Setelah pemberitahuan tentang Jieqiong kemarin, Wonwoo beberapa hari kemudian tak pernah bisa bertemu dengan Mingyu. Setiap ia mampir ke kantor lelaki itu, Irene akan mengatakan bahwa Mingyu sedang tidak ada di ruangan dan sibuk mengurus proyek.

Hari-hari berikutnya, Wonwoo mendapat kabar yang sama sehingga ia menjadi kehilangan mood dan memarahi orang-orang di sekitarnya, yah termasuk hantu-hantu di sekitarnya juga. Contohnya, Chan yang sekarang sedang menjadi salah satu korbannya.

"Ahjussi menyebalkan! Setelah mendapat informasi ia langsung menelantarkanku begitu?! Dia pikir dia siapa berani menghindariku seperti ini? Apa hyung-mu memang selalu menyebalkan seperti ini Chan? Apa ia tidak punya hati? Apa memang di dalam otaknya itu hanya ada pekerjaan-pekerjaan-dan pekerjaan? Memangnya ia tidak punya kehidupan sosial apa? Memangnya ia mau menikahi proyek sialan itu?"

Wonwoo terus mengomel di lobi kantor sementara Chan menghela napas pelan. Capek dengan segala gerutuan Wonwoo yang tiada ujungnya. Ah, beginikah rasanya merindukan orang yang kau suka? Rasanya, Wonwoo tidak sekadar ingin harta atau perlindungan Mingyu. Mungkinkah lelaki itu mulai menyukainya juga?

"Hyung, berhentilah mengomel. Kenapa kau begitu sensitif sekali? Hyung-ku pasti bakal datang sebentar lagi. Kita tunggu saja."

"Jadi kau sekarang sudah mulai mengataiku?" Wonwoo menatap Chan kesal. "kau membela hyung tak tahu dirimu itu? Ah ya, kalian kan kakak-beradik jadi jelas saja saling membela."

Chan mendengus, "Hyung, bukan begitu. Aku tidak bermaksud membela hyung-ku, hanya saja sebaiknya hyung bersabar. Jangan marah-marah begitu. Aku tahu hyung begitu merindukan hyung-ku, tapi sebentar lagi pasti ketemu kok. Tak perlu khawatir."

Wonwoo tertegun.

Apa?

Merindukan Mingyu katanya?

Wonwoo tertawa sarkastik, "Apa yang kau bilang? Merindukan ahjussi? Tentu saja aku tidak merindukannya! Aku hanya..." Wonwoo terdiam, ia bingung mencari kata yang pas. "aku hanya... Ya! Pokoknya aku sedang tidak merindukannya!"

Chan tersenyum simpul. Wonwoo jelas-jelas merindukan Mingyu.

"Kalian lagi, kalian lagi, apa kalian tidak bosan datang kemari dan membuat onar?"

Itu suara Lee Jihoon. Hantu penunggu lift dekat lobi.

Chan langsung bersembunyi di belakang punggung Wonwoo. Ia takut pada Jihoon yang punya wajah galak dan suka berkata kasar.

"Aish, kau pikir aku tak bosan melihatmu diam di depan lift seperti office boy? Sudahlah, aku sedang malas bertengkar denganmu. Pergi sana! Hush!"

Jihoon tertawa getir. Ia tak percaya ada manusia yang berani mengusirnya seperti ini. "Kau memang Jeon Wonwoo yang tak takut apa-apa ya."

"Kau tak mau pergi?" Wonwoo mendengus malas.

"Kenapa aku harus pergi? Lagipula ini wilayahku!" protes Jihoon. "kau yang seharusnya enyah dari sini! Dasar pengganggu! Sampai akhir riwayatmu pun aku yakin Mingyu takkan menyukaimu. Lebih baik kau cari paman-paman kaya lainnya saja sana! Mingyu itu seleranya tinggi. Bukan rendahan sepertimu!"

Wonwoo merengut, dibuat kesal dengan perkataan Jihoon yang sungguh menohok. Ia berdiri dari duduknya dan menunjuk Jihoon kesal.

