-dhedhedheadheo-
Cast:
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
(mereka berdua akan menjadi satu marga 'Kim')
Park Jimin
(cast akan bertambah dengan seiring berjalannya chapter)
Genre: Family, Brothership, Life, Drama, DLDR, RnR please!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer:
Kesamaan nama tokoh ataupun ide terjadi tanpa sengaja, alur dan jalan cerita milik saya sepenuhnya. Terinspirasi dari salah satu karakter di kdrama cukup jadul, Medical Top Team (tapi bukan berarti saya membuat cerita yang berkaitan dengan dunia kedokteran loh ya hahaha). Dan kebetulan saya juga mempublikasi FF ini di lapak sebelah.
SELAMAT MEMBACA!
WARNING! TYPO, cerita pasaran, kalimat amburadul, alur kecepetan, membosankan!
Don't like? DON'T READ!
NO BASH and… ENJOY!^^
.
.
.
Part 3. Kecewa
.
.
.
Daegu
Februari 4th, 2016
.
"YA TUHAN, TAEHYUNG HYUNG!" lagi. jungkook masih kehilangan kata-katanya. ia terlalu terkejut dengan apa yang sedang dilihatnya. bocah yang belum genap berusia 16 tahun itu langsung berlari menghampiri sang kakak yang telah tersungkur lemah di atas trotoar bersalju.
pada kenyataannya, taehyung masih membuka kedua matanya. meskipun pandangannya tidak fokus dengan bola mata yang terkesan lari kesana kemari dan cenderung meredup.
"apa yang kau rasakan, hyung? bagian mana yang sakit?" tanya jungkook bertubi-tubi. pikirannya begitu kalut melihat keadaan taehyung hyungnya yang memprihatinkan, hingga ia pun tak tahu harus berbuat apa.
"khhh... hhhh... kook... kkhh..." taehyung berusaha menggerakkan bibirnya, walau pada akhirnya hanya terdengar suara erangan semata. taehyung pun semakin mengernyitkan dahinya, menandakan bahwa ia tengah merasakan hal yang tidak nyaman dalam tubuhnya. tak jarang ia membuka mulutnya demi bisa bernafas dengan mudah.
"bagaimana ini hyung? tubuhmu terasa sangat dingin. apa yang harus kulakukan?" tanya jungkook khawatir. setelah mengecek suhu tubuh taehyung dengan menempelkan telapak tangan ke dahi kakaknya, maka secepat mungkin jungkook melepas jaket tebalnya, dan memakaikannya di tubuh taehyung. bahkan jungkook tak memedulikan pula kondisinya saat ini, ketika ia hanya mengenakan sebuah kaos dan hoodie tipis yang sementara ini melindunginya dari terpaan hujan salju ringan.
"...sejujurnya dompetku juga tertinggal di tempat kerja hyung" seru jungkook dalam hati.
"hhhh... pu... hhlaang... kkkhhh" dengan segala kesulitannya, taehyung kian meracau.
"bagaimana mungkin aku membiarkanmu pulang dalam keadaan seperti ini hyung?" jungkook kesal. ia kesal dengan keadaan yang kian menyudutkannya. kesal dengan hyungnya yang keras kepala, kesal karena dompetnya yang harus tertinggal, dan kesal karena dia seperti kehilangan akal.
taehyung tidak dapat berbuat banyak. ia hanya berusaha keras menggelengkan kepalanya, dan sesekali bulir air matanya lolos membasahi pipinya.
"ayo kubantu, naiklah ke punggungku" sekuat tenaga jungkook menutupi rasa khawatir di depan hyungnya, dan mati-matian pula ia berusaha untuk terlihat tenang.
taehyung tak menjawab. matanya pun perlahan mulai menutup. hanya terdengar hembusan nafasnya yang semakin memberat.
dengan susah payah jungkook mengangkat tubuh taehyung, kemudian membawanya ke atas punggungnya. ia hanya tak habis pikir, kemana perginya orang-orang yang tadi mengerumuninya? tak adakah orang yang berbaik hati untuk menawarkan bantuannya? ah jungkook tak mau ambil pusing lagi.
.
