Disclaimer :

Naruto Masashi Kishimoto

CCTV Aburame Soni

Rated: T

Warning: Typo, AU, gak serem-serem amat, dan berbagai hal buruk lainya.

Genre : Horor, Drama

.

.

Chapter 3: Bealive

"Jadi, apa yang membuatmu memanggilku ?" Tanya seorang pria berambut raven. pria itu terlihat didampingi seorang gadis bersurai merah muda di sampingnya.

"Bukankah sudah kukatakan kemarin ,aku butuh bantuanmu dalam melakukan penyeidikan di sekolah ini"

"Yah aku tahu, tapi pertanyaannya kenapa kau harus meminta pertolonganku. Apa polisi sudah tak sanggup menangani kasus ini " tanya pria itu dengan kalimat yang tak terdengar seperti kalimat tanya.

"Entahlah Sasuke ,tapi aku berpikir kalau Detektif sepertimu lebih sering menyelidiki kasus yang tak masuk akal" mendengar perkataan sahabatnya, pria yang kerap dipanggil Sasuke itu mengernyitkan dahinya.

"Tak masuk akal katamu ?" Kalimat Sasuke kali ini berintonasi tanya, sepertinya ia mulai tertarik dengan apa yang dibicarakan pria bermanik Saphere ini.

"Maksudmu ?" Tanya Sakura disamping Sasuke yang sedari tadi terdiam menyimak pembicaraan.

"Sebelum kami jelaskan, kalian lihatlah rekaman ini" Hinata tiba-tiba datang dari arah dapur dan langsung memutar rekaman yang sudah di-backup di monitor.

Sasuke dan wanita bersurai merah muda bernama Sakura itu menyaksikan adegan dengan penuh keanehan. Kursi ,alat-alat musik, bangku ,rak dan semua barang-barang di ruangan itu bergerak ,bergeser ,berjatuhan,dan terlempar dengan sendirinya, tak terlihat sedikitpun tanda-tanda manusia disana. Melihat itu Sakura memasang tampang melongo, sementara Sasuke terkejut dalam hatinya, hanya saja hal itu tidak terbaca dari ekspresinya yang datar.

Beberapa menit kemudian Rekaman itu pun selesai diputar, Sasuke masih memberikan respon yang tak berarti.

"Wow, apa yang kulihat barusan kujamin tak ada rekayasa komputer sama sekali, aku tak melihat itu sedikitpun. Bulu kuduk ku tak berhenti merinding" Ujar Sakura yang sedari tadi menyimak rekaman itu dengan seksama.

"Aku meragukan hal itu" pernyataan itu membuat Naruto, Hinata dan Sakura menoleh kearahnya.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto.

"Aku harus memastikannya sendiri."

"Tapi Sasuke,kemarin_"
"Mungkin rekaman itu benar, tapi rekayasa bukan hanya bisa dilakukan oleh Komputer" Hening .

"Ayo kita ke TKP"

.

.

Sasuke berjalan perlahan sembari mengamati keadaan ruangan, dibelakangnya Sakura dan Naruto turut mengikuti langkahnya. Entah apa yang dipikirkan Sakura saat melihat ruangan dan semua peralatan yang hancur tak terkira, namun jelas terlihat ia benar-benar tak percaya bahwa ada 'mahkluk' yang melakukan hal yang luar biasa ini tanpa motif yang jelas.

Sasuke masih mengedarkan pandangannya mencari hal-hal yang sekiranya bisa menjadi barang bukti. Sesekali ia berjongkok untuk memeriksa beberapa benda yang ia temukan menunjukan bahwa semua itu rusak karena dibanting atau terjatuh. Namun pertanyaannya adalah..

"Semua kerusakan benda disini sangat parah, semua benda ini terbanting, terlempar dengan sangat kuat. Pertanyaannya apakah suaranya tak terdengar kerumahmu" Naruto berpikir sejenak mencerna pertanyaan yang menarik dari sahabatnya itu.

"Sepertinya fakta itu menguatkan semua dugaanku dan semua kejadian yang dialami oleh Hinata"

"Maksudmu?" Untuk beberapa saat ia menebak ,kearah mana pembicaraan Naruto Saat itu. "Oh baik aku mengerti"

"Tidak baik membicarakannya disini" Ucap Sakura yang paham dengan maksud Naruto.

