-dhedhedheadheo-
Cast:
Kim Taehyung
Jeon Jungkook
(mereka akan menjadi satu marga)
Genre: Family, Brothership, Life, Drama, DLDR, RnR please!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer:
Kesamaan nama tokoh ataupun ide terjadi tanpa sengaja, alur dan jalan cerita milik saya sepenuhnya. Terinspirasi dari salah satu karakter di kdrama cukup jadul, Medical Top Team (tapi bukan berarti saya membuat cerita yang berkaitan dengan dunia kedokteran loh ya hahaha). Dan kebetulan saya juga mempublikasi FF ini di lapak sebelah.
SELAMAT MEMBACA!
WARNING! TYPO, cerita pasaran, kalimat amburadul, alur kecepetan, membosankan!
Don't like? DON'T READ!
NO BASH and… ENJOY!^^
.
.
.
Part 5. Hal Tak Terduga
.
.
.
.
.
February, 5th 2016
Intensive Care Unit (ICU) - Fatima Hospital
.
.
.
.
"taehyung hyung... kenapa masih belum bangun juga, hng?" baru satu hari taehyung tertidur, tapi jungkook sudah merasa kesepian. tak pernah bosan, ia genggam tangan sang hyung... takut bila sewaktu-waktu tangan itu bergerak dan taehyungnya pun mulai tersadar dari mimpi panjangnya. tak jarang pula remaja itu merapikan poni taehyung sembari mengamati kesempurnaan wajah yang dimiliki hyungnya.
"pantas saja banyak agency ternama yang memperebutkanmu hyung, selain pandai bernyanyi... kau juga sangat tampan. bisa kupastikan jika banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihmu" jungkook terkekeh kecil.
"tak salah bukan jika aku sangat iri padamu?" jungkook meletakkan tangan kirinya di tepi ranjang taehyung, lalu ia tumpukan kepalanya di atas sana. itu memudahkan ia untuk fokus memandangi taehyung.
"...mulai saat ini... jangan pernah menyesali apapun yang pernah terjadi, nde? kita akan memulai semuanya dari awal..." jungkook semakin bersemangat dengan monolognya.
"...maka dari itu cepatlah sembuh hyung, agar kita semakin cepat pindah ke seoul... dan memulai hidup baru di sana" jungkook tersenyum sendiri membayangkannya.
"jungkook-ah..." tiba-tiba jimin datang dengan sebuah ransel hitam melekat di punggungnya.
"ah! jiminie hyung.." jungkook menoleh ke sumber suara. ia berikan senyum tulus yang sempat hilang beberapa saat lalu.
"sudah baikan?" jimin berjalan sangat pelan mendekati jungkook, agar tak mengganggu tidur panjang sahabatnya itu.
"...mm sedikit" jungkook tersenyum lagi.
"kau tidak tidur semalaman, eoh?" jimin cukup terkejut melihat tampilan jungkook yang jauh lebih berantakan dari sebelumnya.
"aku tidak mengantuk hyung... tadi malam aku asyik bercerita dengan taehyungie hyung, sampai tak sadar jika ini sudah beranjak siang" jawab jungkook sedikit antusias.
mendengar jawaban jungkook, jimin merasa sedih. sefrustasikah itu jungkook? ...hingga tak habis-habisnya ia bermonolog dengan taehyung. ya, jimin tahu... jungkook memang wajib memberikan supportnya untuk kesembuhan taehyung. tapi bukan begini caranya. ia sangat menentang jika jungkook menyiksa dirinya seperti itu.
"tidurlah di ruang tunggu kookie, aku yang akan menemani taehyung di sini" jimin memberikan tatapan seriusnya. berharap jika jungkook mau mengerti atas niatan baiknya.
"tidak hyung, aku akan menunggu taehyungie hyung hingga membuka matanya"
"jungkook-ah... lihatlah mata pandamu itu! taehyung akan sangat sedih jika tahu kau menyiksa diri seperti itu" ujar jimin kesal.
