Disclaimer :

Naruto Masashi Kishimoto

CCTV Aburame Soni

Rated: T

Warning: Typo, AU, gak serem-serem amat, dan berbagai hal buruk lainya.

Genre : Horor, Drama

.

.

Chapter 2 : Anomali

Brakk..!

"Sekarang siapa yang bisa menjelaskan semua ini?!" bentak seorang pria paruh baya dengan kepala plontos itu pada salah seorang pegawai.

"A-ano Ibiki-san, s-saya tak tahu apa-apa. Ketika saya buka pintu ruangan ini, tiba-tiba saja s-sudah seperti ini" jawab pria itu dipenuhi rasa gugup.

"Jangan pernah berkata omong kosong didepanku, kau yang memegang kunci, itu artinya kau yang bertanggung jawab..!"

"Hey hey, menyalahkan orang lain bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah" Ujar Anko yang tiba-tiba datang dan menyela pembicaraan.

"Cih, dan menyela pembicaraan orang bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah" balas Ibiki tak mau kalah.

"Maaf saja, aku tak bermaksud menyela pembicaraan, hanya saja tak baik dalam keadaan seperti ini kau menyalahkan orang lain. Apa aku salah?"

"Anko-san benar. itu karena, bicara tak menyelesaikan apapun." Sahut Shino yang dari tadi sama-sama berdiam disana.

"Ini keterlaluan hm, mereka hanya merusak barang-barang dan pergi begitu saja, motif yang aneh hm" gumam Deidara sambil memegangi serpihan-serpihan Biola yang sudah hancur.

"Sudah-sudah kalian semua" suara yang tak asing ditelinga para guru terdengar mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara. "Saatnya menyerahkan pekerjaan ini pada ahlinya" orang itu adalah Naruto. Pria energik itu sekarang tak sendirian, ia sedang bersama dengan beberapa anggota kepolisian.

"Kepala sekolah yang memerintahkanku untuk memanggil mereka, jadi kalian boleh kembali focus ke pekerjaan kalian untuk mengajar" ucap Naruto menginformasikan hal yang ingin disampaikan atasan mereka.

"Baiklah tuan sok pengatur" gerutu Anko sambil melenggang pergi diikuti yang lainya.

"Dan sekarang apa yang sedang kalian lihat ?" tanya Naruto dengan volume keras yang sanggup terdengar oleh keramaian siswa yang tengah menyaksikan ruangan Seni dan lab Komputer porak poranda. Hening untuk beberapa saat, sampai akhirnya langkah sepatu saling berpautan ketika semuanya berlarian ke masing-masing kelas.

"Ayo" ujar Naruto pada beberapa polisi disana yang disetai anggukan.

.

.

Diruang kepala sekolah..

"Ini aneh"

"Apa maksudmu ?" tanya Gaara dengan kursi membelakangi Naruto.

"Mereka semua bilang, tak ada sedikitpun jejak manusia yang bisa mereka temukan" Terang Naruto yang diikuti mengkerutnya kening Gaara.

"Ehhh? Tiba-tiba mereka semua mengalami disfungsi ?" Gaara hanya bertanya dengan mempertahankan posisi kursinya.

"Jangan salahkan aku, kau bilang saja pada mereka"

"Aku tak menyalahkanmu " diam sejenak "Aku ingin mereka melakukan penyelidikan lanjutan."

"Baiklah, akan aku sampaikan." Naruto masih diam disana , dalam hatinya ia ingin mengatakan sesuatu, hanya saja ia yakin Gaara tak akan mempercayainya.

"Kau sudah mengecek CCTV?" tanya Gaara tiba-tiba.

"Astaga benar juga. Aku melupakan hal itu" Dari awal sepertinya memang tak ada yang ingat mengenai CCTV.

"Aku harap kali ini tak ada yang mengalami disfungsi" tak ada respon apapun dari Naruto, tapi Naruto enggan untuk meninggalkan Gaara, seolah ada hal yang ingin ia sampaikan. "Ada yang ingin kau katakan" tanya Gaara yang tak terdengar seperti kalimat tanya.

"Entahlah.. aku pikir ini sebuah disfungsi, m-mungkin ini lebih tepatnya sebuah Anomali" pernyataan Naruto mengundang rasa penasaran pria bersurai merah maroon itu, kursi Gaara pun langsung berputar menghadap Naruto.

