Chapter 2 : Mom
MOM
Main Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Genre : Family, Romance
.
.
THIS IS GS FOR UKE! TYPO EVERYWHERE!
.
HAPPY READING!
Kalian tahu hari ini hari apa?
Senin? Selasa? Rabu?
Bukan. Ini adalah hari sial untuk Byun Baekhyun.
Baekhyun memulai paginya dengan teriakan cantik. Eomma Byun lupa membangunkannya dan berakhir dengan mandi tercepat sepanjang sejarah. Belum lagi, ia hanya disediakan roti dan segelas susu.
Byun Sehun? Jangan tanya kemana anak menyebalkan itu. Sudah seminggu ini, Sehun giat bangun pagi. Katanya, ia sudah punya seseorang untuk dijemput lalu mereka berdua akan pergi ke kampus bersama. Baekhyun tak terlalu peduli siapa yang menjadi incaran adik tampannya itu.
Satu hal yang ia tekankan, Sehun tidak boleh berkencan dengan Kyungsoo. Kenapa? Tentu saja karena kakak Park Kyungsoo adalah kekasihnya.
Ah! Setelah kejadian tadi malam, Baekhyun benar-benar ragu untuk ke kampus. Ia malas bertemu Park Chanyeol yang seminggu ini menambah beban hidupnya. Pokoknya, minggu ini adalah minggu terkutuk dan hari tersial yang pernah ada!
—MOM—
Menjadi mahasiswa desain tidaklah segampang yang kalian kira. Setidaknya, dibutuhkan jiwa seni dan kesabaran tingkat dewa. Ayolah, desain adalah tentang praktik. Tentang bagaimana merancang karya dengan nilai aestetik. Bukan, duduk lalu mendengarkan celoteh Ms. Zhang yang masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri.
"Huamm.. membosankan!" si mungil tampak tak nyaman dengan situasi pembelajaran. Tak tahukah dosennya itu, bagaimana perjuangan kepepetnya untuk ke kampus ?
"BYUN BAEKHYUN!"
Astaga!
"Perhatikan layar jika ingin nilaimu sempurna. Aku tahu nilai praktikmu memang bagus!"
Baekhyun hanya mengangguk dan memulai memperhatikan layar berisi penjelasan miss Zhang. Entah beruntung atau tidak, Miss Zhang tak pernah memberi muridnya tugas bertumpuk. Cukup duduk manis dan memperhatikan pelajarannya, maka kau akan mendapat nilai sempurna.
Kolot memang! Tetapi itulah bagaimana dosen muda mengajar.
Semua mahasiswa pasti sependapat jika dua jam di kelas bagaikan mendekap 10 tahun di penjara, bukan? Dan ketika jam mata kuliah habis, Baekhyun tahu bahagia itu sederhana!
—MOM—
" Luhan-ah, langsung pulang?" Baekhyun sibuk melahap burgernya ketika sahabatnya itu sibuk mengemasi barangnya
Luhan menoleh, " Baba baru pulang dari Cina. Aku harus sampai di rumah secepatnya. Aku duluan Baek!"
Baekhyun membenarkan surainya yang baru saja diacak-acak oleh Luhan. Sepertinya Baekhyun harus menemui Sehun untuk mengantarnya pulang. Cukup tadi pagi ia harus berlari mengejar bus dan memastikan ia datang lebih dahulu ketimbang Miss Zhang.
Baekhyun baru saja melewati taman jika saja ia tidak mendengar suara cempreng yang amat dikenalnya.
"YA OH SEHUN! KIM JONGIN! Berhenti menggangguku!"
Kyungsoo tengah berkacak pinggang di hadapan dua makhluk astral yang sibuk mentertawainya. Ingin rasanya, ia melempar sesuatu yang lebih besar dari sepatu hingga membuat mereka bungkam.
"Sunbae, aku mencintaimu. " Jongin sibuk tertawa sambil membawa selembar kertas milik Kyungsoo yang ia temukan di loker wanita itu.
Sehun menggapai kertas yang dibaca Jongin, lalu merebutnya. " Aku selalu membayangkan bagaimana aku mengutarakan perasaan ini padamu! Bwahaha" Sehun benar-benar tertawa keras ketika mengucapkan kalimat klise tersebut.