"aku tak menyiksa diri hyung... aku hanya ingin menjadi orang pertama yang dilihat taehyung hyung ketika ia sadar nanti..." sanggah jungkook lagi.
"bagaimana jika ia sadar satu minggu lagi? apa kau juga tidak akan tidur selama satu minggu eoh?" jimin tak bisa mengontrol kekesalannya. di matanya, jungkook sama keras kepalanya dengan taehyung.
"pergilah hyung... aku sedang tak ingin berdebat denganmu" jungkook memalingkan wajahnya dan lebih memilih untuk memandangi wajah damai taehyung.
"jungkook-ah... aku hanya tak ingin kau jatuh sakit... cukup taehyung saja. jika kau sakit, siapa yang akan menjaga kalian berdua hn? ingatlah jika aku tak bisa menemani kalian 24 jam penuh" jimin berusaha melunak, agar jungkook tak salah pengertian dengan maksud baiknya.
"maaf hyung, aku hanya-"
"selamat siang..." suara lain memotong perdebatan jungkook dan juga jimin.
"oh? selamat siang uisanim" jimin sedikit membungkuk ke arah beberapa dokter dan perawat yang baru saja datang. berbeda halnya dengan jungkook, karena ia lebih memilih untuk memasang wajah datar dan kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"kami akan melakukan pemeriksaan pada pasien kim taehyung, bisakah kalian memberi sedikit ruang?" tanya salah satu dokter.
"eh? ..mm baiklah" jimin dan jungkook mundur beberapa langkah, membiarkan para tenaga medis memeriksa keadaan taehyung.
pandangan jungkook maupun jimin terpaku pada beberapa orang yang mengecek alat-alat penopang hidup taehyung. tak jarang mereka mengeluarkan stetoskopnya, atau sekedar memijat pelan di beberapa bagian tubuh taehyung.. memastikan jika tak ada yang salah dengan organ tubuh lainnya.
"suhu tubuh pasien 36,7°, tekanan darah normal, kerja organ vital normal..." ujar salah satu dokter wanita.
"jumlah dan warna urine juga normal" sahut dokter lainnya.
"hhh... syukurlah..." mendengar keadaan taehyung yang semakin membaik, seokjin selaku dokter utama yang menangani hanya dapat bernafas lega. begitu pula dengan jungkook dan jimin. bahkan jimin tak mampu menyembunyikan tangis bahagianya.
"kita hanya perlu menunggu pasien sadar, untuk memastikan apakah ada kerusakan otak atau tidak"
"errrgghhh..." terdengar lenguhan lagi dari mulut taehyung.
"taehyung-ah!"/"taehyung hyung!" seokjin dan jungkook berseru bersama. bahkan karna antusiasnya, jungkook berlari kecil menuju ranjang taehyung.
perlahan taehyung membuka matanya. ia cukup bingung dengan suara gaduh di sekelilingnya. kedua pupil matanya pun masih belum membiasakan diri dengan cahaya lampu di atasnya.
"taehyung-ah, bisa mendengar suara hyung?"
.
hyung?
.
.
hyung?
.
.
hyung?
.
.
.
hanya satu kata itulah yang terngiang di kepala taehyung. hyung. hyung? hyung siapa? semakin taehyung memikirkannya, semakin sakit yang dirasakan kepalanya.
di sisi lain, park jimin yang tengah berdiri di sudut ruangan hanya mengernyit tak mengerti. sesekali ia lemparkan pandangannya ke arah jungkook, meminta penjelasan darinya. namun apa daya, bahkan jungkook pun terlalu sibuk memandangi taehyung. hyung? apa maksudnya? seokjin uisanim adalah hyung mereka? mungkinkah? tapi baik taehyung juga jungkook, tak pernah bercerita tentang ini padaku! heeey, kalian berhutang penjelasan padaku!
.