"Tidak. Aku sama sekali tak percaya pada entitas taksa, tunjukanlah dirimu jika benar eksistensimu berlaku di dunia ini..!" tanpa rasa ragu sedikitpun Sasuke berteriak sompral diruangan itu.

"Sasuke-kun..!"

"kau gila teme..!"

"Apa ? kau lihat tak terjadi apapun-kan ?"Untuk beberapa Saat ruangan hening, tak terjadi apapun disana . sampai akhirnya..

GUBRAKK..!

"KYAAAA..!

Tiba-tiba Rak di pojok ruangan terjatuh tanpa alasan diikuti jeritan histeris dari Sakura.

'Bagus' ujar Sasuke dalam hati diikuti seringaian di wajahnya.

"Apa yang kau lakukan Teme..?!" bentak Naruto pada Sasuke yang sudah mengundang kemarahan makhluk tak kasat mata.

"Tentu saja mencari bukti dan kebenaran" Sasuke menjawab pertanyaan Naruto dengan intonasi datar andalannya.

.

.

Dirumah Naruto, Sasuke dan Sakura sudah mendengar semua pengakuan yang dikatakan Naruto dan Hinata tentang kejadian Horor yang mereka alami. Dan terlihat Sasuke semakin tertarik untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Sementara Sakura terlihat ketakutan karena ia tahu kalau Suaminya pasti tertarik untuk menyelidiki kasus ini.

"Kau tahu, aku yakin jika aku mengatakan ini pada Gaara, maka dijamin ia berpikir aku sedang cari sensasi"

"Aku mengerti akan hal itu. Tapi menyerahkan berita ini pada wartawan juga bukanlah ide bagus."

"Sasuke-kun benar, aku tak bisa mencetak beritamu di surat kabar."

"Yah, kami tahu itu pasti tak mungkin."ujar Hinata menyambung pembicaraan.

"Terkecuali, jika penyelididkan kasus ini dibantu oleh pihak gereja, atau pihak lainnya yang bisa berurusan dengan mahluk astral" terang Sakura.

''Terus terang memang ini semua bukanlah tugas seorang Detektif sepertiku, Tapi memecahkan sebuah misteri adalah tugasku, walaupun aku tak dibayar oleh organisasiku untuk melakukan ini" terang Sasuke panjang lebar menandakan ia tertarik dengan kasus ini.

"Terima kasih kalau kau mau membantu, tapi_"

"Tidak" potong Sakura tegas memotong kalimat Naruto.

"Maaf, bukan aku tak mau menolongmu. tapi ada baiknya kalian melibatkan orang-orang gereja"

"Orang gereja?" tanya Naruto sambil mengernyitkan dahinya.

"Ayolah, kita tidak sedang berurusan dengan penjahat, perampok, ataupun Teroris. Kita sedang berurusan dengan makhluk yang bahkan tak terlihat wujudnya" terang Sakura dengan nada khawatir tersirat di wajahnya.

"Lalu pada siapa kita meminta pertolongan,kita tak punya kenalan paranormal" ujar Naruto.

"Kalian yakin? Bagaimana dengan Uzumaki Karin ?" Sakura mengingatkan Naruto dan Hinata mengenai teman SMA nya yang memiliki kemampuan melihat hal berbau supranatural.

Naruto dan Hinata saling menoleh satu sama lain, yah tentu saja mereka ingat Uzumaki Karin, tapi mereka tak yakin kalau wanita itu sekarang bekerja dengan orang-orang Gereja.

"J-jadi Karin-chan sekarang bekerja di Gereja?" tanya Hinata.

"yah, sebenarnya pekerjaannya hanya Seorang ibu rumah tangga, tapi beberapa kali ia pernah menyelesaikan kasus-kasus yang aku tulis beritanya di surat kabar." Kata Sakura Sambil sesekali menggerakan tangannya.

"kalau begitu, Bolehkah kalian carikan mereka untukku" pinta Naruto.

"Yah, N-naruto-kun tak bisa meninggalkan rutinitasnya kali ini, tapi aku akan ikut" ujar Hinata.

"Serahkan saja semua itu pada kami"

"kalau begitu ayo" kata Sasuke yang langsung beranjak dari bangku.

.

.

.

Blagh

Hinata keluar dari Mobil Sasuke dan langsung menuju apartemen yang bersebelahan dengan Gereja. Mereka pun masuk,terlihat disana ada beberapa oang yang kira-kira sudah berusia 50 tahunan ,mereka yang tengah duduk di kursi tamu memberika senyuman hangat pada Hinata, Sakura, dan Sasuke. Sasuke hanya membalas senyuman Itu dengan sedikit menarik sudut bibirnya. Terlihat tidak tulus bukan?.

