"Kau tidak memberitahuku tentang acara kabur dari rumah," ujar Kyungsoo ketika ia berjalan bersisian bersama Wonwoo di sepanjang pematang sungai. Mereka bertemu secara disengaja ketika pulang sekolah—di ujung gerbang, Wonwoo menunggu Kyungsoo, melambai, menyeringai, dan berkata bahwa ia akan berhenti sekolah dan kabur dari rumah. Kyungsoo tidak heran dengan kata berhenti sekolah karena Wonwoo memang sering mengatakannya walau tidak benar-benar terjadi. Yang ia permasalahkan hanya kata kabur dari rumah karena Kyungsoo tahu betul Wonwoo tidak punya tempat pelarian. Selama ini, ketika lelaki itu mengumandangkan kalimat itu, ia akan berakhir mengungsi di rumah Kyungsoo, merepotkannya seharian dan makan terlalu banyak sampai ayahnya kadang tidak dapat jatah makan malam. Maka dari itu, Kyungsoo tidak suka mendengar gagasan kabur dari rumah ala Wonwoo. Ia tidak mau berakhir menerima tamu tak diundang lagi yang senang menghabiskan isi kulkas di rumahnya tanpa malu.

"Aku sudah memberitahumu beberapa menit yang lalu." ujar Wonwoo dengan santai, ia tersenyum-senyum membuat Kyungsoo mengernyitkan dahi.

"Ada apa denganmu? Kenapa kau kelihatan bahagia sekali kabur dari rumah?"

Wonwoo terkikik, "Aku berhasil mendapatkan tempat tinggal sementara! Aku akan tinggal dengan Jun-hyung sekarang."

"Jun... hyung?"

"Ah, kau tidak mengenalnya ya? Ia temanku. Kami hanya berbeda beberapa tahun dan sekarang ia bekerja di sebuah restoran Italia menjadi chef. Keren kan?"

Kyungsoo hanya mengangguk dengan mulut membulat. "Lalu, bagaimana dengan obat-mu itu?"

"Hah?"

"Ahjussi-mu."

"Oh," Raut Wonwoo mendadak berubah kusut. "aku tidak mau berurusan lagi dengannya."

Kyungsoo tampak bingung karena kemarin ia ingat Wonwoo begitu bersemangat mengejar pria yang lebih tua itu agar menjadi miliknya.

"Apa yang terjadi? Bukankah kau suka ahjussi itu?"

"Dia tidak lebih dari ahjussi brengsek. Aku menyuruhnya menikah denganku tapi ia menolak mentah-mentah! Ah, aku tidak mau memikirkannya lagi. Lebih baik aku mencari ahjussi tampan lainnya yang kaya raya."

Kyungsoo menggeleng-geleng melihat tingkah temannya itu. "Kau benar-benar tidak menyerah ingin menikahi lelaki kaya ya?"

Wonwoo tersenyum simpul, "Aku butuh lelaki kaya agar aku bisa hidup nyaman dan bahagia."

"Kau juga butuh pelindung yang bisa melenyapkan hantu-hantu itu bukan?"

Wonwoo tertegun dan menghentikan langkahnya, membuat Kyungsoo ikut berhenti.

"Ada apa?" tanya Kyungsoo.

"Kyungsoo-ah, apa kau pikir aku bisa menemukan orang yang bisa menghilangkan hantu-hantu itu selain ahjussi?"

Kyungsoo mengerjap beberapa kali, "Entahlah. Bukankah orang berkemampuan khusus hanya ada seorang di dunia ini?"

"Tapi banyak sekali orang yang bisa melihat hantu sepertiku."

"Memang benar," Kyungsoo menyetujuinya. "tapi obat untukmu pasti hanya tercipta satu saja di dunia ini. Jika tercipta untuk banyak orang, bukankah itu berarti bukan obat-mu?"