.
"taehyung-ah, mana yang sakit eum?" tanya seokjin sedikit panik, melihat sang adik mengernyit hebat seakan menahan rasa sakit.
taehyung tidak merespon.
seokjin dapat memaklumi, lalu membiarkan salah satu dokter magang untuk memeriksa keadaan taehyung lebih lanjut. dimulai dari pemeriksaan pupil mata, pergerakan tangan, semuanya tak ada masalah.
hingga pada akhirnya, dokter magang tersebut meminta taehyung untuk menggerakkan kakinya. "bisakah anda menggerakkan kaki? atau jika itu sulit, bagaimana jika anda menggerakkan jari-jarinya?"
kaki itu tak bergerak.
"taehyung-ssi? anda mendengar suara saya?" dokter magang itu kembali bertanya, memastikan jika taehyung mendengar perkataannya.
namun tiba-tiba tangan kanan taehyung meraih pipa yang bersarang di mulutnya, berusaha untuk melepaskannya secara paksa.
"taehyung-ah! hentikan!" dengan cepat seokjin menyambar tangan taehyung untuk menghentikan aksi cerobohnya.
"hey... itu bisa menyakitimu!" seru seokjin khawatir.
"apa kau benar-benar sudah bisa bernafas lewat hidung, hm?" lanjut seokjin diikuti dengan senyum simpulnya melihat kondisi taehyung yang pulih dengan cepat. bahkan dokter muda itu tak menyadari jika terdapat sepasang mata yang memandangnya tak suka. lebih-lebih di saat yang sama, seokjin tak dapat mengontrol tangannya untuk mengusap rambut taehyung.
taehyung tak dapat berbuat banyak. ia tak bisa menghindari tangan seokjin, atau bahkan mengeluarkan protesnya karena menganggap dokter muda yang menanganinya ini bertindak sangat lancang kepada pasien.
"bukankah anda kesini untuk memeriksa hyungku? tapi kenapa anda dengan lancang berani mengusap rambutnya eoh?" ucap jungkook ketus.
mendengar seruan remaja itu, seokjin segera melanjutkan tugasnya. ia juga tak berniat untuk membalas perkataan jungkook daripada emosinya ikut terpancing.
"hyung akan melepaskan selang intubasinya, tahan nafas ne?" dengan sangat perlahan, seokjin melepaskan beberapa plester yang menempel di sekitar mulut taehyung.
taehyung menurut. dengan pandangan yang masih kabur, ditambah lagi pikirannya yang kosong... ia tetap menuruti kata-kata seokjin.
dengan begitu hati-hati, seokjin melepas pipa yang kurang lebih selama satu hari memenuhi mulut dan tenggorokan taehyung.
"tahan nafas ne... sedikit lagi..." seokjin bekerja sangat rapih, karena bagaimana pun ia tak ingin melihat taehyung kesakitan.
namun serapih apapun pekerjaan seokjin, taehyung tetap merasa tidak nyaman. setelah pipa tersebut keluar, taehyung langsung terbatuk pelan.
"kau baik-baik saja taehyungie?" seokjin khawatir dengan keadaan taehyung. ia usap perlahan bahu taehyung, berharap jika usapan tersebut mampu membuat keadaannya membaik. melihat taehyung terus terbatuk hingga membuat wajahnya memerah, juga diikuti oleh tarikan nafasnya yang semakin memberat... seokjin berinisiatif untuk memasangkan masker oksigen.
"sudah lebih baik?" taehyung mengangguk kecil.
"mengapa kau tak melakukan apa yang diminta oleh dokter magang, um?" tanya seokjin sembari membenahi selimut taehyung.
taehyung tak bergeming, ia lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya.
"ada sesuatu yang kau sembunyikan? atau kau merasa ada yang aneh dengan kedua kakimu hm?" tanya seokjin lagi.
namun taehyung tetap tak membuka suaranya.