.
sembari menggendong taehyung, jungkook berlari semampu yang ia bisa. tak peduli suhu dingin yang menusuk tulangnya, tak peduli pula tumpukan salju yang begitu menyulitkannya untuk berlari, ataupun jarak tempat yang akan ia tuju... jungkook hanya terus berlari. saat ini satu yang ia pikirkan, rumah sakit. terlebih hanya ada satu rumah sakit terdekat di kawasan ini, yaitu Fatima Hospital. rumah sakit yang ia dan hyungnya sangat benci dan bersumpah tak akan pernah masuk ke dalamnya. tapi bagaimanapun juga, taehyung membutuhkan pertolongan segera. ia tak mau mengorbankan taehyung demi keegoisan atau harga dirinya. yang terpenting saat ini adalah taehyung. apapun akan jungkook lakukan demi taehyung.
"taehyung hyung?" jungkook terus memanggil nama hyungnya, berharap jika hyungnya masih tersadar.
"..." tak ada jawaban yang keluar dari pria muda di balik punggung jungkook. jungkook pun merasakan bahwa kepala hyungnya sudah terkulai lemas di bahunya.
"taehyung hyung, kumohon bangunlah.. ini bukan saatnya untuk tidur" jungkook terus melakukan komunikasi dengan sang hyung demi menjaga kesadarannya, di tengah kakinya yang masih berusaha keras untuk berlari.
jungkook mulai merasakan pergerakan kecil di punggungnya. "bersabarlah hyung, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. kau harus kuat"
"...errghh" taehyung tak bisa menjawab. ia hanya mengerang sangat pelan sebagai respon perkataan sang adik.
.
.
.
Fatima Hosiptal, Daegu
.
"siapapun... siapapun kumohon selamatkan hyungku!" seru jungkook panik pada beberapa perawat di meja resepsionis.
"kau harus tenang, tunggulah sebentar.. perawat lain sedang mengambil brangkar" sahut salah seorang perawat.
tak beberapa lama, muncullah beberapa orang perawat mendorong sebuah brangkar dengan sedikit berlari.
"baringkan hyungmu disini" titah perawat itu lagi.
"kupikir dia terkena hipotermia" lanjut jungkook pelan.
"tunggulah disini, hyungmu akan segera ditangani oleh tenaga medis. dan jangan lupa selalu berdoa untuk keselamatannya" perawat muda itu tersenyum simpul berusaha menenangkan anak muda yang duduk di sampingnya.
"YA TUHAN! TAEHYUNGIE!" belum beberapa lama jungkook menghembuskan nafas lega karena setidaknya taehyung telah ditangani oleh tenaga medis, tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar di telinganya.
spontan jungkook mengedarkan kepalanya ke arah sumber suara, dan menemukan salah satu orang yang paling ia benci di dunia ini. dengan buru-buru ia menundukkan kepalanya, tentu saja karena tak ingin orang tersebut mengenalinya.
"jjj... jung... jungkookie" akan tetapi tuhan masih tidak sepenuhnya berpihak pada jungkook.
"kumohon beritahu aku, apa yang terjadi pada taehyung" sosok itu sungguh terlihat kacau.
"bukan urusanmu" jawab jungkook dingin dengan pandangannya yang lurus ke depan.
"tunggulah disini, hyung pasti akan menyelamatkan dia" secepat kilat, sosok itu lari menghilang dari hadapan jungkook. dan secara refleks jungkook mengepalkan kedua tangannya erat-erat sambil menahan air mata yang kapan saja bisa jatuh membasahi pipinya.
.
.
.
Emergency Room
.
"taehyungie, bisa mendengar suara hyung?" seru seseorang yang terdengar samar di telinga taehyung. sungguh, taehyung masih bisa mendengar semua yang ada di sekelilingnya.. namun pandangannya gelap dan sangat sulit untuk merespon dalam bentuk apapun.
"bagaimana kerja otaknya?"
"belum ada tanda-tanda mati otak, pasien belum terlambat untuk diberi penanganan" timpal salah seorang dokter magang sambil melepaskan stetoskopnya yang kedua ujungnya masih terpasang di telinga.
"siapkan intubasi"
"segera pasangkan selang IV (infus)!"
"kupikir ia juga kekurangan nutrisi, sementara berikan satu botol Glukosa NaCl!"
hari ini memang tak seperti hari-hari biasanya. emergency room di Fatima Hospital tampak lebih sibuk dan panik dari sebelum-sebelumnya.
