"Kyungsoo-ah,"
Kyungsoo yang sedang membaca buku di pangkuannya menoleh ke arah Wonwoo yang tampak tersenyum sendiri.
"Ada apa?" tanya Kyungsoo bingung. Tidak biasanya Wonwoo menjalani hari di sekolahnya dengan senyum yang kelewat lebar mengingat hari-harinya pasti akan diganggu oleh hantu-hantu tak diundang.
Wonwoo menatap Kyungsoo dengan senyum aneh, "Aku telah menemukan obatku!"
Kyungsoo mengernyit tak mengerti.
"Obat?"
Wonwoo mengangguk bersemangat, "Aku telah menemukan seseorang yang bisa melenyapkan semua hantu-hantu itu dariku!"
"Apa maksudmu?"
"Saat membantu Chan kemarin, aku bertemu dengan kakaknya yang seorang CEO perusahaan terkenal. Dan ketika aku menyentuh kakaknya, semua hantu yang ada di penglihatanku menghilang! Bukankah itu ajaib?"
Kyungsoo mencoba mencerna apa yang dikatakan Wonwoo padanya. "Lalu bagaimana?"
"Eh?"
"Bagaimana dengan obatmu? Kau takkan bisa menyentuhnya apabila ia tidak mengizinkanmu kan?"
Wonwoo tidak menyukai gagasan itu. "Ia harus mau kusentuh! Bagaimanapun juga setelah sekian lama akhirnya aku dapat menemukan pelarian."
"Jika seperti itu, bukankah artinya kau harus terus hidup bersamanya agar terhindar dari semua pengganggu?"
Wonwoo tertegun, "Begitukah?"
Kyungsoo mengangguk, "Kalau ia menjadi milik orang lain, kau tentu saja tidak boleh menyentuhnya."
Yang dikatakan Kyungsoo sukses membuat Wonwoo mengerucutkan bibir. Ia tidak mungkin langsung mengajak ahjussi itu menikah dengannya. Yang benar saja? Ia pasti akan dianggap bocah gila. Tapi, untuk urusan menikah sih Wonwoo mau saja. Apalagi Kim Mingyu adalah seorang CEO di perusahaan ternama sehingga ia pasti punya banyak uang untuk membiayai hidupnya. Memikirkan hidup selamanya dengan bibinya, sungguh membuat Wonwoo merasa mual.
"Kalau begitu aku akan membuat ahjussi itu menyukaiku."
"Eh?" Kyungsoo tampak kaget. "kau serius?"
Wonwoo mengangguk mantap, "Hidup bersamanya pasti akan membuatku bahagia seumur hidup. Terhindar dari hantu... punya banyak uang... aku sungguh mendambakan hidup seperti itu sejak dulu!"
Kyungsoo menggeleng-geleng, "Pikiranmu sungguh sempit. Memangnya ia mau menikahi bocah sepertimu? Berapa jarak usia kalian?"
Wonwoo tampak tidak senang, "Sebelas tahun. Memangnya kenapa dengan jarak sejauh itu? Ia masih tampan kok. Terlihat masih muda juga."
"Terserahmu saja. Aku sudah memperingati."
Wonwoo menopang dagunya dengan tangan, menatap halaman sekolah dengan mood yang tiba-tiba memburuk. Hansol yang sedari tadi duduk di sampingnya menyeletuk.
"Aku seratus persen yakin kau bakal diabaikan oleh CEO itu."
Wonwoo menatap ke sampingnya dengan galak.