"hhh, baiklah... hyung akan mengunjungi pasien lain. sampai nanti!" lagi dan lagi... tanpa sadar seokjin mengacak poni taehyung pelan.
.
.
.
"jungkook-ah..." panggil taehyung pelan, namun tetap dapat didengar oleh jungkook.
"ne, hyung? ada yang sakit?" jungkook mengambil tangan kiri taehyung, dan mengusapkan lembut di pipinya.
taehyung menggeleng pelan.
"maafkan aku..."
"hm..." jungkook tak berniat membalas ucapan maaf sang hyung dengan kalimat panjang lebar. karena pada kenyataannya, saat ini ia sedang menahan tangisnya mati-matian. bukan, ini bukan tangis tanpa alasan. bayangkan saja, jungkook nyaris kehilangan hyung 'semata wayangnya'. jungkook hampir kehilangan satu-satunya alasan untuk hidup sampai sekarang.
jimin yang merasa telah jauh mencampuri urusan kakak-adik ini, memilih untuk keluar ruangan. memberikan kesempatan untuk mereka saling menguatkan hati satu sama lain. untuk masalah hutang penjelasan, jimin rasa ia perlu membahasnya di lain waktu.
masih dengan keadaan yang sangat lemah, taehyung berusaha memandangi sang adik... meskipun jungkook sendiri lebih memilih untuk menundukkan kepalanya sembari terus mengusapkan telapak tangan sang hyung ke pipinya.
"...kau marah?" tanya taehyung masih sepelan sebelumnya.
jungkook menggelengkan kepalanya, dan masih tetap tak ingin membalas pandangan taehyung.
"kau berhak marah padaku, kookie-ya..." ujar taehyung lagi.
jungkook tetap diam. di dalam hatinya ia sangat ingin menjawab, tetapi sayang... mulutnya terasa begitu berat untuk digerakkan.
"mengapa kau diam saja? bukankah hal terbaik yang perlu kau lakukan adalah menelantarkanku?"
"...aku orang yang tak berguna, dan sekarang semakin menyusahkanmu"
"istirahatlah hyung, kau baru sadar beberapa saat lalu" sahut jungkook mengalihkan pembicaraan.
lagi-lagi taehyung mengucapkan kalimat-kalimat yang sangat dibenci jungkook, beruntunglah ia sedang tidak mood untuk menimpalinya. hingga perkataan jungkook itulah membuat keduanya terdiam beberapa saat, yang kemudian menciptakan atmosfer kecanggungan diantara kim bersaudara itu. jungkook memilih memainkan jari-jari panjang milik hyungnya, sedangkan taehyung sendiri memilih untuk memandangi langit-langit ruang ICU... atau mungkin lebih tepatnya menerawang begitu jauh?
"apakah dokter muda tadi seokjin hyung?" tanya taehyung membuka suara.
"hm..." gumam jungkook mengiyakan.
terdapat jeda panjang di tengah percakapan mereka, hingga taehyung memilih untuk memulainya kembali. "jungkook-ah..."
"..hng?"
"apakah aku boleh tinggal bersamanya?" bagaikan tersambar petir di hari yang cerah, jungkook merasakan suatu sambaran yang sama di hatinya. kelegaan di hatinya kini telah digantikan oleh rasa sakit yang ntah kapan akan sembuh. hatinya hancur mendengar perkataan taehyung. sampai-sampai ia tak sadar telah melepaskan tangan taehyung dari pipinya.
"...kau ...kau bercanda hyung?" kali ini jungkook tak dapat menyembunyikan tangisnya. ia biarkan setiap lelehan liquid membasahi kedua pipinya. bagaimana tidak, jungkook sungguh merasa gagal menghidupi taehyung selama ini. rasanya semua pengorbanan berat yang ia lalui demi taehyung, berakhir sia-sia.
dengan berat hati, taehyung menggeleng. tak ada guratan ketidakseriusan lebih-lebih ekspresi candaan di wajah pucatnya. malahan terlihat sangat jelas, bahwa kedua manik cokelat milik taehyung telah berlapis air mata.
