Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
CCTV © Aburame Soni
Rated: T
Warning: Typo, AU, gak serem-serem amat, dan berbagai hal buruk lainya.
Genre : Horor, Drama
A/N: songFic: Sakura no Uta
Bold=Bernyanyi
.
.
Chapter 4: Who are you?
Karin bersama seorang lelaki bersurai putih keluar dari Taxi. Lelaki itu adalah Hozuki Suigetsu,suami Uzumaki Karin. Mereka berteman sejak SMA. keduanya terlahir dengan kemampuan Indigo, mereka mulai bekerja sama dalam menyelesaikan beberapa kasus, sampai akhirnya merasa nyaman dan cocok, lalu mereka-pun menikah.
"Ehh, sudah berapa lama kita tidak kesini" ujar Suigetsu sambil melihat Gerbang Konoha gakuen High School.
"Entahlah, mungkin sejak kelulusan" Sahut Karin asal bicara.
Mereka berjalan masuk menuju kedalam. Seorang security tersenyum dan bertanya pada mereka berdua.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"ehh, kami kesini mau me_"
"Kami alumni disini, hanya sekedar ingin berkunjung dan bertemu dengan salah seorang guru" potong Karin yang seakan tahu apa yang akan dikatakan Suigetsu, terkadang sifat bodoh suaminya selalu saja muncul. Sejak awal penyelidikan ini tidak melibatkan pihak sekolah. Tentu saja jika mereka mengatakan kalau tujuan mereka ke sini untuk menyelidiki Kasus, security akan menghadangnya.
"Oh baik kalau begitu, kalian bisa mengunjungi piket untuk mengisi daftar tamu" tutur sang security.
"Daftar tamu?" beo suigetsu.
"Terima kasih atas infonya, kalau begitu kami masuk" perkataan Karin dibala senyuman ramah sang security.
"Dasar bodoh! Kau ini selalu saja terlihat norak"
"Ck, habisnya merepotkan sekali, kan kita sudah bilang hanya akan berkunjung, kenapa harus mengisi daftar tamu"
"Ini bukan rumahmu yang seseorang bisa keluar masuk seenak jidat, sekolah ini punya aturan. Aku yakin keamanan saat ini diperketat setelah insiden kemarin" terang Karin.
"Ck wakatta, wakatta.. Kau ini selalu saja memarahiku, padahal aku ini suamimu".
"Karena kau selalu memulainya dengan tingkah bodohmu itu" kebiasaan mereka sejak dulu memang tidak berubah. Berdebat sudah jadi hal yang mutlak dilakukan, namun dari situlah mereka bisa saling mengerti.
.
.
Sehabis dari piket, Karin dan Suigetsu berjalan-jalan melihat ruangan-ruangan kelas yang beberapa diantaranya mereka pernah belajar disana.
"wahh,sepertinya sekolah ini tak banyak berubah" ujar Suigetsu yang tengah belajar di koridor bersama Karin di samping kanannya.
"yah begitulah" respon Karin dengan tatapannya beredar melihat beberapa objek. Sesekali hatinya bertanya 'kemana `mereka` semua?' . Hatinya terus berkata demikian, apakah 'pengelihatannya' sedang terganggu. Kenapa sosok-sosok yang dulu pernah ia temui tak ada. Terlebih lagi ia ingin sekali melihat sosok yang pernah dikatakan Hinata, Yang usut punya usut ada hubungannya dengan kekacauan di lab komputer dan ruang kesenian.
"K-karin?" tanya Suigetsu tiba-tiba.
"Eh I-iya?" jawab Karin yang kaget dengan pertanyaan Suigetsu.
"Apa yang kau lihat?" tanya Suigetsu to the point.
"Emm, justru itu. Aku.. Tak melihat atau merasakan apapun"
Suigetsu hanya menarik sudut bibirnya. "Bagus, ini akan jadi penyelidikan panjang"
"Hahh, padahal aku juga ingin reuni dengan 'mereka' "
"hm, aku kira aku juga akan bertemu dengan 'sosok-sosok' yang pernah menggangguku ataupun yang menjadi temanku" ujar Karin. Saat ini mereka sedang membicarakan mahkluk-mahkluk yang dulu mereka kenali di sekolah ini.
