"Apa kau tidak bosan terlambat?"

Wonwoo menoleh dan menerima angsuran air mineral dari temannya, Do Kyungsoo. Ia begitu lelah sekali mengelilingi lapangan sebanyak delapan kali. Beruntung, Eunhyuk-seonsaengnim sedang berbaik hati untuk mengurangi kuantitas hukumannya. Wonwoo menenggak air mineral dingin itu dengan rakus.

Wonwoo mendesah, "Kau tahu aku terlambat bukan tanpa alasan."

"Urusan dengan makhluk gaib lagi?" Do Kyungsoo mengenal Wonwoo sejak sekolah dasar. Mereka berteman baik, dan Kyungsoo tahu betul bahwa Wonwoo dapat melihat hantu.

"Aku ingin sekali lepas dari semua ini," Wonwoo menggerutu. "aku ingin tidur nyenyak tanpa gangguan dari mereka semua."

Kyungsoo mengulas senyum, "Setiap penyakit pasti ada obatnya. Hanya saja kau belum menemukannya."

Wonwoo menatap Kyungsoo sambil mengernyit, "Jadi kau menganggap kemampuanku ini penyakit?"

"Entahlah, mungkin lebih seperti ke parasit?"

"Harusnya kau bersyukur dapat melihat kami," Suara lain berujar. Dan tentu saja hanya Wonwoo yang dapat mendengarnya. Wonwoo menoleh ke sampingnya yang kosong. Ya, seharusnya kosong di mata orang awam, tetapi tidak di mata Wonwoo. Di sana duduk seorang lelaki berseragam sekolah dengan headphone di lehernya. Itu Chwe Hansol.

Ia penghuni tetap lapangan olahraga sekolah. Setiap hari Wonwoo pasti menemukan Hansol di salah satu tribun, duduk sambil memperhatikan, sendirian. Entah kenapa Hansol memilih lapangan sebagai spot-nya. Ia tidak pernah menanyakan hal itu—ia tidak berminat—dan lagi Hansol agak sedikit sensitif seperti Seungkwan.

"Ada apa?" tanya Kyungsoo curiga karena Wonwoo menatap ke sebuah arah yang tidak ada siapa-siapa di sana.

"Hansol," Wonwoo berkata. Kyungsoo tahu siapa itu Hansol. Wonwoo pernah menceritakannya padanya.

"Oh, ada apa dengannya?" Kyungsoo tidak takut hantu.

Wonwoo menggeleng, "Bukan hal penting."

"Jadi, kau sekarang menganggapku hal tidak penting?" protes Hansol, namun Wonwoo mengabaikannya. Lelaki berkulit pucat itu justru kembali menenggak air mineralnya dan menatap malas lapangan yang sepi.

Ia sungguh berharap bisa melenyapkan hantu-hantu ini dari kehidupannya.