"hyung... tapi mengapa?" jungkook tak tahu harus berbuat apa. tubuhnya melemah hingga ia tak sanggup berfikir lebih berat lagi. perkataan taehyung kali ini benar-benar mengejutkannya.
"kau boleh marah kookie-ya... kau boleh membenci hyung seumur hidupmu... tapi biarkan hyung tinggal bersama seokjin hyung ne?" tanya taehyung dengan nafas terengah, karena sebenarnya kondisinya belum sepenuhnya pulih.
"tidak hyung... sampai kapanpun aku tak akan pernah mengijinkanmu untuk tinggal bersama dia!" jawab jungkook frustasi.
"ingat hyung, kita pernah berjanji untuk menghapus nama kim seokjin dari kehidupan kita selamanya! dia adalah orang yang tega meninggalkan kita! dia tak pernah peduli dengan kita hyung!" dengan susah payah jungkook memberikan penjelasan pada taehyung, agar hyungnya mau untuk berubah pikiran.
"dan yang terakhir, kau harus ingat hyung! bahwa faktanya... kau memang membenci kim seokjin!"
namun... taehyung tetap menggeleng. sepertinya kalimat-kalimat jungkook, tak akan mempan lagi.
"mungkin memang benar... tapi itu sebelum aku cacat, kookie-ya"
jawaban taehyung membuat hati jungkook tertohok. "hyung... kumohon..." jungkook kembali mengambil tangan kanan taehyung, sambil mengusap air matanya dengan kasar menggunakan lengan hoodienya.
"jadi... apa kau bosan memakan makanan delivery? baiklah, sebelum berangkat bekerja... aku berjanji akan memasak makanan kesukaanmu!"
"kau bosan di rumah sendiri? oke, aku akan meminta tolong jimin hyung untuk setiap hari menemanimu!"
"ah... kau tak kuat mendengar omelanku? baiklah, mulai saat ini aku akan berusaha untuk tidak mengomel lagi"
"atau karena kau tak kuijinkan bekerja, jadi kau kesal dan lebih memilih hidup bersama seokjin hyung? ya tuhan hyung, kenapa kekanak-kanakan sekali? itu semua juga demi kebaikanmu!"
"oh! atau jangan-jangan... kau bosan hidup menderita bersamaku?" jungkook terus mengutarakan kemungkinan-kemungkinan, yang membuat taehyung ingin meninggalkannya.
taehyung menggeleng pelan seraya menutup kedua matanya, ntah karena ia menahan sakit, atau karena ia ingin menahan air matanya yang bisa saja sewaktu-waktu mengalir, atau juga karena taehyung takut jika jungkook bisa saja membaca sorot matanya.
"berikan aku satu alasan logis, agar aku bisa mengijinkanmu hidup dengan seokjin hyung" sepertinya... jungkook telah berada di titik batas. ia tak memiliki alasan lagi untuk melarang taehyung hidup bersama hyung kandungnya.
"aku hanya merindukannya" lirih taehyung.
mendengar lirihan taehyung, jungkook hanya bisa melebarkan kedua matanya tak percaya. hingga ia tak sadar, jika tangan kiri taehyung meremas erat selimutnya sendiri.
"hhh.. itu tak masuk akal, hyung" jungkook menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, sambil tertawa sinis.
"dengan kau tak mengurusiku lagi... kau bisa fokus kembali ke sekolahmu jungkook-ah" ujar taehyung sambil memasangkan senyum yang dipaksa, di balik masker oksigennya.
"aku tak membutuhkannya hyung!" jawab jungkook lagi, kali ini dengan meninggikan suaranya.