"Tsck, sadar tak sadar rupanya kita juga merindukan mereka" ujar Suigetsu sambil menarik sedikit sudut bibirnya.
"Hey kalian berdua" seketika langkah merekapun langsung terhenti dan menoleh kebelakang. Suara yang tidak asing, dia adalah Naruto.
"Oh Naruto" Ujar Suigetsu yang langsung berlari kecil ke arah Naruto.
"Wah, lama tak berjumpa."
"haha, bagaimana kabarmu." sapa Naruto sambil bersalaman ala remaja pria yang lama tak bertemu (?)
"Tentu saja aku baik." Jawab Suigetsu.
"Sudahlah kalian berdua, reuni-nya nanti saja seka_" tiba-tiba pria Raven datang dengan sikap dinginnya.
"Hey Sasu, itukah kau. Pantat ayam-mu sama sekali tak berubah" perkataan Suigetsu langsung dibalas sorot mata yang tajam.
"Urus saja uban-mu yang makin banyak itu" balas ketus Sasuke. Perkataan Sasuke langsung disambut tawa renyah dari Naruto.
"Kau sama sekali tak berubah Sasu."
Karin yang dari tadi bungkam-pun ikut-ikutan tersenyum geli. "sudahlah, kau juga belum berubah. Sifat kekanak-kanakkan mu sampai sekarang belum berubah"
"kau ini, bukannya membela suamimu malah membela Si pantat ayam ini"
"Habisnya ,kau memang kekanak-kanakan."
"Andaikan saja ada Kiba disini, pasti dia juga akan kalah debat sepertimu" ujar Naruto yang masih Terawa renyah.
"ehh, kau pun sama Naruto..!"
"Urusai! Aku disini bukan untuk melihat orang berdebat" timpal Sasuke yang geram melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"Ishh kau ini, dasar pantat ayam" gerutu Suigetsu.
.
.
"Jadi, apa kalian sudah mendapat bukti atau sesuatu?" Tanya Naruto. Mereka yang baru saja dari TKP kini berada di kediaman Naruto.
Suigetsu hanya menghela Napas. "Sayang sekali, kami tak menemukan APAPUN." ujar Suigetsu dengan menekankan kata 'apapun'.
"Ehh, maksudmu?"
"Kami tak menemukan sedikitpun keganjilan disini. Semua yang terekam di kamera seakan rekayasa" tutur Karin blak blakan sembari membetulkan kacamatanya yang sedikit melorot.
"A-Apa? Rekayasa katamu?!" tanya Naruto dengan meninggikan suaranya.
"Dengar dulu penjelasan kami, Baka" timpal Suigetsu.
Sementara Karin menghela napas. "Bukankah kalian tahu, sejak dulu aku punya 'Teman' selain kalian di sekolah ini"
"Teman?"
"Ck, ayolah aku malas menjelaskannya" ujar Suigetsu yang kesal pada pria bersurai pirang di depannya. Sementara Naruto masih me-loading otaknya yang lemot itu.
"Ohh, yang itu" diam sesaat "Teman yang mana?"
"Teman kita yang tak bisa kau lihat, baka! Begitu saja tidak mengerti"
"Kenapa tak bilang saja dari tadi, kalian terlalu berbelit-belit"
"Kau saja yang bodoh!"
"Urusai, jangan buat aku mengulanginya. Aku kesini bukan untuk melihat orang berdebat tak penting!" bentak Sasuke yang kesal melihat pertarungan verbal kedua temannya itu.
Karin kembali menghela napas panjang. "Baik, bisa kulanjutkan" Hening.
"Aku tak bisa melihat 'mereka' seperti biasanya. Sangat kecil kemungkinan jika mereka pergi ke tempat lain."
"Apa itu semua ada hubungannya dengan kekacauan ini?" Sakura-pun angkat bicara.
"Kemungkina besar, iya"
"J-jadi, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Hinata yang sedari tadi bungkam.
Karin dan Suigetsu-pun saling bertatapan. Seakan mata mereka berbicara, dan memikirkan hal yang sama.
"Kita, adakan ritual." Hening.
"Ri-ritual?"