"Astaga! Ku bilang kembalikan, Albino! Mana sini! " Kyungsoo berusaha meraih kertas di genggaman Sehun yang lagi-lagi berpindah ke Jongin. Namun nihil, mereka terlalu tinggi.
Jongin ingin menggoda Kyungsoo habis-habisan. Sebenarnya ia tak sengaja menemukan surat itu ketika Kyungsoo memintanya mengambilkan handphone. Dan well, dugaannya benar. Kyungsoo tengah jatuh cinta pada seorang kakak kelasnya.
"Well, nona manis! Kenapa kau tak menulis namanya. Siapa tahu kami berdua bisa membantumu"
"Astaga Jongin! Kembalikan! Ya!"
"Coba saja kalau bisa" Jongin menjulurkan lidahnya pada wanita paling pendek di antara mereka.
Baekhyun yang tengah memperhatikan mereka dari jauh pun tampak penasaran. Dengan langkah santainya, ia berjalan menuju tiga orang tersebut. Ketika Jongin lengah, ia ambil surat yang Jongin sembunyikan di punggungnya.
Jongin menoleh ketika mendapati seseorang di belakangnya yang dengan seenak jidat mengambil kertas tersebut, " Noona, bawa sini suratnya!"
Baekhyun mulai membaca surat tersebut. Dan ya, itu benar-benar tulisan Kyungsoo. Astaga, apakah Kyungsoo benar-benar jatuh cinta pada salah satu kakak kelasnya? Baekhyun nyaris tertawa ketika membaca kalimat terakhir.
Sehun melihat kehadiran kakak cerewetnya itu segera ambil langkah seribu. Ia tahu, Baekhyun pasti berniat menemuinya dan mengeluhkan ini itu. Daripada melayani keinginan kakaknya itu, kabur adalah opsi terbaik.
"Noona, bawa sini!"
"Jongin-ah, kembalikan! Hei Hitam pesek menyebalkan!" Kyungsoo benar-benar memberikan sumpah serapahnya pada si hitam, Jongin. Baekhyun? Ia pasrah dengan perang dunia ketiga yang terjadi di depannya.
Jongin tersenyum menjijikan saat dilihatnya ekspresi cemberut Kyungsoo, "Kyung-ah, panggil aku dengan benar, sayang! Baru ku kembalikan surat cintamu ini"
"Sayang? Kau main-main dengan adikku Jongin-ah?"
Dari belakang, tampak seorang menjulang tinggi mengambil surat itu dari Jongin. Seseorang yang mampu membuat Baekhyun tercengang sebegitu hebat. Seseorang yang paling tidak Baekhyun ingin temui seminggu ini.
Chanyeol tersenyum kepada adiknya itu sambil menyerahkan surat cintanya. " Simpan dengan benar, Kyung. Kau tahu perasaan itu harus dijaga dan tidak seenaknya dipermainkan, oke?"
Entah perasaan Baekhyun saja atau bagaimana, kata-kata tadi seperti ditujukan untuknya. Meski mata Chanyeol tak melihatnya, Baekhyun tahu kepada siapa hatinya berbicara.
"Oppa? Aku pergi dulu!" Kyungsoo pergi begitu saja setelah mendapatkan surat di genggamannya. Ia benar-benar malu, terlebih kakaknya tahu bahwa ia telah jatuh cinta.
Keadaan benar-benar canggung setelahnya. Apalagi Jongin yang memutuskan untuk menyusul Kyungsoo. Menyisakan sepasang kekasih yang masih betah untuk diam. Baekhyun muak dengan keadaan ini. Ia memutuskan untuk pergi sebelum sebuah tangan menariknya.
"Baek, kita perlu bicara"
Baekhyun tahu Chanyeol tak pernah main-main tentang dari tangan besarnya yang menggenggamnya untuk menuju ke parkiran. Baekhyun masih marah. Ia tak bisa semudah itu memaafkan Chanyeol untuk masalah yang sama.
"Park Chanyeol.."
"Baek? Kita butuh bicara. Kau hanya salah paham masalah kemarin, sayang"
"Aku tersiksa seminggu ini, baek. Kau menghindariku, kau mengabaikanku" Ujar Chanyeol sendu. Ia memakaikan helm pada si mungil pujaanya lalu merapikan surainya yang terlihat berantakan.
