Mingyu menatap bocah SMA di hadapannya sambil menahan segala emosi dalam dirinya. Ia ingin sekali bertanya 'darimana saja kau?' atau 'apa kau sadar telah berbuat apa padaku beberapa hari yang lalu?' atau 'bagaimana bisa kau menatapku setenang ini sementara aku berusaha mengenyahkan segala bayang-bayang soal ciuman kita yang kau lakukan tanpa izin itu?'. Ah ya, Wonwoo memang terlihat biasa saja hari ini. Bahkan seolah menganggap kejadian brengsek itu seperti angin lalu.

"Ahjussi," panggil Wonwoo, membuat Mingyu tersentak dari lamunannya.

"Apa?" balasnya galak.

Wonwoo tersenyum lebar, "Aku sudah tahu siapa pelaku yang membunuh Minghao!"

"Apa?" Mingyu tertegun. "kau... apa?"

Wonwoo menghela napas, "Kenapa ahjussi menyebalkan sekali? Kubilang aku sudah tahu siapa pelaku yang membunuh Minghao."

Sejenak Mingyu teralihkan dari pikirannya tentang Wonwoo, "Bukankah kau tidak bisa bahasa Cina? Bagaimana caranya kau mengerti bahasa Minghao?"

Wonwoo memanyunkan bibir, "Ahjussipikir aku bodoh? Minghao bisa berbicara Korea sedikit-sedikit dan aku punya pria kesayanganku yang bisa membantuku menerjemahkan ucapannya!"

Mingyu mengernyit. Apa katanya? Pria kesayangan? Tanpa sadar raut Mingyu berubah masam. Ia tidak mengerti kenapa ia tidak suka dengan gagasan pria kesayangan Wonwoo ini.

"Apa maksudmu?" tanyanya, berusaha mempertahankan ekspresi datar sebaik mungkin.

"Jun-hyung membantuku menerjemahkan Minghao."

"Jun? Siapa lagi itu? Memangnya dia bisa melihat hantu sepertimu?"

Wonwoo mengangguk, "Ia yang membantuku mengatasi rasa takut dari hantu-hantu yang selalu mengikutiku. Ia sungguh berpengalaman. Pokoknya ia pria paling hebat yang pernah kutemui di dunia ini!"

Mingyu tidak senang mendengar suara bangga Wonwoo yang mengangung-agungnya pria bernama Jun itu. Memangnya seberapa tampan dan mempesonanya pria itu dibanding dirinya? Mingyu adalah CEO perusahaan terkenal, kerap kali menjadi model majalah bisnis, dan ia juga kaya raya! Ia yakin Jun bahkan tak bisa mengalahkan seberapa banyak harta yang dimilikinya saat ini.

"Aku tidak ingin mendengar tentang Jun-mu itu. Cepat ceritakan padaku soal Minghao. Aku bukan membuang waktu hanya untuk mendengar celotehan tak bermutu darimu tentang pria yang bahkan tak kukenal."

Wonwoo menatap Mingyu tidak suka.

"Seharusnya ahjussi berterima kasih padaku karena sudah tahu pelakunya! Kenapa malah memarahiku?"

Mingyu mendengus kesal, "Kenapa kau senang sekali membuatku naik pitam? Tidak bisakah kau cerita saja tanpa berdebat atau mengomel?"

"Kenapa aku yang salah? Ahjussi yang terlebih dahulu membuatku marah!"

Mereka diam, saling tatap dengan wajah kesal bukan main.

"Diamlah, Chan. Aku tidak mau minta maaf pada hyung-mu itu." Mingyu mendengar Wonwoo bersuara sambil menoleh ke sisi kirinya yang kosong. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak bahwa Wonwoo sekarang sedang berbicara dengan almarhum adiknya.

"Kau berbicara dengan Chan?"

"Apa urusannya dengan ahjussi?" Wonwoo berkata sinis, membuat Mingyu mendengus lagi.

"Dengar, aku tidak ingin bertengkar denganmu. Bisakah kita segera menyelesaikan masalah ini agar cepat selesai?"

Wonwoo mengulurkan sebelah tangannya ke hadapan Mingyu, menggoyangkan tangan itu masih dengan wajah masam.

"Apa?" Mingyu menatap tangan itu bingung.

"Uang," ujar Wonwoo datar. "kalau ahjussi ingin tahu informasi tentang Minghao dariku, ahjussi harus memberiku uang."

Mingyu sungguh tak habis pikir bisa bertemu dengan bocah SMA mata duitan seperti Wonwoo. "Kau sangat cinta uang rupanya."

"Tentu saja. Siapa yang tidak bisa hidup tanpa uang di zaman serba modern seperti ini?"

Mingyu ingin sekali berkata bahwa Wonwoo masih terlalu kecil untuk memikirkan hal seperti itu, tetapi ia mengurungkannya. Ia pun berkata, "Aku akan memberimu cek kosong setelah kau bercerita padaku soal Minghao. Kau bebas mengisinya berapapun yang kau mau."

Wonwoo tersenyum lebar, "Oke, deal."

Entah kenapa uang membuat mood bocah itu menjadi bagus. Mingyu heran bukan main. Ia seharusnya tak pernah berurusan dengan Wonwoo sejak awal.

"Jadi ceritakan padaku apa yang dikatakan Minghao padamu."

"Aku takkan menceritakan banyak hal," ujar Wonwoo padanya. "aku hanya akan memberitahu ahjussi intinya saja."

Malas berdebat, Mingyu hanya mengiyakan. "Kalau begitu cepat katakan."

"Minghao bilang Jieqiong-ssi yang melakukannya. Ia yang membuat rem mobilnya macet."

"Jieqiong?" Mingyu agak terkejut mendengarnya, membuat kening Wonwoo berkerut.

"Siapa dia? Kenapa ahjussi terkejut begitu?"

Mingyu mendengus kasar, "Ia saudara kembar Minghao."