"Apa maksudmu?"
"kita, harus mengetahui apa yang terjadi dimalam itu. Malam saat kedua ruangan itu dihancurkan". Ujar Karin
"Caranya?"
.
.
21:45..
Naruto, Hinata, Sasuke, Sakura, Suigetsu dan Karin tengah berkumpul diruang tengah kediaman Naruto. Mereka duduk dengan posisi membundar di meja. Naruto menyalakan beberapa lilin yang akan digunakan sebagai sumber penerangan utama. Mereka memasang wajah tegang, terutama Hinata yang sejak tadi terlihat gelisah, ia merasa hal buruk akan terjadi.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Suigetsu dan langsung di jawab oleh anggukan tanda setuju dari semuanya.
"Baik, lampunya bisa dimatikan" perintah Karin pada Naruto. Dimatikanlah lampu itu, dan yang di dapat adalah wajah masing masing orang disana dengan penerangan cahaya lilin.
Karin menghirup napas panjang ."Aku akan memulainya, kita berpegangan erat membentuk suatu lingkaran, jika sesuatu terjadi, kita akan saling menjaga. Pejamkan mata kalian, bayangkan lingkaran putih mengelilingi kalian, itu akan membuat kita merasa terlindungi." Terang Karin yang langsung memejamkan matanya.
"Aku ingin pergi ke waktu, dimana ruangan kesenian dan lab komputer di hancurkan" Ujar Karin dengan mata yang masih terpejam.
Tepat seperti yang dikatakan Karin. Ritual ini dilakukan agar ia bisa pergi ke waktu saat ruangan Lab dan Ruang Kesenian Hancur.
.
.
Dibukalah mata Karin. Hal yang pertama kali ia lihat adalah perempatan. Terlihat ada Hinata disebrang sana, dan tiba-tiba seorang Gadis bersurai merah berlari melewati koridor dari arah kiri ke kanan. Ketika gadis misterius itu berlari ia melihat secarik kertas terjatuh, dan Hinata mengambilnya.
'Apa, ini ingatan Hinata' tanya Karin dalam batinnya. Ia tak mengacuhkan pemikirannya itu, dengan segera Karin menghampiri Tempat dimana Gadis tadi berlalu.
Ia melihat kearah kanan, sudah tak terlihat lagi jejak gadis itu. Ia datang dari arah kiri, dan dari sana adalah arah menuju lab Komputer dan Ruang Kesenian. Tanpa panjang pikir Karin langsung berjalan dengan tempo yang cepat menuju kesana.
Tap tap tap tap..
Suara langkah kakinya menggema di koridor, sesekali pandangannya ia edarkan ke ruangan-ruangan kelas disamping kanan dan kirinya. Berharap ada petunjuk yang berharga, ataupun sosok mahkluk yang bisa diajak bekerja sama.
.
.
'_Hell..me... H-he...'
'Ssshh..hahhh.. How...'
Sepanjang jalan ia tak menemukan apapun. Namun pendengaran Karin kian terusik dengan bisikan-bisikan samar. Kadang bisikan itu terdengar seperti orang meracau, kadang terdengar seperti orang mendesah, dan juga kadang terdengar seperti orang memohon.
Langkah Karin tiba-tiba berhenti "Tunjukan diri kalian" Ujar karin dengan suara yang jelas.
'W-we are c-can't do that' tiba-tiba terdengar suara bisikan yang cukup jelas.
"Kenapa?!" tanya karin dengan meninggikan volumenya.
'P-p-plllea.. Shhh... Ahhh' mahkluk tak kasat mata itu kembali menjawab dengan bisikan Samar.
'A-rr-tu.. Arrghh..' bisikan itu menyerukan sesuatu yang terdengar seperti petunjuk.
'clla-cla, Art.. Art'
"Art? Seni maksudmu?" Karin pun mengerti, sepertinya bisikan itu menyuruhnya untuk pergi keruangan seni. Ia pun memepercepat langkahnya. Ruangan seni terhalang oleh beberapa kelas.
Sakura No Hana wa itsu hiraku
Yama no osato ni itsu hiraku
Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis bersenandung dengan suara horor. Seketika Karin merasakan Aura yang kuat.