Dak.. Sakura menyiku Sasuke dan memberi tatapan yang seolah berkata 'Yang Sopan..!' Sasuke hanya menanggapinya dengan decak kesal. Sasuke pun memaksakan sudut bibirnya untuk tersenyum lebar, yang malah terlihat aneh dan menyeramkan.

"Itu lebih baik" ujar Sakura. Sementara Hinata hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

"Permisi nona, apakah benar disini tempat Uzumaki Karin tinggal ?" Tanya Sasuke yang sepertinya enggan untuk berbasa-basi.

"Iya dia tinggal di lantai 4, apa ada yang bisa saya bantu ?" Ujar resepsionis dengan senyuman ramah.

"Bisakah kami bertemu dengannya sekarang?"

"Maaf, saat ini Uzumaki-san sedang keluar, mungkin sebentar lagi ia akan datang. Jika kalian mau menunggu, kalian bisa menunggu di meja tamu."

"Oh, kalau begitu terima kasih"

.

.

15 menit sudah terlewat, lima belas menit rasanya seperti satu jam bagi mereka bertiga. Bagaimana tidak, mereka benar-benar menanti kedatangan teman SMA nya itu yang harapanya bisa membantu mengungkap peristiwa di bekas sekolah mereka.

Sasuke tak henti hentinya melihat jam sambil berdecak kesal, ia kehabisan akal karena tak punya cara untuk membunuh waktu agar tak terasa lama. Sementara Sakura kali ini tengah mengedarkan pandangannya berharap ada sesuatu yang menarik untuk diamati. Sedangkan Hinata hanya memainkan jari telunjuknya sambil menundukan kepala.

30 menit sudah berlalu. Bosan, itulah yang mereka rasakan. Walau tiga puluh menit sudah berlalu, tapi tak satupun dari mereka angkat bicara untuk sekedar mengisi waktu bosan yang mereka habiskan untuk melamun. Seketika tak satupun dari mereka mendapat Topik yang menarik untuk dibahas. Kalau Hinata mungkin jangan ditanya, dia memang terlalu canggung untuk memulai suatu pembicaraan. Sasuke? Oh ayolah, ia bukan tipikal orang yang suka berbasa-basi atau membicarakan hal yang sama sekali tak bermanfaat. Sakura adalah satu-satunya harapan agar kebosanan yang melanda mereka bisa terhapus dengan Topik yang cukup menarik, tapi saat ini ia kehabisan ide pembicaraan.

Ting, tiba-tiba lampu bohlam muncul diatas kepala Sakura, iapun mendapat ide pembicaraan yang mungkin bisa mengusir kebosanan.

"A_"

"Kalian sedang menunggu Karin?" Satu Huruf vokal baru keluar dari mulut Sakura, namun tiba-tiba seorang Nenek di meja tamu di sebelah mereka memotong kalimat yang akan diucapkan Sakura.

"I-iya" hanya jawaban itu yang bisa keluar dari mulut Hinata dalam menanggapi pertanyaan dari si Nenek itu.

"Apa kalian mencari Karin untuk urusan Paranornal?" tanya Si Nenek yang sejak awal belum memperkenalkan Namanya itu.

"Ya, barangkali begitu" jawab Sakura. Nenek itu hanya tersenyum mendengar jawaban Sakura.

"A-apa Nenek mengenal Karin?"

"Ya, dia adalah cucuku. Kalian sudah lama tak bertemu Karin?"

"E-eh? Maksud Nenek?"ujar Hinata kebingungan.

"Apa pertanyaanku kurang jelas? Kalian kan sudah berteman sejak SMA bukan?"

Mendengar perkataan si Nenek ,Sakura dan Hinata jadi kebingungan sendiri. Bagaimana bisa Nenek tua ini tahu kalau mereka sudah kenal dengan Karin sejak SMA. Sasuke yang awalnya cuek tiba-tiba tertarik dengan pembicaraan Hinata dan Sakura dengan si Nenek.

Cklek.. Tiba-tiba datang seorang wanita dengan kacamata dan surai merahnya datang dari balik pintu. Dan dia adalah Uzumaki Karin, wanita yang sejak 30 menit ditunggu kedatangannya.

