"Hyung, kita mau kemana?" Kim Chan menatap Wonwoo yang tersenyum lebar di sampingnya. Di pelukan lelaki itu, terdapat sebuket bunga pansy berwarna ungu yang cantik.

"Tentu saja kita akan menemui ahjussi, Chan-ie!"

Chan jadi ikut tersenyum lebar, "Hyung sekarang dekat sekali ya dengan hyung-ku."

"Tentu saja aku dekat dengannya. Kami kan bakal menikah! Aku akan menjadi kakak iparmu nanti." ujar Wonwoo dengan bangga. "ah, aku tidak perlu tinggal dengan bibi lagi. Pasti bakal menyenangkan tinggal di rumah mewah milik ahjussi."

"Tapi, Hyung... ada Seungkwan-hyung di sana..." Chan mulai berubah kecewa. "kalau aku tidak dibiarkan masuk bagaimana?"

"Aku yang akan membawamu masuk, Chan-ie jadi tenang saja, oke?"

Pernyataan Wonwoo membuat Chan tersenyum lebar dan memeluk lelaki itu dari samping walau tubuhnya tembus. Mereka kemudian menyebrangi trotoar ketika lampu pejalan kaki berubah hijau.

"Hyung, kenapa kau membeli bunga aneh itu? Kenapa tidak membeli mawar saja?" tanya Chan selagi mereka menyebrang jalan. Wonwoo berdecak.

"Ini bunga kesukaanku, Chan-ie. Jangan berani-berani mengatainya jelek. Ini bunga yang istimewa. Karena arti bunga ini adalah pikirkan aku. Jadi, jika aku memberikannya pada ahjussi, pasti ahjussi akan memikirkanku terus."

Chan membulatkan mulutnya sambil mengangguk-angguk mengerti. Ketika ia hendak bertanya lagi darimana Wonwoo tahu tentang hal itu, sebuah mobil telah menembusnya.

Chan terkejut. Ia segera menoleh ke arah sebaliknya dimana tubuh Wonwoo sekarang tergeletak di jalan raya, sementara mobil yang menabraknya telah pergi. Orang-orang mulai berlarian menghampiri Wonwoo, membuat Chan juga ikut menghampirinya dengan panik.

Tubuh kasat matanya gemetar ketika melihat tubuh Wonwoo penuh luka dan darah. Bunga pansy berserakan di sekitarnya.

"Hyung..." gumam Chan gemetar dan takut.

Tanpa pikir panjang, Chan pun segera berlari ke restoran Italia milik Jun. Berharap pria Cina itu bisa menolongnya.