Wush..
Ia melihat kebelakang, Karin merasa ada yang baru saja berlari di belakangnya.
Wush..
Karin sedikit terpkejut kala melihat bayangan hitam melintas didepannya.
Karin pun melanjutkan langkahnya, ia mengikuti kata hati dan aura mahkluk supernatural yang ia rasakan.
Sakura no Hana wa itsu niou
Warau nana no ko asobu koro
Nyanyian itu kembali terdengar, Aura itu semakin kuat Karin rasakan.
Prang! duak! creng!
Sampai akhirnya terdengar suara barang barang yang saling beradu, dan juga suara barang pecah saling bersautan.
Karin berjalan perlahan mendekati sumber suara. Tak lupa senandung mengerikan itu masih terdengar.
Ruang Kesenian tinggal beberapa meter, terasa getaran dilantai menandakan benda yang jatuh cukup keras.
Pintu ruangan kesenian Tinggal lima meter lagi, tidak bisa dipungkiri, kali ini Karin memang merasa gelisah, jantungnya memompa dua kali lebih cepat, keringat keluar dari pelipisnya, walaupun penampakan supernatural sudah tak asing bagi Karin, namun entah mengapa kali ini ia merasa kekuatan besar tengah dihadapinya.
Sakura no hana wa itsu odoru
Utau nana no ko asobu koro
Nyanyian itu terus bersenandung, pintu ruangan kesenian tinggal beberapa langkah lagi.
1 langkah..
2 langkah..
3 langkah..
4 langkah..
5 langkah..
Dan..
Sakura no hana wa itsu kuchiru
Shinda nana no ko noboru koro
Betapa kagetnya Karin kala melihat seorang gadis besurai merah melayang di langit langit ruangan itu dengan wajah menunduk. Dan dibawah gadis itu, terlihat 3 mahkluk bertubuh besar tengah menghancurkan barang-barang disana.
"Doki?" Karin mengenali 3 raksasa itu. Tapi gadis yang menggantung diatas, Karin tak dapat mengenalinya.
Mendengar suara Karin, gadis itu sedikit demi sedikit mengangkat kepalanya. Wajah yang awalnya tertutup surai merah, sedikit demi sedikit mulai terlihat.
Gadis itupun mendongak-kan wajahnya, dan memperlihatkan rupanya yang mengerikan. Lehernya terbuka seakan baru saja ia disembelih, liquid merah beraroma besi-pun keluar berceceran.
"Kyaaaaaaaa...!" Hantu itu memekik sejadi-jadinya sampai rahangnya terbuka sangat lebar. Mata yang awalnya tak terlihat, kini nampak mata kuning menyerupai ular. Hembusan angin kencang keluar dari ruang seni menerpa tubuh Karin.
"Siapa kau ?!" teriak Karin.
"Rhoaarrr..!" Hantu itu membalas pertanyaan Karin dengan pekikan keras yang bahkan terdengar seperti auman mahkluk buas. Bersamaan dengan auman itu angin kencang kembali keluar dari ruangan membuat tubuh Karin terhentak ke tiang dibelakangnya.
Beberapa detik tubuh Karin menempel di tiang, sampai akhirnya ia jatuh sambil berlutut.
Hantu itu memberikan seringaian mengerikan, wajah yang awalnya pucat, seketika berubah menjadi gelap, muncul tanduk dari kepalanya, sekarang ia terlihat seperti mahkluk buas yang mengincar mangsanya.
Tangan berkuku runcing miliknya mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya. Itu adalah seruling..
"Siapa kau sebenarnya" gumam Karin yang menatap mata ular milik Hantu itu.
Seringaian di wajahnya masih dipertahankan. Tanpa sepengetahuan Karin, ke tiga raksasa yang ia panggil Doki ,sudah tidak ada di ruangan itu.
"Mateki mugen onsa". Suara seruling memeking, memecah gendang telinga. Telunjuk Karin menutup telinga sebagai repleks.
Suara seruling itu bukan sekedar suara yang memecahkan gendang telinga, suara seruling itu mengeluarkan suatu pusaran angin di pusat ruangan membuat benda-benda disekitar sana beterbangan.
