-dhedhedheadheo-

Cast:

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

(mereka akan menjadi satu marga)

Genre: Family, Brothership, Life, Drama, DLDR, RnR please!

Rate: T

Length: Chaptered/twoshoot tergantung imajinasi lol

Disclaimer:

Kesamaan nama tokoh ataupun ide terjadi tanpa sengaja, alur dan jalan cerita milik saya sepenuhnya. Terinspirasi dari salah satu karakter di kdrama cukup jadul, Medical Top Team (tapi bukan berarti saya membuat cerita yang berkaitan dengan dunia kedokteran loh ya hahaha). Dan kebetulan saya juga mempublikasi FF ini di lapak sebelah.

SELAMAT MEMBACA!

WARNING! TYPO, cerita pasaran, kalimat amburadul, alur kecepetan, membosankan!

Don't like? DON'T READ!

NO BASH and… ENJOY!^^

.

.

.

Part 4. Curahan Hati

.

.

.

February 4th, 2016
Canteen - Fatima Hospital

.

"jungkook-ah... tolong, tolong pikirkan taehyung. setidaknya, aku menawarkan ini demi kesehatan taehyung ke depannya" seokjin terus meminta pengertian sang adik bungsu.

"tidak. aku yang akan membiayai taehyung hyung hingga sembuh! tak peduli bekerja pagi hingga malam, aku yang akan menghidupinya!" jungkook membalas cepat.

"kau harus fokus untuk bersekolah kookie-ya... jika memang kau tak mau hidup dengan hyung, hyung bisa menyewakanmu apartement yang layak di dekat sekolah. tapi kumohon, biarkan taehyung hidup bersama hyung. hyung akan merawatnya setelah keluar dari rumah sakit, okay? bila perlu, aku akan mempekerjakan perawat pribadi untuknya" seokjin mulai melunak. ia terus memberikan opsi terbaik pada adik termudanya, berharap agar jungkook segera memberikan keputusan.

"tahu apa kau kim seokjin!" tak sampai membentak keras, jungkook hanya meninggikan suaranya.

"jawab aku. apa kau benar-benar seorang dokter, huh?" jungkook melebarkan kedua matanya. jika ia tak pandai mengontrol emosinya, mungkin amarahnya kali ini akan jauh lebih meledak. ia benar-benar tak tahu lagi jalan pikiran kim seokjin ini.

"hhhh apa mak-"

belum sempat mengeluarkan suaranya, ucapan seokjin kembali terpotong. "tidakkah ini sungguh keterlaluan? kau berbicara seolah kau pengatur semua di kehidupanku juga taehyung hyung! tak pernah berkaca, um? berapa tahun kau tinggalkan aku dan taehyung hyung? lalu dengan seenaknya kau mencampuri kehidupan kami dan berlagak menjadi pahlawan kesiangan? oh ayolah... kemana kau pergi disaat kami 'jatuh' dan membutuhkan sandaran untuk-"

"jatuh? apa yang kau maksud dengan jatuh?" sambar seokjin cepat.

"kau tak perlu tahu!" jungkook meninggikan suaranya.

"hhh.. beraninya kau tiba-tiba hadir dan berkata seperti itu, sementara kondisi taehyung hyung belum juga membaik! kau tak memiliki hak untuk mencampuri urusan kami berdua kim seokjin-ssi, lancang sekali!" lanjut jungkook lagi.

tak tahan dengan emosinya yang kian melonjak, jungkook lebih memilih meninggalkan seokjin tanpa berkata apapun. hatinya resah. ia takut jika sewaktu-waktu seokjin akan melakukan hal gila yang tak pernah dipikirkannya.

.

.

Intensive Unit Care (ICU) Room
.

"bagaimana perkembangannya?" dokter bername tag kim seokjin itu berjalan sedikit tergesa ke arah ranjang taehyung. tak lupa pula ia memeriksa alat-alat yang menjadi penyangga taehyung hidup hingga saat ini. memastikan agar semuanya dapat bekerja tanpa ada kendala sedikit pun.

"suhu tubuh dan tekanan darahnya perlahan mulai naik, sonsaengnim. namun sayangnya hingga sekarang masih jauh dari kata normal" jawab salah seorang dokter magang.

"tingkat kesadaran?" tanya seokjin lagi.

"kesadarannya baik sonsaengnim. pasien dapat merespon dengan pergerakan kecil. beberapa saat yang lalu pasien sempat menggigil dan mengerang pelan, namun setelahnya ia kembali tertidur"

"pantau terus perkembangannya" kata seokjin tanpa berekspresi.