"Anomali? Aku harap yang kau maksud bukanlah omong kosong" Gaara sedikit menebak apa yang berusaha dikatakan sahabatnya itu.

"Baiklah, sudah kuduga kau tak mau mendengar omong kosong. Tapi sebelumnya ,kumohon dengar ceritaku"

"Cepat saja katakan..! kau membuang waktuku"

"Baik baik, begini…"

Flashback Mode on:

Naruto berjalan dengan Hinata yang terkulai di pangkuannya. Rasa cemas kian menyelimuti Naruto ,mengingat istrinya itu menjerit dengan sangat histeris, ia sangat yakin ada yang tidak beres disana. Walaupun Naruto tidak percaya dengan hal supranatural, tapi Hinata yang ia kenal bukanlah seorang pembohong ulung. Ia pun sering merasa iba kepada istrinya, karena banyak yang tak percaya dengan hal yang dialaminya, saat itulah Naruto berpikir siapa lagi yang bisa percaya padanya kalau bukan suaminya.

Pandangan Naruto masih terpaku pada lorong dengan pencahayaan minim disana, sejauh ini yang ia dengar hanyalah langkah kakinya. Keheningan kian mewarnai suasana, seketika hawa dingin menusuk tiap inchi tulang rusuk Naruto, saat itu juga langkah Naruto Terhenti kala melihat pemandangan ganjil yang mengusik hati. Sesosok wanita berambut merah tengah berdiri di perempatan lorong. Naruto tak panjang pikir, sedikitpun ia tak berpikir tentang entitas taksa ataupun eksistensi supranatural lainnya.

"Hei siapa kau ?" Pertanyaan Naruto hanya dijawab keheningan, dengan dipenuhi rasa penasaran. Naruto masih berjalan disana, langkahnya masih dengan ritme normal, namun entah kenapa rasa-rasanya gadis itu semakin jauh dan menjauh, walaupun nampak gadis itu tak bergerak sedikitpun.

Naruto menghentikan langkahnya ,menanti apa yang akan terjadi selanjutnya, peluh mulai bercucuran dari pelipisnya, jantungnya memompa dua kali lebih cepat, saat itu juga ia melihat gadis bersurai merah itu berjalan ke arah kiri meninggalkan jejak berwarna merah pekat. Naruto tak dapat berbuat banyak, suaranya seakan-akan menyangkut di tenggorokannya, sebelumnya ia berniat untuk menghentikan gadis itu,namun apa daya kakinya terasa sangat berat seolah ditahan oleh seseorang.

"Naruto-san..!" Suara Seorang Pria dari kejauhan mengalihkan lamunan Naruto.

.

.

Flashback Mode Of

"Setelah itu terjadi, aku segera membawa Hinata pulang dan beruntung dia belum mengingat kejadian itu lagi" mendengar cerita Naruto, Gaara hanya membalasnya dengan tatapan datar, tak ada reaksi yang berarti darinya.

"kau meninggalkan Istrimu untuk mengerjakan Soal-soal itu?" tanya Gaara mengalihkan pembicaraan yang menurutnya hanyalah omong kosong.

"Aku tahu kau anggap ini omong kosong, tapi jangan mengalihkan pembicaraan" ujar Naruto seolah tahu apa yang tengah dipikirkan Gaara.

"Tapi aku yakin yang kukatakan memang benar"

"I-iya memang tapi aku tak menyuruhnya melakukan semua tugas-tugas itu"

"Pada dasarnya Hinata melaksanakan kewajibanmu"

"Ck ,lupakan hal itu, kembali ke permasalahan awal" ucap Naruto sambil berdecak kesal. "Hinata melihat seorang gadis berambut merah berjalan di perempatan lorong dekat sana, dan akupun begitu"

"Lalu apa yang bisa kulakukan pada gadis itu ?" tanya Gaara sambil mengernyitkan sebelah alisnya.

"y-yahh setidaknya.." diam sekejap "Aku hanya ingin bilang kalau kejadian ini ada hubungannya dengan hal yang kulihat kemarin." Mendengar perkataan Naruto, Gaara memutar mata bosan, bagaimana pun ia takkan percaya pada entitas taksa.