Semakin lama seruling itu memeking di telinga Karin, hingga membuat kepala Karin berputar.
Pusing, itu yang ia rasakan, namun tiba-tiba serpihan memori di masa lalu muncul di kepalanya. Ingatan-ingatan masa SMA nya tiba-tiba muncul. Dan muncul juga wajah seorang gadis bersurai merah.
"Ahh, k-kau_"
.
.
"Karin, Sadarlah!" ujar Suigetsu sambil mengguncang tubuh Karin yang bergerak tak karuan.
"K-karin-chan!"
"Karin sadarlah"
"Ahhhh...!"
Mereka semua terlihat panik melihat Karin seperti orang kerasukan.
"Aghhh.. Hah hahhh ahaahhh hah..." Karin akhirnya membuka mata. Nafasnya memburu, dadanya turun naik seakan ia kehabisan oksigen. Tangannya berpegangan erat pada lengan Suigetsu dan Sakura disampingnya. Dengan panik Hinata menyodorkan segelas air putih ke Karin.
"Tenang Karin.. Tarik nafas, Buang.." Karin menuruti perkataan Suaminya untuk menormalisasi ritme pernafasannya. Diteguklah segelas air yang diberikan Hinata.
Pernafasan Karin sudah normal. Semuanya Hening, setiap pasang mata disana menatap Karin dengan rasa penasaran.
"Dia_" Perkataan Karin menggantung untuk beberapa saat. "Sangat Kuat".
Tak ada jawaban apapun dari mereka, Sasuke memasang wajah penasaran, Sakura terlihat ngeri, Hinata ketakutan, dan Naruto ingin mendengar penjelasan lebih dari Karin.
"Dia bahkan ,mampu mengendalikan Doki"
"Doki? Benda apa itu?" tanya Naruto.
"Apa" Suigetsu terkejut. Ia ingat betul dengan tiga Raksasa penghuni Konohagakuen, begitu juga Karin. "Doki adalah 3 Raksasa yang sejak dulu menghuni Sekolah ini".
"R-Raksasa katamu" Ujar Naruto ketakutan, membayangkan mahkluk besar menakutkan menghuni Konohagakuen. "Apa mereka salah satu mahkluk yang kalian kenal?"
Anggukan menjadi jawaban pertanyaan Naruto, Naruto semakin bergidik ngeri. "Apa raksasa itu berbahaya".
"Sejauh aku mengenalnya, mereka baik selagi tak di ganggu".
"Jadi, apa alasan dia melakukan semua ini?" tanya Sasuke to the point.
"Entahlah, tapi aku tahu sesuatu.. Yang aku yakin kalian juga mengetahuinya".
Sasuke mengernyitkan dahinya. "Apa itu".
"Aku.. Tak bisa mengatakannya sekarang"
"Apa?! " Ujar Naruto dengan nada bicara yang meninggi.
"N-naruto-kun.. " ujar Hinata sambil memegang bahu Naruto.
"Aku mohon aku tak bisa mengatakannya sekarang.!" Karin pun meninggikan volume suaranya. "Beri aku waktu untuk beristirahat".
Semuanya Hening ,untuk beberapa saat mereka diam tak bergeming sedikitpun. Sampai akhirnya..
"K-kalau begitu, kalian menginaplah disini. K-kebetulan ada 2 kamar tamu, a-aku akan me-menyiapkannya dulu" Ujar Hinata yang langsung pergi menjauhi ke Canggungan.
.
.
Dikamar tamu.. Sasuke dan Sakura.
"Aku heran, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sekolah ini". Sakura sedang berdiri didepan cermin baru saja mengenakan piyama berwarna putih miliknya.
"Hn, ini sama sekali tak kumengerti". Ujar Sasuke yang sedang berbaring dikasur dengan tangan sebagai sandaran.
Sakura tersenyum sambil berbalik dan menghadap Sasuke "Sasuke-kun dipaksa untuk percaya, jika memang ingin menyelesaikan kasus ini".
"Sering aku dihadapkan dengan situasi tak masuk akal. Tapi baru kali ini aku dipaksa untuk melawan logika".