"raihlah cita-citamu kookie-ya... anggap dengan begitu, kau telah mewujudkan impianku yang tertunda" taehyung masih berusaha tersenyum, menganggap jika ini bukanlah keputusan yang sulit. ini semua ia lakukan demi kehidupan jungkook di masa depan. taehyung tahu, semuanya akan terasa sulit di awal... namun ia yakin, bahwa pada akhirnya ia akan melihat senyuman bangga menghiasi wajah adiknya.
"masa bodoh dengan itu semua hyung! dengan kau hidup bersamaku... dengan kau menemaniku di masa-masa sulit ini, bagiku... semuanya lebih dari cukup!"
"kali ini dengarkan aku sebagai hyungmu, jungkook-ah!" tak tahan dengan ini semua, taehyung melepaskan masker oksigennya. persetan dengan apa yang terjadi selanjutnya, ia hanya ingin jungkook menerima niatan baiknya ini. meskipun... dengan cara yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"ada keributan apa ini?" seru dokter jaga menengahi perdebatan dua saudara ini.
"pasien membutuhkan istirahat, saya mohon agar pihak keluarga berkenan meninggalkan ruangan ini" salah satu cara terbaik yang dilakukan adalah... membuat salah satu dari mereka mengalah.
"seokjin hyung..." taehyung menyerukan nama kakak sulungnya, saat ia melihat sosok itu memasuki ruangan.
"aku mendengar keributan dari luar, ada apa sebenarnya taehyung-ah? astaga, kenapa kau lepas masker oksigennya? jja, berbaringlah dengan benar... hyung akan memasangkannya kembali"
taehyung diam. ia tak menjawab pertanyaan dan bahkan tak menuruti perintah seokjin sebagai dokter yang merawatnya.
"seokjin hyung..." panggil taehyung lirih.
"ne taehyung-ah?"
"...aku... aku ingin berkata jujur padamu..." karena menahan gugupnya, membuat taehyung bingung untuk mengawali percakapannya.
"hyung!" sela jungkook kesal.
"apa yang ingin kau katakan taehyungie?"
jungkook semakin tak bisa menahan kesabarannya. ia salurkan kekesalannya dengan kepalan tangan yang begitu erat hingga buku-buku pada kukunya memutih.
"hampir satu tahun ini, aku hidup sebagai orang cacat..." lanjut taehyung.
"maksudmu?" tanya seokjin bingung. di matanya, tak ada masalah dengan tubuh taehyung. bahkan adik keduanya ini tumbuh semakin tampan hingga mendekati kata sempurna bagi orang-orang seumurannya.
taehyung menarik nafas dalam, dan menghembuskannya pelan.
"kedua kaki ini, sudah tak berfungsi lagi... hyung" seokjin sangat terkejut mendengarnya, bahkan hingga ia membuka sedikit mulutnya.
"ba...bagaimana bisa?" tanya seokjin masih tak percaya.
"tak usah kau pikirkan hyung, semuanya sudah berlalu... selama ini, jungkooklah yang membanting tulang... ia bahkan mengorbankan sekolahnya demi bekerja memenuhi kehidupan sehari-hari"
"aku tak ingin membebaninya lebih jauh lagi hyung. jadi... biarkan aku tinggal bersamamu" kata taehyung gugup, bahkan tanpa sadar ia gigiti bibirnya sendiri.
"tidak hyung, kau sama sekali tidak membebaniku! kumohon jangan seperti ini!" sambar jungkook tak setuju. kondisi jungkook terlihat semakin kacau.
seokjin masih belum bisa menyesuaikan situasi. ia masih terlalu bingung atas apa yang dilihatnya. taehyung yang tiba-tiba berterus terang tentang keadaan tubuhnya? taehyung yang tiba-tiba ingin tinggal bersamanya? jungkook yang terlihat seperti kesetanan? sebenarnya apa yang terjadi?
"heey.. taehyung tak akan meninggalkanmu! kita bisa hidup bersama-sama, kookie-ya" sahut seokjin lembut namun santai. ia tak ingin membuat keadaan semakin tak terkendali. ia adalah saudara tertua, mau tak mau ia harus bersikap tenang untuk mengendalikan situasi.
