Wonwoo langsung menemukan sosok Chan di depan gerbang sekolah, melambai padanya dengan bersemangat. Ia kemudian berkata pada Kyungsoo yang berjalan di sampingnya.

"Kau pulanglah duluan, aku ada urusan dengan 'pengganggu'."

Kyungsoo langsung paham. Pengganggu adalah sebutan Wonwoo untuk hantu-hantu yang sering mengganggunya.

"Baiklah, hati-hati."

Wonwoo meninggalkan Kyungsoo dan menghampiri Chan yang sudah kelihatan tak sabar.

"Kita sebaiknya kemana, Hyung? Ke perusahaan hyung-ku atau ke rumah?"

Wonwoo menghela napas, "Terserah kau saja."

Chan tampak berpikir. Wajahnya sungguh imut ketika mengerutkan kening seperti itu. "Ah, ke perusahaan hyung-ku saja, bagaimana? Aku masih takut bertemu Seungkwan-hyung."

"Kau bilang aku bisa bernegosiasi dengannya?"

Chan menggeleng, "Setelah kupikir-pikir itu tindakan tidak efektif karena Seungkwan-hyung tidak akan mempan dengan hal begitu. Ya sudah, ayo hyung! Kita harus segera ke Kim House!"

Wonwoo mendengus pelan dan mulai mengikuti Chan yang berjalan mendahuluinya. Mereka menaiki bus dan kemudian berhenti di sebuah gedung tinggi nan berkelas. Wonwoo sampai membelalakkan matanya saking takjub. Hyung Chan pasti orang kaya.

Wonwoo jadi ingat kehidupannya yang serba hemat dan makan nyaris satu kali dalam sehari. Mungkin ia harus mencari pasangan yang kaya raya untuk menunjang hidupnya. Bibinya yang kerjaannya hanya makan-tidur-menonton televisi itu sama sekali tak bisa diandalkan.

"Kenapa diam di sana, Hyung? Ayo, masuk!" teriak Chan yang sudah berada di dekat pintu masuk yang terbuat dari kaca. Wonwoo tertegun dan segera menyusul bocah itu. Begitu sampai di resepsionis, Chan menyenggol Wonwoo, menyuruhnya menanyakan hyung-nya.

"Eh, err, itu... apa aku bisa bertemu Kim Mingyu-ssi?"

"Kim-sajangnim? Ah, apa anda telah membuat janji sebelumnya?" tanya resepsionis itu. Wonwoo menatap Chan meminta bantuan. Chan hanya mengedikkan bahu. Ah, dasar bocah tidak tahu diuntung.

"Ah, itu... aku belum membuat janji."

"Kalau begitu tunggu sebentar. Dengan saudara siapa?"

"Ah, Wonwoo. Jeon Wonwoo. Katakan padanya aku bersama Kim Chan."

Resepsionis itu mengangguk dan mulai menelepon seseorang. Ngomong-ngomong, kenapa rasanya begitu aneh? Bukankah seharusnya ada hantu penjaga itu di sini? Kenapa Wonwoo bahkan tidak melihatnya sama sekali di sudut manapun?

Chan mendadak memekik, membuat Wonwoo tertegun.

"Ada apa?" tanyanya pada Chan dengan berbisik, takut diketahui resepsionis di depan mereka. Wonwoo tidak ingin disangka gila karena berbicara sendiri.

"Itu, Hyung... Ada Jihoon-hyung di sana!"

Wonwoo menoleh ke arah yang ditunjuk Chan dan melihat sosok hantu berwajah datar itu. Ah, di sana Jihoon rupanya, berdiri di depan lift. Dan tepat di belakang Jihoon, ketika lift membuka, ada sosok bertubuh tegap dengan jas rapi berjalan menembusnya. Membuat Wonwoo terpana—bukan karena sosok itu menembus Jihoon karena oh astaga Wonwoo sudah ribuan kali ditembus oleh hantu manapun, hanya saja sosok itu begitu rupawan. Laki-laki bertubuh jangkung itu berjalan menghampiri Wonwoo, melirik resepsionisnya.

"Dia yang bernama Jeon Wonwoo?"

Resepsionis itu mengiyakan. Ah, sepertinya Wonwoo tahu siapa ini. Kim Mingyu.

"Apa maksudmu kau bersama Chan?" Mingyu langsung bertanya padanya dengan nada tidak terima.

Wonwoo membela diri, "Aku memang bersamanya!"

Mingyu menggeleng, "Itu tidak mungkin karena Chan suda—"

"Meninggal kan?" potong Wonwoo santai. "apa ahjussi menuduhku berbohong? Chan sedang bersamaku sekarang. Ia di belakangku sedang menatapmu berbinar-binar."

"Apa kau sudah tidak waras?"

Wonwoo langsung menendang selangkangan Mingyu dengan salah satu kakinya, merasa terhina. Menyebabkan Mingyu berteriak kesakitan memegangi bagian yang dipukul Wonwoo dan security berdatangan meringkusnya.

Ah, sial. Wonwoo kelepasan.