"ambilkan aku gunting! pakaiannya terlalu basah. itu akan memperburuk kondisinya" dengan cekatan dokter muda itu membuka beberapa jaket tebal, dan menggunting kaos hitam yang masih terpasang di tubuh taehyung.
"bagaimana suhu tubuhnya?" tanya dokter muda itu pada dokter magang yang tengah memantau layar thermometer.
"27,8° celcius, dokter!" jawabnya tanggap.
"oh damn hipotermia akut! apa saja yang kau lakukan hingga jadi seperti ini tae!" tanyanya frustasi.
"cepat tutupi tubuhnya dengan warming blanket!"
"ne"
sembari menunggu beberapa perawat dan dokter magang memasangkan EKG di dada taehyung, kemudian tensimeter di lengan kirinya, juga oximeter di jari telunjuknya.. dokter muda itu segera meraih laryngoscope lalu menarik sebuah bangku di atas kepala taehyung untuk memudahkannya dalam melakukan intubasi. setelah merasa nyaman pada duduknya, dokter muda itu berusaha mendongakkan kepala taehyung dan membuka mulutnya lebar. ia pasangkan laryngoscope di sisi kanan mulut taehyung menggunakan tangan kirinyadengan lampu yang menyala dan dalam sudut 45°.
"aku tahu kau bisa mendengar suara hyung, tae.. tahanlah sebentar, ini akan terasa sedikit tidak nyaman" bisik sang dokter muda di ujung telinga kiri taehyung.
setelah dokter itu dapat melihat saluran nafas taehyung, dengan hati-hati ia mulai memasukkan endotracheal tube (ET) yang telah dilumuri lubricant ke dalam mulut taehyung agar mempermudah masuknya ET ke dalam trakea. setelah pemasangan dirasa benar, sang dokter muda itu kemudian menempelkan plester agar tube yang membantu taehyung bernafas tidak bergeser ataupun lepas.
dokter muda itu melihat jelas bahwa taehyung mengernyitkan dahinya sebagai tanda bahwa ia tidak nyaman dengan alat yang ada pada mulut hingga tenggorokannya. seperti ada yang menyangkut, begitu pikirnya. jelas saja, intubasi biasanya dilakukan pada orang yang telah kehilangan kesadarannya. namun tidak pada kasus taehyung. ia tak dapat memasok oksigen ke dalam paru-parunya, masker oksigen pun tak cukup untuk membantunya bernafas. mau tidak mau, intubasilah yang menjadi pilihan tepat saat ini.
"kau kuat taehyungie, tahan rasa sakitnya sebentar saja ne? biarkan alat-alat ini membantumu untuk bertahan hidup" dokter muda itu tersenyum miris sembari mengelus pelan rambut taehyung. namun bagaimanapun pekerjaan dokter muda itu belumlah selesai. ia belum mengetahui bagaimana keadaan taehyung sebenarnya secara mendetail.
"bagaimana tanda-tanda vitalnya?" ujar dokter muda itu lagi pada perawat ataupun dokter lain yang ikut juga menangani taehyung.
"tekanan darah 60/40 mmHg, denyut nadi 30/menit, laju pernafasan 11 kali/menit" jawab salah seorang perawat.
"sial, tekanan darahnya rendah sekali! berikan dopamine, pantau tekanan darahnya selama 1 jam ke depan. jika tak ada perubahan, segera ganti dengan efedrine dosis rendah!" jawab dokter muda itu sembari mengecek grafik pada layar elektrodiagram.
"jangan lupa juga pantau suhu tubuhnya setiap 10 menit!" tambahnya lagi
"baik seokjin songsaengnim"
.
.
.
.
setelah kepanikan itu mereda, tinggallah kim taehyung dan seorang dokter muda yang masih setia menemaninya. bisa dilihat bahwa sepertinya hubungan mereka kedua terlampaui dekat.
"hai tae, lama tak bertemu hn?" dokter muda itu -seokjin- menggenggam tangan kanan taehyung yang juga dipasang selang IV serta oximeter.
"hyung merindukanmu... dan juga jungkook tentunya" tak henti-hentinya seokjin mengelus pelan punggung tangan taehyung.
"aku tak tahu, apakah tuhan menakdirkan ini sebagai hadiah terindah untukku... atau memang ada sesuatu di balik semua ini. namun aku sungguh bersyukur, akhirnya aku bisa menemukan kalian meski dalam kondisi seperti ini" seokjin terus melakukan monolognya.