Baekhyun memilih untuk diam. Ia tak tahu harus bagaimana. Otaknya mengatakan Chanyeol kali ini sudah keterlaluan, tapi hatinya begitu merindukan sosoknya.
Memang benar, otak tak pernah sejalan dengan hati. Dan hati akan selalu menjadi pemenang.
Dengan ragu, Baekhyun pun memantapkan diri untuk menjelaskan penjelasan pacarnya itu. Ia melangkah ke motor Chanyeol, motor yang sama yang selalu mengantarnya dulu.
Mata Baekhyun terpenjam menikmati semilir angin yang menerpanya. Tangannya ia letakkan di pinggang Chanyeol membuat gadis itu merasa tenang. Suasana hatinya perlahan membaik, bahkan dilupakannya kejadian di hari buruk ini.
Chanyeol membawa Baekhyun ke sebuah taman. Baekhyun tak buta untuk tahu dimana ia berada. Setiap tahun, taman ini dihiasi oleh beragam lampion untuk perayaan Lantern Festival. Masyarakat akan meluangkan waktu datang kemari entah untuk perayaan atau sekadar menikmati festival.
Chanyeol membawa Baekhyun duduk di sebuah bangku taman yang menghadap air mancur. Tangannya masih menggeggam kekasihnya sambil memberi usakan halus di kulitnya yang seputih susu.
Hening. Baekhyun bahkan tak tahu apa yang tengah dipikirkan Chanyeol sekarang. Hingga, pria itu menoleh memberika senyuman paling manis yang pernah Baekhyun tahu.
Baekhyun muak, apa pria itu tak bisa lebih peka terhadapnya? "Chan, lepasin tanganku!"
"Kamu tuli ya? Atau ga punya telinga"
Chanyeol tak peduli dengan ucapan pedas gadinya itu. Ia malah balik mengeratkan genggamannya. "Kau tahu baek? Prediksiku hari ini kita baikan"
"Gak akan!"
Pria tampan semacam Chanyeol tak mengenal kata menyerah begitu saja. Diusapnya pipi kekasihnya itu lalu membawa kepalanya menghadapnya.
"Baek, masih marah ya?"
"Menurutmu?"
Chanyeol menghela napas panjang, "Baekhyun-ah, jangan menghindariku lagi. Kamu hanya salah paham masalah aku dan Seohyun. Kita benar-benar hanya teman, kok."
"Pacarku itu ga suka bohong"
"Chanyeol kan sukanya sama Baekhyun" Astaga! Baekhyun pusing mendengarnya. Apa Chanyeol tak bisa serius barang sekali ini saja?
Ketika Baekhyun hendak mengambil langkah pergi. Chanyeol lagi-lagi menarik tangannya.
"Dia cuma mengajakku menonton" Ucap Chanyeol santai yang mendapat lirikan tajam dari wanita di hadapannya.
"Dan kau mau?"
"Well, aku setuju"
"Berdua?"
Chanyeol mengangguk. Baekhyun bersumpah akan memberi bogem mentah pada pacarnya itu sebelum kedua tangannya berhasil digenggam Chanyeol.
"Dia mengajakku berjalan-jalan dan ya kita menonton film berdua. Sampai tengah-tengah film aku pergi ninggalin dia sendiri. Besoknya, Seohyun dateng ke kelasku. Dia marah-marah"ungkap Chanyeol sambil menatap iris Baekhyun penuh sesal.
Baekhyun berdecak, ia tak butuh penjelasan tentang kisah berkencan sembunyi-sembunyi antara Chanyeol dan Seohyun. "Terus ngapain kamu cerita ke aku? Bukannya kamu senang bisa kencan sama Seohyun?"
Chanyeol tersenyum kecil. Ia tahu wanita di hadapannya itu tengah cemburu, "Iya aku senang lah dia marah sama aku. Dia jadi enggak ngedeketin aku lagi kayak dulu"
Baekhyun tersenyum. Chanyeol pasti tak sebodoh itu untuk mengingkari perasaanya.
"Jadi sudah tahu kan? Masih marah, hmm?"