"ne"

"lalu bagaimana hasil pemeriksaan MRI dan CT scannya?" seokjin mengambil catatan medis taehyung di ujung ranjangnya, kemudian membolak balikkan halamannya guna mencermati grafik kesehatan sang adik.

"sejauh ini tak ada yang perlu dikhawatirkan sonsaengnim, hanya saja ada yang tidak beres dengan keadaan tulang ekornya" jelas dokter tersebut ragu.

"maksudmu...?" seokjin membelalakkan matanya. bahkan tangannya refleks menjatuhkan catatan yang beberapa saat lalu ia bawa.

"maaf ssaem, saya tak bisa menyimpulkannya sekarang. kita harus menunggu pasien pulih dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut" jawab dokter magang itu lagi.

"tidak.. tidak mungkin.." seokjin terlihat begitu linglung. ia terduduk di bangku sebelah ranjang taehyung. pandangannya masih tak fokus. otaknya terus saja dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk. nafasnya pun semakin memburu.

"taehyung-ah... yakinkan hyung jika kau baik-baik saja, hm? kumohon tae-" seokjin ingin menangis. ia tak bisa membayangkan bagaimana jika pikiran terburuknya itu menjadi nyata.

seokjin menggenggam tangan taehyung. sesekali ia mengelus punggung tangan dengan warna yang masih memucat itu.

"kau akan baik-baik saja tae... hyung yakin kau baik-baik saja... kau pasti baik-baik saja" seokjin terus menggumamkan kata-kata penghiburnya. ia tak dapat berpikir dengan jernih, tapi untunglah seokjin tidak bertugas mengunjungi pasien lain saat ini... sehingga ia bisa fokus menjaga adiknya.

"ergggghh..." di tengah lamunannya, seokjin dikejutkan dengan suara lirih yang berasal dari mulut sang adik.

"taehyungie, kau mendengar suara hyung?" dengan sigap seokjin bangkit dari duduknya, mengamati wajah taehyung yang mengernyit dan bahkan masih belum membuka matanya. dengan inisiatif pula ia pasang stetoskop guna memeriksa keadaan tubuh taehyung sekarang. tak lupa ia memeriksa kedua mata taehyung dengan senter kecil, memastikan apakah ia dapat menerima ransangan cahaya atau tidak.

"errrgghhh..." taehyung mengerang kembali. ntah itu respon untuk pertanyaan seokjin, atau memang ia sedang merasa kesakitan sekarang.

"sssttt... tenanglah... hyung disini..." dengan beberapa kata ampuh itulah, seokjin berhasil menenangkan taehyung dan membuatnya tertidur kembali.

"meskipun aku dokter, aku tak tahu pasti bagaimana rasa sakit ketika hipotermia... disisi lain kau juga tersiksa dengan alat-alat ini... aku percaya kau bisa melawan itu semua tae" seokjin mengusap rambut taehyung perlahan. berharap itu dapat menyalurkan kekuatan dan memberikan rasa nyaman pada sang adik.

sejujurnya seokjin tak pernah berpikir mengenai apa yang akan dirasakan para pasiennya terhadap segala macam pengobatan yang mereka terima. yang ia tau, ketika para pasien tersebut sudah menyerahkan hidupnya pada dokter... mau tak mau mereka harus menerima segala konsekuensi rasa sakitnya.

tapi hal ini tak berlaku untuk taehyung. melihat sang adik tersiksa dengan segala alat demi penopang hidupnya... juga bermacam jarum yang ditancapkan di sejumlah bagian tubuhnya, seokjin merasa tak sanggup. meski itu demi kebaikan juga kesembuhan taehyung, seokjin tetap merasa sangat bersalah padanya. jika memang bisa, ia akan lebih memilih memberikan obat penenang juga pereda rasa sakit terus menerus padanya. tapi... hey... bahkan untuk pemberian obat juga ada aturan dan dosis yang harus dipatuhi. seokjin tak bisa berbuat banyak, selain membiarkan taehyung sesekali melenguh sakit ataupun memberikan kata-kata penyemangat yang terkesan menebar harapan-harapan palsu.

"aku tahu... jika aku ini egois tae... setelah beberapa waktu aku berfikir, aku bahkan tak tahu ingin melihatmu sembuh dan pergi meninggalkanku atau melihatmu terus seperti ini namun selalu berada di dekatku..." seokjin masih dalam kegiatannya mengusap pelan surai milik taehyung.

"tapi bagaimanapun, aku selalu berdoa dan berusaha keras untuk kesembuhanmu tae... selain itu, kau sendiri juga harus berjuang... okay?" seokjin menutup monolognya dengan kecupan lembut di puncak kepala taehyung.