"aku tahu, kalian terus bersembunyi dariku. tapi setidaknya, kita mulai semua ini dari awal ne?" perlahan seokjin mulai mengelus surai basah milik taehyung yang menutupi dahi hingga sebagian matanya.
seokjin menatap lekat setiap lekukan wajah taehyung. ia tersenyum bangga melihat kedua adiknya tumbuh dengan 'baik', disaat harus hidup tanpa dirinya di samping mereka. taehyung dan jungkook juga kini telah menjadi remaja yang memiliki paras sangat tampan bila dibandingkan teman-teman sebayanya.
namun seketika pandangan seokjin tertuju pada kedua mata taehyung yang tiba-tiba saja mengeluarkan air mata. dilihatnya pula sedikit pergerakan dari jemari panjang milik taehyung.
"taehyungie, ini seokjin hyung... kau menangis? bagian mana yang sakit, hn? biar hyung yang mengelusnya" seokjin berkata sangat lembut, seakan ia sedang dihadapkan pada sesuatu yang rapuh dan tak ternilai harganya. namun sayangnya taehyung tetap tak merespon, kecuali kernyitan di dahinya serta air mata yang terus lolos meskipun kedua matanya sedang tertutup.
seokjin yang tak tega, segera mengeluarkan sapu tangan dari jas dokternya. ia kemudian menyeka air mata taehyung dengan begitu hati-hati menggunakan sapu tangannya.
"ssstt... hyung di sini... kau pasti merasa tak nyaman dengan alat-alat ini ya? bersabar sebentar ne?" tangan seokjin berpindah tempat. kali ini ia mengelus dada taehyung yang masih tertutup oleh warming blanket. mungkin dengan begitu, seokjin merasa taehyung akan menjadi lebih nyaman.
"erghh..." lenguhan pelan itu seakan menyayat hati seokjin yang mendengarnya. taehyung pasti begitu tersiksa dengan segala rasa sakit hingga alat-alat kedokteran yang menghinggapinya.
"ssssst... tidak apa-apa... tahan ya? kau kuat taehyungie, kau bisa melewatinya" tak ada yang bisa seokjin lakukan selain memberikan kata-kata penyemangat. ia memang sudah terbiasa menangani orang yang berada di ambang kematian, namun tidak jika itu adiknya.
seokjin masih terus mengelus pelan dada taehyung. tapi benar saja, tak lama kemudian taehyung menjadi tenang kembali.
"berjanji pada hyung ne? kau akan segera bangun dengan kondisi lebih baik dari ini, okay? seokjin hyung sangat menyayangimu dan juga jungkook" seokjin mengecup kening sang adik yang sudah lama tak ditemuinya. kemudian meninggalkan taehyung, dan melakukan pekerjaan lain yang masih menunggunya.
.
.
.
.
"jungkook-ah"
dokter muda dengan name tag kim seokjin itu berjalan santai mendekati remaja lelaki yang sedang duduk di kursi ruang tunggu. remaja lelaki di hadapannya itu pun seolah tak memiliki ketertarikan untuk menjawab panggilannya.
"tak ingin mengetahui kondisi taehyung saat ini, hn?" dokter kim seokjin berdiri tepat di depan jungkook dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku jas dokter.
"aku sudah mendengarnya dari dokter tadi" jawab jungkook dingin.
"kau pikir aku bukan seorang dokter, um? setidaknya aku lebih tahu kondisinya, karena aku dokter utama yang menangani taehyung"
"aku tak peduli" jawab jungkook acuh.
"wali pasien atas nama kim taehyung, harap segera menyelesaikan biaya administrasi" tiba-tiba terdengar sebuah pengumuman melalui microphone, yang membuat jungkook langsung berlalu meninggalkan dokter muda tersebut.
.
.
"kumohon berikan aku waktu hingga sore ini. percayalah, aku akan segera melunasi semua pembayarannya" jungkook terus memelas, berharap para perawat itu memahami kondisinya.
"maafkan kami, tapi ini adalah prosedur. jika anda tidak dapat memenuhinya, anda bisa memindahkan pasien ke rumah sakit lain" jawab perawat tersebut yang membuat hati jungkook meluruh seketika.