"Masih"
"Yaudah bagus, deh"
Baekhyun merengut. Pria di hadapannya itu benar-benar pandai dalam memporak-porandakan hatinya. "Chanyeol! Aku benci kamu!"
"Kamu tahu, baek? Pacarku juga suka ngomong gitu kalau lagi minta dipeluk" Chanyeol yakin prediksinya hari ini benar ketika mendapati pipi Baekhyun yang perlahan memerah. Tangannya ia bawa menyisir rambut halus favoritnya.
"Apa sih, Chan!"
"Jadi, mau dipeluk?"
Chanyeol tersenyum, merentangkan kedua tangannya menuju tempat ternyaman untuk Baekhyun peluk. Dengan malu-malu, Baekhyun tersenyum menatap sosok yang begitu dirindukannya seminggu ini.
"Hmm.. Mau!"
Chanyeol tersenyum dengan Baekhyun di pelukannya. Ia mencium puncak kepala kekasihnya sebelum ia sadar bahwa kejutannya tak usai sampai disini.
"Baek"
"Ada sesuatu lagi yang.."
"Apa?"
Chanyeol melirik arlojinya. "Tunggu sebentar. Lima, empat, tiga, dua, satu!"
Baekhyun ternganga. Ia tak pernah menyangka bahwa permintaan maaf Chanyeol membuatnya merasa menjadi putri di negeri dongeng. Matahari telah sampai di tempat istirahatnya. Lampion tersebut satu-persatu mulai menyala. Air mancur di hadapannya membentuk percikan spektakuler dengan beberapa lampu dekorasi.
Ini adalah hari terbaik untuk Byun Baekhyun!
"Wah, Indah kan, Baek?" Baekhyun tak tahu kenapa ia menjadi secengeng ini. Tubuh mungilnya ia sembunyikan di dada bidang Chanyeol. Sungguh! Chanyeol terlewat manis untuk hanya permintaan maaf!
Taman mulai ramai didatangi masyarakat. Semuanya saling berbagi kebahagiaan. Baekhyun benar-benar bahagia ketika pria itu menariknya ke sebuah kedai lalu mereka akan menghabiskan waktu entah sekadar untuk bergurau atau bercerita tentang kejadian seminggu terakhir ini.
Hal yang paling tidak ingin ia dengar adalah ketika Chanyeol mengajaknya pulang. Hari telah berakhir dan ia harus berpisah dengan kekasih tampannya itu.
Chanyeol harus pintar-pintar membujuk Baekhyun untuk pulang karena gadisnya itu tengah merajuk. Baekhyun meminta Chanyeol bersamanya lebih lama. Dengan santainya, Chanyeol akan memeluknya dan membujuknya dengan sedikit ancaman manis.
"Baek, pulang atau kucium disini?"
Dan Baekhyun masih waras untuk memilih pulang. Meski saat akan berpisah, Chanyeol tetap menciumnya.
-MOM—
Sehun tak tahu kenapa ia harus terjebak di mobil bersama dua orang alien cerewet entah dari planet mana. Ini masih terlalu pagi untuk mengumpat. Tapi keadaan semacam ini tak bisa ditolerir lagi.
"Eomma kan sudah Baekhyun bilang tadi jangan parkir disini!" Seru Baekhyun dengan penuh kesal.
"Memang kenapa sih, Baek? Lagian kampusmu kan juga luas. Tidak ada salahnya eomma parkir disini."
"Eomma berhenti mengoceh. Jangan buat aku malu di hadapan Chanyeol nanti!"
"Akan eomma pastikan Chanyeol akan menyukai eomma nanti"
"YA Eomma!Chanyeol itu kekasihku! Berhenti memujanya atau ku telepon appa sekarang"
"EOMMA! NOONA! Berisik!"
Teriakan Sehun membuat dua wanita di jok depan itu diam. Mereka kini menatap Sehun yang duduk di kursi belakang dengan tatapan 'apa kau baru saja mencari gara-gara dengan dua singa ini?'
Ditatap seperti itu tak membuat satu satunya pria di mobil itu takut. Ia justru menatap balik mereka dengan tatapan datarnya "Apa?Kenapa melihatku seperti itu?"
Sehun melenggang pergi meninggalkan eomma dan noonanya. Berlama-lama di mobil akan membuatnya gila seketika.