"aku tak sudi!" teriak jungkook.
"jungkook-ah, kumohon mengertilah... taehyung membutuhkan perawatan untuk kakinya, dan tentu saja memakan biaya yang tidak sedikit" lanjut seokjin lagi.
"jadi maksudmu aku tak bisa membiayainya?" sahut jungkook tak senang.
"bukan begitu kookie-ya... kewajibanmu adalah sekolah, bukannya bekerja keras seperti sekarang" bagi taehyung, sangatlah sulit membuat jungkook mengerti. sungguh, pilihan untuk tinggal bersama seokjin bukan merupakan keinginannya. ini semua karena keadaan, keadaan yang begitu memusuhi mereka berdua. hingga pada akhirnya, taehyung memilih untuk mengalah. tidak selamanya hidupnya bergantung pada jungkook. jungkook, adik kecilnya... bagaimanapun ia masih memiliki masa depan.
"kau tak pernah mengerti perasaanku hyung!" teriak jungkook lagi di tengah tangisnya.
satu kalimat jungkook berhasil menghentikan nafas taehyung tiba-tiba. benar, taehyung tak pernah mengerti perasaan jungkook. dan memang kenyataannya, adik bungsunya itulah yang selalu berusaha mengerti keadaannya. bahkan sebelumnya... jungkook tak pernah menangis di hadapannya. sesulit apapun masalah yang dihadapi jungkook, ia pasti selalu berkata aku baik-baik saja. tapi sepertinya, kali ini benar-benar sudah melewati batas kemampuan jungkook.
"hyung... bisakah kau menyekolahkan jungkook sesuai dengan minat dan bakatnya?" tanya taehyung. ia seolah menulikan kedua telinga dari teriakan jungkook sebelumnya. ia harus meneguhkan hatinya untuk masa depan jungkook sendiri.
"tentu saja!" jawab seokjin.
"kookie-ya... jika kau tak mau kita hidup bersama dengan seokjin hyung, kau bisa bersekolah di tempat yang kau mau! kau bisa tinggal di asrama... tenang saja, setiap minggu hyung dan seokjin hyung akan mengunjungimu" taehyung memberikan tawaran terbaik untuk adiknya. ia memasang kembali topeng di wajahnya. ia tersenyum tenang, seolah tak pernah terjadi apapun.
"lihat, bukankah aku pernah menawari hal serupa... jungkook-ah?" tanya seokjin lagi, yang di telinga jungkook lebih terdengar sebagai nada sindiran.
"apa gunanya bersekolah, jika aku tak memiliki cita-cita eoh?" jungkook tertawa sinis di sela-sela tangisnya. sesekali ia tengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan, berusaha mencari jeda untuk setiap kalimat yang terucap dari bibirnya.
"kau tahu? semuanya terasa sia-sia hyung... apa yang kulakukan selama ini, semuanya terasa tak ada artinya" jungkook melanjutkan kata-katanya. perlahan tangis jungkook sedikit mereda, meskipun masih terdengar isakan kecil yang mengikutinya.
"aku sudah berusaha mati-matian, dan ini yang kau berikan padaku? sungguh hyung, aku tak pernah memikirkan balasan apa yang akan kudapat. aku ikhlas melakukan ini semua, karena bagiku kaulah satu-satunya keluarga yang kumiliki... sebagai tulang punggung, sudah kewajibanku untuk merawatmu dan membiayai seluruh kehidupan kita. tapi... kumohon, kumohon pahami perasaanku hyung! tak mudah bagiku melewati ini semua, aku membutuhkan semangat darimu. bukannya meninggalkanku, dan lebih parahnya mengirimku ke sebuah asrama! tak pernah terbesit sekalipun di pikiranku untuk hidup terpisah denganmu hyung! dan pada akhirnya... kau tega melakukan ini hm?"
tak ada suara lain yang terdengar, selain suara jungkook baru saja dan suara peralatan medis yang saling bersahutan.