"Cih, tak ada gunanya kita memperdebatkan ini. Kau lihat saja Rekaman CCTV dan lihat apa yang terjadi, dan tentu saja berikan rekamannya padaku"

"Baiklah.." jawab Naruto sembari menghela napas berat. Ia memang tahu Gaara bukanlah orang yang percaya pada hal-hal berbau Horor. Tapi, sepenakut apapun Naruto, dia bukanlah orang yang sering mengalami halusinasi. Walaupun perkataan Gaara mungkin ada benarnya, mungkin saja gadis bersurai merah itu adalah pelaku yang mengobrak-abrik ruangan computer dan Lab Kimia, dan tentu saja ia menyamar menjadi sosok yang menyeramkan, kemungkinan itu bisa saja benar. Apapun yang terjadi, sekarang kebenaran ada di tangan CCTV.

.

.

"Rasanya baru kemarin CCTV itu dipasang, dan sekarang kita sudah menggunakannya" ujar Hinata pada Naruto yang hendak membukan rekaman CCTV.

"Begitulah, itu artinya kita tidak terlambat." Jawab Naruto yang pandangannya masih terpaku pada layar Televisi didepannya. "yaampun, darimana aku harus mulai" keluh Naruto.

"ehh? Ada masalah?"

"Bukan apa-apa, aku hanya bingung harus memutar rekaman ini dari jam berapa"

"Hmm, apa boleh buat. Tonton saja sampai selesai" ucap Hinata sambil tertawa ringan.

"kamu ini.."

"Oh iya, sepertinya aku tidak bisa menemani Naruto-kun."

"kenapa ? kamu sudah mengantuk?" tanya Naruto yang langsung direspon anggukan dari Hinata.

"Tidak apa-apa."

.

.

30 menit kemudian..

Tiga puluh menit sudah berlalu, namun sang pelaku belum juga menampakan dirinya di rekaman. Itu aneh, padahal rekaman itu sedang diputar sambil dipercepat, tapi sampai saat ini pelaku itu belum menunjukan batang hidungnya.

Naruto pun merasa bosan, hal yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang, apa kali ini CCTV yang mengalami disfungsi ? atau ada kesalahan dalam pemasangan?, kemungkinan itu sangatlah kecil terjadi, karena sebelum pemasangan usai, dilakukan pemeriksaan secara berkala untuk memastikan semuanya bekerja secara optimal.

Apa boleh buat, Naruto mengesampingkan semua kemungkinan itu, tak ada waktu untuk menjawab semua keganjilan yang sudah ia lalui, ia hanya perlu menonton, dan mem-backup rekamannya untuk diserahakan ke pihak kepolisian,dan juga Gaara tentunya. Tapi sayang, sepertinya ini sudah terlau malam untuk mem-backup rekaman CCTV ,godaan untuk tidur sangatlah besar, sesekali Naruto menguap dan menguap. Sampai akhirnya tak terasa, manik Saphere-nya sudah tak kuasa menahan kantuk yang sangat berat.

.

.

"Ughhh.." Hinata mendesah ringan kala terbangun secara tiba-tiba.

11:22..

Hampir tengah malam, dan ia masih belum melihat Naruto dikamarnya. Sejenak Hinata merasakan tenggorokannya sangat kering, dan mengharuskannya pergi kedapur untuk minum, sekalian memastikan keadaan suaminya saat ini. Iapun beranjak dari ranjangnya dan pergi menuju dapur.

.

.

Tik tok tik tok..

Hanya suara jam yang menghiasi ruangan itu, Hinata merasakan hawa dingin yang kian mengusik intuisinya untuk berpikir Negatif. Sebetulnya ia sangat enggan meninggalkan kamarnya, tapi rasa haus mendorongnya untuk beranjak dari ranjangnya.

Sesampainya di dapur ,tinggal beberapa langkah lagi ia menuju dispenser di pojok ruangan sana. Saat itu adalah saat-saat yang dipenuhi dengan kesunyian, Hinata bahkan mampu mendengar suara nafasnya sendiri, ditambah lagi hawa yang semakin dingin mencekam, rasanya angin begitu menusuk tulangnya .ya angin, tapi mengapa ada angin di dalam rumah? Bahkan disertai suara siulan, oh tuhan apa yang akan terjadi kali ini.

Perasaan Hinata sangat takut tak karuan, ia merasa tidak baik-baik saja, kenapa angin sangat terasa seolah-olah seseorang tengah meniup pundaknya, suara siulan itu semakin jelas, membuat Hinata semakin gelisah. Sesampainya ia di depan dispenser Hinata dengan tergesa-gesa memegang gelas dan mengisinya dengan air,namun minum sambil tergesa-gesa bukan lah hal baik.

"uhukk uhhukk uhuk.." iapun tersedak.