"demi tuhan, dompetku tertinggal di tempat kerja.. jadi aku tak bisa memberikan jaminan apapun. tapi setelah ini, aku akan langsung meminjam uang pada bos di tempatku bekerja. kumohon berikan aku waktu" jungkook ingin menangis, menyalahkan tuhan yang selalu memberikan ujian seberat ini. mengapa ia yang belum genap berusia 16 tahun harus mengalami semua pergulatan berat di hidupnya?
"maaf, kami tak dapat menerima alasan apapun. ini adalah peraturan yang harus dipatuhi setiap keluarga pasien. bahkan waktu pembayaran pun sudah kami undur hampir 2 jam dari waktu seharusnya. jadi, sangat dimohon pengertiannya" kaki jungkook melemas seketika. darimana ia mendapatkan uang 700.000 won dalam sekejap?
"kumohon..." ujar jungkook dengan suara bergetar.
"aku walinya, semua biaya taehyung akan kutanggung. atau kau bisa memotongnya dari gajiku" tak disangka, seseorang berani menjadi wali kim taehyung. dan otomatis ia akan menanggung semua biayanya hingga taehyung sembuh.
"tak usah sok dermawan, aku bisa mencari uang itu sendiri!" kata jungkook kesal, ketika mengetahui bahwa seokjin lah sosok yang bersedia menjadi wali taehyung.
"kumohon, pikirkan keadaan taehyung. hanya taehyung. hilangkan sifat egoismu. hyung tahu, kau pasti masih sangat marah padaku. tapi sekali lagi kumohon, ini semua demi kebaikan taehyung" seokjin berusaha memberi pengertian pada adik termudanya.
"argggh!" jungkook menjerit tertahan. ia acak rambutnya karena frustasi. hatinya seakan saling bergulat untuk mempengaruhi keputusannya.
"hhh.. baiklah, ini demi taehyung hyung. tapi ingat! aku hanya meminjam uang itu darimu, dan aku pasti akan mengembalikannya! bagaimanapun juga aku tak sudi menerima uang darimu!" jungkook kembali berujar dengan sikap dinginnya.
"baiklah, kau bisa membayarnya kapanpun yang kau mau. tapi sekarang, ayo ikut aku ke kantin rumah sakit. ada banyak hal yang ingin aku bicarakan" dengan memberanikan diri, seokjin menggenggam pergelangan tangan kiri jungkook dan segera menyeretnya meninggalkan ruang tunggu rumah sakit.
jungkook yang tak ingin berbasa-basi, akhirnya hanya diam dan menuruti langkah kaki seokjin.
.
.
.
Hospital Canteen
.
"bagaimana kabarmu, hn?" seokjin mulai membuka pembicaraan.
"seperti yang kau lihat" jawab jungkook ketus.
"masih marah pada hyung?" tanya seokjin lembut.
"menurutmu?" sambar jungkook cepat.
"maafkan aku. aku sudah berusaha mencari kalian setelah selesai menjadi dokter magang. tapi nyatanya, kalian berdua pindah rumah secara diam-diam. tak berhenti di situ, aku masih terus mencari informasi dari para tetangga juga teman-teman kalian. tapi tak ada satu pun yang mengetahuinya..." seokjin kembali berbicara, mengungkapkan seluruh isi hatinya.
"...kuakui, dulu aku memang tak berpikir panjang saat meninggalkan kalian setelah ayah dan ibu meninggal. saat itu aku hanya takut, untuk membiayai kuliah kedokteran saja aku kesulitan apalagi ditambah menghidupi kedua adikku? demi tuhan, aku menyesal jungkook-a. aku selalu memikirkan bagaimana kalian hidup? bagaimana kalian bersekolah? tapi aku terlalu pengecut" lanjut seokjin emosional.
mendengar penjelasan itu, jungkook menahan tangisnya. ia tak mau terlihat lemah di depan seokjin. hatinya terasa begitu sakit ketika harus mengingat kejadian tersebut, dimana itu semua menjadi awal perjuangan berat hidupnya.
"oh... bagimu... kuliah kedokteran lebih penting dari aku... dan taehyung hyung?" balas jungkook sinis.
