"Ya! Jeon Wonwoo! Mau kemana lagi kau?!"

Wonwoo mengabaikan teriakan bibinya dan mulai memakai sepatu.

"Kau benar-benar bocah tak tahu diuntung! Apa kau tuli? Kenapa kau tidak pernah menjawab pertanyaanku?!"

Lagi-lagi Wonwoo diam dengan wajah datarnya. Sebelum ia benar-benar pergi, bibinya menarik kerah belakang bajunya sehingga membuatnya tertahan.

"Apa kau sekarang telah berani melawanku hah?!"

Wonwoo menarik napas pelan dan menoleh ke belakang. Menatap sengit bibinya yang keriput itu.

"Lepaskan tangan bibi dari bajuku."

"Apa? Kau sudah mulai memerintahku sekarang?! Kau cari mati?!"

Wonwoo mengepalkan tangannya dikedua sisi tubuh. Beberapa detiknya, ia mendorong bibinya hingga terjatuh kemudian berlari keluar dari apartemen bobrok mereka. Wonwoo mengabaikan teriakan bibinya yang berulang kali terdengar di sepanjang lorong. Ia benar-benar sudah lelah dengan bibinya. Mungkinkah ia kabur saja kali ini?

"Wah wah wah, berani sekali kau sekarang."

Suara halus itu kembali terdengar. Wonwoo tidak perlu memutar kepala untuk tahu bahwa itu adalah Seokmin. Hantu yang sering sekali membututinya selain Chan. Seokmin meninggal beberapa tahun lalu akibat terkena ledakan hebat di restoran milik ayahnya yang tak jauh dari apartemen Wonwoo. Wonwoo juga sudah kenal dekat dengan Seokmin karena pernah bekerja paruh waktu di sana.

"Ini bukan urusanmu. Pergilah."

"Kenapa kau mengusirku? Aku senang mengikutimu. Setidaknya kalau aku mengikutimu, kau bisa menjawabku."

Wonwoo menghentikan langkah dan mengembuskan napas pelan. Ia menoleh pada Seokmin dengan tatapan tidak senang. "Aku heran kenapa kau masih gentayangan di bumi. Bukankah kau sama sekali tidak punya hal yang kau sesali di dunia ini?"

"Hyung, kenapa kau jadi mengungkit-ngungkit masalah pribadiku?"

Wonwoo mendengus, "Sudahlah, berhenti mengikutiku. Aku sedang malas. Aku benar-benar merasa buruk sejak kemarin."

Seokmin tampak tertarik, "Memangnya apa yang kaulakukan kemarin, Hyung?"

"Sudah kubilang bukan urusanmu."

"Apa karena CEO itu, hyung?"

Wonwoo tertegun dan menoleh, "Eh?"

Seokmin menyeringai, "Benar kan? Ah, jadi karena Mingyu-ssi ya."

"Darimana kau tahu soal ahjussi?"

Hantu itu mengangkat bahu, "Chan."

Wonwoo mendengus kasar. Ah dasar bocah kecil itu.

"Kudengar kau mengajaknya menikah, Hyung. Wow, kau memang daebak."

"Dia menolakku, bodoh. Aku tidak tahu lagi kemana harus mencari tempat perlindungan."

"Perlindungan?" Seokmin mengerjap bingung.

"Karena jika aku bersama ahjussi, aku pasti tidak akan melihat makhluk seperti kalian. Aku tidak perlu repot-repot mengurus urusan kalian."

Seokmin tampak terkejut, "Serius, Hyung?! Wah, kalau begitu kau tidak boleh bersamanya! Jika kau terus bersamanya kau takkan bisa melihatku!"

Wonwoo memutar bola mata malas, "Dia sudah menolakku. Jadi kau tak perlu khawatir aku bersamanya atau tidak. Sekarang, aku sedang berpikir mencari obat yang lain. Di dunia ini tidak mungkin hanya dia saja kan yang bisa menjadi tempat perlindunganku?"

Seokmin memutar otak, tidak mengerti maksud perkataan Wonwoo. Yang hanya bisa ditangkapnya adalah Wonwoo terobsesi sekali dengan obat itu.