"dokter jung?" panggil seokjin pada salah satu dokter magang, yang kebetulan merangkap sebagai dokter jaga sore ini.

"ye sonsaengnim?" dengan tergesa dokter magang itu menghampiri seokjin.

"jika keadaan pasien ini sudah stabil, kau bisa pasangkan selang NGT untuk membantunya makan" melihat tubuh kurus nan ringkih sang adik, seokjin tak bisa bila hanya memberikan cairan glukosa pada taehyung. cara paling ampuh ialah dengan selang NGT. selang NGT ini berfungsi menyuplai makanan dalam bentuk cair langsung ke lambung sang pasien, dengan cara memasukkannya melalui hidung.

"tapi ssaem, bukankah ini terlalu beresiko? maksud saya... pasien dalam keadaan sadar, ia pasti akan merasa-"

"sejak kapan selang NGT hanya diperuntukkan bagi pasien yang kehilangan kesadaran, eoh? jika kau memasangkannya hati-hati, pasien dengan keadaan sadar pun tak akan merasa kesakitan hanya karena ini" baiklah, seokjin cukup memaklumi pengetahuan terbatas dokter magang ini. dengan sabar ia memberikan pengetahuan serta pengarahan, walaupun sebenarnya ia cukup merasa kesal dalam hal ini. saat ia menjadi dokter magang, sebagian besar hidupnya ia habiskan untuk membaca dan membaca. tapi coba lihat dokter magang sekarang, bahkan masalah sepele pun mereka tak dapat mengatasinya.

"baik saya mengerti" jawab dokter magang itu lagi sambil sedikit membungkukkan badannya.

"maaf tae... lagi-lagi hyung akan menambah penderitaanmu dengan selang itu. percayalah itu tidak sakit tae, hanya sedikit tidak nyaman... tahan, ne? itu semua demi kebaikanmu..." seru seokjin dalam hati.

.

.

Waiting Room
.

"jungkook-ah!" terdengar suara yang tak asing lagi di telinga remaja bernama jungkook itu.

"jimin hyung..." jawab remaja itu pelan.

"yatuhan... bagaimana keadaan taehyung?" pemuda bernama jimin itu tak dapat menyembunyikan rasa paniknya. ia sangat merasa bersalah... jika saja ia menemani taehyung, mungkin tidak akan begini jadinya.

"darimana kau tahu jika taehyung hyung ada disini?" tanya jungkook tak bersemangat, namun tetap memasang senyum tipisnya.

"itu tidak penting kookie" jimin mengambil tempat duduk di samping jungkook.

"jadi... apa yang terjadi pada taehyung? dia baik-baik saja kan?" tanya jimin tak sabar.

"hipotermia akut dan kekurangan gizi" jawab jungkook pelan. dengan posisi terduduk ia sandarkan kepalanya pada punggung kursi, kemudian kedua matanya menatap langit-langit rumah sakit. dengan posisi seperti itu jungkook lebih terlihat seolah menerawang jauh meninggalkan raganya.

"apa katamu? ...hipotermia akut?" jimin menganga kehabisan kata. rasa bersalahnya kian menjadi-jadi.

"maafkan aku jungkookie... semua ini salahku... andai saja aku bersamanya... pasti ia tak akan... ia tidak..." jimin mulai tergagap. lidahnya terasa kelu. ini seperti mimpi buruk baginya. tak pernah terlintas di otaknya, jika kejadian ini akan terjadi pada taehyung. sahabat terbaiknya.

"tidak jimin hyung... tak ada pihak yang patut disalahkan di sini" jungkook tersenyum, bukan senyum senang. tapi senyum yang penuh kepasrahan di dalamnya.

"kau sudah menemuinya?" tanya jimin seraya menenangkan pikirannya sendiri.

jungkook menggeleng tak bertenaga.

"kenapa?" tanya jimin lagi sembari menatap sosok jungkook dalam-dalam.

"...aku belum siap" jungkook menggigit bibirnya pelan. menandakan jika ia sedang kacau dan gelisah.

"masuklah... temani dia... ia butuh semangatmu kookie" jimin menepuk bahu kanan jungkook pelan, sesekali ia usap rambut kepala belakangnya.

"tidak hyung... aku merasa... tak pantas saja..." jungkook berujar pelan kembali.

"hey... omong kosong apa ini, eoh?" jimin sedikit meninggikan suaranya. sangat jelas jika ia tak sependapat dengan jungkook.

"ada banyak dokter dan perawat yang menemaninya, tak apa jika aku menunggunya di luar ruangan" sahut jungkook sekenanya.