"bukan begitu jungkook-a... baru-baru ini aku mendapatkan informasi bahwa taehyung menjadi seorang trainee di salah satu agency ternama, sungguh itu membuatku merasa lega saat aku tahu bahwa kedua adikku bisa berjuang sendiri tanpa aku di samping kalian" seokjin memasang senyum yang dipaksakan.
"KAU TAK PERNAH TAHU HAL YANG SEBENARNYA KIM SEOKJIN!" teriak jungkook diiringi dengan gebrakan meja. yang mau tak mau membuat mereka berdua menjadi sumber perhatian pengunjung kantin.
"tak usah basa-basi, apa hanya ini hal penting yang ingin kau bicarakan?" tanya jungkook masam.
"tidak" sahut seokjin.
jungkook masih diam berdiri di tempatnya. ia memberikan kesempatan seokjin untuk menjelaskan inti dari pembicaraan mereka.
"jadi... apa yang sebenarnya terjadi? mengapa tiba-tiba kau membawa taehyung ke rumah sakit dengan kondisi yang sungguh tak masuk diakal? kau tahu, ia mengalami hipotermia akut. jika saja kau terlambat beberapa menit, taehyung pasti sudah mati otak. dan kau tahu apa akibat terburuknya?" seokjin kembali berbicara serius.
"hentikan..." desis jungkook.
"selain itu ia juga menderita kekurangan gizi. tubuhnya sangat kurus, ia harus mendapatkan IV nutrisi hingga beberapa hari ke depan. apa kalian hidup dengan baik? bagaimana cara kalian mendapatkan uang untuk biaya sehari-hari? kau tak menyusahkan taehyung kan?" seokjin terus memberondong jungkook dengan beberapa pertanyaan.
"kumohon hentikan..." jungkook kembali berdesis tak senang.
"jika tujuanmu berbicara hanya untuk menyalahkanku, sebaiknya aku pergi" lanjut jungkook.
"bukan begitu maksudku kookie" jungkook terpaku. untuk pertama kali setelah sekian lama, ia mendengar panggilan itu dari mulut seokjin.
"aku hanya ingin memulai dari awal, dan kita bertiga akan hidup bersama kembali.. kalian hanya perlu fokus belajar untuk mencapai cita-cita, masalah biaya biar hyung yang menanggung semua" terang seokjin lagi.
"semudah itu? hhh, yang benar saja! aku bukanlah anak kecil bodoh yang dulu pernah kau tinggalkan, seokjin-ssi... oooh! apa karena sekarang kau telah menjadi dokter muda ternama semua akan terjadi sesuai dengan keinginanmu, begitu?" jungkook menatap seokjin tajam. dibalik tatapan itulah, kemarahan jungkook kian menjadi-jadi.
"dengar baik-baik, seokjin-ssi. walau berkekurangan, aku sudah cukup bahagia hidup berdua bersama taehyung hyung. dengan segenap hati, aku memintamu untuk tidak kembali ke kehidupan kami. meski begitu terima kasih atas tawarannya. aku pergi" setelah menyelesaikan kalimatnya, jungkook segera beranjak dari duduknya dan membungkukkan badannya 90° tanda suatu penghormatan.
.
.
.
.
TBC/END?
makin dibaca kok makin amburadul ya? hahahaha sudahlah. btw aku bukan anak kedokteran, jadi mohon maaf bila ada salah prosedur atau apapun. aku suka banget sama drama-drama medis, jadi FF ini kuselipin dikit tentang medicial yakk dengan pengetahuan yang sangat terbatas dariku hoho btw di ffn gabisa tambah gambar buat ilustrasi, jika memang readers pengen baca yang ada ilustrasinya bisa ke wattpad aku dengan uname dhedingdong95. di wattpad.. ff ini akan diupdate beberapa hari lebih cepat daripada disini. tapi semuanya tergantung readers mau baca di mana, yang jelas aku memerlukan review kalian untuk menyemangatiku bikin lanjutan FF ini. soalnya viewersnya bener-bener kebanting sama jumlah reviewnya. T_T bukannya sok atau gimana, tapi review kalian baik di sini maupun lapak sebelah sangatlah berharga. jadi aku akan memasang target yang tidak mustahil sebenarnya, jika review untuk chapter ini lebih dari 12.. aku akan lanjut publish di ffn juga. tapi jika tidak, aku akan berhenti dan hanya publish di wattpad. terima kasiiiiiiihhh! :**************