Untuk beberapa saat ,Hinata mengatur ritme pernapasannya, suara siulan itu kembali terdengar, Namun untuk beberapa saat, Hinata baru sadar yang didengarnya bukanlah siulan, tapi suara seruling.

"Hahh hhhhahhh hahh ahhh" dengan Napas yang menderu ,Hinata mengedarkan pandangannya untuk mengetahui sumber suara, Hinata semakin gelisah kala tak menemukan sumber suara seruling itu.

Dengan segala keberanian yang tersisa, Hinata melangkahkan kakinya. Suara seruling itu semakin nyaring terdengar , melodinya terkesan horror dramatis, ditambah lagi..

Sakura no hanawa itsu hiro

Yama no sato de okakiresu

Suara gadis yang tengah melantunkan sebuah lagu tedengar dari ruang tengah sampai kedapur. Hinata pun mendekat ke sumber suara. Dengan penuh keraguan Hinata melangkahkan kakinya, ia khawatir menemukan sosok mahluk menakutkan disana. Dan.. yang ia lihat hanyalah tv dan suaminya yang tengah tertidur pulas dikursi. Nyanyian itu sudah berhenti, tapi keganjilan lain muncul. Terlihat dalam rekaman CCTV, kursi meja dan semua peralatan di ruang kesenian bergerak tak beraturan, Hinata semakin gelisah, napasnya memburu seakan ia kehabisan oksigen. Namun tiba-tiba, gambar yang di tampilkan monitor menjadi tak jelas, itu bertahan beberapa detik.

Hinata mendekat, mendekat dan mendekat, sampai akhirnya.

"KYAAAAAAAAAA…!" pekik Hinata setelah melihat sosok mengerikan di layar monitor. Seorang gadis dengan surai merah dan darah disekujur tubuhnya menampakan dirinya. Sosok itu nampak nyata,bahkan terlihat sedikit demi sedikit mahluk itu mengeluarkan tangannya ke luar layar tv. Tanpa berpikir panjang Hinata melempar pas bunga diatas meja di sampingnya.

"Hinata Hentikan..!"

"Hahh hahhh.. kyaa..!" pada saat yang bersamaan tiba-tiba Naruto yang tengah tertidur di kursi bangun dan berusaha mencegah Istrinya untuk melempar benda itu ke layar TV.

"DAK..!"

"Ahhh..!"vas itu tepat mengenai kepala Naruto.

"A-astaga, N-naruto-kun..?!" pekik Hinata Saat tersadar bahwa ia baru saja melempar vas ke suaminya. Dengan rasa bersalah, Hinata langsung menghampiri Naruto.

"N-naruto-kun k-kamu tidak apa-apa?" tanya Hinata risau.

.

.

"Apa yang kamu lihat..?" Tanya Naruto dengan nada seolah sedang mengintrogasi.

"A-aku melihat." Diam sesaat. "Entahlah, itu sama dengan yang kulihat di ruang guru.. dan sekarang ,aku merasa sedang di awasi."

"Hahh, entah apa yang harus kukatakan. tapi , akupun merasakan hal yang sama denganmu." Mendengar Pernyataan Naruto ,Hinata langsung menoleh kearah Naruto.

"M-maksud Naruto-kun?"

"Saat aku menggendongmu yang tengah pingsan , di lorong tepat di perempatan yang kamu ceritakan aku melihat seorang gadis, tanpa berpikir tentang hal berbau supranatural, aku menghampirinya." Diam sesaat "dan entah kenapa, ia tak bergerak sedikitpun ,tapi gadis itu terus menjauh."

Mendengar pengakuan suaminya, bulu kuduk Hinata langsung merinding.

"Pertanyaannya adalah, apa kita melihat gadis yang sama" Hinata langsung menunduk mendengar perkataan suaminya. "ada apa Hinata?"

Perlahan air mata mengalir dari sudut mata Hinata, ini bukan air mata kesedihan, lebih tepatnya rasa cemas dan takut namun itu bercampur aduk dengan rasa senang. Senang, tentu saja karena ternyata Naruto merasakan apa yang ia rasakan.

"Hiks,hiks.. a-aku k-ketakutan.." ujar Hinata sesenggukan. "A-apa kita dalam bahaya N-naruto-kun?" tanya Hinata dengan air mata yang terus mengalir.