"taehyung membutuhkan dukungan moral darimu, kookie-ya... kau harus tetap berada di sampingnya... singkirkan perasaan bersalahmu... buang jauh-jauh pikiran burukmu, itu akan semakin memperburuk kondisinya" jimin terus memberi pengertian remaja yang sudah ia anggap sebagai adiknya.

"jungkook-ah..." suara lain menginterupsi pembicaraan antara jungkook dan jimin.

"oh? uisanim" jimin sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda salam.

dokter muda itu hanya tersenyum membalas sapaan jimin.

"jungkook-ah, kau tak mau menemui taehyung hm?" ujar dokter muda itu begitu sabar.

jungkook yang diajaknya berbicara pun hanya memalingkan wajah. mulutnya juga terkunci rapat, tak mau mengeluarkan sepatah kata apapun. ia sama sekali tak tertarik melakukan interaksi dengan dokter muda tersebut.

"apa karena aku sedang berjaga di dalam? ...jika memang benar, jja masuklah. aku masih ada pekerjaan lain. jadi kau bisa masuk sekarang" dokter muda itu berusaha bersikap tenang, sama seperti ia menangani keluarga pasien lainnya.

jungkook tetap tidak mengindahkan perkataan tersebut. ia bahkan menutup kedua matanya seakan bersikap acuh tak acuh.

"kookie-ya, pernahkah taehyung mengajarkan sikap tidak sopan seperti itu?" tegur jimin, karena ia merasa jika perilaku jungkook sudah masuk kategori keterlaluan.

namun nyatanya teguran jimin dianggap angin lalu oleh jungkook. buktinya ia sama sekali tak bergerak sedikitpun. ini sungguh bukan jungkook yang jimin kenal.

"kumohon masuklah kookie-ya... taehyung sungguh membutuhkanmu... kehadiranmu di sana akan mempercepat kestabilan tubuhnya" ujar dokter itu lagi. bahkan tak tanggung-tanggung, ia memilih untuk berjongkok mensejajarkan posisinya dengan jungkook.

"hhh... kookie-ya? sedekat apa hubungan kita hingga kau lancang memanggilku dengan sebutan kookie, kim seokjin-ssi?"

jawaban jungkook sontak membuat jimin mengernyit tak mengerti. dari pembicaraan keduanya, jimin menyimpulkan bahwa jungkook dan dokter muda ini telah mengenal satu sama lain.

"maafkan saya. saya hanya ingin menyampaikan saran terbaik untuk kebaikan pasien. saya permisi" tanpa disangka seokjin mengubah gaya bicaranya menjadi sangat formal. sesuai perkataannya, ia kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan dua orang yang lebih muda darinya. tak dapat dipungkiri, bahwa tercetak jelas kekecewaan pada raut wajah seokjin.

jimin yang menyimak keanehan dua orang di depannya ini, hanya bisa berdiri salah tingkah.

"apa kubilang tadi? masuklah kookie... taehyung menunggumu di dalam... nah, sekarang kemarikan kunci flatmu... aku akan membawakan baju ganti dan beberapa keperluanmu selama di sini"

.

.
Intensive Unit Care (ICU) Room

.
"taehyung hyung..." jungkook mengambil tempat duduk di sisi kiri ranjang dimana taehyung berbaring. wajahnya terlihat begitu murung.

"hyung..." suara jungkook semakin melemah. ia hanya berfokus menggenggam tangan kiri sang kakak.

jungkook terus termenung, tenggelam dalam pikirannya sendiri. ia ingin meluapkan segala beban di hatinya, tapi baginya itu terlalu sulit. bagaimanapun jungkook bukanlah tipe orang yang mudah mengeluarkan semua isi di hatinya. lebih baik ia memendamnya seorang diri dan berkata 'aku baik-baik saja' daripada melihat sang kakak mengkhawatirkan dirinya.

"aku memang adik tak berguna hyung..." jungkook membuka suaranya kembali. ia tundukkan kepalanya, menatap lantai yang dipijaknya. atau mungkin... sengaja untuk menyembunyikan tangisnya?