"Kau!" Karyawan-karyawan di sekitar mereka mulai melirik ke arah Wonwoo. Mereka menatap bocah SMA itu dengan tatapan aneh karena bicara sendiri. "siapa bilang ahjussi takkan menyukaiku?! Ia pasti akan menyukaiku! Aku akan membuatnya menyukaiku! Kau lihat saja nanti! Dasar hantu pendek!"

"Hantu pendek katamu?!"

"Hyung, sudahlah. Ayo kita pergi..." Chan menarik baju Wonwoo walau tangannya tembus.

Wonwoo mengabaikan Chan dan justru tersenyum meremehkan pada Jihoon. "Ya, kau hantu pendek yang temperamental. Kenapa? Tidak suka kukatakan begitu?"

Kedua tangan Jihoon terkepal di kedua sisi tubuhnya. Mendadak vas di atas meja dekat Wonwoo pecah, membuat orang-orang di sekitar sana kaget dan semakin meliriknya dengan penuh tanda tanya.

"Ya! Kenapa kau pecahkan vas bunganya?!" Wonwoo jadi panik. Ia buru-buru menghampiri pecahan vas itu dan mengutuk hantu pendek itu berulang kali. Jihoon tertawa dan kemudian menghilang, membuat Wonwoo dengan kesal segera memunguti pecahan vas itu. Sialan. Ini pasti vas mahal. Bagaimana caranya ia mengganti rugi sekarang? Pasti semua orang di sini menuduhnya yang memecahkan vas ini. Yah, walau Wonwoo masih punya cek kosong dari Mingyu, tapi ia sama sekali tidak ingin menggunakan cek itu. Ia berniat menyimpan ceknya sampai ia benar-benar membutuhkannya.

Mendadak sebuah tangan menahan tangannya. Wonwoo tertegun dan menoleh. Matanya melebar ketika melihat Kim Mingyu sekarang sedang menatapnya kesal.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Apa kau tak sadar tanganmu berdarah?"

Wonwoo mengerjap beberapa kali sebelum melirik jarinya yang terluka. Ah, mungkin gara-gara menyentuh pecahan vas bunga. Ia kembali melirik Mingyu.

"Ahjussi sudah selesai dari proyek?"

Mingyu mengabaikan Wonwoo dan menariknya bangun. Beberapa karyawan menatap mereka sambil berbisik-bisik.

"Apa yang kalian lihat?" bentak Mingyu. "lanjutkan pekerjaan kalian atau kalian mau kupecat?"

Kalimat itu sukses membuat orang-orang di sekitar mereka pergi. Wonwoo menatap tangan Mingyu yang masih menggenggam tangannya. Ia tersenyum senang mendapati kenyataan bahwa Mingyu khawatir padanya. Seketika mood-nya yang buruk menguap begitu saja.

"Kau, ikut aku." ujar Mingyu, menarik Wonwoo menuju lift. Mingyu menekan tombol menuju lantai dimana ruangannya berada kemudian menoleh pada Wonwoo ketika pintu lift telah tertutup. "untuk apa kau datang kemari?"

Wonwoo menoleh, "Tentu saja bertemu ahjussi."

Mingyu menghela napas, "Memangnya uang yang kemarin kuberikan tidak cukup untukmu?"

Wonwoo tertegun. Uang? Mendadak Wonwoo merasa sakit hati karena Mingyu menduganya datang kemari karena butuh uang. Ia menyentak tangan Mingyu yang masih menggenggamnya dan menekan angka lift mana saja agar lift itu berhenti.

"Ya, apa yang kau lakukan? Mau merusak lift kantorku?!"

Wonwoo terus menekan angka tujuh belas di lift sampai lift itu terbuka. Ia kemudian beranjak pergi meninggalkan Mingyu. Ia pergi ke tangga darurat dan turun. Ya, dia memang idiot. Kenapa tidak pakai lift saja ya kan? Tapi Wonwoo terlalu kesal sampai tidak peduli. Ia membiarkan Mingyu berteriak menyerukan namanya. Ia sungguh berharap lelaki itu mencegatnya, meminta maaf atau apa.

Tapi sampai di lantai sembilan pun, Mingyu tidak ada di belakangnya, mengejar dirinya.