"Tenanglah, ada aku disini. Kamu tidak usah takut, aku yakin kita bisa menghadapinya." Ucap Naruto sambil memeluk Hinata erat "Tapi menangis bukanlah cara untuk menghadapi gadis itu."

"L-lalu ?"

"Entahlah, yang jelas menangis takkan menyelesaikan apapun, aku yakin gadis itu saat ini sedang tertawa renyah melihatmu menangis seperti ini." Ujar Naruto sambil mengusap air mata Hinata. "Ia senang melihatmu seperti ini, sama seperti di film-film, hantu sering menyerang orang-orang yang sedang dilanda stess tekanan tinggi."

"kamu benar, terima kasih telah mempercayaiku sampai sejauh ini" ujar Hinata sembari menarik ujung bibirnya.

"Tidak,sekarang bukan hanya aku yang mempercayaimu, tapi semua orang akan mempercayaimu." Ucap Naruto yang menoleh kearah monitor ,terlihat direkaman itu benda-benda bergerak dengan sendirinya.

"Tidak."

"Apa? Kenapa?" tanya Naruto melihat respon dari Hinata.

"Jika kamu menyerahkan rekaman ini pada pihak polisi, orang-orang akan berpikiran, kamu sama sepertiku"

"Tapi_"

"Tidak Naruto-kun, aku rasa orang-orang akan berpikir semua ini hanyalah rekayasa. Kita butuh pihak lain yang dapat membuktikan bahwa semua ini memang benar."

"kalau begitu, aku yakin orang yang besok aku panggil adalah orang yang tepat."ucap Naruto sambil menarik sudut bibirnya.

"Benarkah ? memangnya siapa.?"

"Kamu lihat saja besok.."

TBC

.

.

.

A/N: Holla mina-san..! YEAYY akhirnya bisa update lagi setelah sekian lama hiatus,- Saya saat ini memohon permintaan maaf yang sebesar-besarnya karena dalam berkarya di FFN ini saya masih belum bisa konsisten. Setelah karya pertama saya yang tidak bisa membuat diri saya sendiri puas yang bahkan tidak saya lanjutkan, sekarang di karya kedua ini saya tidak konsisten dalam melanjutkannya. Saya mohon maaf, karena dalam proses pembuatan cerita ini bukan hanya saya yang males melanjutkan ,tapi ada juga beberapa gangguan teknis dan masalah-masalah lainya sehingga saya tidak bisa mengakses FFN. Dan beberapa minggu ini saya berusaha menuatkan hati saya untuk bisa terus berkarya secara konsisten. Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada sahabat saya yang sampai saat ini terus memotivasi saya untuk meneruskan cerita ini,terimakasih Riu DarkBlue-chan XD karena kamu gak habis-habisnya mendorong aku untuk segera ngelanjutin cerita ini, makasih motivasinya De, eh maksud aku Riu-san XD haha.

Okeh bukan Cuma Riu-san yang mendorong saya untuk melanjutkan cerita ini, tapi beberapa Riviewers followers dan juga Favoriters juga turut mendorong saya untuk segera kembali ke ffn yang penuh inspirasi ini.

Kayaknya Author udah kebanyakan ngomong deh, langsung aja ya kayaknya ke balasan Riview *kenapa gak dari tadi Thor* XD

Faudzai: Halo juga, salam kenal faudzai-san, terimakasih atas koreksinya mohon maklum aja, karena saya belum pernah ke Hollywood *Mimpi XD. Makasih dah mau baca, semoga terhibur.

ANAK BAIK DAN RAJIN MENABUNG : pertamax ? juga XD

RiuDarkBlue: Arigatou Riu-chan XD

Aldo scott Kennedy: Makasih Aldo-san, Iya Alhamdulillah sekarang bisa lanjut.

S : Hehe kebetulan pas nulis itu saya udah ada ide adegan horror, karena takut keburu lupa ,buru-buru deh saya tulis di cerita chap pertama XD sudah bukan hal yang aneh lagi jika cerita Horor afdolnya di sekolah. Iya ini dah lanjut.

Couldheater: Penasaran ? pantengin terus CCTV hanya di FFN XD *Promosi

Namikaze362: Ah masa sih ? jawabannya ada di Chapter mendatang *HOHOHO XD

Neng275: iya kah ?wahh jujur saya sendiri pertama nulis ini ngerasa serem sendiri, tapi setelah di baca ulang ternyata gak serem-serem amat XD makasih dah mau baca

Arigatou Minna-san

Peluk cium dari Aburame Soni