Sakura pun mendekat ke Kasur. "Apa aku bisa membantu ,Sakura?" tanya Sasuke sambil melirik ke Sakura. "Sejauh ini, aku merasa belum membantu apapun."
"Niat kita untuk membantu, itu sudah membuat Naruto sangat senang". Ucap Sakura sambil tersenyum.
"Benarkah?"
"Kurasa" jawab Sakura sambil mengendikan pundaknya. "Aku sudah mengantuk, sebaiknya kita cepat tidur".
Tok tok tok..
Suara ketukan pintu terdengar dari luar sana.
"A-ano a-apa kalian sudah tidur?" Suara itu, Hinata.
"Belum Hinata-Chan, masuklah" Hinata masuk membawa nampan dengan Teh, dan biskuit.
"I-ini, aku bawakan teh dan juga biskuit. M-maaf aku belum sempat memasak, jadi hanya ada ini". Ujar Hinata sambil tersenyum.
"Aduh Hinata-chan, jadi merepotkan".
"Ti-tidak aku sendiri yang sudah merepotkan kalian.. Kalau begitu aku permisi". Hinata pun keluar meninggalkan Sasuke dan Sakura.
Cklek..
Beberapa langkah dari Kamar Sasuke, Hinata hendak menyimpan nampan kedapur. Ia melewati kamar Karin dan Suigetsu.
"Kenapa tidak dari tadi saja kau katakan apa yang kau lihat". Terdengar suara Suigetsu dari kamar itu.
"Aku tak bisa melakukannya" rasa penasaran tiba-tiba meliputi Hinata. Ia pun mendekati pintu.
"ck, tapi kenapa? Beri alasan yang jelas" tanya Suigetsu lagi.
"Shhhttt..! Bisakah kau kecilkan volume suaramu itu." Suara Karin memelan dan hampir tedengar seperti berbisik. "Aku.. Tak bisa mengatakannya, karena ada Hinata disana." walaupun suara Karin pelan, tapi Hinata masih bisa mendengarnya dengan jelas dibalik pintu, Hinata menempelkan telinganya pada pintu untuk mendengar lebih lanjut.
"Hei." tiba-tiba ada lengan menyentuh pundak Hinata. Ia pun terperanjat kaget. "Sedang apa kamu disini?" ternyata itu Naruto.
"E-eh N-naruto-kun.. Aku cuman mau m-menyimpan nampan ini ke dapur" jawab Hinata gelagapan.
.
Di dalam Kamar. Suigetsu dan Karin yang sedang berunding langsung berhadap-hadapan ketika mendengar suara Hinata dari balik Pintu.
"Hinata."
"Hinata." ucap mereka bersamaan.
.
"Tapi kenapa kamu_" dengan cepat Hinata langsung menutup mulut Naruto dengan telapak tangannya. Hinata menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan 'jangan katakan Naruto-kun'. Sementara Naruto bingung dengan Reaksi istrinya ini.
Cklek.. Hinata dan Naruto terperanjat ketika pintu disampingnya tiba-tiba terbuka.
"Ehh kalian, sejak kapan kalian ada disini?" tanya Suigetsu sambil tersenyum aneh.
"T-tidak, aku c-cuman mau m-menyimpan nampan ini k-ke dapur." terang Hinata sambil gelagapan dan tangannya menunjuk-nunjuk arah dapur.
"Ohh begitu baguslah" Ujar Suigetsu yang langsung menerima injakan kaki dari Karin.
"Ouch"
"Se-sebaiknya kalian cepat tidur, ini sudah malam" Ucap Karin yang ikut-ikutan tersenyum aneh.
"B-baiklah, k-kami akan menuju kekamar."
Semuanya tersenyum aneh berusaha menutupi yang terjadi. Sementara Naruto malah Sweatdroped .
'sebenarnya ada apa ini? ' tanya Naruto dalam hatinya.
.
.
"Hahh, untung saja Hinata cuman mau lewat." Suigetsu menghela nafas lega sambil duduk di kasur.
"Ck baka!, walaupun cuman lewat tapi kemungkinan besar ia menguping sedikit pembicaraan kita karena suara toa mu!" bentak Karin dengan volume yang tak terlalu besar.
