Mingyu mendapat kiriman bunga pagi itu. Sekretarisnya, Irene, berkata bahwa ada seorang bocah SMA yang datang dengan senyum berseri-seri mengantarkan bunga aneh itu padanya.
Mingyu menatap bunga berwarna biru tua itu dengan alis berkerut. Di dalam ruangannya, sekarang duduk rekan kerjanya, Soonyoung, yang sedang sibuk membaca beberapa berkas.
"Apa kau tahu bunga apa ini?" tanya Mingyu sambil menyentuh bunga di atas mejanya dengan tatapan ngeri. Ia hanya takut saja bocah SMA itu menaruh sesuatu yang aneh sehingga membuatnya celaka.
"Apa kau bodoh?" Soonyoung berkata dengan jenaka. "disana ada kartu, kenapa kau tidak baca saja isinya?"
Ah, kartu?
Mingyu meraih kartu itu, membolak-baliknya, kemudian membukanya. Ada tulisan di dalam sana, ditulis tangan dengan rapi.
Annyeong, ahjussi!
Kau pasti kaget menerima hadiah dariku, kan? Hehe. Banyak orang yang tidak tahu bunga apa ini. Dan kalau kau cukup bodoh sampai tidak tahu, biar kuberitahu. Ini adalah bunga pansy. Bunga kesukaanku. Kata orang, arti pansy adalah 'pikirkan aku!'. Jadi, pikirkan aku setiap hari, oke ahjussi? Kau adalah obatku sekarang, jadi kau harus bertindak seperti obat yang baik! Aku akan datang lagi malam nanti sehabis bekerja paruh waktu! Oh ya, aku akan membawa Chan-ie juga!
Tertanda penerima obat,
Jeon Wonwoo
Selesai membaca kartu itu, Mingyu tertawa sambil mendengus. Tak habis pikir kenapa bocah aneh ini dengan beraninya mengiriminya bunga dengan suruhan untuk memikirkannya selalu. Memangnya Wonwoo siapa? Kekasihnya? Umur mereka saja terpaut jauh! Dibanding kekasih, mereka lebih cocok sebagai kakak-adik meskipun membayangkannya saja Mingyu tidak mau.
"Ada apa denganmu?" tanya Soonyoung padanya ketika melihat tingkah temannya yang aneh.
"Bocah ini sudah gila," Mingyu berkata seraya melempar kartu itu ke pansy di atas mejanya. "bagaimana mungkin ia mengirim bunga ini agar aku selalu memikirkannya? Dasar sinting!"
"Serius?" Soonyoung tampak terhibur. "apa dia bocah SMA yang kau bicarakan tadi?"
Mingyu menghela napas kesal, "Siapa lagi?"
Soonyoung tertawa pelan, "Kenapa kau tidak turuti perkataannya?"
"Apa maksudmu?"
"Memikirkannya," seringai Soonyoung, membuat Mingyu melempar buku di atas meja kerjanya ke arah Soonyoung.