"Nah itu cucuku." Ujar Sang Nenek. "Karin, lihat ini teman-temanmu datang" sahut si Nenek.

"E-eh kalian"

.

.

Setelah berbagai basa-basi yang mereka lakukan , akhirnya mereka membicarakan pokok dari permasalahan.

"Jadi apa yang membuat kalian datang menemuiku?" tanya Karin yang saat ini duduk di ruangan apartemennya bersama tamu-tamunya.

"mm begini, kau ingat Konoha Gakuen?"

"Pertanyaan macam apa itu, jelas-jelas aku salah satu alumninya" jawab Karin seadanya.

"ya aku tahu itu" ujar Sakura sambil tertawa garing. "Saat ini kami sedang menyelidiki kasus yang terjadi disana"

"Kasus? Apa yang sudah terjadi?" Karin penasaran dengan apa yang terjadi di sekolah SMA nya itu.

"Ada yang mengobrak-abrik ruang kesenian dan lab komputer"

"untuk lebih jelasnya, kau lihat sendiri video ini" ujar Sasuke yang akhirnya angkat bicara dan menyodorkan lapetop yang sudah menyala dan memperlihatkan sebuah Rekaman CCTV.

Karin sedikit terkejut melihat rekaman itu, disana terlihat benda benda terbanting dengan sendirinya, seakan ada seseorang yang melemparnya. Untuk beberapa menit Karin menyimak semua yang terjadi di rekaman itu.

"Bagaimana?" tanya Sasuke.

Karin bersandar ke kursi sambil membenarkan kacamatanya. Ia terpejam menunjukan kalau ia sekarang tengah mencerna peristiwa yang terekam di CCTV.

"Aku mengerti" ucap Karin, ia memposisikan telunjuk dikeningnya Menunjukan pose berpikir. "mmm begini. Sekarang aku tahu maksud kalian datang kemari. Bisakah kalian ceritakan rangkaian peristiwa ganjil yang dialami"

"Baiklah. Ini dimulai sejak hari senin, saat itu Naruto-kun pemasangan CCTV…" Hinata menceritakan semua kejadian-kejadian ganjil yang dialaminya. Sementara Karin hanya menyimak dan memberi pertanyaan-pertanyaan ringan ,seolah semua itu adalah hal biasa.

"Apakah kau bersedia menolong kami" ujar Sasuke yang tak terdengar seperti permohonan.

"Ya, kapan aku bisa memeriksa TKP?" Karin pun menyetujuinya.

"syukurlah,besok kau bisa langsung ke TKP"

Jawab Sasuke dibalas anggukan oleh Karin.

"Kalau begitu baik, kami tak bisa lama-lama" ucap Sakura yang langsung beranjak dari kursinya, berniat untuk pergi dari tempat itu.

.

.

Sepuluh menit sejak kepergian Hinata, Sakura dan Sasuke dari apartemen. Karin masih duduk di kursi dengan lapetop di depannya.

"Sudah menemukan petunjuk?" Sapa sang Nenek dari belakangnya

"Hmm, belum" jawab Karin yang pandangannya masih terfokus ke arah lapetop nya itu. Sang Nenek pun mendekat dan duduk disamping Karin.

"Mereka teman-teman mu yah"

"Haruskah aku menjawabnya" ujar Karin dengan nada malas. Karena ia tahu pertanyaan yang dilontarkan dari Neneknya itu tak ada yang berguna untuk dijawab. Dikarenakan si Nenek mampu membaca pikiran orang lain. Yah, selain itu dia juga memiliki kemampuan supranatural. Jadi Nenek dengan Nama Chiyo ini bukanlah tipe nenek-nenek yang bisa dibodohi. Tapi bukan berarti semua pertanyaan ia tahu jawabannya, adakalanya kemampuannya itu tidak bekerja.

"Hahahah, berhentilah bersikap dingin pada nenekmu ini" Ujar Chiyo sambil tertawa renyah.

"Urusai Baasan" ketus Karin.

"Dasar cucu tidak sopan" balas Chiyo. "oh iya, ngomong-ngomong. Apakah wanita itu jujur?" tanya Nenek Chiyo tiba-tiba.

"Entahlah, tapi aku tak melihat kebohongan di matanya" jawab Karin.

"hmm begitu.. Kau akan menolongnya?"

"Iya, karena dia temanku"

"kau yakin dia temanmu?"

