Wonwoo mengangguk ketika Mingyu menyodorkan sebuah foto di hadapannya. "Ya, itu hantu Cina yang barusan kulihat di belakang ahjussi."
Mingyu menurunkan tangannya dan mendengus pelan, "Jadi kau sungguh dapat melihat hantu?"
"Sudah berapa kali kubilang pada ahjussi bahwa aku memang bisa melihatnya?"
Mingyu mengabaikan Wonwoo, "Jadi sekarang dimana hantu Minghao?"
Wonwoo menelengkan kepalanya ke satu sisi, "Tunangan ahjussi? Dia sudah pergi. Aku tak tahu kemana. Chan-ie juga ikut pergi. Tapi kenapa ahjussi tertarik sekali? Bukankah ahjussi takut hantu?"
"Ya, aku memang tidak senang dengan makhluk seperti itu, tapi hal itu sudah lama sekali. Sekarang yang lebih kupedulikan adalah Minghao. Aku perlu kau bicara padanya."
Wonwoo menunjuk wajahnya sendiri, "Aku? Kenapa harus aku?"
Mingyu berdecak kesal, "Karena kau bisa bicara dengan hantu, bocah bodoh."
Wonwoo langsung mengangkat sebelah kakinya, "Jika ahjussi berkata aku bodoh lagi, aku tak akan segan-segan menendang masa depan ahjussi seperti kemarin."
Mingyu memutar bola mata, "Kau memang bocah tidak waras."
Wonwoo bersiap akan melayangkan kakinya, namun Mingyu menahannya dengan sebal. "Apa kau memang senang menendang kemaluan seseorang?"
"Apa ahjussi memang senang mengatai anak SMA dengan bocah bodoh dan tidak waras?"
Mingyu menghela napas. Tidak habis pikir kenapa dirinya mau saja berurusan dengan bocah menyebalkan seperti Wonwoo.
"Kau harus bicara dengan Minghao," Mingyu memilih mengalihkan pembicaraan, dan untungnya Wonwoo tidak menolak.
"Memangnya apa yang ingin ahjussi tanyakan kepada orang mati?"
"Minghao mengalami kecelakaan," ujar Mingyu dengan wajah yang keras. "dan aku tidak percaya bahwa itu kecelakaan mobil biasa."
Wonwoo mengerjap, "Jadi ahjussi berpikir ada yang sengaja mencelakakan tunangan ahjussi?"
Mingyu mengangguk, "Jadi aku butuh kau berbicara pada Minghao, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu."
Wonwoo terdiam sejenak, berpikir. Apa mungkin ini saatnya ia membuat Mingyu menyukainya dan memberinya banyak uang?
"Apa bayaranku jika berhasil bicara dengan Minghao?"
Mingyu menyipit, "Bayaran?"
"Iya, bayaran. Ahjussi pikir aku mau bekerja gratis? Hidup di dunia ini butuh uang ahjussi. Setiap orang tidak makan dengan daun."
Mingyu tak habis pikir kenapa bocah SMA seperti Wonwoo hanya memikirkan uang di kepalanya.
"Baik, aku akan membayarmu berapapun yang kau mau."
"Tentu saja ahjussi harus membayar," Wonwoo bersungut. "tapi aku punya syarat lain."
"Syarat? Kau memang sudah gila rupanya. Jika syaratnya aneh, aku tidak akan memenuhinya."
"Kalau ahjussi tidak mau memenuhinya aku tidak akan bicara dengan Minghao!"
Mingyu mendengus pelan. Ia sungguh ingin menyelesaikan kasus almarhum tunangannya yang selama ini masih teka-teki dalam kepalanya.
"Apa syaratnya?"
"Ahjussi harus bilang setuju dulu!"
"Bagaimana aku bisa setuju jika syaratnya pun tidak tahu?"
"Pokoknya harus setuju dulu!" Wonwoo mengembungkan pipi sebal. Sekilas, wajah bocah itu tampak menggemaskan. Tapi tenang saja. Itu hanya sekilas. Karena bagi Mingyu, Wonwoo tetaplah bocah pengganggu yang menyebalkan.
Karena malas berdebat, Mingyu mengangguk. "Oke, apa syaratmu?"
Wonwoo tersenyum lebar, "Ahjussi harus menikah denganku!"