"BYUN SEHUN! Kemari kau!" -Baekhyun
"YA BYUN BAEKHYUN!BYUN SEHUN! Tunggu eomma hei"- Nyonya Byun
—MOM—
Pagi ini menjadi pagi paling menegangkan dalam hidup Chanyeol. Pasalnya, Chanyeol benar-benar takut jika eommanya tak cocok dengan Baekhyun. Kekasihnya itu mungkin akan cocok dengan Kyungsoo karena keduanya sama-sama hiperaktif.
Tapi Nyonya Park? Tolong, ia terlalu lembut.
Dan jawaban yang diperoleh Chanyeol hanyalah kalimat semangat dari appanya "Chan, tenanglah. Eommamu itu pengertian. Kekasihmu itu akan baik-baik saja, oke?"
Chanyeol menghela napas panjang. Langkahnya ia setarakan dengan Kyungsoo yang menggandeng eommanya menyusuri lorong kampus.
Semalam Baekhyun mengirimnya beberapa pesan bahwa eommanya akan ke kampus untuk bertemunya. Chanyeol pun begitu, ia membalas pesan Baekhyun bahwa eommanya juga akan ke kampus.
'Waa, aku benar-benar percaya bahwa kita berjodoh'
'Tapi Baek, eomma mu tidak seseram itu kan?'
Baekhyun tersenyum. Ia bahkan ragu apakah ia berpacaran dengan mahasiswa atau anak sd. Fakta bahwa Chanyeol takut terhadap eommanya membuat wanita itu tertawa keras.
'Santai, chan. Eommaku tidak akan membunuhmu. Ia akan menggigitmu sedikit paling'
'Ya!Byun Baekhyun berhenti menggodaku'
Dan tawa renyah Baekhyun mengakhiri obrolan singkat mereka.
Nyonya Park menatap putranya yang berjalan lesu. "Chanyeol-ah.." Pria itu mendongak. " Ayolah! Kau ini kenapa, hmm?"
Chanyeol tersenyum. Ia menggeleng, "Tak apa eomma, aku hanya khawatir tentang nilaiku" ucapnya bohong.
Nyonya Park menyuruh Kyungsoo untuk ke fakultas desain terlebih dahulu. Wanita berkepala 4 itu mulai menghampiri putra sulungnya.
"Astaga! Jangan berbohong, Chan. Tadi pagi, Appa mu cerita semuanya tentang keraguanmu itu" Ucap Nyonya Park mengelus bahu Chanyeol.
Belum sepenuhnya Chanyeol menenangkan diri, tiba-tiba muncul adik kesayangan Byun Baekhyun dengan wajah dongkolnya. Disusul Baekhyun yang juga sama-sama jengkel . Jangan lupakan tangannya yang menarik telinga Sehun.
"Ya! Noona sakit!Aduh!" Sehun mengadu dengan nada kesakitan. Ia berusaha menepuk tangan noonanya itu.
"Ah! Annyeonghaseyo" Baekhyun memberi salam ketika dilihatnya kekasihnya bersama seorang perempuan yang lebih tua darinya.
Nyonya Park tertegun. Kekasih anaknya ini lebih cantik jika dilihat secara langsung. "Annyeong pacar Chanyeol!"
"Ahjumma, namaku Byun Baekhyun. Dan ini adikku, Byun Sehun" Baekhyun tersenyum berusaha memberikan kesan pertama terbaiknya.
"Wah, kau benar-benar cantik, Baekhyun-ah. Sehun kau juga tampan"
"Waa, terima kasih ahjumma. Ahjumma juga cantik dan anaknya juga tampan"
Sehun jengah. Apa apaan noonanya itu? Akting memasang wajah sok imut itu benar-benar membuatnya mual.
Chanyeol? Jangan ditanya. Ia senang bukan main ketika eommanya menyukai Baekhyun. Tampaknya, mereka benar-benar cocok. Chanyeol akan bergabung dengan mereka jika saja Sehun tidak menginterupsi,
"Hyung, nilaimu suda ditempel di papan. Kau tak ingin melihatnya?" Mati. Ia bahkan lupa soalnya tujuan Nyonya Park ke kampusnya.
