Mingyu mengacak rambutnya frustasi, membuat Soonyoung yang sedang asyik mengetik di sofa tak jauh dari meja kerjanya menoleh.

"Ada apa denganmu?" tanya Soonyoung heran. Sedari tadi Mingyu memang sudah bertingkah aneh. Mulai dari marah-marah tidak jelas kepada Irene, mendengus keras sampai berpuluh-puluh kali, dan sekarang mengerang sambil mengacak rambutnya. Bukan tipikal Kim Mingyu yang bakal bertingkah serius di kantor.

"Bocah itu memang tidak waras!" Mingyu berkata, masih memasang wajah terganggu yang membuatnya berpuluh-puluh kali lipat lebih tua dari biasanya.

"Siapa maksudmu?"

"Siapa lagi kalau bukan bocah yang mengirimiku pansy kemarin?"

Soonyoung tertegun dan menatap Mingyu. Ia mulai tertarik dan menarik senyum simpul. Ditutupnya laptop di hadapannya, memilih memfokuskan diri sejenak pada bocah antik yang telah mengganggu temannya sejak beberapa hari yang lalu.

"Memangnya apa lagi yang diperbuatnya sekarang?"

"Kau tak akan percaya. Bocah itu sinting!"

"Bagaimana aku percaya jika kau belum memberi tahu apa-apa padaku, Tuan Kim?"

Mingyu mendengus. Ia menarik napas, "Bocah sinting itu menyuruhku menikahinya."

Soonyoung terkejut, tentu saja. Tetapi bukan raut tak percaya yang tercetak dalam wajahnya, namun senyum lebar yang tampak geli.

"Kau serius?"

"Lihat, kau tak percaya padaku!"

Soonyoung tertawa, "Bukannya aku tak percaya. Tapi, hei, berapa jarak umur kalian? Wonwoo bahkan masih bocah SMA! Kau pantas jadi kakaknya asal kau tahu."

"Kau pikir aku mau menikahinya? Aku tidak suka bocah kecil."

Soonyoung masih tak bisa menghilangkan senyum geli pada wajahnya, "Lantas apa yang akan kaulakukan? Ia memintamu menikahinya, bukan?"

"Kaupikir aku mau menuruti perintahnya? Aku tentu saja menolaknya. Ia sampai cemberut dan memukulku beberapa kali sebelum pergi dari rumahku karena sebal."

"Wow," Soonyoung bergumam. "bocah itu tampaknya benar-benar terobsesi padamu."

"Lebih tepatnya ia adalah pengganggu kecil yang sangat terobsesi dengan uangku."

"Uang?"

Mingyu menyandarkan punggungnya pada kursi, "Ia memintaku membayarnya apabila berhasil memecahkan kasus Minghao, dan ia punya syarat mutlak aku harus menikahinya setelah kasus selesai."

"Kasus Minghao?" Soonyoung mengernyit.

Mingyu mendesah pelan, "Ia bisa melihat hantu, dan ia bisa melihat Minghao. Aku memintanya untuk berbicara dengan almarhum tunanganku."

Soonyoung mengangguk dan berdecak kagum, "Aku jadi ingin tahu orang seperti apa Jeon Wonwoo itu."

"Kau tidak usah bertemu dengannya. Ia disaster."

"Tapi kau kelihatan tidak keberatan saat ia berkunjung ke rumahmu."

Mingyu mengernyit, "Apa maksudmu?"

"Jika kau memang tidak suka Wonwoo, kau pasti sudah menyuruh security mengusirnya dari rumahmu, bukan membiarkannya dan bahkan membawanya masuk ke dalam."

"Aku hanya tidak suka bertindak kasar pada bocah kecil."

"Aku sangat tahu kau tidak suka bocah kecil, Kim Mingyu. Yah, kecuali adikmu, Chan."

Mingyu menghela napas pelan. Ia melirik pansy yang telah dimasukkan Irene ke dalam vas kaca berisi air. Bunga itu masih tampak mekar dengan indah.

Benar perkataan Soonyoung. Kenapa ia tidak pernah mengusir Wonwoo sejak jauh-jauh hari melainkan mendiamkannya?