jimin-a?" tanya taehyung kesal.
jimin menghirup udara sebanyak-banyaknya. ia sungguh tak tahu lagi cara ampuh apa yang dapat menghentikan keinginan sahabatnya ini.
"baiklah. aku mengalah. lakukan apapun sesukamu tae. kemarilah, naiklah ke punggungku. aku akan mengantar ke tempat yang kau mau" dengan posisi yang masih berjongkok, jimin membalikkan badannya.
"tidak jimin-a, aku bisa melakukannya sendiri. terima kasih sudah menawariku. lagipula aku tak mau menjilat ludah sendiri. bukankah aku sudah mengusirmu tadi?" taehyung tersenyum tipis.
"sekali lagi, terima kasih kau sudah mengerti apa yang kumau. aku pergi. dan ah ya! jika kau memang mendukungku, jangan sekali-kali kau menceritakan ini pada jungkook" lirih taehyung.
"taehyung-a! tolong, sekali saja. dengarkan aku, apa kau benar-benar menganggapku sebagai sahabat hm? lihat tanganmu! kau bahkan tidak memakai sarung tangan! percaya diri sekali kau bisa menumpukan kedua tanganmu di atas jalanan bersalju, huh?" sahut jimin sambil menolehkan kepalanya.
"pergilah chim! aku tak tahan mendengar ocehanmu!" balas taehyung sambil menundukkan kepalanya.
"aku akan pergi setelah kau memakai ini" jimin melepaskan kedua sarung tangan kulit yang ia kenakan. diraihnya satu per satu telapak tangan taehyung, bermaksud untuk membantu memakaikannya.
"terima kasih" jawab taehyung datar.
"hm.. jaga dirimu tae, kau tahu kan kondisimu sekarang berbeda dengan-" jimin keceplosan. ia sungguh merutuki kebodohannya kali ini.
"hm, aku mengerti"
.
.
meskipun bulan februari dikenal sebagai musim peralihan dari musim dingin ke musim semi, namun pemahaman tersebut sepertinya tidak berlaku untuk tahun ini. lihat saja, hari ini salju masih turun meskipun tidak selebat biasanya. trotoar di pinggir jalan pun masih tertutup gundukan salju hingga setebal 3cm. namun bagaimanapun kondisinya, hal ini tidak menyurutkan niat taehyung. taehyung terus mengarungi salju tebal yang menutupi trotoar jalanan daegu, tak peduli tangannya terasa sangat sakit akibat rasa dingin yang berlebihan.
"ini demi membantu jungkook, aku tak akan menyerah" taehyung terus menerus menggumamkan kalimat yang menyemangati dirinya sendiri.
jangan anggap perjalanan taehyung ini berjalan mulus, karena selain salju tebal yang menyulitkannya berjalan.. berulang kali juga ia mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang sekitarnya.
.
"bocah ini sungguh gila!"
.
"apakah kau tidak memiliki kursi roda untuk membantumu bergerak, nak?"
.
"kasihan sekali anak ini"
.
"hai nak, naiklah ke punggungku.. walau mungkin usiaku sudah lebih dari setengah abad, tapi aku yakin... aku bisa menggendong bocah sekurus dirimu"
.
.
.
.
tak jarang pula taehyung mendapat gunjingan maupun rasa prihatin dari orang-orang sekitarnya. namun seperti menulikan kedua telinganya, taehyung terus saja menyeret kedua kakinya menuju spot yang ia rasa pas untuk memamerkan suara merdunya.
mungkin sejauh hampir 2km taehyung menyeret kakinya, dengan kondisi seperti ini... ia sudah menghabiskan waktu lebih dari 2 jam, namun hingga saat ini pun ia belum menemukan tempat yang sesuai dengan apa yang ia mau. kedua tangannya pun perlahan terasa begitu kaku untuk digerakkan, hingga tak jarang pula tangan itu bergetar hebat saat menumpukan berat badannya.
.
"bukan saatnya untuk menyerah taehyung-a, kau bisa... hhhh... pasti bisa" taehyung terus menyerukan kalimat yang menyemangatinya. semakin lama pergerakan tubuh taehyung semakin lambat, hawa dingin yang semakin menusuk tulangnya benar-benar membuat dia kesulitan untuk melakukan aktivitas. ia bahkan sudah tak merasakan apa-apa lagi di seluruh tubuhnya.
"hhhhh... sedikit lagi... hhhhh... taehyung-a..." bibir taehyung pun ikut bergetar. rasa-rasanya ia sudah tak kuat lagi untuk bergerak lebih jauh. semakin lama tubuhnya semakin tak mau mengikuti perintah dari otaknya. lebih parahnya mungkin ia sudah tak dapat tersenyum lagi, karena wajahnya yang benar-benar terasa membeku.
"hhhh.. tahan taehyung-a... hhh..." taehyung berhenti di tengah-tengah trotoar, sambil memejamkan kedua matanya erat. mungkin dengan cara itulah ia mengumpulkan tenaganya.
.
setelah dirasa cukup kuat untuk melanjutkan perjalanannya, taehyung kembali menyeret kedua kakinya (masih dengan posisi duduk). meskipun pergerakannya tidak secepat tadi, namun setidaknya taehyung masih memiliki semangat untuk melanjutkan kegiatannya itu.
.
"hyung?" suara itu terdengar jauh, namun taehyung sangat mengenalinya.
"hhh.. apakah kedinginan menyebabkan orang berhalusinasi.. hhh?" dengan mata yang cukup sayu, taehyung masih saja melanjutkan geraknya. toh, suara tadi tidak terdengar kembali.
"taehyung hyung?" salah. taehyung masih mendengarkan panggilan yang terasa semakin mendekat diikuti dengan suara langkah kaki yang sedang berlari.
taehyung menolehkan kepalanya lemah, berusaha mencari sumber suara.
"OH ASTAGA! TAEHYUNG HYUNG!" si pemilik suara itu memekik hebat.
"hhh... jung...kook... ie... hhhh" taehyung berusaha tersenyum, meskipun wajahnya sama sekali tak dapat mencetak sebuah senyuman.
jungkook tak membalas sapaan taehyung, ia hanya berdiri terpaku melihat wajah taehyung yang pucat hingga mungkin lebih dapat dikatakan memutih. bahkan bibirnya pun berubah menjadi membiru. jungkook berusaha menahan amarahnya yang mungkin sudah siap untuk meledak. namun belum sempat ia mengeluarkan amarahnya.. dengan gerakan melambat, taehyung menjatuhkan tubuhnya di atas gundukan salju trotoar.
"YA TUHAN, TAEHYUNG HYUUUUNG!" jungkook menjerit melihat hyungnya tergeletak tak berdaya.
tidak. taehyung tidak pingsan. taehyung masih mendengar jeritan jungkook dan keriuhan orang-orang di sekelilingnya, meskipun samar-samar. namun taehyung tidak dapat berbuat apapun, jangankan untuk menggerakkan tangannya.. menggerakkan bibirnya pun terasa sulit luar biasa. seluruh tubuhnya benar-benar mati rasa. bagaimana ini? ia tak mau mengkhawatirkan adik kecilnya.
"hhhh... ma... ...af... hhhhh" taehyung menangis tanpa suara, hanya lelehan air matanya yang turun dari kedua sudut mata yang perlahan semakin meredup.
.
.
.
TBC (lagi)/END?
sebelumnya terima kasih sudah dikomen, maaf belum bisa balas. tapi sangat ditunggu komentarnya lagi biar makin semangat bikinnya sambil bikin skripsi juga hihihi