"Eh, lagipula kau sendiri yang mulai membicarakan Hinata" Sugetsu tak mau kalah.
"Ck, dia takkan menguping kalau dari awal kita saling berbisik."
"Ck wakatta wakatta, lupakan sajalah.. Sampai mana kita tadi?"
"Sampai mana apa?!" Jawab Karin sinis.
Suigetsu membalas Karin dengan tatapan Bosan. "Pembicaraan kita sebelum kau menginjak kakiku"
"Ohh kau benar. Jadi begini.. " diam sesaat "Hantu itu memberiku informasi"
.
.
"Ada yang mereka sembunyikan dariku" Ucap Hinata yang sedang menjelaskan peristiwa beberapa menit lalu.
"Jadi kamu tadi menguping?" Goda Naruto.
"b-bukan begitu." Hinata menggembungkan gembil-nya.
"Lalu?"
"A-aku cuma kebetulan lewat. D-dan mereka membicarakanku."
"Memangnya apa yang mereka bicarakan?" tanya Naruto.
Hinata menceritakan apa yang didengarnya pada Naruto.
"Hmm, mungkin Karin punya alasan tersendiri melakukan itu."
"T-tapi, kenapa harus aku Naruto-kun?."
"Entah" naruto mengendikan pundaknya. "Mungkin mereka tak mau membuat kamu takut. Secara kan kamu yang banyak mengalami peristiwa horor". Pernyataan Naruto memang masuk akal hingga membuat Hinata sedikit percaya.
"Naruto-kun ada benarnya." Hinata tersenyum kearah Naruto.
"Kalau begitu, ayo tidur. "
T
B
C
A/N: Halloooo minna-san..! Balik lagi nih fic Horor karya Author abal Aburame Soni. Rasanya saya emang gak bisa update kilat deh, selalu ada aja hambatan dalam penulisan fic ini (gak nanya).
Oke daripada ngoceh gak jelas, ada baiknya kalau saya mengulas chapter ini. Baik, di chap ini rasanya kalian semua bisa nebak siapa gadis berambut merah itu. Hehe, tapi entah kenapa saya masih gak mau ngomong siapa hantu itu XD. biar kalian sendiri yang menulis di kolom riview (ngomong aja pengen diriviw thor, pake muter muter segala ngomongnya) #plak! XD. Istri Karin adalah Suigetsu, ada yang Bertanya kenapa? (gk ada) karena mereka emang sering bareng diserial Naruto(?).
Akhirnya di chap ini saya bisa memasukan songfic secara full, kalo di chap kemaren cuma dua bait, tapi sekarang saya masuki secara full. Judul lagunya Sakura no Uta- jigoku shoujo. Bagi kalian yang penasaran bisa download atau lihat di youtube, dijamin merinding 😈 hohoho.
Saya rasa sudah saatnya saya membalas riviw dari para Reader tercinta.
Neng275 : Siapp neng, nie abang udag lanjut kok #plak XD
DaracanHyuga: wahh, penasaran yah.. Hehe, rasa penasaran Daracan kayaknya udah terjawab di Chap ini. Saya rasa clue yang saya beri udah cukup kuat untuk menggambarkan si Hantu. Thank dah Baca+riviw.
Haizaki: sama Gue juga suka :v di chap ini sudah diungkap, tebak lagi aja deh XD (ngomong aja pengen di riviww thor)
Kimochi Kimochi: benarkah? Hehe maaf dah nunggu lama. Btw thank masih mau baca fic bulukan ini :v saya gak janji bisa update kilat, jadi semoga tidak bosan nunggu...
RiuDarkBlue: gapapa telat juga, makasih lho dah sanggup baca :v masasih serem?ahh yang bener? katanya gk serem? XD btw thank dah mao maca iyeu fic ditengah kesibukan maneh #plak (keluar dah bahasa daerah) XD
Fiqi: masaaaa? Seram kah? Yakin sanggup nungguin XD. Makasih dah baca+riviww..
Yah mungkin itu yang bisa saya sampaikan thank buat yanv udah mao baca+riviww.. Sampai jumpa di chap depan!
~Arigatou Mina-san~
~peluk cium dari Aburame Soni~
Mind to RnR ?