"haaaah..." jungkook menghembuskan nafasnya kasar. ia usap sisa-sisa air mata di pipinya dengan asal.
"baiklah jika itu maumu hyung... aku tak bisa menghentikanmu... satu hal lagi... aku hanya ingin memberitahumu, bahwa kau adalah satu-satunya alasanku untuk bertahan hidup" jungkook berusaha tersenyum tulus. bagaimanapun, jika itu membuat taehyung bahagia... mau tidak mau jungkook harus merelakannya.
"dan untuk seokjin hyung.." lanjut jungkook dengan menekankan pada kata hyung di akhir perkataannya.
"kau tak perlu bersusah payah untuk kembali menyekolahkanku. simpan uangmu itu untuk membiayai adik kesayanganmu... dan ya, sudah kukatakan bahwa taehyung hyung adalah tujuanku untuk hidup. jika ia memilih untuk tinggal bersamamu... dengan begitu aku sudah tak memiliki alasan untuk hidup... selamat tinggal" setelah menyelesaikan kalimatnya, jungkook membungkuk sebagai tanda hormat. dengan langkah yang berat dan sedikit terhuyung jungkook meninggalkan taehyung dan seokjin.
"tidak jungkook-ah! bukan begitu maksudku!" terlambat. jungkook sudah berjalan menjauh dari mereka berdua. ia bahkan terkesan tak peduli lagi dengan teriakan-teriakan taehyung yang kian terdengar parau.
taehyung menangis dalam diam. "kenapa rasanya sakit sekali?" tanya taehyung disela-sela tangisnya. ia pukul dada kirinya berkali-kali, berharap rasa sakit virtualnya ini cepat menghilang.
"aku tahu jika rencanaku ini keterlaluan... aku hanya ingin melihatnya hidup seperti anak lain seusianya... apa aku salah?" ujar taehyung masih dengan memukul dada kirinya.
"hey... hey... tubuhmu masih lemah taehyung-ah! jangan kau sakiti dirimu sendiri!" seokjin berusaha menghentikan aksi taehyung.
"bagaimana jika jungkook..." taehyung mencoba melepas paksa segala peralatan medis yang menempel di tubuhnya, dan bersiap untuk berlari mengejar jungkook.
namun hal paling menyakitkan yang lupa taehyung sadari adalah... ia lumpuh. ia tak bisa berlari mengejar jungkook. dan ia hanya bisa terdiam di atas ranjang seperti orang bodoh.
"tidak... jungkook tidak akan bertindak bodoh, percayalah padaku!" kata seokjin menenangkan.
"tapi... ia..."
"ssshhh.. tenanglah"
"sungguh, aku benci keadaan seperti ini! semuanya terjadi karnaku! harusnya hyung tak usah menyelamatkan nyawaku! biarkan saja aku pergi, jika itu membuat jungkook terbebas dari penderitaannya!" ntah dari mana datangnya, taehyung menemukan kekuatannya untuk berteriak memberontak.
"heeeey, bicara apa kau ini? ini adalah takdir taehyung-ah! tak semestinya kau menyalahkan dirimu sendiri" seokjin berusaha memeluk tubuh taehyung, berharap dengan cara ini adiknya akan kembali tenang.
.
.
.
.
TBC/END?
.
.
.
akhirnya aku post ch 5 hahah ayuk-ayuk yang udah baca jangan jadi silent readers, kalau pengen FF ini cepet di up di ffn.. tinggalkan komentar kalian~ aku ga muluk-muluk, nargetin dapet 12 komentar ajaaah~:) kalau aku agak lama up karena respon dikit, bisa langsung mampir watpadku dengan id dhedingdong95 ya~ disana udah 14 chapter. hahaha thankyooou!