Nyonya Park yang mendengar ucapan Sehun segera melepas pelukannya dari Baekhyun. "Oh iya, eomma lupa. Eomma akan lihat nilaimu dan menemui dosenmu. Eomma pergi dulu. Duluan ya Baekhyun, Sehun!"
Nyonya Park meninggalkan ketiga orang tersebut. Oke, ini adalah saat melarikan diri terbaik untuk Sehun sebelum,
"YA Sehun! Kemari kau!"Baekhyun berusaha mencari badan Sehun yang bersembunyi di balik tubuh tinggi Chanyeol.
"Noona, kau ini kenapa sih? PMS ? Kenapa jadi singa liar? Hyung hyung bantu aku plis" Sehun masih menggunakan chanyeol sebagai tameng dari amukan Baekhyun.
Chanyeol sendiri pasrah dengan keadaan. Dari depan Baekhyun terus meronta dalam pelukannya. Dan dari belakang Sehun masih setia memukul punggungnya. Kurang sayang apa coba dia dengan Byun bersaudara?
Pria itu kini mengeratkan pelukannya. Baekhyun berdecak sebal saat mendapati Sehun yang sudah melarikan diri. Dan kenapa pacarnya kini malah menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya?
"Chan-ah, kenapa hmm? Kenapa jadi manja begini?" Ucapnya dengan penuh perhatian
Chanyeol hanya menggeleng. Ia terlalu ragu untuk menyampaikan kegelisahannya bertemu calon ibu mertua.
" Masih takut?" Baekhyun membenarkan beberapa surai Chanyeol yang jatuh menutupi wajah tampannya.
Pria itu masih menunduk dan Baekhyun tidak perlu bertanya dua kali untuk tahu jawaban Chanyeol.
Wanita itu kini sibuk mengelus pipi kekasihnya. "Chan, dengarkan aku" Chanyeol mendongak. "Eomma ku bukan ibu tiri meski cara bicaranya mirip ibu tiri. Ia akan menyukaimu. So, please stay cool and show me your smile"
Baekhyun ikut tersenyum saat Chanyeol mulai menunjukkan senyumnya dan mengacak rambut Baekhyun. Pria itu menangkup pipinya dan dalam sepersekian detik memberikan kecupan ringan pada bibirnya.
Baekhyun tak tahu kenapa pipinya memanas. Pria di hadapannya ini tahu betul bagaimana membuatnya semerah kepiting rebus. Tanpa basa-basi, ia menarik lengan Chanyeol ke fakultas desain.
—MOM—
"Astaga! Nenek sihir! Singa liar!" Sehun menghela napas panjang setelah berhasil kabur dari amukan Baekhyun.
Ia mendudukan dirinya di kursi taman sambil mengusap keringat di pelipisnya.
"Bertengkar lagi dengan Baekhyun?" Sehun terlonjak ketika sebuah suara terdengar di telinganya. Sang pemilik suara kini memberikan tisu padanya.
Sehun tersenyum. Pria berkulit putih itu mengambil beberapa helai tisu. "Terimakasih, Luhan-noona"
"Jadi?"
"Apa?"
"Kau pasti bertengkar lagi dengan Baekhyun? Aku yakin kau tak pernah sekalut ini jika bukan Baekhyun" Ucap Luhan diselingi tawa manisnya.
"Noona, kau selalu bertemu dengaku saat aku selesai dengan ritualku bersama nenek sihir itu, ya?
Luhan tidak bisa menahan tawanya. Terkadang, ia benar-benar kasihan pada Sehun yang selalu menjadi korban sahabatnya itu. Tapi Luhan tahu bahwa dengan cara itulah Baekhyun menunjukan cinta pada adik tersayangnya.
Sehun merengut, "Noona kenapa tertawa? Kau bersengkongkol dengan Baek-noona?"
Luhan yang melihat respon Sehun segera mengusak rambutnya. "Ah, aku jadi ingin melihatmu dijewer Baekhyun secara langsung" ucapnya sambil berdiri.
"Sehun-ah aku pergi dulu ya. Nilaiku akan keluar beberapa menit lagi" Luhan melambaikan tangannya sembari tersenyum. Kakinya melangkah pergi menjauhi Sehun menuju fakultasnya.