Perkataan Nenek Chiyo barusa sukses membuat Karin terdiam sekejap.

"Y-yah, dia memang temanku, walaupun dulu aku pernah tak akrab dengannya, namun seiring berjalannya waktu aku bisa berteman dengannya" terang Karin, saat ini ia sedang membicarakan Hinata. Dulu ia dan Hinata tak terlalu akrab seperti ia dengan Sakura karena Hinata dulu adalah orang yang sangat canggung dan pemalu, sehingga tak banyak orang yang bergaul dengannya. Namun satu peristiwa telah merubah kehidupan Hinata. Sejak peristiwa itu, Hinata memulai semuannya dari awal dan bergaul dengan banyak orang termasuk Karin.

"Yah, aku tak peduli apa yang pernah terjadi pada Wanita itu" perkataan Nenek Chiyo langsung dibalas tatapan ketus dari Karin. "Tenanglah, aku tak sedang membaca pikiranmu" Ujar Nenek Chiyo yang paham dengan tatapan Cucunya itu.

T

B

C

.

A/N: What ? Apa? Chapter apa ini? Pendek bener..! Becus kagak sih thor bikin Fic?! Pasti kalian yang baca fic ini bilang kek gitu XD. tenang sodara-sodara, saya bisa jelaskan ini semua. Awalnya chap ini lumayan panjang, tapi karena panjang itulah, saya bingung harus berakhir sampai bagian mana. Jadi akhirnya saya potong pas bagian ini aja deh XD (ketahuan Author Gadungan) XD haha.

Dari semua tebakan yang ada mengenai siapa hantu itu semuanya salah, hehe. ;)) di chap ini sudah di terangkan kalau Karin di fic ini bukan sebagai hantunya, melainkan Karin adalah paranormal. Paranormal? Gak salah thor, si Karin jadi dukun? Hehe XD, entah kenapa saya berpikir kalau karin itu cocok jadi seorang indigo, mengingat di cerita Naruto pun, Karin memiliki kemampuan Sensorik yang tak diragukan lagi. Jadi, agak nyambunglah menurut saya.

Oh iya soal lagu yang dinyanyiin si hantu di chap 2, itu judulnya Sakura no uta. Maaf saya cuma masukin liriknya 2 bait, karena terus terang saya lupa :v di adegan pas lagu itu dinyanyiin si hantu, sebetulnya saya udah kasih satu clue (?) ,tapi setelah saya baca berulang ulang, ternyata memang petunjuk yang saya kasih rasanya kurang mengena, jadinya banyak dari para pembaca kurang mengerti denga clue yang saya kasih. Untuk itu sekali lagi saya minta maaf, jika karya saya ini malah membuat kalian muak dengan tulisan saya yang amburadul dan berbagai kesalahan lainnya.

Rasanya Author udah kebanyakan ngomong gak saatnya balasan riview.

Faudzai: Hehe gpp, saya malah seneng dengan kritikan yang membangun. Justru kritikan itulah yang membuat saya makin semangat. Makasih udah mau baca + riview.

RiuDarkBlue: Hehe, iya kita belajar sama-sama.

Sesuai dengan judul chapter ini, Naruto udah percaya kok. Aku rasa kamu udah bisa tebak sendiri, siapa wanita itu :v xD

Makasih motivasi (aneh) nya *plak xD saya rasa update yang sekarang bisa dikategorikan kilat dibanding dengan chapter saya yang sebelumnya. :v saya tahu kamu gak suka hal berbau horor, akhirnya ngaku juga kalau takut horor xD jadi makasih udah memberanikan diri untuk membaca cerita yang gak serem ini.. +makasih dah riviww

Neng275: masa sih neng, padahal menurut saya ini fic lebih mendekati gaje daripada serem xD haha. Makasih dah mau baca+riview.

Mangetsu Ringu: hehe maaf, tapi saya sudah merencanakan hantunya gk terlalu banyak, paling banyak cuma 3. Tapi tenang saya bakalan cari cara supaya adegan Hantunya gk gitu gitu aja. Makasih atas sarannya :).

Haizaki: iya Haizaki-san ini saya dah lanjut :v makasih udah mau baca +riview.

Namikaze632: Hehe untuk kepastiannya, pantengin terus cerita ini, *plak (promosi XD) makasih udah baca+riviw.

~Arigatou Mina-san~

~peluk cium dari Aburame Soni~