"...maaf... jika aku tak bisa menjaga taehyung hyung dengan baik... maaf... jika aku tak pernah mengerti perasaan taehyung hyung... maaf... jika aku tak pernah ada untukmu... maaf... jika aku tak bisa membelikanmu makanan yang enak... maaf... jika aku tak bisa mengembalikan impianmu... maaf... jika aku tak pernah membahagiakanmu... aku... hhh... aku..." jungkook menangis. mungkin tangis pertamanya di tahun ini. padahal jika memang keadaannya tak terdesak, jungkook sangat anti menangis. namun kali ini... ia sungguh tak bisa menahannya. emosi, amarah, kekesalan, penyesalan semua bercampur aduk menjadi satu.

jungkook menumpukan kepalanya di atas ranjang taehyung. tak peduli seberapa basahnya sprei putih itu, tak peduli juga jika suara tangisnya saling bersahutan dengan alat-alat rumah sakit ini... yang jelas ia hanya akan terus menangis. membiarkan beban hidupnya meluap sesaat.

jungkook masih menangis pelan. sekuat mungkin ia tahan air matanya agar tidak terjatuh, namun nihil. air mata itu semakin deras mengalir membasahi pipinya. bahkan sesekali cegukan kecil mengganggu tangisnya.

"aku tak tahu harus melakukan apa hyung... rasanya aku sudah melakukan semua yang terbaik yang aku bisa... aku telah mengorbankan semua hobi, kesenangan, dan impianku. tapi kenapa keadaan seolah memusuhiku? kenapa? kenapa semua ini harus terjadi padaku?" setelah hampir satu tahun memendam rasa egoisnya dalam-dalam, pada akhirnya jungkook berani melontarkan perasaan sebenarnya. demi tuhan, ia tak kuat. belum lagi menghadapi masalahnya dengan seokjin yang semakin menambah rumit pikirannya.

setelah beberapa saat sempat mereda, tangis jungkook memecah kembali.

"sungguh hyung... jika boleh jujur, aku tak pernah memikirkan kata 'menyerah' sebelumnya. tapi semakin hari... aku semakin tak kuat menjalaninya... rasanya seperti ada batu besar yang menghimpit dadaku... sesak sekali" jungkook memukul-mukul dada kirinya sendiri di tengah tangisnya. karena sekuat apapun jungkook untuk menjadi dewasa, ia tetaplah remaja yang juga membutuhkan perhatian juga kesenangan layaknya anak lain seusianya.

"...aku harus bagaimana hyung" jungkook benar-benar menceritakan semua yang dirasanya. toh taehyung sedang tertidur, ia tak akan mungkin mendengarnya berbicara... begitu pikirnya.

"jujur, tak jarang aku ingin mengakhiri semuanya... menjatuhkan diri dari atap gedung, menenggelamkan diri dalam bath up, mengiris urat nadi, atau apapun itu... tapi di saat aku ingin melakukannya, terkadang aku berpikir bahwa bunuh diri bukan akhir dari segalanya" jungkook memainkan jari-jari panjang milik taehyung, dan terus melakukan monolognya.

"taehyung hyung..."

"aku takut... takut jika kau akan memilih hidup bersama seokjin hyung daripada aku" lanjut jungkook.

"mungkin dia benar, aku tak akan mampu merawatmu di rumah.. sementara aku akan bekerja dari pagi hingga malam... tapi sungguh hyung, aku menyayangimu. apapun akan kulakukan agar kau bahagia meski harus mengorbankan semuanya. karena kau tahu, aku tak bisa hidup tanpamu" jungkook menggigiti bibirnya. itu merupakan salah satu kebiasaan dirinya dan taehyung kala takut ataupun gelisah.

"taehyung hyung... kau harus sembuh. apapun yang terjadi, kau adalah alasan yang membuatku bertahan sejauh ini..." jungkook masih berada di posisinya, sembari menatap wajah pucat taehyung yang tetap tak bergerak.

"maafkan aku hyung... kali ini saja, biarkan rasa egois yang menguasai hatiku. aku hanya ingin kita berdua berjuang bersama, mencapai sebuah kesuksesan tanpa ada gangguan dari pihak lain. kau ingat sumpah kita bukan? kaulah satu-satunya anggota keluarga yang aku punya, begitu pula denganmu. tak ada lagi nama kim seokjin dalam kamus hidup kita.."

setelah jungkook merasa lega, ia tegakkan badannya kembali dan berusaha mengusap sisa-sisa air mata di pipinya menggunakan lengan hoodienya.

.

"jungkook-ah... jika seberat itu beban hidupmu, mengapa kau tak pernah jujur padaku?"

.
TBC/END?
.

.

hai, kira-kira masih ada yang masih berminat baca FF ini ga ya? hahaha. yuks yang masih berminat untuk baca FF ini di ffn harap berikan komentar setidaknya sampe 15 komen nanti bakal kulanjut disini, atau kalau engga.. kalian bisa langsung cus ke wattpad dengan idku dhedingdong95, disana udah sampe chapter 8 looh /promosi/ wkwkwk kalau udah baca di lapak sebelah, jangan lupa vote dan juga komen untuk tinggalkan jejak. thankyou!