Bagi Sehun, senyum Luhan adalah senyum termanis yang ada di dunia. Ia menyukai apapun yang dilakukannya. Jantungnya akan berdetak lebih cepat saat wanita itu di dekatnya. Lidahnya akan kelu jika berbicara dengannya. Atau tubuhnya yang menegang saat Luhan menyentuhnya.
Sehun hanya terlalu ragu apakah ini sesuatu yang spesial atau tidak.
Jika seluruh tubuhnya mengatakan tidak, maka dengan mudah hatinya akan mengatakan dirinya tengah jatuh cinta.
—MOM—
Suasana kantin memang tak pernah sepi. Kebanyakan mahasiswa akan setuju jika kantin adalah tempat pelampiasan kefrustrasian. Begitu pula dengan Baekhyun.
Mendapati kekasihnya yang tak kunjung tenang, ia pun berinisiatif mengajaknya ke kantin dan melanjutkannya dengan obrolan singkat.
Chanyeol masih uring-uringan. Seharusnya Baekhyun mengajaknya bertemu eommanya bukan ke kantin. Bagaimanapun bujukannya selama masih belum bertemu hati Chanyeol tidak akan tenang.
"Kenapa malah ke kantin sih Baek?" Tanya Chanyeol dengan wajah yang tak bersahabat.
"Habisnya kamu masih begitu, sih" Baekhyun kini melahap French fries yang dibelinya.
" Baek, I'm okay. Kita selesaikan ini dan aku akan baik-baik saja"
"No, you're not. Wajahmu masih kelihatan parno"
Chanyeol menghela napasnya lagi sambil mengusap wajahnya. Jujur Baekhyun cemas juga dengan Chanyeol yang seperti ini. Wanita itu kini mengelus pipi Chanyeol penuh cinta.
"Chan jangan parno, ah. Aku jadi khawatir kalau begini. Biasanya kamu kan dumbass"
Pria di hadapan Baekhyun itu kini mengangkat kepalanya. Ia mencubit pipi Baekhyun mesra. "Dumbass? Baiklah, sayang. Ayo kita bertemu eommamu."
Chanyeol kini menarik Baekhyun pergi meninggalkan kantin. Baekhyun tak punya alasan untuk tidak tertawa melihat kekasihnya itu telah kembali tertawa. Ia mulai menyetarakan langkahnya dan menguatkan pegangannya. Ia melihat sorot mata Chanyeol. Sorot mata itu tetap sama, penuh cinta dan keberanian.
Chanyeol menuntun Baekhyun menuju fakultasnya. Pria itu berdoa agar Nyonya Byun menyukainya. Sama seperti kedua putra-putrinya yang begitu dekat dengannya. Huh! It will be easy, right?
Belum sampai di fakultas desain, Baekhyun menunjuk suatu tempat. " Chan lihat, eommaku disana. Dan, eh dia bersama eommamu! Ayo kita kesana!"
Chanyeol mengedarkan pandangannya ke arah yang ditunjuk wanitanya. Di dapatinya seorang wanita yang mirip dengan Baekhyun tengah berhadapan dengan eommanya. Kalau begini Chanyeol tak akan takut!
"Sepertinya,eomma mengenal Nyonya Byun. Ah, kenapa tadi aku mesti gelisah?" Chanyeol berucap dalam hati.
Chanyeol tersenyum lalu menyusul Baekhyun mendekati kedua wanita berumur tersebut.
Setelahnya adalah hal yang tidak ingin Chanyeol dan Baekhyun saksikan. Tubuh Baekhyun kini menegang. Tangannya bergetar dan air matanya tumpah begitu saja.
PLAK!
Nyonya Byun menampar Nyonya Park dengan keras di hadapannya.
.
.
To Be Continued
.
First at all, aku mau ngucapin terima kasih buat yang udah review di chapter kemarin.
Aku juga minta maaf udah slow update. Aku baru aja Ujian Nasional dan baru bisa ngehandle ff ini. mianhae~
Chapter kedua ini udah ada awal permasalahannya. Dan aku masukin university's life. Padahal aku sama sekali gatau masalah kuliah. Jadi tolong kasih masukan aja kalau misal ada masalah sama perkuliahan hehe. Review kalian sangat membantuku buat ngelanjutin ff ini!
Review terus yaa jangan lupa, gomawo
