Jieqiong telah tertangkap.

Mingyu begitu menyesal karena tidak melaporkan adik dari almarhum tunangannya itu lebih awal. Seandainya ia tidak takut, seandainya rasa tidak enak hatinya pada Minghao tidak mengalahkannya, mungkin Wonwoo tidak akan seperti ini. Mungkin bocah menyebalkan itu masih berbicara dengan cerewet di sampingnya dan mengganggunya sepanjang hari.

Tetapi yang dilakukan Wonwoo sampai saat ini adalah berbaring. Matanya tertutup, dan wajah kurusnya makin kurus. Kulit bocah itu kian memucat dan dokter kerap kali mendesah setelah memeriksanya. Seolah tidak ada harapan lagi, seolah jiwa bocah itu takkan bisa tertolong.

"Mingyu-ssi," Suara itu membuatnya berpaling dari wajah Wonwoo. Junhui berdiri di belakangnya dengan tatapan iba dan khawatir.

"Ada apa?" tanya Mingyu setelah mengalihkan pandangannya pada Wonwoo lagi.

"Ada seseorang yang ingin berbicara denganmu."

Mingyu sama sekali tidak tertarik dengan perkataan Junhui. Ia tidak peduli dengan orang lain. Ia hanya peduli pada sosok Wonwoo yang tak kunjung sadar. Mingyu bergitu khawatir. Mingyu begitu frustasi. Sudah lebih dari dua bulan Wonwoo belum juga membuka mata. Bahkan pekerjaannya di kantor tak pernah benar akibat memikirkan bocah sialan yang dicintainya ini.

"Aku tidak ingin berbicara dengan siapa-siapa."

"Kau harus."

Mingyu mendengus, "Jika dia bukan orang penting aku ta—"

"Wonwoo," potong Junhui, membuat Mingyu tersentak. Ia menoleh pada Junhui untuk memastikan pendengarannya. "Wonwoo ingin berbicara denganmu, Mingyu-ssi. Ia ada di sampingku sekarang. Arwahnya ada di sampingku."